Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tema dari pada makalah kali
ini adalah “Return And Risk Capital Assets Pricing Model An Alternative View Of Risk And
Return The Arbitrage Pricing Theory”.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas didalam mata kuliah Manajemen
Keuangan, yang mana materi didalam makalah ini digunakan sebagai acuan presentasi yang
dilakukan pada hari yang bersangkutan.
Dalam penyusunan makalah ini, kami merasa masih ada beberapa kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi. Untuk itu bagi dosen pembimbing kami minta kritik dan saran
agar untuk berikutnya kami dapat memperbaiki pembuatan makalah ini di masa yang akan
datang.
Besar harapan kami makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya
mahasiswa fakultas ekonomi.

Pekanbaru, 10 November 2018


Salam

Kelompok VI
BAB I
PENDAHULUAN

CAPM pertama kali diperkenalkan oleh Sharpe, Lintner, dan Mossin pada pertengahan
tahun 1960-an. Capital Asset Pricing Model (CAPM) bukanlah satu-satunya teori yang
mencoba menjelaskan suatu aktiva ditentukan harganya oleh pasar, atau bagaimana
menentukan tingkat keuntungan yang dipandang layak untuk suatu investasi.
Ada tiga metode untuk menghitung biaya ekuitas yaitu bunga bebas risiko plus premi
tambahan, dividend yield plus capital gain yang diharapkan (model Gordon), dan model CAPM
(capital asset pricing model). Menurut Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, MBA, CWM, CAPM
adalah Model yang menghubungkan tingkat return harapan dari suatu aset berisiko dengan
risiko dari suatu aset tersebut pada kondisi pasar yang seimbang.
Di antara ketiga metode ini, CAPM yang paling populer. Pakar keuangan belum pantas
dijuluki ahli finansial jika belum mengenal model CAPM ini. Tidak ada buku keuangan dan
investasi di perguruan tinggi yang tidak mendedikasikan satu bab khusus untuk membahas
CAPM. Model ini dikembangkan tahun 1964 oleh William Sharpe, pemenang nobel ekonomi
tahun 1990.
Sharpe sendiri adalah seorang profesor keuangan di University of California, Los
Angeles (UCLA) dan dosen di Stanford University. Pada saat yang hampir bersamaan, model
serupa juga dikembangkan oleh John Lintner dan Jan Mossin sekitar tahun 1964–1966. Jika
model didiskontokan, model kelipatan harga, dan model lainnya ingin menghitung harga wajar
sebuah saham atau nilai intrinsik saham, CAPM sejatinya menghitung return wajar sebuah
saham yang disesuaikan dengan risikonya. Salah satu alternative teori model keseimbangan
selain CAPM adalah Arbitrage Pricing Theory (APT). Arbitrage Pricing Theory (APT)
pertama kali diperkenalkan oleh Ross pada tahun 1976 dimana beliau menyatakan bahwa harga
suatu aktiva bisa dipengaruhi oleh berbagai factor. Kalau pada CAPM analisis dimulai dari
bagaimana pemodal membentuk portofolio yang efisien (karena market portofolio yang
mempunyai kedudukan sentral dalam CAPM merupakan portofolio yang efisien), maka APT
mendasarkan diri konsep satu harga ( the law of one price).
APT menggambarkan hubungan antara resiko dan return, tetapi dengan menggunakan
asumsi dan prosedur yang berbeda. Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut terjual
dengan harga yang berbeda, maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan
arbitrage dengan membeli aktiva yang berharga murah dan pada saat yang sama menjualnya
dengan harga yang lebih tinggi sehingga memperoleh laba tanpa resiko.
Perbedaan antara kedua model tersebut terletak pada perlakuan APT terhadap
hubungan antar tingkat keuntungan sekuritas. APT mengasumsikan bahwa tingkat keuntungan
tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam perekonomian dan industri. Korelasi antara
tingkat keuntungan dua sekuritas terjadi karena sekuritas-sekuritas tersebut dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang sama. Sebaliknya, meskipun CAPM mengakui adanya korelasi antar tingkat
keuntungan, model tersebut tidak menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi korelasi
tersebut. Baik CAPM maupun APT berpendapat bahwa ada hubungan yang posistif antara
tingkat keuntungan yang diharapkan dengan resiko.
BAB II
PEMBAHASAN

A. CAPM
CAPM adalah Sebuah model yang menggambarkan hubungan antara risiko dan return
yang diharapkann, model ini digunakan dalam penilaian harga sekuritas. Model CAPM
diperkenalkan oleh Treynor, Sharpe dan Litner. Model CAPM merupakan pengembangan teori
portofolio yang dikemukan oleh Markowitz dengan memperkenalkan istilah baru yaitu risiko
sistematik (systematic risk) dan risiko spesifik/risiko tidak sistematik (spesific risk
/unsystematic risk). Pada tahun 1990, William Sharpe memperoleh nobel ekonomi atas teori
pembentukan harga aset keuangan yang kemudian disebut Capital Asset Pricing Model
(CAPM).
Bodie et al. (2005) menjelaskan bahwa Capital Asset Pricing Model (CAPM)
merupakan hasil utama dari ekonomi keuangan modern. Capital Asset Pricing Model (CAPM)
memberikan prediksi yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan tingkat harapan
pengembalian (expected return). Walaupun Capital Asset Pricing Model belum dapat
dibuktikan secara empiris, tetapi sudah luas digunakan karena model ini cukup akurasi pada
aplikasi penting.
Capital Asset Pricing Model mengasumsikan bahwa para investor adalah perencana
pada suatu periode tunggal yang memiliki persepsi yang sama mengenai keadaan pasar dan
mencari mean-variance dari portofolio yang optimal. Capital Asset Pricing Model juga
mengasumsikan bahwa pasar saham yang ideal adalah pasar saham yang besar, dan para
investor adalah para price-takers, tidak ada pajak maupun biaya transaksi, semua aset dapat
diperdagangkan secara umum, dan para investor dapat meminjam maupun meminjamkan pada
jumlah yang tidak terbatas pada tingkat suku bunga tetap yang tidak berisiko (fixed risk free
rate). Dengan asumsi ini, semua investor memiliki portofolio yang risikonya identik.
Capital Asset Pricing Model (CAPM) merupakan model untuk menentukan harga
suatu asset. Model ini mendasarkan diri pada kondisi ekuilibrium. Dalam keadaan ekuilibrium
tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal untuk suatu saham akan dipengaruhi oleh
risiko tersebut. Disini risiko bukan lagi diartikan sebagai deviasi standar tingkat keuntungan,
tetapi diukur dengan beta. Penggunaan parameter ini konsisten dengan teori portofolio yang
mengatakan bahwa apabila pemodal melakukan diversifikasi dengan baik, maka pengukur
risiko dari tambahan saham kedalam portofolio. Apabila pemodal memegang portofolio pasar,
maka sumbangan risiko ini tidak lain adalah beta.
Capital Asset Pricing Model menyatakan bahwa dalam keadaan ekuilibrium, portofolio
pasar adalah tangensial dari rata-rata varians portofolio. Sehingga strategi yang efisien adalah
passive strategy. Capital Asset Pricing Model berimplikasi bahwa premium risiko dari
sembarang aset individu atau portofolio adalah hasil kali dari risk premium pada portofolio
pasar dan koefisien beta.
Jika kita perhatikan perumusan standar CAPM maka sebenarnya pembentukan model
tersebut menggunakan serangkaian asumsi penyederhanaan. Pengujian suatu model bukanlah
pada realistis tidaknya asumsi-asumsi yang dipergunakan, tetapi pada seberapa tepat model
tersebut mencerminkan realitas.
Menurut teori Capital Asset Pricing Model (CAPM) tingkat pendapatan yang
diharapkan dari suatu sekuritas dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
E (Ri) = RF + βi[ E (RM) - RF ]
Dimana :
E (Ri) = Tingkat pendapatan yang diharapkan dari sekuritas i.
RF = Tingkatpendapatan bebas risiko.
E (RM) = Tingkat pendapatan yang diharapakan dari portofolio pasar.
βi = Tolak ukur risiko yang tidak bisa terdiversifikasi dari sekuritas i
Untuk mengestimasi besarnya koefisien beta, bisa digunakan market model. Rumus
dari persamaan market model adalah sebagai berikut :
Ri = αi +βi RM + ei
Dimana :
Ri = Tingkat pendapatan sekuritas i
RM = Tingkat pendapatan indeks pasar
βi = Tolak ukur risiko yang tidak bisa terdiversifikasi dari sekuritas i
αi = Intersep
ei = Random residual error

