Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu penunjang yang penting
dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Bangunan rumah sakit
adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan yang sangat mendasar.
Untuk menjamin kesinambungan dan kualitas pelayanan kesehatan kepada
masyarakat, maka bangunan rumah sakit serta seluruh peralatan dan perlengkapan yang
menyatu didalamnya harus mendapat perhatian dari pengelola rumah sakit terutama
dalam aspek perawatan dan pemeliharaan yang teratur dan tepat waktu agar terhindar dari
kerusakan yang lebih berat dan memerlukan biaya perbaikan yang tinggi.
Terselenggaranya pelayanan medis kepada masyarakat di rumah sakit tidak
terlepas dari tersedianya fasilitas pelayanan yang memadai. Bangunan rumah sakit
beserta seluruh aspek penunjangnya adalah merupakan sarana tempat dimana pelayanan
medik dilaksanakan.
Keadaan dan kelengkapan bangunan rumah sakit sangat menentukan kualitas
pelayanan medik disamping aspek- aspek yang menentukan antara lain seperti peralatan,
tenaga medis, paramedis, obat- obatan dan kelengkapan pelayanan kesehatan lainnya.
Untuk menjamin keadaan selalu siap operasional maka bangunan rumah sakit
beserta seluruh fasilitas penunjangnya perlu dipelihara sehingga akan terhindar dari
kerusakan yang akan mengakibatkan terganggunya pelayanan dalam jangka waktu yang
lama.
Bangunan rumah sakit, khususnya bangunan- bangunan tempat diselenggarakan
pelayanan medis mempunyai beberapa kekhususan tersendiri sesuai dengan fungsinya
dalam pelaksanaan pelayanan, misalnya ruang operasi, ruang Laboratorium, euang x-ray,
poliklinik dan ruang rawatan.
Kekhususan ruangan yang disesuaikan dengan fungsi pelayanannya menurut
adanya ketentuan khusus mengenai bentuk ruangan dan jenis serta kualitas bahan
bangunan yang dipergunakan dalam membuat ruangan tersebut sehingga
pemeliharaannya harus mengacu kepada aspek- aspek bahan dan fungsi pelayanannya.

B. Tujuan Pedoman Pemeliharaan Sarana.


1. Setiap petugas dan semua pihak yang terkait dalam kegiatan pemeliharaan
bangunan rumah sakit mempunyai pegangan dan acuan.
2. Meningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di Rumah Sakit Ibu Dan
Anak dr Djoko Pramono.
3. Memberikan keamanan dan kenyamanan kepada pasien dan keluarganya yang
berkunjung di RSIA dr Djoko Pramono.

C. Ruang Lingkup Pelayanan Pemeliharaan Sarana.


1. Arsitektur bangunan
2. Utilitas
3. Halaman

D. Batasan Operasional
Pemeliharaan bangunan rumah sakit meliputi pemeliharaan dan perbaikan untuk seluruh
bangunan rumah sakit yang mencakup arsitektur, utulitas dan halaman.
1. Pemeliharaan
Pemeliharaan pencegahan yang dilakukan secara berkala meliputi :
1) Pembersihan
2) Perapihan
3) Pelumasan
4) Penyetelan

Perbaikan kecil yang dilakukan sesuai keadaan atau kebutuhan meliputi :

1) Pemolesan
2) Pelapisan
3) Pengecetan
4) Penggantian komponen atau suku cadang yang rusak dengan volume atau
nilai perbaikan tidak melebihi 2 % dari volume atau nilai keseluruhan per
unit.
2. Sasaran kegiatan pemeliharaan
Arsitektur banguanan, meliputi :
1) Lantai dan tangga
2) Dinding dan partisi
3) Pintu dan jendela
4) Atap dan talang
5) Dan plafon

Untilitas, meliputi :

1) Listrik
2) Plumbing
3) Tata udara ( AC)
4) Komunikasi dalam gedung
5) Pemadam kebakaran dan lift
6) Instalasi pengolahan air limbah

Halaman, meliputi :

1) Pagar,
2) Lapangan parkir
3) Saluran air hujan
4) Tempat sampah

3. Pelaksanaan pemeliharaan
Pelaksana pemeliharaan bangunan rumah sakit dapat dilakukan oleh bagian
pemeliharaan sarana rumah sakit yang bersangkutan, oleh bengkel rujukan atau
oleh pihak ke tiga.
4. Biaya pemeliharaan
Biaya pemeliharaan bangunan rumah sakit dibebankan pada anggaran rutin rumah
sakit. Komponen biaya pemeliharaan meliputi biaya pengadaan bahanm suku
cadang, alat kerja bantu.

E. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1087/MENKES/SK/VIII/2010 Tentang Standar Kesehatan Dan Keselamatan
Kerja di Rumah Sakit.
4. Keputusan Menteri Kesehatan No. 129 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia.


