Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

DYSPEPSIA

A. Definisi
Dyspepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari
rasa tidak enak/sakit di perut yang menetap atau mengalami kekambuhan
keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn)
dan regurgitasi asam lambung (Mansjoer, 2012).
Dyspepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari
nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh, atau cepat kenyang,
sendawa (Dharmika, 2013).
Dyspepsia mengacu pada rasa kenyang yg tak mengenyangkan
sesudah makan, yg berhubungan dgn mual, sendawa, nyeri ulu hati &
mungkin kram & begah perut. Kerap kali kali diperberat karena makanan yg
berbumbu, berlemak / makanan berserat cukup tinggi, & karena asupan
kafein yg berlebihan, dyspepsia tiada kelainan lain menunjukkan adanya
gangguan fungsi pencernaan (Williams & Wilkins, 2011).

B. Etiologi
Dyspepsia dikarenakan karena ulkus lambung / penyakit acid reflux..
Hal ini menyebabkan nyeri di dada. Beberapa perubahan yg terjadi pada
saluran cerna atas dampak proses penuaan, terutama pada ketahanan
mukosa lambung (Wibawa, 2013). Kadar lambung lansia biasanya
mengalami menurunnya hingga 85%. Beberapa obat-obatan, seperti obat
anti-inflammatory, bisa menyebabkan dispepsia. Terkadang penyebab
dispepsia belum bisa diketemukan.
Penyebab dispepsia secara rinci ialah:
1) Menelan udara (aerofagi)
2) Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
3) Iritasi lambung (gastritis)
4) Ulkus gastrikum / ulkus duodenalis
5) Kanker lambung
6) Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
7) Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan
produknya)
8) Kelainan gerakan usus
9) Stress psikologis, kecemasan, / depresi
10) Infeksi Helicobacter pylory
11) Perubahan pola makan
12) Pengaruh obat-obatan yg dimakan secara berlebihan dan dlm
waktu yg lama
13) Alkohol & nikotin rokok
14) Stres
15) Tumor / kanker saluran pencernaan

C. Manifestasi Klinis

1. nyeri perut (abdominal discomfort)


2. Rasa perih di ulu hati
3. Mual, kadang-kadang sampai muntah
4. Nafsu makan berkurang
5. Rasa lekas kenyang
6. Perut kembung
7. Rasa panas di dada dan perut
8. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)

D. Pathofisiology
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak
jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres,
pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong,
kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat
gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat
mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya
kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata
membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan
maupun cairan.
E. Pathway

Perubahan pola makan, pengaruh obat-obatan alkohol, nikotin, rokok,


tumor/kanker saluran pencernaan, stres

Erosi dan ulcerasi Peningkatan Timbulnya tanda dan


mukosa lambung gejala klinik gangguan
produksi HCL
sistem cerna

Pelepasan mediator Impuls ke fleksus meissner ke


Perubahan status
kimia (bradikinin, nervus vagus
kesehatan
histamin,
prostaglandin)

Kurang informasi
Merangsang medulla oblongata

Nosiceptor

Kurang pengetahuan
Impuls kefleksus miesenterikus tentang penyakitnya
pada dinding lambung
Saraf afferen
Stressor
Anoreksia

Thalamus
Anxietas
Mual Muntah

Intake kurang
Corteks cerebri
Perubahan
kesimbangan cairan
dan elektrolit
Nyeri akut
Nyeri Ketidakseimbangan
Nutrisi Kurang dari
kebutuhan tubuh
F. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik,
diabets mellitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil
laboratorium dalam batas normal.

2. Radiologis
Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di
saluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis
terhadap saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan
kontras ganda.

3. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi)
Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran
endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik.

4. USG (ultrasonografi)
Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak
dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu
penyakit, apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat
digunakan setiap saat dan pada kondisi klien yang beratpun dapat
dimanfaatkan

5. Waktu Pengosongan Lambung


Dapat dilakukan dengan scintigafi atau dengan pellet radioopak. Pada
dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30 – 40 %
kasus.

G. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan non farmakologis :


 Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
 Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda,
obat-obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres
 Atur pola makan
2. Penatalaksanaan farmakologis yaitu :
Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam
lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam
lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah

H. Pencegahan
1) Pola makan yang normal dan teratur,
2) pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan
yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar
asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat
karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara
wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.

I. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan
yang dilakukan yaitu : Mengumpulkan data, mengelompokkan data dan
menganalisa data. Data fokus yang berhubungan dengan dispepsia
meliputi adanya nyeri perut, rasa pedih di ulu hati, mual kadang-kadang
muntah, nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, perut kembung,
rasa panas di dada dan perut, regurgitasi (keluar cairan dari lambung
secar tiba-tiba). (Mansjoer A, 2012). Dispepsia merupakan kumpulan
keluhan/gejala klinis (sindrom) yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit
diperut bagian atas yang dapat pula disertai dengan keluhan lain,
perasaan panas di dada daerah jantung (heartburn), regurgitasi,
kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual,
muntah, dan beberapa keluhan lainnya (Sarwono, 2012).

2. Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung
b) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual muntah
c) Anxietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
3. Rencana Intervensi Keperawatan
a) Dx 1 :
Nyeri akut berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2 x 24
jam diharapkan nyeri klien hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
 Skala nyeri berkurang
 Wajah Klien tampak rileks
 Klien menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
 Klien mampu mengontrol nyeri
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji skala nyeri secara 1. Untuk mengetahui skala
komprehensif nyeri yang di rasakan klien
2. Kaji tanda-tanda vital 2. Untuk mengetahui keadaan
3. Berikan posisi yang nyaman umum klien dann sebagai
4. Ajarkan teknik relaksasi dan indikator untuk melanjutkan
distraksi intervensi selanjutnya
5. Kolaborasi dengan tim medis 3. Dengan posisi yang
lainnya dalam pemberian nyaman dapat
terapi. menghilangkan dapat
mengurangi rasa klien.
4. Dapat mengurangi rasa
nyeri atau dapat terkontrol.
5. Menghilangkan rasa nyeri
dan mempercepat proses
penyembuhan klien

b) Dx 2 :
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual muntah
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2 x 24
jam diharapkan ketidakseimbangan nutrisi klien dapat terpenuhi
Kriteria Hasil :
 Mual, muntah (-)
 Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
 Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
 Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji adanya alergi makanan 1. Untuk mengetahui jenis
2. Kaji kemampuan pasien makanan yang dapat di
untuk mendapatkan nutrisi berikan
yang di butuhkan 2. Dapat menentukan jenis
3. Monitor Mual muntah diet dan mengidentifikasi
4. Berikan makanan sedikit tapi pemecahan masalah untuk
sering meningkatkan intake
5. Kolaborasi dengan tim medis nutrisi.
lainnya dalam pemberian 3. Berguna dalam
terapi mendefinisikan derajat
masalah dan intervensi
yang tepat, berguna dalam
pengawasan kefektifan
obat, kemajuan
penyembuhan
4. meminimalkan anoreksia,
mual muntah dan
mengurangi iritasi gaster
5. Mempercepat proses
penyembuhan

c) Dx 3 :
Anxietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 2 x 24
jam diharapkan kecemasan klien hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
 Tanda-tanda Vital dalam batas normal
 Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas
 Ekspresi wajah klien tampak rileks
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat kecemasan 1. Mengetahui sejauh mana
2. Berikan dorongan dan tingkat kecemasan yang
berikan waktu untuk dirasakan oleh klien
mengungkapkan pikiran dan sehingga memudahkan
dengarkan semua dalam tindakan selanjutnya
keluhannya 2. Klien merasa ada yang
3. Jelaskan semua prosedur memperhatikan sehingga
dan pengobatan klien merasa aman dalam
4. Berikan dorongan spiritual segala hal tindakan yang
diberikan
3. Klien memahami dan
mengerti tentang prosedur
sehingga mau bekerjasama
dalam perawatannya.
4. Bahwa segala tindakan
yang diberikan untuk
proses penyembuhan
penyakitnya, masih ada
yang berkuasa
menyembuhkannya yaitu
Tuhan Yang Maha Esa.
DAFTAR PUSTAKA

Bare & Suzanne, 2010, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, (Edisi
8) Jakarta : EGC

Mansjoer, 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Carpenito, 2015, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, (Edisi 2).


Jakarta : EGC
Corwin,. J. Elizabeth, 2012, Patofisiologi. Jakarta : EGC

Doenges, E.Marilynn dan MF. Moorhouse, 2012, Rencana Asuhan Keperawatan,


(Edisi III).Jakarta : EGC

FKUI, 2011, Patologi, FKUI. Jakarta : EGC

Ganong, 2010, Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Gibson, John, 2012, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat. Jakarta : EGC

Guyton dan Hall, 2013, Fisiologi Kedokteran, (Edisi 9). Jakarta : EGC

Price, S. A dan Wilson, L. M, 2011, Patofisiologi. Jakarta : EGC

Sarwono, 2012. Buku Keperawatan edisi v. Surabaya : MEC

Sherwood, 2012, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, (edisi 21). Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai