Anda di halaman 1dari 23

PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM MASA KERAJAAN SAFAWI PERSIA

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“SEJARAH PERADABAN ISLAM”

Dosen pengampu :

Hj. St. Noer Farida Laila, M.A.

Disusun oleh

1. Dewi Zulaikho (12212183013)


2. Alfina Azza Azkiya (12212183018)
3. Intan Desti Prisilla (12212183019)
4. Miftakhul Jannah (12212183029)

JURUSAN TADRIS KIMIA


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2018
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya,
sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM MASA KERAJAAN SAFAWI PERSIA”
Sehingga dengan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan kita semua mengenai mata
kuliah Sejarah Peradaban Islam.

Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman terang benderang yakni agama
islam. Sehubungan dengan terselesaikannya makalah ini, penulis mengucapkan terimakasih
kepada:

1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag. sebagai rektor IAIN Tulungagung.


2. Ibu Dr. Hj. Binti Maunah sebagai dekan FTIK IAIN Tulungagung.
3. Ibu Hj. St. Noer Farida Laila, M.A. sebagai dosen pengampu Sejarah Peradaban Islam.
4. Semua citvitas akademik dan teman-teman yang telah mambantu dalam penulisan
makalah ini.

Selain itu penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan, serta tidak terlepas dari berbagai macam kendala, keterbatasan ilmu, dan
referensi. Oleh karena itu, penulis masih mengharapkan bimbingan dan saran dari berbagai
pihak sehingga makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya danbagi para pembaca pada umumnya

Tulungagung, 03 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................. i

DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

A. Latar Belakang................................................................................................................. 1

B. Rumusan masalah ............................................................................................................ 1

C. Tujuan .............................................................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................ 2

A. Sejarah berdirinya Kerajaan Safawi di Persia. ................................................................ 2

B. Kemajuan pada masa Kerajaan Safawi di Persia............................................................. 7

a. Sultan Ismail I (1501-1524 M) .................................................................................... 7

b. Sultan Syah Abbas I (1558-1622M) .......................................................................... 10

C. Kemunduran Kerajaan Safawi. ...................................................................................... 16

BAB III PENUTUP .................................................................................................................. 19

A. Kesimpulan .................................................................................................................... 19

B. Saran .............................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam setiap fase kehidupan akan terus terjadi pergantian dari masa ke masa, terkadang
berada di masa kejayaan namun bisa juga sebaliknya, seperti halnya sejarah peradaban islam,
yang terus terjadi perubahan dari masa ke masanya. Sepeninggal Rasulullah islam sudah
tersebar di seantero jairah Arab, islam terus melakukan expansi di bawah kendali khalifah
Ar-Rasyidin dan selanjutnya dilanjutkan oleh Dinasti umayyah kemudian dinasti Abbasiyah,
di akhir pemerintahan Abbasiyah islam semakin merosot selama beberapa abad.

Ditengah-tengah keterpurukan islam, muncul tiga kerajaan besar yaitu Kerajaan Turki
Usmani (Ottoman) di Turki, Kerajaan Safawiyah di persia dan Mughal di India. Sebagai
umat islam, kita diharapkan bisa mengetahui bagaimana sejarah peradaban islam di
masalalu, oleh sebab itu makalah ini disusun untuk meningkatkan pengetahuan pembaca
mengenai sejarah peradaban islam khususnya mengenai Kerajaan Safawiyah di persia. Dan
juga, makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah peradaban islam pada
perkuliahan semester satu.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana sejarah awal munculnya Kerajaan Safawi di persia?
2. Bagiamana kemajuan yang terjadi pada masa Kerajaan Safawi di persia ?
3. Bagaimana kemunduran kerajaan safawi persia ?

C. Tujuan
1. Untuk memahami sejarah awal berdirinya Kerajaan Safawi Persia.
2. Untuk mengetahui kemajuan yang terjadi di masa Kerajaan Safawi Persia.
3. Untuk memahami kemunduran Kerajaan Safawi persia.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah berdirinya Kerajaan Safawi di Persia.
Kerajaan Safawi di Persia dapat melanggengkan kekuasaan politiknya kurang lebih
235 tahun yaitu mulai tahun 1501-1736 M1. Dinasti Safawi merupakan Kerajaan Islam di
Persia yang cukup besar. Disebelah barat kerajaan Safawi berbatasan dengan kerajaan
Usmani dan di sebelah Timur dengan India yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan
kerajaan Mungal2. Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaanya,
kerajaan Safawi di Persia masih baru berdiri. Namun kenyataanya, kerajaan ini berkembang
dengan cepat. Dalam perkembanganya, Kerajaan Safawi sering berselisih dengan Kerajaan
Turki Usmani3.Awalnya kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berada di
Ardabil, yang merupakan sebuah kota di Azerbaijan, tarekat ini dikenal dengan sebutan
tarekat Safawi yang diambil dari nama pendirinya yaitu Shafi Ad- Din (1252 – 1334).

Ada dua pendapat yang berbeda tentang asal-usul dari nama Safawi, Amir Ali
berpendapat bahwa Safawi berasal dari kata Shafi yaitu gelar yang diberikan kepada nenek
moyang raja-raja Safawih, yaitu Shafi Ad Din Ishak Al Ardabily (1225 – 1334), seorang
pendiri dan pemimpin tarekat Safawiyah. Ia menyatakan bahwa para musafir, pedagang, dan
penulis Eropa selalu menyebut raja-raja Safawiyah dengan gelar Shafi Agung.

Adapun P.M. Holt berpendapat bahwa Safawiyah berasal dari kata Safi yaitu bagian
dari nama Safi Ad Din Al Ardabily. Meskipun ia tidak mengemukakan alasan, secara
Gramatika Bahasa Arab, pendapat inilah4 yang dipandang lebih tepat.

