Anda di halaman 1dari 7

Dasar-Dasar Hukum Tata Negara

5:26 PM HUKUM, HUKUM TATA NEGARA No comments

A. Sumber Hukum.

Sebelum mengetahui lebih lanjut apa saja yang termasuk sumber HTN, lebih baik bila
diketahui dan dimengerti terlebih dahulu sumber hukum. Sumber hukum dibagi menjadi dua,
yaitu sumber hukum dalam arti formal dan sumber hukum dalam arti materiil.

- Sumber hukum dalam arti formal adalah sumber hukum yang dikenal dari segi bentuknya,
karena bentuknya itu menyebabkan hukum berlaku umum, diketahui dan ditaati, karena ada
bentuknya maka hukum itu bersifat mengikat.

- Sumber hukum dalam arti materiil adalah sumber hukum yang menentukan isi hukum,
sumber hukum material diberlakukan ketika akan menyelidiki asal-usul hukum dan
menentukan isi hukum.

 Sumber HTN
Sumber HTN menurut Bagir Manan terdiri atas sumber HTN materiil dan sumber HTN
formal.

- Sumber HTN materiil adalah dasar dan pandangan hidup, kekuatan politik yang
berpengaruh pada saat perumusan HTN.

- Sumber HTN Formal adalah hukum perundang-undangan ketatanegaraan, traktat, doktrin,


konvensi, dan hukum adat ketatanegaraan.
 Sumber HTN Materiil Indonesia
- Sumber hukum materiil dalam HTN Indonesia.

Pancasila dimengerti sebagai sumber dari segala sumber hukum, hal ini berarti Pancasila
merupakan pandangan hidup, kesadaran dan cita hukum bangsa Indonesia. Sumber HTN
materiil adalah tempat ditemukan penentu isi daripada hukum tersebut, di Indonesia yang
menjadi landasan penentu isi daripada hukum adalah Pancasila, maka dapat dipahami bahwa
Pancasila merupakan sumber hukum materiil Indonesia.

Pancasila merupakan sumber hukum materiil dalam HTN Indonesia dimana perwujudannya
sebagai sumber segala sumber hukum melalui :

- Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Proklamasi merupakan tindakan pertama


bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Pancasila. Dari segi hukum bangsa Indonesia
mulai menyusun, mengatur negaranya sendiri serta menentukan hukumnya sendiri. Jadi
proklamasi merupakan dasar dalam HTN Indonesia, sehingga HTN dikatakan sebagai
“Norma Pertama”.

- Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit Presiden merupakan dasar berlakunya kembali UUD
1945 yang keluar atas dasar hukum darurat negara (staatnood recht). Dekrit 5 Juli termasuk
dalam hukum darurat negara subyektif, dimana tindakan yang diambil penguasa tidak
didasarkan atas peraturan yang sudah ada tetapi didasarkan atas penilaian penguasa sendiri.

- UUD 1945. Pasal-pasalnya UUD 1945 merupakan perwujudan dari Pancasila, dapat
dikatakan bahwa UUD merupakan pelaksana Pancasila yang memiliki bentuk yang formal
sebagai konstitusi.

- Surat Perintah Sebelas Maret. Dalam bagian 1 Tap MPRS No. XX/MPRS/1966 disebutkan
Supersemar sebagai dasar dan sumber hukum bagi Letjen Soeharto untuk mengambil segala
tindakan guna mengamankan pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dengan
demikian Supersemar memberikan landasan bagi pengembangan untuk mengambil langkah
mewujudkan negara berdasarkan Pancasila.
 Sumber HTN Formal Indonesia
Dalam Tap MPR No. III/MPR/2000 dinyatakan bahwa sumber HTN Formal adalah sebagai
berikut :

- UUD 1945. UUD atau disebut juga dengan konstitusi merupakan dokumen hukum yang
mengandung aturan-aturan, ketentuan, pokok atau dasar mengenai ketatanegaraan suatu
negara dalam bentuk tertentu dan apabila akan mengadakan perubahan hanya boleh
dilakukan dengan prosedur yang berat dibandingkan dengan peraturan dan ketetapan lainnya.
Konstitusi dalam arti luas adalah keseluruhan peraturan dan ketetapan ketatanegaraan (hukum
dasar) baik yang tertulis maupun tidak tertulis, sedangkan dalam arti sempit konstitusi
merupakan hukum dasar dalam bentuk tertulis.

