Anda di halaman 1dari 16

PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN PESANAN

DISUSUN OLEH :
SYINTIA BEBY (163304020496)
RIKKY (163304020437)
MARTIN PANGESTU (1633
EDDY SUSANTO (163304020434)

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN


UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,karunia, taufik dan hidayat-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini mengenai “Perhitungan biaya berdasarkan pesanan”

Makalah ini dibuat agar kita lebih memahami mengenai perhitungan biaya berdasarkan pesanan
sesuai dengan materi yang kami dapatkan pada tugas kelompok manajemen biaya, selain itu
makalah ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah manajemen biaya Semester 5
tahun2018.

Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Pangondian Harahap, S.E.I., M.B.A. Selaku dosen
Manajemen Biaya yang membantu dalam memberikan penjelasan tentang Perhitungan biaya
berdasarkan pesanan. Kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari sempurna,oleh karena itu
kritik dan saran dari pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata kami sampaikan Terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
meridhoi segala usaha kita, Amin.

Medan ,29Oktober 2018


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI .................................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................3
A. Latar belakang .................................................................................................................. 3
B. Rumusan masalah ............................................................................................................. 3
C. Tujuan ................................................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................... 4
A. Konsep Perhitungan biaya berdasarkan pesanan ................................................. 4
1. Akuntansi untuk bahan baku ............................................................................................
2. Akuntansi untuk tenaga kerja ...........................................................................................
3. Akuntansi untuk biaya overhead pabrik ..........................................................................
4. Akuntansi untuk barang jadi dan produk yang dijual ...................................................
BAB III PENUTUP .........................................................................................................................
A. Kesimpulan ..........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya penentuan biaya berdasarkan pesanan mengakumulasi biaya bahan baku
langsung,biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik yang dibebankan ke setiap
pesanan. Untuk penetapan harga jual dan pengendalian biaya umumnya calon pelanggan
selalu meminta estimasi biaya terlebih dahulu sebelum memesan dan seringkali mereka
memesan atau memberi pekerjaan akan membandingkannya dulu dengan pesaing.
Maka dari itu dalam penyusunan makalah ini akan dibahas tentang perhitungan biaya
berdasarkan pesanan beserta contoh soalnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diangkat sebuah rumusan masalah yaitu
bagaimanakah peran dalam melakukan perhitungan biaya berdasarkan pesanan dalam suatu
perusahaan.

C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah untuk menambah
pengetahuan kita mengenai Perhitungan biaya berdasarkan pesanan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN PESANAN


Job order costing (biaya berdasarkan pesanan) adalah salah satu metode perhitungan biaya
produksi untuk menentukan harga pokok produksi pada suatu perusahaan yang berdasarkan
pada sistem order atau pesanan. Dalam sistem perhitungan ini, biaya produksi
diakumulasikan untuk setiap pesanan yang terpisah. Jadi jika suatu pesanan telah diterima,
pabrik atau perusahaan akan membuat produk sesuai dengan spesifikasi masing-masing
pesanan.

Pada sistem ini terdapat suatu lembaran biaya yang digunakan sebagai perincian mengenai
suatu pesanan atau sering disebut dengan kartu biaya pesanan (job cost sheet). Lembar biaya
tersebut digunakan untuk mengidentifikasi biaya produksi agar diketahui hasil biaya tersebut
terjadi karena produksi tertentu. Banyak sedikitnya kartu biaya pesanan (job cost sheet)
dibuat sesuai dengan berapa banyaknya pesanan yang diminta. Sistem yang digunakan
dengan menggunakan sistem urutan. Cara ini dibuat dengan memberi nomor urut pada
pesanan disesuaikan waktu atau jenis dari pesanan yang diminta.

