Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelayanan keperawatan yang berkualitas mempunyai arti bahwa


pelayanan yang diberikan kepada individu, keluarga ataupun masyarakat
haruslah baik (bersifat etis) dan benar (berdasarkan ilmu dan hukum yang
berlaku). Hukum yang mengatur praktik keperawatan telah tersedia dengan
lengkap, baik dalam bentuk undang-undang kesehatan, maupun surat
keputusan Menkes tentang praktik keperawatan. Dengan demikian
melakukan praktik keperawatan bagi perawat di Indonesia adalah
merupakan hak sekaligus kewajiban profesi untuk mencapai visi Indonesia
sehat tahun 2010.

Implementasi praktik keperawatan yang dilakukan oleh perawat


sebenarnya tidak harus dilakukan di rumah sakit, klinik, ataupun di gedung
puskesmas tetapi dapat juga dilaksanakan dimasyarakat maupun dirumah
pasien. Pelayanan keperawatan yang dilkukan dirumah pasien disebut Home
Care.

Di dalam makalah yang sederhana ini, kami akan memberikan


deskripsi/gambaran tentang konsep dasar Home Care dalam keperawatan
yang meliputi : pengertian, sejarah perkembangan Home Care di luar dan
dalam negeri, alasan mengapa Home Care perlu dikembangkan, dan
bagaimana penyelenggaraan Home Care yang baik.

1.2 Tujuan

1.2.1 Untuk mengetahui lebih detail mengenai Home Care dan Hospice
Care.

1
1.2.2 Untuk mengetahui cara pemberian asuhan keperawatan pada pasien
home care dan hospice care.

1.2.3 Untuk mengetahui prospek masa depan keperewatan home care dan
hospice care.

1.3 Manfaat

1.3.1 Agar pembaca mengetahui secara detail mengenai Home Care dan
Hospice Care

1.3.2 Agar pembaca mengetahui cara pemberian asuhan keperawatan pada


pasien home care dan hospice care.

1.3.3 Agar Pembaca mengetahui prospek masa depan keperewatan home


care dan hospice care.

2
BAB I
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Istilah Home Care atau Perawatan di Rumah merupakan salah satu


bentuk pemberian Asuhan Keperawatan yang dilaksanakan di rumah oleh
tenaga kesehatan profesional. Di Amerika bentuk pelayanan ini diberikan
secara informal oleh perawat, caregiver atau voluntary. Biasanya istilah home
care dicampur adukkan dengan isitlah non medical care atau custodial care
yang merupakan perawatan yang diberikan bukan oleh perawat, dokter atau
tenaga medis lainnya yang berwenang. Namun apapun istilahnya bentuknya
sama yaitu pemberian pelayanan kesehatan di rumah klien sendiri.

Ada pendapat lain yang mendefinisikan Home Care sebagai bentuk


Asuhan Keperawatan Profesional yang diberikan secara profesional pada
individu dan atau keluarga yang disebabkan oleh keterbatasannya dalam
mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya secara mandiri.

Disebut Pelayanan Profesional karena pelayanan ini di dasarkan pada


evidence based bukan semata atas dasar pertimbangan situasional. Asuhan
Keperawatan berdsarkan evidence based akan mengarahkan bentuk pelayanan
keperawatan yang diberikan pada peningkatan derajat kesehatan.

Hospice Care adalah pelayanan perawatan untuk meringankan


penyakit lanjutan atau penyakit terminal dari klien di rumah sakit dan

3
kemudian melanjutkan pelayanan perawatan di rumah dibawah pengawasan
Medicare. Pelayanan hospice tersebut mempertimbangkan kebutuhan khusus
dari klien dengan penyakit terminal atau yang akan meninggal dunia, sehingga
klien memiliki kesempatan untuk meninggal di rumah sesuai dengan keinginan
mereka dengan dukungan keluarga sepenuhnya.