Sebelum menjadi kerajaan, Safawi mengalami dua fase pertumbuhan, fase pertama,
di mana Safawi bergerak di bidang keagamaan dan fase kedua bergerak di bidang politik.
Pada tahun 1301 – 1447 M. Gerakan Safawi masih murni gerakan keagamaan dengan tarekat

1
Abd Rahim Yunus dan Abu Hanif, Sejarah Islam Pertengahan, (Yogyakarta:Ombak,) 2016, hlm 202

2
Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, (Jakarta:Kencana Prenada Media Gorup,) 2011, hlm 353
3
Siti zubaidah, Sejarah Peradaban islam, (Medan:Perdana Mulya Sarana,) 2016.Hlm.188.

4
Sri Mulyani, Sejarah dan Peradaban Islam Dinasti Safawi Di Persia, Jurnal STAI Al-Ma’arif Buntok, Vol.VII-No.
13, 2018, hlm 92

2
Safawiyah. Sebagai sarana, tarekat ini mempunyai pengikut yang sangat besar hal ini terjadi
karena pada saat itu umat umumnya hidup dalam suasana apatis dan pasrah melihat anarki
politik yang berkecamuk. Hanya dengan kehidupan keagamaan lewat sufisme, mereka
mendapat persaudaraan tarekat dan mereka merasa aman dalam menjalin persaudaraan antar
muslim.

Pada fase pertama ini gerakan tarekat Safawi tidak mencampuri masalah politik
sehingga dia berjalan dengan aman dan lancar baik pada masa Ilkhan maupun pada masa
penjarahan Timur Lenk. Dan dalam fase ini gerakan Safawi mempunyai dua corak, pertama
bernuansa Sunni yaitu pada masa pimpinan Safiuddin Ishaq (1301– 1344) dan anaknya
Sadruddin Musa (1344 – 1399), kedua berubah menjadi Syiah pada masa Khawaja Ali (1399
- 1427). Perubahan ini terjadi karena ada kemungkinan bertambahnya pengikut Safawi di
kalangan Syiah sehingga kepemimpinannya berusaha menyesuaikan diri dengan aliran
mayoritas pendukungnya.

Nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik.
Bahkan nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan, yakni
kerajaan Safawi. Shafi Ad-Din berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi
sebagai jalan hidupnya. Shafi Ad-Din merupakan keturunan dari Imam Syiah yang keenam,
Musa Al-Kazihim. Oleh karena itu dia masih keturunan Rasulullah dari garis puterinya Siti
Fatimah.

Ia memiliki murid yang sangat kuat berpegang pada ajaran agama. Gurunya bernama
Syaikh Tajuddin Ibrahim Zahidin (1216 – 1301 M.) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-
Gilani. Dikarenakan prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Safi Ad-Din
diambil menantu oleh gurunya tersebut. Shafi Ad-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah
ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat pada tahun 1301 M. Pengikut
tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah
bertujuan memerangi orang-orang ingkar, kemudian memerangi golongan yang mereka
sebut “Ahli-ahli bid’ah” 5.

5
Mulyani, Sejarah dan Peradaban Islam, hlm 93

3
Tarekat ini berkembang di daerah-daerah di mana banyak terdapat heterodoksi,
khususnya Syi’ah. Oleh karena itu, di sepanjang abad ke-15 tarekat ini terang-terangan
menunjukkan kesyi’ahanya. Tarekat yang dipimpin Shafi Ad-Din ini semakin penting
terutama setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat
lokal menjadi gerakan kenamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria, dan Anatolia. Di
negeri-negeri di luar Ardabil, Shafi Ad-Din menempatkan seorang wakil untuk memimpin
murid- muridnya. Wakil tersebut diberi gelar Khalifah.

Pada perkembangan selanjutnya, murid-murid tarekat tersebut berubah menjadi


tentara yang teratur, fanatic terhadap kepercayaanya, dan menentang setiap orang yang tidak
sepaham dengan mereka. Suatu konsekuensi logis yang sulit dihindari bahwa suatu faham
yang dipegangi secara fanatic, melahirkan sikap intoleran terhadap pihak lain yang berbeda
paham, bahkan selanjutnya mereka memiliki ambisi untuk menguasai pihak lain tersebut.
Untuk merealisasikan ambisi itu mereka membutuhkan kekuasaan6. Kerajaan ini
mengatakan Syi’ah sebagai mazhab Negara. Demikian halnya dengan gerakan Tarekat
Safawiyah. Setelah berhasil menyebarkan pengaruhnya diberbagai wilayah, mereka mulai
mengatur kekuasaan.

Kecenderungan memasuki dunia politik secara kongkrit tampak pada masa


kepemimpinan Junaidi (1447 – 1460 M.). dinasti Safawi memperluas gerakannya dengan
menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasaan kegiatan ini
menimbulkan konflik antara Junaidi dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah
satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut Junaidi kalah
dan diasingkan ke suatu tempat.

Di tempat baru ini ia mendapatkan perlindungan dari penguasa Diar Bakr, Ak.
Koyunlu (domba putih), juga suatu suku bangsa Turki. Selama dalam pengasingannya,
Junaidi tidak tinggal diam, ia justru dapat7 menghimpun kegiatan untuk kemudian beraliansi
secara politik dengan Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara
perempuan Uzun Hasan. Tapi usaha Junaidi masih mengalami kegagalan dalam meraih

6
Siti Maryan, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta:LESFI, 2004, hlm 284.

7
Mulyani, Op.cit.., hlm 93

4
ambisinya karena selalu gagal dalam menaklukkan beberapa daerah seperti Ardabil dan
Chircasia, bahkan dalam tahun 1460 M mati terbunuh. Kemudian digantikan anaknya yang
bernama Haidar, tapi belum berhasil juga. Sebelum meninggal, Haidar menunjuk adiknya
yang paling kecil bernama Ismail.

Ismail yang masih remaja itu berusaha memanfaatkan kedudukannya sebagai


mursyid Safawiyah dan pemimpin gerakan Safawiyah untuk mengonsulidasikan kekuatan
politiknya. Secara sembunyi-sembunyi, ia menjalin hubungan erat dengan para pengikutnya
yang tersebar luas di mana-mana. Hanya dalam waktu kurang lebih lima tahun, ia berhasil
menyatukan berbagai elemen kekuatan politik yang cukup besar, sehingga ia mulai
mengadakan perhitungan dengan musuh- musuh Safawiyah selama ini, seperti penguasa
Syirwan dan Ak. Kayunlu yang telah membunuh beberapa orang pemimpin Safawi
sebelumnya.

