Anda di halaman 1dari 16

AKUISISI DATA MAGNETOTELLURIK

(Laporan Praktikum Metode Elektromagnetik)

Oleh

Rahmat Luthfi
1615051038

LABORATORIUM TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
Judul Percobaan : Akuisisi Data Magnetotellurik

Tanggal Percobaan : 02 Oktober 2018

Tempat Percobaan : Laboratorium Teknik Geofisika


Nama : Rahmat Luthfi

NPM : 1615051038

Fakultas : Teknik

Jurusan : Teknik Geofisika

Kelompok : 1 (Satu)
Bandar Lampung, 02 Oktober 2018

Mengetahui,

Asisten

Norman Wirawan Ito

NPM. 1415051052

AKUISISI DATA MAGNETOTELLURIK

Oleh

Rahmat Luthfi
ABSTRAK

Magnetotelluric (MT) adalah metode pasif yang mengukur arus listrik alami dalam bumi,
yang dihasilkan oleh induksi magnetik dari arus listrik di ionosfer. Metode pengukuran
MT (magnetotelluric) dan AMT (audio magnetotelluric) secara umum adalah sama,
perbedaanya hanya pada cakupan frekuensi yang ditangkap, dimana semakin kecil
frekuensi yang dihasilkan maka semakin dalam penyelidikan yang diperoleh.Adapun
tujuan dari metode ini yaitu dapat membedakan sistem akuisisi menggunakan metode
magnetotellurik, kemudian dapat menentukan sistem akuisis data magnetotellurik yang
diterapkan pada area survei dan dapat mendesain sistem akuisisi menggunakan metode
magnetotellurik serta dapat mengestimasi biaya akuisisi berdasarkan desain akuisisi yang
ditentukan.
DAFTAR ISI

halaman

LEMBAR PENGESAHAN................................................................... i

ABSTRAK.......................................................................................................................ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR..........................................................................................................iv

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ....................................................................................................1

B. Tujuan Praktikum ................................................................................................1


BAB II. TEORI DASAR
BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan.....................................................................................................4

B. Diagram Alir .........................................................................................................5


BAB IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengamatan ...............................................................................................6

B. Pembahasan .......................................................................................................6

BAB V. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar 1. Alat Tulis......................................................................................................4

Gambar 2. Laptop..........................................................................................................4

Gambar 3. Software Arc-GIS..........................................................................................4

Gambar 4. Software Surfer............................................................................................4

Gambar 5. Software Google Earth.................................................................................4


Gambar 6 Diagram Alir Percobaan................................................................................5

Gambar 7 Desain Akuisisi Daerah Kamojang...................................................7

Gambar 8. Peta Topografi Area Kamojang.......................................................8

Gambar 9. Rancangan Anggaran Biaya............................................................9

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan teknologi saat ini semakin meningkat berikut dalam penggunaan
gelombang elekromagnetik dalam kehidupan sehari-hari. Seperti apakah gelombang
elektromagnetik, apa contoh gelombang elektromagnetik itu? Gelombang
elektromagnetik sebenarnya selalu ada disekitar kita, salah satu contohnya adalah
sinar matahari, gelombang ini tidak memerlukan medium perantara dalam
perambatannya. Contoh lain adalah gelombang radio. Tetapi spektrum gelombang
elektromagnetik masih terdiri dari berbagai jenis gelombang lainnya, yang dibedakan
berdasarkan frekuensi atau panjang gelombangnya. Untuk itu disini kita akan
mempelajari tentang rentang spektrum gelombang elektromagnetik, karakteristik
khusus masing-masing gelombang elektromagnetik di dalam spectrum dan contoh
dan penerapan masing-masing gelombang elektromagnetik dalam kehidupan sehari-
hari.

