Anda di halaman 1dari 16

ARSITEKTUR & PERILAKU

RINGKASAN & KAITAN


(RUANG PERSONAL , TERITORIALITAS, KEPADATAN KESESAKAN )

OLEH:

IDA BAGUS MADE MAHENDRA ARISTA (1605522033)

TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
RUANG PERSONAL DAN PRIVASI
Pengertian Ruang Personal
Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian, antara lain :
• Ruang personal adalah batasan-batasan yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain.
• Ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
• Pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya
sebagai suatu perubahan situasi.
• Ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stress,
dan bahkan perkelahian.
• Ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak-jarak antar manusia, walaupun ada tiga
orientasi dari orang lain : berhadapan, saling membelakangi, dan searah.
• Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang
dengan batasan-batasan yang tidak jelas dimana seseoramg tidak boleh memasukinya. Goffman
(dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak / daerah di sekitar individu
dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkn orang lain tersebut merasa batasnya
dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.
• Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat 4 zona spasial
yang meliputi : jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik. Kajian ini kemudian
dikenal dengan istilah Proksemik (kedekatan) atau cara seseorang menggunakan ruang dalam
berkomunikasi (dalam Altman, 1975).
Jadi, ruang personal ibarat balon atau tabung sebuah balon yang menyelubungi kita membatasi
orang lain dan tabung tersebut dapat membesar maupun mengecil tergantung dengan siapa kita
berhadapan.

Manfaat Ruang Personal


Pengetahuan akan ruang personal dapat melengkapi informasi bagi seseorang arsitek agar lebih
peka terhadap kebutuhan ruang para pemakai ruang. Beberapa manfaat ruang personal khususnya
bagi arsitek seperti :
• Arsitek dapat dengan mudah menentukan jarak antar individu
• Arsitek dapat mengambil keputusan untuk menentukan ruang apa saja yang dibutuhkan.
• Membantu menentukan jenis ruang, karena setiap individu memiliki sifat yang berbeda-beda.