Di dalam lembaran biaya produksi dibebankan oleh beberapa hal, yaitu :

1. Biaya bahan baku. Biaya bahan baku dibebankan pada bon permintaan. Jadi biaya
bahan baku dibebankan secara langsung pada pesanan yang diminta.
2. Biaya tenaga kerja (upah). Biaya tenaga kerja berdasarkan job ticket (kartu kerja).
Sama halnya dengan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dibebankan secara
langsung pada pesanan yang diminta.
3. Biaya overhead pabrik (manufacturing overhead costs) adalah biaya produksi yang
tidak masuk dalam biaya bahan baku maupun biaya tenaga kerja langsung. Apabila
suatu perusahaan juga memiliki departemen-departemen lain selain departemen
produksi maka semua biaya yang terjadi di departemen pembantu tersebut
(termasuk biaya tenaga kerjanya) dikategorikan sebagai biaya overhead pabrik.
Adapun ciri-ciri perusahaan yang mengakumulasi biaya berdasarkan pesanan sebagai
berikut:

1. Proses pembuatan produk terjadi secara terputus-putus. Jika suatu pesanan selesai
dikerjakan, proses produksi dihentikan dan dimulai dengan pesanan berikutnya.
2. Produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pelanggan,
sehingga antara satu pesanan dengan pesanan yang lain dapat berbeda-beda.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan pelanggan, bukan untuk memenuhi
persediaan.

Bagi perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan, informasi biaya produksi yang
dihasilkan oleh sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan akan bermanfaat untuk:

 Menetapkan harga jual yang akan dibebankan kepada pelanggan dan juga sebagai
dasar pengajuan proposal tender.
 Mengevaluasi ketepatan dalam pembebanan harga taksiran.
 Membandingkan biaya pesanan serupa yang pernah dikerjakan.
 Menganalisis waktu penyelesaian suatu pesanan.
 Menghitung laba atau rugi kotor untuk setiap pesanan.
 Menentukan biaya persediaan akhir produk jadi dan barang dalam proses.

Tujuan dari sistem perhitungan ini adalah untuk menentukan harga pokok produk dari
setiap pesanan, baik harga pokok produk secara keseluruhan tiap pesanan maupun per satuan.
Maka dari itu, sistem perhitungan ini sangat berperan penting di berbagai pabrik maupun
perusahaan. Contoh perusahaan yang biasanya menggunakan sistem job order costing adalah
adalah perusahaan pembuatan pesawat udara, perusahaan mebel, perusahaan modister, industri
gelanggang kapal, pembuatan mesin atau alat berat khusus, jam tangan mewah, percetakan, dan
lainnya. Umumnya, produknya dicirikan sebagai produk yang khusus (custome) dan tidak
diproduksi secara masal. Kartu harga pokok di samping dipergunakan untuk menghitung harga
pokok suatu pesanan juga berfungsi sebagi rekening pembantu (subsidiary account) dari
rekening control. Perhitungan biaya berdasarkan pesanan melibatkan delapan ayat jurnal yang
digunakan untuk mencatat transaksi. Ayat-ayat jurnal sebagai berikut.

1. Pembelian bahan baku


2. Pengakuan biaya tenaga kerja pabrik

3. Pengakuan biaya overhead pabrik

4. Penggunaan bahan baku

5. Distribusi beban gaji tenaga kerja

6. Pembebanan estimasi biaya overhead

7. Penyelesaian pesanan

8. Penjualan produk

1. Akuntansi untuk Bahan Baku

Prosedur yang digunakan dalam pembelian dan pengeluaran bahan berbeda di tiap pabrik.
Biasanya sebelum tanggal produksi dimulai, karyawan dibagian yang bertanggung jawab atas
penjadwalan akan memberi informasi kepada bagian pembelian, dengan menggunakan
formulir permintaan pembelian, tentang bahan-bahan yang ingin dibeli. Bagian pembelian
kemudian megeluarkan pesanan pembelian kepada pemasok. Setelah itu, pegawai di bagian
departemen penerimaan membuat laporan penerimaan barang dilihat dari kondisi dan
kuantitas.

