Anda di halaman 1dari 15

Versi online:

Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

PENERAPAN FAMILY-CENTER NURSING THEORY PADA KASUS KELUARGA


DENGAN BALITA SULIT MAKAN (STUDI KASUS)

Applying Family-Center Nursing Theory At Family Case With Children Under Five
Years Old Eating Disorders (Case Study)

Yoyok Bekti Prasetyo

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Bendungan Sutami 188A Malang 65145
e-mail: yybekti_pras@yahoo.com

ABSTRAK

Masalah sulit makan merupakan masalah yang umum terjadi pada anak usia prasekolah. Struktur peran
anggota keluarga terutama ibu sangat berpengaruh terhadap gangguan sulit makan pada anak. Tujuan studi
kasus untuk mengetahui diagnosa keperawatan keluarga, mengidentikasi tindakan keperawatan, melakukan
evaluasi pada kasus keluarga dengan balita sulit makan. Metode yang digunakan dengan pendekatan
asuhan keperawatan keluarga meliputi tahapan yaitu pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Hasil berupa diagnosa keperawatan yang dapat diidentifikasi ada dua yaitu: kurang pengetahuan dan resiko
gangguan nutrisi. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah aplikasi terapi modalitas (terapi
perilaku, food combining), konseling dan choaching. Kesimpulan dan saran meliputi strategi intervensi
meliputi penerapan terapi modalitas (food combining), terapi perilaku, konseling dan (coaching),
pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kompetensi komunitas, membangun koalisi untuk mencapai
tujuan yang diinginkan dengan berbagai pihak yang potensial. Penerapan terapi modalitas food combining
pada agregat balita sulit makan memerlukan modifikasi dan kombinasi dengan terapi modalitas perubahan
perilaku. Pemberian menu seimbangan dan modifikasi perilaku yang maladaptif menjadi perliku adaptif akan
menciptakan suatu terapi yang handal untuk mengatasi masalah sulit makan pada agregat balita.

Kata kunci: gangguan sulit makan, asuhan keperawatan keluarga

ABSTRACT
Difficult problem eat is common problem happened at age child of prasekolah. Structure role of
family member especially mother very have an effect on to difficult trouble eat at child. Target of case study
to know diagnosa treatment of family, treatment action mengidentikasi, evaluate at family case with
difficult balita eat. Used method with approach of upbringing treatment of family cover step that is study,
planning, execution, and evaluation. Result of in the form of diagnosa treatment of which can identified
by there is two that is: less and trouble risk of nutrisi. Action treatment of which can conducted by is
therapy application of modalitas (behavioral therapy, combining food), and konseling of choaching.
Conclusion and suggestion cover intervention strategy cover applying of therapy of modalitas (combining
food), behavioral therapy, and konseling ( coaching), enableness of society to reach community interest,
developing coalition to reach wanted target by various potential side. Applying of therapy of modalitas
combining food at aggregate of balita difficult eat to need combination and modification with therapy of
modalitas change of behavior. Gift of well-balanced menu and behavioral modification which is maladaptif
become my innuendo of adaptif will create an reliable therapy to overcome difficult problem eat at
aggregate of balita.

Keywords: eating disorder, family-center nursing

LATAR BELAKANG disebabkan oleh banyak faktor di antaranya


karena adanya inter aksi antara faktor
Masalah sulit makan merupakan keluarga, sosial, dan psikologi (Judarwanto,
masalah yang umum terjadi pada anak usia 2004). Faktor keluarga dalam hal ini terkait
prasekolah. Gangguan sulit makan pada anak dengan struktur peran. Struktur peran

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 207
Yoyok Bekti Prasetyo JURNAL KEPERAWATAN, ISSN: 2086-3071

anggota keluarga terutama ibu sangat berakibat terganggunya pertumbuhan sel-sel


berpengaruh terhadap gangguan sulit makan otak baru atau mielinasi sel otak terutama di
pada anak. Keluarga yang memiliki kebiasaan bawah tiga tahun, sehingga sangat
enggan makan, maka anak akan mengalami berhubungan terhadap perkembangan mental
sulit makan. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah dan kecerdasan anak. Walter (2003, dalam
penelitian bahwa anak usia 5 tahun yang Judarwanto, 2004 & 2005) meneliti 825 anak
memiliki ibu dengan anoreksia makan, anak dengan malnutrisi berat ternyata mempunyai
akan memiliki insiden lebih besar mengalami kemampuan intelektual lebih rendah
depresi dan gangguan kesulitan makan dibandingkan anak yang mempunyai gizi
(Khomsan, 1998; Natenson, 2005). baik. Gangguan sulit makan pada anak akan
Insiden diperkirakan antara 16-75% berdampak pada dinamika perubahan
(Eppright et al, 1969; Minde & Mind, 1986 keluarga. Keluarga akan mengalami kesulitan
dalam Holden & MacDonald, 2000). untuk menjalankan tugas keluarga yaitu
Dilaporkan satu dari tiga anak prasekolah memenuhi kebutuhan anak. Selanjutnya
mengalami masalah makan dan setengahnya keluarga akan merasa cemas, perasaan tidak
menderita kekurangan gizi (Pikiran rakyat, berdaya, timbul konflik antar anggota keluarga
2005). Pada tahun 2003, sebanyak 27,5% yang akan memperberat gangguan sulit
anak-anak di Indonesia yang berusia di makan pada anak (Willgerodt & Killen, 2006).
bawah lima tahun menderita kekurangan gizi Menurut Friedman (1998); Friedman,
pada tingkat moderat sampai berat (Atmarita, Bowden dan Jones (2003); Neuman, (1982);
2005). Menurut Judarwanto (2005), kesulitan Fawcett, (2002) (dalam Allender & Spradley,
makan dialami oleh sekitar 25% pada usia 2005) mengatakan bahwa individu
anak. Jumlah tersebut akan meningkat sekitar merupakan sistem terbuka yang secara
40-70% pada anak yang lahir premature atau konstan dan timbal balik berinteraksi dengan
dengan penyakit kronik. Hasil penelitiannya lingkungan. Lingkungan keluarga yang tidak
menemukan bahwa pada anak prasekolah 4- kohesif, banyak konflik dan kurang
6 tahun di Jakarta, prevalensi kesulitan mendukung, interaksi antar anggota keluarga
makan sebesar 33,6% dan sebagian besar yang kaku merupakan faktor yang
yaitu 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 berkontribusi terhadap gangguan sulit makan
bulan. Akibatnya anak menjadi kurang aktif, pada anak (Minuchin et al, 1978, dalam
tidak mampu berkonsentrasi, dan Holden & MacDonald, 2000;
pertumbuhan fisik yang tidak sesuai. Kirschenbaum,1986; Stren et al,1989;
Selanjutnya akan tumbuh menjadi manusia Laliberte et al,1999, dalam Allen, 2005).
remaja dan dewasa yang juga kekurangan gizi Menurut Allender dan Spradley (2005)
sehingga akan memperpanjang siklus dari mengatakan bahwa stresor dapat berasal dari
malnutrisi. lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan
Kesulitan makan pada anak merupakan internal pada agregat anak sulit makan
hal yang serius, mengingat dampaknya pada meliputi tingginya proporsi keluarga yang
individu, keluarga, dan masyarakat. Anak berpenghasilan rendah, perilaku makan yang
yang mengalami gangguan sulit makan tidak sehat, sedangkan lingkungan eksternal
beresiko terjadi gangguan terhadap tumbuh meliputi adanya krisis ekonomi, industri
kembang anak serta kemungkinan kualitas makanan yang memproduksi makanan tidak
hidup tidak normal. Stuart (1987, dalam sehat. Dampak secara luas dapat dilihat dari
Judarwanto, 2004) mengatakan bahwa indikator indeks pengembangan manusia
kekurangan zat gizi berupa vitamin, mineral, (IPM) Indonesia masih rendah yaitu berada
dan zat gizi lainnya mempengaruhi pada peringkat 112 dari 174 negara, lebih
metabolisme di otak sehingga mengganggu rendah dari negara-negar a tetangga.
pembentukan DNA di susunan saraf. Hal itu