B. Konsep- Konsep Penting CAPM


1. Risiko Sistematis ( Systematic Risks)
Risiko Sistematis (Systematic risks) adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan yang
berhubungan dengan seluruh pergerakan pasar saham dan tidak dapat dihindari. Resiko
sistematis atau dikenal dengan resiko pasar/resiko umum merupakan resiko yang berkaitan
dengan perubahan yang terjadi dipasar recara keseluruhan. Perubahan pasar tersebut akan
mempengaruhi variabilitas retur suatu investasi. Dengan kata lain, resiko sistematis
merupakan risiko yang tidak dapat didiversifikasi. Risiko ini timbul akibat pengaruh keadaan
perekonomian, politik dan sosial budaya, dimana mempunyai pengaruh secara keseluruhan.
Risiko ini juga disebut indivertible risk. Faktor yang mempengaruhi :
a. Perubahan tingkat bunga
b. Kurs valuta asing
c. Kebijakan pemerintah
d. Daya beli masyarakat, dll

2. Risiko Tidak Sistematis (Unsystematic Risk)


Risiko tidak Sistematis (Unsystematic risk) adalah bagian dari risiko yang tidak umum
dalam sebuah perusahaan yang dapat dipisahkan. Resiko yang tidak sistematis atau dikenal
dengan risiko spesifik (resiko perusahaan), adalah risiko yang tidak terkait dengan perubahan
pasar secara keseluruhan. Resiko perusahaan lebih terkait pada perubahan posisi mikro
perusahaan penerbit sekuritas. Dalam manajemen portofolio disebutkan bahwa resiko
perusahaan bisa diminimalkan dengan melakukan diversifikasi asset dalam suatu portofolio.
Risiko ini juga disebut diversifiable risk. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi :
a. Struktur modal
b. Struktur aset
c. Tingkat likuiditas

3. Risiko Pasar
Market Risk (risiko pasar), sering disebut juga sebagai interest rate risk, nilai investasi
akan menjadi turun ketika suku bunga meningkat mengakibatkan pemilik investasi mengalami
capital loss. Reinvestment risk, risiko yang disebabkan sebuah aset akan memiliki yield yang
lebih sedikit pada beberapa waktu di masa yang akan datang.

4. Default Risk
Risiko yang apabila penerbit aset gagal membayar bunga atau bahkan pokok aset

5. Inflation Risk
Risiko menurunnya nilai rill aset karena inflasi
6. Currency Risk
Risiko menurunnya nilai aset karena penurunan nilai tukar mata uang yang dipakai
oleh aset

7. Political Risk
Risiko menurunnya nilai aset karena perubahan dalam peraturan atau hukum karena
perubahan kebijakan pemerintah atau perubahan penguasa.

8. Beta
Beta menghubungkan kovarian dari sebuah aset dengan portofolio pasar, dan
didefinisikan sebagai Laba yang diharapkan CAPM – hubungan BETA. Garis pasar
sekuritas (SML) adalah sebuah spesifikasi CAPM akan bagaimana resiko dan tinggkat laba
yang dibutuhkan untuk aset, sekuritas atau portofolio apapun adalah terkait. Teori ini
mengajukan sebuha ubungan linier antara resiko aset dan tingkat laba yang dibutuhkannya.
Capital Asset Pricing Model (CAPM) menjelaskan bahwa beta merupakan alat
pengukur risiko yang relevan, dan terdapat hubungan yang positif dan linear antara tingkat
keuntungan yang diharapkan dengan beta. Jika kita ingin mengetahui sumbangan suatu
saham terhadap risiko suatu portofolio yang di diversifikasi secara baik, tetapi kita harus
mengukur risiko pasarnya dan ini membawa kita untuk mengukur kepekaan saham tersebut
terhadap perubahan pasar. Kepekaan tingkat keuntungan terhadap perubahan-perubahan
pasar biasa disebut sebagai beta investasi tersebut.

9. Security Market Line


Garis pasar modal menggambarkan trade-off resik laba dalam pasar finansial dalam
ekuilibrium. Namun, hal itu hanya berlaku bagi portofolio efisien dan tidak bisa digunakan
untuk mempertimbangkan ekuilibrium laba yang diharapkan untuk satu negara. Dalam
CAPM semua investor akan memegang portofolio pasar, yang merupakan portofolio
pembanding terhadap portofolio lainnya yang diukur. Investor akan mengharapkan
premium resiko untuk membeli sebuah aset beresiko seperti saham. Semakin besar resiko
dari saham itu, maka seharusnya semakin tinggi premium resiko. Jika investor memegang
portofolio yang didiversifikasi dengan baik, mereka harus tertarik dalam resiko portofolio
daripada resiko sekuritas individual. Saham yang berbeda akan mempengaruhi sebuah
portofolio yang didiversifikasi dengan baik secara berbeda. Resiko relevan bagi sebuah
saham individual adalah kontribusinya pada resiko dari sebuah portofolio yang
didiversifikasi dengan baik.

