Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 3 No.

4 Tahun 2014 ISSN 2337-9995


Program Studi Pendidikan Kimia jpk.pkimiauns@ymail.com
Universitas Sebelas Maret

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED


LEARNING (PjBL) PADA MATERI POKOK LARUTAN ASAM DAN
BASA DI KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 2 KARANGANYAR
TAHUN AJARAN 2013/2014

Istiqomah Addiin.*, Tri Redjeki2, dan Sri Retno Dwi Ariani2


1
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA, FKIP, UNS Surakarta, Indonesia
2
Dosen Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA, FKIP, UNS Surakarta, Indonesia

*Keperluan korespondensi, telp: 08-5747-0275-41, email: istiqomahaddiin@yahoo.com

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan model PjBL
ditinjau dari kualitas proses yaitu aktivitas siswa dan kualitas hasil yaitu prestasi belajar siswa pada
materi pokok Larutan Asam dan Basa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek
penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Karanganyar tahun ajaran 2013/2014 yang
berjumlah 34 siswa. Sumber data berasal dari guru dan siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan teknik tes (ranah kognitif) dan teknik non tes (observasi, wawancara, angket afektif dan
balikan siswa). Data penelitian diukur dan dianalisis menggunakan metode rata-rata persentase
pada hasil penilaian aktivitas siswa (visual activities, oral activities, listening activities,writing
activities, motor activities, mental activities, emotional activities) dan prestasi belajar siswa (kognitif,
afektif, psikomotor) yang dijelaskan secara kualitatif serta menggunakan langkah-langkah data
reduksi, data display, dan verification. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa
pembelajaran dengan model PjBL ditinjau dari, (1) kualitas proses yaitu aktivitas siswa tinggi 74%,
sedang 26%, dan rendah 0%; (2) kualitas hasil ditinjau dari, (a) prestasi belajar kognitif dengan
rata-rata 70,7 diketahui 32% siswa tuntas dan 68% siswa belum tuntas dengan rincian 29% siswa
rentang nilai 63-72, 47% siswa rentang nilai 73-82, 6% siswa rentang nilai 83-92; (b) prestasi
belajar afektif diketahui 6% siswa mempunyai prestasi belajar afektif sangat baik, 85% siswa baik,
9% siswa kurang, dan 0% siswa kurang sekali; (c) kualitas hasil yaitu prestasi belajar psikomotor
diketahui 94% siswa tuntas dan 6% siswa belum tuntas.

Kata Kunci: deskriptif, Project Based Learning (PjBL), aktivitas belajar, prestasi belajar

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu Perkembangan pendidikan tidak
penentu kualitas sumber daya manusia bisa terlepas dari perkembangan kuri-
yang dirumuskan melalui tujuan kulum. Sampai saat ini Indonesia telah
pendidikan. Idi [1] menyatakan Indonesia mengalami sebelas kali perubahan
mempunyai empat tujuan pendidikan kurikulum yang dapat dikelompokkan
utama yaitu tujuan nasional, tujuan menjadi Kurikulum Rencana Pelajaran
institusional, tujuan kurikuler, tujuan (1947-1968), Kurikulum Berbasis Tujuan
instruksional. Untuk mewujudkan empat (1975-1984), Kurikulum Berbasis
tujuan pendidikan utama di Indonesia, Kompetensi dan KTSP (2004/2006) dan
kurikulum merupakan salah satu faktor yang terakhir adalah Kurikulum 2013.
penting. Maka dalam penyusunan Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang
kurikulum perlu memperhatikan peran sedang diterapkan di Indonesia saat ini
dan fungsi kurikulum itu sendiri karena setelah Kurikulum Tingkat Satuan
kurikulum sebagai program pendidikan Pendidikan (KTSP). Pada tingkat SMA
yang telah direncanakan secara tahun ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013
sistematis mengemban peranan yang baru diterapkan di kelas X.
sangat penting bagi pendidikan siswa.