Kerajaan Safawi secara resmi berdiri di Persia pada 1501 M/907, tatkala Syah Ismail
memproklamasikan dirinya sebagai raja atau syah di Tabriz, dan menjadikan Syiah Itsna
Asyariah sebagai ideologi negara. Namun event sejarah yang penting ini tidaklah berdiri
sendiri. Peristiwa itu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dalam rentang waktu
yang cukup panjang yakni kurang lebih dua abad. Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbasy
dibawah pimpinan Ismail menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu (domba putih) di sharur
dekat Nakh Chivan. Qizilbasy terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, yakni ibu
kota AK Koyunlu dan akhirnya berhasil dan mendudukinya.

Di kota Tabriz Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama Dinasti


Safawi. Ia disebut juga Ismail I. Ismail I berkuasa kurang lebih 23 tahun antara 1501 – 1524
M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, Buktinya ia
dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1503 M.), menguasai
propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M)
Baghdad dan daerah Barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan. Hanya
dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan
bagian timur Bulan Sabit Subur8.

8
Ibid.., hlm 94

5
Bahkan tidak sampai di situ saja, ambisi politik mendorongnya untuk terus
mengembangkan wilayah kekuasaan ke daerah-daerah lainnya seperti Turki Usmani. Ismail
berusaha merebut dan mengadakan ekspansi ke wilayah kerajaan Usmani (1514 M.), tetapi
dalam peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan malah Turki Usmani yang di pimpin
oleh sultan Salim dapat menduduki Tabriz.

Kerajaan Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena


terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya. Kekalahan tersebut meruntuhkan
kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya dia berubah, dia lebih senang
menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu. Keadaan itu berdampak negatif
bagi kerajaan Safawi dan pada akhirnya terjadi persaingan dalam merebut pengaruh untuk
dapat memimpin kerajaan Safawi antara pimpinan suku-suku Turki, pejabat keturunan
Persia dan Qizibash.
Keadaan ini baru dapat diatasi pada masa pemerintahan raja Abbas I. Langkah-
langkah yang ditempuh oleh Abbas I untuk memperbaiki situasi adalah :
1. Menghilang dominasi pasukan Qizilbasy atas kerajaan Safawi dengan membentuk
pasukan baru yang beranggotakan budak- budak yang berasal dari tawanan perang
bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia.
2. Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji
tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Unar, Usman)
dalam khutbah Jumatnya.

Usaha-usaha tersebut terbukti membawa hasil yang baik dan membuat kerajaan
Safawi kembali kuat. Kemudian Abbas I meluaskan wilayahnya dengan merebut kembali
daerah yang telah lepas dari Safawi maupun mencari daerah baru. Abbas I berhasil
menguasai Herat (1598 M.), Marw dan Balkh. Kemudian Abbas I mulai menyerang kerajaan
Turki Usmani dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwani, Ganja, Baghdad, Nakhchivan, Erivan
dan Tiflis. Kemudian pada 1622 M Abbas I berhasil menguasai kepulauan Hurmuz dan
mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas9.

Berikut urutan penguasa kerajaan Safawi;

9
Ibid.., hlm 95

6
1. Isma'il I (1501 – 1524 M)
2. Tahmasp I (1524 – 1576 M)
3. Isma'il II (1576 – 1577 M)
4. Muhammad Khudabanda (1577 – 1587 M)
5. Abbas I (1587 – 1628 M.)
6. Safi Mirza (1628 – 1642 M)
7. Abbas II (1642 – 1667 M)
8. Sulaiman (1667-1694 M)
9. Husein I (1694 – 1722 M.)
10. Tahmasp II (1722 - 1732 M)
11. Abbas III (1732 – 1736 M)10.

B. Kemajuan pada masa Kerajaan Safawi di Persia.


Selama Daulah Safawiyah berkuasa di Persia (Iran) di sekitar abad ke-16 dan ke-
17M, masa kemajuannya hanya ada di tangan dua Sultan, yaitu: Ismail I (1501-1524 M),
dengan11 puncak kejayaan pada masa Sultan Syah Abbas I (1558-1622 M).

a. Sultan Ismail I (1501-1524 M)

Sultan Ismail berkuasa Kurang lebih selama 23 tahun (1501-1524), pada sepuluh tahun
pertama kekuasaanya, ia berhasil melakukan ekpansi untuk memperluas kekuasaannya
tersebut. Ia dapat membersihkan sisa-sisa kekuatan dari pasukan AK. Kuyunlu di Hamadan
(1503 M), menguasai propinsi kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1504 M), Diyar
Bakr (1505-1507 M), Baghdad dan daerah barat daya persia (1508 M), Sirwan (1509 M),
dan Kurasan (1510 M). Dengan demikian hanya dalam waktu sepuluh tahun dia telah dapat
menguasai seluruh wilayah di Persia.

Sultan Ismail sangat berambisi untuk mengembangkan sayap dalam menguasai daerah-
daerah lainnya, seperti Turki Usmani, walaupun dia sadar bahwa Turki Usmani tersebut
adalah musuh yang sangat kuat dan berat. Pada tahun 1514M terjadi peperangan dengan
Turki Usmani di Chaldiran dekat Tabriz. Kerana keunggulan tentara dan organisasi militer

10
Zubaidah, Sejarah Peradaban islam, hlm.191.

11
Syamruddin Nasution, Sejarah peradaban islam, Pekan baru:Yayasan pusaka Riau, 2013, hlm 301.

7
Turki Usmani dalam peperangan ini sehingga Ismail mengalami kekalahan. Turki Usmani
dibawah pimpinan Sultan Salim I berhasil merebut Tabriz. Sultan Salim I pulang setelah
dapat menguasai Tabzir, Sehingga Daulah Safawiyah terselamatkan.

Akibat kekalahan tersebut membuat Sultan Ismail patah, Ia lebih memilih hidup12
menyendiri, berhura-hura, dan berburu. keadaan ini berdampak negatif bagi kelangsungan
Daulah Safawiyah. Dalam keadaan genting ini terjadi persaingan segi tiga antara pemimpin
suku-suku Turki, pejabat-pejabat persia dan tentara Qishilbash dalam perebutan pengaruh
dan kekuasaan untuk memimpin Daulah Safawiyah.

Sultan Tahmash I (1524-1576M) pengganti Sultan Ismail terus melanjutkan rasa


permusuhan dengan Daulah Turki Usmani, peperangan masih terjadi beberapa kali,
sementara Tahmash I bertahan dengan hanya 7.000 tentaranya. Penyerbuan-penyerbuan
Usmaniyah selanjutnya pada tahun 941 H/1534-1535M, 955 H/ 1548 M, dan 961 H/ 1553
M. Bagdad ditaklukan Turki Usmani pada tahun 941 H/ 1534 M. Tabriz, Ibu kota negara
terancam dalam beberapa penyerbuan dan Tahmash terpaksa memindahkan Ibu kotanya ke
Qazvin13.

Setelah Tahmash I, kerajaan Safawi dipimpin oleh Sultan ketiga Ismail II (1576-
1577M). Yang semestinya menggantikan Tahmash I ialah putranya yang tertua, Muhammad
Khudabanda yang sejak tahun 1536 M – 1556 M menjadi kepala pemerintah di Hurat. Tetapi
karena perselisihannya dengan pegawai-pegawainya yang tertinggi dia mengundurkan diri
dari jabatannya itu. Pada tahun 1556 M Syah Ismail II diangkat menjadi kepala pemerintahan
di Khurasan. Tetapi kian lama kian teguh kedudukannya di sana dan sudah menyerupai
kehendak sendiri, sehingga ayahnya almarhum Tahmash I cemas akan perkembangan
anaknya. Lantaran itu maka pada tahun 1557 M ayahnya menyuruh menangkapnya dan
dimasukkan ke dalam penjara pada sebuah benteng bukit Saulan diantara Ardabil dengan
Tibriz14. Pada 23 Mei 1576 M, sembilan hari setelah ayahnya wafat, masuklah Ismail ke Ibu
kota dan pada 13 Juni selamatlah dia samapai istana, dan pada 22 Agustus Ismail II
diresmikanlah sebagai Syah negeri Iran menggantikan ayahnya. Tetapi Syah yang baru ini
sudah ditimpa sakit jiwa karena terlalu lama dalam penjara, 19 tahun sehingga baru

12
Nasution, Sejarah peradaban islam, hlm 302

13
Abd Rahim Yunus dan Abu Haif, Sejarah Islam Pertengahan, Yogyakarta: Ombak, 2016, hlm. 207

14
Ibid.., hlm 208

8
dirasanya kokoh kedudukannya yang terlebih dahulu dilaksanakannya adalah membunuh
semua saudaranya, kecuali Muhammad Khudabanda karena dapat dilarikan orang. setelah
itu diperintahkannya pula membunuh anaknya. Yang terlepas hanyalah putra Muhammad
yang bernama Abbas. Perbuatan kejam yang dilakukan Ismail II adalah sebagai letusan dari
dendam yang sangat mendalam kepada almarhum ayahnya yang sudah memasukakn ia
kedalam penjara, sehingga sebagian besar usianya habis dalam penjara belaka (19 tahun)15.

Syah yang kejam itu tidaklah lama memerintah, ia hanya memerintah selama setahun.
Maka pada 24 November 1577 M Syah Ismail II meninggal secara tiba-tiba karena diracuni.
Sepeninggalan Syah Ismail II para ulama menaikkan saudara tertua dari Ismail yang berhasil
bersembunyi ketika ismail II melakukan permbersihan, yaitu Sultan keempat Muhammad
Khudabanda (1577-1587M). Setelah ia memerintah yang mula-mula dikerjakannya aialah
menangkap Ratu Peri Khan Hanim, ynag dipandang sebagai musuh terbesarnya dan
menghalang-halangi kenaikannya ke atas tahkta. Kemudian dibunuh pula putra Ismail yang
masih kecil itu, Husain. Karena Syah Khudabanda kurang dapat melihat, maka sebenarnya
yang memerintah adalah istrinya, putri dari syah Marasyidin di Mazindaran. Dendam wanita
inilah yang terlalu berlaku dalam kerajaan sehingga kerajaan bertambah lemah. Sampai
akhirnya wanita itu mati terbunuh oleh pimpinan-pimpinan tentara “serban merah jambul
12”. Setelah itu kerajaan Safawiyah dipimpin oleh Syah Abbas I16. Ditangan tiga Sultan itu
Syah Tahmash, Syah ismail II, dan Syah Khudabanda keadaan Daulah safawiyah menjadi
lemah, akibat terkurasnya tenaga untuk menghadapi Turki Usmani yang lebih kuat.

Faktor yang membuat tiga Sultan tersebut tidak berhasil memperoleh kemenangan
dalam ekspansi-ekspansi mereka karena keadaan dalam negeri mereka masih belum setabil.
Diinternal pemerintahan masih terjadi konflik-konflik maka mustahil mereka memperoleh
kemenangan. Kondisi yang memperihatinkan tersebut baru dapat diatasi setelah Sultan
kelima Daulah Safawiyah Abbas I, naik tahta17.

15
Ibid.., hlm 209

16
Ibid.., hlm 210

17
Nasution, Sejarah peradaban islam, hlm 303

9
b. Sultan Syah Abbas I (1558-1622M)

Sultan Abbas I memerintah Daulah Safawiyah selamat empat puluh tahun. Setelah
Sultan Syah Abbas I diangkat menjadi Sultan, ia mengambil langkah-langkah pemulihan
kekuasaan Daulah Safawiyah yang sudah memperihatinkan itu 18. pertama, ia berusaha
menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan baru yang
berasal dari budak-budak dan tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang
telah ada semenjak Sultan Tahmasp I yang kemudian disebut dengan pasukan “Ghullam”.
Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan jalan menyerahkan
wilayah Azerbaijan, georgia, dan disampin itu Abbas berjanji tidak akan menghina tiga
Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar, dan Usman) dalam khutbah jum’at.
Sebagai19 jaminan atas syarat itu Abbas menyerahkan saudara sepupunya haidar Mirzan
sebagai sandera di Istanbul20.

