Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN ELIMINASI URIN

A. Konsep Teori gangguan Eliminasi Urin


1. Definisi
Eliminasi urine adalah proses pembuangan sisa-sisa
metabolisme. Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan.
Proses pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi organ
eliminasi seperti ginjal, ureter, bladder, dan uretra. (A.Aziz, 2008 : 62).
Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urin. Ureter
mengalirkan urin ke bladder. Dalam bladder urin ditampung sampai
mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan melalui uretra
(Tarwoto & Wartonah 2010).

2. Etiologi
a. Penurunan kapasitas kandung kemih
b. Iritasi kandung kemih
c. Penurunan kemampuan menyadari tanda-tanda gangguan
kandung kemih
d. Efek tindakan medis dan diagnostic (misalnya operasi ginjal,
operasi saluran kemih, anestesi, obat-obatan)
e. Kelemahan otot pelvis
f. Ketidakmam[uan mengakses toilet (misalnya immobilisasi)
g. Hambatan lingkungan
h. Ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan eliminasi
i. Outlet kandung kemih tidak lengkap (misalnya anomaly saluran
kemih congenital)
j. Imaturitas (pada anak usia < 3 tahun)
(Standar diagnosis keperawatan Indonesia (PPNI), 2017).

3. Patofisiologi dan Pathway


a. Ginjal
1) Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai dengan
vertebra lumbalis ke-3. Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih
tinggi 1,5 – 2 cm dari ginjal kanan karena posisi anatomi hepar
(hati). Setiap ginjal dilapisi oleh kapsul yang kokoh dan
dikelilingi oleh lapisan lemak. Produk pembuangan hasil
metabolisme yang terkumpul dalam darah di filtrasi di ginjal.
2) Darah sampai ke setiap ginjal melalui arteri renalis yang
merupakan percabangan dari aorta abdominalis. Arteri renalis
memasuki ginjal melalui hilum. Setiap ginjal berisi 1 juta nefron,
yang merupakan unit fungsional ginjal kemudian membentuk
urine.
3) Darah masuk ke nefron melalui arteiola aferen. Sekelompok
pembuluh darah ini membentuk jaringan kapiler glomerulus,
yang merupakan tempat pertama filtrasi darah dan
pembentukan urine. Apabila dalam urine terdapat protein yang
berukuran besar (proteinuria), maka hal ini merupakan tanda
adanya cedera pada glomelorus. Normalnya glomelorus
memfiltrasi sekitar 125 ml filtrat/menit.
4) Sekitar 99 % filtrat direabsorsi ke dalam plasma, dengan 1 %
sisanya diekskresikan sebagai urine. Dengan demikian ginjal
memiliki peran dalam pengaturan cairan dan eletrolit.
5) Ginjal juga sebagai penghasil hormon penting untuk
memproduksi eritrisit, pengatur tekanan darah dan mineralisasi
mineral. Ginjal memproduksi eritropoietin, sebuah hormon yang
terutama dilepaskan dari sel glomerolus sebagai penanda
adanya hipoksia (penurunan oksigen) eritrosit. Setelah
dilepaskan dari ginjal, fungsi eritropoesis (produksi dan
pematangan eritrosit) dengan merubah sel induk tertentu
menjadi eritoblast. Klien yang mengalami perubahan kronis
tidak dapat memproduksi hormon ini sehingga klien tersebut
rentan terserang anemia.
6) Renin adalah hormon lain yang diproduksi oleh ginjal berfungsi
untuk mengatur aliran darah pada saat terjadi iskemik ginjal (