Hospice home care adalah perawatan pasien terminal yang dilakukan


di rumah setelah dilakukan perawatan di rumah sakit, dimana pengobatan
sudah tidak perlu dilakukan lagi. Bidang garapnya meliputi aspek bio-psiko-
sosio-spiritual yang bertujuan dalam memberikan dukungan fisik dan psikis,
dukungan moral bagi pasien dan keluarganya, dan juga memberikan pelatihan
perawatan praktis. Di Indonesia, metode perawatan ini di bawah pengelolaan
Yayasan Kanker Indonesia. Sedangkan di beberapa rumah sakit yang lain
program ini sudah dikembangkan, namun belum dilakukan secara legal.

2.2 Sejarah Perkembangan Home Care dan Hospice Care

Di Amerika, Home Care (HC) yang terorganisasikan dimulai sejak


sekitar tahun 1880-an, dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit
infeksi dengan angka kematian yang tinggi. Meskipun pada saat itu telah
banyak didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya masih sangat
rendah, hal ini dikarenakan masyarakat lebih menyukai perawatan dirumah.
Kondisi ini berkembang secara professional, sehingga pada tahun 1900
terdapat 12.000 perawat terlatih di seluruh USA (Visiting Nurses / VN ;
memberikan asuhan keperawatan dirumah pada keluarga miskin, Public
Health Nurses, melakukan upaya promosi dan prevensi untuk melindungi
kesehatan masyarakat, serta Perawat Praktik Mandiri yang melakukan
asuhan keperawatan pasien dirumah sesuai kebutuhannya). (Lerman D. &
Eric B.L, 1993).

Home Care berkembang secara professional selama pertengahan


abad 19, dengan mulai berkembangnya District Nursing, yang pada awalnya
dimulai oleh para Biarawati yang merawat orang miskin yang sakit dirumah.

4
Kemudian merek mulai melatih wanita dari kalangan menengah ke bawah
untuk merawat orang miskin yang sakit, dibawah pengawasan Biarawati
tersebut (Walliamson, 1996 dalam Lawwton, Cantrell & Harris, 2000).
Kondisi ini terus berkembang sehingga pada tahun 1992 ditetapkan peran
District Nurse (DN) adalah :

a. Merawat orang sakit dirumah, sampai klien mampu mandiri


b. Merawat orang sakaratul maut dirumah agar meninggal dengan nyaman
dan damai
c. Mengajarkan ketrampilan keperawatan dasar kepada klien dan keluarga,
agar dapat digunakan pada saat kunjungan perawat telah berlalu.

Selain District Nurse (DN), muncul perawat Health Visitor (HV) yang
berperan sebagai District Nurse (DN) ditambah dengan peran lain ialah :

a. Melakukan penyuluhan dan konseling pada klien, keluarga maupun


masyarakat luas dalam upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan
b. Memberikan saran dan pandangan bagaimana mengelola kesehatan
dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi setempat.

Di Indonesia, layanan Home Care (HC) sebenarnya bukan merupakan


hal yang baru, karena merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh
anggota keluarga yang dilatih dan atau oleh tenaga keperawatan melalui
kunjungan rumah secara perorangan, adalah merupakan hal biasa sejak dahulu
kala. Sebagai contoh dapat dikemukakandalam perawatan maternitas, dimana
RS Budi Kemulyaan di Jakarta yang merupakan RS pendidikan Bidan tertua di
Indonesia, sejak berdirinya sampai sekitar tahun 1975 telah melakukan
program Home Care (HC) yang disebut dengan “Partus Luar”.

Dalam layanan “Partus Luar”, bidan dan siswa bidan RS Budi


Kemulyaan melakukan pertolongan persalinan normal dirumah pasien,
kemudian diikuti dengan perawatan nifas dan neonatal oleh siswa bidan senior
(kandidat) sampai tali pusat bayi puput (lepas). Baik bidan maupun siswa bidan
yang melaksanakan tugas “Partus Luar” dan tindak lanjutnya, harus membuat

5
laporan tertulis kepada RS tentang kondisi ibu dan bayi serta tindakan yang
telah dilakukan.