C. Persamaan CAMP
Persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and Return) adalah :

Rs = Rf + βs (Rm – Rf)
Dalam hal ini :
Rs = Expected Return on a given risky security
Rf = Risk - free rate
RP = Risk premium
Rm = pengembalian yang diharapkan pada sekuritas secara keseluruhan
βs = stok’s beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu
Bila nilai β = 1 artinya adanya hubungan yang sempurna dengan kinerja seluruh pasar
seperti yang diukur indek pasar (market index), contohnya nilai yang diukur oleh Dow-Jones
Industrials dan Standard and Poor’s 500-stock-index.
β adalah ukuran dari hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh tren
dalam pasar saham. Bila β > 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada
pasar. β < 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indek pasar
secara umum (general market index).
Perubahan persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and Return) dengan
memasukan faktor β dinyatakan sebagai:

Rs = Rf + βs (Rm – Rf)
Dalam hal ini :
Rs = Expected Return on a given risky security
Rf = Risk-free rate
Rm = Expected return on the stock market as a whole
βs = Stock’s beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu
CAPM bertahan bahwa harga saham tidak akan dipengaruhi oleh unsystematic risk,
dan saham yang menawarkan risiko yang relatif lebih tinggi (higher βs) akan dihargai relatif
lebih daripada saham yang menawarkan risiko lebih rendah (lower βs). Riset empiris
mendukung argumen mengenai βs sebagai prediktor yang baik untuk memprediksi nilai saham
di masa yang akan datang (future stock prices).
Resiko Sistematis Dan Resiko Tidak Sistematis
Dalam teori portofolio modern telah diperkenalkan bahwa risiko investor toral dapat
dipisakan menjadi dua reiko, atas dasar apakah suatu jenis resiko tertentu dapat dihilangkan
dengan sistematis dan resiko tidak sistematis. Esiko sisematis atau dikenal dengan resiko pasar,
beberapa penyebut menyebut sebagai resiko umum yang merupakan resiko yang berkaitan
dengan perubahan yang terjadi dipasar recara keseluruhan. Perubahan asar tersebut akn
mempengaruhi variabilitasretur suatu investasi. Dengan kata lain, resiko sistematis merupakan
risiko yang tidak dapat didiversifikasi.
Sedangkan resiko yang tidak sistematis atau dikenal dengan risiko spesifik (resiko
perusahaan), adalah risiko yang tidak terkait dengan perubahan pasar secara keseluruhan.
Resiko perusahaan lebih terkait pada perubahan posisi mikro perusahaan penerbit sekuritas.
Dalam manajemen portofolio disebutkan bahwa resiko perusahaan bisa diminimalkan dengan
melakukan diversifikasi asset dalam suatu portofolio.

D. Asumsi- Asumsi CAPM


Beberapa ahli menganggap bahwa asumsi-asumsi yang digunakan di CAPM supaya
model ini lebih realistis mewakili kenyataannya. Hasil dari pelepasan asumsi-asumsi ternyata
tidak banyak merubah hasil prediksi dari CAPM.
Asumsi-asumsi yang digunakan di model CAPM adalah sebagai berikut:
1. Semua investor mempunyai cakrawala waktu satu periode yang sama. Investor
memaksimumkan kekayaannya dengan memaksimumkan utility harapan dalam satu
periode waktu yang sama.
2. Semua investor melakukan pengambilan keputusan investasi berdasarkan
pertimbangan antara nilai return ekspektasian dan deviasi standar return dari
portofolionya.
3. Semua investor mempunyai harapan yang seragam (homogeneous expectation)
terhadap faktor-faktor input yang digunakan untuk keputusan portofolio.
4. Semua investor dapat meminjamkan sejumlah dananya (lending) atau meminjam
(borrowing) sejumlah data dengan jumlah yang tidak terbatas pada tingkat suku bunga
bebas risiko.
Asumsi ini menyatakan bahwa pemodal bisa menyimpan dan meminjam dengan
tingkat bungan yang sama dan bebas risiko jelas tidak realistis. Lebih realistis kalau
pemodal bisa menyimpan uangnya pada tingkat bunga yang bebas risiko (misal dengan
Sertifikat Bank Indonesia) tetapi kalau meminjam tentulah terbatas dan tingkat bunga
simpanan. Sebelum kita menggunakan asumsi tersebut, marilah kita gunakan skenario
pada saat pemodal tidak bisa menyimpan dan meminjam dengan tingkat bunga bebas
risiko yang sama. Ada beberapa model dalam Riskless Lending dan Borrowing Rate ini
yaitu:
a. Tidak ada Riskless Lending And Borrowing Rate
b. Terdapat Riskless Lending tetapi tidak ada Riskless Borrowing
5. Penjualan pendek (short sale) diijinkan. Investor individual dapat menjual pendek
berapapun yang dikehendaki.
Hal ini berarti semua investor dapat menjual saham yang tidak dimilikinya
(short sale) sebanyak yang diinginkannya. Pada kenyataannya, short sale mempunyai
persyaratan dan mekanisme yang tidak mudah dipenuhi oleh semua orang, sehingga
tidak mungkin investor melakukan short sale tanpa batas.
6. Semua aktiva dapat dipecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil dengan terbatas.
7. Semua aktiva dapat dipasarkan secara likuid sempurna.
8. Tidak ada biaya transaksi. Penjualan atau pembelian aktiva tidak dikenai biaya
transaksi.
Yaitu biaya–biaya pembelian dan penjualan saham seperti biaya broker, biaya
penyimpanan saham (custodian), dan lain-lain. Pada kenyataannya, jual-beli saham
dikenakan biaya transaksi, sehingga mengurangi return investasi tersebut dan akan
menjadi pertimbangan bagi investor dalam membuat keputusan investasi.
9. Tidak terjadi inflasi.
10. Tidak ada pajak pendapatan pribadi.
Bentuk standar dari CAPM mengabaikan adanya pajak. Asumsi tersebut mempunyai
implikasi bahwa para pemodal bersikap indifferent untuk menerima penghasilan dalam
bentuk capital gains ataupun deviden dan bahwa para pemodal memegang portofolio
sekuritas yang berisiko yang sama. Apabila kita mengakui adanya pajak, dan terutapma
bahwa pajak atas capital gains umumnya lebih rendah dibandingkan dengan pajak atas
deviden, harga keseimbangan dari sekuritas-sekuritas tersebut akan berubah. Dengan
adanya pajak para pemodal akan mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang
diharapkan atas dasar setelah pajak. Pertimbangan ini mempunyai implikasi bahwa
meskipun ada pengharapan yang homogen (homogeneous expectation) tentang keuntungan
portofolio sebelum pajak, efficient frontier yang relevan (setelah pajak) bagi masing-masing
pemodal akan berbeda.
11. Investor adalah penerima harga.
12. Pasar modal dalam kondisi ekuilibrium.
a. Semua investor akan memilih portofolio pasar yaitu portofolio yang berisi semua
aktiva yang ada di pasar
b. Portofolio pasar ini adalah portofolio aktiva berisiko yang optimal, yaitu yang
berada pada efficient frontier

