Anda di halaman 1dari 11

EVALUASI RASIO PANJANG USUS DENGAN PANJANG

TUBUH IKAN

Oleh:
Nama : Finna Fernanda Hapsari
NIM : B1A015122
Rombongan :I
Kelompok :4
Asisten : Annisa Fitri Larassagita

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang

Pisces merupakan anggota vertebrata yang memiliki jumlah terbanyak


baik dari segi kelimpahan, distribusi maupun keanekaragamannya. Setiap ikan
memiliki organ dan sistem organ yang spesifik. Sistem tersebut antara lain
sistem pencernaan, reproduksi, urogenital dan sistem respirasi. Jenis makanan
ikan sangat bervariasi mulai dari pemakan hewani, pemakan nabati ataupun
keduanya. Perbedaan ini dapat menjadi salah satu alat untuk membedakan
spesies tertentu dari spesies lainnya (Susanto, 2005).
Ikan jenis omnivora memiliki perbedaan sistem anatomi dengan ikan-
ikan jenis herbivora dan karnivora. Perbedaan itu antara lain terletak pada
bentuk gigi, panjang usus, dan bentuk mulut (Fujaya, 2004). Analisis histologis
sistem pencernaan merupakan indikator yang baik untuk status gizi ikan. Usus
dan hati adalah organ terpenting dalam pencernaan dan penyerapan nutrisi dari
makanan, oleh karena itu pemantauan organ ini dianggap perlu (Rašković et al.,
2011). Ikan omnivora memiliki usus sedang, sedangkan karnivora memiliki usus
yang pendek, dan ikan herbivora memiliki usus yang sangat panjang (Fujaya,
1999).
Menurut Effendie (1979), berdasarkan makanannya ikan dapat dibedakan
menjadi pemakan plankton, pemakan tanaman, pemakan dasar, pemakan
detritus, ikan buas dan ikan pemakan segala. Upaya untuk mengetahui
perbedaan tersebut dapat dipelajari baik anatomi, morfologi, fungsi, sifat
maupun ukuran organ dari tiap ikan yang diamati. Ciri spesifik yang dimiliki
masing-masing organ pada tiap spesies dapat menjadi suatu alat untuk
mengidentifikasi suatu jenis ikan. Oleh sebab itu, studi mengenai ikan sangat
dibutuhkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan sektor perikanan itu
sendiri.

I.2 Tujuan
Tujuan praktikum.kali ini adalah untuk mengevaluasi rasio panjang usus
dengan panjang tubuh untuk dapat memprediksi kategori makan ikan.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan lele (Clarias
gariepinus), nilem (Osteochillus vittatus), tawes (Barbonymus gonionotus), nila
(Oreochromis niloticus), bawal (Colossoma macropomum), dan belut
(Monopterus albus).
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat bedah, milimeter
block, tissue, dan bak plastik.

2.2 Cara Kerja

1. Panjang total ikan diukur menggunakan milimeter block.


2. Ikan dibedah dengan hati-hati menggunakan gunting bedah mulai dari bagian
ventral depan.
3. Sistem pencernaan ikan dikeluarkan dan dengan hati-hati saluran pencernaan
ikan diurai.
4. Panjang usus ikan diukur menggunakan milimeter block, dimulai dari
pangkal depan lambung hingga ujung anus.
5. Rasio panjang usus dengan panjang total tubuh dihitung.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Tabel 3.1.1 Rasio Panjang Usus dengan Panjang Tubuh Ikan Bawal
Panjang Panjang Rasio Rasio
Panjang
Tubuh Usus
No Usus
Total +Lambung
(cm)
(cm) (cm) (cm) (cm)
1 16,5 31,5 35 2,12 2,11
2 17,4 21 23,5 1,35 1,2
3 14 18,5 21 1,5 1,32
Jumlah 4,97 4,63
Rerata 1,66 1,54
Kategori Omnivora

Tabel 3.1.2 Rasio Panjang Usus dengan Panjang Tubuh Belut


Panjang Panjang Rasio Rasio
Panjang
Tubuh Usus
No Usus
Total +Lambung
(cm)
(cm) (cm) (cm) (cm)
1 28 - 13 0,46 -
2 29,5 - 15 0,5 -
3 26,9 - 15 0,5 -
Jumlah 1,46 -
Rerata 0,49 -
Kategori Karnivora

Perhitungan panjang usus dari ujung lambung hingga anus

Ujung lambung-anus =
Ujung lambung-anus =

Ikan bawal 1 = 35/16,5 = 2,12


Ikan bawal 2 = 23,5/17,4 = 1,35
Ikan bawal 3 = 21/14 = 1,5
Belut 1 = 13/28 = 0,46
Belut 2 = 15/29,5 = 0,5
Belut 3 = 15/26,9 = 0,5
Perhitungan panjang usus dari ujung usus hingga anus

