Anda di halaman 1dari 19
Modul 1 Paradigma Baru Keuangan Negara dan Ruang Lingkupnya Dy, Endang Larasati, MS BS Pewpanucuan ransisireformasi yang mengubah secara fundamental bidang sosial-kultural dan potiik di Indonesia berdampak adsnya pergeseran_paradigma pengelolaan keuangan negara yang lebih desentraistik. Paradigma tersebut iharapkan lebih mendekatkan pengelolazn kewangan negara kepada kepentingan pemenuhan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhan bangs yang sangat mendesak di segala tingkatan pemerintahan, Nuansadesentralisasi dalam pengelolaan keuangan negara dimaksudkan untuk mendekatkan pemecahan permasalahan-permasalahan di seluruh wilayah dan daerah di negeri ini dapat ditopang dengan pendanaan yang tepat oleh masing-masing dserah dan pelayanan masyarakat serta kcadilan sosial dapat diwujudkan dalam waktu yang relatif singkat, Dalam kerangka tersebut_pembahasan kevangan negara pada sekarang ini tidak dapat dilepaskan dari transisitersebut yang diawali adanya krisis multidimensi yang melanda negeri ini sampai saat modul ini ditulis. Bermula dari nilai ekstemal rupiah (kurs rupiah) yang merosot tajam yang ‘mencapai 80% pada tahun 1997 yang berlanjut terus sampai tahun 2000-an, Pertumbuhan ekonomi mencapai minus 15% dan tingkat inflasi yang sangat tinggi. Seiring dengan kemelut di bidang ekonomi, di bidang politik dan keuangan pan demikian. Mei 1998 pemerintahan Orde Baru tumbang dan Orde Reformisi dimulai, Periode pemerintahan silih berganti, dimulai dari Pemerintahan transisi, sampai pemerintahan Megawati, dan sekarang pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono. Pertumbuhan ekonomi turun naik berkisar pada angka 5% - 6.5%. Pertumbuhan ekonomi 6,5% dipertahankan dengan berbagai kebijakan oleh pemerimiah sampai tahun 2013. Berbagai kebijakan ditempuh oleh pemerintah sebagai upaya untuk ke luar dari krisis. dan mempertahanken tingkat pertumbuhan dalam rangka ‘menyelamatkan dari krisis global 2013. Dalam rangka memperbaiki efisiensi 12 Keuangan Publik © pemerintahan pasca reformasi, kebijakan bidang keuangan negara memunculkan paradigma baru bidang keuangan negara dengan mengukur urgensi kevangan ‘negara di semua tingkatan pemerintahan. Urgensi keuangannegara disclaraskan dengan amanat Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, bahwa negara Republik Indonesia diselenggarakan untuk menciptakan masyarakat sejahtera yang berkeadilan, Dalam kerangka ini pertama-tama yang akan dibahas dalam modul ini adalah pengertian kinerja publik, paradigma baru pengelolaan keuangan negaradan ruang lingkup keuangan negara. Pemahaman tethadap kedua pengertian di atas akan mengantarkan mahasiswa dalam ‘memahami pengertian pengeluaran negara. Modul kedua tentang pengeluaran negara akan membahas urgensi pengeluaran negara yang sangat erat kaitannya dengan peran dan fungsi pemerinah pada zamannya. Kecenderungan pengeluaran Negara global, dan dilanjutkan dengan pembahasan prinsip-prinsip pengeluaran keuangan negara agar Kecenderungan peningkatan pengeluaran kevangan negara dapat dikendalikan dalam berbagai tingkatan pemerintahan. Pengaturan kembali hubungan keuangan pusat dan daerah (Inter Governmemal Fiscal Relation) memerlukan pemahaman yang mutlak. Hal ini disebabkan perimbangan keuangan pusat dan daersh mengandung cakupan pengertian yang sangat luas yaitu dalam pelaksanaan otonomi daerah ingin ‘ujudkan suatu bentuk keadilan horizontal maupun vertikal dan berusaha ‘mewujudkan tatanan penyelenggarian pengelolaan keuangan yang lebih baik dalam menjaga integritas bangsa menuju terwujudnya clean government dan good governance, dalam rangka menwujudkan kesejahteraan masyarakat bangsa yang berkeadilan, Pemberlakuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Dacrah dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah telah melahirkan poradigma baru dalam pengelolaan keuangan negara yang berorientasi pada kepentingan pelayanan publik (public oriented). Untuk ita, dilakukan penataan kembali perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah di daerah. Tuntutan ini dimaksudkan untuk merealisasi pelaksanaan ‘ugas dan fungsi pemerintah yang lebih memberikan keleluasaan pengaturan dan penyelenggaraan otonomi daerah. Penyelenggaraan otonomi daerah dan desentralisasifiskal secara langsung berpengarub terhadap penstaan sumber-sumber keuangan haik di pusat dan di daerah. Pengelolaan sumber-sumber keuangan lebih banyak dideseniralisasikan kepada derah sehingga menuntut permahaman yang lebih lus dalam memaltami © IPEM$440/MODUL 1 1.3 ‘pola pengelolaan keuangan negara, Pengelolaan keuangan negara bergeser dari pola yang sentralistik menjadi lebih desentralistik. Daerah mendapat kkewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan keuangan baik untuk pengelolaan sumber-sumberkevangannya mawpun untuk belanje dacrah sebagai ampak penyelenggarsan otonomi daerah. Orientasi pengelolaan keuangan negara lebih besir pada pengelolaan Keuangan negara di daerah dibanding dengan pengelolaan keuangan negara sentral (pusat), kondisi yang demikian mengubah pola rvang lingkup keuangan negara yang di masa sebelum Undang- ‘undang Nomor 32 dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 lebih berorientasi ke pusat, untuk saat ini bergeser lebih dominan pada pengelolaan Keuangan di daerah sehingga ruang lingkup kevangan negara melipati beriket ini 1, Pengeluaran negara, 2, Penerimaan negara, 3. Dampak dari penerimaan dan pengeluaran negara terhadap kehidupan masyarakat, Untuk sisi pengeluaran din penerimaan negara, pembahasannya