Standar SDM bagian Umum Rumah Sakit adalah sebagai berikut :

NAMA BAGIAN PENDIDIKAN SERTIFIKASI JUMLAH


KEBUTUHAN

1. IPRS SMA/ SMP?Sekolah Mengusai Tata cara 1


Kejuruan
Perbaikan fisik RS

2. Security SMA/SMP Menguasai Tata cara 3


perlindungan diri
dan perlindungan
bagi lingkungan
sekitar

3. Driver SMP/SMA Mengusai teknik 1


mengemudi

4. Loundry SD/SMP Mengusai Pencucian 1


bahan kain dan cara
pencucian yang baik
B. DDistribusi Ketenagaan dan Pengaturan Jaga.
No. Nama Jabatan Kualifikasi formal dan informal Senin- Jumat
07.00 s/d 15.30
1. IPRS SMA/ Sekolah Kejuruan Senin- Jumat
07.00 s/d 15.30
2. Security SMA/SMP Senin- Jumat
07.00 s/d 15.30
3. Driver SMA/SMP Senin- Jumat
08.00 s/d 14.00
4. Loundry SD/SMP Senin- Jumat
07.00 s/d 15.30

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG
( Ada pada lampiran)

B. STANDAR FASILITAS
1. Adanya ruang untuk aktifitas
2. Adanya sarana/ peralatan yang dipakai.
1) Untuk mendukung kegiatan administrasi pemeliharaan sarana diperlukan
fasilitas sebagai berikut :

NO. JENIS KELENGKAPAN JUMLAH


1. Komputer 1 buah
2. Printer Berwarna 1 buah
3. Kamera Digital 1 buah
4. ATK ( gunting, bolpoint, kertas, Sesuai kebutuhan
spidol, penggaris, cutter dll)
5. UPS 1 buah
6. Pesawat Telepon 1 buah
7. Meja 1 buah
8. Kursi 1 buah
9. Lemari arsip 1 buah
10. Ruang kerja

2) Untuk mendukung kegiatan pemeliharaan listrik diperlukan fasilitas sebagai


berikut :

NO. JENIS KELENGKAPAN JUMLAH


1. Avo meter analog 1 Buah
2. Avo meter digital 1 Buah
3. Tang amper 1 Buah
4. Obeng 2 Buah
5. Kunci pas 1 Set
6. Kunci ring 1 Set
7. Tang potong 1 Buah
8. Tang skun kecil 1 Buah
9. Tang skun besar 1 Buah
10. Tang Kombinasi 1 Buah
11. Tang pembulat 1 Buah
12. Insert tool 1 Buah
13. Telepon kecil 1 Buah
14. Ruang Kerja 1
15. Meja Kerja 1 Buah
16. Martil 1 Buah

3) Untuk mendukung kegiatan pemeliharaan pipa atau besi, diperlukan


fasilitas sebagai berikut :

NO. JENIS KELENGKAPAN JUMLAH


1. Gergaji besi 2 Buah
2. Ragum 1 Buah
3. Pemotong pipa besar 1 Buah
4. Mata snei pipa 1 Buah
5. Snei pipa sedang 1 Buah
6. Snei pipa besar 1 Buah
7. Kunci pipa 4 Buah
8. Mesin bor duduk 1 Buah
9. Mistar sorong 1 Buah
10. Penggaris besi siku 1 Buah
11. Mistar baja 1 Buah
12. Tang kombinasi 1 Buah
13. Kunci inggris 1 Buah
14. Obeng 2 Buah
15. Ruang kerja 1

4) Untuk mendukung kegiatan pemeliharaan alat pendingin, diperlukan fasilitas


sebagai berikut :
NO JENIS KELENGKAPAN JUMLAH
1. Ruang kerja Ada
2. Alat pengisi referingerant 1 Buah
3. Obeng 2 Buah
4. Kunci pas 1 set
5. Freon R 22 1 Buah
6. Freon R 134 a 1 Buah
7. Tang ampere 1 Buah
8. Avo meter 1 Buah
9. Kunci ring 1 set
10. Kunci fliring tool 1 set
11. Freon R 404 1 Buah
12. Martil 1 Buah

5) Untuk mendukung kegiatan pemeliharaan kendaraan dinas, diperlukan


fasilitas sebagai berikut :

NO. JENIS KELENGKAPAN JUMLAH


1. Kunci pas 1 Set
2. Kunci ring 1 set
3. Tang 1 Buah
4. Obeng 2 Buah
5. Stand jack mobil 2 buah
6. Dongkrak mobil 3 ton 1 Buah
7. Charger accu 1 Buah
8. Meja kerja 1 Buah
9. Kursi 1 Buah
10. Fuller 1 Buah
11. Martil 1 Buah

1) Untuk mendukung kegiatan Security, diperlukan fasilitas sebagai berikut :

NO. JENIS KELENGKAPAN JUMLAH


1. Buku Tamu 1 Buah
2. Buku Laporan 1 Buah
3. HT 2 Buah
4. Lemari Besi 1 Buah
5. Lemari Penitipan 1 buah

1) Untuk mendukung kegiatan Loundry, diperlukan fasilitas sebagai berikut :

NO. JENIS KELENGKAPAN JUMLAH


1. Mesin Cuci Infeksius 2 Buah
2. Mesin Cuci Non Infeksius 1 Buah
3. Pengering baju 2 Buah
4. Setrika 1 Buah
5. Ember 3 buah
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

4.1 IPRS
PEMELIHARAAN LISTRIK
Komponen yang termasuk dalam lingkup pemeliharaan listrik meliputi : amatur
lammpu, saklar, stop kontak, pembumian, anstalasi kabel dalam gedung, panel
listrik dan UPS.
a) Amatur Lampu.
i. Kontak lampu pijar/ TL
Pemeliharaan :
Pembersihan terhadap debu yang menempel dialkukan dengan
kain/ lap pembersih, jiak sulit kain pembersih dicampur dengan air
dan glass cleaner.
Kotak TL bagian dalam harus dibuka dan dibersihkan dengan
vacum cleaner ( penghisap debu). Ujung- ujung kontak di lampu
TL sering terjadi korosi.
ii. Lampu
Perbaikan : bila lampu mati diganti dengan yang baru.
iii. Louvre
Pemeliharaan : dilakukan dari debu/ kotoran yang menempel
dengan menggunakan kain bersih yang dicampur air atau glass
cleaner. Dilakukan setahun sekali
Perbaikan : bila louvre terak/pecah dilakukan penggantian atau
perbaikan secepat mungkin karena memperngaruhi deviasi sinar.

