Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Demam berdarah dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa

dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua

hari pertama. Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan

masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan

penyebarannya semakin luas (Gibbons, 2002) . Demam Berdarah Dengue (selanjutnya

disingkat DBD) umumnya ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. WHO

memperkirakan bahwa hampir 50 juta infeksi DBD terjadi setiap tahun di dunia (WHO,

2001)

Di Indonesia, jumlah kasus DBD menunjukkan kecenderungan meningkat, baik

dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit secara sporadik dan selalu terjadi

kejadian luar biasa (KLB) pada setiap tahunnya. Dalam kurun waktu 4 tahun yaitu pada

tahun 2007-2010, kasus DBD di Indonesia meningkat tiap tahunnya. Terdapat dua

puncak epidemik di tahun 2007 terdapat 158.115 kasus dan 2009 terdapat sekitar

158.912 kasus. Pada tahun 2008 terdapat 137.469 kasus (Insiden Rate = 59,02 per

100.000 penduduk) dan tahun 2010 mencapai sekitar 140.000 kasus ( DEPKES, 2010).

Provinsi Jawa Tengah dapat dikatakan sebagai provinsi yang endemis untuk

penyakit DBD. Berdasarkan data dari profil kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada tahun

2012 sebesar 19,29/100.000 penduduk, meningkat bila dibandingkan tahun 2011

(15,27/100.000 penduduk) dan masih dalam target nasional yaitu <20/100.000 penduduk

(DINKES, 2012).

1
Berdasarkan data rekapitulasi kasus DBD Kota Semarang pada Tahun 2012

sebanyak 1.250 kasus. Jumlah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dari

Tahun 2011 yang mencapai 1.303 kasus. Sedangkan berdasarkan data rekapitulasi bulan

Januari-Agustus 2013 kasus DBD sebanyak 1844 kasus. Jumlah tersebut mengalami

peningkatan yang cukup signifikan (DINKES, 2013).

Berdasarkan data rekapitulasi kasus DBD di Puskesmas Bangetayu tahun 2012

jumlah penduduk yang terjangkit DBD sejumlah 65/52.655 jiwa. Data pada tahun 2013

menunjukkan peningkatan jumlah penduduk yang terjangkit DBD di tahun berjalan

Januari hingga Agustus sejumlah 63/52.655 jiwa (DINKES, 2012)

1.2 Tujuan Pengamatan

1.2.1 Tujuan Umum

1.2.1.1 Mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan pelaksanaan manajemen

dan permasalahannya serta mutu pelayanan di Puskesmas Bangetayu

Semarang pada cakupan penderita DBD periode Januari – Agustus 2013

dalam rangka perbaikan kinerja puskesmas.

1.2.1.2 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap DBD berdasarkan pendekatan HL.Blum

1.2.2 Tujuan Khusus

1.2.2.1 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor lingkungan yang

mempengaruhi terjadinya penyakit DBD.

1.2.2.2 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor perilaku yang

mempengaruhi terjadinya penyakit DBD.

1.2.2.3 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor pelayanan kesehatan

yang mempengaruhi terjadinya penyakit DBD.

1.2.2.4 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor kependudukan yang

mempengaruhi terjadinya penyakit DBD.

2
1.2.2.5 Untuk dapat memberikan solusi terhadap faktor-faktor yang

mempengaruhi terjadinya penyakit DBD.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Etiologi

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan

oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes Aegypti dan

Aedes albopictus yang telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita penyakit DBD

sebelumnya. Kedua nyamuk Aedes ini tersebar luas di rumah-rumah dan tempatumum di

seluruh wilayah Indonesia, kecuali di tempat-tempat yang ketinggiannya lebih dari1000

meter di atas permukaan air laut (Suhendro, 2006).

2.2 Epidemiologi

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau yang biasa disebut Demam Berdarah

Dengue (DBD), sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1968 yaitu di DKI Jakarta dan

tahun 1969 di Surabaya sampai dengan sekarang, seringkali menyebabkan kematian dan

menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Di Indonesia, jumlah kasus menunjukkan

kecenderungan meningkat, baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit

secara sporadik dan selalu terjadi kejadian luar biasa (KLB) pada setiap tahunnya. Dalam

kurun waktu 4 tahun yaitu pada tahun 2007-2010, kasus DBD di Indonesia meningkat

tiap tahunnya. Terdapat dua puncak epidemik di tahun 2007 terdapat 158.115 kasus dan

2009 terdapat sekitar 158.912 kasus. Pada tahun 2008 terdapat 137.469 kasus (Insiden

Rate = 59,02 per 100.000 penduduk) dan tahun 2010 mencapai sekitar 140.000 kasus

(DEPKES, 2010).

4
Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue
yaitu (Gibbons, 2002) :
1. Vektor : perkembangbiakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di

lingkungan, transportasi vektor dari satyu tempat ke tempat lain.