Ujung
Ujungusus-anus
usus-anus
Ikan bawal 1 = 31,5/16,5 = 2,11
Ikan bawal 2 = 21/17,4 = 1,2
Ikan bawal 3 = 18,5/14 = 1,32
Gambar 3.1.1 Rasio Panjang Usus Ikan Bawal 1

Gambar 3.1.2 Rasio Panjang Usus Ikan Bawal 2

Gambar 3.1.3 Rasio Panjang Usus Ikan Bawal 3

Gambar 3.1.4 Rasio Panjang Usus Belut 1


Gambar 3.1.5 Rasio Panjang Usus Belut 2

Gambar 3.1.6 Rasio Panjang Usus Belut 3


3.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum, dilakukan pengukuran panjang usus total


dengan cara mengukur saluran pencernaan ikan dimulai dari pangkal depan
lambung hingga ujung anus. Hasil rata-rata rasio panjang keseluruhan saluran
pencernaan:panjang tubuh pada ikan bawal adalah 1,66. Berdasarkan nilai rata-
rata rasio panjang usus dengan panjang tubuh ikan diketahui ikan mujair
termasuk ke dalam ikan omnivora. Hasil ini sesuai dengan pustaka, menurut
Situmorang et al. (2013), yakni ikan yang memiliki struktur anatomis panjang
usus lebih panjang dibanding panjang tubuh adalah jenis ikan omnivora. Hal ini
juga ditunjukkan dari hasil pengamatan yang dilakukan Situmorang et al. (2013)
terhadap usus ikan keperas.
Berdasarkan hasil praktikum, diketahui nilai rata-rata rasio panjang usus
dengan panjang tubuh belut adalah 0,49. Berdasarkan hasil praktikum diketahui
ikan belut termasuk kedalam jenis ikan karnivora. Hal ini dikarenakan nilai rasio
panjang usus dengan panjang tubuh, ikan karnivora memiliki nilai kurang dari 1.
Hasil ini sesuai dengan pustaka, menurut Affandi (1993), bahwa kondisi usus
yang pendek dan komponen pakannya yang sebagian besar terdiri dari hewan
menunjukkan bahwa ikan tersebut bersifat karnivora. Hal ini sesuai dengan
pendapat Kapoor et al. (1975) yang menyatakan bahwa ikan-ikan karnivora
dicirikan dengan panjang ususnya yang relatif pendek.
Sistem pencernaan atau digesti pada ikan terdiri atas saluran pencernaan
(tractus digestivus) dan kelenjar pencernaan (glandula digestoria). Saluran
pencernaan terdiri dari mulut, rongga mulut, faring, esofagus, lambung, pilorus,
usus, rektum, dan anus. Kelenjar pencernaan pada ikan dapat salah satunya
terdiri atas hepatopankreas, yang berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan
yang membantu proses digesti (Zaldi, 2010). Menurut Zeng et al., (2012),
aktivitas enzim pencernaan mencerminkan karakteristik pencernaan dari ikan,
dan memiliki pengaruh pada kemampuan untuk mencerna dan menyerap
makanan agar mendapat energi yang diperlukan. Ikan menggunakan enzim
pencernaan secara efisien untuk mendapatkan nutrisi dan energi di saluran
pencernaan. Beberapa enzim pencernaan seperti tripsin dan lipase terutama
disekresikan dari pankreas sebagai zymogens dan fungsional diaktifkan di
saluran pencernaan. Menurut Megawati et al. (2012), faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi daya cerna pakan salah satunya adalah perbedaan spesifik sistem
pencernaan pada ikan yang dapat menyebabkan perbedaan kemampuan ikan
dalam mencerna pakan.
Menurut Effendie (1979), berdasarkan makanannya ikan dapat dibedakan
menjadi pemakan plankton, pemakan tanaman, pemakan dasar, pemakan
detritus, ikan buas dan ikan pemakan segala. Berdasarkan jumlah variasi dari
macam-macam makanan, ikan dibedakan menjadi euryphagic yaitu ikan
pemakan bermacam-macam ikan, stenophagic yaitu ikan pakan makanan yang
macamnya sedikit, dan monophagic yaitu ikan yang makannya hanya terdiri
dari satu macam saja. Sedangkan menurut Susanto (1995), berdasarkan jenis
pakannya, ikan dibagi menjadi ikan herbivora, ikan karnivora dan ikan
omnivora.
Terdapat keterkaitan antara ukuran ikan, rasio panjang usus dan panjang
total tubuh dan komposisi makanannya. Ikan herbivora, umumnya memiliki usus
yang panjangnya 4-10 kali panjang badannya. Ikan predator memiliki panjang
usus yang lebih pendek atau sama panjang dengan badannya (Susanto, 1995).
Menurut Edmonson (1963), ikan omnivora memiliki lambung yang menyerupai
bentuk kantung dan usus sedang dengan ukuran 5 sampai 6 kali panjang tubuh.
Ikan herbivora merupakan ikan yang memakan bahan tumbuhan yang
hidup di air atau di dalam lumpur, seperti alga, hifa jamur atau alga biru. Ikan
herbivora tidak memiliki gigi dan tapis insang yang lembut sehingga dapat
menyaring fitoplankton. Ikan herbivora juga tidak mempunyai lambung yang
sejati. Lambungnya merupakan bagian usus yang mempunyai jaringan otot yang
kuat, mengekskresi asam, mudah mengembang, dan terdapat di bagian muka alat
pencerna makanannya. Bentuk usus ikan herbivora ini panjang berliku-liku dan
dindingnya tipis (Susanto, 1995).
Ikan karnivora memiliki saluran pencernaan yang lebih pendek dari
saluran ikan herbivora. Hal ini dikarenakan daging yang dimakan memiliki
dinding sel tipis berupa selaput sehingga lebih mudah dicerna. Saluran
pencernaan pada ikan karnivora hanya sepanjang tubuh saja atau bahkan ada
pula yang lebih pendek dari panjang tubuhnya. Sedangkan, pada ikan herbivora
dapat mencapai tiga kali panjang tubuhnya. Lambung ikan karnivora membesar
dan berdinding tebal yang kuat mirip dengan ampel pada ayam (Gerking, 1994).
Ikan omnivora merupakan golongan ikan yang memakan bahan makanan
yang berasal dari binatang dan tumbuhan. Ikan omnivora mempunyai sistem
pencernaan antara bentuk herbivora dan karnivora. Menentukan jenis makanan
ikan tertentu secara langsung tidaklah mudah, karena usus ikan kadang-kadang
kosong. Namun, pengamatan terhadap panjang usus dan hubungannya dengan
panjang badan dapat membantu untuk mengetahui jenis bahan makanan yang
dimakannya. Ikan herbivora, umumnya memiliki usus yang panjangnya 4-10
kali panjang badannya. Ikan predator memiliki panjang usus yang lebih pendek
atau sama panjang dengan badannya (Susanto, 1995).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa ikan bawal