b) Saklar ( kontak kontak)


Pemeliharaan saklar yang menggunakan pegas harus dibersihkan setiap
tahun sekali. Bagian dalam terutama pada kontak saklar harus bersih dari
debu. Apabila saklar dalam keadaan ON terjadi panas, segera diganti

c) Stop Kontak ( Tusuk Kontak)


Pemeliharaan stop kontak dimaksud harus sering dilakukan pemeriksaan
terutama pada ruang bedah, poliklinik dan ruang yang sering
menggunakan alat yang portable ( pindah- pindah) karena sering ditusuk
dan dilepas, sehingga kotak- kotak yang menjepit akan cepat aus. Perlu
diperhatian, agar stop kontak ini selalu bersih. Kalua terjadi panas atau
rusan segera diganti.

d) Pembumian.
Untuk pembumian dirumah sakit teradapt 3 kelompok, yaitu :
i. Untuk peralatan medic maksimum 0,2 Ohm, sesuai PUIL 1987 pasal
860 kelompok 2E
ii. Untuk stop kontak didalam gedung dan alat- alat lain maximum 5
0hm.

System pembumian diatas, masing- masing tidak boleh digabung.


Pengukuran tahanan pembumian dilakukan setiap tahun dengan earth
tester. Ujung saluran pembumian sering terjadi korosi, sehingga perlu
dibersihkan dengan sikat besi halus dan disemprot dengan cairan anti
korosi.

e) Instalasi Kabel dalam Gedung.


Pengukuran tahanan isolasi dengan meger dilakukan setiap 3-4 tahun
sekali. Apabila tahanan isolasi kabel kurang dari 250 kilo ohm maka
instalasinya harus diperbaiki atau kabelnya diganti.
f) Panel Listrik
Pada penenl ini pemeliharaannya lebih teliti dengan mematikan tegangan
untuk service dan terlebih dahulu perlu koordinasu dengan IPH masing-
masing dan rumah tangga yang diketahui Direktur RSIA, karena di
dalamnya sering terdapat banyak debu dan harus dibersihkan dengan
vacuum cleaner, kuas dan lap bersih.
Pada sambungan mur antara kabel/ busbar ke MCB/ MCCB sering
terdapat korosi dan harus disemprot dengan cairan anti korosi dan mur
yang kendor akibat getaran, agar dikencangkan kembali setiap 6 ( enam)
bualn sekali.
Pengetesan MCB/MCCB, fuse yang putus harus diganti, lampu- lampu
pilot, mter- meter yang rusak diganti secepatnya. Udara disekitarnya panel
dibebaskan di lebab. Pengecekan karet- karet pintu panel dan kunci panel
setiap 6 (enam) bulan seklai, jika keadaannya rusak agar diganti.
g) Transformator.
Transformator perlu dilakukan pengecekan yang teliti. Untuk
transformator jenis kering perlu dilakukan pembersihan dari debu dengan
lap kering dan vacuum cleaner dan diujung pole perlu dibersihkan dengan
amplas.
Untuk transformator jenis olie perlu dilakukan pengetesan daya isolator
dari olie trafo, dapat ditest setiap tahun sekali untuk typer Consevatif dan
5 tahun sekali untuk type Hematic atau akan dilakukan lebih awal jika
terjadi trouble shooting/ short Circuit salah satu beban ( pengetesan olie di
LMK PLN)
h) UPS ( Uninterruptible Power Supply)
Pada ruang- ruangan khusus ( kelompok 2E), terdapat UPS. UPS perlu
diperhatian khusus pada baterai, harus sering diperiksa/ diganti jika dalam
indikator UPS sudah tidak dapat diisi kembali dibagian baterai terdapat
pole- pole yang perlu dibersihkan dan temperature ruangan diusahakan
19C. Untuk menjaga program- program yang ada dalam UPS yang
menggunakan mikcroprocessor setiap 2 bulan sekali.

4.2 PEMELIHARAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH.


a. Saluran
Pemeliharaan dari saluran di atas secara periodic tiap bulan dapat berupa :
a) Penggelontoran air
b) Penyemprotan air dengan tekanan tinggi
c) Pengambilan endapan
b. Lubang pemeriksaan ( Bak kontrol/ Man hole)
Pemeliharaan lubang pemeriksa, sama dengan pemeliharaan saluran tersebut di
atas hanya frekuensinya lebih sering ( 2 minggu sekali).
c. Pemeliharaan Kloset
Dipergunakan hanya untuk membuang kotoran manusia. Penggelontoran agar
menggunakan air yang lebih banyak . Pembersihan dilakukan setiap hari.
d. Tangki Septik.
Pemeliharaan tangki septic pada prinsipnya hanya mebgruas endapan. Hal ini
dilakukan dengan seksama minimal 1 ( satu) tahun maksimal 4 tahun. Bila limbah
cair banyak mengandung lemak/ minyak maka tangki septik dilengkapi dengan
alat penangkap lemak.
e. Bak Pengumpul/ Pengangkat.
Pemeliharaan biasa dilakukan pada unit ini bila terjadi pengendapan di dalam bak
pengumpul dan pompa dilakukan tiap 6 bulan. Pengangkat baru dihidupkan
disertai dengan penyemprotan air terhadap semua permukaan yang kotor.

f. Instalasi Pengolahan Biologis dengan Anaerobic Filter.


