Anda di halaman 1dari 7

4.

1 Agregat Balita
Implementasi
Tabel 4.1.1
Hasil Evaluasi Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Aspek Pengetahuan Tentang
Diare Pada Ibu Yang Memiliki Balita di RW 06 Kelurahan Meruyung (n=13)
Tahun 2018

Kegiatan Pre-test Mean Post-test Mean


Baik 18,1 % 8,5 63,6 % 8,8
Kurang baik 81,8 % 6,4 36,6 % 6,5
Total 100 % 15,9 100 % 15,3

Tabel 4.1.1 menunjukan bahwa komunitas ibu yang memiliki anak balita di
RW 06 sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan tentang diare dengan tingkat
pengetahuan responden yang berpengetahuan baik adalah 18.1 %. Sedangkan
responden yang berpengetahuan kurang adalah 81.8 %. Setelah dilakukan
penyuluhan kesehatan tentang diare menunjukkan rata-rata pengetahuan responden
yang berpengetahuan baik yaitu 63.6 %. Sedangkan responden yang
berpengetahuan kurang yaitu 36.6 %.
Menurut Notoatmodjo (2012) bahwa pendidikan kesehatan dapat mengubah
pengetahuan seseorang, masyarakat dalam pengambilan tindakan yang
berhubungan dengan kesehatan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang ada di
Kota Yogyakarta oleh Suyanto (2013), yang menyatakan bahwa ada pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan Ibu yang memiliki balita
setelah diberikan intervensi dalam hal ini pendidikan kesehatan, maka dapat
disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan Ibu
yang memiliki balita tentang penyakit diare.
Metode yang digunakan adalah metode ceramah dan tanya jawab serta
menggunakan leaflet mengenai diare. Sehingga pengetahuan Ibu yang memiliki
balita cenderung meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Yunita (2016) tentang efektifitas pendidikan kesehatan dengan metode ceramah
terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam penanganan diare balita di sekitar UPT
TPA Cipayung, Depok menyatakan bahwa nilai rata-rata pengetahuan responden
sebelum dilakukan penyuluhan 17,13% dan sesudah dilakukan penyuluhan nilai
rata-rata responden meningkat menjadi 24.33% berdasarkan hasil Paired Sample t-
test dengan tingkat kesalahan α 0,05 diperoleh hasil yang signifikan yaitu (p=0,000)
yang berarti p-value< 0,05. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Budiyanto (2016) penelitian dengan menggunakan
media promosi kesehatan yaitu leaflet, menyatakan bahwa media leaflet
mempunyai pengaruh dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mencuci
tangan dengan sabun, berdasarkan hasil yang diperoleh dengan menggunakan Uji
t-test maka dinyatakan ada perbedaan pengetahuan mencuci tangan dengan sabun
sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan menggunakan media leaflet (t-hit 8,
172 > t-tabel 2,120) dengan skor pengetahuan awal 77,65 menjadi 91,76. Lubis,
dkk (2013) juga mengemukakan hal yang sama dalam penelitian yang mereka
lakukan, tentang pengaruh penyuluhan menggunakan metode ceramah dan diskusi
dapat meningkatkan pengetahuan responden.

Namun selain metode dapat meningkatkan pengetahuan seperti leaflet,


karakteristik masyarakat sangat mempengaruhi. Sebelum dilakukan pendidikan
kesehatan tentang diare pengetahuan Ibu dengan balita kurang baik. Namun karena
antusias dan rasa ingin tahu Ibu dengan balita terhadap penyakit diare yang pernah
dialami balita mereka tingkat pengetahuan Ibu dengan balita setelah dilakukan
pendidikan kesehatan tentang diare meningkat. Hambatan dalam melakukan
implementasi yaitu metode ceramah yang digunakan menyebabkan beberapa Ibu
yang memiliki balita tampak bosan dan mulai mengantuk sehingga kurang efektif
dan balita yang cukup rewel karena waktu yang digunakan tidak tepat bagi Ibu
dengan balita, namun dapat diatasi dengan menyediakan mainan dan ruangan yang
mendukung kenyamanan Ibu dengan balita. Hal ini sesuai dengan penelitian
Ismirati (2011) Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Perilaku Pencegahan
Diare Pada Ibu Yang Mempunyai Anak Usia 0-3 Tahun Di Desa Sendangrejo
Minggir Seleman Yogyakarta.

