Anda di halaman 1dari 5

Nama : Rizqi Wardani

Nim : 15520011

PENETAPAN RISIKO PENGENDALIAN


Penetapan risiko pengendalian adalah proses penilaian tentang efektivitas
rancangan dan pengoperasian kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern
suatu perusahaan dalam mencegah dan mendeteksi salah saji material dalam laporan
keuangan. Risiko pengendalian ditetapkan untuk masing-masing asersi laporan
keuangan, tetapi mengingat bahwa sistern akuntansi difokuskan pada pengolahan
transaksi, dan karena banyak kegiatan pengendalian berkaitan dengan jenis-jenis
transaksi tertentu, maka auditor biasanya memulai dengan menetapkan risiko untuk
asersi-asersi kelompok transaksi seperti asersi keberadaan atau keterjadian,
kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian untuk transaksi-transaksi penerimaan
kas dan pengeluaran kas. Hasil penetapan resiko tersebut kemudian digabungkan
sedemikian rupa sehingga dapat ditetapkan risiko pengendalian untuk asersi-asersi
saldo cekening yang bersangkutan yang dipengaruhi oleh kelompok-kelompok
transaksi tersebut. Sebagai contoh, risiko pengendalian yang relevan untuk transaksi
penerimaan kas dan transaksi pengeluaran kas digabungkan agar dapat ditetapan
risiko untuk asersi-asersi saldo rekening kas. Perlu diingat bahwa penetapan resiko
pengendalian dilakukan untuk masing-masing asersi, bukan untuk struktur
pengendalian intern keseluruhan, masing-masing komponen struktur pengendalian,
ataupun masing-masing kebijakan atau prosedur.
Dalam menetapkan risiko pengedalian untuk suatu asersi, auditor perlu
melakukan hal-hal berikut :
 Mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur-prosedur untuk
mendapatkan pemahaman tentang apakah pengendalian yang berhubungan
dengan asersi telah dirancang dan dioperasikan oleh manajemen perusahaan.
 Menigidentifikasi salah saji potensial yang dapat terjadi dalam asersi perusahaan
 Mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan yang diperkirakan akan mampu
untuk mencegah dan mendeteksi salah saji.
 Melakukan pengujian pengendalian terhadap pengendalian-pengendalian yang
diperlukan unuk menetapkan efektivitas rancangan dan pengoperasiannya.
 Mengevaluasi bukti dan menetapkan risiko.
Pengujian pengendalian tidak diperlukan, apabila risiko pengendalian
ditetapkan pada tingkat maksimum. Dalam uraian di bawah ini akan dijelaskan
masing-masing langkah dalam proses penetapan resiko di atas.

MEMPERTIMBANGKAN PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH DARI


PROSEDUR-PROSEDUR UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN
Seperti telah dijelaskan pada Bab 7, auditor melaksanakan prosedur-prosedur
untuk mendapatkan pemahaman atas kebijakan dan prosedur SPI untuk asersi-asersi
laporan keuangan yang signifikan. Auditor mendokumentasikan pemahamannya
dalam bentuk daftar pertanyaan pengendalian intern, bagan alir, dan/atau
memorandum naratif. Analisis atas dokumentasi tersebut merupakan titik tolak untuk
menetapkan risiko pengendalian. Secara spesifik, SA 319 menyatakan bahwa
pemahaman digunakan oleh auditor untuk (1) mengidentifikasi jenis-jenis salah saji
potensial dan (2) mempertimbangkan faktor-faktor yang bisa mempengaruhi risiko
salah saji material, seperti apakah pengendalian yang diperlukan untuk mencegah
atau mendeteksi salah saji telah dirancang dan dioperasikan. Oleh karena itu, untuk
kebijakan dan prosedur yang relevan dengan asersi-asersi tertentu, auditor harus
mempertimbangkan dengan cermat jawaban Ya, Tidak, atau TD, serta komentar
tertulis dalam daftar pertanyaan, dan catatan mengenai kekuatan dan kelemahan
dalam bagan alir serta memorandum naratif.