Dua langkah yang dilakukan Abbas I tersebut dapat memulihkan keamanan Daulah
Safawiyah pada dua aspek yaitu aspek secara internal ia berhasil menghilangkan dominasi
pasukan Qilsilbash terhadap Daulah Safawiyah, secara ekternal ia berhasil meredam konflik
dengan Turki Usmani sehingga stabilitas keamanan juga tercipta dalam pemerintahan 21.
Setelah kondisi pemerintahan stabil, Sultan Abbas I mulai memusatkan perhatian ke luar
berusaha mengambil kembali wilayah-wilayah kekuasaan safawiyah yang sudah hilang.

Pada tahun 1598M Abbas I memindah ibu kota Daulah Safawiyah ke Isfahan, sebagai
persiapan untuk perluasan wilayah bagian timur. Setelah memperoleh kemenangan barulah
Abbas I mengalihkan serangan ke wilayah barat berhadapan dengan Turki Usmani. Pada
tahun 1598M ia menyerang dan menaklukan Herat, kemudian serangan dilanjutkan dengan
merebut Marw dan Balkh. Pada tahun 1602M di saat Turki Usmani berada dibawah
pimpinan Sultan yang lemah, Sultan Muhammad III pasukan Abbas mengarahkan serangan
ke wilayah-wilayah yang dikuasai dulu oleh Turki Usmani, kemudian mereka menyerang

18
Ibid.., hlm 304

19
Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam, hlm 191

20
Ibid.., hlm 192

21
Nasution, Sejarah peradaban islam, hlm 304.

10
dan berhasil menguasai daerah Tabriz, Sirwan, dan Baghdad22. Pada tahun 1605-1606M ia
kembali melakukan serangan ke wilayah kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis,
daerah-daerah tersebut berhasil dikuasainya. Tahun 1622 pasukan Abbas I berhasil merebut
kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.

Faktor-faktor keberhasilan Abbas I dalam Ekspansi wilayah antara lain,

1. Kuatnya dukungan militer dari dua kelompok militer yaitu pasukan militer Qisilbash
dan pasukan militer Ghullam yang dibentuknya sendiri.
2. Ambisi Sultan yang sangat besar untuk memperluas wilayah Daulah Safawiyah
sehingga ia rela melakukan perjanjian damai dengan Turki Usmani.
3. Kecakapan diri Sultan yang berbakat dan profesional dalam merancang strategi
politik.

Kekuasaan Abbas I adalah masa puncak dari kejayaan Daulah Safawiyah. Secara
politik ia dapat mengatasi berbagai pergolakan yang terjadi di dalam negerinya, meredam
konflik-konflik sehingga tercipta stabilitas keamanan, melalui dua hal tersebut ia pun
berhasil kembali mengambil wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain,
terutama kerajaan turki usmani sebelum kekuasannya23.

Kemajuan yang dicapai oleh Sultan Abbas I tersebut tidak hanya di bidang ekspansi
wilayah dalam bidang pemerintahan saja tetapi juga bidang lain pula, Daulah ini banyak
mengalami kemajuan. Di antara kemajuan-kemajuan itu sebagai berikut24.

a. Bidang Politik dan Pemerintahan


Pengertian kemajuan di bidang politik disini adalah terwujudnya integritas
wilayah negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang
tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan
peranan dalam percaturan politik internasional.
Unsur yang menjadikan kuatnya politik Safawi adalah kuatnya pribadi
penguasa Safawi, terutama Syah Abbas I yang digambarkan berpandangan tajam,
bekal kuat, berkemauan besar, berani dan mempunyai semangat yang tinggi serta

22
Ibid.., hlm 305

23
Ibid.., hlm 306

24
Ibid.., hlm 307

11
tak kenal lelah. Selain itu, unsur yang juga mempunyai pengaruh besar dalam
kekuatan politik Safawi adalah kesetiaan pasukan Qizilbasy kepada raja Safawi.
Kemampuan Syah (raja) dalam mengatur administrasi negara juga
merupakan unsur kemajuan politik kerajaan Safawi yang tidak bisa diremehkan.
Bentuk administrasi yang dijalankan dalam kerajaan Safawi adalah, Jenjang
tertinggi setelah Syah adalah Azamat al-Daulah yang fungsinya seperti Perdana
Menteri, jenjang di bawahnya adalah al- Sadr yang fungsinya seperti menteri
Agama, tugasnya antara lain mengurusi masalah peradilan, tempat-tempat ibadah
dan kegiatan ulama serta pelajar. Jabatan berikutnya adalah al-Nazir yang mirip
dengan menteri Bulog. Lalu Rais al- Khidam sebagai sekretaris menteri-menteri.
Jabatan yang lain adalah Nazr al-Maliah yang bertugas mengurus Baitul Mall serta
perpajakan. Pengawasan Syah pada mereka sangat ketat dan tindakan yang
diberikannya kepada pelanggar tugas sangat keras.

b. Bidang Ekonomi
Kerajaan Safawi pada masa Syah Abbas I mengalami kemajuan di bidang
ekonomi, terutama industri dan perdagangan25. Setelah kepulauan Hurmuz dikuasai
dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas maka sumber pendapatan
negara dari akrifitas impor dan ekspor menjadi meningkat26. Hal ini dikarenakan
Bandar ini merupakan salah satu jalur dagang antar Timur dan Barat yang biasa
direbut oleh Belanda, Inggris, dan Perancis, yang telah menjadi milik Kerajaan
Safawi. Di antara kemajuan yang tampak dalam bidang ekonomi adalah :
a) Ramainya perdagangan melalui teluk Persi, dan meningkatnya ekspor
Safawi, terutama komoditi sutra.
b) Lancarnya perdagangan dengan luar negeri, terutama dengan Inggris,
hingga menimbulkan iri para niagawan Portugis. Hal ini bisa dilihat dari
usaha Portugis menghalangi kapal-kapal niaga Inggris yang menuju
Persia Safawi, sehingga terjadi pertempuran antara keduanya dan pihak
Safawi membantu Inggris. Dari pertempuran itu pangkalan Hurmuz jatuh
ke tangan Safawi sehingga arus perdagangan ke Safawi semakin deras.