2. Penjamu : terdapatnya penderita di lingkungan / keluarga, mobilisasi dan

paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin.


3. Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.

Berbagai faktor kependudukan berpengaruh pada peningkatan dan penyebaran

kasus DBD, antara lain :

1. Pertumbuhan penduduk yang tinggi


2. Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali
3. Tidak efektifnya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis
4. Peningkatan sarana transportasi (Gibbons, 2002).
2.3 Cara Penularan

Penularan virus dengue terjadi melalui gigitan nyamuk yang termasuk subgenus

Stegomya yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sebagai vektor primer dan Ae.

polynesiensis, Ae.scutellaris serta Ae (Finlaya) niveus sebagai vektor sekunder, selain itu

juga terjadi penularan transexsual dari nyamuk jantan ke nyamuk betina melalui

perkawinan serta penularan transovarial dari induk nyamuk ke keturunannya. Ada juga

penularan virus dengue melalui transfusi darah seperti terjadi di Singapura pada tahun

2007 yang berasal dari penderita asimptomatik. Dari beberapa cara penularan virus

dengue, yang paling tinggi adalah penularan melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti. Masa

inkubasi ekstrinsik (di dalam tubuh nyamuk) berlangsung sekitar 8-10 hari, sedangkan

inkubasi intrinsik (dalam tubuh manusia) berkisar antara 4-6 hari dan diikuti dengan

respon imun (Suhendro, 2006).

Ciri fisik nyamuk yang menularkan penyakit DBD dengan nama Ae. aegypty

adalah sebagai berikut (Suhendro, 2006) :

5
1. Berwarna hitam dengan loreng putih (belang-belang berwarna putih) di sekujur

tubuh nyamuk.
2. Bisa terbang hingga radius 100 meter dari tempat menetas.
3. Nyamuk betina membutuhkan darah setiap dua hari sekali.
4. Nyamuk betina menghisap darah pada pagi hari dan sore hari.
5. Senang hinggap di tempat gelap dan benda tergantung di dalam rumah.
6. Hidup di lingkungan rumah, bangunan dan gedung.
7. Nyamuk bisa hidup sampai 2-3 bulan dengan rata-rata 2 minggu.

Tempat yang biasa dijadikan tempat bertelur (berkembang biak) adalah di

tempat yang tergenang air bersih dalam waktu lama seperti bak mandi, vas bunga,

kaleng bekas, pecahan botol, penampungan air, lubang wc, talang air, dan lain

sebagainya. Air kotor seperti got, air keruh, air empang, genangan yangberhubungan

langsung dengan tanah, dan lain sebagainya bukan tempat yang cocok bagi nyamuk

Ae. aegypty untuk bertelur (Suhendro, 2006).

2.4 Faktor Resiko Terjadinya DBD

Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian DBD Menurut Sari

(2005) menyatakan bahwa faktor- faktor yang terkait dalam penularan DBD pada

manusia adalah :

1. Kepadatan penduduk, lebih padat lebih mudah untuk terjadi penularan DBD, oleh

karena jarak terbang nyamuk diperkirakan 50 meter.


2. Mobilitas penduduk, memudakan penularan dari suatu tempat ke tempat lain.
3. Kualitas perumahan, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan

bangunan akan mempengaruhi penularan. Bila di suatu rumah ada nyamuk

penularnya maka akan menularkan penyakit di orang yang tinggal di rumah

tersebut, di rumah sekitarnya yang berada dalam jarak terbang nyamuk dan orang-

orang yang berkunjung kerumah itu.


4. Pendidikan, akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan dan

cara pemberantasan yang dilakukan.

6
5. Penghasilan, akan mempengaruhi kunjungan untuk berobat ke puskesmas atau

rumah sakit.
6. Mata pencaharian, mempengaruhi penghasilan
7. Sikap hidup, kalau rajin dan senang akan kebersihan dan cepat tanggap dalam

masalah akan mengurangi resiko ketularan penyakit.


8. Perkumpulan yang ada, bisa digunakan untuk sarana PKM
9. Golongan umur, akan memperngaruhi penularan penyakit. Lebih banyak golongan

umur kurang dari 15 tahun berarti peluang untuk sakit DBD lebih besar.
10. Suku bangsa, tiap suku bangsa mempunyai kebiasaannya masing-masing, hal ini

juga mempengaruhi penularan DBD.


11. Kerentanan terhadap penyakit, tiap individu mempunyai kerentanan tertentu

terhadap penyakit, kekuatan dalam tubuhnya tidak sama dalam menghadapi suatu

penyakit, ada yang mudah kena penyakit, ada yang tahan terhadap penyakit.

