Anda di halaman 1dari 14

PEMERIKSAAN RADIOGRAFI THORAX

Oleh: Mashari Ali Misri

Pemeriksaan Radiografi thorax atau sering disebut chest x-ray (CXR) bertujuan menggambarkan
secara radiografi organ pernafasan yang terdapat di dalam rongga dada. Teknik radiografi thorax
terdiri dari bermacam-macam posisi yang harus dipilih disesuaikan dengan inidikasi
pemeriksaan, misalnya bronchitis kronis, KP, fleural effusion, pneumo thorax dan lain-lain.

Untuk menentukan posisi mana yang tepat, harus menyesuaikan antara tujuan pemeriksaan
dengan kriteria foto yang dihasilkan.

Foto thorax digunakan untuk mendiagnosis banyak kondisi yang melibatkan dinding thorax,
tulang thorax dan struktur yang berada di dalam kavitas thorax termasuk paru-paru, jantung dan
saluran-saluran yang besar. Pneumonia dan gagal jantung kongestif sering terdiagnosis oleh
foto thorax. CXR sering digunakan untuk skrining penyakit paru yang terkait dengan pekerjaan
di industri-industri seperti pertambangan dimana para pekerja terpapar oleh debu.

Secara umum kegunaan Foto thorax/CXR adalah :


– untuk melihat abnormalitas congenital (jantung, vaskuler)

– untuk melihat adanya trauma (pneumothorax, haemothorax)


– untuk melihat adanya infeksi (umumnya tuberculosis/TB)
– untuk memeriksa keadaan jantung
– untuk memeriksa keadaan paru-paru
Abnormalitas atau kelainan gambaran yang biasa terlihat dari CXR adalah :

1. Nodule (daerah buram yang khas pada paru)

Biasanya disebabkan oleh neoplasma benign/malignan, granuloma (tuberculosis), infeksi


(pneumoniae), vascular infarct, varix, wegener’s granulomatosis, rheumatoid arthritis.
Kecepatan pertumbuhan, kalsifikasi, bentuk dan tempat nodul bisa membantu dalam diagnosis.
Nodul juga dapat multiple.

2. Kavitas

Yaitu struktur lubang berdinding di dalam paru. Biasanya disebabkan oleh kanker, emboli paru,
infeksi Staphyllococcus. aureus, tuberculosis, Klebsiella pneumoniae, bakteri anaerob dan jamur,
dan wegener’s granulomatosis.

3. Abnormalitas pleura.

Pleural adalah cairan yang berada diantara paru dan dinding thorax. Efusi pleura dapat terjadi
pada kanker, sarcoid, connective tissue diseases dan lymphangioleiomyomatosis.

LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN FOTO THORAX


A. PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
1. Meja pemeriksaan

2. Film, kaset

3. Marker dan asesoris lain

4. Pesawat Rontgen

B. INDIKASI PEMERIKSAAN
Indikasi dilakukannya foto toraks antara lain :

1. Infeksi traktus respiratorius bawah, Misalnya : TBC Paru, bronkitis, Pneumonia


2. Batuk kronis

3. Batuk berdarah

4. Trauma dada

5. Tumor

6. Nyeri dada

7. Metastase neoplasma

8. Penyakit paru akibat kerja

9. Aspirasi benda asing

C. PERSIAPAN PEMERIKSAAN
1. Mengidentifikasi klinis / indikasi pemeriksaan

2. Memilih teknik radiografi yang tepat

3. Memberikan instruksi kepada pasien

D. POSISI PEMERIKSAAN
1. Posisi PA (Postero Anterior)

Pada posisi ini film diletakkan di depan dada, siku ditarik kedepan supaya scapula tidak
menutupi parenkim paru.

2. Posisi AP (Antero Posterior)

Dilakukan pada anak-anak atau pada apsien yang tidak kooperatif. Film diletakkan dibawah
punggung, biasanya scapula menutupi parenkim paru. Jantung juga terlihat lebih besar dari
posisi PA.

3. Posisi Lateral Dextra & Sinistra


Posisi ini hendaknya dibuat setelah posisi PA diperiksa. Buatlah proyeksi lateral kiri kecuali
semua tanda dan gejala klinis terdapat di sebelah kanan, maka dibuat proyeksi lateral
kanan,berarti sebelah kanan terletak pada film. Foto juga dibuat dalam posisi berdiri.

4. Posisi Lateral Dekubitus

Foto ini hanya dibuat pada keadaan tertentu,yaitu bila klinis diduga ada cairan bebas dalam
cavum pleura tetapi tidak terlihat pada foto PA atau lateral. Penderita berbaring pada satu sisi
(kiri atau kanan). Film diletakkan di muka dada penderita dan diberikan sinar dari belakang arah
horizontal.

5. Posisi Apikal (Lordotik)

Hanya dibuat bila pada foto PA menunjukkan kemungkinan adanya kelainan pada daerah apex
kedua paru. Proyeksi tambahan ini hendaknya hanya dibuat setelah foto rutin diperiksa dan bila
ada kesulitan menginterpretasikan suatu lesi di apex.