E. Garis Pasar Modal (Capital Market Line)


Hubungan antara risiko dan return portofolio efisien akan menghasilkan garis pasar
sekuritas modal (capital market line, CML), sementara hubungan antra risiko dan return
sekuritas individual akan menghasilkan garis pasar sekuritas (security market line, CML).
Garis pasar modal menggambarkan hubungan antara return harapan dengan resiko total
dari portofolio efisien pada pasar yang seimbang. Berdasarkan Gambar 6.1 di atas, terlihat
bahwa titik M merupakan titik persinggungan antara garis RF-L dengan kurva efficient frontier.
Asumsinya, pada pasar yang seimbang semua investor akan berinvestasi pada portofolio M,
karena porotofolio M merupakan portofolio aseet berisiko yang optimal. Selanjutnya jika kita
tarik garis dari titik RF ke titik L dan menyinggung titik M, maka pilihan investor akan berada
pada titik tertentu di sepanjang garis RF-M.
Pilihan masing-masing investor bisa berbeda-beda tergantung dari kombinasi porsi dana
yang akan diinvestasikan pada asset berisiko dan asset yang bebas resiko. Jika pilihan investor
berada pada titik RF, berarti 100% dana investor akan diinvestasikan pada asset bebas risiko.
Sebaliknya, jika pilihan investor berada pada titik M, berarti 100% dana investor diinvestasikan
pada asset berisiko. Sedangkan jika pilihan investor berada pada titik-titik setelah titik M
(antara titik M dan L), bearti investor menginvestasikan lrbih dananya pada asset berisiko
dengan porsi yang melebihi 100%. Tindakan ini sering disebut sebagai short selling, yaitu
meminjamkan sejumlah dana sebagai tambahan dana untuk diinvestasikan pada asset berisiko
(sehingga total dana yang diinvestasikan adalah 100% plus porsi pinjaman).
Jika kurva efficient frontier dalam gambar 6.1. di atas kita hilangkan, dan hanya kita
ambil titik M saja sebagai portofolio asset berisiko yang optimal, maka akan kita dapatkan garis
RF-L, yang selanjutnya akan disebut sebagai garis CML. Dengan demikian, garis pasar modal
(CML) bisa digambarkan seperti dalam Gambar berikut ini

Gambar di atas merupakan gambar garis padar modal dengan tidak menampilkan
efficient frontier. Garis CML tersebut memotong sumbu vertical pada titik RF. Selisi antara
tingkat return harapan dari portofolio pasar (E(RM)) denagn tingkat return bebas risiko
merupakan tingkat return tambahan yang bisa diperoleh investor, sebagai kompensasi atas
risiko portofolio pasar (σM) yang harus ditanggungnya. Selisi return pasar dan return bebas
risiko ini disebut juga dengan premi risiko portofolio pasar (E(RM)-Rf). Besarnya risiko
portofolio pasar ditunjukan oleh garis putus-putus horizontal dari RF sampai σM.
Kemiringan (slope) CML pada gambar di atas, menunjukkan harga pasar risiko (market
price of risk) untuk portofolio yang efisien atau harga keseimbangan return yang disyaratkan
pasar untuk setiap 1% kenaikan risiko portofolio. Slope CML dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
𝐄(𝐑 𝐌 )−𝐑 𝐅
𝐬𝐥𝐨𝐩𝐞 𝐂𝐌𝐋 =
𝛔𝐌

Dengan mengetahui slope CML dan garis intersep (RF), maka kita dapat membentuk
persamaan CML menjadi:

Dalam hal ini:


E(RP) = tingkat return yang diharapkan untuk suatu portofolio yang efisien pada CML
RF = tingkat return aset yang bebas yang risiko
E (RM) = tingkat return portofolio pasar (M)
σM = deviasi standar return pada portofolio pasar
σF = deviasi standar portofolio efisien yang ditentukan

F. Hubungan Risiko dan Return dalam Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Hubungan antara besarnya risiko serta return yang diperoleh dengan metode CAPM
dapat dilihat dari garis pasar modal (GPM) atau capital market line (CML) dan juga garis pasar
sekuritas (GPS) atau security market line (SML). Keadaan ekuilibrium pasar yang berhubungan
dengan return ekspektasi dan risiko dapat digambarkan oleh Capital Market Line (CML),
sedangkan untuk sekuritas individual hubungan antara return ekspektasi dan risiko dapat
digambarkan oleh Security Market Line (SML). Garis-garis tersebut yaitu :

1. Capital Market Line


“Garis pasar modal adalah garis yang menunjukkan semua kemungkinan kombinasi
portofolio efisien yang terdiri dari aktiva-aktiva berisiko dan aktiva bebas risiko” (Jogiyanto,
2009). Garis pasar modal/Capital market line (CML) juga menggambarkan hubungan antara
besarnya risiko portofolio dengan expected return portofolio dalam kondisi pasar yang
ekuilibrium. Agar lebih jelas, maka garis pasar modal akan digambarkan sebagai berikut:

Berdasarkan gambar tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan, yaitu jika portofolio
pasar hanya berisi aktiva tidak berisiko, maka risikonya akan samadengan nol (σp=0) dan
return ekspektasinya sama dengan risk free (Rf). Selain itu jika portofolio terdiri dari semua
aktiva yang ada, maka risikonya G (Garis Pasar Modal) 30 adalah sebesar (σm) dengan return
ekspektasiannya sebesar E(Rm). Selisih antara [E(Rm)-Rf] merupakan premium risiko dari
portofolio pasar karenamenanggung risiko lebih besar, yaitu sebesar σm.