Pemeliharaan anaerobik filter adalah membersihkan sampah, tanaman, lumut
yang menempel pada dinding. Pembersihan dilakukan setiap minggu.

g. Bak Panampung Lumpur.


Pemeliharaan bak penampung lumpur adalah membersihkan kotoran lumut yang
menempel pada dinding. Pembersihan dilakukan setiap 3 bulan sekali

h. Bak pengering lumpur.


Pemeliharaan :
a) Pembersihan sampah, lumut dan tumbuhan lain.
b) Penambahan pasir secara berkala sesuai ketebalan yang diperlukan
c) Pembersihan dilakukan setiap 3 bulan.

i. Bak Kamporisasi.
Pemeliharaan :
a) Pembersihan secara periodic endapan sisa kaporit
b) Saluran pembubuhan dibersihkan, sehingga aliran kaporit menjadi lancar
j. Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Biologis dengan Sistem Aerobic.
Pemeliharaan IPAL sistem aerobic dilakukan setiap 2 hari seklai meliputi hal- hal
sebagai berikut :
a) Memeriksa blower termasuk keadaan oli setiap blower dan mengganti/
menambahnya bilamana dianggap perlu.
b) Mengatur penggantian pemakaian blower dari unit yang satu ke unit yang
lainnya kecuali apabila diatur secara otomatis.
c) Membersihkan intake filter
d) Memeriksa keadaan ven- belt dan tegangannya.
e) Memeriksa sistem operasi dari motor blower termasuk diffuser.
f) Memeriksa switchboard.
g) Memeriksa comminutor termasuk keadaan ole comminutor dan
mengganti/ menambahnya bilamana dianggap perlu.
h) Membersihkan serta membuang lumut atau kotoran lain yang ada pada
unit sewage Treatment Plant termasuk juga didalam ruang pompa.
i) Memeriksa dan membersihkan pompa- pompa sewage.
j) Memeriksa dan membetulkan aliran cairan kaporit sesuai dengan dosis
yang telah ditentukan.

k. Prosedur dan Tahap Pemeliharaan


a) Bak pengumpul Awal ( Influent chamber)
Bersihkan benda- benda padat dan batu yang tertimbun dan berkumpul
secara berkala sebelum mencapai unit cummuinutor.
b) Comminutor
Pisau – pisau pemotong tumpul, gantilah dengan pisau- pisau baru.
Periksa bak comminutor jika sekiranya terdapat batu, berikan lubrikasi
secukupnya dan semprot dengan air agar bersih.
c) Unit penyebar Udara ( Difuser).
Apabila diffuser tersumbat, aturlah katup katup sehingga udara yang lewat
unit tersebut deretan diffuser lainnya. Bila pelampung tersumbat,
bersihkanlah.
Pengendapan pada pipa transfer, masukkan selang air kedalam pelampung
dan semprotkan air sekut- kuatnya.
d) Bak Pengendap.
Apabila terjadi lumpur yang mengapung tambahkanlah debit resirkulasi,
kalau tidak ada kemajuan, bersihkanlah dinding- dinding miring bak
pengendap.
Apabila masih belum terlihat perkembangan, kurangilah proses aerasi agar
supaya proses nitrifikasi tidak berlebihan.

4.3 Security
Rumah sakit sebagai tempat umum terpapar oleh berbagai resiko keamanan. Baik
terhadap pasien, pengunjung, karyawan, ataupun terhadap properti rumah sakit, pasien,
pengunjung dan karyawan. Untuk itu RSIA dr. Djoko Pramono perlu membuat
perencanaan di bidang pengaturan keamanan untuk mengantisipasi berbagai hal yang
tidak diinginkan.
4.3.1 Berdasarkan Jenis korban
1. Karyawan
Karyawan dapat menjadi korban keamanan langsung, ataupun aset milik karyawan
dapat menjadi korban dari suatu ancaman kemanan. Karyawan dapat menjadi korban
penganiayaan yang dilakukan pasien / pengunjung (misalkan petugas UGD saat
berhadapan dengan pasien mabuk, ataupun keluarga yang marah-marah. Aset karyawan
dapat juga menjadi korban pencurian dsb.
2. Pengunjung
Kejadian juga dapat menimpa pengunjung yang berada di sekitar area RSIA dr. Djoko
Pramono, mungkin ancaman itu dikarenakan pencurian baik di ruang rawat inap atau
area parkir area RSIA dr. Djoko Pramono.
3. Pasien
Kemanan terhadap pasien mungkin timbul dikarenakan adanya pencurian di ranap,
disebabkan tidak ada keluarga yang menunggu, ( misalkan pasien sedang istirahat,
pengunjung yang datang bukan dari keluarganya, padahal untuk melihat kelengahan
pasien yang sedang tidur)
4. Properti
Properti RSIA dr. Djoko Pramono berupa equipment (medical dan non medical),
maupun data, baik elektronik maupun paper.
5. Properti Karyawan, Pasien dan Pengunjung
Yang termasuk adalah properti karyawan meliputi benda berharga (Laptop, tas, dompet
berisi identitas dan uang), kendaraan (mobil/motor). Walau telah dijelaskan bahwa
kehilangan merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing, namun RSIA dr. Djoko
Pramono tetap mengupayakan pengawasan terhadap properti karyawan, pasien dan
pengunjung.