Perkiraan bahan dalam buku besar (general ledger) merupakan perkiraan pengendali.
Perkiraan yang terpisah untuk masing-masing jenis bahan yang diselenggarakan dalam buku
tambahan adalah buku bahan (materials ledge). Kegunannya adalah sebagai alat bantu
memlihara kuantitas persediaan barang. Bentuk perkiraan dalam buku bahan dapat
digambarkan sebagai berikut.
Bahan-bahan yang ingin di produksi, maka akan dipindahkan dari gudang ke pabrik dengan
menyesuaikan dengan formulir permintaan bahan, yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh
bagian produksi atau bagian penjadwalan. Formulir ini berfungsi sebagai dasar pembukuan
(pemasukan) data kuantitas dan jumlah dolar ke perkiraan buku bahan.

Formulir yang telah diisi akan dijadikan sebagai dasar pemindah harga pokok bahan dari
perkiraan pengendalian dalam buku besar ke perkiraan pengendalian unuk barang dalam
proses dan overhead pabrik. Arus bahan ke produksi digambarkan dengan ayat jurnal
sebagai berikut.

Barang dalam Proses…………………………. 13.000


Overhead Pabrik……………………………… 840
Bahan……………………………………. 13.840

Berikut merupakan gambar formulir permintaan barang

FORMULIR PERMINTAAN BARANG

62 704
Pesanan No. ……………. BPP No. …………

R A Sanders 10 Mei 2014


Disetujui oleh ………….. Tanggal: ………..

Keterangan Kuantitas Kuantitas Harga


Jumlah
yang Di- yang Di- Per
setujui keluarkan Unit

Bahan No. 23 800 700 $0,50 $350


100 0,54 54
Total yang dikeluarkan $404

M.K. JB
Dikeluarkan oleh ………………… Diterima oleh ……………….

2. Akuntansi untuk Tenaga Kerja


Dalam akutansi untuk tenaga kerja berbeda dengan bahan. Oleh karena itu, dalam akutansi
untuk tenaga kerja tidak ada perkiraan persediaan dengan sistem perpetual untuk pekerja.
Namun dengan adanya akutansi untuk tenaga kerja ini dapat menentukan jumlah upah yang
harus diberikan kepada setiap karyawan pada setiap periode pengupahan dan dapat
mengalokasikan upah pekerja kepada overhead pabrik dan masing-masing produksi pesanan.

Di dalam perusahaan terdapat sebuah kartu absensi yang berguna untuk mencatat waktu
kedatangan dan waktu pulang dari setiap karyawan atau pekerja pada absen individual yang
bisa berbentuk ketas atau elektronik. Kartu tersebut disebut sebagai kartu jam kerja (time
tickets). Dengan adanya kartu ini jumlah waktu yang dipakai oleh seorang karyawan dan
biaya pekerja untuk tiap pesanan, atau overhead pabrik dapat dicatat dan diperoleh dengan
mudah. Kartu ini digunakan untuk menghitung penghasilan dari karyawan dengan upah per
jam Berikut merupakan gambar kartu jam kerja (time tickets)

KARTU JAM KERJA

Gail Berry 4521


Nama Karyawan : ……………. No: …………

240 10 Mei 2014


Karyawan No. …….. Tanggal: ………..

Keterangan Pekerjaan
Penyelesaian (Finishing) 62
……………………… Pesanan No. ….
Waktu Waktu Jam Upah
Biaya
Mulai Berhenti Bekerja per Jam

10:00 12:00 2 $6,50 $13,00


1:00 2:00 1 6,50 6,50

Total biaya $19,50

T.D.
Disetujui oleh ……

Dari segi hubungan dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi dua, yaitu tenaga kerja
langsung dan tenaga kerja tak langsung. Tenaga kerja langsung adalah pekerja atau karyawan
yang secara langsung ikut berpartisipasi dalam proses produksi dan yang upahnya merupakan
bagian yang besar dalam memproduksi produk. Upah tenaga kerja langsung diperlakukan
sebagai biaya tenaga kerja langsung dan diperhitungkan langsung sebagai unsur biaya produksi.
Sedangkan tenaga kerja tak langsung adalah pekerja atau karyawan yang secara tidak langsung
ikut berpartisipasi dalam proses produksi. Upah tenaga kerja tak langsung ini disebut biaya
tenaga kerja tak langsung. Jadi upah tenaga kerja tak langsung dibebankan pada produk tidak
secara langsung, tetapi melalui tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka.