UUD 1945 merupakan sumber hukum utama karena setiap bentuk hukum yang menjadi
sumber HTN harus bersumber pada UUD 1945, begitu juga dalam menyelesaikan persoalan
ketatanegaraan haruslah mengacu pada UUD 1945 dan dari UUD 1945 mengalir ketentuan
pelaksana yang menurut tingkatannya masing-masing merupakan sumber hukum formil.

- Tap MPR RI. Tap MPR termasuk dalam sumber HTN Formil karena Tap MPR merupakan
putusan majelis yang memiliki kekuatan mengikat kedalam dan keluar yang juga berisi arah
kebijakan negara dan bersifat sebagai pengemban kedaulatan rakyat.

- Undang-Undang. UU adalah produk hukum yang dibuat oleh DPR bersama dengan
Presiden. UU dibuat dalam rangka melaksanakan UUD 1945 dan Tap MPR, UU sebagai
sumber hukum dapat dilihat dari UUD 1945 Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 (1), dimana UU
sebagai pelaksana UUD 1945.

- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Perpu merupakan bentuk peraturan atau


ketetapan yang dibuat oleh Presiden berdasarkan kewenangan pasal 2 UUD 1945, yaitu
dalam ihwal kepentingan yang memaksa, yang kalau ditetapkan dalam bentuk UU akan
membutuhkan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang genting itu harus segera
diatasi, sehingga kepada Presiden diberikan hak untuk menetapkan Perpu dengan syarat
bahwa Presiden harus meminta persetujuan DPR dalam sidang berikutnya. Apabila DPR
menyetujuinya maka Perpu itu dijadikan UU, apabila DPR menolaknya maka Presiden harus
mencabut Perpu tersebut.

- Peraturan Pemerintah. PP adalah bentuk peraturan yang menurut UUD 1945 dapat dibuat
oleh Presiden untuk melaksanakan lebih lanjut suatu UU. Berdasarkan Pasal 5 ayat (2)
menyatakan bahwa Presiden menetapkan PP untuk menjalankan UU.

- Keputusan Presiden. Keppres telah diganti menjadi Peraturan Presiden dalam UU No 12


Tahun 2011 yang memuat tentang hierarki perundang-undangan yang baru. Meskipun
demikian kedua-duanya didasarkan pada penggunaan kewenangan eksekutif yang dimuat
dalam Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Presiden Republik Indonesia
memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD”. Baik Keppres maupun Perpres sama-
sama merupakan produk hukum yang dikeluarkan oleh kekuasaan eksekutif dalam hal ini
Presiden yang juga berupa pengaturan pelaksanaan administrasi negara dan administrasi
pemerintahan.

- Peraturan Daerah. Perda merupakan peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh


pemerintah daerah yang bertujuan untuk melaksanakan aturan hukum pada tingkat daerah
dan menampung kondisi khusus daerah yang bersangkutan. Perda tidak boleh bertentangan
dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

 Sumber HTN Lainnya


- Traktat (Perjanjian) Sebagai Sumber HTN. Perjanjian antar negara di dalam ilmu hukum
sering juga dikatakan sebagai sumber hukum. Isi perjanjian karena mengikat pihak-pihak
negara termasuk juga warga negara maka aturan-aturan dan ketentuan-ketentuannya
merupakan pula hukum positif dari negara yang bersangkutan masing-masing. Apabila isi
perjanjian itu menyangkut bidang tata negara, maka perjanjian itu dapat dikatakan sebagai
sumber HTN.

- Doktrin. Ajaran seorang pakar atau pendapat sarjana yang sudah diakui dan diuji
kebenarannya merupakan sumber HTN juga, seperti ajaran tentang negara integralistik yang
dikemukakan oleh Soepomo berpengaruh besar atas UUD 1945.

- Kebiasaan Ketatanegaraan. Konvensi ketatanegaraan merupakan perbuatan ketatanegaraan


yang terpelihara dan dilakukan berulang-ulang sehingga dapat diterima dan ditaati dalam
praktek ketatanegaraan suatu negara.