Ramalan Maxwell tentang gelombang elektromagnetik ternyata benar-benar


terbukti. Adalah Heinrich Hertz yang membuktikan adanya gelombang
elektromagnetik melalui eksperimennya. Eksperimen Hertz sendiri berupa
pembangkitan gelombang elektromagnetik dari sebuah dipol listrik (dua kutub
bermuatan listrik dengan muatan yang berbeda, positif dan negatif yang berdekatan)
sebagai pemancar dan dipol listrik lain sebagai penerima. Antena pemancar dan
penerima yang ada saat ini menggunakan prinsip seperti ini.

B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum yang dilakukan kali ini adalah :
1. Akuisisi dengan sistem grit.
2. Akuisisi dengan sistem line (lintasan).
3. Akuisisi dengan sistem random.

II. TEORI DASAR

Metode magnetotellurik (MT) adalah salah satu metode geofisika yang sering
digunakan dalam eksplorasi geothermal karena kemampuannya yang dapat
menggambarkan struktur resistivitas batuan bawah permukaan. Metode ini
termasuk dalam metode elektromagnetik pasif karena menggunakan variasi
medan magnet bumi yang terjadi secara alami sebagai sumbernya. Variasi medan
magnet ini dapat disebabkan karena beberapa faktor yang menghasilkan
gelombang elektromagnetik yang kontinyu dengan rentang frekuensi yang cukup
lebar antara10^4-10^-5 Hz (Simpson,2005).

Metoda magnetotellurik (MT) adalah suatu metoda dari geofisika yang bersifat
pasif yang memanfaatkan medan EM alami sebagai sumber gelombang atau
energi untuk mengetahui struktur tahanan jenis bawah permukaan. Medan EM
yang digunakan mempunyai rentang frekuensi yang panjang sehingga mempu
menyelidiki bawah permukaan dari kedalaman puluhan hingga ribuan meter.
Sumber alami medan EM berasal dari tiga sumber bergantung frekuensi yaitu
aktivitas petir (>1Hz), resonansi lapisan ionosfer bumi (<1Hz) dan bintik hitam
matahari (<<1Hz). Prinsip kerja dari metoda ini adalah proses induksi
elektromagnetik yang terjadi pada anomaly bawah permukaan.medan EM yang
menembus bawah permukaan akan menginduksi anomaly konduktif bawah
permukaan bumi sehingga menghasilkan E dan magnetic sekunder, yang
kemudian akan direkam oleh alat magnetotellurik. Kontras resistivitas yang besar
di antara atmosfer bumi dan permukaan bumi mensyaratkan bahwa gelombang
EM merambat vertical di bawah permukaan. Berdasarkan pada sifat penjalaran
medan EM pada anomaly konduktif, kedalaman penetrasi bergantung pada
frekuensi dan resistivitas material bawah permukaan. Material yang lebih
resistivitas yang kecil mempunyai daya tembus yang kecil, sedangkan medan EM
yang mempunyai frekuensi yang tinggi mempunyai daya tembus yang kecil
(Wahyu, 2010).

Data MT dapat terdistorsi karena adanya heterogenitas lokal dekat permukaan dan
faktor topografi yang dikenal sebagai efek statik (static shift). Akumulasi muatan
listrik pada batas konduktivitas medium menimbulkan medan listrik sekunder
yang tidak bergantung pada frekuensi (deGroot-Hedlin, 1991). Hal tersebut
menyebabkan kurva sounding MT (log tahanan-jenis semu terhadap log periode)
bergeser ke atas atau ke bawah sehingga paralel terhadap kurva sounding yang
seharusnya. Dalam skala log, pergeseran vertikal kurva sounding tersebut dapat
dinyatakan sebagai perkalian tahanan jenis semu dengan suatu konstanta
(Grandis, 2010).

Jika data geofisika lainnya tidak tersedia maka untuk mengoreksi efek statik pada
data MT dapat dilakukan perata-rataan atau pemfilteran spasial terhadap
sekelompok data, misalnya dari suatu lintasan tertentu. Dalam hal ini,
diasumsikan bahwa efek regional yang merepresentasikan kondisi bawah
permukaan sebenarnya akan muncul setelah dilakukan perata-rataan (Beamish dan
Travassos, 1992).