penurunan suplai darah ). Fungsi renin adalah sebagai enzim
untuk mengubah angiotensinogen ( substansi yang disentesa
oleh hati ) menjadi angiotensin I. Kemudian angiotensi I
bersikulasi dalam pulmonal ( paru-paru ), angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II dan angeotensin III. Angeotensin II
menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dan
menstimulasi pelepasan aldosteron dari korteks adrenal.
7) Aldesteron menyebabkan retensi air sehingga meningkatkan
volume darah. Angiotensin III mengeluarkan efek yang sama
namun dengan derajat yang lebih ringan. Efek gabungan dari
keduanya adalah terjadinya peningkatan tekanan darah arteri
dan aliran darah ginjal.
8) Ginjal juga berfungsi sebagai pengatur kalsium dan fosfat.
Ginjal bertanggungjawab untuk memproduksi substansi
mengaktifkan vitamin D. Klien dengan gangguan fungsi ginjal
tidak membuat metabolik vitamin D menjadi aktif sehingga klien
rentan pada kondisi demineralisasi tulang karena adanya
gangguan pada proses absorbsi kalsium.
b. Ureter
1) Ureter membentang pada posisi retroperitonium untuk
memasuki kandung kemih di dalam rongga panggul ( pelvis )
pada sambungan uretrovesikalis. Dinding ureter dibentuk dari
tiga lapisan jaringan. Lapisan dalam, merupakan membran
mukosa yang berlanjut sampai lapisan pelvis renalis dan
kandung kemih. Lapisan tengah merupakan serabut polos yang
mentranspor urine melalui ureter dengan gerakan peristaltis
yang distimulasi oleh distensi urine di kandung kemih. Lapisan
luar adalah jaringan penyambung fibrosa yang menyokong
ureter.
2) Gerakan peristaltis menyebabkan urine masuk kedalam
kandung kemih dalam bentuk semburan. Ureter masuk dalam
dinding posterior kandung kemih dengan posisi miring.
Pengaturan ini berfungsi mencegah refluks urine dari kandung
kemih ke dalam ureter selama proses berkemih ( mikturisi )
dengan menekan ureter pada sambungan uretrovesikalis (
sambungan ureter dengan kandung kemih ).
c. Kandung Kemih
1) Merupakan suatu organ cekung yang dapat berdistensi dan
tersusun atas jaringan otot serta merupakan wadah tempat
urine dan ekskresi. Vesica urinaria dapat menampungan sekitar
600 ml walaupun pengeluaran urine normal 300 ml. Trigonum (
suatu daerah segetiga yang halus pada permukaan bagian
dalam vesica urinaria ) merupakan dasar dari kandung kemih.
2) Sfingter uretra interna tersusun atas otot polos yang berbentuk
seperti cincin berfungsi sebagai pencegah urine keluar dari
kandung kemih dan berada di bawah kontrol volunter (
parasimpatis : disadari ).
d. Uretra
1). Urine keluar dari vesica urinaria melalui uretra dan keluar dari
tubuh melalui meatus uretra. Uretra pada wanita memiliki
panjang 4 – 6,5 cm. Sfingter uretra eksterna yang terletak
sekitar setengah bagian bawah uretra memungkinkan aliran
volunter urine.
2) Panjang uretra yang pendek pada wanita menjadi faktor
predisposisi mengalami infeksi. Bakteri dapat dengan mudah
masuk ke uretra dari daerah perineum. Uretra pada ria
merupakan saluran perkemihan dan jalan keluar sel serta
sekresi dari organ reproduksi dengan panjang 20 cm.
(Fundamental of nursing hal 1679 – 1681, 2010).
Pathway (terlampir)

