Anda di halaman 1dari 14

“PENDIDIKAN INDIVIDU DAN PENDIDIKAN MASYARAKAT”

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah
Filsafat Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Amirudin, M.M.

Disusun oleh:

Jamila (2017.3.5.1.00396)

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM BUNGA BANGSA CIREBON
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul

“PENDIDIKAN INDIVIDU DAN PENDIDIKAN MASYARAKAT”. Penyusunan makalah

ini bertujuan memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan.

Penyelesaian makalah ini tentu saja tidak lepas dari dari bantuan berbagai pihak, baik

secara langsung maupun tidak langsung. Dengan segala kerendahan hati kami menyadari

bahwa hasil yang dicapai dari makalah ini, masih jauh dari sempurna dan banyak

kekurangannya, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami

harapkan. Akhir kata kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami pribadi maupun

pembaca sekalian dan mudah-mudahan amal baik kita mendapat ridho dan magfiroh-Nya.

Amin.

Cirebon, 22 Oktober 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

BAB I : PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A. Latar Belakang............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah........................................................................................ 1
C. Tujuan Pembahasan..................................................................................... 2

BAB II : PEMBAHASAN....................................................................................... 3
A. Pengertian Pendidikan .................................................................................. 3
B. Hubungan Antrara Individu dan Masyarakat................................................ 3
C. Fungsi Pendidikan Bagi Individu dan Masyarakat....................................... 6

BAB III : PENUTUP............................................................................................. 11


A. Kesimpulan.................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 13
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan produk dari masyarakat,karena apabila kita sadari arti
pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-
aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda maka seluruh upaya tersebut sudah dilakukan
sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan masyarakat. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari
merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik di rumah,sekolah, tempat permainan,
pekerjaan dan sebagainya dan bagi masyarakat sendiri hakikat pendidikan sangat bermanfaat
bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan
eksistensinya, maka kepada anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan,
keterampilan dan bentuk tata perilaku lainnya
Setiap masyarakat berupaya meneruskan kebudayaannya dengan proses adaptasi
tertentu sesuai corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda melaluipendidikan,
secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai
proses sosialisasi.Dalam pengertian tersebut, pendidikan sudah dimulai semenjak seorang
individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan eksternal di luar dirinya,Dalam konteks
sosial, pendidikan juga memiliki fungsi, peran dan kiprah lain yang berkorelasi dengan
kekuatan-kekuatan kolektif yang sudah mapan. Tidak hanya puas dalam kondisi demikian
pendidikan juga memberikan andil menterjemahkan nilai-nilai baru yang tumbuh akibat proses
pergulatan sejarah dalam wujud emansipasi integrasi dengan sistem dan struktur sosialnya.
Sehingga dengan begitu masyarakat tidak pernah kering dari dinamika perubahan dan evolusi
sosialnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pendidikan ?
2. Bagaimana hubungan antara individu dan masyarakat ?
3. Apa fungsi pendidikan bagi individu dan masyarakat ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian pendidikan
2. Untuk mengetahui hubungan antara individu dan masyarakat
3. Untuk mengetahui fungsi pendidikan bagi individu dan masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui
pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Secara umum pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik
agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan dapat juga diartikan sebagai usaha sadar dan sistematis untuk mencapai
taraf hidup atau untuk kemajuan yang lebih baik. Pendidikan dapat mengembangkan
karakter melalui berbagai macam kegiatan, seperti penanaman nilai, pengembangan budi
pekerti, nilai agama, pembelajaran dan pelatihan nilai-nilal moral, dan pendidikan itu
proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham, dan membuat
manusia lebih kritis dalam berpikir. (Anonim, 2017)

B. Hubungan Antara Individu dan Masyarakat


1. Individu
Individu berasal dari bahasa latin “Indivuduum” yang artinya yang tak terbagi, dan
merupakan kesatuan yang tak terbatas. Maksudnya bahwa manusia merupakan satu
kesatuan jiwa dan raga yang tak dapat dipisah satu sama lain. Setiap manusia lahir ke
dunia dengan membawa potensi diri masing-masing yang dapat dikembangkan
kemudian hari melalui proses balajar atau pendidikan. Contohnya: seseorang
melakukan kegiatan menulis , hal tersebut merupaka perintah dari jiwa atau psikisnya
untuk menyuruh fisiknya untuk menulis sesuatu dengan pulpen dan kertas. Setiap
individu lazim memiliki ciri – ciri khas yang melekat dalam dirinya, sehingga
memberikan identitas khusus, yang disebut kepribadian.