2. Security Market Line


Garis pasar sekuritas atau security market line (SML) adalah garis yang
menghubungan antara tingkat pengembalian (return) harapan dari suatu sekuritas dengan risiko
sistematis (Beta).
SML dapat digunakan untuk menilai keuntungan suatu aset individual pada kondisi
pasar yang seimbang, yaitu menilai tingkat return yang diharapkan dari suatu sekuritas
individual pada suatu tingkat resiko sistematis tertentu (beta). Sedangkan CML, seperti telah
dijelaskan sebelumnya, dapat dipakai untuk menilai tingkat tingkat pengembalian harapan dari
suatu portofolio yang efisien, pada suatu tingkat risiko tertentu (σP).
Secra sistematis hubungan tersebut bisa digambarkan dengan persamaan sebagai
berikut :
𝐾𝑖 = 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑠 𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜 + 𝑝𝑟𝑒𝑚𝑖 𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜
= 𝑅𝐹 + 𝛽𝑖 [𝐸(𝑅𝑀 ) − 𝑅𝑡 ]
Dalam hal ini :
Ki = tingkat return yang diserahkan investor pada sekuritas i
E (RM) = return portofolio pasar yang diharapkan
𝛽𝑖 = koefisien beta sekuritas i
RF = tingkat return bebas risiko
Rt = tingkat pendaptan sekuritas i

Dalam rumus diatas kita dapat mengetahui besarnya premi resiko untuk sekuritas i (risk
premium). Premium risiko sekuritas dapat dihitung dengan mengalihkan beta sekuritas tersebut
dengan premium risiko psar (market risk premium). Sedangkan premium resiko pasar adalah
selisih antara return harapan pada portofolio pasar E (RM) dengan tingkat return bebas risiko
(RF).
Premi resiko sekuritas i = βi (market risk premium)
= βi (E (RM) – Rt)
Dimana :
βi = Beta saham

E (RM) = return portofolio pasar yang diharapkan


Rt = tingkat pendaptan sekuritas i
Menilai sekuritas yang undervalued atau overvalued dengan menggunakan SML
Sekuritas yang Undervalued atau Overvalued

Secara teoritis, harga sekuritas seharusnya berada pada SML karena titik-titik pada
SML menunjukkan tingkat pengembalian harapan pada suatu tingkat risiko sistematis tertentu.
Jika tingkat pengembalian harapan tidak berada pada SML, maka sekuritas tersebut
undervalued atau overvalued.
Pada Gambar diatas telihat bahwa sekuritas A terletak di atas SML dan dinilai sebagai
sekuritas yang bernilai rendah (undervalued) karena tingkat pengembalian harapan E(RA’)
>tingkat pengembalianyang disyaratkan investor E(RA). Sedangkan sekuritas B terletak di
bawah SML, sehingga sekuritas B dikatakan bernilai lebih (overvalued).

G. Arbitrage Pricing Theory (APT)


Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa Capital Asset Pricing Model
(CAPM) merupakan model equilibrium yang menjelaskan mengapa sekuritas yang berbeda
memiliki expected return yang berbeda karena dipengaruhi nilai beta yang berbeda dan model
ini bukanlah satu-satunya teori yang mencoba menjelaskan bagaimana suatu aktiva ditentukan
harganya oleh pasar. Stephen Ross (Zubir, 2013:226) merumuskan suatu teori yang dinamakan
sebagai Arbitrage Pricing Theory (APT) yang merupakan alternatif bagi model CAPM. Model
APT ini didasarkan pada hukum satu harga (law of one price) dimana aset yang sama tidak
bisa dijual dengan harga yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan arbitrase (membeli aset
berharga murah, pada saat yang sama menjual dengan harga yang lebih tinggi sehingga
memperoleh laba tanpa risiko). Oleh karena itu, apabila terjadi perbedaan harga beli aset dan
harga jual aset, maka pasar akan segera mengembalikan harga aset tersebut ke titik
keseimbangannya.
Model APT mengasumsikan bahwa return dari sekuritas merupakan fungsi linear dari
berbagai faktor ekonomi makro dan sensitivitas perubahan setiap faktor dinyatakan oleh
koefisien beta masing-masing faktor tersebut dan tidak oleh risiko unik. Pada model APT,
IHSG bukan market portofolio yang sesungguhnya tetapi menggunakan variabel atau indeks
lain dalam mengestimasi expected return sebuah sekuritas dapat memberikan hasil yang lebih
akurat sehingga tidak menimbulkan arbitrase (Zubir, 2013:227).
Menurut Reilley (Andri, 2010), model APT menggambarkan hubungan antara risiko
dan pendapatan, tetapi dengan menggunakan asumsi dan prosedur yang berbeda. Tiga asumsi
yang mendasari model Arbitrage Pricing Theory (APT) adalah pasar modal dalam kondisi
persaingan sempurna, para investor selalu lebih menyukai nilai return yang tinggi daripada
risiko tinggi yang menyebabkan ketidakpastian return, dan hasil dari proses stochastic artinya
bahwa pendapatan asset dapat dianggap sebagai K model faktor.
Konsep yang digunakan dalam Arbitrage Pricing Theory adalah hukum satu harga (the
law of the one price). Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut dengan harga yang
berbeda, maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage dengan membeli aktiva
yang berharga murah pada saat yang sama menjualnya dengan harga yang lebih tinggi sehingga
memperoleh laba tanpa risiko.
Ross (1975) merumuskan suatu teori yang disebut Arbitrage Pricing Theory (APT),
teori ini didasarkan pada pemikiran yang menyatakan bahwa 2 kesempatan investasi yang
mempunyai karakteristik identik tidaklah bisa dijual dengan harga yang berbeda, lebih lanjut
teori ini mengasumsikan bahwa tingkat keuntungan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor dalam perekonomian dan dalam industri. Korelasi diantara tingkat keuntungan dua
sekuritas terjadi karena sekuritas-sekuritas tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama.
Copeland (1997) menyatakan bahwa paling sedikit ada 3 atau 4 faktor yang mempengaruhi
perkembangan harga dari surat-surat berharga. Hal ini menunjukkan bahwa teori APT
mendorong adanya pengembangan penelitian berdasarkan variabel atau faktor-faktor yang
diduga mempengaruhi perubahan sebuah sekuritas. Faktor-faktor itu dapat dilihat dari kinerja
fundamental perusahaan, kinerja saham di pasar, ataupun keadaan pasar dan perekonomian.