4.3.2 Berdasarkan Jenis risiko keamanan


1. Pencurian
Resiko yang paling besar yang terjadi di rumah sakit adalah masalah tindak pencurian,
sistem keamanan yang masih belum terpenuhi menjadi kendala dalam monitoring
pengawasan dilapangan, minimnya SDM security mengakibatkan kontrolling dilapangan
sangat terbatas. Area yang menjadi sasaran pencurian seperti : ruang rawat inap, area
parkir.

2. Perusakan
Fasilitas yang tampak diarea luar merupakan resiko perusakan yang bisa terjadi kapan
saja, seperti kendaraan dan fasilitas umum lainnya, kejadian perusakan pun bisa terjadi di
dalam gedung seperti fasilitas umum yang tidak bisa dijaga keindahannya. Dalam hal ini
security pun harus selalu memonitor area–area yang kemungkinan terjadi perusakan.

3. Pelecehan
Kemanan pasien, pengunjung dan staff yang merupakan tanggung jawab security yang
bertugas, pelecehan merupakan resiko keamanan angka kecil yang terjadi di RSIA dr.
Djoko Pramono, akan tetapi antisipasi untuk menghindari hal tersebut sangat diperlukan.

4. Kontak fisik / kekerasan


Keamanan staff dan pengunjung harus selalu diutamakan, terutama staff yang bekerja
dalam keadaan mendapat complain harus selalu diawasi, hal yang tidak terduga bisa saja
terjadi, seperti keluarga pasien marah – marah yang pada ujungnya menimbulkan kontak
fisik.
Penganiayaan terhadap pasienRumah sakit bertanggung jawab melindungi
pasien terhadap penganiayaan fisik dari pengunjung, pasien lain atau staff. Tanggung
jawab ini terutama atas bayi, anak-anak, lansia, dan individu lain yang tidak dapat
mempertahankan dirinya sendiri. Rumah sakit berupaya untuk mencegah penganiyaan
melalui proses-proses seperti menyelidiki orang tanpa identitas dilingkungan rumah sakit,
memonitor area yang sepi atau terpencil, dan segera bertindak jika ada seseorang yang
diduga berada dalam bahaya atau dianiaya.
Proses pertama yang harus dilakukan security adalah memonitor area-area
yang bisa menimbulkan bahaya dan memonitor pengunjung yang masuk ke area RSIA dr.
Djoko Pramono dengan memperhatikan idenitas diri (name tag), setiap pengunjung yang
memasuki area rumah sakit wajib memakai identitas diri, terkecuali keluarga dan atau
pasien. Memonitor area tidak terjangkau dengan menggunakan CCTV, seperti area-area
parkir dan area luar lobby.
5. Perlindungan terhadap barang-barang pasien dan keluarga

Rumah sakit memberitahu pasien dan keluarganya mengenai tanggung jawab rumah sakit
atas barang-barang milik pasien. Jika rumah sakit bertanggung jawab atas seluruh barang
yang dibawa oleh pasien ke rumah sakit, ada proses untuk melaporkan barang milik,
serta memastikan barang yang dilaporkan tersebut tidak hilang atau dicuri. Proses ini
mempertimbangkan pasien dalam keadaan gawat darurat, pasien one day surgery, pasien
rawat inap, dan pasien yang tidak dapat mengamankan barang-barangnya sendiri, serta
mereka yang tidak dapat mengambil keputusan atas barang-barangnya sendiri. Untuk
mengurangi angka pencurian di ruangan setiap pasien yang mau masuk keruangan selalu
diberitahu di bagian pendaftaran rawat inap untuk menyimpan barang di locker yang
sudah tersedia, Perlindungan terhadap anak-anak, penderita cacat, lansia dan individu lain
yang beresiko

Rumah sakit mengidentifikasi kelompok pasien yang berisiko dan


menetapkan proses melindungi hak-hak mereka. Kelompok pasien yang berisiko dan apa
tanggung jawab rumah sakit atas mereka diatur dalam peraturan perundangan. Staf
mengetahui tanggung jawab mereka dalam proses ini. Yang termasuk kelompok pasien
berisiko minimal meliputi anak-anak, penderita cacat fisik dan mental, lansia, pasien
koma atau tidak sadar. Perlindungan yang diberikan meliputi perlindungan dari serangan
fisik sampai pada area keselamatan seperti perlindungan dari perawatan yang tidak
layak, penundaan pemberian pelayanan maupun bantuan saat terjadi kebakaran.Seluruh
pasien , keluarga, pengunjung lainnya ( lansia, anak-anak, penderita cacat fisik )
mempunyai perlindungan yang sangat khusus, utamakan keselamatan pengunjung dari
situasi bahaya seperti gempa dan huru hara lainnya.

4.3.4 UPAYA PENANGGULANGAN RESIKO KEAMANAN

Petugas

1. Jumlah

Jumlah tenaga yang dibutuhkan di setiap unit pelayanan disesuaikan dengan


tingkat hunian, jumlah pengunjung, tingkat resiko keamanan yang ada

2. Kualifikasi

Pelatihan BHD dan pelatihan penanggulangan kebakaran

4.3.5 Perlengkapan Monitoring Keamanan

CCTV (Closed Circuit TV)

Merupakan metoda surveillans yang dilakukan disetiap area beresiko yang tidak
terawasi penuh oleh petugas security.

Buku tamu

Buku ini diisikan oleh petugas security di masing-masing pintu masuk dengan
mencatatkan data orang yang masuk disertai kartu pengunjung yang ditukarkan
dengan KTP pengunjung.