208 Juli 2010: 207 - 221


Versi online:
Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

Rendahnya IPM ini sangat dipengaruhi oleh keluarga ini didasarkan pada: 1) keluarga ini
rendahnya status gizi dan status kesehatan adalah keluarga muda yang masih memiliki 1
penduduk. Lebih dari separuh kematian bayi orang anak, yaitu anak D dengan usia 21
dan anak balita disebabkan oleh buruknya bulan; 2) anak D selain mengalami sulit makan
status gizi anak balita (Azwar, 2005). juga didiagnosa menderita TBC dan sedang
Salah satu konsep solusi untuk menjalani pengobatan bulan ke-5; 3) keluarga
mengatasi masalah tersebut adalah membuat Ibu E tinggal dengan keluarga ayah dan ibu
kebijakan-kebijakan yang terkait dengan beserta keluarga saudara dari ibu E. Di antara
masalah sulit makan di negara maju yang anggota keluarga ini ada kebiasaan yang tidak
dapat diklasifikasikan menjadi kebijakan pada baik bagi kesehatan yaitu merokok; 4)
tataran penelitian, pendidikan dan keluarga ibu E termasuk dalam keluarga
pencegahan, serta penanganan (WHO, rawan gizi dengan pendapatan perkapita di
2006). Kebijakan-kebijakan dalam tataran bawah upah minimum regional.
penelitian meliputi identifikasi jumlah,
membentuk institusi pusat pelatihan, tindakan HASIL DAN PEMBAHASAN
penelitian, pencegahan dengan setting
sekolah, komunitas, dan rumah. Kebijakan Pengkajian
yang direkomendasikan untuk pendidikan,
pencegahan, dan penanganan meliputi Pengkajian Tahap Satu
pendidikan dan pelatihan untuk semua tenaga
kesehatan, pelatihan dan pendidikan untuk Data umum: anak D usia 21 bulan.
tenaga edukasi, pendidikan untuk publik, dan Pekerjaan kepala keluarga tidak tetap,
kerjasama. Kebijakan pemerintah dalam pendidikan bapak dan ibu adalah SMU dan
menangani masalah gizi antara lain melalui Perguruan Tinggi.
pemberian makanan tambahan dalam jaring Riwayat dan tahapan keluarga: ibu E
pengaman sosial (JPS) dan peningkatan mengatakan anaknya pada umur satu tahun
pelayanan gizi melalui pelatihan-pelatihan pernah sakit batuk, dan sering demam.
tatalaksana gizi buruk kepada tenaga Demam tidak turun-turun. Ibu E mengatakan
kesehatan, berhasil menurunkan angka gizi setelah obat habis maka akan muncul demam
buruk menjadi 10,1% pada tahun 1998 dan dan batuk. Hal ini terjadi hampir dalam waktu
8,1% tahun pada tahun 1999 serta 6,3% pada 4 bulan. Anak D mendapatkan pengobatan
tahun 2001. Namun pada tahun 2002 terjadi TBC dengan meminum obat selama 6 bulan.
peningkatan kembali menjadi 8%, hal ini Saat ini pengobatan sudah berjalan bulan ke-
disebabkan angka kemiskinan di Indonesia 5.
semakin meningkat (DepKes RI, 2003). Lingkungan: keluarga tinggal dengan
keluarga ayah dan ibu, keluarga saudara ibu
METODE E. Ada kebiasaan merokok dari anggota
keluarga yang lain. Lingkungan depan rumah
Metode yang digunakan adalah asuhan terdapat kandang ayam dan menurut
keperawatan keluar ga yang meliputi: keterangan ibu E tetangganya ada yang sakit
pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan batuk-batuk lama dan penderita putus obat
evaluasi. Pengkajian pada asuhan TBC.
keperawatan keluarga terdiri dari 2 (dua) Struktur keluarga: pola komunikasi baik,
tahap yaitu: penjajagan I dan penjajagan II. keputusan keluarga juga melibatkan anggota
Selanjutnya akan diuraikan secara singkat 2 keluarga yang lain seperti orang tua dari ibu
permasalahan dari 5 permasalahan yang E. Fungsi keluarga: ibu E menderita gastritis,
ditemukan pada keluarga ibu E. Pemilihan sangat perhatian terhadap kesehatan anak D.

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 209
Yoyok Bekti Prasetyo JURNAL KEPERAWATAN, ISSN: 2086-3071