Copyright © 2014 7
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

Diberlakukannya KTSP sebagai Kurikulum 2013 menggunakan


kurikulum nasional diharapkan memberi- Pendekatan saintifik atau scientific
kan pengaruh terhadap peningkatan approach yang terdiri dari mengamati,
efisiensi dan efektivitas kinerja sekolah, menanya, mengumpulkan informasi,
khususnya dalam meningkatkan kualitas mengasosiasi, dan mengkomunikasikan
pembelajaran, mengingat peserta didik sesuai dengan pandangan Kemendikbud
datang dari berbagai latar belakang [4] bahwa pengetahuan tidak dapat
kesukuan dan tingkat sosial yang berbeda dipindahkan begitu saja dari guru ke
[2]. peserta didik. Peserta didik adalah subjek
KTSP menuntut kreativitas yang memiliki kemampuan untuk secara
penyusunan model pendidikan yang aktif mencari, mengolah, meng-konstruks,
sesuai dengan kondisi lokal di setiap dan menggunakan pengeta-huan. Oleh
sekolah. Meskipun dikatakan bahwa karena itu dalam pembelaja-ran yang aktif
KTSP bukan kurikulum baru, tetapi tetap ditentukan oleh komponen pembelajaran
saja guru dan kepala sekolah serta yang membentuk suatu sistem
tenaga kependidikan lain di lapangan pembelajaran.
akan merasa kerepotan, terutama bagi Model pembelajaran merupakan
mereka yang belum memiliki wawasan salah satu komponen sistem pembela-
tentang KTSP [2]. Selain itu, jaran. Model pembelajaran yang dapat
ketidaklogisan KTSP terjadi ketika membuat peserta didik aktif atau sesuai
sekolah diberi kebebasan untuk dengan Pendekatan Saintifik seperti
mengelaborasi kurikulum inti yang dibuat model Inquiry, Project Based Learning
pemerintah, tetapi evaluasi nasional tetap (Model PjBL), Problem Based Learning
dilakukan oleh pemerintah melalui Ujian (PBL), dan Cooperative Learning.
Nasional (UN) [3]. Akibatnya, Beberapa model pembelajaran tersebut
pembelajaran pun berlangsung secara merupakan model pembelajaran yang
Teacher Center Learning (TCL) dengan ditekankan oleh pemerintah untuk
anggapan bahwa siswa bisa lebih digunakan dalam pembelajaran pada
memahami materi untuk menghadapi UN, Kurikulum 2013. Namun, penerapan
dibandingkan jika harus belajar sendiri model pembelajaran tidak semata–mata
atau biasa disebut Student Center untuk mematuhi aturan, tetapi juga perlu
Learning (SCL). Keadaan tersebut memperhatikan beberapa faktor, antara
mungkin hampir terjadi di setiap sekolah lain faktor karakteristik materi yang akan
termasuk di SMA Negeri 2 Karanganyar. disampaikan. Sebaik apapun model
Kurikulum yang diterapkan di SMA pembelajaran, namun jika penerapannya
Negeri 2 Karanganyar adalah KTSP untuk kurang sesuai dengan karakteristik materi
kelas XI dan XII sedangkan untuk kelas X justru kompetensi yang ingin dicapai
menggunakan Kurikulum 2013. Masalah kurang tersampaikan.
serupa terjadi di SMA Negeri 2 Model pembelajaran yang dianjur-
Karanganyar, pembelajaran baik KTSP kan dalam Kurikulum 2013 sebenarnya
maupun Kurikulum 2013 masih berpusat sudah ada sebelum Kurikulum 2013
pada guru. Pada prestasi belajar kognitif diberlakukan. Sehingga model pembela-
pun diketahui hanya 6% dari total siswa jaran tersebut dimungkinkan dapat dite-
kelas XI IPA 1 yang memenuhi Kriteria rapkan dalam kelas dengan KTSP. Model
Ketuntasam Minimal (KKM) kimia dari PjBL merupakan salah satu model yang
nilai murni ulangan semester I. Jika hal disarankan diterapkan dalam
ini dibiarkan terus menerus, maka kon- pembelajaran kimia pada Kurikulum 2013.
sep pengetahuan siswa semakin kurang Pada model PjBL ini membuat projek-
jelas. Hal ini menjadi salah satu alasan projek yang menghendaki siswa untuk,
dikeluarkannya Kurikulum 2013, yakni (1) memecahkan masalah nyata dan isu-
lebih meminimalisir peran guru atau isu yang memiliki kepentingan untuk
sekolah dan menambahkan peran siswa orang lain; (2) secara aktif terlibat dalam
sebagai pihak yang aktif dalam kegiatan pembelajaran mereka dan me-milih hal-
pembelajaran. hal penting selama projek; (3)
menunjukkan secara nyata bahwa