25
Mulyani, Sejarah dan Peradaban Islam, hlm 96

26
Nasution, Sejarah peradaban islam, hlm 307

12
c) Digalakkannya bidang pertanian, terutama yang digunakan untuk
peternakan ulat sutra, sehingga produktivitas pertanian meningkat.

Dibangunnya fasilitas perdagangan yang memadai, seperti sarana


transportasi, jembatan-jembatan, pusat-pusat perdagangan dan jalur yang luas yang
menghubungkan daerah sebelah timur laut Kaspia dengan daerah di sebelah Barat27

c. Bidang perkembangan fisik dan seni


Kemajuan Nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-
bangunannya seperti terlihat pada masjid Syah yang dibangun tahun 1611 M dan
masjid Syaikh Lutf allah yang dibangun tahun 1603 M, sekolah, rumah sakit, dan
jembatan yang memanjang diatas Zend rud dan istana Chihil Sutun28.

Seni lukis mulai dirintis pada zaman Tahmasp I, raja Ismail I mendatangkan
seorang pelukis Timur ke Tabriz yang bernama Bizhad. Kemajuan ini diayomi oleh
seniman Persia Genius, diantaranya Syeh Ismail dan Syeh Tahmasp. Dalam bidang
seni kaligrafi juga nampak nyata, kaligrafer yang menjadi pujaan Syah Abbas
adalah Ali Riza. Seni Lukis miniatur mencapai puncaknya dengan karya lukis yang
menggambarkan naskah sastra klasik yang diperkirakan mencapai 250 karya lukis,
salah satu pihak pelukisnya adalah Firdausi29.

Kota iswahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik.
Ketika abbas I wafat di iswahan terdapat 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan,
dan 273 pemandian umum. Unsur lainya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan,
keramik, permadani, dan benda seni lainnya30.

27
Mulyani, Op.cit.., hlm 97

28
Ibid.., hlm 98

29
Ismail Usman, Pendidikan Pada Tiga Kerajaan Besar (Kerajaan Turki Usmani, Safawi di Persia, dan Mughol Di
India), Jurnal Pendidikan Islam Iqro’, Vol. 11 No 1 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Manado, hlm
7

30
Alauddin, Pendidikan Islam Masa Tiga Kerajaan Islam (Syafawi, Turki Usmani, dan Mughal), Jurnal Ulul Albab,
Vol. 14 No. 1, 2012, hlm 98

13
d. Bidang ilmu pengetahuan
Bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berpendidikan tinggi dan
berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Kegiatan keilmuan banyak diadakan di
Majelis istana, seperti kajian teologi, kesejarahan, dan kefilsafatan 31. Sejumlah
ilmuan yang selalu hadir di Majelis istana yaitu Baha al-dina al-syaerazi (generalis
ilmu pengetahuan), sadar al-dina al-syaeraza (filosof) dan Muhammad al-baqir ibn
Muhammad damad (Teolog, filosof, observatory kehidupan lebah-lebah). Dalam
bidang ilmu pengetahuan , Safawi lebih mengalami kemajuan dari pada kerajaan
Mughal dan Turki usmani. Pada masa Safawi filsafat dan sains bangkit kembali di
dunia islam, khususnya di kalangan orang-orang Persia yang berminta tinggi pada
perkembangan kebudayaan. Menurut Hodhson ada dua aliran filsafat yang
berkembang pada masa safawi tersebut. Pertama, aliran filsafat “Perifatetik” yang
dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-Farabi. Kedua aliran filsafat “Isyraqi” yang
dibawah oleh Syaharawadi pada abbad ke XII. Kedua aliran ini banyak
dikembangkan di perguruan Isfahan dan Syiraj32.

Seorang Ahli matematika, arsitektur, dan ahli kimia yang terkenal berama
Bahauddin al-Amali berhasil menghidupkan kembali studi matematika dan menulis
naskah tentang matematika dan astronomi untuk penyimpulkan ahli-ahli terdahulu.
Ia juga ahli agama terhir dalam idlam yang juga ahli matematika termana33.

e. Bidang keagamaan
Pada masa Abbas, terjadi kemajuan di bidang keagamaan yaitu, adanya
kebijakan keagamaan tidak lagi memaksakan agar syi’ah menjadi agama Negara
seperti masa kholifah sebelumnya. Pada masa Abbas, ia menanamkan sikap
toleransi. Bentuk sikap toleransi terhadap bidang politik keagamaan yaitu beliau
tanamkan paham toleransi atau lapang dada. Paham syi’ah tidak lagi menjadi
paksaan. Orang sunni dapat hidup bebas mengerjakan ibadahnya bahkan, pendeta

31
Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam, hlm 192

32
Sri Mulyani, Sejarah dan Peradaban Islam, hlm 97

33
Inrevolzon, Kondisi Sosial, Politik, Ekonomi, dan Budaya Pada Masa Kekhalifahan Dinasti Safawi dan
pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Sosial,
http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tamaddun/article/download/138/123, hlm 46.

14
nasrani diperbolehkan mengembangkan ajaran agamanya dengan agamanya sebab,
sudah banyak bangsa Armenia yang telah menjadi penduduk setia dikota ishafan34.

f. Bidang Pemberdayaan Perempuan


Dari ajaran agama zoroaster yang dianut sebelum datangnya islam didapati
banyak norma yang diterapkan di masa islam, khususnya tentang berbagai regulasi
yang mengatur tentang hubungan laki-laki dan perempuan di kalangan kelas atas (
penguasa, prajurit, dan pendeta). Beberapa contoh, keluarga patriarkal menuntit
kepatuhan total istri kepada suaminya, melahirkan seorang pewaris laki-laki
dianjurkan dalam agama, suami mempunyai hak atas harta dan kekayaan istri
sesudah menikah kecuali bila perjanjian menyatakan lain, dan perceraian pada
umumnya memerlukan persetujuan kedua belah pihak, kecuali bila istri bersalah
melakukan pelanggaran hukum.