Stres dan koping keluarga: ibu E dan Pada saat pengkajian nampak ibu dengan
ayah merasa pasrah, pusing, dan tidak tahu serius memperhatikan pola makan anaknya.
harus berbuat apalagi dengan permasalahan
sulit makan dan penyakit TBC yang diderita Diagnosa Keperawatan Keluarga
oleh anak.
Harapan keluarga: keluarga berharap Analisa data yang dilakukan dari hasil
dengan pengobatan yang rutin penyakit pada pengkajian tahap satu dan pengkajian tahap
anaknya bisa sembuh dan nafsu makan dua dirumuskan diagnosa keperawatan
anaknya meningkat. keluarga adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan fisik: tidak ada batuk dan • Kurang pengetahuan di keluarga bapak
dahak. Pemeriksaan penunjang yang I (37 tahun) berhubungan dengan
dilakukan oleh dokter adalah foto polos thorax ketidakmampuan keluarga merawat
yang hasilnya terjadi proses spesifik pada paru anggota keluarganya yang sedang sakit
anaknya. Pemeriksaan penunjang lain yang khususnya anak D (21 bulan) dengan
dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap TBC.
dan ditemukan LED meningkat. Tanda-tanda • Resiko tinggi terjadinya gangguan
vital pada anak D adalah nadi = 128 x/mnt, pemenuhan nutrisi kurang dari
pernapasan = 21 x/mnt, tekanan darah = 100/ kebutuhan tubuh pada anak D (21 bulan)
60 mmHg, berat badan = 11 kg (berat badan karena sulit makan di keluarga bapak I
normal = 9-13,7 kg), tinggi badan = 85 cm. berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga merawat anggota keluarganya
Pengkajian Tahap Dua yang sedang mengalami sulit makan
khususnya anak D.
Ibu E mengatakan tidak tahu tentang • Resiko terjadinya kekambuhan penyakit
pengertian, perawatan penyakit TBC. Ibu E kronis pada ibu E (34 tahun) di keluarga
mengatakan bahwa anaknya sakit pilek biasa. bapak I (37 tahun) berhubungan dengan
Ibu E menanyakan apakah sakit pilek itu sama ketidakmampuan keluarga merawat
dengan sakit TBC. Ibu E mengatakan anak anggota keluarganya yang memiliki
D yang masih balita mengalami sulit makan. riwayat penyakit maag khususnya pada
Ibu sudah berusaha untuk meningkatkan nafsu ibu E.
makan anaknya dengan cara memberikan • Resiko terjadi putus obat pengobatan
variasi menu makanan, mencoba untuk TBC pada anak D di keluarga bapak I
membujuk dan merayu anaknya untuk makan, berhubungan dengan ketidakmampuan
dan memberikan susu sebanyak-banyaknya. keluarga merawat anggota keluarga
Menurut ibu E, ASI adalah pengganti dari yang menjalani pengobatan TBC.
makan yang sedikit pada anaknya. Ibu E • Potensi terjadi stres pada keluarga
mengatakan belum mengetahui kenapa anak bapak I berhubungan dengan
D sulit makan. Ibu E mengatakan pernah ketidakmampuan keluarga merawat
disarankan oleh tetangganya bahwa anak sulit anggota keluarga yang mengalami sulit
makan pada anak seusia anak D adalah hal makan yaitu anak D.
biasa karena mulai bermain dan beraktivitas
banyak. Hal seperti inilah yang kadang- Analisa masalah didasarkan pada
kadang membuat ibu E tidak ter lalu faktor-faktor yang dapat menyebabkan
memikirkan sulit makan pada anaknya,dan gangguan sulit makan pada tingkat keluarga
cenderung membiarkan keadaan tersebut. Ibu meliputi: faktor lingkungan, faktor struktur
E menanyakan apa yang harus diperbuat keluarga, fungsi keluarga, stres dan koping
untuk meningkatkan nafsu makan anaknya.

210 Juli 2010: 207 - 221


Versi online:
Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

keluarga, dan faktor keluarga. Analisa dengan pohon masalah berikut.


masalah pada keluarga ibu E digambarkan

Gambar 1. Pohon masalah pada keluarga ibu E


Dari gambar 1 didapatkan berbagai yang tidak teratur (turun atau naik), pasif,
masalah kesehatan yang ditemukan keluarga tidak berpartisipasi dalam perawatan atau
dengan gangguan sulit makan pada agregat pembuatan keputusan ketika kesempatan
balita sebagai berikut: diberikan, bersifat benci, marah, khilaf, enggan
• Faktor lingkungan untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya,
Ketidakmampuan keluarga dalam bergantung pada orang lain, perasaan takut
pemeliharaan rumah artinya ketidakmampuan atau asing pada perawat, ketidakpuasan dan
secara mandiri memelihara perubahan, frustasi melebihi dari kemampuan untuk
peningkatan perkembangan dengan melaksanakan terhadap penampilan peran.
karakteristik: kepala keluarga sulit Konflik peran merupakan pengalaman
mempertahankan lingkungan rumah yang peran terhadap peran yang membingungkan
nyaman, adanya krisis finansial, keluarga dan konflik dalam merespons krisis.
membutuhkan bantuan untuk memelihara Karakteristik konflik ini meliputi: 1) orang tua
kondisi rumah, adanya tumpukan sampah, bau menampakkan perhatian tentang perubahan
menyengat, rumah lembab, beban keluarga dalam peran sebagai orang tua, fungsi
yang berlebihan, kurangnya fasilitas rumah, keluarga, komunikasi keluarga, status
dan adanya masalah kesehatan yang berulang- kesehatan keluarga; 2) orang tua
ulang (seperti infeksi). menunjukkan ketidakmampuan dalam
memperhatikan kebutuhan fisik dan emosi
• Faktor struktur keluarga
anak selama di rumah; 3) menunjukkan
Ketidakberdayaan keluarga artinya penyimpangan perhatian terhadap tugas
persepsi dari tindakan seseorang yang tidak sehari-hari; 4) keputusan yang berlebihan
signifikan dengan hasil, kurangnya kontrol terhadap anak (memanjakan anak); 5) secara
penerimaan melebihi situasi yang umum atau verbal mengatakan perasaan bersalah, marah,
kejadian langsung. Karakteristik: ekspresi atau takut-cemas, dan frustasi terhadap anak yang
keadaan tidak pasti berkaitan tingkat energi sakit.

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 211
Yoyok Bekti Prasetyo JURNAL KEPERAWATAN, ISSN: 2086-3071

Konflik pengambilan keputusan artinya kesepian dari orang lain, menunjukkan


ketidakpastian tentang tindakan yang akan perasaan penolakan, ketidaksesuaian
dilakukan saat memiliki beberapa alternatif kematangan perkembangan dengan usia, tidak
tindakan yang meliputi resiko, kehilangan atau adanya tujuan hidup yang jelas,
perubahan dalam menilai hidup anggota ketidakmampuan berkomunikasi dengan
keluarganya. Karakteristik meliputi: secara orang lain, menunjukkan perasaan yang
verbal mengatakan ketidakpastian, secara berbeda dengan orang lain, dan merasa tidak
verbal mengatakan tidak konsekuen dengan aman di dalam masyarakat.
beberapa tindakan yang dipilih, bingung Ketidakmampuan dalam interaksi sosial
terhadap beberapa pilihan tindakan, terlambat artinya tidak cukupnya atau banyaknya
mengambil keputusan, dan secara verbal pelanggaran-pelanggaran atau kesalahan-
merasakan adanya tekanan keputusan yang kesalahan atau inefektifnya kualitas
diambil. perubahan sosial. Karakteristik meliputi:
ketidakmampuan dalam kecakapan atau
• Faktor fungsi keluarga perhatian untuk dapat menerima atau
Penurunan pola asuh orang tua, mengkomunikasikan suatu kepuasan diri,
ketidakmampuan berperilaku hidup sehat, kepedulian, ketertarikan, atau berbagi
ketidakmampuan dalam interaksi sosial, dan pengalaman, disfungsional interaksi dengan
adanya isolasi sosial dapat menyebabkan anggota keluarga, orang lain, dan perubahan
gangguan sulit makan pada agregat balita. gaya hidup dalam keluarga atau pola interaksi
Penurunan pola asuh orang tua artinya
ketidakmampuan pengasuh untuk • Faktor stres dan koping keluarga
menciptakan, mempertahankan, Koping yang tidak efektif artinya
mendapatkan lingkungan yang dapat perilaku dari orang terdekat (kepala keluarga)
meningkatkan pertumbuhan dan yang tidak sesuai dengan tugasnya akan
perkembangan anak. Karakteristik meliputi: perlunya adaptasi terhadap perubahan status
pernyataan tidak mampu untuk memenuhi kesehatan. Karakteristik meliputi: intoleransi,
kebutuhan anak, sering menghukum anak, anggota keluarga yang sakit, renggangnya
perawatan yang tidak konsisten, tidak mampu hubungan antar anggota keluarga, realita yang
menjaga kesehatan anak, dan lingkungan menyimpang tentang gangguan kesehatan
rumah yang tidak aman. (denial), dan anggota keluarga yang putus asa.
Ketidakmampuan berperilaku hidup
sehat artinya ketidakmampuan untuk • Faktor biologis
memodifiasi gaya hidup atau sikap yang sudah Usia, gender, genetik, ganggung fisik dan
menjadi kebiasaan dengan perubahan dalam mental menyebabkan gangguan sulit makan
status kesehatan. Karakteristik meliputi: pada agregat balita. Usia toddler dan
denial (menyangkal) perubahan status preschool dimana anak pada fase
kesehatan, kegagalan dalam mengambil negatifistik akan menolak segala dominasi
tindakan yang dapat mencegah masalah- orang tua dapa menjadi penyebab gangguan
masalah kesehatan selanjutnya, menunjukkan sulit makan. Gender pada anak perempuan
sikap tidak menerima terhadap perubahan cenderung mengalami sulit makan karena
status kesehatan dan kegagalan dalam faktor diet. Genetik dari orang tua yang
mencapai kontrol kesadaran yang optimal. mudah stres dan sulit makan dapat
Isolasi sosial artinya pengalaman menurunkan pada anak. Gangguan fisik dan
kesepian dari individu yang dipersepsikan mental jelas dapat menyebabkan gangguan
sesuatu yang negatif atau ancaman. sulit makan.
Karakteristik meliputi: menunjukkan perasaan

