Anda di halaman 1dari 10

HUKUM BISNIS

“BAB 11. PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS”

Disusun Oleh :
Latifatul Choiriyah Umami ( 01115065 )
Regina Sisca Fortunata ( 01115008 )
Rida Silviatul Hidayah ( 01115094 )

Dosen Pengampuh:
Shergan Antonius, SE., M.SA.

FAKULTAS EKONOMI AKUNTANSI


UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA
Tahun 2017
A. Pendahuluan
Bisnis adalah suatu kegiatan perdagangan namun meliputi unsur-unsur yang
lebih luas yaitu pekerjaan, profesi, penghasilan, mata pencarian, dan keuntungan.
Dalam perkembangannya bisnis menjadi suatu hal yang sangat penting sehingga
tidak dapat dipisahkan dengan berbagai macam ancaman bahkan erselisihan
didalamnya.
Sengketa bisnis sudah menjadi hidangan yang bisa dinikmati dalam artian
semakin berkembangnya sebuah bisnis semakin besar resiko sengketa yang terjadi
dalam bisnis itu, sehingga diperlukannya penyelesaian sengketa bisnis yang cepat,
lugas dan akurat.

B. Sengketa Bisnis
Pengertian sengketa bisnis (commercial disputes) menurut Maxwell J. Fulton
adalah “... sengketa bisnis adalah suatu hal yang muncul selama berlangsungnya
proses transaksi yang berpusat pada ekonomi pasar.”
Sengketa muncul karena adanya conflict of interest di antara para pihak.
Sengketa yang muncul diantara pihak-pihak yang telibat dalam berbagai macam
kegiatan bisnis atau perdagangan dinamakan sengketa bisnis.

C. Cara Penyelesaian Sengketa Bisnis


Dari sudut pembuatan keputusan
1. Adjudikatif
Dilakukan dengan mekanisme penyelesaian yang ditandai dengan kewenangan
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak ketiga dalam sengketa
diantara para pihak
2. Konsensual atau kompromi
Bertujuan untuk mencapai penyelesaian yang bersifat win-win solution.
3. Quasi adjudikatif
Mengkombinasikan unsur konsensual dan adjudikatif.

1
Dari sudut prosesnya
1. Litigasi (ordinary court / court settlement)
Mekanisme penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan dengan
menggunakan pendekatan hukum formal (law approach).
2. Nonligitasi (extra ordinary court / out of court settlement)
Mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan dan tidak menggunakan
pendekatan hukum formil.

D. Lembaga Penyelesaian Sengketa Bisnis di Indonesia


Lembaga penyelesaian sengketa bisnis meliputi :
1. Pengadilan Umum
Pengadilan umum merupakan lembaga pelaksanaan kekuasaan kehakiman di
Indonesia. UU No 2 th 1986 pasal 50 tentang Peradilan Umum dinyatakan bahwa
“Pengadilan Negeri bertugas dan berwenang memeriksa, mengadili, memutus,
dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama.”
Berdasarkan isi dari pasal tersebut, dapat dikatakan bahwa Pengadilan Negeri
berwenang dalam memeriksa sengketa bisnis. Karakteristik Pengadilan Umum,
antara lain:
a. Prosesnya sangat formal
b. Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (majelis
hakim)
c. Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan
d. Isi keputusan win-lose solution
e. Sifat keputusan memaksa dan mengikat
f. Orientasi pada fakta hukum (fact orientation “mencari pihak yang bersalah”)
g. Fokus pada masa lampau
h. Proses persidangan bersifat terbuka

2. Pengadilan Niaga
Pengadilan niaga adalah pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan
Umum yang mempunyai kompetensi untuk memeriksa dan memutus permohonan
pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU), serta

2
sengketa hak kekayaan intelektual (HKI) yang meliputi hak cipta, merek, paten.
Karakteristik pengadilan niaga antara lain:
a. Prosesnya sangat formal
b. Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (majelis
hakim)
c. Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan
d. Sifat keputusan memaksa dan mengikat
e. Orientasi pada fakta hukum
f. Proses persidangan bersifat terbuka
g. Waktunya singkat