Sedangkan faktor yang dianggap dapat memicu kejadian DBD adalah :

1. Lingkungan. Perubahan suhu, kelembaban nisbi, dan curah hujan mengakibatkan

nyamuk lebih sering bertelur sehingga vektor penular penyakit bertambah dan

virus dengue berkembang lebih ganas. Siklus perkawinan dan pertumbuhan

nyamuk dari telur menjadi larva dan nyamuk dewasa akan dipersingkat sehingga

jumlah populasi akan cepat sekali naik. Keberadaan penampungan air artifisial/

kontainer seperti bak mandi, vas bunga, drum, kaleng bekas, dan lain-lain akan

memperbanyak tempat bertelur nyamuk. Penelitian oleh Ririh dan Anny (2005)

tentang “Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer, dan Perilaku Masyarakat

dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti di Daerah Endemis Surabaya”

menunjukkan bahwa ada hubungan antara kelembaban, tipe kontainer, dan tingkat

pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan jentik nyamuk Aedes Aegypti.


2. Perilaku. Kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan

lingkungan tempat tinggal, sehingga terjadi genangan air yang menyebabkan

berkembangnya nyamuk. Kurang baik perilaku masyarakat terhadap PSN

7
(mengubur, menutup penampungan air), urbanisasi yang cepat, transportasi yang

makin baik, mobilitas manusia antar daerah, kurangnya kesadaran masyarakat

akan kebersihan lingkungan, dan kebiasaan berada di dalam rumah pada waktu

siang hari (Sari, 2005).


2.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik, atau dapat

berupa demam yang tidak khas, demam dengue, demam berdarah dengue atau

sindrom syok dengue (SSD). Pada umummya pasien mengalami fase demam selama

2-7 hari, yang diikuti oleh fase kritis selama 2-3 hari. Pada fase kritis, pasien sudah

tidak demam, akan tetaapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan bila tidak

mendapat pengobatan yang adekuat (Siregar, 2004).

Pasien DBD dapat menunjukkan manifestasi klinis berupa batuk, pilek, mual,

muntah , nyeri tenggorokan, nyeri perut, nyeri otot atau tulang, nyeri kepala, diare

kejang atau kesadaran menurun. Gejala ini juga dijumpai pada berbagai penyakit

infeksi penyakit virus arau bakteri lainnya yang menyerang tubuh sehingga

seringkali terjadi kesalahan diagnosis (Siregar, 2004).

2.6 Diagnosis

Penegakkan diagnosis DBD saat ini yaitu dengan menggunakan kriteria WHO

1997. Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal di

bawah ini dipenuhi :

1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie,

ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.


3. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).
4. Terdapat minimal satu tanda- tanda kebocoran plasma sebagai berikut:

8
a. Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur dan

jenis kelamin.
b. Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan

dengan nilai hematokrit sebelumnya.


c. Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites, hipoproteinemia,

hiponatremia (Suhendro, 2006).

Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:

1. Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi

perdarahan adalah uji torniquet.


2. Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran

lain.
3. Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan

nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut

kulit dingin dan lembab, tampak gelisah.


4. Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

Bila tanda dan gejala sudah cukup jelas, maka pemeriksaan laboratorium lain

untuk konfirmasi diagnosis secara umum mungkin tidak diperlukan.

Sebagai tanggapan dari proses ini, akan terjadi sekresi mediator vasoaktif yang

kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga

mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok (Suhendro, 2006).

2.7 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar hemoglobin, kadar hematokrit,

jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relatif

disertai gambaran limfosit plasma biru (sejak hari ke 3). Trombositopenia umumnya

dijumpai pada hari ke 3-8 sejak timbulnya demam. Hemokonsentrasi dapat mulai

dijumpai mulai hari ke 3 demam (Hadinegoro, 2006).

9
Pada DBD yang disertai manifestasi perdarahan atau kecurigaan terjadinya

gangguan koagulasi, dapat dilakukan pemeriksaan hemostasis (PT, APTT,

Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP). Pemeriksaan lain yang dapat dikerjakan adalah

albumin, SGOT/SGPT, ureum/ kreatinin. Untuk membuktikan etiologi DBD, dapat

dilakukan uji diagnostik melalui pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan serologi

atau biologi molekular. Di antara tiga jenis uji etiologi, yang dianggap sebagai baku

emas adalah metode isolasi virus. Namun, metode ini membutuhkan tenaga

laboratorium yang ahli, waktu yang lama (lebih dari 1–2 minggu), serta biaya yang

relatif mahal. Oleh karena keterbatasan ini, seringkali yang dipilih adalah metode

diagnosis molekuler dengan deteksi materi genetik virus melalui pemeriksaan

reverse transcriptionpolymerase chain reaction (RT-PCR). Pemeriksaan RT-PCR

memberikan hasil yang lebih sensitif dan lebih cepat bila dibandingkan dengan

isolasi virus, tapi pemeriksaan ini juga relatif mahal serta mudah mengalami

kontaminasi yang dapat menyebabkan timbulnya hasil positif semu. Pemeriksaan

yang saat ini banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi, yaitu dengan

mendeteksi IgM dan IgG-anti dengue. Imunoserologi berupa IgM terdeteksi mulai

hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3 dan menghilang setelah 60-90 hari. Pada

infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan pada infeksi

sekunder dapat terdeteksi mulai hari ke 2 (Hadinegoro, 2006).