6. Posisi Oblique Iga

Hanya dibuat untuk kelainan-kelainan pada iga (misal pembengkakan lokal) atau bila terdapat
nyeri lokal pada dada yang tidak bisa diterangkan sebabnya, dan hanya dibuat setelah foto rutin
diperiksa. Bahkan dengan foto oblique yang bagus pun, fraktur iga bisa tidak terlihat.

7. Posisi Ekspirasi

Adalah foto toraks PA atau AP yang diambil pada waktu penderita dalam keadaan ekspirasi
penuh. Hanya dibuat bila foto rutin gagal menunjukkan adanya pneumothorax yang diduga
secara klinis atau suatu benda asing yang terinhalasi.

E. PROSEDUR PEMERIKSAAN
1. Memasang kaset dan memberikan marker

2. Mengatur posisi pasien

3. Mengatur jarak ( FFD),

4. Menentukan Arah Sinar (CR) dan Pusat Sinar (CP),

5. Mengatur kolimasi Menentukan faktor eksposi dan proteksi radiasi


6. Melakukan eksposi

7. Melakukan processing film

8. Mengevaluasi hasil foto

G. SYARAT / KRITERIA GAMBARAN FOTO THORAX PA


1. Seluruh lapangan paru tampak atau tercover

2. Batas atas Apex paru tampak (tidak terpotong)

3. Batas bawah Kedua Sinus Prenico costalis tidak terpotong

4. Kedua Sterno Clavicular Joint tampak simetris kanan dan kiri

5. Lapangan Pulmo terbebas dari gambaran os. Scapula

6. Inspirasi penuh ditunjukkan dengan terlihatnya Costae 9-10 Posterior

7. Faktor Eksposi cukup ditunjukkan dengan terlihatnya CV Thoracal 1-4

8. Tampak Carina (percabangan Bronkus) setinggi CV Thoracal 3 atau 4

9. Tampak gambaran vaskularisasi paru10. Diafragma terlihat naik, tampak gambaran jantung

H. MEMBEDAKAN KIRI DAN KANAN


1. Gambaran jantung lebih besar di sebelah kiri

2. Diafragma kanan lebih tinggi daripada diafragma kiri

3. Arcus aorta di sebelah kiri

4. Di sebelah kiri ada gambaran udara didalam lambung


TEKNIK RADIOGRAFI THORAX

Anatomi daripada thorax


pada manusia :
1. FOTO THORAX POSISI PA

 Pasien diposisikan erect menghadap bucky stand (kaset vertikal), MSL // garis tengah kaset.
 Kedua punggung tangannya diletakkan di atas panggul dan siku ditekan ke depan.
 FFD 150 cm, CR horizontal, CP pada MSL setinggi CV thoracal VI
 Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh, berikan aba- aba : tarik napas … …tahan !
………... Nafas biasa...!

KRITERIA GAMBAR :

 Foto mencakup keseluruhan thorax, bagian atas: apeks paru-paru tidak terpotong
 Bagian bawah: kedua sinus costophrenicus tidak terpotong
 Diafragma mencapai iga ke- 9 belakang
 Kedua Os scapula terlempar ke arah lateral
 C.V. Thoracalis tampak s/d ruas keempat
 Tampak bayangan bronchus
 Foto simetris
 Tampak marker R/ L
2. FOTO THORAX POSISI AP

 Pasien diposisikan setengah duduk atau supine di atas meja pemeriksaan/brandcar.


 Kedua lengan lurus disamping tubuh.
 Kaset di belakang tubuh, MSL // grs tengah kaset
 FFD: 150 cm
 CR tegak lurus kaset, CP pada MSL setinggi CV TH VI
 Beri marker L / R
 Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh

KRITERIA FOTO THORAX POSISI AP :

 Tampak gambaran thorax proyeksi AP


 Batas atas apex paru
 Batas bawah sinus costophrenicus
 Dinding lateral tidak terpotong
 CV TH sampai ruas ke empat
 Diafragma mencapai iga IX belakang
 Tampak bayangan bronchus
 Marker L / R & identitas pasien
 Foto simetris

3. FOTO THORAX POSISI LATERAL

 Pasien diposisikan erect, MSP // kaset


 Kedua lengan dilipat di atas kepala
 Pasang Marker L / R sesuai dengan sisi yang dekat ke kaset
 FFD: 150 cm,
 CR : horizontal
 CP kira-kira satu inci ke depan dari MCL setinggi CV TH VI
 Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh

KRITERIA GAMBARAN POSISI LATERAL:

 Tampak gambaran thorax proyeksi lateral


 Bagian Anterior mencakup gambaran sternum
 Bagian Posterior mencakup Col.Vert. Thoracalis
 Batas atas apex paru
 Batas bawah sinus coctoprhenicus dan paru posterior
 Gambaran iga-iga kiri dan kanan superposisi
 Gambaran bahu tidak menutupi apex paru
TEKNIK RADIOGRAFI THORAX
01.25 No comments

Thorax PA (Postero-Anterior)

PP : Pasien Erect PA dengan TH menempel pada kaset/stand Chest.