Hospice care di Amerika Serikat mengikuti berbagai bentuk protocol.


Terdapat fasilitas hospice, rawat inap di RS, disitu pasien – pasien diarahkan
pada unit spesifik atau di rawat dengan cara ”tempat tidur tersebar”, dengan
pasien hospice menempati tempat tidur diberbagai unit. Layanan hospice rawat
jalan dan hospice dirumah sering dilakukan oleh asosiasi perawat kunjungan.
Tanpa memperhatikan lingkungan, asuhan hospice dianggap tepat jika pasien
tidak lagi berespon terhadap pengobatan, intervensi-intervensi untuk
penyembuhan sudah habis, dan kematian sudah mengancam.

Dalam banyak cara, hospice lebih dipahami sebagai sikap bukan


sebagai tempat, program atau unit. Pendekatan terhadap orang yang menjelang
ajal dilingkungan hospice dilakukan dengan cara yang positif dan
menghasilkan pertumbuhan. Tujuannya adalah untuk berfokus pada keberanian
dan martabat pasien dari pada ketergantungan. Lahirnya perawatan hospice ini
telah menyentuh kemanusiaan dengan asuhan paliatif yang terkoordinasi dan
penuh cinta terhadap orang yang menjelang ajal dan keluarganya. Nilai yang
dapat diukur berkaitan dengan pengayaan hidup dan kehidupan pada saat
menjelang ajal.

2.3 Bentuk Pelayanan Home Care dan Hospice

Tujuan utama home care adalah memungkinkan klien mendapatkan


pelayanan kesehatan di rumah sendiri. Secara umum lingkup pelayanan
dalam perawatan kesehatan di rumah dapat dikelompokkan sebagai berikut :

• Pelayanan medik dan asuhan keperawatan

• Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan terapeutik

• Pelayanan rehabilitasi medik dan keterapian fisik

• Pelayanan informasi dan rujukan

6
• Pendidikan, Pelatihan dan Penyuluhan Kesehatan

• Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan

• Pelayanan perbantuan untuk kegiatan sosial.

Sifat pelayanan yang diberikan dapat kombinasi antara pelayanan


kesehatan professional dan pelayanan kesehatan non professional atau
vokasional. Oleh karena itu secara jelas dapat dibedakan bentuk pelayanan
profesional atau vokasional dalam konteks home care.

Contoh Pelayanan Kesehatan Professional:

• Pemeriksaan kesehatan.

• Pemeriksaan status psikologis.

• Perawatan Luka.

• Pendidikan kesehatan.

• Terapi fisik.

• Terapi wicara.

• Terapi Okupasi.

• Manajemen nyeri.

• Pendidikan kesehatan.

Adapun Contoh Pelayanan Vokasional antara lain:

• Menyiapkan makanan.

• Mengingatkan jadwal minum obat.

• Mencuci pakaian.

• Menjaga rumah.

7
• Belanja ke pasar.

Jenis pelayanan hospice dapat menggunakan jasa institusi atau


rumah sakit, ataupun melalui agency perawatan kesehatan rumah ataupun
keduanya. Hal tersebut tergantung dari persetujuan klien/keluarga melalui
kesepakatan kontrak. Jika pelayanan menggunakan jasa rumah sakit sebagai
penghubung agency perawatan rumah, maka hal ini lebih efisien karena
rumah sakit memiliki kontribusi memadai untuk memenuhi kebutuhan
perawatan klien dalam kondisi penyakit terminal atau klien yang akan
meninggal dunia. Rumah sakit memiliki tim (staf) sesuai kebutuhan klien,
disamping peralatan dan fasilitas bagi klien.