Tujuan Ruang Personal


Tujuan mengetahui ruang personal ini yaitu untuk membantuk nantinya para arsitek dalam
menentukan pemograman ruang, organisasi ruang, ukuran ruang dan jenis ruang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ruang Personal
Jenis kelamin
Heska dan Nelson (1972) mengatakan bahwa salah satu penentu perbedaan yang bergantung pada
diri individu itu sendiri adalah jenis kelamin. Wanita ataupun pria sama-sama membuat jarak
dengan lawan bicara. Semakin akrab hubungannya dengan lawan bicaranya maka semakin kecil
jarak ruang personalnya.
Umur
Pada umumya, semakin bertambah umur seseorang, semakin besar jarak ruang personal yang akan
dikenakannya pada orang-orang tertentu (Hayduk,1983). Ruang personal pertama kali akan muncul
pada usia remaja. Usia 12 tahun merupakan usia yang menyerurapi ruang personal orang dewasa.
Tipe kepribadian
Tipe kepribadian berpengaruh pada ruang personal, orang dengan kepribadian eksternal (merasa
bahwa segala sesuatu lebih ditentukan oleh hal di luar dirinya.) memerlukan ruang personal lebih
dibandingkan dengan orang bertipe internal ( merasa bahwa segala sesuatu ditentukan oleh hal di
dalam dirinya). Orang dengan kepribadian introver (tidak mudah berteman dan pemalu)
memerlukan ruang personal lebih besar. Sedangkan ekstrover ( orang yang budah berteman )
memerlukan ruang personal lebih kecil.
Latar Belakang Budaya
Latar belakang suku bangsa dan kebudayaan seseorang juga mempengaruhi besarnya ruang
personal seseorang. Seperti orang bali memiliki ruang personal yang lebih besar karena budaya
setempat.
Rasa Aman/Ketakutan
Kita tidak keberatan berdekatan dengan seseorang jika merasa aman dan sebaliknya. Kadang
ketakutan tersebut berasal dari stigma yang salah pada pihak-pihak tertentu, misalnya kitas ering
kali menjauh ketika berpapasan dengan orang cacat, atau orang yang terbelakang mental atau
bahkan orang gemuk. Mungkin rasa tidak nyaman tersebut muncul karena faktor ketidak biasaan
dana dan ada sesuatu yang berbeda.
Trauma
Pengalaman yang tidak mengenakkan dapat mempengaruhi ruang personal seseorang.
Gangguan Psikologi atau Kekerasan
Orang yang mempunyai masalah kejiwaan punya aturan sendiri tentang RP ini. Sebuah penelitian
pada pengidap skizoprenia memperlihatkan bahwa kadang-kadang mereka membuat jarak yang
besar dengan orang lain, tetapi di saat lain justru menjadi sangat dekat.
Kondisi Kecacatan
Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara kondisi kecatatan dengan RP yang
diterapkan. Beberapa anak autis memilih jarak lebih dekat ke orang tuanya, sedangkan anak-anak
dengan tipe autis tidak aktif, anak hiperaktif dan terbelakang mental memilih untuk menjaga jarak
dengan orang dewasa.
Persaingan/Kerjasama
Pada situasi berkompetisi, orang cenderung mengambil posisi saling berhadapan, sedangkan pada
kondisi bekerjasama kita cenderung mengambil posisi saling bersisian. Tapi bisa juga sebaliknya,
sepasang kekasih akan duduk berhadapan di ketika makan di restoran yang romantis,sedangkan
dua orang pria yang duduk berdampingan di meja bar justru dalam kondisi saling bersaing
mendapatkan perhatian seorang wanita yang baru masuk.
Kekuasaan dan Status
Makin besar perbedaan status makin besar pula jarak antar personalnya.
Pengaruh Lingkungan Fisik
Ruang personal juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik. Di ruang dengan cahaya redup
orang akan nyaman jika posisinya lebih berdekatan, demikian halnya bila ruangannya sempit atau
kecil. Orang juga cenderung memilih duduk di bagian sudut daripada di tengah ruangan.
Jenis-jenis Ruang Personal
Gifford dan Price (1979) mengusulkan adanya 2 jenis ruang personal, yaitu ruang personal alfa dan
ruang personal beta.
1. Ruang Personal Alfa
Ruang personal alfa menurt Gifford dan Price merupakan jarak objektif yang terukur antara
individu yang berinteraksi dan ruang personal beta sebagai suatu pengalaman subjektif dalam
proses mengambil jarak.
2. Ruang Personal Beta
Ruang personal beta menurut Gifford dan Price merupakan kepekaan seseorang terhadap jarak
dalam bersosialisasi. Menurut penelitian Gifford dan Price, jarak ruang personal beta ini 24% lebih
besar dari pada ruang personal alfa.
Jarak Ruang Personal
Edward Hall (1963) membshi jarak-jarak ruang personal dalam empat jenis yaitu :
1. Jarak intim, fase dekat ( 0.00-0.15m) dan fase jauh (0.15-0.50m)
2. Jarak personal, fase dekat (0.50-0.75m) dan fase jauh (0.75-1.20m)
3. Jarak sosial, fase dekat (1.20-2.10m) dan fase jauh (2.10-3.60m)
4. Jarak publik, fase dekat (3.60-7.50m) dan fase jauh ( >7.50m)
Ruang Personal Terhadap Desain Arsitektur
Ruang personal dimiliki oleh setiap orang. Dengan kata lain, ruang personal ini merupakan bagian
dari kemanusiaan seseorang. Berbagai rumusan menjelaskan kurangnya ruang personal berarti
kurangnya jarak interpersonal. Hal ini dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman, rasa tidak aman,
stress, adanya ketidakseimbangan, komunikasi yang buruk, den segala kendala pada rasa
kebebasan. Jadi, ruang personal berperan dalam menentukan kualitas hubungan seorang individu
dengan individu lainnya.
Pengetahuan akan ruang personal dapat melengkapi informasi bagi seorang arsitek agar lebih peka
terhadap kebutuhan ruang para pemakai ruang. Terhadap sejumlah penelitian yang memusatkan
pengamatannya pada peran ruang personal dalam lingkungan dan kebanyakan mencakup
pengamatan pada tatanan perabot, terutama di ruang-ruang public, seperti perpustakaan, bandara,
sekolah, dan perkantoran.
Peran suatu ruang personal terhadap desain arsitektur dapat dibagi menjadi dua, sebagai berikut:
Ruang Sosiopetal (Sociopetal)
Istilah sosiopetal merujuk pada suatu tatanan desain arsitektur yang mampu memfasilitasi interaksi
sosial. Tatanan sosiopetal yang paling umum adalah meja makan, tempat anggota keluarga
berkumpul mengelilingi meja makan dan saling berhadapan satu sama lain.
Selain tata perabot, pembentukan ruang pun akan sangat berperan dalam keberhasilan dalam
keberhasilan membentuk ruang sosiopetal.
Ruang Sosiofugal (Sosiofugal)
Istilah sosiopetal merujuk pada suatu tatanan desain arsitektur yang mampu mengurangi interaksi
sosial. Tatanan sosiofugal biasanya sering ditemukan pada ruang tunggu. Misalnya pada ruang
tunggu stasiun kereta api atau bandara tempat para pengunjung duduk saling membelakangi.
Pengertian Privasi