APT pada dasarnya menggunakan pemikiran yang menyatakan bahwa dua kesempatan
investasi yang mempunyai karakteristik yang identik sama tidaklah bisa dijual dengan harga
yang berbeda (hukum satu harga). Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut dijual
dengan harga yang berbeda maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage, yaitu
dengan membeli aktiva yang berharga murah dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi
pada saat yang sama sehingga dapat diperoleh laba tanpa risiko. Atau dengan kata lain arbitrage
adalah memperoleh laba tanpa risiko dengan memanfaatkan peluang perbedaan harga asset
atau sekuritas yang sama. Aktivitas arbitrage menjadi elemen penting pasar sekuritas yang
modern dan efisien. Karena laba arbitrage secara definisi tidak berisiko, semua investor
mempunyai insentif untuk memanfaatkan peluang tersebut jika mereka mengetahuinya.
Dalam APT, besarnya return suatu aset atau sekuritas dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Model APT digunakan untuk memprediksi harga suatu saham di masa yang akan datang.
Rumus untuk APT satu faktor adalah:
E(Ri) = l0 + l1.bi
Dimana:
E(Ri) = tingkat keuntungan yang diharapkan
l0 = tingkat keuntungan untuk portofolio dengan b = 0, sehingga sering disamakan dengan Rf
l1= premi risiko atas faktor tertentu tersebut
b1= sensifitas aktiva i terhadap faktor yang dipertimbangkan

Sementara untuk APT dengan banyak faktor yang mempengaruhi maka persamaannya
adalah:
E(Ri) = Rf + b1.F1 + b2.F2 + … + bn.Fn

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Roll dan Ross pada tahun 1984, ditemukan
4 faktor utama yang mempengaruhi return suatu aset atau sekuritas. Faktor-faktor tersebut
adalah:
1. Pertumbuhan laju inflasi yang tak terantisipasi
2. Pertumbuhan produksi industri yang tak terantisipasi
3. Pertumbuhan high risk premium (perbedaan antara high yield bond dengan low
yield bond)
4. Perubahan slope dari term structure of interest rate. Slope disini adalah
perbedaan tingkat suku bunga deposito yang dibagi dengan perbedaan periode
deposito. Bila slope perbedaan tingkat suku bunga makin besa, maka slopenya
makin besar dan akan menyebabkan return dari aset atau sekuritas semakin
besar.

H. Aplikasi CAPM
Rs = Rf + βs (Rm – Rf)
Model yang dikembangkan CAPM menjelaskan bahwa tingkat return yang diharapkan
adalah penjumlahan dari return aset bebas risiko dan premium risiko. Premium risiko dihitung
dari beta dikalikan dengan premium risiko pasar yang diharapkan. Premium risiko pasar sendiri
dihitung dari tingkat return pasar yang diharapkan dikurangi dengan tingkat return aset bebas
risiko. Bentuk matematika CAPM.
Rf biasanya didekati dengan tingkat return suku bunga bank sentral, di Indonesia
umumnya risk free aset didekati dengan tingkat return suku bunga Bank Indonesia. βs didekati
dengan menghitung data time series saham dengan data return pasarnya.
Rm didapatkan dengan meramalkan return IHSG. Banyak mahasiswa yang bingung
mendapatkan nilai Rm yang negatif, biasanya mereka menghitung IHSG dengan cara
memprediksi historisnya yaitu dengan membandingkan return IHSG tahun x dengan return
IHSG tahun x-1. Dari definisi CAPM bahwa Rm adalah tingkat return pasar yang diharapkan,
bukan tingkat return pasar yang periode yang lalu. Untuk mendapatkan nilai Rm tentunya harus
dapat memprediksi berapa tingkat return IHSG yang diharapkan. Salah satu cara memprediksi
IHSG adalah dengan cara analisis faktor. Di sini anda harus melakukan studi empiris, anda
harus menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi IHSG, kemudian membuat persamaan
regresi dari IHSG dan faktor yang mempengaruhinya. Dan terakhir anda harus memprediksi
nilai dari faktor yang mempengaruhi IHSG untuk x periode yang anda tentukan. Cara lainnya
adalah menggunakan nilai IHSG dari hasil penelitian empiris dari peneliti lain.

Aplikasi Menghitung Rs
Suatu sekuritas x yang mempunyai Expected Return 0.27 (27% per tahun) dan nilai
betanya 1.2, apakah sekuritas x ini layak di beli atau tidak?
Rs = Rf + βs (Rm – Rf)
Rf = misal SBI 1 bulan saat ini adalah 0.06 (6% per tahun)
Rm = misal return IHSG yang diharapkan saat ini adalah 0.26 (26% per tahun, didapatkan
dengan cara memprediksi return) βs = 1.2 Sehingga
Rs = 0.06 + 1.2 (0.26 – 0.06)
Rs = 0.06 + 1.2 (0.2)
Rs = 0.06 + 0.24
Rs = 0.3 (30%)
Kesimpulan, dengan nilai beta 1.2, apabila return yang diperoleh hanya 27%, maka
harga sekuritas terlalu mahal, karena return wajarnya adalah 30%
Aplikasi Beta
Nilai β dapat dihitung sendiri menggunakan data time series suatu saham/industri dan
time series return suatu pasar (misalnya IHSG, NYSE, dll),
Contoh perhitungan:
 Return saham X dibandingkan dengan pasar
tahun 1-return saham X = -0.05, return pasar -0.12
tahun 2-return saham X = 0.05, return pasar = 0.01
tahun 3-return saham X = 0.08, return pasar = 0.06
tahun 4-return saham X = 0.15, return pasar = 0.10
tahun 5-return saham X = 0.10, return pasar = 0.05
Sehingga rata-rata return saham X adalah 0.066 dan Rata-rata return pasar adalah 0.02

 Menghitung deviasi return saham X


tahun 1 = -0.1160
tahun 2 = -0.0160
tahun 3 = 0.0140
tahun 4 = 0.0840
tahun 5 = 0.0340

 Menghitung deviasi return pasar X:


tahun 1 = -0.14000
tahun 2 = -0.0100
tahun 3 = 0.0400
tahun 4 = 0.0800
tahun 5 = 0.0300

 Kalikan masing masing deviasi return saham dengan deviasi return pasar:
tahun 1 = -0.1160 x -0.14000 = 0.0162
tahun 2 = -0.0160 x -0.0100 = 0.0002
tahun 3 = 0.0140 x 0.0400 = 0.0006
tahun 4 = 0.0840 x 0.0800 = 0.0067
tahun 5 = 0.0340 x 0.0300 = 0.0010
Jumlah = 0.0247

 Pangkat duakan deviasi return pasar


tahun 1 = -0.14000^2 = 0.0196
tahun 2 = -0.0100^2 = 0.0001
tahun 3 = 0.0400^2 = 0.0016
tahun 4 = 0.0800^2 = 0.0064
tahun 5 = 0.0300^2 = 0.0009
Jumlah = 0.0286

Sehingga Beta untuk saham X adalah 0.0247/0.0286 = 0.86

Aplikasi Garis Pasar Modal (Capital Market Line)