Tabel 4.1.2
Hasil Evaluasi Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Aspek Demonstrasi
Pembuatan Larutan Gula Garam Pada Ibu Yang Memiliki Balita di RW 06
Kelurahan Meruyung Kecamatan Limo Kota Depok (n= 13) Tahun 2018

Kegiatan Pre-test Mean Post-test Mean


Baik 61,5 % 9 84,6 % 8,8
Kurang baik 38,5 % 6,1 15,4 % 6,25
Total 100 % 15,1 100 % 15,05

Tabel 4.1.2 menunjukan bahwa hasil pre-test sebelum dilakukan demostrasi


larutan gula garam pada Ibu dengan balita menunjukkan rata-rata pengetahuan
responden yang berpengetahuan baik adalah 8 orang (61,5%). Sedangkan
responden yang berpengetahuan kurang adalah 5 orang (38,5%). Kemudian setelah
dilakukan demonstrasi dengan metode ceramah dan menggunakan media alat dan
bahan (gula, garam, air hangat, sendok, dan gelas) selama 30 menit, dilakukan post-
test untuk mengetahui adanya peningkatan pengetahuan responden. Hasil post-test
menunjukkan responden yang berpengetahuan baik adalah 11 orang (84, 6 %).
Sedangkan responden yang berpengetahuan kurang adalah 2 orang (15,4%).
Perilaku merupakan domain dari pengetahuan atau kognitif menurut Notoatmodjo
(2012). Ini dapat dilihat dari hasil demonstrasi yang mempengaruhi psikomotor dari
persentase 61,5 % menjadi 84,6 %.
Metode yang digunakan adalah metode demonstrasi dan tanya jawab.
Sehingga pengetahuan Ibu yang memiliki balita mengenai pembuatan larutan gula
garam cenderung meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu, dkk (2018)
dari hasil skor total dalam menjawab kuesioner 91,9% responden memiliki tingkat
pengetahuan kurang dan hanya 8,1 % responden yang pengetahuannya baik. Dari
hasil penelitian ini diketahui bahwa mayoritas ibu balita tidak mengetahui
penanganan diare secara awal. Hal ini dapat berpengaruh terhadap perilaku ibu
mengenai kesehatan anaknya, karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang. Ibu balita yang tidak
dibekali pengetahuan lebih akan asupan cairan sebagai tata laksana kehilangan
cairan dapat menerapkan pola pikir yang salah. Ibu yang sudah dibekali
pengetahuan akan diare dan dehidrasi akan mengetahui penanganan tepat adalah
dengan memberikan cairan, salah satunya yakni oralit.

Namun selain metode demonstrasi yang dapat meningkatkan pengetahuan,


karakteristik masyarakat juga sangat mempengaruhi. Sebelum dilakukan
demonstrasi mengenai pembuatan larutan gula garam pengetahuan Ibu yang
memiliki balita mengenai pembuatan larutan gula garam kurang baik. Namun
karena antusias dan rasa ingin tahu Ibu yang memiliki balita terhadap pembuatan
larutan gula garam cukup baik, maka tingkat pengetahuan Ibu yang memiliki balita
setelah dilakukan demonstrasi pembuatan larutan gula garam meningkat. Hambatan
dalam melakukan implementasi dengan metode demonstrasi yaitu tidak tersedianya
air hangat sebagai bahan demonstrasi, beberapa balita mulai rewel karena sudah
mulai tidak nyaman sehingga konsentrasi ibu teralihkan. Untuk kelebihan dari
metode demonstrasi yaitu Ibu yang memiliki balita dapat melihat secara langsung
pembuatan larutan gula garam untuk menangani diare pada balita.

Tabel 4.1.3
Hasil Evaluasi Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Aspek Demonstrasi Pijat Bayi
Pada Ibu Yang Memiliki Balita di RW 06 Kelurahan Meruyung Kecamatan
Limo Kota Depok (n= 13) Tahun 2018

Kegiatan Pre-test Mean Post-test Mean


Baik 45,4 % 8,2 63,6 % 8,5
Kurang baik 54,5 % 4,6 36,3 % 5,7
Total 100 % 12,8 100 % 14,2

Tabel 4.1.3 menunjukan bahwa hasil pre-test sebelum dilakukan demostrasi


pijat bayi pada Ibu dengan balita menunjukkan rata-rata pengetahuan responden
yang berpengetahuan baik adalah 8 orang (45,4%). Sedangkan responden yang
berpengetahuan kurang adalah 5 orang (54,5%). Kemudian setelah dilakukan
demonstrasi dengan metode ceramah dan menggunakan media alat dan bahan
(phantom bayi) selama 30 menit, dilakukan post-test untuk mengetahui adanya
peningkatan pengetahuan responden. Hasil post-test menunjukkan responden yang
berpengetahuan baik adalah 11 orang (63,6 %). Responden yang berpengetahuan
kurang adalah 2 orang (36,3%). Perilaku merupakan domain dari pengetahuan atau
kognitif menurut Notoatmodjo (2012). Ini dapat dilihat dari hasil demonstrasi yang
mempengaruhi psikomotor dari persentase 45,5 % menjadi 63,6%.
Metode yang digunakan adalah metode demonstrasi dan tanya jawab.
Sehingga pengetahuan Ibu yang memiliki balita mengenai pijat bayi cenderung
meningkat. Terapi sentuhan dikatakan mempunyai efek positif terhadap kesehatan
bayi, karena berpengaruh terhadap kerja nervus vagus sehingga memperbaiki
motilitas saluran cerna termasuk pengosongan lambung. Kondisi tersebut
menyebabkan absorpsi makanan dan kualitas tidur yang lebih baik menurut Putra
& Hegar (2008). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sentuhan atau pijatan
dapat memperbaiki motilitas saluran cerna dan kemampuan absorpsi makanan,
dimana pada keadaan diare gangguan di kedua hal tersebut yang menyebabkan
terjadinya peningkatan frekuensi buang air besar dan tingkat dehidrasi.

Hambatan dalam melakukan implementasi dengan metode demonstrasi


yaitu beberapa balita mulai rewel karena sudah mulai tidak nyaman sehingga
konsentrasi ibu teralihkan, gangguan lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhi
konsentrasi Ibu saat berlangsungnya demonstrasi pijat bayi. Untuk kelebihan dari
metode demonstrasi yaitu Ibu yang memiliki balita dapat melihat secara langsung
cara pijat bayi yang benar dan dapat mempraktikan secara langsung dengan
bayinya.

Tabel 4.1.4
Hasil Evaluasi Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Aspek Pengetahuan Tentang
ISPA Pada Ibu Yang Memiliki Balita di RW 06 Kelurahan Meruyung
Kecamatan Limo Kota Depok (n= 11) Tahun 2018

Kegiatan Pre-test Mean Post-test Mean

Baik 81,8 % 8,5 90,9 % 8,9

Kurang baik 18,2 % 6,4 9,1 % 6

Total 100 % 14,9 100 % 14,9

Tabel 4.1.4 menunjukan bahwa Hasil pre-test sebelum dilakukan


penyuluhan kesehatan tentang ISPA pada Ibu dengan balita menunjukkan rata-rata
pengetahuan responden yang berpengetahuan baik adalah 9 orang (81.8%).
Sedangkan responden yang berpengetahuan kurang adalah 2 orang (18.2%).
Kemudian setelah dilakukan penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan
menggunakan media leaflet selama 30 menit, dilakukan post-test untuk mengetahui
adanya peningkatan pengetahuan responden. Hasil post-test menunjukkan
responden yang berpengetahuan baik adalah 10 orang (81.8%). Sedangkan
responden yang berpengetahuan kurang adalah 1 orang (9,1%).
Metode yang digunakan adalah metode ceramah dan tanya jawab serta
menggunakan leaflet mengenai ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Sehingga
pengetahuan Ibu yang memiliki balita cenderung meningkat. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Urati, dkk (2014) tentang Efektifitas Pendidikan
Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Keluarga Tentang Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) di Kelurahan Rejosari wilayah kerja Puskemas Rejosari
Pekanbaru pada bulan januari 2014. Sampel adalah keluarga yang memiliki balita
yang berada di RW 02, RW 03, RW 04, RW 05 dan RW 07 di kelurahan Rejosari
yang berjumlah 30 responden yang terdiri dari 15 responden sebagai kelompok
eksperimen dan 15 responden sebagai kelompok kontrol. Pengambilan sampel
menggunakan teknik cluster sampling. Instrument yang digunakan adalah
kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Kuesioner terdiri dari 2 bagian
yaitu: bagian pertama berisi tentang karakterisitik responden (umur, tingkat
pendidikan, pekerjaan), bagian kedua berisi tentang pengetahuan tentang ISPA
yang berjumlah 19 pertanyaan. Data di analisis secara univariat dan bivariat
menggunakan uji Wilcoxon dan uji MannWhitney. Hasil analisa bivariat dengan uji
Wilcoxon menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan
keluarga tentang ISPA sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada
kelompok eksperimen dengan ρ value 0,001 (ρ value < α). Hasil analisa bivariat
dengan uji MannWhitney menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan
antara pengetahuan keluarga tentang ISPA setelah diberikan pendidikan kesehatan
antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan ρ value 0,000 (ρ value
< α) dengan kata lain Ho ditolak.