 Menurut Dibyo Hartono, Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang
dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang
diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, adanya keinginan untuk
berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar
dicapai oleh orang lain.
 Rapoport (dalam Soesilo, 1988) mendefinisikan privasi sebagai suatu kemampuan untuk
mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan
untuk mencapai interaksi yang diinginkan. Privasi jangan dipandang hanya sebagai
penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak-pihak lain dalam rangka menyepi saja.
 Secara konteks hukum, privasi adalah hak untuk “right to be let alone” menurut Warren &
Brandeis, 1890. Sedangkan acuan produk hukum Indonesia yang melindungi tentang
privasi bersumber Undang-Undang Teknologi Informasi ayat 19 yang menyatakan
bahwa “privasi adalah hak individu untuk mengendalikan penggunaan informasi tentang
identitas pribadi baik oleh dirinya sendiri atau oleh pihak lainnya.”
Jenis-jenis Privasi
Holahan (1982) pernah membuat alat untuk mengukur kadar dan mengetahui jenis privasi dan ia
mendapatkan bahwa ada enam jenis privasi, terbagi dalam dua golongan.
A. Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik.
• Keinginan menyendiri (solitude)
• Keinginan menjauh (seclusion) dari pandangan dan gangguan suara
• Keinginan untuk intim dengan orang-orang (intimacy)
B. Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang terwujud
dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang perlu (control of information), yaitu
• Keinginan merahasiakan diri sendiri (anonymity)
• Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve)
• Keinginan untuk tidak terlibat dengan para tetangga (not neighboring). Tidak suka kehidupan
bertetangga

Tujuan Privasi
• Memberikan perasaan berdiri sendiri, mengembangkan identitas pribadi. Privasi merupakan bagian
terpenting dari ego seseorang atau identitas diri.
• Memberi kesempatan untuk melepaskan emosi. Dalam kesendirian seseorang bisa berteriak keras-
keras, menangis, memandang wajahnya sendiri di cermin, dan berbicara dengan dirinya sendiri.
• Membantu mengevaluasi diri sendiri, menilai diri sendiri.
• Membatasi dan melindungi diri sendiri dari komunikasi dengan orang lain. salah satu alasan
seseorang mencari privasi adalah membatasi dan melindungi percakapan yang dibuatnya.