Dalam kondisi pasar yang seimbang, terurn harapan pada portofolio pasar adalah 15%
dengan deviasi standar sebesar 20%. Tingkat return bebas risiko sebesar 8%. Slope CML akan
sebesar:
(0,15 – 0,08) : 0,20 = 0,35
Dengan demikian, slope CML sebesar 0,35 ini dapat diartikan bahwa setiap terjadi
kenaikan 1% risiko portofolio, maka tambahan return yang disyaratkan oleh pasar 0,35%.
Dengan mengetahui slope CML dan garis intersep (RF) tersebut, maka kita dapat membentuk
persamaan CML tersebut menjadi :
E(RP) = RF + E(RM) - RF
σM
Dalam hal ini :
E(RP) = Tingkat return harapan untuk suatu portofolio yang efisien pada CML
RF = Tingkat return pada asset yang bebas yang risiko
E(RM) = Tingkat return portofolio pasar (M)
σM = Deviasi standar return pada portofolio pasar
σP = Deviasi standar portofolio efisien yang ditentukan
Dari persamaan tersebut, terlihat bahwa tingkat return harapan dari setiap portofolio
yang efisien pada CML adalah penjumlahan tingkat retun bebas risiko (RF) dengan hasil
perkalian antara harga pasar resiko (slope CML) dan risiko portofolio (σP) tersebut.
Dari uraian di atas, beberapa hal penting yang dapat disimpulkan dari penjelasan mengenai
garis pasar modal (CML) adalah sebagai berikut :
1. Garis pasar modal terdiri dari portofolio efisien yang merupakan kombinasi dari asset
berisiko dan asset bebas risiko.Portofolio M, merupakan portofolio yang terdiri dari asset
berisiko, atau disebut dengan portofolio pasar. Sedangkan titik RF, merupakan pilihan asset
bebas risiko. Kombinasi atau titik-titik portofolio di sepanjang garis RF-M ini, selanjutnya
merupakan portofolio yang efisien bagi investor.
2. Slope CML akan cenderung positif karena adanya asumsi bahwa investor bersifat risk
averse. Artinya investor hanya akan mau berinvestasi pada asset yang berisiko, jika
mendapatkan kompensasi berupa retun harapan yang lebih tinggi. Dengan demikian,
semakin besar risiko suatu investasi, semakin besar pula return harapan.
3. Berdasarkan data historis, adanya risiko akibat perbedaan return actual dan return harapan
akan bisa menyebabkan slope CML yang negative. Slope negative ini terjadi bila tingkat
return actual portofolio pasar lebih kecil dari tingkat keuntungan bebas risiko.
4. Garis pasar modal dapat digunakan untuk menentukan tingkat return harapan untuk setip
risiko portofolio yang berbeda.
Garis Pasar Sekuritas
Ki = tingkat risiko asset bebas risiko + premi risiko
= RF + βi [E(RM) – Rf]
Dalam hal ini
Ki = tingkat return yang diserahkan investor pada sekuritas i
E(RM) = return portofolio pasar yang diharapkan
βi = koefisien beta sekuritas i
RF = tingkat return bebas risiko
Dari rumus di atas kita dapat mengetahui besarnya premi risiko untuk sekuritas i (risk
premium). Premium risiko sekuritas i dapat dihitung dengan mengalihkan beta sekuritas
tersebut dengan premium risiko pasar (market risk premium). Sedangkan premium risiko pasar
adalah selisi antara return harapan pada portofolio pasar E(RM) dengan tingkat return bebas
risiko (RF).
Premi risiko sekuritas i = βi (market risk premium)
= βi (E(RM) – Rf)
Diasumsikan Beta saham PT Gudang garam adalah 0,5 dan tingkat return bebas resiko
(Rf) adalah 1,5 %. Tingkat return pasar yang diharapkan diasumsikan sebesar 2%. Dengan
demikian, maka tingkat keuntungan yang disyaratkan investor untuk saham PT Gudang Garam:
Ki = 0,015 + 0,5 (0,02 – 0,015)
= 1,75%

I. Pengertian APT
Konsep yang digunakan dalam Arbitrage Pricing Theory adalah hukum satu harga (the
law of the one price). Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut dengan harga yang
berbeda, maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage dengan membeli aktiva
yang berharga murah pada saat yang sama menjualnya dengan harga yang lebih tinggi sehingga
memperoleh laba tanpa risiko.
Ross (1975) merumuskan suatu teori yang disebut Arbitrage Pricing Theory (APT),
teori ini didasarkan pada pemikiran yang menyatakan bahwa 2 kesempatan investasi yang
mempunyai karakteristik identik tidaklah bisa dijual dengan harga yang berbeda, lebih lanjut
teori ini mengasumsikan bahwa tingkat keuntungan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor dalam perekonomian dan dalam industri. Korelasi diantara tingkat keuntungan dua
sekuritas terjadi karena sekuritas-sekuritas tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama.
Copeland (1997) menyatakan bahwa paling sedikit ada 3 atau 4 faktor yang
mempengaruhi perkembangan harga dari surat-surat berharga. Hal ini menunjukkan bahwa
teori APT mendorong adanya pengembangan penelitian berdasarkan variabel atau faktor-
faktor yang diduga mempengaruhi perubahan sebuah sekuritas. Faktor-faktor itu dapat dilihat
dari kinerja fundamental perusahaan, kinerja saham di pasar, ataupun keadaan pasar dan
perekonomian.
APT didasari oleh pandangan bahwa return harapan untuk suatu sekuritas akan
dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Faktor-faktor risiko tersebut akan menunjukkan
kondisi ekonomi secara umum, dan bukan merupakan karakteristik khusus perusahaan. Faktor-
faktor risiko tersebut harus mempunyai karakteristik seperti berikut :
1. Masing-masing factor risiko harus mempunyai pengaruh luas terhadap return
saham-saham di pasar. Kejadian-kejadian khusus yang berkaitan dengan kondisi perusahaan,
bukan merupakan factor risiko APT.
2. Faktor-faktor risiko tersebut harus mempengaruhi return harapan. Untuk itu perlu
dilakukan pengujian secara empiris, dengan cara menganalisis return saham statistik, untuk
melihat bagaimana faktor-faktor risiko tersebut berpengaruh secara luas terhadap return saham.
3. Pada awal periode, factor risiko tersebut tidak dapat diprediksikan oleh karena
faktor-faktor risiko tersebut mengandung informasi yang tidak diharapkan atau bersifat
mengejutkan pasar (ada perbedaan antara nilai yang diharapkan dengan nilai yang sebenarnya).
Dengan demikian, hal penting yang perlu diamati adalah besarnya penyimpangan
(deviasi) nilai actual factor risiko tersebut dari yang diharapkan. Sebagai contoh, jika suku
bunga diperkirakan naik 10% per tahun, dan ternyata kenaikan tingkat suku bunga yang terjadi
adalah 15% maka penyimpangan sebesar 5% inilah yang akan mempengaruhi return actual
selama periode tersebut.
APT pada dasarnya menggunakan pemikiran yang menyatakan bahwa dua kesempatan
investasi yang mempunyai karakteristik yang identik sama tidaklah bisa dijual dengan harga
yang berbeda (hukum satu harga). Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut dijual
dengan harga yang berbeda maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage, yaitu
dengan membeli aktiva yang berharga murah dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi
pada saat yang sama sehingga dapat diperoleh laba tanpa risiko. Atau dengan kata lain arbitrage
adalah memperoleh laba tanpa risiko dengan memanfaatkan peluang perbedaan harga asset
atau sekuritas yang sama. Aktivitas arbitrage menjadi elemen penting pasar sekuritas yang
modern dan efisien. Karena laba arbitrage secara definisi tidak berisiko, semua investor
mempunyai insentif untuk memanfaatkan peluang tersebut jika mereka mengetahuinya.