Untuk mengidentifikasi biaya tenaga kerja langsung dan tidak langsung, setiap karyawan
membuat satu atau lebih kartu jam kerja karyawan setiap hari. Setiap kartu jam kerja karyawan
merupakan dokumen yang menunjukkan waktu yang dihabiskan oleh seorang pekerja untuk sutu
pesanan tertentu (tenaga kerja langsung) atau untuk tugas-tugas lain (tenaga tidak langsung).
Tenaga kerja yang tidak digunakan dalam proses produksi dibebankan ke akun beban pemasaran
atau beban administratif. Kartu jam kerja biasanya dihitung biayanya dan diikhtisarkan secara
periodik, dan jumlah jam kerja setiap karyawan yang tertera di kartu jam kerja dicocokkan
dengan jumlah jam kerja menurut kartu absen

Jumlah waktu yang telah dicatat dalam kartu jam kerja (time tickets), kemudian dibandingkan
dengan kartu karyawan (clock cards). Gunanya untuk dijadikan sebagai pengecekan internal
(internal check) dari ketepatan pengeluaran upah. Arus biaya pekerja ke dalam produksi
digambarkan dengan ayat jurnal berikut ini.

Barang dalam Proses.......................... 10.000


Overhead Pabrik……........................ 2.200
Hutang Upah………………….... 12.200

3. Akuntansi untuk Biaya Overhead Pabrik


Overhead pabrik mencakup semua biaya produksi kecuali bahan langsung dan pekerja
langsung. Contoh dari biaya overhead selain dari bahan tak langsung dan pekerja tak
langsung adalah penyusutan listrik, bahan bakar, asuransi, dan pajak kekayaan. Merupakan
hal biasa untuk memiliki perkiraan pengendali overhead pabrik dalam buku besar. Perinci
dari berbagai jenis biaya diakumulasikan dalam buku besar.

Pendebetan pada perkiraan overhead dapat berasal dari berbagai sumber. Sebagai contoh,
biaya bahan tak langsung diperoleh dari ikhtisar formulir permintaan bahan, biaya pekerja
tak langsung diperoleh dari ikhtisar kartu jam kerja, biaya listrik dan air yang diperoleh dari
faktur, dan biaya penyusutan serta asuransi (yang telah habis manfaatnya) dapat dicatat
sebagai penyesuaian pada akhir periode akuntansi. Meskipun overhead pabrik tidak dapat
diidentifikasikan secara khusus dengan pekerjaan tertentu, tetapi overhead pabrik merupakan
bagian yang sama biaya pabrikasi sebagaimana halnya bahan langsung dan pekerja langsung.
Sejalan dengan meningkatnya penggunaan mesin dan otomasi, maka overhead pabrik
mewakili bagian - bagian yang lebih besar dari total biaya. Sebagian jenis biaya overhead
pabrik terjadi untuk keseluruhan pabrik dan tidak dapat secara langsung dihubungkan dengan
produk jadi. Masalah menjadi rumit, karena beberapa jenis biaya overhead pabrik relatf
besarnya tetap, sementara yang lainnya cenderung bergerak sesuai dengan perubahan
produktifitas.