2. Pengertian Masyarakat
Kata masyarakat merupakan terjemahan dari kata (community atau komunitas).
Secara definitif dapat didefinisikan sebagai sekelompok manusia yang terdiri dari
sejumlah keluarga yang bertempat tinggal di suatu wilayah tertentu baik di desa ataupun
di kota yang telah terjadi interaksi sosial antar anggotanya atau adanya hubungan sosial
yang memilki norma dan nilai tertentu yang harus dipatuhi oleh semua anggotanya dan
memiliki tujuan tertentu pula. Masyarakat adalah satuan kelompok terkecil yang terikat
melalaui sistem yang terorganisasikan dan kekerabatan yang didasarkan pada prinsip-
prinsip demokrasi, dalam kehidupan sosial politik, kehidupan ekonomi dan lapangan
kehidupan yang lain. Ikatan yang paling kuat adalah adanya satu pandangan hidup
bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan dasar hukum nasional yang satu yaitu UUD 1945.
3. Hubungan individu dan masyarakat secara umum :
Hubungan antara individu dan masyarakat telah.banyak disoroti oleh para ahli
baik ara filsuf maupun para ilmuan sosial. Berbagai pandangan itu pada dasarnya dapat
dikelompokkan kedalam tiga pendapat yaitu pendapat yang menyatakan bahwa (1)
masyarakat yang menentukan individu, (2) individu yang menentuk masyarakat, dan
(3) idividu dan masyarakat saling menentukan.
4. Hubungan Individu dan Masyarakat Indonesia
Hubungan individu dan masyarakat itu dapat ditinjau dari segi masyarakat saja
(totalisme), ditinjau dari segi individu saja (individualisme) dan ditinjau dari segi
interaksi individu dan masyarakat. Dengan memperhatikan tiga pandangan ini Profesor
Supomo menyatakan bahwa hubungan antara warga negana dan negara Indonesia
adalah hubungan yang integral. Beliau menyatakan bahwa hubungan masyarakat
Indonesia pada dasarnya adalah hubungan yang integral. Dari uraian ini dapat
disimpulkan bahwa paham yang dianut untuk menggambarkan hubungan antara
individu dan masyarakat di Indonesia adalah paham integralisme. (Anonim, 2015)
Paham inntegralisme berpendapat bahwa individu-individu yang bermacam-
macam itu merupakan suatu kesatuan dan keseluruhan yang utuh. Manusia dalam
masyarakat yang teratur dan tertib itu berada dalam suatu integrasi. Integrasi semacam
ini dapat berarti dalam arti sosiologis dan psikologis, sebab manusia yang berada dalam
integrasi itu merasa aman, tenang dan bahagia. Integrasi semacam ini terdapat dalam
masyanakat kecil maupun besar, seperti keluarga, desa dan negara.
Hubungan individu dan masyarakat dalam Indonesia merdeka seperti yang
dimaksud Prof. Supomo dapat diperhatikan dalam rumusan Proklamasi Kemerdekaan
RI, Undang-Undang Dasar 1945 dan GBHN. Dalam Proklamasi dirumuskan: Kami
bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Hal-hal yang mengenai
pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dalam
tempo yang sesingkat-singkatnya. Atas nama bangsa Indonesia. Sukarno Hatta.
Penggunaan kata kami dan atas nama bangsa Indonesia menunjukkan bahwa negara
yang dikemerdekaan itu untuk semua warga bangsa Indonesia, bukan untuk Sukarno
maupun Hatta. Hal ini berarti bahwa kemerdekaan untuk seluruh bangsa Indonesia
diperjuangkan oleh masing-masing warga bangsa Indonesia. Jadi individu dan
masyarakat terinntegrasi untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemederkaan
Indonesia.
Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea pertama dinyatakan bahwa kemerdekaan
adalah hak segala bangsa. Pada alinea kedua dinyatakan bahwa perjuangan pergerakan
kemerdekaan Indonesia telah mengantarkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur. Pada alinea yang ketiga atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan yang luhur supaya berkebangsaan yang bebas
maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Pada alinea keempat dinyatakan
bahwa pemerintahan negara Indonesia yang dibentuk adalah untuk melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa kepentingan yang diperjuangkan adalah
masyarakat secara keseluruhan dan individu-individu sebagai warga bangsa secara
perseorangan.
Perhatian terhadap masyarakat dan individu dapat dijumpai pada pasal-pasal
dalam UUD 1945 seperti: pasal 30, 31 yang mengatur hak dan kewajiban, pasal 33 yang
mengatur tentang perekonomian, pasal 34 tentang fakir miskin dan anak-anak terlantar,
dan lain-lain. Dalam Ketetapan MPR nomor II/MPR/l988 tentang tujuan pembangunan
nasional dijelaskan bahwa pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan
masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila
di dalam wadah negara Kesatauan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu
dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tenteram,
tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat,
tertib dan damai. Dan peryataan ini dapat diketahui bahwa kepentingan individu dan
kepentingan bersama-sama mendapat perhatian dan diberi tempat yang sama dalam
menciptakan kehidupan yang bahagia sejahtera.
Berdasarkan ketetapan MPR NO. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila dijelaskan tentang Pandangan Pancasila terhadap hubungan
individu dan masyarakat bahwa. kebahagian manusia akan tercapai jika dapat
dikembangkan hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antara manusia dan
masyarakat. Hubungan sosial yang selarasdan serasi, selaras dan seimbang itu antara
individu dan masyarakat itu tidak netral, tetapi dijiwai oleh nilai-nilal yang terkandung
dalam lima sila dalam Pancasila secara kesatuan.
Dan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pandangan integralisme ini
tidak lain adalah pandangan Pancasila yang memandang hubungan individu dan
masyarakat itu secara serasi selaras dan seimbang dalam menciptakan manusia yang
sejahtera dan bahagia lahir batin, dunia dan akhirat. (Anonim, 2017)

