Anda di halaman 1dari 2

Peringati Dasawarsa Lombok Utara, 33

Desa Meriahkan Pawai Budaya


TIMES INDONESIA, LOMBOK UTARA – Peringatan hari ulang tahun
(HUT) Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang ke 10 tahun, semakin meriah dengan
hadirnya pawai budaya oleh 33 desa yang ada di wilayah KLU. Pawai budaya ini
merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam HUT KLU. Pantauan TIMES
Indonesia (timesindonesia.co.id) di lapangan, pawai budaya ini melibatkan berbagai
kalangan dari berbagai suku dan agama. Peserta pawai dari 33 desa ambil bagian
menampilkan atraksi budaya dan potensi desa masing-masing, seperti gendang
beleq, kecimol, serta berbagai tarian kesenian khas asal desa yang ada di KLU.
Salah satu peserta pawai budaya, Kepala Desa Pemenang Barat, Mohammad
Syukri memberi apresiasi dengan adanya pawai budaya ini. Menurutnya, selain
untuk memeriahkan HUT KLU, pawai budaya ini bisa memperkenalkan potensi desa-
desa yang ada di Lombok Utara dan juga bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk
datang ke KLU.
"Ini sangat luar biasa, karena ini menunjukan satu kesatuan antara satu desa
dengan desa yang lain saling menghargai. Dan kita ingin terus menerus
mengembangkan pawai budaya ini," katanya, di arena pawai budaya lapangan
Tanjung, Lombok Utara, Sabtu (21/7/2018). Syukri berharap, dengan pawai budaya
ini pemerintah KLU bisa terus memupuk rasa persatuan, antar desa, antar agama,
antar suku yang ada di Lombok Utara menjadi satu kesatuan yang utuh."Persatuan
kita jangan sampai terkoyak baik oleh pihak-pihak yang ingin menghancurkan rasa
persaudaraan kita. Mudah-mudahan kita tidak terpengaruh semua," katanya
menutup pembicaraan. (*)

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/177474/20180721/233105/peringati-
dasawarsa-lombok-utara-33-desa-meriahkan-pawai-budaya/
Massal, 1.300 Anak Bercerita Lewat Tarian Khas Kota Batu
Senin, 23-07-2018 - 15:41

Sejumlah 1.300 anak-anak sedang bertani lengkap dengan mengenakan


pakaian petani dilengkapi dengan topi caping di halaman Balaikota Among Tani,
Senin (23/7/2018). Tapi mereka bukan untuk bertani tetapi untuk merayakan Hari
Anak Nasional (HAN) 2018. Seragam yang kompak berwarna merah itu siap
merayakan HAN 2018 dengan menari secara masal. Tari itu namanya Tari Rampak
Sumebyar yang menceritakan tentang Kota Batu sebagaian wilayahnya adalah
pertanian. Dan sebagian masyarakatnya merupakan seorang petani yang kemudian
digambarkan lewat Tarian Rampak Sumebyar. Kondisi tersebut digambarkan
dengan kelincahan seorang anak-anak sangat aktif. Aktif bergerak, lincah, bermain
bersama tanpa membedakan laki-laki atau perempuan dan penuh semangat mereka
menarikan yang terbaik. Mereka menari bersama dipandu oleh Wakil Wali Kota Batu
Punjul Santoso, TP PKK Kota Batu Wibi Asri Santoso, Ketua DPRD Kota Batu
Cahyo Edi Purnomo. Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso mengatakan tarian
ini terisnpirasi dari Kota Batu yang mayoritas warganya petani. Sehingga
tergambarkan melalui tarian tersebut yang menunjukan kebersamaan warga Kota
Batu. “Inilah cara kami merayakan HAN. Kami bersama menggambarkan pertanian
Kota Batu melalui tarian ini,” ungkap Punjul.
Ia menambahkan sebagai penerus bangsa seorang anak harus diberi porsi
bahwa mereka juga mendapat perhatian tidak hanya guru, orangtua, tapi juga
pemerintah daerah. Supaya anak-anak tumbuh berkembang lebih baik. “Pada
hakikatnya anak akan memberikan sumbangsih pemikiran bangsa dan negara.
Sehingga peran pemerintah daerah harus ada,” imbuhnya. Peran pemerintah dalam
hal ini adalah memberikan hak-haknya seperti Dinas Pendidikan Kota Batu
pemberian bantuan operasional sekolah daerah (Bosda), dan program minum
susu. “Lalu ketersediaan sarana dan prasarana. Bagaimana tempat umum seperti
tempat bermain. Lalu pada sektor Dinas Kesehatan melalui imunisasi dalam
kandungan hingga usia 5 tahun,” jelas politisi PDIP Kota Batu ini.
Selain itu, tahun 2018 Kota Batu kembali lagi meraih penghargaan kota layak
anak. “Malam ini kami menerima penghargaan di Surabaya. Pemkot Batu dapat
penghargaan kota layak anak, salah satu dari 38 kota kabupaten di Jatim diserahkan
oleh Gubernur,” tambahnya.

Sumber: http://www.malangtimes.com/baca/29708/20180723/154155/massal-1300-
anak-bercerita-lewat-tarian-khas-kota-batu/