Anda di halaman 1dari 4

Waste Equal Food

Waste equal food (Sampah sama dengan Makanan), Secara sederhana waste equal food
dapat diartikan sebagai pemanfaatan kembali limbah atau barang-barang tak berguna untuk diolah
menjadi sesuatu yang fungsional atau memiliki nilai yang dapat diidentifikasi/berguna kembali di
alam.

Di alam semuanya bersiklus jadi apa yang tampak seperti sampah sebenarnya adalah
makanan untuk siklus berikutnya.Banyak sistem produksi saat ini hanya mengambil, membuat,
dan membuang material tanpa diolah kembali agar dapat digunakan kembali (konsep reuse, reduce
dan recycle). Pandangan 'Sampah sama dengan Makanan' dapat diterapkan untuk mengubah sistem
produksi manusia linier atau tidak adanya pemanfaatan kembali menjadi sesuatu yang berguna,
konsep wate equal food dapat menjadi efek terbaik dalam menghilangkan pemborosan maupun
ketidak ramahan pada lingkungan alam sekitar.

Konsep desain Cradle to Cradle waste equal food membedakan antara 2 siklus yaitu biologi
dan teknologi. Bahan limbah dalam produk lama menjadi "makanan" untuk produk baru.
1. Dalam Siklus Biologis dikembalikan ke biosfer dalam bentuk kompos atau nutrisi lain,
dari mana bahan baru dapat dibuat.
2. Dalam Siklus Teknis, bahan yang tidak digunakan selama digunakan dalam produk dapat
diproses ulang untuk memungkinkan mereka digunakan dalam produk baru.

Sumber : McDonough, William; Cradle to Cradle, London : Vintage Publishing, 2010

Visesa villa Bali Ubud telah mendedikasikan lebih dari dua hektar lahan untuk budaya
organik yang ditanam secara eksklusif dengan kompos alami.

Jadi villa visesa menerapkan konsep siklus biologis yaitu Kompos organik yang dibuat
dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik yaitu tanaman yang ada disekitar villa visesa
maupun di kebunnya. Lalu pupuk kandang berasal dari kotoran hewan yang mereka pelihara yaitu
sapi dan babi. Sebelumnya babi yang mereka pelihara diberi sisa sisa makanan tamu maupun
pegawai yang ada di villa visesa yang masih layak di konsumsi mahluk hidup.

Setelah itu pupuk-pupuk tersebut digunakan untuk menyuburkan atau menutrisi tanaman
yang ada di villa visesa seperti salah satu contohnya di flower garden, flower garden selain
berfungsi sebagai view, bunganya juga dimanfaatkan oleh civitas villa visesa untuk membuat
canang.

Villa Visesa dengan bangga mengundang para tamu untuk mengembangkan kesadaran dan
pengetahuan tentang prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan. Bertujuan untuk melestarikan alam
agar bisa di nikmati dan bisa memanfaatkan “sampah” sebagai sesuatu yang fungsional

Nilai-nilai pertanian didukung dengan budidaya permakultur yang ekstensif dan sawah
budidaya tradisional. Berbagai buah-buahan, sayuran, rempah-rempah dan rempah-rempah yang
ditanam sendiri untuk mendukung produk lokal segar. Bagi Visesa Ubud, ramah lingkungan, ini
adalah gaya hidup sehari-hari yang menjadi inti dari konsep perhotelan yang unik.
Contoh Jenis Desain :

Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk berhubungan dengan alam
yang dikenal dengan hipotesa biophilia (cinta alam). Dalam dunia arsitektur, hunian dengan
sentuhan natural atau alam dikenal dengan istilah biophilic design atau desain biophilic.

Istilah biophilia (cinta alam) muncul sekitar tahun 1980 ketika urbanisasi meningkat yang
mengakibatkan terputusnya hubungan manusia dengan alam. Tingkat migrasi ke perkotaan di
negara maju dan berkembang sangat tinggi saat itu.

Manusia semakin dekat dengan modernitas dan mulai melupakan alam.Ranah arsitektur kemudian
menggunakan gagasan biophilia untuk mengembalikan kedekatan manusia dengan alam.

Akhirnya terciptalah desain arsitektur biophilic yang dibuat guna menguatkan hubungan antara
alam dan lingkungan buatan manusia. Tak heran jika unsur alam merupakan aspek utama pada
desain ini.

Relevansi Desain Biophilic

Badan Kesehatan Dunia (WHO) meramalkan bahwa penyakit sejenis stres, seperti gangguan
kesehatan mental dan kardiovaskular akan menjadi penyumbang penyakit terbesar di tahun 2020.

Berkurangnya koneksi manusia dengan alam, meningkatnya tekanan, dan kehadiran teknologi
akan membuat kesempatan untuk memulihkan kesehatan mental dan fisik lebih sedikit.

Memasukkan unsur alam, baik langsung atau tak langsung, pada lingkungan terdekat akan sangat
berpengaruh mengurangi tekanan darah dan menurunkan tingkat detak jantung. Selain itu, dapat
meningkatkan produktivitas dan kenyamanan diri.

Karena itulah kini mulai banyak instansi seperti Google, Apple, dan Amazon menerapkan
penggunaan desain biophilic untuk tempat kerja mereka. Selain mampu mengurangi tingkat stres,
desain biophilic dapat meningkatkan produktivitas bekerja karyawan.

Keuntungan Menerapkan Desain Biophilic

Dengan menerapkan desain biophilic pada hunian atau tempat kerja, ada banyak keuntungan yang
bisa didapatkan.
 Desain kantor: Produktivitas meningkat 8%, tingkat kesejahteraan meningkat 13%,
kreativitas meningkat, dan absensi ketidakhadiran karyawan akan menurun
 Desain perhotelan: Tamu bersedia membayar 23% lebih mahal untuk kamar dengan
pemandangan elemen biophilic
 Ruang pendidikan: Tingkat pembelajaran meningkat 20-25%, hasil tes lebih baik, tingkat
konsentrasi dan kehadiran meningkat, dampak ADHD berkurang.
 Ruang perawatan kesehatan: Tingkat pemulihan pasca operasi meningkat sebesar 8,5%,
mengurangi pengobatan nyeri sebesar 22%
 Ritel: Konsumen bersedia membayar 8-12% lebih untuk barang dan jasa yang ditawarkan.
 Hunian/rumah: Suasana menjadi lebih tenang, menurunkan angka kriminalitas 7-8%,
meningkatkan harga properti 4-5%.

Tips Menerapkan Desain Biophilic

 Membuat taman hijau atau pekarangan di halaman depan atau belakang hunian.
 Memperbanyak bukaan pada hunian untuk sirkulasi udara alami.
 Menambah tanaman hijau dalam ruang.
 Penggunaan unsur alam lebih banyak, seperti furnitur kayu, rotan, ornament, dan sebagainya
 Penerapan cahaya alami lebih banyak.