Salah satu metode pemeriksaan terbaru yang sedang berkembang adalah

pemeriksaan antigen spesifik virus Dengue, yaitu antigen nonstructural protein 1

(NS1). Antigen NS1 diekspresikan di permukaan sel yang terinfeksi virus Dengue.

Masih terdapat perbedaan dalam berbagai literatur mengenai berapa lama antigen

NS1 dapat terdeteksi dalam darah. Sebuah kepustakaan mencatat dengan metode

ELISA, antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari pertama sampai

10
hari ke 12 demam pada infeksi primer Dengue atau sampai hari ke 5 pada infeksi

sekunder Dengue. Pemeriksaan antigen NS1 dengan metode ELISA juga dikatakan

memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (88,7% dan 100%). Oleh karena

berbagai keunggulan tersebut, WHO menyebutkan pemeriksaan deteksi antigen NS1

sebagai uji dini terbaik untuk pelayanan primer

Pemeriksaan radiologis (foto toraks PA supine dan lateral dekubitus kanan)

dapat dilakukan untuk melihat ada tidaknya efusi pleura, terutama pada hemitoraks

kanan dan pada keadaan perembesan plasma hebat, efusi dapat ditemukan pada

kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan USG

(Suhenro, 2006).

2.8 Penatalaksanaan

Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis.

Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran

plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan.

Dalam pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah

pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris. Proses kebocoran plasma dan

terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak

demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan

cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan pada

kondisi tersebut secara bertahap dikurangi. Selain pemantauan untuk menilai apakah

pemberian cairan sudah cukup atau kurang, pemantauan terhadap kemungkinan

terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites yang masif

perlu selalu diwaspadai (DEPKES, 2005).

Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring (pada

trombositopenia yang berat) dan pemberian makanan dengan kandung-an gizi yang
11
cukup, lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran

cerna. Sebagai terapi simptomatis, dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol,

serta obat simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia. Pemberian aspirin

ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko terjadinya

perdarahan pada saluran cerna bagaian atas (lambung/duodenum) (DEPKES, 2005).

Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD

dewasa mengikuti 5 protokol, mengacu pada protokol WHO. Protokol ini terbagi

dalam 5 kategori, sebagai berikut (DINKES, 2012).

1. Penanganan tersangka DBD tanpa syok (gambar 2).


2. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat (gambar 3)
3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20% (gambar 4).
4. Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa
5. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa (gambar 5).

Gambar 1. Penanganan tersangka DBD tanpa syok

12
Gambar 2. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat

Gambar 3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%

13
Gambar 4. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa

14
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam terapi cairan khususnya

pada penatalaksanaan demam berdarah dengue: pertama adalah jenis cairan dan

kedua adalah jumlah serta kecepatan cairan yang akan diberikan. Karena tujuan

terapi cairan adalah untuk mengganti kehilangan cairan di ruang intravaskular, pada

dasarnya baik kristaloid (ringer laktat, ringer asetat, cairan salin) maupun koloid

dapat diberikan. WHO menganjurkan terapi kristaloid sebagai cairan standar pada

terapi DBD karena dibandingkan dengan koloid, kristaloid lebih mudah didapat dan

lebih murah. Jenis cairan yang ideal yang sebenarnya dibutuhkan dalam

penatalaksanaan antara lain memiliki sifat bertahan lama di intravaskular, aman dan

relatif mudah diekskresi, tidak mengganggu sistem koagulasi tubuh, dan memiliki

efek alergi yang minimal (DINKES, 2005).

Secara umum, penggunaan kristaloid dalam tatalaksana DBD aman dan

efektif. Beberapa efek samping yang dilaporkan terkait dengan penggunaan

kristaloid adalah edema, asidosis laktat, instabilitas hemodinamik dan

hemokonsentrasi. Kristaloid memiliki waktu bertahan yang singkat di dalam

pembuluh darah. Pemberian larutan RL secara bolus (20 ml/kg BB) akan

menyebabkan efek penambahan volume vaskular hanya dalam waktu yang singkat

sebelum didistribusikan ke seluruh kompartemen interstisial (ekstravaskular) dengan

perbandingan 1:3, sehingga dari 20 ml bolus tersebut dalam waktu satu jam hanya 5

ml yang tetap berada dalam ruang intravaskular dan 15 ml masuk ke dalam ruang

interstisial. Namun demikian, dalam aplikasinya terdapat beberapa keuntungan

penggunaan kristaloid antara lain mudah tersedia dengan harga terjangkau,

komposisi yang menyerupai komposisi plasma, mudah disimpan dalam temperatur

ruang, dan bebas dari kemungkinan reaksi anafilaktik (DINKES, 2005).