Manfaat Privasi
Manfaat Privasi (Altman 1975) menjabarkan beberapa manfaat privasi :
• Manfaat pertama privasi adalah pengatur dan pengontrol interaksiinterpersonal yang berarti sejauh
mana hubungan dengan orang laindiinginkan, kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya
Bersama-sama dengan orang lain.
• Manfaat kedua privasi adalah merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan
orang lain, yang meliputi keintiman / jarak dalam berhubungan dengan orang lain.
• Manfaat ketiga privasi adalah memperjelas identitas diri.
Fungsi Privasi
Altman (dalam Prabowo 1998) privasi menyebutkan bahwa privasi pada dasarnya merupakan konsep
yang terdiri atas proses 3 dimensi, hal ini mencakup mengontrol dan mengatur dengan mekanisme
perilaku, yaitu:
1. Perilaku Verbal
Perilaku ini dilakukan dengan cara mengatakan kepada orang lain secara verbal, sejauh mana orang
lain boleh berhubungan dengannya.
2. Perilaku Non-Verbal
Perilaku ini dilakukan dengan menunjukan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tanda
senang atau tidak senang.
3. Mekanisme Kultural
Budaya mempunyai bermacam-macam adat istiadat, aturan atau norma yang menggambarkan
keterbukaan dan ketertutupan kepada orang lain dan hal ini sudah diketahui banyak orang pada budaya
tertentu.
4. Ruang Personal
Ruang personal adalah salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi personal.
Karakteristik ruang personal adalah daerah batas (maya) yang boleh dimasuki oleh orang lain. Ruang
personal ini melekat pada diri seseornang dan dibawa kemanamana. Kawasan personal adalah dinamis,
yang berubah-ubah besarnya sesuai situasi dan waktu (Fisher dalam Prabowo,1998). Pelanggaran ruang
personal orang lain akan dirasakan sebagai ancaman sehingga daerah personal ini dikontrol dengan
kuat.
5. Ruang Personal
Ruang personal adalah salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi personal.
Karakteristik ruang personal adalah daerah batas (maya) yang boleh dimasuki oleh orang lain. Ruang
personal ini melekat pada diri seseornang dan dibawa kemanamana. Kawasan personal adalah dinamis,
yang berubah-ubah besarnya sesuai situasi dan waktu (Fisher dalam Prabowo,1998). Pelanggaran ruang
personal orang lain akan dirasakan sebagai ancaman sehingga daerah personal ini dikontrol dengan
kuat.
Pengaruh Privasi terhadap Perilaku
Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mecatat bahwa pengelolahan hubungan
interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya,
orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan.
Sedangkan Schwartz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke
dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus
berurusan dengan orang-orang yang “sulit”. Sementara hal yang senada diungkapkan oleh westin
bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan, kita dapat melakukan pelepasan
emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari dan kita juga dapat melakukan evaluasi diri serta
membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri. Otonomi ini meliputi perasaan
bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.
Privasi yang optimal terjadi ketika privasi yang dibutuhkan sama dengan privasi yang dirasakan. Privasi
yang terlalu besar menyebabkan orang merasa terasing. Sebaliknya terlalu banyak orang lain yang tidak
diharapkan, perasaan kesesakan (crowding) akan muncul sehingga orang merasa privasinya terganggu.
Privasi memang bersifat subjektif dan terbuka hanya bagi impresi atau pemeriksaan individual.
TERITORIALITAS
PENGERTIAN TERITORIALITAS

Julian Edney (1974)

Mendefinisikan teritorialitas sebagai sesuatu yang berkaitan dengan ruang fisik, tanda, kepemilikan,
pertahanan, penggunaan yang eksklusif, personaliasi, dan identitas. Termasuk didalamnya dominasi,
kontrol, konflik, keamanan, gugatan akan sesuatu, dan pertahanan.

KLASIFIKASI TERITORIALITAS

klasifikasi yang dibuat oleh Altman (1980) yang didasarkan pada derajat privasi, afiliasi, dan kemungkinan
pencapaian :

 Teritori Primer

Yaitu tempat - tempat yang sangat pribadi sifatnya, hanya boleh dimasuki oleh orang - orang yang sudah
sangat akrab atau yang sudah mendapat izin khusus.

 Teritori Sekunder

Teritori sekunder adalah tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup
saling mengenal. Jenis teritori ini lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan.