3. Arbitrase
a. Pengertian Arbitrase
Menurut UU No 30 th 1999, arbitrase didefinisikan sebagai cara penyelesaian
suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian
arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
b. Objek Arbitrase
Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa dalam
bidang perdagangan. Mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan
perundang-undangan, sepenuhnya dikuasai oleh pihak yang bersengketa.
Adapun sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah yang
menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat dilakukan perdamaian.
UU No 30 th 1999 Pasal 4 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa menyatakan bahwa “Pengadilan Negeri tidak berwenang
menyelesaikan sengketa para pihak yang telah terikat di dalam perjanjian
arbitrase, dan putusan arbitrase adalah final, artinya tidak dapat dilakukan
banding, peninjauan kembali atau kasasi, serta putusannya berkekuatan hukum
tetap bagi para pihak.”
c. Prinsip-prinsip dalam Arbitrase
1. Penyelesaian sengketa tersebut dilakukan di luar peradilan

3
2. Keinginan untuk menyelesaikan sengketa di luar peradilan harus
didasarkan atas kesepakatan tertulis yang dibuat oleh pihak yang
bersengketa
3. Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanyalah sengketa
dalam bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan
peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang
bersangkutan
4. Para pihak dapat menunjuk atau menentukan para arbiter atau wasit dan
pejabat dalam lingkup peradilan seperti hakim, jaksa, panitera, dan
pejabat peradilan lainnya yang tidak dapat diangkat sebagai arbiter
5. Semua pemeriksaan sengketa oleh arbiter atau majelis arbiter dilakukan
secara tertutup
6. Para pihak yang bersengketa mempunyai hak dan kesempatan yang sama
dalam mengemukakan pendapat mereka masing-masing
7. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase dapat dilakukan dengan
menggunakan lembaga arbitrase nasional atau internasional berdasarkan
kesepakatan para pihak
8. Atas perintah arbiter atau majelis arbitrase dapat meminta bantuan
seorang atau lebih saksi ahli untuk memberikan keterangan tertulis
mengenai suatu persoalan khusus yang berhubungan dengan pokok
sengketa
9. Arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan berdasarkan ketentuan
hukum atau berdasarkan keadilan dan kepatutan
10. Putusan diucapkan dalam waktu paling lama 30 hari sejak pemeriksaan
ditutup
11. Putusan arbitrase bersifat final and binding, artinya final dan mempunyai
kekuatan hukum tetap serta mengikat
12. Dalam waktu paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal putusan
diucapkan, lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase diserahkan
dan didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya kepada panitera Pengadilan
Negeri

4
13. Dalam hal para pihak tidak melaksanakan putusan arbitrase secara suka
rela, putusan dilaksanakan berdasarkan perintah ketua Pengadilan Negeri
atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa
14. Yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan
putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
d. Klausula Arbitrase
Pasal 1 butir 3 UU No 30 Th 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa menyatakan bahwa perjanjian arbitrase itu adalah
“Suatu kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu
perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu
perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.”
Bentuk klausula arbitrase dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu
1. Pactum de compromittendo
Adalah adanya kesepakatan bagi para pihak yang membuat perjanjian agar
pada kemudian hari apabila terjadi sengketa dapat diselesaikan melalui
abitrase.
2. Acta compromise
Adalah adanya kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian bagi kedua
pihak yang berselisih, yaitu untuk menyelesaikan sengketanya melalui
arbitrase, namun kesepakatan tersebut muncul setelah terjadinya sengketa.
e. Jenis-Jenis Arbitrase
1. Arbitrase ad hoc atau volunteer
Merupakan arbitrase yang dibentuk secara khusus untuk menyelesaikan atau
memutus perselisihan tertentu.
2. Arbitrase institusional
Merupakan lembaga atau badan arbitrase yang bersifat permanen, yang
dibentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul bagi
mereka yang menghendaki penyelesaian sengketa yang timbul bagi mereka
yang menghendaki penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Lebih lanjut,
lembaga arbitrase institusional yang ada di Indonesia, antara lain Badan
Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dan Badan Arbitrase Syariah Nasional
(Basyarnas).