212 Juli 2010: 207 - 221


Versi online:
Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

Rencana, Implementasi, Dan Evaluasi penyakit TB Paru pada anak D; 3) menyeleksi


metode intervensi yang digunakan; 4)
Diagnosa keperawatan 1: kurang memahami dan menerima tanggung jawab
pengetahuan berhubungan dengan untuk melaksanakan inter vensi yang
ketidakmampuan keluarga merawat anggota diharapkan; 5) konsisten mengontrol
keluarga dengan penyakit TBC. pengobatan.

Tujuan umum Aspek psikomotor

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Keluarga mendemonstrasikan dan


dalam waktu 6 bulan, infeksi kronik pada anak menjelaskan perawatan dan pengobatan TB
D dapat sembuh dengan keluarga mampu Paru pada anak D dengan indikator:
merawat anggota keluarga yang mengalami memperbanyak ventilasi, menjemur tempat
gangguan sulit makan. tidur, mengakses pengobatan secara rutin.

Tujuan khusus Intervensi keperawatan

Aspek kognitif Meliputi: 1) aplikasi terapi modalitas


terapi perilaku, konseling dan choaching pada
Meliputi: 1) setelah dilakukan kunjungan keluarga; 2) diskusikan dengan keluarga
selama 1-2 minggu, keluarga dapat mengenal tentang pengertian, tanda dan gejala, faktor
masalah TB Paru dengan menyebutkan resiko, pencegahan dan perawatan penyakit
pengertian, tanda dan gejala, penyebab, dan TBC, akibat bila tidak dilakukan perawatan,
penularan TB Paru (tingkat pengetahuan); 2) tujuan dan manfaat pengobatan yang rutin,
keluarga dapat mendeskripsikan tujuan dan manfaat dan cara terapi modalitas terapi
cara kerja pengobatan TB Paru (tingkat perilaku, konseling dan choaching; 3) kaji
komprehensif); 3) keluarga dapat mengatur ulang pengetahuan keluarga setelah dilakukan
dan mengontrol rutinitas pengobatan dan pendidikan kesehatan; 4) demonstrasi dan
menghindari putus obat (tingkat aplikasi); 4) redemonstrasi cara melakukan identifikasi
keluarga mendiskusikan hubungan perilaku yang sudah berhasil dan perilaku yang
pengobatan TB Paru, diet, aktivitas, dan belum dilaksanakan dan mendiskusikan
kebersihan lingkungan (tingkat analisa); 5) penyebab dan jalan keluarnya. Keluarga
keluarga mampu mengembangkan sebuah menerapkan perilaku yang lebih kondusif
perencanaan, terlibat aktif dalam proses menunjang pengobatan dan perawatan pada
pembelajaran untuk menyembuhkan penyakit anak; 5) anjurkan kepada keluarga untuk
yang diderita anak D (tingkat sintesa); 6) membuat catatan tindakan yang telah
keluarga mampu membandingkan kemajuan dilakukan; 6) memantau perkembangan
kesehatan yang dicapai oleh anak dengan kesehatan anak; 7) memotivasi keluarga untuk
usaha yang telah dilakukan (tingkat evaluasi). melakukan perawatan secara rutin.

Aspek afektif Implementasi

Meliputi: 1) setelah dilakukan kunjungan Meliputi: 1) mengaplikasikan terapi


selama 3-12 minggu keluarga mampu modalitas konseling, choaching, dan terapi
memperhatikan rencana yang diinstruksikan; perilaku pada keluarga, terapi modalitas ini
2) mendiskusikan keuntungan dan kelemahan disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan
dari berbagai intervensi untuk penyembuhan kemampuan keluarga; konseling tentang

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 213
Yoyok Bekti Prasetyo JURNAL KEPERAWATAN, ISSN: 2086-3071

pengertian, tanda dan gejala, faktor resiko, TB Paru (tingkat pengetahuan); 2) keluarga
pencegahan dan perawatan penyakit TBC, dapat mendeskripsikan tujuan dan cara kerja
akibat bila tidak dilakukan perawatan, tujuan pengobatan TB Paru (tingkat komprehensif);
dan manfaat pengobatan yang rutin. Pelatihan 3) keluarga dapat mengatur dan mengontrol
cara mengidentifikasi keberhasilan dari rutinitas pengobatan dan menghindari putus
pengobatan. Waktu pemberian materi dan obat (tingkat aplikasi); 4) keluarga
pelatihan seluruhnya 5 kali kunjungan dengan mendiskusikan hubungan pengobatan TB
waktu 45 menit setiap kali kunjungan. Media Paru, diet, aktivitas, dan kebersihan
yang digunakan lembar balik, leaflet, brosur, lingkungan (tingkat analisa); 5) keluarga
dan handout yang diberikan kepada keluarga; mampu mengembangkan sebuah
2) melakukan review pengetahuan keluarga perencanaan, terlibat aktif dalam proses
setelah dilakukan pendidikan kesehatan, pembelajaran untuk menyembuhkan penyakit
dilakukan setelah materi selesai diajarkan yang diderita anak D dengan membuat jadual
atau ditengah-tengah pemberian materi; 3) tema mater i yang diperlukan selama
mendemonstrasi dan redemonstrasi cara pembinaan keluarga (tingkat sintesa); 6)
melakukan identifikasi perilaku yang sudah keluarga mampu membandingkan kemajuan
berhasil dan perilaku yang belum kesehatan yang dicapai oleh anak dengan
dilaksanakan dan mendiskusikan penyebab usaha yang telah dilakukan (tingkat evaluasi);
dan jalan keluarnya. Keluarga menerapkan 7) keluarga mampu mendiskusikan
perilaku yang lebih kondusif menunjang keuntungan dan kelemahan dari berbagai
pengobatan dan perawatan pada anak. intervensi untuk penyembuhan penyakit TB
Residen melihat format terapi perilaku yang Paru pada anak D; 8) keluarga mampu
telah diisi keluarga dan format ditinggal di memahami dan menerima tanggung jawab
keluarga untuk diisi secara rutin. Residen untuk melaksanakan inter vensi yang
memberikan penghargaan atas perilaku diharapkan; 9) konsisten mengontrol
positif yang berhasil dilakukan dengan pengobatan; 10) keluarga
reinforcement, dan mendiskusikan perilaku mendemonstrasikan dan menjelaskan
yang belum berhasil di lakukan; 4) perawatan dan pengobatan TB Paru pada
menganjurkan kepada keluarga untuk anak D dengan indikator: memperbanyak
membuat catatan tindakan yang telah ventilasi, menjemur tempat tidur, mengakses
dilakukan; 5) melakukan kunjungan yang tidak pengobatan secara rutin.
direncanakan untuk memantau perawatan
yang telah dilakukan keluarga. Kunjungan ini Evaluasi dampak
dilakukan setelah intervensi selesai
dilaksanakan, kunjungan bertujuan untuk Anak terlihat sehat dan berat badan/
monitoring terhadap perawatan yang telah umur = 11 kg/2,5 tahun kategori normal.
dilakukan keluarga. Kunjungan dilakukan 1 Batuk sudah tidak dialami oleh anak setelah
bulan sekali; 6) memotivasi keluarga untuk dilakukan intervensi, keluarga berada pada
melakukan perawatan secara rutin. tingkat kemandirian III yaitu menerima
residen, menerima semua materi yang
Evaluasi diberikan, dapat menyatakan masalah dengan
benar, memanfaatkan posyandu untuk
Evaluasi hasil penimbangan dan pemberian vitamin A pada
bulan Februari 2007, melakukan perawatan
Meliputi: 1) keluarga mengenal masalah dengan pengobatan TBC secara rutin dan
TB Paru dengan menyebutkan pengertian, melakukan tindakan pencegahan secara aktif
tanda dan gejala, penyebab, dan penularan dengan menjaga keber sihan rumah,

