Anda di halaman 1dari 7

EXTRACTION TECHNIQUES OF Avicennia STEM WITH

MASERATION
Fazar Dwi Gustiar, 230210160073
Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjajaran
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor,Jawa Barat 45363
Email : fazar.dwi.gustiar@gmail.com

ABSTRAK
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu
padatanatau cairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses
pemisahansatu atau lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan
pelarutcair (solven) sebagai separating agen. Tujuan dari praktikum ini adalah
menentukan jenis pelarut yang cocok dalam proses ekstraksi bahan alam. Bahan
alam yang digunakan ialah kulit batang Avicennia marina yang diambil dari
Pantai Karangsong, Indramayu, Jawa Barat. Metode ekstraksi yang digunakan
ialah maserasi dengan pemisahan tunggal. Pada proses ekstraksi senyawa
metabolit sekunder yang terdapat pada serbuk kering kulit batang Avicennia
kelompok 13 menggunakan teknik maserasi dengan menggunakan pelarut polar
dengan perbandingan 1:5 terhadap berat sampel. Dari hasil yang didapatkan pada
sampel Avicennia sp. terkandung senyawa metabolit sekunder yang bersifat polar,
semipolar, maupun non-polar.

Kata Kunci: Avicennia, Ekstraksi, Maserasi, Polar

ABSTRACT
Extraction is the separation of one or several materials from a solid or
liquid with the aid of a solvent. Extraction is also a process of separating one or
more components from a homogeneous mixture using solvents as a separating
agent. The purpose of this practice is to determine the type of solvent that is
suitable in the process of extracting natural materials. The natural materials used
were Avicennia marina bark taken from Karangsong Beach, Indramayu, West
Java. The extraction method used is maceration with a single separation. In the
extraction process of secondary metabolites found in dry powder Avicennia stem
bark group 13 using maceration techniques using polar solvents with a ratio of 1:
5 to sample weight. From the results obtained in the sample Avicennia sp.
contained secondary metabolites that are polar, semipolar, and non-polar.