Pada saat orang-orang Iran banyak menganut agama Kristen, norma-norma


kehidupan banyak berubah pula. Terbuka kesempatan baru bagi perempuan untuk
mandiri dan menegaskan diri sendiri melawan kepercayaan biologisnya dan
keberadaanya adalah hanya untuk melayani fungsi reproduksi. Dalam suasana
beginilah Islam datang dan menggugah kaum perempuan untuk mengubah tatanan
sosial agar memiliki otoritas spiritual dan moral serta menegaskan pemahaman
mereka sendiri tentang tata motal dalam keluarga dan masyarakat.

Sistem harem tidak menutup kemungkinan para perempuan untuk berkuasa


dibalik layar secara politik. Banyak di antara para istri sultan, selir, dan anggota
keluarga kerajaan lainya yang mempunyai kekuasaan politik dan di beri
kesempatan untuk mengatur urusan negara.

Kehidupan perempuan Persia di abad pertengahan pada umumnya tampaknya


sama dengan yang dialami oleh sebagian besar perempuan dibelah dunia lainya.
Peranan mereka ditentukan oleh adat-istiadat, gaya hidup, dan minimnya
keterlibatan mereka dalam ekonomi. Terdapat empat hal yang menentukan
kedudukan perempuan

34
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung:Tim Redaksi Pustaka Setia,) 2016. hlm 256

15
1. Adat istiadat dan hukum yang mengatur perkahwinan, khususnya yang
membolehkan poligami, perseliran, dan perceraian sepihak oleh suami.
2. Pemingitan bagi perempuan.
3. Hak perempuan untuk memiliki kekayaan.
4. Posisis perempuan dalam sistem kelas sosial35.

C. Kemunduran Kerajaan Safawi.


Sepeninggal Abbas I Daulah Safawiyah berturut-turut diperintah oleh enam sultan
yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M),
Husein (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M) dan Abbas III (1732-1736 M). Pada
masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan
berkembang justru malah sebaliknya. Sifa Mirza (1628-1642 M), adalah pemimpin yang
lemah dan sangat kejam kepada pembesar-pembesar kerajaan, sehingga pemerintahannya
menurun secara drastis36.

Kota Qandahar (sekarang termasuk wilayah Afaganistan) lepas dari kekuasaan


Daulah Safawiyah direbut oleh Daulah Mughal yang ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah
Jehan , sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Usmani. Selain Sifa Mirza, ke-5 Sultan
pada masa Daulah Safawiyah juga mengalami Dekandensi moral yang mengakibatkan
kemunduran Kerajaan Safawi di Persia. Dekandensi moral dan akibat yang terjadi adalah
sebagai berikut 37:

1. Abbas II (1642-1667 M), adalah seorang pemimpin yang suka mabuk-mabukan


sehingga ia jatuh sakit dan meninggal dunia.

2. Sulaiman (1667-1694 M), tidak jauh berbeda dengan Abbas II dan Sifa Mirza, Sulaiman
adalah seorang pemimpin yang suka mabuk-mabukan dan bertindak kejam kepada
pembesar Daulahnya yang dicurigainya. Akibatnya rakyat bersikap masa bodoh
terhadap Pemerintah.

35
Abd Rahim Yunus dan Abu Haif, Sejarah Islam Pertengahan, hlm. 234.

36
Nasution, Sejarah peradaban islam, hlm 309.

37
Zubaidah, Sejarah Peradaban islam, hlm 193.

16
3. Husein (1694-1722 M), lain halnya dengan Sulaiman, Husein merupakan seorang yang
alim, tetapi memberikan kekuasaan yang besar dan dominan kepada para ulama Syi’ah
yang sering memaksakan faham Syi’ah kepada penduduk yang beraliran sunni.
Sehingga hal ini memancing kemarahan golongan Sunni Afganisthan, mereka berontak
dan berhasil mengakhiri masa Daulah Safawiyah. Pemberontakan bangsa Afghan
tersebut, terjadi pertama kali pada tahun 1709 M dibawah pimpinan Mir Vays yang
berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan lainnya terjadi di Heart, suku
Ardabil Afganisthan berhasil menduduki Mashad.Mir Vays diganti oleh Mir Mahmud
dan ia dapat mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil, sehingga ia mampu
merebut negeri-negeri Afghan dari Safawi. Karena desakan dan ancaman Mir Mahmud,
Husein akhirnya mengakui kekuasaan Mir Mahmud dan mengangkatnya menjadi
Gubernur di Qandahar dengan gelar Husein Quli khan (Budak husein). Dengan
pengakuan ini ia merebut Kirman dan tak lama ia kemudain menyerang Isfahan dan
memaksa Husein menyerah tanpa Syarat. Pada tanggal 12 Oktober 1722 M Shah husein
menyerah dan 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota isfahan dengan penuh
kemenangan.

4. Tahmasp II (1722-1732 M), adalah salah seorang putera Husein, pada masa sultan ini,
Daulah Safawiyah sempat kembali di Persia. Hal ini disebabkan karena Tahmasp II di
dukung penuh oleh suku Qazar dari Rusia untuk memproklamatirkan dirinya menjadi
seorang raja yang sah dan berkuasa di kota persia dengan pusat kekuasaannya di kota
Astarabad. Tahmasp II, bekerja sama dengan Nadir khan dari suku Afshar untuk
memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan, Maka pada tahun
1729 M pasukan Nadir Khan memerangi dan dapat mengalahkan raja Asyraf yang
berkuasa di Isfahan dan Asyraf sendiri terbunuh dalam peperangan tersebut. Dengan
demikian Daulah Safawiyah kembali berkuasa di Persia38.