214 Juli 2010: 207 - 221


Versi online:
Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

menjemur kasur dan bantal pada siang hari 1 Aspek afektif


minggu sekali.
Meliputi: 1) setelah dilakukan kunjungan
Diagnosa keperawatan 2: resiko selama 3-12 minggu keluarga mampu
gangguan kebutuhan nutrisi (kurang dari memperhatikan rencana yang diinstruksikan;
kebutuhan) pada anak D berhubungan 2) mendiskusikan keuntungan dan kelemahan
dengan ketidakmampuan keluarga merawat dari berbagai intervensi untuk menangani
anggota keluarga dengan gangguan sulit gangguan sulit makan; 3) menyeleksi metode
makan. intervensi yang digunakan; 4) memahami dan
menerima tanggung jawab untuk
Tujuan umum
melaksanakan intervensi yang diharapkan; 5)
konsisten mengontrol dan disiplin memberi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan makan yang sehat dan benar.
dalam waktu 6 bulan, resiko gangguan nutrisi
kurang dan kebutuhan tidak terjadi pada anak Aspek psikomotor
D dengan keluarga mampu merawat anggota
keluarga yang mengalami gangguan sulit Keluarga mendemonstrasikan pemilihan
makan. bahan makanan yang sehat, dan menjelaskan
perawatan anak yang mengalami sulit makan
Tujuan khusus dengan indikator: menu makanan yang
bervariasi, tidak melakukan paksaan, bujukan
Aspek kognitif saat memberi makan pada anak, mengakses
pelayanan kesehatan seperti posyandu secara
Meliputi: 1) setelah dilakukan kunjungan periodik.
selama 1-2 minggu, keluarga dapat mengenal
masalah sulit makan dengan menyebutkan Intervensi keperawatan
pengertian, tanda dan gejala, penyebab, dan
cara penanganannya (tingkat pengetahuan); Meliputi: 1) aplikasi terapi modalitas
2) keluarga dapat mendeskripsikan tujuan dan food combining, terapi perilaku, konseling
cara kerja kerja penanganan menghadapi dan choaching pada keluarga; 2) diskusikan
anak yang mengalami sulit makan (tingkat dengan keluarga tentang pengertian, tanda
komprehensif); 3) keluarga dapat mengatur dan gejala, faktor resiko, pencegahan dan
menu dan mengontrol makanan yang tidak perawatan anak yang mengalami sulit makan,
sehat bagi anak, seperti: chiki, bakso, dan akibat bila tidak dilakukan perawatan, tujuan,
makanan yang bercita rasa tinggi lainnya manfaat dan cara terapi modalitas food
(tingkat aplikasi); 4) keluarga mendiskusikan combining, terapi perilaku, konseling dan
hubungan karakteristik anak meliputi usia, choaching; 3) kaji ulang pengetahuan
diet, aktivitas, dan kebersihan lingkungan keluarga setelah dilakukan pendidikan
(tingkat analisa); 5) keluarga mampu kesehatan; 4) demonstrasi dan redemonstrasi
mengembangkan sebuah perencanaan, cara melakukan food combining dengan
terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk mengidentifikasi kebutuhan menu yang
mengatasi masalah sulit makan (tingkat seimbang pada anak dengan panduan piramida
sintesa); 6) keluarga mampu membandingkan makan sehat, dan mencoba membuat menu
kemajuan kesehatan yang dicapai oleh anak makan siang dengan food combining,
dengan usaha yang telah dilakukan (tingkat identifikasi perilaku yang sudah berhasil dan
evaluasi). perilaku yang belum dilaksanakan dan
mendiskusikan penyebab dan jalan keluarga

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 215
Yoyok Bekti Prasetyo JURNAL KEPERAWATAN, ISSN: 2086-3071