- Hukum Adat Ketatanegaraan adalah hukum di bidang ketatanegaraan yang tumbuh dan
berkembang di dalam kehidupan sehari-haridari rakyat yang diakui berlaku oleh penguasa.
Contohnya mengenai persekutuan hukum negara asli seperti desa, mengenai peradilan agama,
dll

Perbedaan Hukum Adat Ketatanegaraan dengan Konvensi adalah apabila hukum adat
ketatanegaraan merupakan hukum asli bangsa Indonesia yang tumbuh, berkembang, dan
dipertahankan oleh masyarakat melalui putusan penguasa adat maka Konvensi adalah hukum
yang tumbuh dalam praktek penyelenggaraan negara untuk melengkapi, menyempurnakan,
dan menghidupkan kaidah hukum adat ketatanegaraan.

B. Asas-Asas Hukum Tata Negara

- Asas Kekeluargaan. Hukum Tata Negara Indonesia dalam ketentuan, penerapan, dan
pelaksanaannya menganut asas kekeluargaan yang mengutamakan kebersamaan dan
semangat kekeluargaan. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 33 ayat (1) yang secara tegas
menyatakan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas
kekeluargaan”. Dalam pelaksanaannya dapat juga dilihat dari cara pengambilan keputusan
yang dilakukan dalam lembaga MPR, DPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Selain itu
Hubungan kerja sama antara Presiden dan DPR dalam rangka penyusunan Undang-undang
juga mengutamakan asas kekeluargaan (hub kerja sama ini diatur dalam Pasal 5 ayat (1)).

- Asas Kedaulatan Rakyat. Kedaulatan merupakan wewenang yang tertinggi yang


menentukan segala wewenang yang ada dalam suatu negara. Ketatanegaraan Indonesia
menganut asas kedaulatan rakyat, hal ini dapat dilihat dari Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang
secara tegas menyatakan “kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut
UUD”.

- Asas Pemisahan dan Pembagian Kekuasaan. Pemisahan kekuasaan dan pembagian


kekuasaan memiliki pengertian yang berbeda, pembagian kekuasaan (Jhon Locke) membagi
kekuasaan negara ke dalam kekuasaan legislatif, eksekutif, dan federatif yang masih
berhubungan antara satu dengan yang lainnya, sedangkan pemisahan kekuasaan
(Montesquieu) merupakan pemisahan kekuasaan yang tegas mengenai pembagian tugas
ketatanegaraan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Setelah amandemen UUD 1945 Indonesia menganut asas pemisahan kekuasaan dengan
system check and balances, hal ini nampak dalam kekuasaan antar lembaga negara oleh
pembuat UUD dipandang seimbang (balances) dan kewajiban penerima kekuasaan untuk
memberi pertanggungjawaban kepada pemberi kekuasaan dipandang sebagai check
(pengawasan). Hal ini dapat dilihat dalam proses pembuatan UU yang terdapat dalam Pasal 5
ayat (1) UUD 1945 “Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan
DPR”.

- Asas Negara Hukum. Negara hukum adalah negara yang berdiri diatas hukum yang
menjamin keadilan kepada warga negaranya. Hal ini berarti setiap tindakan aparatur negara
harus didasarkan atas hukum. Ketatanegaraan Indonesia menganut asas negara hukum yang
dinyatakan dengan tegas dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi “Negara Indonesia
adalah negara hukum”.

Ciri-ciri Negara Hukum antara lain ; adanya pengakuan dan perlindungan HAM yang
penegakannya dijamin oleh hukum, peradilan yang bebas dan tidak memihak, legalitas dalam
segala bentuk, adanya pembagian kekuasaan, adanya UUD atau konstitusi yang memuat
ketentuan tertulis tentang hubungan antara penguasa dan rakyat.

Adanya UUD akan memberikan jaminan konstitusional terhadap asas kebebasan dan
persamaan, adanya pembagian kekuasaan dimaksudkan untuk menghindari penumpukan
kekuasaan dalam satu tangan yang cenderung pada penyalahgunaan kekuasaan.

A.V. Dicey mengetengahkan 3 unsur dari the rule of law, yaitu adanya supremasi hukum
untuk meniadakan kesewenang-wenangan, persamaan kedudukan di hadapan hukum,
konstitusi bukanlah sumber, melainkan merupakan konsekuensi dari hak-hak individu yang
dirumuskan dan ditegaskan oleh peradilan.

SUMBER: http://feelinbali.blogspot.com/2013/02/dasar-dasar-hukum-tata-
negara.html#ixzz2WppRfIXC