4. Manifestasi Klinis
a. Aliran urin lambat
b. Terjadi poliuria yang makin lama makin parah karena pengosongan
kandung kemih tidak efisien.
c. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
d. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri saat BAK dan merasa
ingin BAK
5. Penatalaksanaan (Medis dan Keperawatan)
a. Pielogram Intravena
Memvisoalisasi duktus dan pelvis renalis serta memperlihatkan
ureter, kandung kemih dan uretra. Prosedur ini tidak bersifat invasif.
Klien perlu menerima injeksi pewarna radiopaq secara intra vena.
b. Computerized Axial Tomography
Merupakan prosedur sinar X terkomputerisasi yang digunakan
untuk memperoleh gambaran terperinci mengenai struktur bidang
tertentu dalam tubuh. Scaner temografik adalah sebuah mesin
besar yang berisi komputer khusus serta sistem pendeteksi sinar X
yang berfungsi secara simultan untuk memfoto struktur internal
berupa potongan lintang transfersal yang tipis.
c. Ultra Sonografi
Merupakan alat diagnostik yang noninvasif yang berharga dalam
mengkaji gangguan perkemihan. Alat ini menggunakan gelombang
suara yang tidak dapat didengar, berfrekuensi tinggi, yang
memantul dari struktur jaringan.
d. Prosedur Invasif
1) Sistoscopy
Sistocopy terlihat seperti kateter urine. Walaupun tidak fleksibel
tapi ukurannya lebih besar sistoscpy diinsersi melalui uretra
klien. Instrumen ini memiliki selubung plastik atau karet.
Sebuah obturator yang membuat skop tetap kaku selama
insersi. Sebuah teleskop untuk melihat kantung kemih dan
uretra, dan sebuah saluran untuk menginsersi kateter atau
isntrumen bedah khusus.
2) Biopsi Ginjal
Menentukan sifat, luas, dan progronosis ginjal. Prosedur ini
dilakukan dengan mengambil irisan jaringan korteks ginjal
untuk diperiksa dengan tekhnik mikroskopik yang canggih.
Prosedur ini dapat dilakukan dengan metode perkutan (tertutup)
atau pembedahan (terbuka).
3) Angiography (arteriogram)
Merupakan prosedur radiografi invasif yang mengefaluasi
sistem arteri ginjal. Digunakan untuk memeriksa arteri ginjal
utama atau cabangnya untuk mendeteksi adanyapenyempitan
atau okulasi dan untuk mengefaluasi adanya massa (cnth:
neoplasma atau kista).
e. Sitoure Terogram Pengosongan (volding cystoureterogram)
Pengisian kandung kemih dengan zat kontras melalui kateter.
Diambil foto saluran kemih bagian bawah sebelum, selama dan
sesudah mengosongkan kandung kemih. Kegunaannya untuk
mencari adanya kelainan uretra (misal, stenosis) dan untuk
menentukan apakah terdapat refleks fesikoreta.
f. Arteriogram Ginjal
Memasukan kateter melalui arteri femonilis dan aorta abdominis
sampai melalui arteria renalis. Zat kontras disuntikan pada tempat
ini, dan akan mengalir dalam arteri renalis dan kedalam
cabang-cabangnya.
Indikasi :
1) Melihat stenosis renalis yang menyebabkan kasus hiperrtensi
2) Mendapatkan gambaran pembuluh darah suatuneoplasma
3) Mendapatkan gambaran dan suplai dan pengaliran darah ke
daerah korteks, untuk
4) pengetahuan pielonefritis kronik.

6. Pemeriksaan Penunjang
Hal yang dikaji adalah warna,kejernihan, dan bau urine. Untuk melihat
kejanggalan dilakukan pemeriksaan protein, glukosa, dll. Tes Darah.
Hal yang di kaji BUN,bersih kreatinin, nitrogen non protein, sistoskopi,
intravenus, pyelogram. (fundamental of nursing hal 1700 - 1704,2001).