yang telah dilakukan keluarga. Kunjungan ini


menerapkan perilaku yang lebih kondusif
dilakukan setelah intervensi selesai
menunjang pengobatan dan perawatan pada
dilaksanakan, kunjungan bertujuan untuk
anak; 5) anjurkan kepada keluarga untuk
monitoring terhadap perawatan yang telah
membuat catatan tindakan yang telah
dilakukan keluarga. Kunjungan dilakukan 1
dilakukan; 6) memantau perkembangan
bulan sekali; 7) memotivasi keluarga untuk
kesehatan anak; 7) memotivasi keluarga untuk
melakukan perawatan secara rutin.
melakukan perawatan secara rutin.
Evaluasi
Implementasi
Evaluasi hasil
Meliputi: 1) mengaplikasikan terapi
modalitas food combining, konseling,
Meliputi: 1) keluarga dapat mengenal
choaching, dan terapi perilaku pada
masalah sulit makan dengan menyebutkan
keluarga, terapi modalitas ini disesuaikan
pengertian, tanda dan gejala, penyebab, dan
dengan tingkat pendidikan dan kemampuan
cara penanganannya (tingkat pengetahuan);
keluarga, konseling tentang pengertian, tanda
2) keluarga mampu mendeskripsikan tujuan
dan gejala, faktor resiko, pencegahan dan
dan cara kerja kerja penanganan menghadapi
perawatan anak sulit makan, akibat bila tidak
anak yang mengalami sulit makan (tingkat
dilakukan perawatan, tujuan dan manfaat
komprehensif); 3) keluarga mampu mengatur
perawatan yang benar. Pelatihan cara
menu dan mengontrol makanan yang tidak
melakukan terapi perilaku. Waktu pemberian
sehat bagi anak, seperti chiki, bakso, dan
materi dan pelatihan seluruhnya 5 kali
makanan yang bercita rasa tinggi lainnya
kunjungan dengan waktu 45 menit setiap kali
(tingkat aplikasi); 4) keluarga mendiskusikan
kunjungan. Media yang digunakan lembar
hubungan karakteristik anak meliputi usia,
balik, leaflet, brosur, handout, dan lembar
diet, aktivitas, dan kebersihan lingkungan
isian terapi perilaku yang diberikan kepada
(tingkat analisa); 5) keluarga mampu membuat
keluarga; 2) melakukan review pengetahuan
sebuah perencanaan, terlibat aktif dalam
keluarga setelah dilakukan pendidikan
proses pembelajaran untuk mengatasi
kesehatan, dilakukan setelah materi selesai
masalah sulit makan (tingkat sintesa); 6)
diajarkan atau di tengah-tengah pemberian
keluarga mampu membandingkan kemajuan
materi; 3) mendemonstrasi dan redemonstrasi
kesehatan yang dicapai oleh anak dengan
cara melakukan identifikasi perilaku yang
usaha yang telah dilakukan (tingkat evaluasi);
sudah berhasil dan perilaku yang belum
7) mendiskusikan keuntungan dan kelemahan
dilaksanakan dan mendiskusikan penyebab
dari berbagai intervensi untuk menangani
dan jalan keluarga menerapkan perilaku yang
gangguan sulit makan; 8) menyeleksi metode
lebih kondusif menunjang pengobatan dan
intervensi yang digunakan; 10) memahami
perawatan pada anak. Residen melihat format
dan menerima tanggung jawab untuk
terapi perilaku yang telah diisi keluarga dan
melaksanakan intervensi yang diharapkan; 11)
format ditinggal di keluarga untuk diisi secara
konsisten mengontrol dan disiplin memberi
rutin. Residen memberikan penghargaan atas
makan yang sehat dan benar; 12) keluarga
perilaku positif yang berhasil dilakukan dengan
mendemonstrasikan pemilihan bahan
reinforcement, dan mendiskusikan perilaku
makanan yang sehat, dan menjelaskan
yang belum berhasil dilakukan; 5)
perawatan anak yang mengalami sulit makan
menganjurkan kepada keluarga untuk
dengan indikator menu makanan yang
membuat catatan tindakan yang telah
bervariasi, tidak melakukan paksaan, bujukan
dilakukan; 6) melakukan kunjungan yang tidak
saat memberi makan pada anak, mengakses
direncanakan untuk memantau perawatan

216 Juli 2010: 207 - 221


Versi online:
Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

pelayanan kesehatan seperti posyandu secara dilakukan penelitian. Memberbanyak


periodik. penelitian keperawatan yang terkait dengan
perubahan lingkungan dan sosial terhadap
Evaluasi dampak kesehatan nutrisi pada agr egat balita
diperlukan untuk mengevaluasi promosi
Anak terlihat sehat dan berat badan/ kesehatan yang telah dilakukan. Beberapa isu
umur = 11 kg/2,5 tahun kategori normal lebih sentral yang dapat dijadikan tema penelitian
banyak menghabiskan porsi makannya. meliputi: 1) menguji efek intervensi promosi
kesehatan pada keluarga terhadap perubahan
Implikasi Terhadap Pelayanan kesehatan dikaitkan dengan norma sosial
Keperawatan Dan Penelitian pada anak yang mengalami sulit makan; 2)
Keperawatan Komunitas mengevaluasi efektifitas intervensi untuk
menurunkan paparan anak dari subsistem
• Implikasi terhadap pelayanan (lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan
keperawatan sosial, keselamatan dan transportasi, politik
Model pelayanan yang dapat digunakan dan pemerintahan, pendidikan, ekonomi,
untuk mengatasi gangguan sulit makan pada komunikasi, dan rekreasi) yang menyebabkan
agregat balita salah satunya adalah family- anak menjadi sulit makan; 3) mengembangkan
center nursing theory yang menekankan dan menguji sebuah model manajemen
pentingnya upaya preventive, educative, dan lingkungan untuk mengurangi ancaman
protective. Implikasi yang sudah sering kesehatan terhadap agregat balita; 4)
dilakukan oleh praktisi keperawatan pada area mengkaji perubahan perilaku pada target
preventive dan educative, sedangkan upaya akibat dari intervensi pada lingkungan fisik
protective belum optimal dilakukan. Oleh dan sosial; 5) menguji efektifitas insentif
karena itu adanya regulasi yang operasional ekonomi dalam meningkatkan promosi
dari tingkat terendah seperti individu, kesehatan lingkungan dan perubahan perilaku.
keluarga, dan masyarakat mengenai
KESIMPULAN DAN SARAN
penciptaan perilaku makan yang sehat dan
pemenuhan status gizi dapat menunjang dari
Pengelolaan masalah sulit makan belum
upaya preventive dan educative. Regulasi
optimal dilaksanakan terkait dengan masalah
pada tingkat individu yaitu adanya program
sulit makan belum menjadi perhatian utama,
screening untuk mendeteksi ganguan gizi
kerjasama lintas program dan sektoral yang
pada agregat anak. Regulasi pada tingkat
masih lemah, sumber manusia yang terbatas.
keluarga adalah pendisiplinan jadual makan,
Oleh karena itu diperlukan upaya penataan,
tidak memberikan makanan jajanan pada saat
membangun lobi dengan birokrat, membentuk
jam makan, tidak memaksa dan membujuk
koalisi untuk mengangkat masalah sulit makan
anak pada saat makan. Program
menjadi isu sentral yang harus diperhatikan.
pemanfaatan lahan pekarangan merupakan
Strategi intervensi keperawatan keluarga dan
salah satu upaya pengembangan masyarakat
komunitas pada agregat balita meliputi
untuk mandiri memenuhi kebutuhan mikro
penerapan terapi modalitas (food
bahan pangan pada tingkat keluarga.
combining), terapi perilaku, konseling dan
(coaching), pemberdayaan masyarakat
• Implikasi terhadap penelitian untuk mencapai kompetensi komunitas,
Pendekatan dengan model family-
membangun koalisi untuk mencapai tujuan
center nursing pada keluarga dengan kasus
yang diinginkan dengan berbagai pihak yang
balita sulit makan dapat mengidentifikasi
potensial. Penerapan terapi modalitas food
fenomena-fenomena yang menarik untuk
combining pada agregat balita sulit makan