Copyright © 2014 8
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

mereka telah belajar konsep-konsep konsep kimia. Akibatnya, siswa tidak


kunci dan keterampilan. Projek dapat membangun pemahaman konsep
memberikan kesempatan bagi siswa kimia yang mendasar pada awal mereka
untuk menghasilkan bukti yang dapat mempelajari kimia. Padahal, sebagian
diamati bahwa mereka telah menguasai besar materi kimia saling berkaitan atau
standar kurikuler ketat karena mereka satu materi menjadi pembangun materi
menerapkan pembelajaran mereka dan yang lain, contohnya adalah materi
memecahkan masalah di tangan. Projek Larutan Asam dan Basa.
dan pameran juga memberikan bukti yang Materi Larutan Asam dan Basa
luas dari proses kerja dan pembelajaran menjadi dasar bagi materi selanjutnya
berlangsung sendiri. seperti Titrasi Asam–Basa, Larutan
Diketahui model PjBL sudah banyak Penyangga, dan Hidrolisis Garam. Jadi
diterapkan dalam proses pembe-lajaran dapat dikatakan bahwa materi Larutan
sebelum Kurikulum 2013 diberla-kukan. Asam dan Basa merupakan konsep kunci
Dapat dikatakan bahwa model PjBL juga untuk memahami materi selan-jutnya
dapat diterapkan dalam kegiatan sehingga pembelajaran diharap-kan bisa
pembelajaran yang masih menggunakan memberikan pengalaman belajar yang
KTSP seperti pada kelas XI dan XII tahun bertahan lebih lama dalam memori siswa.
ajaran 2013/2014. Dengan menerapkan Kegiatan pembelajaran yang dapat
model PjBL maka kualitas yang telah membuat memori siswa tentang materi
dirancang dalam Kurikulum 2013 bertahan lebih lama adalah pembe-
diharapkan dapat tercapai. Karena lajaran yang membuat siswa aktif dalam
dengan menerapkan model PjBL, prinsip membangun dan mengaitkan konsep
kegiatan pembelajaran dapat tercapai materi. Oleh karena itu perlu digunakan
yaitu, (1) berpusat pada peserta didik; (2) model pembelajaran yang didukung
mengembangkan kreativitas peserta media pembelajaran yang secara optimal
didik; (3) menciptakan kondisi menye- dapat melibatkan siswa secara aktif. Aktif
nangkan dan menantang; (4) bermuatan dalam hal ini tidak hanya dilihat dari
nilai, etika, estetika, logika, dan kines- kualias hasil seperti prestasi belajar
tetika; (5) menyediakan pengalaman be- kognitif, namun juga dilihat secara kese-
lajar yang beragam melalui penerapan luruhan dari kualitas proses yaitu aktivitas
berbagai strategi dan metode pem- siswa serta kualitas hasil seperti prestasi
belajaran yang menyenangkan, konteks- belajar siswa ranah kognitif, afektif, dan
tual, efektif, efisien, dan bermakna psikomotor.
walaupun waktu yang dibutuhkan lebih Model pembelajaran menjadi salah
lama. satu faktor keberlangsungan pembelaja-
Kimia merupakan salah satu mata ran. Seperti yang sudah dijelaskan
pelajaran di tingkat Sekolah Menengah sebelumnya, model PjBL merupakan
Atas (SMA) yang sesuai dengan prinsip salah satu model pembelajaran yang
Pendekatan Saintifik. Jika dikaji dari sifat dapat membuat siswa aktif. Meskipun
ilmu, kimia bersifat experimental science begitu, dalam penerapan model PjBL juga
artinya dalam mempelajari kimia tidak perlu disesuaikan dengan karakteristik
cukup hanya mendengar dan membaca materi.
saja, namun perlu dilakukan kegiatan Materi pokok Larutan Asam dan
pembelajaran seperti praktikum yang Basa meliputi konsep asam dan basa,
akan membantu membangun pengeta- konsep pH dan pOH, kesetimbangan
huan siswa tentang materi yang sedang larutan asam dan basa (dibatasi larutan
dipelajari. Pada umumnya, siswa cende- dalam air), reaksi asam dengan basa
rung belajar kimia dengan cara meng- (reaksi penetralan), dan penerapan
hafal, baik materi kimia yang bersifat konsep pH. Projek pembuatan indikator
matematis atau non matematis. Konsep– asam dan basa dari bahan alam serta
konsep kimia yang abstrak akan semakin pembuatan alat uji larutan elektrolit untuk
abstrak bagi siswa sehingga siswa tidak mengetahui kekuatan asam dan basa
dapat mengetahui konsep–konsep kunci dapat membuat siswa aktif. Diketahui dari
yang diperlukan untuk memahami suatu karakteristik materi Larutan Asam dan