MENGIDENTIFIKASI SALAH SAJI POTENSIAL


Seperti telah disebutkan pada Bab 7, dewasa ini banyak kantor akuntan publik
menggunakan perangkat lunak komputer yang menghubungkan jawaban atas
pertanyaan tertentu, langsung ke daftar pertanyaan di komputer, dan komputer akan
menunjukkan salah saji potensial untuk asersi tertentu. Dengan bantuan perangkat
komputer atau dengan menggunakan daftar pengecekan (checklist), auditor
mengidentifikasi salah saji potensial yang berkaitan dengan asersi tertentu sesuai
dengan keadaan perusahaan.
Salah saji potensial bisa diidentifikasi untuk asersi-asersi yang berkaitan
dengan masing-masing kelompok transaksi dan untuk asersi-asersi pada setiap saldo
rekening signifikan. Sebagai contoh, salah saji potensial bisa diidentifikasi untuk
asersi-asersi pengeluaran kas dan untuk dua rekening paling utama yang terpengaruh
oleh pengeluaran kas, yaitu kas dan utang dagang. Cara bagaimana salah saji dalam
asersi-asersi kelompok transaksi dapat mempengaruhi asersi-asersi saldo rekening
akan dijelaskan kemudian.
MENGIDENTIFIKASI PENGENDALIANYANG DIPERLUKAN
Auditor bisa mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan yang
diperkirakan bisa mencegah atau mendeteksi salah saji potensial tertentu, baik dengan
menggunakan perangkat lunak komputer ataupun secara manual, yaitu dengan
menggunakan daftar pengecekan. Kolom 2 dalam Gambar 8-1 menunjukkan daftar
tentang hal-hal tersebut. Namun perlu diperhatikan bahwa dalam keadaan tertentu,
suatu salah saji potensial tertentu bisa berkaitan dengan beberapa pengendalian, tetapi
dalam situasi yang lain hanya berkaitan dengan satu pengeridalian saja. Selain itu,
satu pengendalian bisa berkaitan dengan lebih dan satu jenis salah saji potensial.
Sebagai contoh, pengendalian melalui rekonsiliasi bank independen secara periodik
seperti nampak pada bads paling bawah kolom kedua) bisa mendeteksi adanya cek
yang tidak dicatat (asersi kelengkapan) atau cek dibuat dengan jumlah rupiah yang
benar, tetapi dicatat dalam jurnal pengeluaran kas dengan jumlah rupiah yang salah
(asersi penilaian atau pengalokasian).
Penetapan pengendalian yang diperlukan harus dilakukan dengan
memperhatikan keadaan dan pertimbangan-pertimbangan lain. Sebagai contoh,
apabila volume transaksi pengeluaran kas cukup tinggi, maka pengecekan independen
mengenai kecocokan antara ikhtisar cek yang dikeluarkan harian dengan ayat-ayat
jurnal pengeluaran kas yang memungkinkan terdeteksinya kesalahan dengan segera
menjadi cukup penting. Namun apabila volume transaksi pengeluaran kas tidak
begitu banyak dan deteksi kesalahan segera tidak begitu penting, maka rekonsiliasi
bank independen secara periodik sudah dipandang cukup. Dalam situasi seperti itu,
rekonsiliasi bank disebut sebagai pengendalian pengganti.

PENGUJIAN PENGENDALIAN
Seperti telah dijelaskan di atas, pengujian pengendalian adalah prosedur
pengauditan yang dilakukan untuk menetapkan efektivitas perancangan dan/atau
pengoperasian kebijakan dan prosedur struktur pengendalian. Pengujian pengendalian
yang berkaitan dengan perancangan dimaksudkan untuk menilai apakah kebijakan
atau prosedur telah dirancang dengan baik untuk mencegah atau mendeteksi salah saji
material pada suatu asersi laporan keuangan tertentu. Sebagai contoh, auditor
menyimpulkan bahwa rencana manajemen untuk menyimpan persediaan dalam
gudang terkunci akan dapat mencegah atau mengurangi secara signifikan risiko salah
saji dalam asersi keberadaan atau keterjadian untuk persediaan.
Pengujian pengendalian yang menyangkut efektivitas pengoperasian
dimaksudkan untuk menilai apakah kebijakan dan prosedur pengendalian sungguh-
sungguh berjalan. Dalam contoh persediaan di atas, observasi untuk memastikan
bahwa persediaan benar-benar disimpan dalam gudang, merupakan pengujian atas
efektivitas pengoperasian. Pengujian pengendalian yang berkaitan dengan efektivitas
pengoperasian berfokus pada tiga pertanyaan :
 Bagaimanakah penerapan pengendalian yang sesungguhnya?
 Apakah penerapan dilakukan secara konsisten sepanjang tahun?
 Oleh siapa pengendalian dikerjakan?
Suatu kebijakan atau prosedur pengendallan dikatakan berjalan secara efektif
apabila pengendalian tersebut telah diterapkan secara tepat dan konsisten sepanjang
tahun, oleh orang atau orang-orang yang diberi kewenangan untuk itu. Sebaliknya
kegagalan untuk menerapkan secara tepat dan konsisten, atau penerapan dilakukan
oleh orang yang tidak berwenang, menunjukkan bahwa pengoperasian tidak efektif.
Kegagalan semacam itu disebut deviasi atau perkecualian. Dalam hal ini tidak
digunakan istilah kekeliruan, karena kegagalan dalam pelaksanaan kegiatan ini baru
mungkin menjadi kekeliruan dalam catatan akuntansi. Sebagai contoh, kegagalan
karyawan kedua untuk memeriksa ketelitian faktur penjualan secara independen
merupakan suatu deviasi atau perkecualian, tetapi dokumen masih bisa benar jika
karyawan pertama telah mengerjakan faktur tersebut dengan benar.
Pengujian pengendalian bisa dilakukan atas pengendalian-pengendalian yang
berkaitan dengan kelompok transaksi yang utama dan/atau saldo rekening pengujian
harus dilakukan hanya atas pengendalian yang dipandang relevan oleh auditor dalam
mencegah atau mendeteksi salah saji material dalam asersi laporan keuangan.
Pengujian pengendalian bisa dilakukan selama berlangsungnya perencanaan
audit dan selama pelaksanaan perkerjaan-pekerjaan interim. Seperti telah dijelaskan
di atas, pengujian pengendalian juga bisa dilakukan pada pelaksanaan strategi audit
manapun.