4.3.6 Penanggulangan Resiko Keamanan Kendaraan Bermotor

Pemeriksaan karcis parkir

Pemeriksaan STNK

Untuk kendaraan roda dua wajib dilakukan pemeriksaan STNK. Dilakukan oleh
petugas yang berdinas di area parkir motor terhadap semua staff dan pengunjung.

Patroli & Pencatatan

Patroli ini dimaksudkan untuk mengecek barang – barang yang menempel


dikendaraan seperti jaket, helm dll.
4.4 DRIVERS
Transportasi merupakan kegiatan pemindahan penumpang atau barang dari suatu
tempat ke tempat lain, dimana di dalamnya terdapat unsur pergerakan (movement).
Transportasi sangat memegang peranan penting dalam pengembangan suatu Rumah
Sakit. Proses transfer pasien dari atau ke rumah sakit membutuhkan pelayanan
transportasi khusus. Kendaraan yang dirancang khusus untuk pengangkutan orang
sakit dikenal dengan ambulans. Ambulans dapat berupa kendaraan apa saja yang di
dalamnya dirancang untuk pelayanan pasien selama dalam perjalanan.
A. PEMELIHARAAN DAN PENYEDIAAN BAHAN BAKAR

1. Pemeliharaan kendaraan
Pemeliharaan kendaraan dimaksudkan untuk menjaga kondisi kendaraan baik
ambulance rumah sakit dalam keadaan laik jalan dan siap setiap saat dibutuhkan, maka
dari itu diperlukan perawatan mobil rutin yang meliputi
a) Pemeriksaan kondisi fisik ambulance melalui pengecekan kesiapan kendaraan dan
kebersihan setiap kendaraan ambulance
b) Ganti oli sesuai dengan pemakaian kendaraaan
c) Servis peralatan kendaraan baik servis rutin maupun servis yang dikarenakan
kerusakan kendaraan

2. Penyediaan bahan bakar


Pemeliharaan kendaraan meliputi juga pengisian bahan bakar kendaraan yang
dilakukan pengisian di tempat SPBU yang ditunjuk oleh rumah sakit maupun SPBU
lainnya.

3. Tata cara mengisian bahan bakar


a) Petugas kendaraan selalu mengecek pemakaian kendaraan termasuk bahan bakar
kendaraan, jika indikator BBM kendaraan sudah mencapai setengah indikator,
maka pengemudi ambulance wajib mengisikan bahan bakar kendaraan ke SPBU
b) bahan bakar kendaraan yang telah terpakai untuk diganti yang baru.
Jika dalam keadaan darurat atau ke luar kota yang melampaui perkiraan pengisian
bahan bakar, maka pengemudi ambulance mengajukan bon sementara yang telah
diketahui oleh Bagian Umum ke bagian kasir / petugas administrasi, dan petugas
kasir / administrasi memberikan uang untuk pembelian bahan bakar kendaraan
sesuai dengan bon sementara untuk kebutuhan pengisian bahan bakar dan
menandatangani penyerahan uang.
c) Pengemudi ambulance melakukan pengisian di SPBU selama indikator mencapai
minimum (tidak mengganggu transportasi selama penggunaan ambulance) untuk
mendapatkan bahan bakar yang dibutuhkan dengan meminta struk asli pembelian
bahan bakar.
d) Pengemudi ambulance menyerahkan struk pembelian bahan bakar ke bagian
administrasi setelah mendapatkan persetujuan Bagian Umum.
1. Pengendalian infeksi
a) Cuci tangan sebelum dan sesudah bekerja untuk mencegah infeksi silang
b) Pemakaian alat pelindung diri untuk mencegah kontak dengan darah dan cairan
infeksi yang lain seperti masker, sarung tangan, googles dan apron jika
dibutuhkan
c) Pengelolaan jarum dan alat tajam lain untuk mencegah perlukaan
d) Pembersihan ambulance setiap penggunaan pengantaran ataupun penjemputan
pasien
e) Pengelolaan limbah rumah sakit dan sanitasi ruangan

Mengurangi resiko pasien


a) Rumah sakit menyediakan peralatan kesehatan yang dapat mengurangi resiko
pasien/jenasah jatuh pada saat pemindahan pasien, pada proses transfer maupun
pemindahan pasien.
b) fasilitas Ambulance yang sudah dilengkapi dengan tempat untuk meletakan
Brankar yang disebut dengan Landasan. Landasan Brankar berfungsi untuk
mempermudah Brankar masuk dan keluar
c) Brankar dilengkapi dengan sabuk pengaman

4.5 LOUNDRY
Administrasi Dan Pengelolaan
a. Tindakan pencucian di Laundry dilaksanakan kerjasama antara laundry dan unit
terkait yang membutuhkan pencucian linen
b. Pelayanan di Laundry dikoordinasi dan dikepalai oleh perawat kamar operasi.
c. Peyananan pencucian linen dilakukan oleh petugas / pekerja laundry sesuai
dengan tugasnya

PELAYANAN LOUNDRY
a. Pelaksana laundry bertanggung jawab terhadap pengembangan
implementasi dan memelihara atau menegakkan kebijakan serta prosedur
yang ditetapkan dan dilaksanakan
b. Penanggung jawab laundry mempunyai tanggung jawab untuk memelihara atau
mempertahankan program pengendalian mutu yang telah ditetapkan dan
dilaksanakan.
c. Mempunyai tanggung jawab untuk memantau dan menelaah seluruh pelayanan
laundry yang ditetapkan dan dilaksanakan.
d. Bilamana penanggung jawab laundry berhalangan maka ditunjuk koordinator
dri tenaga / petugas laundry
1) Tugas
(a) Mengkoordinasi kegiatan pelayanan laundry sesuai dengan sumber daya
manusia, sarana, prasarana dan peralatan yang tersedia
(b) Melakukan koordinasi dengan bagian/ instalasi terkait
(c) Mengawasi pelaksanaan pelayanan laundry setiap hari.
(d) Mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan pelayanan laundry
(e) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dan membuat laporan kegiatan berkala.
2) Tanggung Jawab
(a) Menjamin kompetensi sumber daya manusia yang
melaksanakan pelayanan laundry
(b) Menjamin sarana, prasarana dan peralatan sesuai dengan kebutuhan
pelayanan dan standar.
(c) Menjamin dapat terlaksananya pelayanan laundry yang bermutu dengan
mengutamakan keselamatan pasien.
(d) Meningkatkan dan mengembangkan kompetensi sumber daya manusia pelayanan
laundry secara berkesinambungan.
(e) Pelaksanaan pencatatan, evaluasi dan pembuatan laporan kegiatan di dalam
rumah sakit.
(f) Pelaksanaan program menjaga mutu pelayanan laundry dan keselamatan pasien
di dalam rumah sakit.
BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan logistik bagian Pemeliharaan Sarana diadakan melalui permintaan barang


sesuai SPO Logistik RSIA:
1. Administrasi
NO NAMA BARANG
1. Surat perintah kerja lembur
2. Kertas folio
3. Tinta printer
4. Buku ekspedisi
5. Buku folio
6. Map
7. Pensil
8. Penggaris
9. Staples
10. Isi staples
11. Stipo
12. Slip bon makan
13. Bollpoint

2. Pemeliharaan Gedung.
NO NAMA BARANG
1. Pasir
2. Semen
3. Koral
4. Batu bata
5. Plamir tembok
6. Lem rajawali
7. Kertas gosok
8. Calcium
9. Pensil kayu
10. Plamir kayu
11. Pemes
12. Kayu
13. Triplek
14. Laberkol
15. Cat tembok
16. Cat kayu

3. Pemeliharaan Listrik & Telepon


NO. NAMA BARANG
1. Kabel NYY 2x2,5mm²
2. Kabel NYY 2x2,5mm²
3. Kabel NYY 4x4mm²
4. Kabel serabut 2x2 mm²
5. MCB
6. Kontaktor
7. Relay
8. Timer
9. Lampu tl
10. Lampu mercury
11. Lampu sl
12. No fuse breaker
13. Kabel NYY 4x10mm²
14. Kabel telepon indoor
15. Kabel telepon outdoor
16. Skun kabel
17. Terminal telepon
18. Isolasi listrik
19. Lampu indikator panel listrik
20. Volt meter panel
21. Amper meter panel
22. Klem kabel

4. Pemeliharaan Pipa/ Besi


NO NAMA BARANG
1. Pipa besi½ ”
2. Pipa besi¾ ”
3. Pipa besi1’’
4. Pipa besi1 ½ ”
5. Pipa besi2”
6. Tba
7. Pipa pvc ½ ”
8. Pipa pvc ¾ ”
9. Pipa pvc 1”
10. Pipa pvc 1 ¼ ”
11. Pipa pvc 1 ½ ”
12. Pipa pvc 2 ”
13. Pipa pvc 2 ½ ”
14.
NO Pipa pvc
NAMA 4”
BARANG
15.
1 Pipa pvc 6”
Pewangi Pakaian
16.
2 Pipa pvcPakaian
Pemutih 8”
17.
3 Kran wastafel
Diterjen
18.
4 Stop pembersih
Sikat kran
19.
5 Flexible
Buku Pencatatan
20.
6 Gasket
Pulpen

5. Pemeliharaan Alat Pendingin


NO. NAMA BARANG
1. Freon R 12
2. Freon R 22
3. Freon R 134 a
4. Freon R 404
5. Pakan las perak

6. Pemeliharaan Kendaraan Dinas


NO. NAMA BARANG
1. Oli
2. Busi
3. Roda
4. Bahan bakar
5. Filter oli
6. Filter udara
7. Filter bensin
8. Filter solar
9. Dop lampu
10. Bahan bakar

Loundry
Security

NO NAMA BARANG
1 Buku laporan
2 Pulpen
3 Penggaris
4 Buku Tamu

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Program Keselamatan Kerja di Bagian Pemeliharaan Sarana dengan Komunikasi efektif (


sesuai dengan panduan komunikasi SBAR).
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

UU Keselamatan Kerja yang digunakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja,