Sesuai dengan pengertian tentang pengetahuan menurut Notoatmodjo


(2012) dengan melakukan penginderaan berupa penyuluhan kesehatan dengan
metode ceramah dan media leaflet terhadap Ibu yang memiliki balita, ibu menjadi
tahu tentang penyakit ISPA.Hal Ini sejalan dengan hasil penilitan yang dilakukan
oleh Budiyanto (2016) penelitian dengan menggunakan media promosi kesehatan
yaitu leaflet, menyatakan bahwa media leaflet mempunyai pengaruh dalam
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan responden.
Hambatan dalam melakukan implementasi yaitu metode ceramah yang
digunakan menyebabkan beberapa Ibu yang memiliki balita tampak bosan dan
mulai mengantuk sehingga kurang efektif dan balita yang cukup rewel karena
waktu yang digunakan tidak tepat bagi balita. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Tina Yuli Fatmawati (2017) Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Dengan Media Leaflet Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Penatalaksanaan ISPA
Pada Balita Di Posyandu.

Tabel 4.1.5
Hasil Evaluasi Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Aspek Demostrasi
Pembuatan Jahe Madu Masalah ISPA Pada Balita di RW 06 Kelurahan
Meruyung Kecamatan Limo Kota Depok (n=11) Tahun 2018

Kegiatan Pre-test Mean Post-test Mean

Baik 54,6% 7,6 63,7% 8


Kurang baik 45,4% 3,6 36,3% 4,5
Total 100% 11,2 100% 12,5

Hasil pre-test sebelum dilakukan demonstrasi pembuatan jahe madu dari


n=11, rata-rata 54,6% memiliki pengetahuan demonstrasi pembuatan larutan jahe
madu untuk mengatasi ISPA. Namun setelah dilakukan demonstrasi cara
pembuatan larutan jahe madu terdapat peningkatan yang signifikan dengan nilai
rata-rata 63,7%. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
oleh Yulfina (2015) tentang efektifitas pemberian minuman jahe terhadap
penurunan keparahan batuk pada anak dengan ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Lima Puluh Pekanbaru. Mimuman jahe madu diberikan 2 kali dalam 1 hari selama
5 hari kepada responden. Jahe yang mengandung minyak atsiri berkisar 3%
merupakan sebuah zat aktif yang dapat mengobati batuk.
Hambatan dalam melakukan implementasi dengan metode demonstrasi
yaitu tidak tersedianya air hangat sebagai bahan demonstrasi begitu juga pisau
untuk memotong jahe, penedemostrasi terlihat belum siap untuk melakukan
demonstrasi madu jahe, beberapa balita mulai rewel karena sudah mulai tidak
nyaman sehingga konsentrasi ibu teralihkan. Untuk kelebihan dari metode
demonstrasi yaitu Ibu yang memiliki balita dapat melihat secara langsung
pembuatan jahe madu untuk menangani ISPA pada balita.
DAFTRA PUSTAKA

Budianto, M. 2016. Efektiviatas Pemanfaatan Media Leaflet Dalam Meningkatkan


Pengetahuan dan Keterampilan Mencuci Tangan Dengan Sabun,
Malang (Online)

Yunita, L. 2016. Efektivitas Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Ceramah


Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Dalam Penanganan Diare Balita Di
Sekitar UPT TPA Cipayung, Depok (Online)

Lubis, Z. 2013. Pengaruh Penyuluhan Dengan Metode Ceramah dan Diskusi


Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Anak Tentang PHBS Di
Sekolah Dasar Negeri 065014 Kelurahan Namogajah Kecamatan Medan
Tuntungan (Online)

Suyanto. (2013). Pengaruh pendidikan kesehatan tentang diare terhadap


pengetahuan dan sikap ibu balita dalam pencegahan diare di
pracimantoro kabupaten wonogiri. STIKES Surya Global.
Dusak, M.R.S., Sukmayani, Y., Hardika, S.A., Ariastuti, L.P. 2018. Gambaran
Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Ibu Balita terhadap Penatalaksanaan
Diare pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Abang 1. Volume
9. Intisari Sains Medis