7. Komplikasi
a. CKD
b. Penyakit jantung
c. Retensi urine
d. Inkontinensia urin
B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
1) pola berkemih
2) Gejala dari perubahan berkemih
3) Faktor yang mempengaruhi berkemih
b. Pemeriksaan fisik
1) Abdomen : pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena,
distensi bladder, pembesaran ginjal, nyeri tekan, tenderness,
bising usus.
2) Genetalia wanita : Inflamasi, nodul, lesi, adanya secret dari
meatus, keadaan atropi jaringan vagina.
3) Genetalia laki-laki : kebersihan, adanya lesi, tenderness,
adanya pembesaran skrotum.
c. Intake dan output cairan
1) Kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam).
2) Kebiasaan minum di rumah.
3) Intake: cairan infuse, oral, makanan, NGT.
4) Kaji perubahan volume urin untuk mengetahui
ketidakseimbangan cairan.
5) Output urin dan urinal, cateter bag, drainage ureterostomy,
sistostomi.
6) Karakteristik urin : Warna, kejernihan, bau, kepekatan.
d. Pemeriksaan diagnostic
1). Pemeriksaan urin (urinalisis):
a) warna (N: Jernih kekuningan)
b) penampilan (N: Jernih)
c) Bau (N: Beraroma)
d) Ph(N: 4,5-8,0)
e) Beratb jenis (N: 1,005-1,030)
f) Glukosa (N: Negatif)
g) Keton (N: Kuman pathogen negative).
(Potter & Perry, 2010).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang terjadi pada masalah kebutuhan eliminasi
urine adalah sebagai berikut :
a. Perubahan pola eliminasi urine Berhubungan dengan :
1) Ketidakmampuan saluran kemih akibat anomali saluran
urinaria
2) Penurunan kapasitas atau iritasi kandung kemih akibat
penyakit
3) Kerusakan pada saluran kemih
4) Efek pembedahan pada saluran kemih
5) inverse perkemihan sementara (selang nefrostomi, kateter
uretra, intervensi pembedahan)
b. Risiko tinggi terhadap infeksi b.d insisi operasi dan pemasangan
kateter.
c. Inkontinensia fungsional Berhubungan dengan :
1) Penurunan isyarat kandung kemih
2) Kerusakan kemampuan untuk mengenal isyarat akibat cedera
atau kerusakan kandung kemih
3) Kerusakan mobilitas
4) Kehilangan kemampuan motoris dan sensoris
d. Inkontinensia stress Berhubungan dengan :
1) Tingginya tekanan Intraabdimibal dan lemahnya otor pelviks
akibat kehamilan
2) Penurunan tonus otot
e. Inkontinensia total Berhubungan dengan Defisit komunikasi atau
persepsi
f. Inkontinensia dorongan Berhubungan Dengan : Penurunan
kapasitas kandung kemih akibat penyakit infeksi, trauma, tindakan
pembedahan, faktor penuaan
g. Retensi urine berhubungan dengan adanya hambatan pada
sfingter akibat penyakit struktur, BHP
3. Intervensi keperawatan
a. Gangguan Eliminasi urin
Tujuan : kontinensia urin, eliminasi tidak terganggu, tidak ada
hematuria
Rencana tindakan :
1) Pantau eliminasi urine, meliputi frekuensi, konsistensi, bau,
volume, dan warna
2) Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
3) Instruksikan pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran
urine, bila diperlukan
4) Ajarkan pasien untuk minum air putih
5) Rujuk ke dokter jika terdapat gejala infeksi saluran kemih.
b. Risiko infeksi
Tujuan : terbebas dari tanda infeksi, memperlihatkan hygiene
personal yang adekuat, melaporkan tanda dan gejala infeksi, jika
ada.
Rencana tindakan:
1) Pantau tanda dan gejala infeksi (suhu, nadi, warna urine)
2) Pantau hasil laboraturium
3) Instruksikan untuk menjaga hygiene personal
4) Lakukan genetalia hygiene.
c. Inkontinensia fungsional berhubungan dengan Penurunan isyarat
kandung kemih
Tujuan : Klien dapat berkemih secara normal dan mampu
menahan keinginan untuk berkemih
Rencana Tindakan :
1) Ajarkan teknik merangsang refleks berkemih, dengan
berkemih seperti : mekanisme supra pubis kutaneus : ketuk
supra pubis secara dalam, tajam dan berulang
2) anjurkan pasien untuk :
a) posisi setengah duduk
b) mengetuk kandung kemih secara langsug denga rata-rata
7 – 8 kali setiap detik
c) gunakan sarung tangan
d) pindahkan sisi rangsangan di atas kandung kemih untuk
menentukan posisi saling berhasil
e) lakukan hingga aliran baik
f) tunggu kurang lebih 1 menit dan ulangi hingga kandung
kemih kosong
g) apabila rangsangan dua kali lebih dan tidak ada respon,