Setelah tiga tahun kembalinya Daulah Safawiyah di Persia, Tahmasp II dipecat oleh
Nadir Khan, tepatnya pada bulan Agustus 1732 M dan digantikan oleh Abbas III (anak
Thamasp II) yang ketika itu masih sangat kecil. Lalu empat tahun kemudian tepatnya pada

38
Ibid.., hlm 194.

17
tanggal 8 Maret 1736 M Nadir Khan mengangkat dirinya sebagai Sultan dan dengan ini
berarti berakhirlah kekuasaan Daulah Safawiyah di Persia39.

Adapun faktor penyebab mundurnya Kerajaan Safawi Persia adalah :

1. Adanya konflik berkepanjangan dengan Turki Usmani. Bagi turki Usmani


berdirinya Daulah Safawiyah yang beraliran Syi’ah menjadi ancaman langsung
terhadap wilayah kekuasaannya, akibatnya menurut Turki Usmani Daulah
safawiyah harus diperanginya. Sehingga tidak pernah ada perdamaian antara dua
kerajaan ini.

2. Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaan safawi


yang juga ikut mempercepat proses kehancuran kerajaan ini. Raja Sulaiman
yang pecandu narkotik dan menyenangi kehidupan malam selama tujuh tahun
tidak pernah sekaipun menyempatkan diri menangani pemerintahan, begitu pula
dengan sultan husein40.

3. Pasukan Ghullam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I ternyata tidak memiliki


semengat perjuangan yag tinggi seperti semangat Qizilbash. Kemerosotan aspek
kemiilitera ini sangat besar pengaruhnya terhdap lenyapnya ketahanan dan
pertahanan kerajaan Safawi41.

4. Faktor berikutnya, karena lemahnya sultan yang diangkat sehingga mereka tidak
dapat mempertahankan kekuasaan yang diwarisinya, apalagi memperluas,
sebaliknya yang terjadi adalah konflik internal memperebutkan kekuasaan di
kalangan keluarga istana, juga tidak didukung pasukan tentara yang kuat karena
pasukan Ghullam yang dibentuk Sultan Abbas I tidak memiliki semangat perang
yang tinggi42.

39
Nasution, Sejarah peradaban islam, hlm 310.

40
Zubaidah, Sejarah Peradaban islam, hlm 194.

41
Ibid.., hlm 195

42
Nasution, Sejarah peradaban islam, hlm 311.

18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kerajaan Safawi secara resmi berdiri di Persia pada 1501 M setelah Syah Ismail
memproklamasikan dirinya sebagai raja atau Syah di Tabriz dan menjadikan Syah Itsna
Asyariah sebagai ideologi negara. Kerajaan Safawi dapat melanggengkan kekuasaan
polotiknya kurang lebih 235 tahun, yaitu mulai tahun 1501-1736 dimana awal berdirinya
berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berada di Ardabil, Azerbaijan, Iran. Nama Safawi
dinisabkan dari nama pendiri Daulah Safawiyah yakni Shafi Ad-Din dan tetap dipertahankan
sampai dari gerakan tarekat berubah menjadi gerakan politik.

Kemajuan Kerajaan Safawi terjadi pada masa pemerintahan Syah Abbas I, ia berhasil
memperbaiki sistem politik dan perekonomian kerajaan sehingga banyak gedung-gedung
yang dibangun pada masa itu. gedung yang dibangun oleh Abbas antara lain 162 unit masjid,
48 unit perguruan tinggi, 1082 unit losmen untuk tamu Syah, 237 unit pemandian umum.
Bangunan yang paling terkenal adalah maesjid Lutfullah, Istana Chihil Sutun, Jembatan
besar diatas sungai Zende Rud dan Taman Bunga Empat Penjuru. Selain itu Syah Abbas I
juga melakukan perluasan wilayah serta mampu merebut kembali wilayah-wilayah
kekuasaan Kerajaan Safawi yang sempat direbut oleh Turki Usmani.

Kemunduran Kerajaan Safawi Persia terjadi sepeninggalan Abbas I yang disebabkan


oleh beberapa faktor termasuk tidak ada lagi pemimpin Safawi yang secakap Abbas I dalam
hal kepemimpinan dan terjadi konflik internal dalam kerajaan Safawi sendiri, ditambah
dengan adanya koflik berkepanjangan dengan turki usmani juga menjadi salah satu faktor
penyebab kemunduran kerajaan Safawi Persia.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca akan lebih memahami materi Sejarah
peradaban islam Khususnya mengenai kerajaan safawi di persia. karena keterbatasan saran
dan prasarana dalam pembuatan makalah ini dimohon pembaca untuk pemberikan saran dan
kritik yang membangun guna sebagai penunjang pada makalah ini dan makalah-makalah
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat dan menambah wawasan para
pembaca.

19
DAFTAR PUSTAKA
Alauddin. 2012. Pendidikan Islam Masa Tiga Kerajaan Islam (Syafawi, Turki Usmani, dan
Mughal). Jurnal Ulul Albab, Vol. 14 No. 1.
Inrevolzon. Kondisi Sosial, Politik, Ekonomi, dan Budaya Pada Masa Kekhalifahan Dinasti
Safawi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan
Sosial. http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tamaddun/article/download/138/123.
Maryan, Siti. 2004. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern.
Yogyakarta:LESFI.
Mulyani, Sri. 2018. Sejarah dan Peradaban Islam Dinasti Safawi Di Persia. Jurnal STAI Al-
Ma’arif Buntok, Vol.VII-No. 13.
Nasution, Syamruddin. 2013. Sejarah peradaban islam. Pekan baru:Yayasan pusaka Riau.
Nata, Abuddin. 2011. Studi Islam Komprehensif. Jakarta:Kencana Prenada Media Gorup.
Supriyadi, Dedi. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Bandung:Tim Redaksi Pustaka Setia.
Usman, Ismail. Pendidikan Pada Tiga Kerajaan Besar (Kerajaan Turki Usmani, Safawi di
Persia, dan Mughol Di India). Jurnal Pendidikan Islam Iqro’, Vol. 11 No 1 Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Manado.
Yunus, Abd Rahim dan Abu Hanif. 2016. Sejarah Islam Pertengahan. Yogyakarta:Ombak.
Zubaidah, Siti. 2016. Sejarah Peradaban islam. Medan:Perdana Mulya Sarana.

20