Anda di halaman 1dari 11

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kesalahan dalam memberikan obat/cairan


Kesalahan pemberian obat adalah suatu kesalahan dalam proses pengobatan
yang masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab profesikesehatan, pasien
atau konsumen, dan seharusnya dapat dicegah (Cohen, 1991).
Kesalahan pemberian obat, selain memberi obat yang salah, mencakup faktor
lain yang sekaligus sebagai kompensasi, memberi obat yang benar pada waktu yang
salah atau memberi obat yang benar pada rute yang salah, jika terjadi kesalahan
pemberian obat, perawat yang bersangkutan harus segera menghubungi dokternya
atau kepala perawat atau perawat senior setelah kesalahan itu diketahuinya.
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman.Perawat
harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan
mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang
diberikan di luar batas yang direkomendasikan.Secara hukum perawat bertanggung
jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau
obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien.Sekali obat telah
diberikan, perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi.
Buku-buku referensi obat seperti , Daftar Obat Indonesia (DOI), Physicians‘ Desk
Reference (PDR), dan sumber daya manusia, seperti ahli farmasi, harus dimanfaatkan
perawat jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan,
kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi, atau reaksi yang merugikan
dari pengobatan (Kee and Hayes, 1996).

Faktor penyebab kesalahan pemberian obat :

1. Kurang menginterpretasikan dengan tepat resep obat yang dibutuhkan


Perawat juga sering tidak bertanggung jawab untuk melakukan interpretasi yang
tepat terhadap orde obat yang diberikan. Saat orde obat yang dituliskan tidak
dapat dibaca,maka dapat terjadi kesalahan interpretasi terhadap order obat yang
akan diberikan.
2. Kurang tepat dalam menghitung dosis obat yang akan diberikan
Dosis merupakan faktor penting, baik kekurangan atau kelebihan obat dapat
menyebabkan dan bisa membehayakan,sehingga perhitungan dosis yang kurang
tepat dapat membayakan klien.
3. Kurang tepat mengetahui dan memahami prinsip enam benar
Dalam memberikan pengobatan,kita sebagai perawat sering melakukan kesalahan
yang fatal,hal tersebut bisa terjadi apabila kita kurang mengetahui dan memahami
prinsip enam benar yang tepat.
4. Tepat Obat : mengecek program terapi pengobatan dari dokter, menanyakan ada
tidaknya alergi obat, menanyakan keluhan pasien sebelum dan setelah
memberikan obat, mengecek label obat, mengetahui reaksi obat, mengetahui efek
samping obat,hanya memberikan obat yang di siapkan diri sendiri.
5. Tepat dosis : mengecek program terapi pengobatan dari dokter, mengecek hasil
hitungan dosis dengan dengan perawat lain, mencampur/mengoplos obat.
6. Tepat waktu : mengecek program terapi pengobatan dari dokter, mengecek
tanggal kadaluarsa obat, memberikan obat dalam rentang 30 menit.
7. Tepat pasien : mengecek program terapi pengobatan dari dokter, memanggil
nama pasien yang akan diberikan obat, mengecek identitas pasien pada
papan/kardeks ditempat tidur pasien
8. Tepat cara pemberian : mengecek program terapi pengobatan dari dokter,
mengecek cara pemberian pada label/kemasan obat.
9. Tepat dokumentasi : mengecek program terapi pengobatan dari dokter, mencatat
nama pasien, nama obat, dosis, cara, dan waktu pemberian obat (Kozier,2000).