15
Dibandingkan cairan kristaloid, cairan koloid memiliki beberapa keunggulan,

yaitu pada jumlah volume yang sama akan didapatkan ekspansi volume plasma

(intravaskular) yang lebih besar dan bertahan untuk waktu lebih lama di ruang

intravaskular. Dengan kelebihan ini, diharapkan koloid memberikan oksigenasi

jaringan lebih baik dan hemodinamik terjaga lebih stabil. Beberapa kekurangan yang

mungkin didapatkan dengan penggunaan koloid yakni risiko anafilaksis,

koagulopati, dan biaya yang lebih besar. Namun beberapa jenis koloid terbukti

memiliki efek samping koagulopati dan alergi yang rendah (contoh: hetastarch).

Penelitian pemberian cairan koloid dibandingkan kristaloid pada sindrom renjatan

dengue (DSS) pada pasien anak dengan parameter stabilisasi hemodinamik pada 1

jam pertama renjatan, memberikan hasil sebanding pada kedua jenis cairan.17,18

Sebuah penelitian lain yang menilai efektivitas dan keamanan penggunaan koloid

pada penderita dewasa dengan DBD derajat 1 dan 2 di Indonesia telah selesai

dilakukan, dan dalam proses publikasi. Jumlah cairan yang diberikan sangat

bergantung dari banyaknya kebocoran plasma yang terjadi serta seberapa jauh proses

tersebut masih akan berlangsung. Pada kondisi DBD derajat 1 dan 2, cairan

diberikan untuk kebutuhan rumatan (maintenance) dan untuk mengganti cairan

akibat kebocoran plasma. Secara praktis, kebutuhan rumatan pada pasien dewasa

dengan berat badan 50 kg, adalah sebanyak kurang lebih 2000 ml/24 jam; sedangkan

pada kebocoran plasma yang terjadi seba-nyak 2,5-5% dari berat badan sebanyak

1500-3000 ml/24 jam. Jadi secara rata-rata kebutuhan cairan pada DBD dengan

hemodinamik yang stabil adalah antara 3000-5000 ml/24 jam. Namun demikian,

pemantauan kadar hematokrit perlu dilakukan untuk menilai apakah

hemokonsentrasi masih berlangsung dan apakah jumlah cairan awal yang diberikan

sudah cukup atau masih perlu ditambah (DINKES, 2005).

16
Pemantauan lain yang perlu dilakukan adalah kondisi klinis pasien, stabilitas

hemodinamik serta diuresis. Pada DBD dengan kondisi hemodinamik tidak stabil

(derajat 3 dan 4) cairan diberikan secara bolus atau tetesan cepat antara 6-10 mg/kg

berat badan, dan setelah hemodinamik stabil secara bertahap kecepatan cairan

dikurangi hingga kondisi benar-benar stabil (lihat protokol pada gambar 6 dan 7).

Pada kondisi di mana terapi cairan telah diberikan secara adekuat, namun kondisi

hemodinamik belum stabil, pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu

dilakukan untuk menilai kemungkinan terjadinya perdarahan internal (DINKES,

2005).

2.9 Pencegahan

Untuk memberantas penularannya, dilakukan dengan memutus mata rantai

perkembangbiakan nyamuk yang dilakukan dengan tindakan pemberantasan sarang

nyamuk (PSN) (Suhendro, 2006).

Beberapa kegiatan PSN, diantaranya:

1. Menutup Tempayan, drum, ember & lain-lain perlu ditutup agar tidak menjadi

tempat perkembangbiakan nyamuk

2. Menguras bak mandi minimal seminggu sekali.

3. Mengubur Kaleng-kaleng bekas, ban bekas dan pecahan botol harus dikubur

agar air hujan tidak tertampung di dalamnya sehingga bisa digunakan untuk

tempat perkembangbiakkan nyamuk Ae. Aegypti (Hadinegoro, 2006).

Kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah menaburkan bubuk abate pada

tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras, dan pengasapan atau fogging.

Namun fogging sebetulnya hanya untuk membunuh nyamuk dewasa (Hadinegoro,

2006).