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 217
Yoyok Bekti Prasetyo JURNAL KEPERAWATAN, ISSN: 2086-3071

memerlukan modifikasi dan kombinasi dengan keperawatan dengan didasarkan pada teori
terapi modalitas perubahan perilaku. yang kuat akan meningkatkan kualitas
Pemberian menu seimbangan dan modifikasi layanan dan integritas dari perawat. Salah
perilaku yang maladaptif menjadi perliku satu teori untuk menangani masalah sulit
adaptif akan menciptakan suatu terapi yang makan pada agregat balita adalah dengan
handal untuk mengatasi masalah sulit makan menggunakan family-center nursing. Model
pada agregat balita. Terapi komplementer ini memberikan panduan yang mendalam dan
yang sesuai dengan masalah sulit makan pada jelas pada proses keperawatan mulai dari
agregat balita salah satunya adalah massage. pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi,
Terapi massage pada anak yang mengalami dan evaluasi. Kepada institusi pendidikan
gangguan dalam hal makan dapat keperawatan diperlukan untuk membantu
meningkatkan self-image anak, mencarikan sumber-sumber penyandang
meningkatkan pola makan anak, menurunkan dana untuk melaksanakan proyek program
kecemasan, dan meningkatkan kasih sayang penanganan balita sulit makan yang sampai
dan pada akhirnya dapat membantu sekarang ini belum menjadi program di
mengatasi permasalah ini. Family-center departemen kesehatan. Mahasiswa dapat
nursing theory dalam kontek gangguan sulit lebih berperan secara aktif untuk membuat
makan pada agregat balita adalah dengan proposal dengan kajian-kajian ilmiah, profil
melihat keluarga yang memiliki balita sulit statistik, kontak agensi lain untuk
makan merupakan unit dasar untuk mendapatkan informasi dalam membuat
perawatan individu dari anggota keluarga dan proposal secara bersama-sama. Fakultas lebih
dari unit yang lebih luas. Pengkajian, berperanan dalam membantu mahasiswa
perencanaan, implementasi, dan evaluasi menulis proposal, menyusun sebuah rencana
perawatan pada anak dan keluarga dengan strategis, kemudian mempresentasikan
mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, program dalam konferensi dengan
politik, sosial, dan budaya. Mengatasi masalah penyandang dana. Kepada penelitian
ini memerlukan pemberdayaan dan keperawatan perlu adanya kegiatan penelitian
membangun koalisi dengan berbagai pihak keperawatan dengan perkembangan
yang. Publikasi hasil evaluasi kepada globalisasi, suatu daerah yang pada awalnya
khalayak umum termasuk media massa adalah daerah rural, menjadi daerah urban.
menjadi penting. Semakin menyebarnya Perubahan ini membawa konsekuensi pada
informasi dapat mempercepat pr oses perubahan lingkungan fisik, ekonomi,
kerjasama dengan pemegang kebijakan untuk komunikasi, politik dan pemerintahan,
membuat proyek program penanganan pendidikan, pelayanan kesehatan dan sosial.
masalah sulit makan pada agregat balita. Dengan adannya perubahan pada sektor ini
Rencana tindak lanjut yang diperlukan adalah akan berdampak secara komplek kepada
memperkuat jaringan kerjasama antara dinas agregat balita. Penelitian lebih banya
kesehatan, puskesmas, kelurahan, dan diarahkan kepada dampak dari perubahan
Pokjakes untuk melaksankan upaya tersebut. Seperti menguji efektifitas
preventive dan promotive. Mempublikasikan penurunan kekuatan finansial dan kualitas
keuntungan tindakan melalui media massa, lingkungan dalam pemilihan makanan sehat
artikel kepada masyarakat luas. dan gaya hidup sehat terhadap upaya
Saran yang dapat diberikan kepada pencegahan gizi kurang dan buruk. Kepada
praktek pelayanan keperawatan menangani pengembangan kebijakan keperawatan atau
masalah sulit makan pada agregat balita kesehatan membuat sebuah regulasi dengan
memerlukan pendekatan teori keperawatan ruang lingkup peningkatan kesehatan,
keluarga yang profesional. Praktek pelayanan pencegahan penyakit, dan ketentuan

218 Juli 2010: 207 - 221


Versi online:
Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

pelayanan kesehatan yang meliputi sosial, t13.htm_anchor47. Diperoleh pada 25


pendidikan, dan perhatian pada masalah November 2005.
budaya. Regulasi untuk mengatur makanan Anonymous. 2003. Early Childhood Eating
yang tidak sehat, membatasi akses anak Disorders. http://
terhadap makanan yang tidak sehat menjadi www.empoweredparents. com/mini/
penting untuk mendukung program perubahan t13.htm_anchor47. Diperoleh pada 25
perilaku makan yang sehat pada anak. November 2005.
Kelompok swabantu yang telah ada perlu Anonymous. 2004. When Parent Have Eating
mendapat dukungan kebijakan dari lurah, D i s o r d e r s .
puskesmas untuk mempertahankan w w w. e m p o w e r e d p a r e n t s . c o m /
keberlangsungan aktivitas kelompok ini. lpar entsissues /parent_01.htm.
Dukungan berupa sumber daya manusia Diperoleh pada 1 Juni 2005.
sebagai pendidik, fasilitator dan manajer. Anonymous. 2003. Maternal & Child Health
Nursing Care of the Childbearing &
Dukungan finansial untuk membentuk variasi
Childrearing Family. 4 th edition.
kegiatan di kelompok swabantu. Dukungan
Philadelphia: JB. Lippincott Company.
pemantauan dan memonitor kemajuan dari
Asian Development Bank. 2003. Technical
kelompok ini.
Assistance to the Republic of Indonesia
DAFTAR PUSTAKA for Public Health and Nutrition.
Indonesia.
Allen, A. 2005. The Influence of Family Atmarita. 2005. Nutrition Problems in
Fuctioning on Eating Disordes, http:// Indonesia. An Integrated International
w w w. h e l p g u i d e . o r g / m e n t a l / Seminar and Workshop on Lifestyle-
eat ing_ dis or der _ t r eat ment. ht ml. Related Diseases. Gajah Mada
Diperoleh pada 18 November 2005. University. 19-20 March 2005.
Allender & Spradley. 2005. Community Directorate of Community Nutrition.
Health Nursing: Pr omoting and The Ministry of Health.
Protecting the Public’s Health. 6 th Azwar, A. 2005. Kecenderungan Masalah
edition. Philadelphia: Lippincott Eilliams Gizi dan Tantangan di Masa Datang.
& Wilkins. Jakarta: Dirjen Bina Kesmas Depkes.
Anderson & McFarlane. 2000. Community Bomar, P.J. 2004. Promoting Health in
as Partner: Theory and Practice in Families Applying Family Research and
Nursing. 3 th edition. Philadelphia: Theory to Nursing Practice. 3th edition.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia: Saunders an Inprint
Anonymous. 2005. Kesulitan Makan pada Elsevier.
Anak: Penanganan dan Buijs, R. & Olson, J. 2001. Parish Nurses
Permasalahannya. http:// Influencing Determinans of Health.
www.pdper si.co.id/pdper si/news/ Journal of Community Health Nursing,
artikel.php3?id=940. Diperoleh pada 25 18(1). 13-23.
November 2005. Chen, J.L., Kennedy, C. 2004. Family
Anonymous. 2002. Family Therapy is Cutting Functioning, Parenting Style, and
Edge Treatment for Family a Family Chinese Children Weight Status. Journal
Disease. www.empoweredparents.com/ of Family Nursing. Vol. 10, No.2. 262-
pages/aboutthebook.htm. Diperoleh 279. http://jfn.Sagepub.com. Diperoleh
pada 25 November 2005. pada 16 Pebruari 2006.
Anonymous. 2003. Childhood Stress Anxiety Community Nutrition and Dietetic Service.
as a Catalyst to Disorder Eating. http:// h t t p : / /
www.empoweredparents. com/mini/ www.glasgowpharmacyhealthpromotion.scot.nhs.uk/