B. Obat dan cairan yang perlu kewaspadaan tinggI


Obat yang Perlu Diwaspadai (High-Alert Medications) adalah sejumlah obat-
obatan yang memiliki risiko tinggi menyebabkan bahaya yang besar pada pasien jika
tidak digunakan secara tepat (drugs that bear a heightened risk of causing significant
patient harm when they are used in error (ISMP - Institute for Safe Medication
Practices).
Obat yang Perlu Diwaspadai (High-Alert Medications) merupakan obat yang
persentasinya tinggi dalam menyebabkan terjadinya kesalahan / error dan / atau
kejadian sentinel (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak
yang tidak diinginkan (adverse outcome) termasuk obat-obat yang tampak mirip
(Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip / NORUM, atau Look-Alike Sound-Alike /
LASA), termasuk pula elektrolit konsentrasi tinggi.
Jadi, obat yang perlu diwaspadai merupakan obat yang memerlukan
kewaspadaan tinggi, terdaftar dalam kategori obat berisiko tinggi, dapat menyebabkan
cedera serius pada pasien jika terjadi kesalahan dalam penggunaan.
C. Prosedur terkait pemberian obat dan cairan
Pemberian Obat yang Perlu Diwaspadai (High-Alert) di Ruang Perawatan
1. Sebelum perawat memberikan obat high alert kepada pasien maka perawat lain
harus melakukan pemeriksaan kembali (double check) secara independen :
- Kesesuaian antara obat dengan rekam medik/instruksi dokter.
- Ketepatan perhitungan dosis obat.
- Identitas pasien.
2. Obat high alert infus harus dipastikan :
- Ketepatan kecepatan pompa infus (infuse pump).
- Jika obat lebih dari satu, tempelkan label nama obat pada syringe pump dan
di setiap ujung jalur selang.
3. Obat high alert elektrolit konsentrasi tinggi harus diberikan sesuai perhitungan
standar yang telah baku, yang berlaku di semua ruang perawatan.
4. Setiap kali pasien pindah ruang rawat, perawat pengantar menjelaskan kepada
perawat penerima pasien bahwa pasien mendapatkan obat high alert, dan
menyerahkan formulir pencatatan obat.
5. Dalam keadaan emergency yang dapat menyebabkan pelabelan dan tindakan
pencegahan terjadinya kesalahan obat high alert dapat mengakibatkan
tertundanya pemberian terapi dan memberikan dampak yang buruk pada pasien,
maka dokter dan perawat harus memastikan terlebih dahulu keadaan klinis pasien
yang membutuhkan terapi segera (cito) sehingga double check dapat tidak
dilakukan, namun sesaat sebelum memberikan obat, perawat harus menyebutkan
secara lantang semua jenis obat yang diberikan kepada pasien sehingga diketahui
dan didokumentasikan dengan baik oleh perawat yang lainnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Setiap depo farmasi, ruang rawat, poliklinik harus memiliki daftar obat High
alert
2. Setiap tenaga kesehatan harus mengetahui penanganan khusus untuk obat
high alert
3. Prosedur peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai dilakukan mulai
dari peresepan, penyimpanan, penyiapan di farmasi dan ruang perawatan dan
pemberian obat
4. Obat high alert disimpan ditempat terpisah, akses terbatas, diberi label High
alert
5. Pengecekan dengan 2 (dua) orang petugas yang berbeda untuk menjamin
kebenaran obat high alert yang digunakan
6. Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien
tanpa pengawasan
D. Persiapan fisik sebelum operasi
Selain mempersiapkan psikologis, waktu dan biaya, pembedahan berencana
juga mewajibkan pasien untuk menyiapkan kondisi fisik demi lancarnya operasi yang
akan berlangsung. Persiapan fisik ini berhubungan dengan kelainan atau penyakit
yang akan dibedah tersebut, dan juga persiapan fisik berkenaan dengan pembiusan,
agar obat-obat bius yang nantinya diberikan tidak menimbulkan efek negatif akibat
kemampuan respon tubuh yang tidak normal lagi. Berbagai persiapan fisik yang harus
dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara lain :
1. Status kesehatan fisik secara umum
Pemeriksaan status kesehatan secara umum meliputi identitas klien, riwayat
penyakit, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap; antara lain
status hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan
hepatik, fungsi endokrin dan fungsi imunologi. Selain itu pasien harus istirahat
yang cukup karena pasien tidak akan mengalami stres fisik dan tubuh lebih rileks
sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah pasien
dapat stabil serta bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih
awal.
2. Status Nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan,
lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin)
dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreksi
sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup bagi perbaikan
jaringan. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreks sebelum pembedahan
untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan.Protein sangat penting
untuk mengganti massa otot tubuh selama fase katabolik setelah pembedahan,
memulihkan volume darah dan protein plasma yang hilang, dan untuk memenuhi
kebutuhan yang meningkat untuk perbaikan jaringan dan daya tahan terhadap
infeksi. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai
komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat
di rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca
operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam
dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat
mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.
3. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Keseimbangan cairan dan elektrolit perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan
input dan output cairan. Demikian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam
rentang normal. Kadar elektrolit yang biasanya diperiksa adalah kadar natrium
serum (normal : 135 – 145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5 – 5
mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0,70 – 1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan
elektrolit berkaitan erat dengan fungsi ginjal. Ginjal berfungsi mengatur
mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi
ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal
mengalami gangguan seperti oliguri atau anuria, insufisiensi renal akut, nefritis
akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal, kecuali pada
kasus-kasus yang mengancam jiwa.
4. Kebersihan lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan
yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan
pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema atau lavement.
Lamanya puasa berkisar antara 7 – 8 jam. Tujuan pengosongan lambung dan
kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-
paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga
menghindarkan terjadi infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien yang
menbutuhkan operasi CITO (segera) seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas,
pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso
gastric tube).
5. Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh
yang kotor dapat menjadi sumber kuman dan mengakibatkan infeksi pada daerah
yang dioperasi. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi
sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya, jika
pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka
perawat akan memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
6. Pengosongan kandung kemih
Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter.
Selain untuk pengosongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperlukan untuk
mengobservasi keseimbangan cairan.
7. Latihan Fisik
Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat
penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pascaoperasi, seperti
nyeri daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan. Latihan yang
diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain latihan nafas dalam, latihan
batuk efektif dan latihan gerak sendi

a. Perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif


Tujuannya adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah statis vena, dan
menunjang fungsi pernafasan yang optimal. Pasien ditunjukkan bagaimana
cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya dan cara untuk mengambil
posisi lateral. Latihan ekstremitas meliputi ekstensi dan fleksi lutut dan sendi
panggul, telapak kaki diputar seperti membuat lingkaran sebesar mungkin
menggunakan ibu jari kaki. Siku dan bahu dilatih untuk ROM.
b. Kontrol dan medikasi nyeri
Medikasi praanestesi akan diberikan untuk meningkatkan relaksasi. Pada
pascaoperatif, medikasi akan diberikan untuk mengurangi nyeri dan
mempertahankan rasa nyaman
c. Latihan nafas dalam dan batuk
Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif adalah untuk
mengajarkan pada pasien mengenai cara untuk meningkatkan ventilasi paru
dan oksigenasi darah setelah anastesi umum.
 Pernafasan Diafragmatik
 Batuk
 Kontrol kognitif tersebut seperti : imajinasi dan distraksi.

E. Persiapan Psikologis
Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses
persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh
terhadap kondisi fisiknya. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial
maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres
fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Long). Contoh perubahan fisiologis yang
muncul akibat kecemasan/ketakutan antara lain, pasien dengan riwayat hipertensi jika
mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan
tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan.
Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi
pengalaman operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula. Akan
tetapi, sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam
menghadapi pembedahan. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan
ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain
1. Takut nyeri setelah pembedahan
2. Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal
(body image)
3. Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti)
4. Takut/cemas mengalami kondisi yang dama dengan orang lan yang mempunyai
penyakit yang sama
5. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas.
6. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.
7. Takut operasi gagal.

Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan


keputusan pasien dan keluarga, sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang
sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa
hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap. Hal ini berarti
telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang
lalu.
Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk
diperhatikan dan didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien. Persiapan mental
dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan
keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu
mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan
kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk
menjalani operasi.
Peranan dokter dan dibantu perawat dalam memberikan dukungan mental
dapat dilakukan dengan membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan
yang dijalani sebelum operasi, memberikan informasi tentang waktu operasi, hal-hal
yang akan dialami selama proses operasi, dan menunjukkan tempat kamar
operasi. Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka
diharapkan pasien menjadi lebih siap menghadapi operasi. Gunakan bahasa yang
sederhana dan jelas, misalnya: jika pasien harus puasa, perawat akan menjelaskan
kapan mulai puasa dan sampai kapan, manfaatnya untuk apa. Diharapkan dengan
pemberian informasi yang lengkap, kecemasan pasien akan dapat diturunkan. Untuk
menimbulkan kenyamanan lagi, dokter memberi kesempatan pada pasien dan
keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dokter juga dapat
mengoreksi pengertian yang salah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain
karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.