 Teritori Publik

Teritori publik adalah tempat-tempat yang terbuka untuk umum. Pada prinsipnya, setiap orang
diperkenankan untuk berada di tempat tersebut. Misalnya, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, lobi hotel,
dan taman kota yang dinyatakan terbuka untuk umum, Kadang-kadang teritori publik dikuasai oleh
kelompok tertentu dan tertutup bagi kelompok yang lain, seperti bar yang hanya untuk orang dewasa atau
tempat-tempat hiburan yang terbuka untuk dewasa umum, kecuali anggota ABRI.

PEMBAGIAN TERITORIAL SECARA UMUM BERDASARKAN PEMAKAIANNYA

▪ Stalls merupakan suatu tempat yang dapat disewa atau dipergunakan dalam jangka waktu tertentu,
biasanya berkiasr anatara jangka waktu lama dan agak lama. Contohnya adalah kamar-kamar hotel
dan kamar-kamar diasrama

▪ Turns mirip dengan stalls, hanya berbeda dalam jangka waktu penggunaan saja. Turns dipakai
orang dalam jangka waktu yang singkat, misalnya tempat antrian karcis, antrian bensin dan
sebagainya.
▪ Use space adalah teritori yang berupa ruang yang dimulai dari titik kedudukan seseorang ke titik
kedudukan objek yang sedang diamati seseorang. Contohnya adalah seseorang yang sedang
mengamati objek lukisan dalam suatu pameran, maka ruang antara objek lukisan dengan orang
yang sedang mengamati tersebut adalah “Use Space” atau ruang terpakai yang dimiliki oleh orang
itu, serta tidak dapat digangu gugat selama orang tersebut masih mengamati lukisan tersebut.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERITORIALITAS

Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaan teritori (Laurens, J.M, 2001, 99-101).

 Faktor Personal

Usia, jenis kelamin dan kepribadian merupakan karakteristik yang diyakini memiliki pengaruh pada sikap
teritorialitas.

 Situasi

Tatanan fisik dan sosial budaya merupakan dua aspek yang dianggap mempunyai peran dalam menentukan
sikap teritorialitas seseorang.

 Budaya

Latar belakang budaya yang berbeda akan mengekspresikan tertorialitas yang berbeda pula.

BENTUK PELANGGARAN TERITORI

a. Bentuk pertama

Pelanggaran teritori yang dapat diindikasi adalah invasi.

b. Bentuk kedua

Kekerasan, suatu bentuk pelanggaran yang bersifat temporer atas teritori seseorang. Biasanya tujuannya
bukanlah untuk menguasai kepemilikannya, melainkan suatu bentuk gangguan.

c. Bentuk ketiga

Intimidasi. Seseorang menggangu teritori orang lain dengan meninggalkan sesuatu yang tidak
menyenangkan seperti sampah, coretan, atau bahkan merusaknya. Misalnya, ketika seseorang menyewa
sebuah rumah, dan meninggalkan barang-barang bekasnya.
PERTAHANAN DARI TERITORIALITAS

Pencegahan

seperti memberikan lapisan pelindung, memberi rambu-rambu, atau pagar batas sebagai antisipasi sebelum
terjadi pelanggaran.Reaksi sebagai respon terjadinya pelanggaran seperti langsung menghadapi si
pelanggar.

Batas sosial

digunakan pada tepi teritori internasional, pertahanan ini terdiri atas suatu kesepakatan yang dibuat oleh
tuan rumah dan tamunya. Misalnya, perlunya seseorang menggunakan paspor untuk memasuki wilayah
negara tertentu atau yang diperlukan identitas diri seperti KTP ketika memasuki lingkungan tertentu.

HUBUNGAN TERITORIALITAS DENGAN PERILAKU

Personalisasi &Penandaan

• Personalisasi dan penandaan seperti memberi nama, tanda, atau menempatkan di lokasi strategis,
bisa terjadi tanpa kesadaran akan teritorialitas. Seperti membuat pagar batas, memberi papan nama
yang merupakan tanda kepemilikan

Agresi

• Pertahanan dengan kekerasan yang dilakukan seseorang akan semakin keras bila pelanggaran
terjadi diteritori primernya, misalnya pencurian di rumahnya, dibandingkan dengan pelanggaran
yang terjadi di tempat umum. Agresi biasanya terjadi apabila batas teritori tidak jelas.