J. Perbandingan CAPM dengan APT


Seperti CAPM, APT menekankan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan
tergantung pada pengaruh factor-faktor makro ekonomi dan tidak oleh risiko unik. Kita bisa
menganggap faktor-faktor yang ada dalam arbitrage pricing sebagai portofolio-portofolio
khusus yang cenderung dipengaruhi oleh pengaruh bersama. Apabila expected risk premium
masing-masing portofolio tersebut proporsional dengan market beta portofolio, maka APT dan
CAPM akan memberikan hasil yang sama. Kalau tidak, maka hasilnya pun berbeda pula.
Apabila kedua teori ini dibandingkan, daya tarik APT adalah bahwa kita tidak perlu
mengidentifikasikan market portofolio ( yang diperlukan untuk menghitung beta dalam
CAPM). Karena itu kita tidak perlu khawatir dengan perhitungan market portofolio, dan secara
teoritis kita bisa menguji APT meskipun kita hanya memiliki sejumlah saham yang berisiko.
Disamping itu APT memungkinkan pembunuhan lebih dari satu faktor untuk menjelaskan
tingkat keuntungan yang diharapkan.
APT tidak menjelaskan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pricing. Berbeda dengan
CAPM yang menyatukan semua faktor makro kedalam satu factor, yaitu return market
portofolio. Maka APT sangat bermanfaat bila kita bisa melakukan :
1. Mengidentifikasikan tidak terlalu banyak faktor-faktor makro ekonomi
2. Mengukur expected return dari masing-masing faktor tersebut
3. Mengukur kepekaan masing-masing saham terhadap faktor-faktor tersebut

APT bisa menggunakan faktor-faktor yang lebih dari satu. APT tidak menjelaskan
beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan. Sehingga faktor-faktor tersebut harus
dicari dari beberapa penelitian empirik. Roll dan Ross melaporkan beberapa faktor yang
mempengaruhi tingkat keuntungan yaitu :
1. Perubahan inflasi yang tidak diantisipasi.
2. Perubahan Produksi Industri yang tidak diantisipasi.
3. Perubahan dalam premi risiko (perbedaan antara obligasi dengan grade yang tinggi
dengan yang rendah) yang tidak diantisipasi.
4. Perubahan slope dari kurva hasil (yield curve) yang tidak diantisipasi (kurva hasil
menunjukkan hubungan antara return dengan maturity).
BAB III
KESIMPULAN
Capital Asset Pricing Model merupakan kontribusi fundamental bagi pemahaman kita
tentang faktor-faktor penentu harga aset. Capital Asset Pricing Model adalah teori dengan
implikasi yang mendalam untuk harga aset dan perilaku investor. Model ini telah
dikembangkan dengan berbagai cara untuk mengakomodasi beberapa kompleksitas dalam
dunia nyata. Terlepas dari itu, batas-batas yang terdapat dari asumsi yang mendasari
fundamental validitas CAPM sepenuhnya tanpa cela, dan terlepas dari model lainnya, CAPM
masih merupakan model yang dominan dan digunakan sebagai paradigma untuk memahami
keseimbangan antara risko dan tingkat pengembalian. .
CAPM bukanlah satu-satunya teori yang mecoba menjelaskan bagaimana suatu aktiva
ditentukan harganya oleh pasar, atau bagaimana menetukan tingkat keuntungan yang
dipandang layak untuk suatu investasi, Arbitrage Pricing Theory (APT) juga menggambarkan
hubungan antara suatu resiko dan pendapatan tetapi hanya saja menggunakan asumsi dan
prosedur yang berbeda. Perbedaan antara kedua model tersebut terletak pada perlakuan APT
terhdap hubungan antar tingkat keuntungan sekuritas. APT mengasumsikan bahwa tingkat
keuntungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam perekonomian dan industry.
Korelasi antara tingkat keuntungan dua sekuritas terjadi karena sekuritas tersebut dipengaruhi
oleh faktor atsu faktor-faktor yang sama. Sebaliknya meskipun CAPM mengakui adanya
korelasi antar tingkat keuntungan, model tersebut tidak menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi korelasi tersebut. Baik CAPM maupun APT sama-sama berpendapat bahwa
ada hubungan yang positif antara tingkat keuntungan yang diharapkan dengan resiko.
Perbandingan CAPM dan APT timbul berdasarkan persamaan asumsi yang muncul yaitu :
1. Pemodal menyukai lebih banyak kemakmuran
2. Risk averse
3. Mempunyai pengharapan yang homogeny
4. Pasar modal sempurna
Asumsi yang tidak terdapat dalam APT dan hanya terdapat dalam CAPM, yaitu :
1. Cakrawala waktu satu periode
2. Tingkat keuntungan berdistribusi normal
3. Mempunyai fungsi utilitas tertentu
4. Terdapat fortofolio pasar dan bisa diidentifikasi
5. Pemodal dapat menyimpan dan meminjam pada bunga bebas resiko.
DAFTAR PUSTAKA

Husnan, Suad. 2015.” Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas”, Edisi Kelima.
UPP AMP Tkpn. Yogyakarta.

https://www.academia.edu/6415787/CAPM_DAN_APT

https://www.academia.edu/10137313/CAPM-APT-DONE2

http://www.scribd.com/doc/110728745/Capm-Dan-Apt-fx-Hadisumarta-Nuhuyanan-2012

https://www.scribd.com/doc/54488657/Rangkuman-CAPM-APT

https://www.academia.edu/7860084/TUGAS_MANAJEMEN_PORTOFOLIO_CAPITA
L_ASSET_PRICING_MODEL_CAPM