berarti sudah tidak ada lagi yang dikeluarkan
3) apabila belum berhasil, lakukan hal berikut ini selama 2- 3
menit dan berikan jeda waktu 1 menit di antara setiap
kegiatan
a) tekan gland penis
b) pukul perut di atas ligamen inguinalis
c) tekan paha bagian dalam
4) catat jumlah asupan dan pengeluaran
5) jadwalkan program kateterisasi pada saat tertentu
d. Inkontinensia stress Berhubungan dengan penurunan tonus otot
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan klien dapat
menahan reflex untuk berkemih
Rencana Tindakan
1) Kurangi faktor penyebab seperti : Kehilangan jaringan atau
tonus otot, dengan cara :
a) ajarkan untuk mengidentifikasi otot dasar pelviks dan
kekuatan dan kelemahannya saat melakukan latihan
b) untuk otot dasar pelviks anterior bayangkan anda
mencoba menghentikan aliran urine, kencangkan otot-otot
belakang dan depan dalam waktu 10 detik, kemudian
lepaskan atau rileks, ulangi hingga 10 kali dan lakukan 4
kali sehari
2) Meningkatkan tekanan abdomen dengan cara :
a) latih untuk menghindari duduk lama
b) latih untuk sering berkemih sedikitnya tiap 2 jam
e. Inkontinensia total Berhubungan dengan Defisit komunikasi atau
persepsi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
inkontinensia dapat teratasi dengan criteria hasil : Pasien dapat
menahan reflex untuk berkemih
Rencana Tindakan :
1) Pertahankan jumlah cairan dan berkemih
2) Rencanakan program kateterisasi intermiten apabila ada
indikasi
3) Apabila terjadi kegagalan pada latihan kandung kemih
pertimbangan untuk pemasangan kateter indweeling
f. Inkontinensia dorongan Berhubungan Dengan Penurunan
kapasitas kandung kemih akibat penyakit infeksi, trauma,
tindakan pembedahan, faktor penuaan
Rencana Tindakan
1) pertahankan hidrasi secara optimal
2) ajarkan untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dengan
3) ajarkan pola berkemih terencana (untuk mengatasi kontraksi
kandung kemih yang tidak biasa)
4) anjurkan berkemih pada saat terjaga seperti setelah makan,
latihan fisik, mandi
5) anjurkan untuk menahan sampai waktu berkemih
6) lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalam mengatasi iritasi
kandung kemih
g. Retensi urine Berhubungan dengan Adanya hambatan pada
sfingter akibat penyakit struktur, BHP
Tujuan : Pola berkemih klien akan kembali seperti semula dalam
2 hari setelah kateter diangkat , dengan criteria hasil :
1) Kandung kemih tidak akan distensi setelah berkemih
2) klien akan menyangkal adanya rasa penuh pada kandung
kemihnya setelah berkemih.
3) Klien akan mencapai pengosongan urine total dalam 24 jam
setelah kateter diangkat.
Rencana Tindakan
1) Minta klien untuk berusaha berkemih pada waktu yang
terjadwal yang teratur.
2) Instruksikan klien untuk melakukan latihan dasar panggul
(kegle exercise) diluar waktu berkemihnya.
3) Minta klien melakukan latihan ini setiap kali berkemih
4) Minta klien menggunakan konpresi kandung kemih ( metode
crede) selama berkemih.

4. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan setelah dilakukan implementasi dimana pada
klien dengan gangguan eliminasi urine setelah dilakukan tindakan
keperawatan dapat dievaluasi dengan cara :
a. Palpasi kandung kemih untuk mendeteksi adanya distensi setelah
berkemih
Hasil yang diharapkan : Kandung kemih tidak mengalami distensi
setelah berkemih
b. Evaluasi volume haluaran urine
Hasil yang diharapkan : klien mampu berkemih sampai kandung
kemih benar-benar kosong setelah 24 jam kateter dilepas
c. Observasi karakteristik urine
Hasil yang diharapkan : urine akan berwarna jernh, kekuningan
dan tidak mengandung sedimen.
Daftar Pustaka

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.


Salemba Medika: Jakarta.

Perry, Potter. 2010. Fundamental Keperawatan, edisi 6, volume 1. EGC :


Jakarta.

Tarwoto, Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses


Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik. Persatuan Perawat Nasional
Indonesia (PPNI) : Jakarta Selatan.

Wilkinson, Judith M. dan Ahern, Nancy R. 2011. Buku Saku Diagnostik


Keperawatan Edisi 9 NANDA NIC NOC. Penerbit Buku Kedokteran,
EGC: Jakarta

Anda mungkin juga menyukai