Pemberi pelayanan hospice yang bekerja bagi klien/keluarga sering


berhadapan dengan stress, khususnya perawat sangat dibutuhkan
kemampuan merawat yang mandiri dalam menghadapi klien menjelang ajal.
Adapun faktor stress yang umum terjadi adalah:

Kesulitan menerima kenyataan bahwa masalah klien tidak dapat


dikontrol, Frustasi akibat banyaknya masalah pada klien yang akan
meninggal dunia, Marah akibat subjektivitas kemauan dan harapan keluarga
yang tinggi, Kesulitan menyusun batas keterlibatan dengan klien dan
keluarganya.

2.4 Manfaat Home Care Dan Hospice

Manfaat Home Care antara lain adalah :

 Bagi Klien dan Keluarga

o Program Home Care (HC) dapat membantu meringankan biaya


rawat inap yang makin mahal, karena dapat mengurangi biaya
akomodasi pasien, transportasi dan konsumsi keluarga

o Mempererat ikatan keluarga, karena dapat selalu berdekatan pada


saat anggoa keluarga ada yang sakit

8
o Merasa lebih nyaman karena berada dirumah sendiri

o Makin banyaknya wanita yang bekerja diluar rumah, sehingga tugas


merawat orang sakit yang biasanya dilakukan ibu terhambat oleh
karena itu kehadiran perawat untuk menggantikannya

 Bagi Perawat

o Memberikan variasi lingkungan kerja, sehingga tidak jenuh dengan


lingkungan yang tetap sama

o Dapat mengenal klien dan lingkungannya dengan baik, sehingga


pendidikan kesehatan yang diberikan sesuai dengan situasi dan
kondisi rumah klien, dengan begitu kepuasan kerja perawat akan
meningkat.

Berbagai alasan tersebut membuat program layanan Home Care


(HC) mulai diminati baik oleh pihak klien dan keluarganya, oleh perawat
maupun pihak rumah sakit.

Manfaat Hospice care antara lain membantu klien dan keluarga


memelihara kondisi kesehatan dan kesejahteraan klien, Meringankan rasa
sakit dan memfasilitasi rasa nyaman klien, Mempersiapkan klien dan
keluarga untuk menghadapi kondisi penyakit.

2.5 Standar Praktik Home Health Nursing (HHN)

Asosiasi perawat Amerika (1999) telah menetapkan lingkungan


dan standar Home Health Nursing yang meliputi standar asuhan
keperawatan dan standar kinerja professional (Allender & Spradley, 2001)

• Standard Asuhan Keperawatan

o Standard I, Perawat mengumpulkan data kesehatan klien

9
o Standard II, Dalam menetapkan diagnosa keperawatan, perawat
melakukan analisa terhadap data yang telah terkumpul

o Standard III, Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan baik dari


klien maupun lingkungannya

o Standard IV, Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan


dengan menetapkan intervensi yang akan dilakukan untuk mencapai
hasil yang diharapkan

o Standard V, Perawat melaksanakan rencana intervensi yang telah di


tetapkan dalam perencanaan

o Standard VI, Perawat melakukan evaluasi terhadap kemajuan klien


yang mengarah ke pencapaian hasil yang diharapkan.

• Standard Kinerja Profesional (professional performance)

o Standard I, Kualitas asuhan keperawatan, perawat melakukan evaluasi


terhadap kualitas dan efektifitas praktik keperawatan secara sistematis

o Standard II, Performance Appraisal, perawat melakukan evaluasi diri


sendiri terhadap praktik keperawatan yang dilakukannya dihubungkan
dengan standar praktik professional, hasil penelitian ilmiah dan
peraturan yang berlaku

o Standard III, Pendidikan, perawat berupaya untuk selalu


meningklatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam praktik
keperawatan

o Standard IV, Kesejawatan, perawat berinteraksi dan berperan aktif


dalam pengembangan professionalism sesama perawat dan praktisi
kesehatan lainnya sebagai sejawat

o Standard V, Etika, putusan dan tindakan perawat terhadap klien


berdasarkan pada landasan etika profesi

10
o Standard VI, Kolaborasi, dalam melaksanakan asuhan keperawatan,
perawat berkolaborasi dengan klien, keluarga dan praktisi kesehatan
lain.

o Standard VII, Penelitian, dalam praktiknya, perawat menerapkan hasil


penelitian

o Standard VIII, Pemanfaatan sumber, perawat membantu klien atau


keluarga untuk memahami resiko, keuntungan dan biaya perencanaan
dan pelaksanaan asuhan keperawatan .