Copyright © 2014 9
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

Basa tersebut, materi Larutan Asam dan Larutan Asam dan Basa. Data penelitian
Basa dapat disampaikan dengan model diukur dan dianalisis dengan metode rata-
PjBL. Diantara beberapa peneli-tian rata presentase, kemudian dijelaskan
tentang model PjBL, diketahui belum secara kualitatif.
banyak yang menjadikan Kimia sebagai Subjek penelitian adalah siswa
subjek materi pelajaran pada model PjBL. kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2
Maka perlu adanya penelitian tentang Karanganyar tahun ajaran 2013/2014.
pembelajaran kimia menggu-nakan model Teknik pengampilan subyek adalah
PjBL sebagai model yang dianjurkan purposive sampling yang didasarkan
dalam Kurikulum 2013 yang diterapkan pada pertimbangan bahwa model
dalam kelas yang masih menggunakan pembelajaran PjBL akan lebih optimal
KTSP. diterapkan di kelas dengan siswa yang
Model PjBL dapat menjadi pilihan mempunyai prestasi belajar tinggi. Hal ini
yang tepat diantara model pembelajaran didasarkan pada penelitian Bas [7] yang
lain dalam Kurikulum 2013, karena model menunjukkan siswa yang mempunyai
pembelajaran ini bertujuan untuk multiple intelligences lebih sukses
mengembangkan keterampilan berpikir mendukung model PJBL dan mempunyai
siswa melalui pemecahan masalah motivasi lebih tinggi dibandingkan dengan
secara bersama (collaboration). Peranan siswa yang dididik dengan metode
guru lebih banyak menetapkan diri sebagi ceramah biasa. Objek penelitian adalah
pembimbing atau pemimpin belajar dan kualitas proses yaitu aktivitas dan kualitas
fasilitator belajar. Dengan demikian, siswa hasil yaitu prestasi belajar siswa ranah
lebih banyak melakukan kegiatan sendiri kognitif, afektif, dan psikomotor.
atau dalam bentuk kelompok Sumber data berasal data informa-
memecahkan permasalahan dengan si yang berasal dari guru serta siswa
bimbingan guru atau pembelaja-ran akan berupa hasil observasi, wawancara, kaji-
berlangsung secara SCL [5]. an dokumen atau arsip. Teknik pengum-
Pada model PjBL, siswa tidak pulan data dilakukan dengan teknik tes
hanya membangun konsep melalui (ranah kognitif) dan teknik non tes
pemecahan masalah yang diberikan, (observasi, wawancara, angket afektif dan
namun juga menghasilkan produk se- balikan siswa). Instrumen pembela-jaran
bagai hasil dari pemecahan masalah meliputi silabus, RPP, dan LKS.
sehingga siswa dapat aktif dalam Instrumen penilaian meliputi instumen
pembelajaran baik dilihat dari kualitas aktivitas siswa, ranah kognitif, afektif, dan
proses, maupun kualitas hasil. Oleh psikomotor, serta angket balikan. Teknik
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk analisis instrumen evaluasi ranah kognitif
mengetahui kualitas proses yang diukur menggunakan 1) uji validitas
berdasarkan aktivitas siswa seperti visual menggunakan formula Gregory [8], 2) uji
activities, oral activities, listening reliabilitas, digunakan formula Kuder
activities,writing activities, motor activities, Richardson (KR-20) [9], 3) taraf
mental activities, emotional activities, dan kesukaran, ditentukan atas banyaknya
mengetahui kualitas hasil meliputi siswa yang menjawab benar butir soal
prestasi belajar siswa meliputi aspek dibanding seluruh siswa yang mengikuti
kognitif, afektif, dan psikomotor. tes [10], 4) daya pembeda butir, diten-
tukan dari proporsi tes kelompok atas
METODE PENELITIAN yang dapat menjawab benar butir item
Penelitian ini merupakan penelitian dikurangi proporsi tes kelompok bawah
deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan yang dapat menjawab dengan benar butir
untuk menggambarkan dan meng- item tersebut [10].
ungkapkan (to describe and explore), dan Teknik analisis angket ranah afektif
menggambarkan dan menjelaskan (to menggunakan 1) uji validitas, penentuan
describe and explain) [6]. validitas menggunakan formula Gregory
Penelitian ini dilakukan dengan [8], 2) uji reliabilitas, digunakan rumus
batasan penelitian yaitu tentang penera- alpha [9].
pan model Model PjBL pada materi pokok

Copyright © 2014 10
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

Teknik analisis data berupa ana- diperoleh hasil yang dapat dilihat pada
lisis deskriptif kualitatif dari Miles and Tabel 1 berikut.
Huberman dan Spradley menggunakan
langkah–langkah data reduksi, data Tabel 1. Data Hasil Tindakan Penelitian
display, dan verification [11]. pada Materi Pokok Larutan asam
dan Basa SMA Negeri 2
HASIL DAN PEMBAHASAN Surakarta Tahun Ajaran
SMA Negeri 2 Karanganyar meru- 2013/2014
pakan salah satu sekolah yang menjadi
Pilot Project Kurikulum 2013 sehingga Ranah Ketercapaian (%)
sekolah ini menerapkan Kurikulum 2013 Kompetensi
dan KTSP.Berdasarkan hasil observasi
Aktivitas 74
proses pembelajaran ditinjau dari
komponen pembelajaran yaitu siswa, Kognitif 32
tujuan, model, media, strategi, evaluasi, Afektif 91
dan umpan balik pada pembelajaran Psikomotor 94
KTSP dan Kurikulum 2013 diketahui tidak
terdapat banyak perbedaan.
Saat diterapkan pembelajaran Berdasarkan Tabel 1 tersebut dapat
model PjBL dengan siswa berkelompok, diketahui bahwa pembelajaran dengan
selama pembelajaran, guru berperan model PjBL ditinjau dari, (1) kualitas
sebagai fasilitator dan motivator siswa proses yaitu aktivitas siswa diketahui 74%
dalam membangkitkan siswa untuk lebih siswa dengan aktivitas tinggi; 2) kualitas
aktif. Langkah model PjBL yang hasil ditinjau dari, (a) prestasi belajar
diterapkan dalam penelitian secara umum kognitif dengan rata-rata 70,7 diketahui
adalah sebagai berikut. 32% siswa tuntas; (b) pres-tasi belajar
1. Dimulai dengan pertanyaan yang afektif diketahui 91% siswa mempunyai
esensial prestasi belajara afektif sangat baik dan
2. Perencanaan aturan pengerjaan baik; (c) prestasi belajar psikomotor
projek diketahui 94% siswa tuntas.
3. Memonitoring perkembangan projek
siswa Perbandingan Kualitas Proses dan
4. Mendiskusikan hasil kerja siswa Kualitas Hasil Selama Pembelajaran.
5. Penilaian hasil kerja siswa Kualitas proses pembelajaran dilihat
6. Evaluasi pengalaman belajar siswa dari aktivitas siswa diperoleh hasil selama
pembelajaran dan setiap pertemuan
Diketahui dari langkah-langkah diketahui 74% siswa mem-punyai
pembelajaran model PjBL, siswa lebih aktivitas tinggi.Hasil ini sesuai dengan
banyak berperan dibandingkan guru. teori kognitif, belajar menunjukkan
Guru dalam hal ini berperan sebagai adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa
fasilitator dan motivator siswa sehingga mengolah informasi yang kita terima,
pembelajaran didominasi oleh aktivitas tidak sekadar menyimpannya saja tanpa
siswa dalam membangun atau mene- mengadakan transformasi. Menurut teori
mukan pengetahuan melalui proses ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif,
ilmiah seperti mengamati, menanya, dan mampu merencanakan sesuatu.
menerapkan, mengolah data, melakukan Anak mampu untuk mencari,
percobaan, melaporkan hasil, dan meru- menemukan, dan menggunakan
muskan kesimpulan dengan proses yang pengetahuan yang telah diperolehnya.
lebih menyenangkan Dalam proses belajar–mengajar anak
Selama tindakan dilakukan obser- mampu mengidentifikasi, merumuskan
vasi aktivitas, afektif, dan psikomotor masalah, mencari dan maenemukan
siswa. Pada akhir tindakan dilakukan tes fakta, menganalisis, menafsirkan, dan
ranah kognitif dan non tes angket ranah menarik kesimpulan [12]. Hasil penilaian
afektif dan angket balikan siswa. aktivitas siswa ditunjukkan pada Gambar
Berdasarkan observasi, tes dan angket 1 dan 2 berikut.

Copyright © 2014 11
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

mengulangi materi post test. Belum


80% 70% 69% 71% 71%
60% 64% terbiasanya siswa dengan adanya post
70% 56%
Persentase

60% 42% test menjadi alasan siswa kurang bisa


50% 36% 34% mengerjakan post test.
40% 26% 25%
30% 21% 21%
20% 10% 7%
4% 4% 2% 2% 4% 100% 82%
10%
0% 80% 65% 60%

Persentase
60%
40% 26% 26%
10%
20% 3% 0%
0%
Jenis Aktivitas I II III IV
Pertemuan
Tinggi Sedang Rendah
Post Test Tes Kognitif

Gambar 1. Histogram Hasil Aktivitas Sis- Gambar 3. Histogram Perbandingan


wa Selama Pembelajaran Ketuntasan Antara Post Test
dengan Tes Kognitif

79% 76% Ketuntasan siswa juga semakin


80% menurun pada pertemuan II, III, maupun
56% 59%
60% IV. Hal ini dapat disebabkan karena
41% 41% kemampuan matematis siswa kurang
Persentase

Tinggi
40%
21% Sedang berdasarkan hasil pekerjaan tes kognitif,
18%
20% Rendah sedangkan pertemuan II dan III yang
3% 3% 3% 0% membutuhkan kemampuan matematis
0%
I II III IV
pada materi konsep pH dan
Pertemuan kesetimbangan asam dan basa.
Sebagian besar siswa kelas XI IPA
Gambar 2. Histogram Hasil Akhir 1 yang mempunyai aktivitas tinggi selaras
Penilaian Aktivitas Siswa tiap dengan nilai tes kognitif siswa yang lebih
Pertemuan tinggi dibandingkan dengan siswa yang
mempunyai aktivitas rendah.. Nilai
Lebih dari 50% siswa telah prestasi belajar kognitif siswa dengan
mempunyai aktivitas belajar tinggi sesuai model PjBL juga mempunyai rata-rata
dengan belajar menunjukkan adanya jiwa lebih tinggi dari pada siswa kelas lain
yang sangat aktif, jiwa mengolah dengan model ceramah membuktikan
informasi yang kita terima, tidak sekadar beberapa teori belajar seperti teori belajar
menyimpannya saja tanpa mengadakan Bruner (belajar penemuan), teori belajar
transformasi. Ausubel (belajar bermakna), dan Teori
Pada ranah kognitif siswa, diketahui Piaget. Pembelajaran dengan model PjBL
perbandingan ketuntasan tiap pertemuan membuat siswa mencoba menemukan
antara post test dengan tes kognitif sendiri konsep atau maksud dari materi
ditunjukkan pada Gambar 3. Diketahui yang diajarkan, karena dalam
ketuntasan siswa pada post test lebih pembelajaran guru tidak menyampaikan
rendah dibandingkan dengan tes kognitif. materi secara langsung. Usaha siswa
Hal tersebut dapat dise-babkan waktu dalam menemukan pemahaman materi
pembelajaran model PjBL yaitu 3 x 45 sendiri ini membuat belajar menjadi lebih
menit mengakibatkan post test tidak bisa bermakna dan materi bisa disimpan lebih
langsung dilaksanakan setelah lama. Hal ini juga membuktikan, bahwa
pembelajaran. Sebagian besar siswa siswa SMA bisa memaksimalkan ke-
mungkin kurang bisa mengingat materi mampuan kognitif yang dimilikinya.
yang telah diajarkan. Selain itu Penilaian ranah afektif berasal dari
berdasarkan hasil wawancara diketahui dua penilaian yaitu penilaian yaitu angket
siswa kurang bersemangat untuk dan observasi dengan hasil ditunjukkan