17
BAB III

STATUS PRESENT

3.1 Data Pasien

3.1.1 Identitas Pasien

3.1.1.1 Nama : Jabir

3.1.1.2 Jenis kelamin : Laki-laki

3.1.1.3 Umur : 5 th

3.1.1.4 Agama : Islam

3.1.1.5 Pendidikan : TK

3.1.1.6 Pekerjaan : Pelajar

3.1.1.7 Alamat : Jl. Widuri Dalam IV 05/IX Bangetayu Kulon

3.1.1.8 Tanggal pemeriksaan : 2 September 2013

3.1.1.9 Keluhan Utama : Demam

3.1.1.10 Riwayat penyakit sekarang: Nyeri ulu hati, muntah, muntah darah,

mimisan dan lemas

3.1.1.11 Riwayat Penyakit dahulu

 Riwayat mondok : disangkal

 Riwayat penyakit serupa : disangkal

 Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal

3.1.1.12 Riwayat penyakit keluarga

 Riwayat sakit DBD : kakak penderita

18
 Riwayat alergi obat dann makanan :-

3.1.1.13 Riwayat sosial

Tidak ditemukan Wabah DBD

3.1.2. Pemeriksaan Fisik

Bintik merah/tanda perdarahan

Uji torniquet : +

3.1.3 Laboratorium

3.1.2.1 Hematologi

Hematologi Rutin 1

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Hemoglobin 10,6 g/dl 11,0
Hematokrit 31,6 % 33-45
Trombosit 23 Ribu/ul 156-408

Gejala lain : efusi pleura (+)

3.2 Data Perkesmas

3.2.1. Identitas Keluarga

3.2.1.1.Nama Ayah : Kisyanto

Nama Ibu : Dwi Retnoningsih

3.2.1.2.Agama : Islam

3.2.1.3.Pekerjaan Ayah : Bengkel Wiraswasta

Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga

3.2.1.1 Alamat :Jl. Widuri Dalam IV 05/IX Bangetayu Kulon


3.2.2 Data Lingkungan
3.2.2.1 Tidak ada kasa ventilasi
3.2.2.2 Lantai terbuat dari tanah
3.2.2.3 Banyak barang bekas yang tidak terpakai didalam rumah
3.2.2.4 Lingkungan rumah yang kotor
19
3.2.3 Data Perilaku
3.2.3.1 Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor dalam jumlah

yang banyak dan intensitas lama.


3.2.3.2 Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu, lotion anti

nyamuk, dan obat nyamuk).


3.2.3.3 Tidak mengubur barang bekas.
3.2.3.4 Kurangnya menjaga kebersihan rumah

BAB IV

ANALISIS PEMBAHASAN

20
4.1. Daftar Masalah

4.1.1 Faktor Lingkungan

4.1.1.1 Tidak ada kasa ventilasi

4.1.1.2 Lantai terbuat dari tanah

4.1.1.3 Banyak barang bekas yang tidak terpakai didalam rumah

4.1.2 Faktor perilaku

4.1.2.1 Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor dalam jumlah

banyak dan intensitas lama.

Tidak ada
4.1.2.2 Tidak kasa ventilasi
menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu,lotion anti
Lantai terbuat dari tanah
nyamuk,obat nyamuk).
Banyak barang bekas yang tidak terpakai
4.1.2.3 Tidak mengubur
Lingkungan barang
rumah bekas
yang kotor

4.1.2.4 Kurangnya menjaga kebersihan rumah

4.1.3 Faktor pelayanan kesehatan


PELAYANAN GENETIKA/
Derajat/Status
4.1.3.1 Tidak ditemukan masalah
KESEHATAN Kesehatan KEPENDUDUKAN
- individu -
4.1.4 Faktor genetik

4.1.4.1 Tidak ditemukan masalah

PERILAKU
Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor
4.2. Diagram HL. Blum
dalam jumlah yang banyak dan intensitas lama.
Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk
(kelambu,lotion anti nyamuk,obat nyamuk).
Tidak mengubur barang bekas
21
Kurangnya menjaga kebersihan rumah
4.3 Prioritas masalah

22
Permasalahan yang teridentifikasi tersebut kemudian ditentukan

prioritas masalahnya dengan menggunakan metode Hanlon kualitatif dengan

3 Kelompok kriteria :

1. Kelompok kriteria U : Mendesak (Urgency)

Pertimbangan ini dari aspek waktu, masih dapat ditunda atau harus

segera ditanggulangi. Semakin pendek tenggang waktunya, semakin

mendesak untuk ditanggulangi.

2. Kelompok Kriteria S : Kegawatan (Seriousness)

Besarnya akibat atau kerugian yang dinyatakan dalam besaran

kuantitatif berapa rupiah, orang dll.

3. Kelompok Kriteria G : Perkembangan (Growth)

Kecenderungan atau perkembangan akibat dari permasalahan.

Semakin berkembang masalah, semakin diprioritaskan.