C. Fungsi Pendidikan Bagi Individu dan Masyarakat


Telah disadari bersama bahwa saat ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan bagi
umat manusia, hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran umat manusia
akan pentingnya arti pendidikan, baik bagi individu, maupun masyarakat.

a. Fungsi pendidikan bagi individu:


Bagi individu, pendidikan memiliki fungsi:
1) Sebagai sarana untuk mengembangkan potensi yang dibawa sejak lahir. Melalui
pendidikan seseorang akan dapat mengasah bakat bawaannya. Orang yang cerdas
adalah orang yang memiliki bakat cerdas dan bakat cerdasnya tersebut telah
terasah melalui proses yang disebut dengan pendidikan. Demikian halnya dengan
orang yang terampil dalam bidang tertentu, ia menjadi terampil bukan semata-
mata karena bakat, melainkan bakat yang dibawa sejak lahir tersebut telah diasah
melalui latihan, dimana latihan merupakan bagian dari pendidikan. Berkaitan
dengan hal tersebut maka para pengelola pendidikan – khususnya guru dan kepala
sekolah - harus mampu memfasilitasi kegiatan belajar para siswa, sedemikian
rupa sehingga para siswa dapat belajar untuk mengembangkan bakatnya masing-
masing semaksimal mungkin dan berupaya mengantarkan mereka untuk menjadi
individu yang bermartabat.Sebagai sarana untuk mengubah
2) Perilaku. Perilaku merupakan representasi dari fikiran dan perbuatan seseorang.
Seseorang akan dikatakan berperilaku baik jika fikiran dan perbuatannya baik.
Pendidikan memiliki peran penting dalam mengubah perilaku seseorang dari
yang kurang baik menjadi lebih baik. Melalui pendidikan yang baik seseorang
akan dilatih untuk hanya berfikir dan berbuat hal-hal yang prositif, oleh karena
itu pendidikan memiliki arti yang sangat penting dalam mengubah perilaku
seseorang. Implikasinya adalah bahwa para pengelola dan pelaksana pendidikan
harus mampu memfasilitasi peserta didik agar dapat memiliki perilaku yang baik.
Adapun wujud fasilitasi yang dapat dilakukan oleh guru dan kepala sekolah
adalah melalui keteladanan dan pembiasaan.
3) Sebagai sarana untuk mengembangkan fisik, mental dan sipiritual seseorang.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat memfasilitasi perkembangan
fisik, mental dan spiritual peserta didik secara seimbang. Dengan demikian,
kepala sekolah dan guru dituntut untuk dapat mendidik para peserta didik bukan
saja dari sisi kemampuan intelektualnya saja – yang dilakukan melalui
pembelajaran mata pelajaran mata pelajaran sain – melainkan mereka harus dapat
membimbing para siswa untuk dapat mengembangkan fisiknya dan ketajaman
sipiritualnya, diantaranya dengan memberikan ruang belajar, tempat bermain,
sarana bersosialisasi, fasilitas dan pembiasaan untuk beribadah dan lain-lain,
yang memadai.
4) Sebagai sarana untuk mempersiapkan masa depan. Melalui pendidikan yang
baik, yang dapat mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal, baik
intelektual, psikomotorik maupun spiritualnya, akan memungkinkan bagi peserta
didik untuk lebih siap dalam menghadapi masa depan. Oleh karena itu, guru dan
kepala sekolah harus dapat memfasilitasi peserta didik dengan pendidikan berupa
bekal kecakapan hidup.
5) Sebagai sarana untuk mengembangkan kepribadian. Kepribadian seseorang
tercermin dari pola perilaku seseorang, perilaku tersebut merupakan representasi
dari fikiran (kemampuan intelektual/kognitif) dan perbuatan (psikomotorik dan
akhlak). Sementara itu kemampuan intelektual/kognitif serta psikomotorik dan
akhlak seseorang dapat diperoleh melalui pendidikan. Oleh karena itu,
pendidikan yang baik akan tercermin dari kepribadian individu-individu hasil