Copyright © 2014 12
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

pada Gambar 4 dan Gambar 5. nilai kegiatan praktik lebih rendah


Berdasarkan hasil angket dan observasi dibandingkan nilai kegiatan praktik pada
afektif, diketahui sebagian besar atau pertemuan I. Hal ini dapat dikarenakan,
lebih dari 50% siswa kelas XI IPA 1 siswa kelas XI IPA 1 mengerjakan tugas
mempunyai prestasi belajar afektif sangat mata pelajaran lain sebelum pembe-
baik dan baik. lajaran kimia yang harus dikumpulkan
pada hari itu juga, sehingga konsentrasi
60%
51% siswa berkurang. Pada pertemuan III, nilai
38% 41% 35% kegiatan praktik siswa kembali tinggi
40% 27% mendekati nilai pada pertemuan I.
20% 6% 100%
0% 0% 100% 85%
79%
0%
80%
Sangat Baik Kurang Kurang

Persentase
Baik Sekali 60%

Angket Observasi 40% 21%


15%
20% 0% 0% 0% 0%
Gambar 4. Histogram Angket Afektif dan
0%
Observasi Afektif Materi I II III
Pokok Larutan Asam dan Pertemuan
Basa
Tinggi Sedang Rendah
85%
100% Gambar 6. Histogram Hasil kegiatan
80% Praktik Selama Pembelajaran
60%
40% 6% 9% Materi Pokok Larutan Asam
0%
20% dan Basa
0%
71%
Sangat Baik Kurang Kurang 80%
Baik Sekali 70%
60%
Gambar 5. Grafik Prestasi Belajar Afektif 50%
Siswa Materi Pokok Larutan 40%
18%
30%
Asam dan Basa 20%
9%
0%
10%
Hasil penilaian prestasi belajar 0%
Sangat Baik Kurang Sangat
afektif pada pembelajaran model PjBL ini Baik Kurang
sesuai dengan teori belajar Vygotsky Gambar 7. Grafik Nilai Portofolio Materi
(konstruktivisme sosial) yang menyebut- Pokok Larutan Asam dan
kan proses pembelajaran siswa dengan Basa
keterampilan dan latar belakang yang
berbeda diakomodasi untuk melakukan Berdasarkan Gambar 7 diketahui
kolaborasi dalam penyelesaian tugas dan bahwa sebagian besar siswa kelas XI IPA
diskusi–diskusi agar mencapai 1 mempunyai nilai portofolio sangat baik.
pemahaman yang sama tentang materi. Pada saat dilakukan penilaian LKS,
Pada prestasi belajar psikomotor diketahui bahwa ada beberapa siswa
diperoleh dari nilai observasi kegiatan yang mempunyai nilai kognitif dibawah
praktik, portofolio, dan projek yang nilai KKM namun bisa mendapatkan nilai
disajikan pada Gambar 6. Diketahui portofolio seperti siswa yang mempunyai
sebagian besar siswa mempunyai kri-teria nilai kognitif diatas nilai KKM. Hal ini bisa
tinggi pada pertemuan I untuk se-tiap disebabkan adanya kerjasama antar
kegiatan. Dari hasil wawancara dan anggota dalam satu kelompok seperti
observasi diketahui siswa belum pernah siswa yang sudah memahami materi bisa
melaksanakan projek dalam pembela- membantu siswa yang belum paham,
jaran, dari hasil observasi dan wawan- sehingga portofolio siswa dalam satu
cara tersebut diketahui merasa senang kelompok memiliki banyak kesamaan
dan tertarik terhadap kegiatan pembe- dalam hal jawaban maupun nilai siswa.
lajaran, sedangkan pada pertemuan II Hal seperti itu menjadi kelemahan dalam