Standar praktik keperawatan di Indonesia telah selesai disusun dan


disepakati oleh pimpinan PPNI, saat ini sedang menunggu pengesahan
dari Depkes RI.

2.6 Pasien Homecare

Umumnya pasien homecare adalah :

• Penderita lanjut usia (lansia) yang tidak dirawat di Rumah Sakit tapi
masih memerlukan pelayanan kesehatan.

• Bayi/Anak-anak yang berkebutuhan khusus dan memerlukan pelayanan


kesehatan khusus untuk tumbuh kembang mereka. Contoh: penderita
Autis, Down Syndrome, ADD/ADHD (Attention Deficit Disorders/
Attention Deficit Hyperactive Disorders), keterlambatan bicara, Cerebral
Palsy (CP), dll. Bagi orangtua yang sibuk bekerja, biasanya mereka
menyerahkan perawatan anak- anaknya kepada perawat khusus/baby
sitter, ada baiknya anak juga dilatih oleh therapist khusus tumbuh
kembang (developmental therapy); spt terapi wicara, terapi okupasi, jika
perlu.

• Pasien pasca rawat inap dari Rumah Sakit yang mempunyai kondisi berat
dengan nyeri kronik seperti pasien stroke, hepatitis kronis, gagal ginjal,
kanker stadium lanjut namun atas permintaan keluarga pasien itu dibawa
pulang untuk perawatan lanjut di rumah.

11
• Pasien yang dinyatakan oleh ahli medis bahwa penyakitnya parah dan
secara medis tidak dapat disembuhkan lagi. Andaikata pasien sudah tidak
memiliki harapan untuk hidup maka Dokter biasanya menyarankan agar
pasien dirawat di rumah agar dekat dengan keluarganya. Selain itu untuk
membantu keluarga pasien untuk menekan biaya Rumah Sakit (sewa
kamar di RS, dll.) dan biaya pengobatan.

Khusus untuk perawatan pasien kronis atau penyakit yang secara


medis tidak bisa disembuhkan lagi, perawatan Homecare biasanya lebih
fokus pada penanggulangan rasa nyeri yang muncul akibat penyakit pasien.
Nyeri yang diderita ini dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup
pasien.

Tim Homecare biasanya memberikan penyuluhan kepada anggota


keluarga pasien mengenai kondisi pasien, perawatan pasien mulai dari
menjaga kebersihan, pemberian nutrisi hingga cara menanggulangi rasa
nyeri yang terjadi pada pasien. Jadi pihak keluarga tidak panik jika pasien
mendadak mengalami rasa nyeri, mereka sudah mengetahui cara
menanggulanginya. Namun jika kondisi pasien makin memburuk dan
memerlukan tindakan medis khusus, disarankan hubungi dokter atau segera
bawa pasien ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit terdekat.

2.7 Pendirian Institusi Home Care Swasta

Institusi HC swasta dapat didirikan baik secara individu maupun


kelompok, baik untuk satu jenis layanan maupun layanan yang bervariasi.
Untuk itu diperlukan perencanaan yang berdasarkan kebutuhan pasar.
Perencanaan berdasarkan kebutuhan pasar mengharuskan kita untuk
melakukan analisa eksternal dan internal.