menjamin suatu proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur agar proses
produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur agar proses produksi tidak merugikan
semua pihak. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatan dalam
melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas
nasional. UU Keselamatan Kerja yang berlaku di Indonesia sekarang adalah UU Keselamatan
Kerja (UUKK) No. 1 tahun 1970. Undang-undang ini merupakan undang-undang pokok yang
memuat aturan-aturan dasar atau ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja di segala
macam tempat kerja yang berada di wilayah kekuasaan hukum NKRI.
Dasar hukum UU No. 1 tahun 1970 adalah UUD 1945 pasal 27 (2) dan UU No. 14 tahun 1969.
Pasal 27 (2) menyatakan bahwa: “Tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan”. Ini berarti setiap warga negara berhak hidup layak dengan
pekerjaan yang upahnya cukup dan tidak menimbulkan kecelakaan/ penyakit. UU No. 14 tahun
1969 menyebutkan bahwa tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksana dari
pembangunan.
Faktor- faktor yang menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat digolongkan pada
tiga kelompok, yaitu :
a. Kondisi dan lingkungan kerja
b. Kesadaran dan kualitas pekerja
c. Peranan dan kualitas manajemen
Dalamkaitannyadengankondisidanlingkungankerja,kecelakaandan penyakit akibat kerja dapat
terjadi bila :
a. Peralatan tidak memenuhistandarkualitas atau bila sudah aus.
b. Alat –alat produksi tidakdisusun secara teratur menurut tahapan proses produksi.
c. Ruangkerjaterlalusempit,ventilasiukurankurangmemadai,ruangan terlalu panasatau terlalu
dingin.
d. Tidak tersedia alat –alat pengaman.
e. Kurang memperhatikan persyaratan penanggulangan bahaya kebakaran dan lain- lain.
Program Keselamatan Kerja di bagian Pemeliharaan Sarana :
a. Peraturan Keselamatan harus jelas dan dimengerti oleh setiap karyawan
b. Harus dicegah jangan sampai terjadi pegawai terjatuh
c. Ruang gerak bebas
d. Ruangan mempunyai ventilasi udara yang cukup
e. Penerangan lampu yang baik, menghindarkan dari kelelahan penglihatan pegawai
f. Harus tersedia locker untuk penyimpanan alat- alat tugas
g. Perlu diperhatikan peraturan suhu ruangan, kelembaban, pencegahan debu dan
pencegahan kebakaran
h. Ketika melakukan tugas harus selalu mengutamakan keselamatan kerja ( memakai kaca
mata pada waktu mengelas, memakai sabuk pengaman bila naik tembok yang tinggi dll)
Memahami Prosedur yang Berkaitan dengan Keamanan
Prosedur yang berkaitan dengan keamanan (SOP, Standards Operation Procedure) wajib
dilakukan. Prosedur itu antara lain adalah penggunaan peralatan kesalamatan kerja. Fungsi
utama dari peralatan keselamatan kerja adalah melindungi dari bahaya kecelakaan kerja dan
mencegah akibat lebih lanjut dari kecelakaan kerja. Pedoman dari ILO (International Labour
Organization) menerangkan bahawa kesehatan kerja sangat penting untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja. Pedoman itu antara lain:
a. Melindungi pekerja dari setiap kecelakaan kerja yang mungkin timbul dari pekerjaan dan
lingkungan kerja.
b. Membantu pekerja menyesuaikan diri dengan pekerjaannya
c. Memelihara atau memperbaiki keadaan fisik, mental, maupun sosial para pekerja.
Alat keselamatan kerja yang biasanya dipakai oleh tenaga kerja adalah helm, masker, kacamata,
atau alat perlindungan telinga tergantung pada profesinya.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

a. Adanya Penangggungjawab SK Direktur


Input IPSRS
b. Ketersediaan bengkel kerja Tersedia
c. Waktu tanggap kerusakan alat ≥ 80 %
≤ 15 menit
d. Ketepatan waktu pemeliharaan 100 %
Proses
alat sesuai jadwal pemeliharaan
e. Ketepatan waktu kalibrasi alat 100%

Output f. Alat ukurdan alat 100%


Pemeliharaan sarana
laboratoriumyang dikalibrasi
rumah sakit
tepat waktu

Respontime pelayanan transportasi untuk setiap unit

Nama indikator Respontime pelayanan transportasi

Dimensi mutu Respon rumah sakit terhadap kebutuhan perunit

Tujuan Mengetahui repontime pelayanan transportasi terhadap permintaan


perunit

Definisi operasional Waktu tunggu sejak telpon permintaan trasnportasi sampai dengan
kendaraan siap penjemputan kurang dari 30 menit

Frekuensi pengumpulan Setiap bulan


data

Periode analisis 3 bulan sekali

formulasi (Respontime kurang dari 30 menit/ seluruh permintaan)x 100%

Target 90%

Sumber data Catatan pemakaian kendaraan

Standar 24 jam

Penanggung jawab Penanggung jawab kendaraan

2. Ketersediaan pelayanan rumah sakit

Nama indikator Ketersediaan pelayanan ambulance rumah sakit

Dimensi mutu Respon rumah sakit terhadap pelayanan kebutuhan didalam rumah
sakit

Tujuan Mengetahui ketersediaan pelayanan terhadap kebutuhan rumah sakit

Definisi operasional Presentasi ketersediaan kendaraan dalam satu periode tertentu

Frekuensi pengumpulan data Setiap bulan

Periode analisis 3 bulan sekali

target 90%

formulasi ( angka ketersediaan kendaraan/ total permintaan kendaraan) x100%

Sumber data Bagian kendaraan

Standar 24 jam

Penanggung jawab Penanggung jawab kendaraan


BAB IX

PENUTUP

Pedoman Pemeliharaan Sarana Bangunan Rumah Sakit Ibu Dan Anak dr. Djoko Pramono
ini telah diusahakan disusun dengan sebaik- baiknya. Namun demikian tentu masih terdapat
kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunannya yang perlu mendapatkan perhatian guna
penyempurnaannya.

Tanggapan dari pembaca yang berkepentingan dengan pedoman ini sangat kami harapkan
untuk menjadi bahan pertimbangan guna penyempurnaan penyusunan pedoman Pemeliharaam
Sarana Bangunan Rumah Sakit Ibu Dan Anak dr Djoko Pramono dikemudian hari.