Keywords: Avicennia, Extraction, Maserasi, Polar


PENDAHULUAN
Ekstraksi adalah pemisahan Kusmana (2002),
satu atau beberapa bahan dari suatu mengemukakan bahwa mangrove
padatanatau cairan dengan bantuan adalah suatu komunitas tumbuhan
pelarut. Ekstraksi juga merupakan atau suatu individu jenis tumbuhan
proses pemisahansatu atau lebih yang membentuk komunitas tersebut
komponen dari suatu campuran di daerah pasang surut. Hutan
homogen menggunakan pelarutcair mangrove adalah tipe hutan yang
(solven) sebagai separating agen. secara alami dipengaruhi oleh pasang
Pemisahan terjadi atas dasar surut air laut, tergenang pada saat
kemampuan larut yang berbeda pasang naik dan bebas dari genangan
dari komponen-komponen dalam pada saat pasang rendah. Ekosistem
campuran. mangrove adalah suatu sistem yang
Menurut Mc Cabe (1999) terdiri atas lingkungan biotik dan
dalam Muhiedin (2008), ekstraksi abiotik yang saling berinteraksi di
dapat dibedakanmenjadi dua cara dalam suatu habitat
berdasarkan wujud bahannya yaitu: mangrove.Menurut Steenis (1978),
1. Ekstraksi padat cair, digunakan yang dimaksud dengan “mangrove”
untuk melarutkan zat yang dapat adalah vegetasi hutan yang tumbuh
larut daricampurannya dengan zat di antara garis pasang surut.
padat yang tidak dapat larut. Avicennia marina merupakan
salah satu jenis mangrove yang
2. Ekstraksi cair-cair, digunakan masuk ke dalam kategori mangrove
untuk memisahkan dua zat cair yang mayor. Avicennia marina adalah
saling bercampur, dengan salah satu spesies mangrove yang
menggunakan pelarut dapat tersebar luas di Indonesia yang
melarutkan salah satu zatEkstraksi memiliki potensi baik sebagai bahan
padat cair secara umum terdiri dari obat-obatan. Hampir seluruh bagian
maserasi, refluktasi, sokhletasi,dan dari tanaman ini memiliki senyawa
perkolasi. Metoda yang digunakan metabolit sekunder yang dapat
tergantung dengan jenis senyawa dimanfaatkan
yangkita gunakan. Jika senyawa
yang kita ingin sari rentan terhadap
pemanasan makametoda maserasi
dan perkolasi yang kita pilih, jika
tahan terhadap pemanasanmaka
metoda refluktasi dan sokletasi yang
digunakan (Safrizal,2010).
BAHAN DAN METODE Metode praktikum yang
Praktikum dilaksanakan pada dilakukan adalah teknik ekstraksi
Jumat tanggal 26 Oktober 2018 dengan cara maserasi. Maserasi
pukul 13.30 di Laboratorium merupakan cara ekstraksi yang
Bioteknologi Kelautan Gd 3, 2 paling sederhana dengan dilakukan
November 2018 pukul 13.30 WIB
dengan beberapa kali pengasukan.
pukul 13.30 di Laboratorium
Teknologi dan Bioproses Gd 4 Pengerjaan metode maserasi yang
Fakultas Perikanan dan Ilmu lama dan keadaan diam selama
Kelautan Universitas Padjadjaran. maserasi memungkinkan banyak
Adapun alat yang digunakan senyawa yang akan ter ekstraksi.
dalam praktikum ini adalah sebagai Pertama timbang terlebih
berikut: dahulu ekstrak sampel kulit batang
Tabel 1. Alat Praktikum
Avicenna marina sebanyak 5 gram,
No. Nama Alat Fungsi
1 Botol Gelap Menempatkan lalu masukkan ke dalam botol gelap,
dan Botol sampel lalu masukkan metanol sebanyak 25
Terang ml (1:5) lalu tutup dan aduk secara
2 Neraca analitis Menimbang perlahan dan rendam hingga 24 jam.
sampel dan Perlakuan terus diulang sebanyak 7
botol vial kali (7 hari). Lalu timbang hasil akhir
3 Gelas ukur Mengukur
ekstrak dan catat hasil ekstraknya.
volume
larutan
4 Rotary Alat untuk
evaporator memisahkan
ekstrak
dengan
pelarut
5 Kertas saring Menyaring
ekstrak
6 Botol vial Wadah
sampel
setelah tahap
evaporasi
Adapun bahan yang digunakan
saat praktikum ialah sebagai berikut:
Tabel 2. Bahan Praktikum
No. Nama Bahan Fungsi
1 Metanol Melarutkan
sampel
2 Kulit batang Bahan uji
mangrove
Avicennia
HASIL DAN PEMBAHASAN mampu menarik senyawa bioaktif
Tabel 3. Hasil Maserasi Shift 3 yang cukup banyak dari dalam
Kelo Sam Bera Jenis Volu sampel. pada 48 jam berikutnya
mpo pel t Pela me terjadi perubahan, warna pelarut