Analisa eksternal memperhitungkan kecenderungan kebutuhan


pasar baik jenis maupun jumlahnya. Misalnya bila kita berada di daerah
yang penduduknya kebanyakan berusia produktif, maka sudah dapat

12
diperkirakan bahwa pasar membutuhkan layanan keperawatan yang
berhubungan persoalan reproduksi, bayi serta balita. Analisa eksternal juga
melihat pesaing yang ada disekitar daerah tersebut, baik dalam jumlah, jenis
maupun kondisinya.

Analisa internal, melihat pada ketersediaan sumber (alam, manusia


dan dana) baik yang actual maupun potensial. Selain ketersediaan dana juga
perlu dianalisa komitmen personil yang ada terhadap rencana pembentukan
institusi HC. Komitmen personil merupakan persyaratan mutlak yang harus
di mililki untuk mengawali suatu bisnis yang baru .

Agar pelanggan loyal terhadap suatu institusi HC, maka HC harus


memperhatikan hal-hal berikut :

• Kemudahan (untuk dihubungi , untuk mendapatkan informasi, untuk


membuat janji)

• Selalu tepat janji, penting untuk membina kepercayaan masyarakat pada


institusi HC

• Sesuai dengan standar yang telah di tetapkan, hal ini merupakan ciri
professional

• Bersifat responsive terhadap keluhan, kebutuhan dan harapan klien

• Mengembangkan hubungan kerja sama secara internal dan eksternal


untuk memperbaiki kualitas layanan

Persiapan yang harus dilakukan untuk mendirikan Home Care


swasta antara lain adalah sebagai berikut :

• Struktur organisasi

Di dalamnya ada pimpinan home care, manager administrasi, manager


pelayanan, koordinator kasus dan pelaksana pelayanan.

• Perizinan
Mekanisme perizinan pendirian home care sebagai berikut :

13
o Berbadan hukum yg ditetapkan dlm akte notaris.

o Mengajukan ijin usaha Home care kpd Dinkes Kab/Kota setempat dg


melampirkan :

 Rekomendasi dari PPNI

 Ijin lokasi bangunan

 Ijin lingkungan

 ijin usaha

 Persyaratan tata ruang bangunan meliputi :

- ruang direktur

- ruang menajemen pely

- gudang sarana dan peralatan

- sarana komunikasi

- sarana transportasi

 Ijin persyaratan tenaga meliputi ijin praktek profesi dan sertifikasi


home care

• Daftar tarif dibuat berdasarkan dengan memperhatikan standar harga di


wilayah tempat berdirinya home care dengan memperhatikan golongan
ekonomi lemah

• Sarana dan Prasarana, meliputi set alat yang sering dipakai seperti
perawatan luka, perawatan bayi, nebulizier,oksigen, suction dan juga
peralatan komputer dan perlengkapan kantor.

• Format askep, meliputi format register, pengkajian, tindakan, rekap


alat/bahan yang terpakai, evaluasi dari perawat ataupun dari
pasien/keluarga.

14
• Form informed consent, meliputi persetujuan tindakan dari pasien dan
keluarga, persetujuan pembiayaan dan keikutsertaaan dalam perawatan.

• Surat Perjanjian kerjasama antara profesi lain seperti misalnya fisioterapi,


dokter, laboratorium, radiologi dan juga dinas sosial.

• Transportasi terutama untuk perawat home care dan juga transportasi


pasien bila sewaktu-waktu perlu rujukan ke rumah sakit atau tempat
pelayanan lainnya.

• Sistem gaji/upah personil home care. Sistem ini harus lebih berorientasi
pada kepentingan perawat pelaksana bukan keuntungan manajemen
semata. Sistem penggajian bisa dalam bentuk bulanan atau dibuat dalam
setiap kali selesai merawat pasien.

Dengan telah jelasnya konsep dan peraturan praktik keperawatan,


termasuk di dalamnya adalah HC, maka perawat telah dapat melakukan
praktik keperawatan professional dengan optimum, demi terwujudnya
masyarakat dan Indonesia sehat 2010.