Copyright © 2014 13
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

penilaian portofolio yang dikerjakan Angket balikan yang diberikan


secara berkelompok. kepada siswa ditujukan untuk menge-
Sebagian besar siswa kelas XI IPA tahui respon siswa selain didukung pula
1 mengerjakan ketiga projek dengan dengan hasil wawancara terhadap
sangat baik dari projek I sampai III. Hasil pembelajaran model PjBL. Hasil angket
tersebut selaras dengan hasil observasi balikan siswa ditunjukkan pada Gambar 9
aktivitas siswa di mana sebagian besar berikut.
siswa mempunyai aktivitas tinggi. Siswa 47%
38%
dengan aktivitas tinggi akan lebih 50%
40%
bersemangat mengerjakan projek dan 30% 15%
mempunyai motivasi yang tinggi untuk 20% 0%
menyelesaikan projek. Dari hasil ini pula 10%
0%
dapat diketahui siswa merasa senang dan Sangat Setuju Tidak Sangat
tertarik dalam mengerjakan projek selama Setuju Setuju Tidak
pembelajaran. Setuju

100% Gambar 9. Grafik Angket Balikan Siswa


100% 85%

80% 68%
Diketahui berdasarkan hasil angket
60%
balikan dan wawancara bahwa siswa
29%
40%
15%
setuju adanya penerapan model Model
20%
0%0% 3% 0% 0%0% 0% PjBL hanya untuk beberapa materi pokok
0% kimia yang sesuai dengan model PjBL.
Sangat Baik Kurang Kurang
Baik Sekali
Meskipun begitu, dalam penerapan model
Proyek I Proyek II Proyek III PjBL masih ditemui beberapa hambatan
seperti pada penelitian Kubiatko [13]
yang menyimpulkan bahwa model PjBL
Gambar 8. Histogram Hasil Projek Siswa yang efeknya berjangka panjang, tetapi
Selama Pembelajaran Materi masih sulit diterapkan di sekolah dasar
Pokok Larutan Asam dan maupun menengah. Oleh karena itu, dari
Basa penelitian ini diberikan beberapa saran
bagi peneliti selanjutnya untuk
Berdasarkan hasil penilaian meminimalisir hambatan yang terjadi.
kegiatan praktik, portofolio, dan projek Hasil penelitian ini sesuai dengan
diperoleh persentase ketuntasan siswa hasil penelitian Bas [7] yang membuk-
pada prestasi belajar psikomotor adalah tikan bahwa siswa yang dididik dengan
94%. Hasil penilaian prestasi belajar model PjBL lebih sukses dan mem-punyai
psikomotor tersebut menunjukkan bahwa sikap yang lebih tinggi terhadap pelajaran
proses pembelajaran dengan model PjBL dibandingkan dengan siswa yang dididik
membuat siswa aktif. Berdasarkan hasil dengan instruksi berda-sarkan buku
wawancara diketahui bahwa siswa tertarik panduan siswa serta pada penelitian
dengan pembelajaran model PjBL karena Warsito [14] menunjukkan bahwa setelah
dalam pembelajaran ini siswa merasa diterapkan model PjBL, tingkat aktivitas
lebih mudah mengaitkan antara konsep belajar siswa dan academic skill dalam
materi yang bersifat teoritis dengan pembelajaran fisika di kelas mengalami
praktik melalui kegiatan projek. Sesuai peningkatan. Penelitian Mahanal [15]
dengan teori belajar Bruner dan Ausubel, menunjukkan terdapat pengaruh PjBL
kegiatan projek ini merupakan salah satu terhadap prestasi belajar kognitif dan
langkah dalam menemukan konsep- sikap siswa terhadap ekosistem sungai.
konsep materi sehingga membuat belajar Siswa dengan PjBL mempunyai sikap
lebih bermakna, karena akhirnya siswa yang lebih tinggi 11,65% dari siswa pada
mengetahui kesesuaian antara teori umumnya. Selain itu, siswa dengan PjBL
dengan praktik yang dapat memberikan mempunyai prestasi belajar 81,05% lebih
pengalaman belajar kepada siswa. tinggi dibandingkan dengan siswa pada
umumnya.

Copyright © 2014 14
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR RUJUKAN