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
sebagai berikut :
Gambar 1 Alat tulis

Gambar 2 Laptop

Gambar 3 Software Arc-GIS

Gambar 4 Software Surfer

Gambar 5 Software Google Earth

B. Diagram Alir Percobaan


Adapun diagram alir pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
IV. DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengematan

Adapun data pengamatan yang terdapat di lampiran.

B. Pembahasan

Magnetotelluric (MT) adalah metode pasif yang mengukur arus listrik


alami dalam bumi, yang dihasilkan oleh induksi magnetik dari arus listrik
di ionosfer. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan sifat listrik
bahan pada kedalaman yang relatif besar (termasuk mantel) di dalam
bumi. Dengan teknik ini, variasi waktu pada potensi listrik diukur pada
stasiun pangkalan dan stasiun survei. Perbedaan pada sinyal tercatat
digunakan untuk memperkirakan distribusi resistivitas listrik bawah
permukaan. Akuisisi data magnetotellurik berdasarkan posisi titik-titik
akuisisinya dapat dibedakan menjadi 3 macam:
1. Akuisisi dengan sistem grid.
2. Akuisisi dengan sistem line (lintasan).
3. Akuisisi dengan sistem random.
Pemilihan sistem akuisisi ini juga harus disesuaikan dengan luasan area,
kondisi topografi area penelitian, serta ukuran, bentuk, sebaran, dan luasan
objek target. Hal ini dilakukan agar pengukuran lebih efisien dan rencana
anggaran biaya tidak membengkak. Dalam melakukan pemilihan titik
pengukuran dalam akuisisi data di lapangan perlu diperhatikan untuk
menghindari lokasi-lokasi yang bisa menyebabkan sumber noise, seperti
jaringan kabel listrik, aliran sungai, pohon besar, perkampungan warga,
dan kendaraan bermotor. Hal ini diperlukan untuk menjaga kualitas data
yang akan direkam. Selain itu, cuaca hujan dan bahkan disertai intensitas
petir yang tinggi dapat menjadi hambatan dalam melaksanakan akuisisi
data magnetotellurik.

Noise pada magnetotelurik ini antara lain ada nya perkampungan di dekat
tempat pengambilan data selain itu ada juga sungai yang menggalir dapat
juga mengganggu data yang dihasilkan pohon yang di tiup angin kencang
akan dapat menjadi noise sama hal nya jika kita mengambil data dekat
sutet yang dapat menghasilkan energi listrik dapat merusak/memperburuk
data yang akan kita hasilkan.

Persamaan Maxwell merupakan sintesa hasil-hasil eksperimen (empiris)


mengenai fenomena listrik − magnet yang didapatkan oleh Faraday,
Ampere, Gauss, Coulomb disamping yang dilakukan oleh Maxwell
sendiri. Penggunaan persamaan tersebut dalam metoda MT telah banyak
diuraikan dalam buku-buku pengantar geofisika khususnya yang
membahas metoda EM (Keller & Frischknecht, 1966 ; Porstendorfer, 1975
; Rokityansky, 1982 ; Kauffman & Keller, 1981 ; 1985).
Persamaaan Maxwell menunjukan bahwa gelombang elektromagnetik
merupakan konsekuensi alami dari yang terdiri dari empat persamaan
yaitu, deskripsi tentang bagaimana untuk menghasilkan hukum muatan
listrik Gauss, membahas tentang monopoles mgnetik tidak asa hukum
magnet Gauss, menjelaskan bagaimana saat ini dan waktu bervariasi
medan listrik menghasilkan medan hukum Ampere-Maxwell, dan
menjelaskan bagaimana untuk menghasilkan waktu yang bervariaasi
medan magnet hukum Faraday medan listrik induksi

Adapun desain surve. Adapun desain survey yang telah dibuat dari tiap
kelompok tersebut antara lain;