didikannya. Implikasinya bagi pendidik adalah bahwa pendidikan harus
senantiasa mengedepankan pengembangan kepribadian melalui pendidikan
akhlak/karakter.
6) Membantu seseorang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Orang
yang terdidik dengan baik (bedakan dengan berpendidikan tinggi), akan
memungkinkan baginya untuk memiliki kemampuan adaptasi terhadap
perubahan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang tidak terdidik,
karena kemapuan intelektual dan kecakapan hidupnya memungkinkan bagi
dirinya untuk dapat memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Implikasinya bagi para guru dan kepala sekolah adalah bahwa sudah selayaknya
kegiatan pembelajaran senantiasa diarahkan kepada pendekatan-pendekatan
pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk berlatih memecahkan
permasalahan, seperti pembelajaran dengan pendekatan problem based leraning,
project based leraning, product based learning, discovery learning dan inquiry
learning.
b. Fungsi pendidikan bagi masyarakat
Bagi masyarakat pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut:
1) Pendidikan berperan dalam mendorong terjadinya perubahan dan kendali sosial.
Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena dengan dihasilkannya individu-
individu yang terdidik dengan baik secara tidak langsung akan mendorong
tumbuhnya masyarakat pembangun - yaitu masyarakat yang senantiasa
memiliki keinginan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik – dan
masyarakat ‘yang kritis’ – yaitu masyarakat yang senantiasa menyuarakan
upaya perbaikan ketika sesuatu yang tidak baik terjadi.
2) Pendidikan berperan dalam rekonstruksi pengalaman-pengalaman. Pendidikan
terkait erat dengan upaya untuk memberikan pengalaman-pengalaman baru dan
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merekonstruksi
pengalaman-pengalaman tersebut di dalam dirinya. Sebagaimana kita fahami
bahwa masyarakat terbentuk dari gabungan individu-individu, oleh karenanya
pengalaman-pengalaman dari individu-individu tersebut akan tergambar
pula dalam kehidupan sebuah masyarakat. Dengan kata lain, hasil-hasil
pendidikan yang diperoleh oleh individu-individu dalam masyarakat akan
mewarnai kehidupan masyarakat tersebut. Sebaliknya, karena pendidikan pada
dasarnya merupakan sebuah sistem sosial yang terbuka, maka pengalaman-
pengalaman yang terdapat dalam sebuah masyarakat akan mewarnai sistem
pendidikan yang ada di lingkungan masyarakat tersebut.
3) Pendidikan berperan dalam mengembangkan nilai-nilai sosial dan moral. Telah
saya sebutkan di atas bahwa pada dasarnya pendidikan tidak hanya semata-mata
membekali peserta didik dengan kemampuan kognitif dan psikomotorik saja
melainkan juga sebagai upaya untuk mengembangkan sikap atau akhlak mereka
ke arah yang lebih baik. Artinya, jika melalui aktifitas pendidikan telah dapat
dihasilkan individu-individu yang berakhlak baik, maka sudah dapat dipastikan
nilai-nilai sosial dan moral yang tumbuh dalam masyarakatpun akan menjadi
baik.
4) Pendidikan berperan dalam menyediakan peluang dan kesetaraan. Individu-
individu yang terdidik dengan baik akan memiliki kemungkinan untuk dapat
beradaptasi dengan berbagai lingkungan dan perubahan, sehingga akan
memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk memperoleh kehidupan yang
lebih baik, dengan demikian, individu-individu tersebut akan memiliki
kesempatan yang lebih baik pula dalam mencapai kehidupan yang lebih
bermartabat. Sebagaimana telah disebutkan bahwa masyarakat pada dasarnya
terbentuk karena adanya gabungan dari individu-individu, oleh karena itu, jika
individu-individu dalam sebuah masyarakat terdidik dengan baik maka