Dominasi &Kontrol

• Dominasi dan kontrol umumnya lebih banyak terjadi pada teritori primer

HUBUNGAN ANTARA TERITORI DAN DESAIN ARSITEKTUR

Publik dan Privat

Kita selalu dihadapkan pada gradasi teritori yang bersifat primer, sekeunder ataupun public dalam desain
arsitektur.
Ruang Peralihan

Pada rancangan di mana pengguna ruang sama sekali tidak mempunyai kontribusi dalam penataanya, atau
sama sekali tidak memiliki peluang untuk membentuk lingkungannya karena sepenuhnya bergantung pada
struktur organisasi pengelola dan kemauan arsitek, sukar untuk menstimulasi [engguna agar bisa menjadi
penghuni agar bisa merasa terlibat dalam tanggung jawab lingkungan. Akibatnya, seluruh area dianggapnya
teritori publik.
KEPADATAN & KESEASAKAN

PENGERTIAN KEPADATAN

Menurut Sundstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (dalam Wrightsman
& Deaux, 1981). Kepadatan juga berarti sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu
dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstradan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating,
1978). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu
semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).

PENGERTIAN KESESAKAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesesakan berasal dari kata dasar sesak yang berarti kesempitan,
kepicikan, kesukaran yang mencakup kekurangan dan sejenisnya.

PENGARUH KEPADATAN DAN KESESAKAN TERHADAP PERILAKU MANUSIA

1. Akibat kepadatan tinggi


Menurut Heimstra dan Mc Farling, kepadatan yang tinggi memberikan akibat :
a. Fisik  peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain
b. Sosial  meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja
c. Psikis  stress, menarik diri dari interaksi sosial, menurunnya perilaku menolong,
menurunnya kemampuan mengerjakan tugas, menimbulkan perilaku agresi
2. 2. Reaksi Kesesakan
Menurut Gifford (dalam Zuhriyah, 2007), kesesakan yang dirasakan individu dapat menimbulkan
reaksi-reaksi pada:
a. Fisiologi dan kesehatan  peningkatan detak jantung serta tekanan darah, gangguan
pencernaan, gatal-gatal, bahkan kematian
b. Penampilan kerja  individu yang yakin mampu menyelesaikan tugasnya dalam kepadatan
yang tinggi dapat menampilkan performa kerja yang lebih baik daripada individu yang tidak
yakin

c. Interaksi sosial  ketertarikan sosial, agresi, kerja sama, penarikan diri, tingkah laku verbal
dan non verbal bahkan humor
d. Perasaan/afeksi  kesesakan menimbulkan emosi negative seperti kejengkelan
e. Kendali dan strategi penanggulangan masalah  Kesesakan dapat menimbulkan
kemampuan kontrol yang rendah sehingga perlu adaptasi situasi.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESESAKAN DAN KEPADATAN

Faktor Individu

- Kontrol personal Individu yang memiliki ketertarikan terhadap individu lain dalam ruangan yang
padat akan memiliki toleransi terhadap kesesakan yang lebih tinggi.

Pengalaman

- Individu yang telah terbiasa dengan situasi yang padat akan lebih adaptif dan lebih bersikap
toleran dalam menghadapi kepadatan

Budaya

- Kepadatan dan kesesakan sudah melekat dengan situasi diperkotaan

Gender

- Pria lebih bereaksi negatif terhadap kesesakan dibandingkan dengan wanita

Faktor Sosial

KEHADIRAN DAN PRILAKU ORANG LAIN

Kepadatan meningkat menyebabkan privasi menurun, berpikir keras menghadapi situasi yang
menekan, gangguan fisik meningkat dan kemampuan kontrol dapat berkurang.