memiliki rasio panjang usus dengan panjang tubuh sebesar 1,66 sehingga dapat
digolongkan sebagai omnivora dan belut memiliki rasio panjang usus dengan
panjang tubuh sebesar 0,49 sehingga dapat digolongkan sebagai karnivora.
DAFTAR REFERENSI

Affandi, R. 1993. Studi Kebiasaan Makanan Ikan Gurame (Osphronemus gouramy).


Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, 1(2):56-67.

Edmonson, W. T. 1963. Freshwater Biology Second Edition. New York: John Wiley
and Sons, Inc.

Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan Edisi 1. Bogor: Yayasan Dewi Sri.

Fujaya, Y. 1999. Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Jakarta: Rineka Cipta.

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Jakarta:


PT Rineka Cipta.

Gerking, S. D. 1994. Feeding Ecology of Fish. San Diego: Academic Press.

Kapoor, B. G., Smit, H. & Verighina, E. A. 1975. The Alimentary Canal Digestion in
Teleost. Ad. Mar. Biol., 13:109-211.

Megawati, R. A., Arief, M. & Alamsjah, M. A. 2012. Pemberian Pakan dengan Kadar
Serat Kasar yang Berbeda terhadap Daya Cerna Pakan pada Ikan Berlambung
dan Ikan Tidak Berlambung. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 4(2):187-
192.

Rašković, B. S., Stanković, M. B., Marković, Z. Z. & Poleksić, V. D. 2011.


Histological methods in the assessment of different feed effects on liver and
intestine of fish. Journal of Agricultural Sciences, 56(1):87-100.

Situmorang, T. S., Barus, T. A. & Wahyuningsih, H. 2013. Studi Komparasi Jenis


Makanan Ikan Keperas (Puntius binotatus) di Sungai Aek Pahu Tombak, Aek
Pahu Hutamosu dan Sungan Parbotikan Kecamatan Batang Toru Tapanuli
Selatan. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 5:48-58.
Susanto, H. 1995. Budidaya Ikan di Pekarangan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Zaldi. 2010. Sistem Pencernaan. Bogor: IPB Fakultas Perikanan.


Zeng, L. Q., Li, F. J., Li, X. M., Cao, Z. D., Fu, S. J. & Zhang, Y. G. 2012. The
Effects of Starvation on Digestive Tract Function and Structure in Juvenile
Souther Catfish (Silurus meridinalis Chen). Comparative Biochemistry and
Physiology, 162:200-211.