F. Persiapan Administratif
Keluarga pasien yang akan dilakukan prosedur operasi wajib bertanggung
jawab membaca dan mendatangani surat izin operasi.

G. Pemeriksaan Penunjang/Laboratorium
Diagnosa penyakit diharapkan sejelas mungkin sebelum pembedahan
dijalankan, sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan di luar pemeriksaan fisik
untuk menuju kepastian itu. Mungkin akan diperlukan pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan laboratorium saja atau dibutuhkan lagi pemeriksaan penunjang yang
masih taraf sederhana sampai yang sudah canggih.
Sebelum dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasien,
dokter melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien,
sehingga dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita. Untuk itu dokter
memerlukan berbagai macam pemerikasaan laboratorium. Pemeriksaan
laboratorium yang biasa digunakan adalah pemeriksaan rutin, yang terdiri dari
pemeriksaan darah (hemoglobin, leukosit, jenis leukosit, golongan darah,
perdarahan, bledding time, clotting time, trombosit, LED), pemeriksaan
urine (protein, reduksi dan sedimen), pemeriksaan radiologi dan diagnostik berupa
foto fraktur, abdomen, dan thoraks(untuk bedah mayor) USG, EKG, CT scan
(computerized Tomography Scan) , MRI (Magnrtic Resonance Imagine) dan bisa juga
dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan
darah.

H. Informed consent
Sesuai dengan PERMENKES No.290/MEN.KES/PER/III/2008 tentang
PersetujuanTindakan Kedokteran, Persetujuan Tindakan Medik/Informed
Consent adalah Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar
penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
Tindakan medik adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa
diagnostik atau terapeutik. Semua tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasien harus mendapat persetujuan.
Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. Setiap pasien yang
mendapat pelayanan di rumah sakit mempunyai hak untuk memperoleh atau menolak
pengobatan. Bila pasien dalam perwalian maka walilah yang mengatasnamakan
keputusan hak tersebut pada pasien.
Hal tersebut juga sesuai PERMENKES No:575/Men.Kes/Per/IX/1989 pada
pasal 3 bahwa setiap tindakan medik yang mengandung resiko tinggi harus dengan
persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
Dan pada pasal 4 disebutkan informasi tentang tindakan medik harus diberikan
kepada pasien, baik diminta maupun tidak diminta. Dokter yang menangani pasien
harus menjelaskan hal-hal yang akan dilakukannya secara jelas. Dalam hal ini, dokter
jangan sekali-kali memberi garansi kesembuhan pada pasien, tetapi didiskusikan dan
dijelaskan keuntungan yang diharapkan sehingga pasien dapat berpikir dan
menetapkan keputusannya. Dokter dapat meminta persetujuan kepada suami/isteri
pasien , apabila pasien karena mempengaruhi fungsi seksual atau reproduksi pasien
atau tindakan yang dapat mengakibatkan kematian janin dalam kandungan. Keputusan
ini diambil sebagai upaya hubungan kemanusiaan dan tidak mutlak untuk mengobati
pasien.
I. Prosedur dalam Memastikan Lokasi
Pemberian tanda di tempat dilakukan operasi atau prosedur invasif melibatkan
pasien dan dilakukan dengan tanda yang tepat serta dapat dikenali. Tanda yang
dipakai harus konsisten digunakan di semua tempat di rumah sakit, harus dilakukan
oleh individu yang melakukan prosedur operasi, saat melakukan pasien sadar dan
terjaga jika mungkin, serta harus masih terlihat jelas setelah pasien sadar. Pada semua
kasus, lokasi tempat operasi harus diberi tanda,termasuk pada sisilateral (laterality),
daerah struktur multipel (multiple structure), jari tangan, jari kaki, lesi, atau tulang
belakang.
Tujuan proses verifikasi praoperasi adalah :
1. Memastikan ketepatan tempat, prosedur, dan pasien
2. Memastikan bahwa semua dokumen yang terkait, foto (imajing), dan hasil
pemeriksaan yang relevan diberi label dengan benar dantersaji;
3. Memastikan tersedia peralatan medik khusus dan atau implan yang
dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA

Pedersen W.G.1996. Alih Bahasa Purwanto,Basoeseno. Buku Ajar Praktis BEDAH MULUT.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Archer W. H. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery 5th ed. W.B. Saunders.