masyarakat tersebut akan memiliki peluang yang lebih baik untuk menjadi
masyarakat yang bermartabat. (Heny, 2016)
BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Pendidikan itu sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidup
masyarakat. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada anggota
mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk tata perilaku
lainnya yang diharapkan akan dimiliki oleh setiap anggota. Setiap masyarakat berupaya
meneruskan kebudayaannya dengan proses adaptasi tertentu sesuaicorak masing-masing
periode jaman kepada generasi muda melaluipendidikan, secara khusus melalui interaksi
sosial. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi.Dalam
pengertian tersebut, pendidikan sudah dimulai semenjak seorang individu pertama kali
berinteraksi dengan lingkungan eksternal di luar dirinya,Dengan semakin majunya
masyarakat, pola budaya menjadi lebih kompleks dan memiliki diferensiasi antara
kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain, antara yang dianut oleh individu yang
satu dengan individu yang lain. Dengan perkataan lain masyarakat tersebut telah
mengalami perubahan-perubahan sosial. Ketentuan-ketentuan untuk berubah ini
sebagaimana telah disinggung di halaman-halaman situs web ini sebelumnya,
mengakibatkan terjadinya setiap transmisi budaya dan satu generasi ke generasi berikutnya
selalu menjumpai permasalahan-permasalahan. Di dalam suatu masyarakat sekolah telah
melembaga demikian kuat, maka sekolah menjadi sangat diperlukan bagi upaya
menciptakan/melahirkan nilai-nilai budaya baru (cultural reproduction).
Dalam proses belajar untuk mengikuti pola acuan bagi tatanan masyarakat yang
telah mapan dan melembaga, anak-anak belajar untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai
tradisional di mana institusi tradisional tersebut dibangun. Keseluruhan proses di mana
anak-anak belajar mengikuti pola-pola dan nilai-nilai budaya yang berlaku tersebut
dinamakan proses sosialisasi. Proses sosialisasi tersebut harus beijalan dengan wajar dan
mulus oleh karena kita semua mengetahui betapa pentingnya masa-masa permulaan proses
sosialisasi.
Dalam proses pendidikan pula perubahan peranan guru mempunyai arti yang sangat
penting sekali. Berbicara tentang perubahan peranan guru berarti berbicara tentang perubahan
batasan fungsi sekolah. Dalam dunia yang sedang berubah menuntut perubahan-perubahan
pendidikan. Anak-anak yang dipersiapkan untuk memasuki tanggung jawab dan orang dewasa
membutuhkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang jauh berbeda dengan pengetahuan,
sikap dan keterampilan yang dimiliki orang tuanya. Oleh karena itu maka orang tua sendiri
dituntut untuk memperluas dan mempebaharui pengetahuan, sikap dan ketrampilannya agar
supaya dapat menyesuaikan dengan masyarakat yang sedang berubah ini. (Anonim, 2015)
DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2015. Pendidikan Individu. http://www.kabarcianjur.com/2015/04/arti-penting-


pendidikan-bagi-individu.html. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2018 Pukul 14.30 Wib.
Anonim, 2017. Pengertian Pendidikan. https://www.zonareferensi.com/pengertian-
pendidikan/ . Diakses pada tanggal 21 Oktober 2018 Pukul 14.00 Wib.
Anonim, 2017. Pendidikan Individu. http://junsatu.blogspot.com/2017/12/makalah-
pendidikan-individu-dan.html. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2018 Pukul 14.10 Wib.
Heny, 2016. Individu dan Masyarakat.
http://henyrahayu8697.blogspot.com/2016/10/individu-dan-masyarakat.html. Diakses
pada tanggal 21 Oktober 2018 Pukul 14.20 Wib.