k Awa rut Filtr menjadi pudar atau hijau muda.
l (gr) at Berarti metanol sudah tidak
Hasi
maksimal menarik metabolit
l
Ekst sekunder dengan baik. Sesuai
raksi prinsip ”like dissolve like”, dimana
(ml) suatu senyawa akan atau lebih
13 meta 105 mudah larut pada larutan yang
nol memiliki tingkat polaritas yang sama.
14 meta 77 Lalu dilakukan proses penyaringan
Kulit 5 gr nol hasil maserasi untuk mengganti
batan
15 meta 66 pelarut. Hal ini dilakukan untuk
g
Avic nol menarik sebanyak mungkin senyawa
16 ennia etil 62 bioaktif yang terkandung didalam
aseta sampel. Volume filtrat yang didapat
t pada akhir proses adalah 105 mL
17 n- 52 volume pelarut oleh serbuk sampel.
heks
an
Tabel 4. Hasil Evaporasi Shift 3
18 n- 10 Kelomp Hasil Warna Lama Rend
heks 22 ok evaporasi & Evapora emen
an 19 dengan Bentuk si (%)
meta botol vial Ekstrak (menit)
nol (gr) Pekat
etil 13 19.34 Coklat 44 108,7
aseta 72
t 14 14.64 Coklat 46 29,61
6
15 17.62 Coklat 78 72,57
Pada proses ekstraksi 6
senyawa metabolit sekunder yang 16 13.38 Hijau 53 14,1
terdapat pada serbuk kering kulit 17 13.61 Hijau 27 2,6
batang Avicennia kelompok 13 18 11.69 Coklat 22 27,22
menggunakan teknik maserasi metanol 14.06 Hijau 13 2
etil- 13.94 pekat 16 2,76
dengan menggunakan pelarut polar
asetat Hijau 2,594
dengan perbandingan 1:5 terhadap n-
berat sampel, Pada 24 jam pertama heksan
perendaman sampel, warna pelarut
berwarna hijau tua pekat, dan pada Proses selanjutnya adalah pemisahan
48 jam berikutnya, pelarut sudah ekstrak dari pelarut menggunakan
rotary evaporator, Prinsip kerja alat pada proses evaporasi paling tinggi
ini didasarkan pada titik didih pelarut didapatkan pada kelompok 13
dan adanya tekanan yang sebanyak 5,4 gram dengan rendemen
menyebabkan uap dari pelarut
sebesar 108,772%. Hasil didapatkan
terkumpul di atas, serta adanya
kondensor (suhu dingin) yang ekstrak pekat yang banyak
menyebabkan uap ini mengembun dikarenakan waktu proses
dan akhirnya jatuh ke tabung perendaman.
penerima (receiver flask). Setelah Dari hasil yang didapatkan
pelarutnya diuapkan, dihasilkan pada sampel Avicennia sp.
ekstrak yang berbentuk padatan terkandung senyawa metabolit
(solid) (Nugroho, et al. 1999).
Pada kelompok 13 sekunder yang bersifat polar,
didapatkan hasil ekstrak dari semipolar, maupun non-polar. Tetapi
evaporasi sebesar 5,4 gram. Ini pada sampel ini banyak terkandung
didaptakn dari Berat awal = 5 gr, senyawa metabolit sekunder yang
Berat vial = 13,9 gr, Berat hasil bersifat polar dikarenakan pelarut
evaporasi dengan botol vial = 19,34 polar mempunyai nilai kepolaran
gr. Dan untyk mendapatkan hasil
yang tinggi hingga dapat menarik
akhirnya adalah Berat hasil evaporasi
dengan botol vial - berat vial. senyawa semipolar dan non-polar.
Dan untuk perhitungan
rendemen nya menggunakan rumus: DAFTAR PUSTAKA
Kusmana, C. 2002. Pengelolaan
Rendemen = Ekosistem Mangrove Secara
Berkelanjutan dan Berbasis
= 5,4 gr/ 5 gr x 100% Masyarakat. Lokakarya
= 108,772 % Nasional Pengelolaan
Ekosisitem Mangrove di
Jakarta, 6-7 Agustus 2002.

KESIMPULAN McCabe, W., Smith, J.C., and


Praktikum ini bertujuan untuk Harriot, P., 1999, “Unit
menentukan jenis pelarut organik Operation of Chemical
yang cocok dalam proses ekstaksi Engineering”, McGraw Hill
bahan alam dan proses evaporasi Book, Co., United States of
Dimana hasil proses ekstraksi dari America.
sampel kulit batang Avicennia sp.
Steenis, C. G. G. J Van., 1978. Flora
yang terbanyak terdapat pada
untuk Sekolah Di Indonesia.
kelompok 13 sebanyak 105 mL.
Cetakan Kedua. PT. Pradnya
Yang mempengaruhi filtrat yang
Paramita, Jakarta.
banyak ini dikarenakan proses filter
yang dilakukan sebanyak 7 kali
dalam waktu 7x24 jam. Sementara
LAMPIRAN

No Gambar Keterangan

Sampel bahan alam sebanyak 5


1
gr.

Praktikan sedang memasukkan


2 sampel bahan alam kedalam
botol gelap.

Pelarut metanol sebanyak 25


3
ml.