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 219
Yoyok Bekti Prasetyo JURNAL KEPERAWATAN, ISSN: 2086-3071

nutrition/nutrition_main.htm. Diakses System. American Journal of Public


pada 3 Maret 2007. Health. 90(5), 716-721.
Cultural Aspects of Eating Disorder. 2005. Hanks, C.A., Smith. 1999. Implementing
h t t p : / / w w w. h ea l t h y p l a c e. c o m/ Nurse Home Visitation Program. Public
c o mmu n i t i e s / ea t i n g _ D i s o r d e r / Health Nurse. 16(4), 235-245.
women_bodyimage_1.asp. Diperoleh Hastono, S.P. 2004. Modul Analisa Data.
pada 18 November 2005. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Don, N. 1998. Evaluating Health Promotion- Universitas Indonesia.
Progress, Problems and Solutions, Helvie, C.O. 1998. Advanced Practice
Health Promotion International Vol. 13, Nursing in the Community. California:
No. 1. Oxford University Press. Sage Publications Inc.
Downie, F. & Tannahill. 1990. Health Heuisug, Jo., Sunhee, L., Myoung, O.A. &
Promotion Models and Values. Oxford Sang, H.J. 2003. Structural Relationship
Medical Publication Dubos, R. 1965. of Factors Affecting Health Promotion
Man Adapting. New Haven: Yale Behaviors of Korean Urban Residents.
University Press. Health Promotion International. Vol. 18,
Dudek, S.G. 2006. Nutrition Essentials for No. 3. Oxford University Press.
Nursing Pr actice. 5 th edition. Hitchcock, J.E., Schubert, P.E. & Thomas,
Philadelphia: JB. Lippincott Company. S.A. 1999. Community Health Nursing
Edelman, M. 1998. Health Promotion Caring in Action. New York: Delmar
Throughout the Life Span. 5th edition. Publishers.
Philadelphia: Mosby Year Book. Holden, C., MacDonald. 2000. Nutrition and
Ervin, N. 2002. Advanced Community Health Child Health. Philadelphia: Bailliere
Nursing Practice: Population Focused Tindall.
Care. New Jersey: Pearson Education Judarwanto, W. 2004. Mengatasi Kesulitan
Inc. Makan pada Anak (Cara Terbaik untuk
Falk & Rafael, A.R. 2001. Empowerment as Meningkatkan Nafsu Makan Anak Anda
a Process of Evolving Consciousness: tanpa Harus Memaksa). Jakarta:
a Model of Empowered Car ing. Pustaka Pembangunan Swadaya
Advances in Nursing Science. 24(1), 1- Nusantara.
6. Kemp, G. & Jaffe, J. 2005. Eating Disorder:
Feeley, N. & Gottlieb, L.N. 2000. Nursing Types, Risk Factors and Treatments.
Approaches for Working with Family http://www.helpguide.org/mental/
Strengths and Resources. Journal of eating_disorder_treatment.htm#physical.
Family Nursing. 6(1), 9-24. Diperoleh pada 18 November 2005.
Fleming, M.L. & Parker, E. 2001. Health Khomsan, A. 2005. Anak Ogah Makan Salah
Promotion. 2nd edition. Australia: Allen Orang Tua. www.indomedika.com/
& Uwin. intisari /1998/agustus/ogah/htm.
Friedman, M.M. 1998. Keperawatan Diperoleh pada 1 Juni 2005.
Keluarga Teori dan Praktik. Edisi 3. McMurray, A. 2003. Community Health and
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Wellness a Socioecological Approach.
EGC. 2nd edition. St. Louis, Missouri: Mosby
Friedman, M.M., Bowden, V.R., Jones, E.G. Inc.
2003. Family Nursing Research, Theory, Merzel & D’Afflitti. 2003. Reconsidering
& Practice. 5th edition. New Jersey: Community-Based Health Promotion:
Pearson Education, Inc. Promise, Performance, and Potential,
Gebbie, K.M. & Hwang, I. 2000. Preparing American Journal of Public Health. April
Currently Employed Public Health 2003, Vol 93, No. 4.
Nurses for Changes in the Health

220 Juli 2010: 207 - 221


Versi online:
Volume 1, Nomor 2 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/409

Naidoo, J., Wills, J. 2000. Health Promotion Wright, L.M., Leahey, M. 1994. Nurses and
Foundation for Practice Second Edition. Families a Guide to Family Assessment
Philadelphia: Bailliere Tindall. and Intervention. 2 nd edition.
Natenshon, A. 2002. Know Thyself. Philadelphia: F.A. Davis Company.
www.empoweredparents.com/pages/ Zodda, J.J. 2003. Causes of Eating Disorder.
aboutthebook.htm. Diperoleh pada 25 http://www. Rit.edu. Diperoleh pada 7
November 2005. November 2005).
Pender., Murdaugh., Parson. 2002. Health
Promotion in Nursing Practice. 4 th
edition. New Jersey: Pearson Education,
Inc.
­­­­Pillitteri, A. 1999. Child Health Nursing
Care of the Child and Family.
Philadelphia: JB. Lippincott Company.
Pritts, S.D. & Susman, J. 2003. Diagnosis of
Eating Disorders in Primary Care.
Journal of the American Academy of
Family Physician. 67 (2).
Sediaoetama, AD. 1996. Ilmu Gizi untuk
Mahasiswa dan Profesi. Jilid I. Jakarta:
Dian Rakyat.
Stanhope & Lancaster. 2004. Community &
Public Health Nursing. 6 th edition.
Mosby: New Jersey.
Stone, S.C., McGuire, S.L. & Eigsti, D.G.
2002. Comprehensive Community
Health Nursing Family, Aggregate, &
Community Practice. 6 th edition.
Philadelphia: Mosby.
Swanson, J.M. & Nies, M.A. 1997.
Community Health Nursing: Promoting
the Health Aggregate. 2nd edition. USA:
W.B. Saunders.
Tasmin, M.R. 2002. Menyiasati Anak Sulit
Makan. http://www. e-psikologi.com/
anak/index.htm. Diperoleh pada 7
Pebruari 2006.
Tones, K., Tilford, K., Robinson, Y.K. 1990.
Health Education Effectiveness and
Efficiency. Chapman Hall http://
www.s under land. a c. uk/~ hs 0b gr /
lectures/lec3.htm. Diperoleh pada 7
Pebruary 2006.
Walsh, J., Person, C. & Wieck, L. 1987.
Manual of Home Health Care Nursing.
Philadelphia: JB. Lippincott Company.
Wong, D.L., Perry, S.E., Hockenberry, M.J.
2002. Maternal Child Nurses Care. 2nd
edition. St Louis: Mosby Inc.

Penerapan Family-Center Nursing Theory pada Kasus Keluarga dengan Balita Sulit Makan (Studi Kasus) 221