BAB III
PENUTUP

15
3.1 Kesimpulan

Home Care atau Perawatan di Rumah merupakan salah satu bentuk


pemberian Asuhan Keperawatan yang dilaksanakan di rumah oleh tenaga
kesehatan profesional. Sedangkan Hospice Care adalah pelayanan
perawatan untuk meringankan penyakit lanjutan atau penyakit terminal dari
klien di rumah sakit dan kemudian melanjutkan pelayanan perawatan di
rumah dibawah pengawasan Medicare.

Prinsip utama home care adalah memungkinkan klien mendapatkan


pelayanan kesehatan di rumah sendiri. Sifat pelayanan yang diberikan dapat
kombinasi antara pelayanan kesehatan professional dan pelayanan kesehatan
non professional atau vokasional.

Jenis pelayanan hospice dapat menggunakan jasa institusi atau


rumah sakit, ataupun melalui agency perawatan kesehatan rumah ataupun
keduanya. Hal tersebut tergantung dari persetujuan klien/keluarga melalui
kesepakatan kontrak

3.2 Saran

Diharapkan sebagai calon perawat profesional kita dapat


menerapkan prinsip asuhan keperawatan home care dan hospice care dengan
tepat dan teliti.

DAFTAR PUSTAKA

16
Stanley, Mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC

Stockslager, Jaime L. 2008. Asuhan Keperawatan Geriatric Edisi 2. Jakarta : EGC

Boedi, darmodjo. 1999. Geriatric (Ilmu Kesehatan Usila). Jakarta : FKUI

http://ivanishadi.blogspot.com

http://kedokteran-keperawatan-kebidanan.blogspot.com

HOME CARE DAN HOSPICE CARE

17
UNTUK LANSIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik

Disusun oleh :
KELOMPOK IV

S 1 KEPERAWATAN IV A

STIKES PEMKAB JOMBANG


Jalan Dr. Soetomo No. 75-77 Jombang
2010 / 2011

18
NAMA ANGGOTA KELOMPOK IV :

1. Bayu P.M. ( 070201006 )

2. Budi Sattry W. ( 070201007 )

3. Mardiani S.P. ( 070201021 )

4. Moh. Afandi ( 070201023 )

5. Nurul Hidayah ( 070201027 )

6. Rachmad Novan H. ( 070201030 )

7. Rokhimatu Z. ( 070201035 )

8. Widya Nanda ( 070201041 )

ii
19
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Home
Care dan Hospice Care untuk Lansia” ini dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun dalam rangka untuk memenuhi tugas Keperawatan
Gerontik. Dalam penyusunan makalah ini, kami mendapatkan banyak bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Bapak Drg. Budi Nugroho, M.PPM, selaku Direktur STIKES
PEMKAB Jombang.
2. Ibu Pepin Nahariani S.Kep Ns. selaku dosen pembimbing mata
kuliah Keperawatan Gerontik
3. Teman-teman serta rekan-rekan semua yang telah membantu kami
dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya
dan bagi pembaca umumnya.

Jombang, Oktober 2010

Penyusun

iii
20
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
NAMA ANGGOTA KELOMPOK................................................................... ii
KATA PENGANTAR........................................................................................ iii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................ 1
1.2 Tujuan ........................................................................................ 2
1.3 Manfaat ...................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian ........................................................................................... 3
2.2 Sejarah Perkembangan Home Care dan Hospice Care ....................... 4
2.3 Bentuk Pelayanan Home Care dan Hospice ....................................... 6
2.4 Manfaat Home Care Dan Hospice ...................................................... 7
2.5 Standar Praktik Home Health Nursing (HHN) ................................... 8
2.6 Pasien Homecare ................................................................................ 10
2.7 Pendirian Institusi Home Care Swasta ............................................... 11

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan......................................................................................... 14
3.2 Saran................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA

iv
21