Metode Hanlon Kualitatif

23
Tabel 4.1 Kriteria Urgency

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 TH
1 - + - + + - - 2
2 + - - + - - 2
3 + + + + + 5
4 + + - - 2
5 + + + 3
6 + + 2
7 - 0
8 0
TH 3 2 5 2 3 2 0 0
TV 0 0 2 1 3 5 3 3
Total 3 2 7 3 6 7 3 3

Keterangan:

1. Tidak ada kasa ventilasi


2. Lantai terbuat dari tanah
3. Banyak barang bekas yang tidak terpakai didalam rumah
4. Lingkungan rumah yang kotor
5. Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor dalam jumlah yang banyak dan

intensitas lama.
6. Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu, lotion anti nyamuk, dan obat

nyamuk).
7. Tidak mengubur barang bekas.
8. Kurangnya menjaga kebersihan rumah

Tabel 4.2 Kriteria Seriousnes

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 TH
1 - + + - + - - 3
2 + - + + - - 3
3 - + + + + 4
4 - + - - 1
5 + - + 2
6 + + 2
24
7 - 0
8 0
TH 3 3 4 1 2 2 0 0
TV 0 0 2 1 2 5 2 3
Total 3 2 5 2 4 7 2 3

Keterangan:

1. Tidak ada kasa ventilasi


2. Lantai terbuat dari tanah
3. Banyak barang bekas yang tidak terpakai didalam rumah
4. Lingkungan rumah yang kotor
5. Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor dalam jumlah yang banyak dan

intensitas lama.
6. Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu, lotion anti nyamuk, dan obat

nyamuk).
7. Tidak mengubur barang bekas.
8. Kurangnya menjaga kebersihan rumah

Tabel 4.3. Kriteria Growth

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 TH
1 - + - + + - - 3
2 + - - + - - 2
3 + + - + + 4
4 - + - - 1
5 + - - 1
6 + + 2
7 - 0
8 0
TH 3 2 4 1 1 2 0 0
TV 0 0 2 1 2 4 2 1
Total 3 2 6 2 3 6 0 1

Keterangan:

25
1. Tidak ada kasa ventilasi
2. Lantai terbuat dari tanah
3. Banyak barang bekas yang tidak terpakai didalam rumah
4. Lingkungan rumah yang kotor
5. Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor dalam jumlah yang banyak dan

intensitas lama.
6. Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu, lotion anti nyamuk, dan obat

nyamuk).
7. Tidak mengubur barang bekas.
8. Kurangnya menjaga kebersihan rumah

Tabel 4.4 Urutan Prioritas Masalah

1 2 3 4 5 6 7 8
U 3 2 7 3 6 7 3 3
S 3 2 5 2 4 7 2 3
G 3 2 6 2 3 6 0 1
Total 9 6 18 7 13 20 5 7
Prioitas IV VII II V III I VIII VI

Daftar Prioritas

1. Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu, lotion anti nyamuk, dan obat

nyamuk).
2. Banyak barang bekas yang tidak terpakai didalam rumah
3. Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor dalam jumlah yang banyak dan

intensitas lama.

4. Tidak ada kasa ventilasi.

5. Lingkungan rumah yang kotor


6. Kurangnya menjaga kebersihan rumah
7. Tidak mengubur barang bekas.

8. Lantai terbuat dari tanah.

26
Dari hasil pemilihan permasalahan tersebut, maka kelompok kami

melanjutkan untuk menganalisis penyebab masalah dan menetukan kegiatan sebagai

solusi terhadap DBD di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu :


1. Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu, lotion anti nyamuk, dan

obat nyamuk). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut :


a. Kurangnya Pengetahuan tentang penularan penyakit DBD
b. Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya menggunakan alat pelindung

nyamuk
c. Tidak tersedianya alat pelindung nyamuk karena alasan ekonomi.

4.4 Plan of Action (POA)

Kegiatan Tujuan Sasaran Metode Tempat Waktu Indikator


Penyuluhan Meningkatkan Seluruh Diskusi Rumah Jumat, Anggota

mengenai pengetahuan keluarga anggota penderita 13-09- keluarga

penyakit DBD penderita mengenai keluarga 2013 mengetahui

terutama penyakit DBD pasien dengan jelas

Penularan penularannya dan mengenai


tentang tempat hidup
penyakit penularan
dan aktivitas nyamuk
DBD
yang dapat

menularkan penyakit
Penyuluhan Meningkatkan Seluruh Diskusi Rumah Jumat, Anggota

mengenai pengetahuan keluarga anggota penderita 13-09- keluarga

Pentingnya penderita akan keluarga 2013 mengetahui

menggunakan pentingnya pasien pentingnya

alat pelindung menggunakan alat memakai

alat
27
nyamuk pelindung nyamuk pelindung

nyamuk
Pemberian alat Memberikan alat Seluruh Diskusi Rumah Jumat, Anggota

pelindung pelindung nyamuk anggota penderita 13-09- keluarga

nyamuk dalam agar keluarga keluarga 2013 menggunak

bentuk kelambu terhindar dari gigitan pasien an alat

dan lotion anti nyamuk pelindung

nyamuk nyamuk

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Faktor Lingkungan

5.1.1.1 Tidak ada kasa ventilasi

5.1.1.2 Lantai terbuat dari tanah

5.1.1.3 Banyak barang bekas yang tidak terpakai didalam rumah

5.1.2 Faktor perilaku

5.1.2.1 Kebiasaan anggota keluarga menumpuk pakaian kotor dalam jumlah

banyak dan intensitas lama.

