Anda di halaman 1dari 3

Gambaran Mutu Mikrobiologi Pangan Jajanan Pada Kantin Sekolah

Menengah Pertama Swasta Kota Medan


Maria Jessi Rumenta Gultom
Mariajessigoeltoem@gmail.com

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Keamanan pangan pada makanan jajanan sekolah perlu menjadi


perhatian masyarakat, khususnya orang tua, pendidik dan pengelola
sekolah (Febry, 2010), karena pada umumnya anak sekolah
menghabiskan waktunya 6 jam setiap hari di sekolah, sehingga sangat
tinggi kemungkinan untuk membeli makanan jajanan di sekolah (Aprillia
dan Fillah 2011). Tingginya kebiasaan anak sekolah membeli jajanan di
sekolah karena banyak siswa yang jarang dan tidak sarapan pagi.
Hardinsyah (2013) melaporkan di lima kota besar di Indonesia masing-
masing prevalensi yang jarang dan tidak sarapan di Medan 29,4%,
Jakarta 29,8%, Bandung 33,3%, Surabaya 30,1% dan Makassar 28,0%.
Banyaknya makanan yang tidak aman di kantin-kantin sekolah, dan
penjaja makanan di sekolah merupakan agen penting yang dapat
membuat siswa mengonsumsi makanan yang tidak sehat (Suci, 2009).
Berdasarkan data Badan POM selama tahun 2016 telah mencatat 60
kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan yang berasal dari 34
Provinsi. Dilaporkan jumlah orang yang terpapar sebanyak 5.673 orang,
sedangkan kasus KLB keracunan pangan yang dilaporkan sebanyak
3.351 orang sakit dan 7 orang meninggal dunia. Penyebab KLB
keracunan pangan adalah masakan rumah tangga sebanyak 29 (49,15%)
kejadian, pangan jajanan/siap saji sebanyak 12 (20,34%) kejadian, diikuti
pangan olahan dan pangan jasa boga masing-masing sebanyak 9
(15,25%) kejadian (Badan POM, 2016).
Data laporan Badan POM 2014 yang melakukan sampling dan
pengujian laboratorium terhadap Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS)
yang diambil dari total sampel PJAS yang diuji sebanyak 10.429 sampel,
7.945 (76,18%) sampel PJAS diantaranya yang memenuhi syarat.
Persentase PJAS yang diharapkan memenuhi syarat keamanan dengan
target capaian persentase sebesar 70% pada tahun 2012, 80% pada
tahun 2013 dan 90% pada tahun 2014. Terjadi penurunan PJAS yang
memenuhi syarat pada tahun 2014 dibandingkan tahun 2013 (76,18%).
Dari analisis yang dilakukan terhadap parameter pengujian sampel
PJAS, diketahui bahwa penyebab utama PJAS tidak memenuhi syarat
adalah cemaran mikrobiologi, dengan parameter uji berturut-turut adalah
MPN coliform yang paling banyak tidak memenuhi syarat, yaitu sebesar
48% pada es, Angka Lempeng Total (ALT) tertinggi adalah minuman
berwarna dan sirup, sebesar 38% dan Angka Kapang Khamir (AKK)
tertinggi, yaitu minuman berwarna dan sirup sebesar 37%.
Mengingat potensi makanan jajanan yang demikian besar tingkat
kerawanan terhadap kontaminasi bakteri yang menyebabkan penyakit
diare atau keracunan pangan, maka dilakukan penelitian untuk melihat
gambaran mutu mikrobiologi makanan jajanan pada Kantin Sekolah
Menengah Pertama Swasta Kota Medan.
Tujuan Penelitian:
1. Untuk mengetahui gambaran mutu mikrobiologi pangan jajanan pada
Kantin Sekolah Menengah Pertama Swasta Kota Medan.
2. Untuk meneliti jenis pangan jajanan pada Kantin Sekolah Menengah
Pertama Swasta Kota Medan.
3. Untuk mengidentifikasi Angka Lempeng Total dan Escherichia coli
pada pangan jajanan di Kantin Sekolah Menengah Pertama Swasta
Kota Medan.
Manfaat Penelitian
1. Sebagai sumber informasi tentang pemberdayaan kantin sehat di
Sekolah Menengah Pertama Swasta Kota Medan.
2. Sebagai informasi bagi pihak sekolah, siswa dan orangtua agar lebih
memperhatikan kualitas pangan jajanan yang di jajakan di sekolah.
Cara Pengumpulan Data
1. Data indentitas penjaja pangan jajanan dan karakteristik kantin sekolah
yang meliputi jenis pangan jajanan dikumpulkan melalui wawancara
yang dilakukan peneliti kepada penjamah pangan jajanan dengan
mengisi lembar kuisioner yang telah disediakan.
2. Data mutu mikrobiologi pangan jajanan yang dijajakan dikumpulkan
dengan memilih makanan jajanan sesuai dengan kriteria sebagai
berikut:
1) Jenis pangan jajanan siap saji merupakan pangan jajanan yang
diolah sendiri oleh penjaja makanan jajanan.
2) Pangan jajanan yang akan diteliti diambil dari pangan jajanan yang
paling banyak diminati/dibeli siswa.
3) Pengambilan sampel pangan jajanan dilakukan pada saat istirahat
pertama
3. Pengambilan sampel jajanan yang telah memenuhi kriteria yaitu
diambil dengan menggunakan penjepit yang telah disterilkan kemudian
masukkan kedalam wadah bertutup rapat yang diberi label pada
sampel dan selanjutnya dimasukkan kedalam box pendingin,
kemudian sampel akan dilakukan pemeriksaan.