Menunggu sampai akhir periode akuntansi untuk mengalokasikan overhead pabrik ke


berbagai pekerjaan merupakan hal yang sangat dapat diterima dari sudut pandang keakuratan
(accurancy), namun hal ini sangat tidak memuaskan jika ditinjau dari ketepatan waktu
(timesliness). Agar sistem biaya dapat mempunyai kegunaan yang sebesar-besarnya, maka
kehendaknya data biaya dapat tersedia pada saat setiap pekerjaan selesai, meskipun ada
pengorbanan dalam ketelitian. Hanya melalui pelaporan yang tepat waktu manajemen dapat
membuat penyesuaian yang dipandang perlu dalam penetapan harga dan metode produksi,
untuk mencapai kombinasi terbaik yang mungkin dari pendapatan dan dari biaya pekerjaan di
masa mendatang. Oleh karena itu, dengan maksud agar data biaya dari pekerjaan dapat selalu
tersedia, terdapat kebiasaan untuk membebankan overhead pabrik pada produksi dengan
penggunaan tarif overhead pabrik yang ditentukan terlebih dahulu (predetermined factory
overhead rate).

Tarif overhead pabrik yang ditentukan dengan menghubungkan estimasi jumlah overhead
pabrik untuk tahun yang akan datang dengan beberapa dasar kegiatan yang umum, yaitu
dasar yang dapat membebankan secara adil pada barang yang diproduksi. Pada saat biaya
(overhead pabrik) terjadi, biaya tersebut didebet ke perkiraan overhead pabrik. Biaya
overhead pabrik yang dibebankan ke produksi secara periodik dikresit keperkiraan overhead
pabrik dan didebet ke perkiraan barang dalam proses. Pembebanan biaya overhead pabrik
tersebut ke produksi digambarkan dengan ayat jurnal, sebagai berikut:

Barang dalam Proses………………………………… 8000


Overhead Pabrik………………………………… 8000

Biaya overhead pabrik yang dibebankan biasanya ditutup ke pengendali overhead pabrik
pada akhir tahun. Berikut merupakan ayat jurnal penutupnya:

Overhead Pabrik …………………………………… 8000


Pengendali Overhead Pabrik ...………………… 8000

Akun tersendiri pabrik dibebankan, memiliki keuntungan dalam hal memisahkan


catatan overhead dibebankan dengan overhead actual. Catatan terpisah memberi kemudahan
bagi manajer mengevaluasi tarif overhead dengan cara membandingkan total overhead
dibebankan dan total overhead actual dengan jumlah yang telah dianggarkan. Perusahaan-
perusahaan yang tidak menggunakan akun overhead pabrik dibebankan akan mengkredit
pengendali overhead pabrik ketika mengkredit barang dalam proses. Hal ini meniadakan
kebutuhan untuk membuat ayat jurnal penutup dan memiliki dampak akhir yang sama pada
pengendali overhead pabrik, seperti ayat-ayat jurnal yang diilustrasikan di atas.

Jika jumlah yang dibebankan melebihi jumlah yang sesungguhnya, maka perkiraaan
overhead pabrik akan memiliki saldo kredit. Ini disebut dengan overapplied atau
overabsorbed (kelebihan pembebanan). Sedangkan jika jumlah yang dibebankan kurang dari
biaya sesungguhnya, maka perkiraaan overhead pabrik akan memiliki saldo debet. Ini yang
disebut dengan underapplied atau underabsorbed (kelebihan pembebanan).

PERKIRAAN OVERHEAD PABRIK

Saldo

Tanggal Keterangan Debet Kredit

Mei 1 Saldo 200


31 Biaya yang terjadi 8.320
31 Biaya yang dibebankan 8.000 120

Saldo underapplied

Saldo overabsorbed

4. Akuntansi untuk Barang Jadi dan Produk Yang Dijual


Dalam akuntansi untuk barang jadi terdapat perkiraan barang jadi yang selalu ada dalam
buku tambahan. Buku tambahan tersebut yang mempunyai perkiraan pada setiap jenis barang
yang diproduksi, disebut buku barang jadi (finished goods ledger) atau buku persediaan
(stock ledger). Buku barang jadi ini dipergunakan untuk mencatat kuantitas dan harga pokok
produksi, kuantitas dan harga pokok barang yang dikirim, dan kuantitas, total biaya dan
harga pokok per unit barang yang masih ada di tangan. Berikut contoh perkiraan buku barang
jadi yang telah dijelaskan.