5.1.2.2 Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu,lotion anti

nyamuk,obat nyamuk).

5.1.2.3 Tidak mengubur barang bekas

28
5.1.2.4 Kurangnya menjaga kebersihan rumah

5.1.3 Prioritas Masalah


5.1.3.1 Tidak menggunakan alat pelindung nyamuk (kelambu, lotion anti

nyamuk, dan obat nyamuk)


d. Kurangnya Pengetahuan tentang penularan penyakit DBD
e. Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya menggunakan alat pelindung

nyamuk
f. Tidak tersedianya alat pelindung nyamuk karena alasan ekonomi.
5.1.4 Solusi terhadap faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit DBD
1. Penyuluhan mengenai penyakit DBD terutama Penularan penyakitnya
2. Penyuluhan mengenai Pentingnya menggunakan alat pelindung nyamuk
3. Pemberian alat pelindung nyamuk dalam bentuk kelambu dan lotion anti

nyamuk
5.2 Saran

5.2.1 Saran Kepada Keluarga

Alternatif pemecahan masalah

1. Memberikan edukasi tentang alat perlindungan terhadap nyamuk DBD seperti

kasa ventilasi, kelambu saat tidur, lotion anti nyamuk dan obat nyamuk.
2. Memberikan edukasi tentang pentingnya mengubur barang bekas, rongsok di

sekitar rumah sebagai tempat berkembangbiak nyamuk DBD.


3. Memberikan edukasi kepada keluarga untuk tidak menumpuk pakaian kotor

dan menyimpannya di lemari agar tidak menjadi sarang nyamuk.


4. Memotivasi kepada keluarga untuk menerapkan PHBS

5.4.2 Saran Kepada Puskesmas


1. Dilakukan peningkatan kerjasama lintas sektoral dengan kelurahan guna

menanggulangi angka kejadian DBD.


2. Dilakukan peningkatan frekuensi penyuluhan mengenai DBD kepada keluarga

pasien dan masyarakat sekitar sehingga masyarakat dapat mengetahui tentang

DBD mulai dari gejala gejala penyakit DBD, cara penularan, pertolongan

pertama dan pencegahan.


3. Dilakukaan pengamatan epidemiologi kejadian DBD secara berkala.

29
BAB VI

PENUTUP

Demikianlah laporan dan pembahan mengenai hasil peninjauan DBD pada pasien di

Puskesmas Bangetayu. Kami menyadari bahwa kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat

bagi para calon dokter, khususnya yang kelak akan terjun di masyarakat sebagai Health

Provider, Decision Maker, dan Communicator sebagai wujud peran serta dalam

pembangunan kesehatan.

Akhir kata kami berharap laporan ini bermanfaat sebagai bahan masukan dalam usaha

peningkatan derajat kesehatann masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI, 2005, Pedoman tatalaksana klinis infeksi dengue di sarana

pelayanan kesehatan p.19-34, Dikutip tanggal 5 september 2013

2. Departemen Kesehatan RI, 2010, Profil kesehatan Indonesia tahun 2010, Dikutip

tanggal 5 september 2013

3. Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2012, Profil kesehatan Kota Semarang tahun 2012.

p.34-37, Dikutip tanggal 5 september 2013

4. Dinas Kesehatan Kota Semarang, Bank data 2013. http//:dinkes-kotasemarang.go.id/?

p=bank_data. Dikutip tanggal 5 september 2013

5. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012, Profil kesehatan provinsi jawa tengah

tahun 2012. p.29-32, Dikutip tanggal 5 september 2013

6. Gibbons RV, Vaughan DW, 2002, Dengue an escalating problem, BMJ 324:1563-6,

Dikutip tanggal 5 september 2013

7. Hadinegoro SRH, dkk., 2006, Tatalaksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia,

Jakarta, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

8. Sari, Cut,I,N,. 2005, Pengaruh LingkunganTerhadap Perkembangan Penyakit Malaria

dan Demam Berdarah Dengue. http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/cut_

irsanya_ ns.pdf, Dikutip tanggal 5 september 2013

9. Siregar, A. 2004, Epidemiologi dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dikutip

tanggal 5 september 2013

10. Suhendro, dkk., 2006, Demam berdarah dengue dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit

Dalam Jilid 4. Edisi 4, Jakarta Pusat, Penerbit : IPD FKUI

31
11. Wolrd Health Organization Dengue, 2010, dengue haemorrhagic fever and dengue

shock syndrome inthe context of the integrated management of chilhood illness,

Genewa

12. World health organization, 2001, Prevention and control of dengue and dengue

haemorrhagic fever:comprihensive guidelines p.5-17, New Delhi

Lampiran 1. Foto tempat tidur

32
Lampiran 2. Foto Tumpukan Pakaian Penderita

33
Lampiran 3. Foto Barang Bekas di dalam Rumah Penderita

34