Berdasarkan hasil penelitian yang [1] Idi, A, 2007, Pengembangan
telah dilakukan disimpulkan bahwa Kurikulum Teori dan Praktik,
penerapan model PjBL dilihat dari, (1) Yogyakarta : Ar Ruzz Media,
kualitas proses yaitu aktivitas siswa tinggi hlm.205-206.
74%, sedang 26%, dan rendah 0%; (2)
kualitas hasil ditinjau dari, (a) prestasi [2] Mulyasa,E, 2009, KTSP : Sebuah
belajar kognitif dengan rata-rata 70,7 Panduan Praktis, Bandung : PT
diketahui 32% siswa tuntas dan 68% Remaja Rosdakarya, hlm.19-20.
siswa belum tuntas dengan rincian 29%
siswa rentang nilai 63-72, 47% siswa [3] Setyanto, B.N., Agusalim, Rama
rentang nilai 73-82, 6% siswa rentang H.P., & Agus L, 2007, Makalah
nilai 83-92; (b) prestasi belajar afektif Mengapa KTSP Sulit Diterapkan di
diketahui 6% siswa mempunyai prestasi Indonesia, Diperoleh , dari
belajar afektif sangat baik, 85% siswa blog.tp.ac.id/wp-
baik, 9% siswa kurang, dan 0% siswa content/uploads/1420/download-
kurang sekali; (c) kualitas hasil yaitu ktsp-sulit-dilaksanakan.doc., hlm.9
prestasi belajar psikomotor diketahui 94%
siswa tuntas dan 6% siswa belum tuntas. [4] Kemendikbud, 2013, Lampiran IV
Berdasarkan hasil penelitian ini, Pedoman Umum Pembelajaran
dapat dikemukakan beberapa saran yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Dan
dalam menyampaikan materi-materi kimia Kebudayaan Republik Indonesia
yang menggunakan model PjBL, guru Nomor 81A Tahun 2013 Tentang
hendaknya dapat mempersiapkan materi Implementasi Kurikulum, Jakarta.
ataupun media dengan baik serta
mempertimbangkan alokasi waktu yang [5] Sagala, S. 2010, Konsep dan
dibutuhkan. Diperlukan pula latihan soal Makna Pembelajaran, Bandung :
yang dapat mengembangkan kemam- Penerbit Alfabeta, hlm.196.
puan matematis siswa yang dapat
dijadikan sebagai tugas sehingga siswa [6] Sukmadinata, N, 2009, Metode
memberikan respon baik terhadap guru Penelitian Pendidikan. Bandung :
dalam menyajikan materi dan mem- PT Remaja Rosdakarya, hlm. 96.
peroleh kualitas proses dan hasil secara
maksimal. Bagi Peneliti lain yang ingin [7] Bas, Gokhan dan Omer Beyhan.
melakukan penelitian sejenis sedapat 2012, Effects Of Multiple
mungkin terlebih dahulu menganalisis Intelligences Supported Project-
kembali perangkat pembelajaran yang Based Learning On Student’s
telah dibuat untuk disesuaikan penggu- Achievement Levels And Attitudes
naannya, terutama dalam hal alokasi Towards English Lesson,
waktu, fasilitas pendukung, dan karak- International Electronic Journal of
teristik siswa yang ada pada sekolah Elementary Education, Volume 2
tempat penelitian tersebut. issue 3, Diperoleh 25 November
2013, dari http://www.iejee.com.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini dapat selesai dengan [8] Gregory, R.J, 2007. Psychological
baik karena bantuan dari berbagai pihak. Testing Histor. Principles, and
Oleh karena itu penulis mengucapkan Applications, United States of
terima kasih kepada kepala SMA Negeri 2 America.
Karanganyar, Bapak Drs. Bambang
Sugeng Maladi, M.M atas izin yang [9] Sudijono, A, 2005 Pengantar
diberikan, Ibu Sri Padmini, S.Pd., M.Pd evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT
selaku guru kimia yang telah banyak RajaGrafindo Persada, hlm.95.
membantu dalam penelitian serta siswa
kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 [10] Depdiknas, 2009, Analisis Butir
Karanganyar tahun ajaran 2013/2014. Soal, Jakarta : Direktorat

Copyright © 2014 15
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 3 No. 4 Tahun 2014 Hal. 7-16

Pembinaan Sekolah Menengah


Umum.

[11] Sugiyono, 2010, Metode Penelitian


Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, R & D. Bandung :
Penerbit Alfabeta, hlm.362.

[12] Dimyati dan Mudjiono. (2010).


Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :
PT Rineka Cipta, hlm.44.

[13] Kubiatko, Milan dan Ivana


Vaculova, 2011, Project-based
learning:characteristic and the
experiences with application in the
science subjects. Energy Education
Science and Technology Part
B:Social and Educational Studies,
Volume 3 issue 1 : 65-74, Diperoleh
25 November 2013, dari
www.kubiatko.eu.

[14] Warsito, 2008, Pembelajaran Sains


Berbasis Projek Project Based
Learning sebagai Usaha Untuk
Meningkatkan Aktivitas dan
Academic Skill Siswa Kelas VII C
SMP Muhammadiyah 3 Depok,
Skripsi, Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Diperoleh 25 November 2013, dari
http://digilib.uin.suka.ac.id.

[15] Mahanal, Susriyati, Ericka., A.D.


Corebima, Siti Z., 2009, Pengaruh
Pembelajaran Project Based
learning (PjBL) pada Materi
Ekosistem terhadap Sikap dan Hasil
Belajar Siswa SMA Negeri 2
Malang, Skripsi, Universitas Negeri
Malang, Malang, Diperoleh 25
November 2013, dari
www.ummetro.ac.id.

Copyright © 2014 16