Setelah pencatatan buku barang jadi selesai, kemudian diteruskan dengan pencatatan untuk
tembuasan pesanan pengiriman tersebut dengan harga pokok per unit dan jumlah hahrga pokok
yang dijual. Data biaya dalam pesanan pengiriman ini menjadi dasar ayat jurnal, sebagai berikut.

Harga Pokok Penjualan ……………………… 30.168


Barang Jadi ……………………………... 30.168

Pada penjualan barang jadi, diperlukan agar mencatat atau menjaga baik itu harga pokok
(cost price) ataupun harga jual (selling price) barang-barang yang telah dijual. Untuk setiap
penjualan, harga pokok penjualan dicatat dengan mendebitkan harga pokok penjualan dan
mengkreditkan barang jadi. Harga jual dari barang yang terjual dicatat dengan mendebit piutang
usaha (kas) dan mengkreditkan penjualan. Jika barang dikembalikan oleh pembeli dan
dimasukan kembali kedalam persediaan, maka harus dilakukan pendebitan barang jadi dan
mengkreditkan harga pokok penjualan sejumlah harga pokoknya.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Perhitungan Biaya berdasarkan pesanan merupakan suatu sistem akuntansi yang
menelusuri biaya pada unit individual atau pekerjaan, kontrak, tumpukan atau pesanan pelanggan
yang spesifik
Akuntansi overhead pabrik adalah perkiran sementara yang digunakan dalam sistem
akuntansi biaya untuk menampung seluruh biaya overhead pabrik, meliputi tenaga kerja tidak
langsung,dan biaya overhead yang lainny.saldo perkiraan ini dipindah tiap-tiap periode
keperkiraan inventaris barang dalam proses
tarif overhead pabrik sering dinyatakan dalam bentuk persen,sehingga biaya overhead
pabrik yang diperkirakan merupakan taksiran biaya tenaga kerja langsung,yang digunakan untuk
membebankan biaya overhead pabrik pada pekerjaan-pekerjaan.overhead pabrik aktual tidak
dipindahkan pada barang dalam proses,karena jumlah yang sebenarnya tidak diketahui dengan
pasti selama periode operasi.
daftar upah tenaga kerja adalah suatu perkiraan sementarayang digunakan dalam sistem
akuntansi biaya untuk menampung seluruh upah tenaga kerja operasi industri.saldo perkiraan
terdiri atas biaya ternaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.biaya tenaga kerja
langsung dipindahkan pada perkiraan inventaris barang dalam proes dan biaya tenaga kerja tak
langsung menjadfi berbagian dari barang dalam proses.
kartu biaya perkerjaan adalah catatan pembantu yang digunakan untuk mendukung
perkiraan inventaris barang dalam proses dalam sistem akuntansi biaya pesanan pekerjaan,kartu
biaya pekerjaan ditunjukkan seperti buku besar pembantu barang dalam proses,lihatlah ilustrasi
dalam teks.
akuntansi biaya pesanan pekerjaan adalah sistem inventris perpetual dari auntansi dari
biaya manufaktur,yang catatan-catatan individualnya digunkan untuk tiap-tiap pekerjaan atau
pesanan yang diproduksi dalam pabrik.
DAFTAR PUSTAKA

SADELI, Lili M., Haji. 2004. AKUNTANSI MANAJEMEN:sistem,proses,dan pemecahan soal.


Jakarta: Bumi Aksara
SADELI. Lili. Siswanto. Bedjo. 2004. Akuntansi Manajemen. Jakarta : Sinar Grafika
http://febriyeka.blogspot.com/2013/07/perhitungan-biaya-berdasarkan-metode_25.html
https://witchnclown.wordpress.com/2012/12/06/karakteristik-biaya-pesanan-dan-biaya-proses-
akuntansi-biaya/