Gambar 7. Desain Akuisisi Daerah Kamojang

Pada daerah kamojang dimana Lapangan panasbumi Kamojang berada


dalam wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Lapangan ini berjarak + 17
km Baratlaut Garut atau + 42 km Tenggara Bandung, dan berada pada
ketinggian 1640 – 1750 m diatas permukaan laut. Secara geografis,
lapangan Kamojang terletak pada posisi 107o37,5’ – 107o48’ BT dan 7o5,5’
– 7o16,5’ LS. Lapangan Kamojang mencakup suatu kumpulan
kenampakan gejala panasbumi di permukaan, berupa fumarol serta
kubangan lumpur panas. Beberapa diantaranya adalah Danau Pangkalan,
Kawah Manuk, Kawah Berecek dan Kawah Leutak. Interpretasi Landsat
menunjukkan lapangan Kamojang berada dalam suatu depresi
berdiameter + 5 km, Di Kamojang juga memiliki berbagai macam
manifestasi, seperti adanya steaming ground, kawah kereta api, kawah
hujan, kolam lumpur. Pada desain akuisisi ini memiliki jarak antara line
1,5 km yang dimana jarak antar titiknya 1km dan luas area 22.5 km2.
Gambar 8. Peta Topografi Area Kamojang

Secara geografis Kawasan Cagar Alam Kawah Kamojang terletak antara


7°7′00″ - 7⁰12’00” Lintang Selatan dan antara 107°42’00” - 107°54’00”
Bujur Timur, dan secara administrasi pemerintahan terletak dalam dua
wilayah, yaitu : termasuk wilayah Desa Cibeet, Kecamatan Paseh,
Kabupaten Bandung dan termasuk wilayah Desa Randukurung,
Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Keadaan lapangan secara umum
topografinya bergelombang dengan ketinggian tempat antara 500 - 1.000
meter di atas permukaan laut. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson,
iklimnya termasuk tipe iklim B dengan rata-rata curah hujan per tahun
2.500 - 3.000 mm.

Gambar 9. Rancangan Anggaran Biaya

Ada pun rancangan anggaran biaya sebangai berikut untuk survey 24 hari di
lapangan dan terdiri dari1 orang koordinator survey, 1 orang operator MT, 3
oarang helper dan 1 orang driver.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

1. Magnetotelluric metode pasif yang mengukur arus listrik alami dalam bumi,
yang dihasilkan oleh induksi magnetik dari arus listrik di ionosfer.
2. Sumber medan magnetik tersebut memiliki nilai yang bervariasi terhadap
waktu, tetapi yang dimanfaatkan pada Metode Magnetotellurik hanya medan
magnetik yang berasal dari luar bumi yang memiliki rentang frekuensi lebih
besar.
3. Desain akuisisi Magnetotelurik sistem panasbumi kamojang dengan sistem line
berjumlah 24 titik, dengan jarak antar titik pengukuran 1,5 km dan luasan area
22,5 hektar. Anggaran total yang dikeluarkan untuk desain akuisisi Rp
182.340.000,00.
4. Terdapat beberapa noise yang dapat merusak data antara lain perkampungan,
sungai, pohon, dan sutet pembangkit listrik.

DAFTAR PUSTAKA

Beamish., dan Travassos, 1992. http://digilib.unila.ac.id/111/11/Bab%20III.pdf.


Diakses pada 9 oktober 2018 pukul 00.12.

Grandis, 2010, http://digilib.unila.ac.id/111/11/Bab%20III.pdf. Diakses pada 9


oktober 2018 pukul 00.14.

Simpson, 2005, http://josuasilaen.blogspot.com/2014/01/konsep-dasar-metode-


mt-magnetotellurik.html. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2018 pukul 22.33.

Wahyu, 2010. http://www.ukm.my/rahim/Resistivity% 20lecture.htm diakses pada 8


Oktober 2018 pukul 23.45.