KUALITAS HUBUNGAN DAN INFORMASI YANG TERSEDIA

Individu yang memiliki cara pandang yang sama akan merasa cocok satu sama lain dan lebih
mudahmenghadapi situasi yang padat. Informasi yang jelas dan akurat akan membantu individu
menghadapi kesesakan yang dialam.

Faktor Fisik

Faktor fisik dari kesesakan meliputi situasi dan tatanan ruang keadaan ruang, bangunan, lingkungan,
kota, dan arsitektur bangunan seperti ketinggian langit-langit, penataan perabot, penempatan jendela
dan pembagian ruang.

KATEGORI KEPADATAN

• Jumlah individu dalam sebuah ruang

• Jumlah individu pada daerah


• Jumlah individu pada unit tempat tinggal

• Jumlah ruangan pada unit tempat tinggal

• Jumlah bangunan pada lingkungan sekitar dan lain-lain

• Jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman

ASPEK KESESAKAN

a. Aspek situasional  didasarkan pada situasi terlalu banyak orang yang saling berdekatan dalam
jarak yang tidak diinginkan menyebabkan gangguan fisik dan ketidaknyamanan, tujuan
terhambat, dan ruangan semakin sempit

b. Aspek emosional  menunjuk pada perasaan yang berkaitan dengan kesesakan yang dialami
seperti perasaan negatif pada orang lain

c. Aspek perilaku  Kesesakan menimbulkan respon seperti mengeluh, menghentikan kegiatan


dan meninggalkan ruang, tetap bertahan namun berusaha mengurangi rasa sesak yang timbul,
menghindari kontak mata.

HUBUNGAN ANTARA KESESAKAN DAN KEADATAN

Menurut Sarwono (dalam Sarwono, 1995), hubungan antara kepadatan dan kesesakan mempunyai dua
ciri, antara lain:

Kesesakan adalah persepsi terhadap kepadatan dalam artian jumlah manusia. Kesesakan berhubungan
dengan kepadatan (density), yaitu banyaknya jumlah manusia dalam suatu batas ruang tertentu. Makin
banyak jumlah manusia berbanding luasnya ruangan, makin padatlah keadaannya. Kesesakan adalah
persepsi maka sifatnya subjektif. Individu yang sudah biasa naik bus yang padat penumpangnya, mungkin
sudah tidak merasa sesak lagi (density tinggi tetapi crowding rendah). Sebaliknya, individu yang biasa
menggunakan kendaraan pribadi, bisa merasa sesak dalam bus yang setengah kosong (density rendah tapi
crowding tinggi).

SOLUSI UNTUK MENCEGAH ATAU MENGURANGI KEPADATAN DAN


KESESAKAN

KDB dan KLB

KDB dan KLB (jika lantai 2) merupakan syarat dasar untuk membangun sebuah bangunan dimana ke 2hal
ini akan membatasi luasan bangunan yang akan dibangun.
Sempadan

Sempadan merupakan batasan areal membangun dihitung dari lebar jalan di depan site yang akan dibangun
dengan jarak membangun setengah dari lebar jalan serta jika disamping sudah ada bangunanmaka
sempadan minimal 2 meter dari dinding.

KAITAN DAN KESIMPULAN DARI MATERI RUANG PERSONAL , TERITORIALITAS,


KEPADATAN KESESAKAN

Dapat disimpulkan bahwa pada 3 materi diatas memiliki kaitan dimana memiliki tujuan utama yaitu untuk
mengatur kenyamanan civitas yang sedang beraktivitas sehingga berpengaruh besar terhadap proses
perancangan dalam arsitektur bagaimana kita bisa menyadari dan mempelajari hal hal yang dapat
mempengaruhi perilaku civitas , Selain itu kita bisa menentukan dan menganalisa space / ruang gerak dalam
ruangan yang akan dirancang demi kenyamanan civitas. Faktor faktor kemampuan dalam individu juga
perlu di perhatikan dan dimengerti karena setiap individu memiliki kekuatan beradaptasi dan batas
kenyamanan yang berbeda beda jadi dalam merancang kita harus memiliki Analisa yang kuat dan akurat
yang akan menentukkan kualitas sebagai seorang arsitek dalam perancangan .