PO : Tempatkan MSP Tubuh ditengah kaset, dagu diletakkan pada tepi atas kaset
(posisi mendongak).Letakkan kedua Punggung tangan diatas crista illiaka dan
rotasikan elbow ke anterior hingga shoulder menyentuh kaset dan scapula tertarik ke
arah lateral.(agar scapula tidak superposisi dgn Paru). Upayakan agar Objek
simetris terhadap kaset,Upayakan agar Pasien full inspirasi (agar gambaran Paru
bisa lebih kontras).

CP : Tegak Lurus Film


CR : Selevel Axilla
FFD : 100-150 cm

Kriteria :

Tampak Gambaran Trachea,Lungs,arcus aorta dan jantung

Scapula tidak menutupi gambaran paru

Kedua sinus costoprenikus tidak terpotong

Kedua paru simetris dilihat dari jarak costal margin ke collumna vertebra dan jarak acromioclavicular joint simetris
FE : disesuaikan dengan tebal Objek

Thorax AP

Pada pemotretan AP arah sinar Antero Posterior.

Tahap pemotretan thorax AP sama dengan PA kecuali pada Posisi Pasien (PP : Supine/erect AP/semi erect AP).

Posisi AP hanya dilakukan jika pasien tidak memungkinkan untuk PA.

Kriteria Foto Thorax yang baik

1. Tampak seluruh lapangan paru


2. Batas atas Apex paru tidak terpotong
3. Batas bawah kedua sinus prenico costalis tidak terpotong
4. Kedua Sterno Clavicular Joint tampak simetris kanan dan kiri
5. Lapangan Paru (Pulmo) terbebas dari gambaran Os.Scapula
6. Full Inspirasi ditandai dengan terlihatnya costa 9-10 posterior
7. FE cukup ditandai dengan terlihatnya CV 1-4 samar-samar
8. TampakCarina (percabangan Bronkus) setinggi CV Thoracal 3 atau 4
9. Tampak gambaran Vaskularisasi Paru (Aorta)
10. Tampak gambaran Jantung dan diafragma kanan lebih tinggi dibandingkan diafragma kiri.

Thorax Lateral

1.TH.Lat Kiri u/memperlihatkan gbran jantung dan paru2 kiri


2.TH.Lat Kanan u/ memperlihatkan paru2 kanan

3.Ukuran kaset :
-35x43 cm (14x17 inci)
35x35 cm (14x14 inci)
24x30 cm (10x12 inci) u/anak-anak

PP : Pasien Erect True Lateral, bagian yang akan diperiksa menepel kaset (biasanya Lat.Kiri). Batas atas 3-5 cm diatas bahu.

PO : Tempatkan MSP pasien sejajar dengan garis tengah kaset. Upayakan pasien bernapas dan ekspirasi penuh untuk
memaksimalkan area paru-paru.

CR : Tegak Lurus Film

CP : 5 cm kearah anterior menuju mid axillary line pada Vertebra Thoracal VII.

Kriteria :
Apex Paru harus terlihat
Bag.superior costae saling superposisi
Sternum dalam posisi True Lat.
Angulus costoprenicus tidak boleh terpotong.

Thorax Dekubitus Lateral

Teknik Pemeriksaan

PP : Pasien tidur miring diatas meja pemeriksaan, dengan bantal keras di area thorax sebagai pengganjal.

PO : sisi yang diduga terdapat cairan dekat dengan kaset. LLD untuk sisi kiri dan RLD utk sisi kanan. Posisi kasetCrosstable

CP : Pada pertengahan thorax. Upayakan sisi yang diganjal gambarnya tidak terpotong.

CR : Horizontal Tegak Lurus Bidang Film

FFD : 100-120 cm
Lordotic

Untuk memperlihatkan Apex paru :

PP : Pasien Erect AP. Berikan jarak antara pasien dengan stand kaset kira2 30 cm.
Instruksikan agar Pasien bersandar dengan bahu menempel pada kaset.

PO : atur jarak 2 inchi dari batas atas kaset ke bahu saat posisi lordotik.

CP : pada pertengahan Sternum

CR : Horizontal Tegak Lurus

FFD : 180 cm (agar tak terjadi magnifikasi Jantung dan paru-paru)

Kriteria gbr :

Clavicula terlihat diatas Apex paru

Bagian distal Clavicula terlihat pada sternum simetris terhadap CV Cervicalis


Clavicula tampak horizontal dengan bagian akhir medialnya overlap dengan costa ke 1 atau ke 2

Costa mengalami distorsi dengan bagian anterior dan posteriorny a saling superposisi.

Anda mungkin juga menyukai