5
f. Lembaga Arbitrase Internasional
Lembaga arbitrase internasional meliputi:
1. Court of Arbitration of the Internasional Chamber of Commerce (ICC)
2. The International Center for Settlement of Investment Disputes (ISCID)
3. The United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL)

4. Penyelesaian Sengketa Alternatif melalui mekanisme negosiasi, mediasi,


konsultasi, dan penilaian ahli.
Aternatif penyelesaian sengketa adalah Lembaga penyelesaian sengketa atau
beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian
diluar pengadilan dengan cara Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi, atau Penilaian ahli.
Berikut adalah uraian dari bentuk-bentuk Alternatif Penyelesaian Sengketa:
a. Negosiasi
Negosiasi berasal dari kata latin negotium yang berarti kegiatan atau
usaha yagn merujuk pada bentuk tawar-menawar atau berunding dengan sudut
pandang guna mencapai kesepakatan.
Dalam Mekanisme negosiasi, penyelesaian sengketa tersebut harus
dilakukan dalam bentuk pertemuan langsung oleh dan diantara para pihak yang
bersengketa tanpa melibatkan orang ketiga untuk menyelesaikan sengketa
melalui negosiasi yagn diberikan waktu empat belas hari untuk melakukan
prosesnya.
Persetujuan atau kesepakatan yang telah dicapai tersebut kemudian
dituangkan secara tertulis untuk ditandatangani oleh para pihak dan
dilaksanakan sebagaimana mestinya yang bersifat final dan mengikat badi para
pihak yang bersangkutan.

b. Mediasi
Menurut Laurance Boulle dalam bukunya Mediation, Principle, Process,
Practice menyebutkan bahwa definisi Mediasi adalah sebuah proses
pembuatan keputusan dari para pihak yagn bersengketa dengan dibantu oleh
seorang pihak ketiga, yaitu mediator yang berusaha meningkatkan proses

6
pembuatan keputusan dan membantu para pihak dalam mencapai sebuah hasil
yang disetujui oleh para pihak.
Mediasi memiliki beberapa karakteristik- karakteristik sebagai berikut :
1. Penyelesaian sengketa didasarkan pada terakomodasinya kepentingan
pihak yang bersengketa
2. Kesediaan para pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui mekanisme
mediasi
3. Prosedur yang dilakukan bersifat informal dan luwes.
4. Mekanisme ini dapat membangun norma baru yang disepakati para pihak
sebagai acuan untuk menyelesaikan sengketa mereka.
5. Kemauan yang serius dari para pihak diperlukan guna mencapai
kesepakan.
6. Orientasi untuk bekerjasama dan saling menghargai antar pihak.
7. Berfokus pada tercapainya kesepakatan
8. Mekansme Mediasi bersifat tertutup atau rahasia untuk umum dan pihak
lain.
Goodpaster dalam sutiyoso (2006:57) mengemukakan bahwa mediasi
akan berhasil apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Para pihak mempunyai kekuatan tawar-menawar yang seimbang.
2. Para pihak menaruh perhatian terhadap hubungan pada masa mendatang.
3. Terdapat persoalan yang memungkinkan terjadinya pertukaran
kepentingan.
4. Terdapat urgensi atau batas-batas waktu untuk menyelesaikan.
5. Para pihak tidak memiliki permusuhan yang berlangsung lama dan
mendalam.
6. Mempertahankan suatu hak tidak lebih penting dibandingkan dengan
mnyelesaikan persoalan yagn mendesak.

c. Konsiliasi
Menurut John Wade dari University Dispute Resolution Center, Australia
menyebutkan bahwa definisi Konsiliasi merupakan sebuah proses saat pihak
dalam sebuah konflik dengan bantuan seorang pihak ketiga netral (konsiliator),

7
mengidentifikasi masalah, menciptakan pilihan-pilihan, mempertimbangkan
pilihan penyelesaian.

d. Penilaian ahli
Menurut Hillary Astor dalam bukunya Dispute Resolution in Australia
memberikan definisi Penilaian ahli merupakan sebuah proses yang
menghasilkan suatu pendapat objektif, independen, dan tidak memihak atas
fakta-fakta atau isu-isu yang dipersengketakan, oleh seorang ahli yagn ditunjuk
oleh para pihak yang bersengketa.

8
DAFTAR PUSTAKA

Silonde, A. A dan Wirawan B.I. 2017 Pokok-pokok Hukum Bisnis, Cetakan

ketujuh. Jakarta: Salemba Empat.