Anda di halaman 1dari 11

Resume SA 700 dan 705

Standar Audit 700

Standar Audit (“SA”) ini mengatur tanggung jawab auditor dalam merumuskan suatu
opini atas laporan keuangan. SA ini juga mengatur bentuk dan isi laporan auditor yang
diterbitkan sebagai hasil suatu audit atas laporan keuangan.

Tujuan auditor adalah:

a. Untuk merumuskan suatu opini atas laporan keuangan berdasarkan suatu evaluasi atas
kesimpulan yang ditarik dari bukti audit yang diperoleh; dan

b. Untuk menyatakan suatu opini secara jelas melalui suatu laporan tertulis yang juga
menjelaskan basis untuk opini tersebut.

Untuk merumuskan opini tersebut, auditor harus menyimpulkan apakah auditor telah
memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas
dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan.
Kesimpulan tersebut harus memperhitungkan:

(a) Kesimpulan auditor, berdasarkan SA 330, apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah
diperoleh

(b) Kesimpulan auditor, berdasarkan SA 450, apakah kesalahan penyajian yang tidak
dikoreksi adalah material, baik secara invidual maupun secara kolektif

Auditor harus mengevaluasi apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang
material, sesuai dengan ketentuan dalam kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
Pengevaluasian tersebut harus mencakup pertimbangan atas aspek kualitatif praktik akuntansi
entitas, termasuk indikator kemungkinan penyimpangan dalam pertimbangan manajemen.

Secara khusus, auditor harus mengevaluasi apakah, dari sudut pandang ketentuan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku:

(a) Laporan keuangan mengungkapkan kebijakan akuntansi signifikan yang dipilih dan
diterapkan secara memadai;

(b) Kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan konsisten dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku dan sudah tepat;

(c) Estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen adalah wajar;

(d) Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah relevan, dapat diandalkan, dapat
diperbandingkan, dan dapat dipahami;

(e) Laporan keuangan menyediakan pengungkapan yang memadai untuk memungkinkan


pengguna laporan keuangan yang dituju memahami pengaruh transaksi dan peristiwa material
terhadap informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan; dan (Ref: Para. A4)
(f) Terminologi yang digunakan dalam laporan keuangan, termasuk judul setiap laporan
keuangan, sudah tepat.

Auditor harus menyatakan opini tanpa modifikasian bila auditor menyimpulkan bahwa
laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku.

Jika auditor:

(a) Menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, laporan keuangan secara
keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau

(b) Tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyimpulkan bahwa
laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material;

auditor harus memodifikasi opininya dalam laporan auditor berdasarkan SA 705

Jika laporan keuangan disusun sesuai dengan ketentuan suatu kerangka penyajian
wajar tidak mencapai penyajian wajar, maka auditor harus mendiskusikan hal tersebut dengan
manajemen dan, tergantung dari ketentuan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan
bagaimana hal tersebut diselesaikan, harus menentukan apakah perlu untuk memodifikasi
opininya dalam laporan auditor berdasarkan SA 705

Ketika laporan keuangan disusun sesuai dengan suatu kerangka kepatuhan, auditor
tidak diharuskan untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan mencapai penyajian wajar.
Namun, jika dalam kondisi yang sangat jarang terjadi, auditor menyimpulkan bahwa laporan
keuangan tersebut menyesatkan, maka auditor harus mendiskusikan hal tersebut dengan
manajemen dan, tergantung dari bagaimana hal tersebut diselesaikan, harus menentukan
apakah, dan bagaimana, mengomunikasikan hal tersebut dalam laporan auditor.

Tanggung Jawab Manajemen atas Laporan Keuangan

Bagian dari laporan auditor ini menjelaskan tanggung jawab pihak-pihak dalam
organisasi yang bertanggung jawab atas penyusunan laporan keuangan. Laporan auditor tidak
perlu merujuk secara khusus pada “manajemen,” tetapi harus menggunakan istilah yang tepat
dalam konteks kerangka hukum dalam yurisdiksi tertentu. Dalam beberapa yurisdiksi,
pengacuan yang tepat dapat menggunakan ”pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola.”

Laporan auditor harus mencakup suatu bagian dengan judul “Tanggung Jawab
Manajemen atas Laporan Keuangan.”

Laporan auditor harus menjelaskan tanggung jawab manajemen atas penyusunan


laporan keuangan. Deskripsi tersebut harus mencakup suatu penjelasan bahwa manajemen
bertanggung jawab untuk menyusun laporan keuangan sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku, dan atas pengendalian internal yang dipandang perlu oleh
manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan
penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. (Ref: Para.
A20-A23)
Ketika laporan keuangan disusun sesuai dengan suatu kerangka penyajian wajar,
penjelasan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam laporan auditor
harus merujuk pada “penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan tersebut”.

Tanggung Jawab Auditor

Laporan auditor harus menyatakan bahwa tangggung jawab auditor adalah untuk
menyatakan suatu pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit. (Ref: Para. A24)

Laporan auditor harus menyatakan bahwa audit dilaksanakan berdasarkan Standar


Audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (“IAPI”). Laporan auditor juga
harus menjelaskan bahwa standar tersebut mengharuskan auditor untuk mematuhi ketentuan
etika dan bahwa auditor merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan
memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian material.

Laporan auditor harus menggambarkan suatu audit dengan menyatakan bahwa:

(a) Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit atas
angka-angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan;

(b) Prosedur yang dipilih bergantung pada pertimbangan auditor, termasuk penilaian
atas risiko kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh
kecurangan maupun kesalahan. Dalam melakukan penilaian risiko tersebut, auditor
mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan laporan
keuangan entitas untuk merancang prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi
tidak untuk tujuan menyatakan suatu pendapat atas keefektivitasan pengendalian internal
entitas. Dalam kondisi ketika auditor juga memiliki suatu tanggung jawab untuk menyatakan
suatu pendapat atas keefektivitasan pengendalian internal dalam kaitannya dengan audit atas
laporan keuangan, auditor harus mengabaikan frasa bahwa pertimbangan auditor atas
pengendalian internal bukan untuk tujuan menyatakan suatu pendapat atas keefektivitasan
pengendalian internal; dan

(c) Suatu audit juga mencakup pengevaluasian atas ketepatan kebijakan akuntansi
yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

Ketika laporan keuangan disusun berdasarkan suatu kerangka penyajian wajar, penjelasan
tentang audit dalam laporan auditor harus merujuk pada “penyusunan dan penyajian wajar
laporan keuangan entitas.”

Laporan auditor harus menyatakan bahwa auditor meyakini bahwa bukti audit yang telah
diperoleh oleh auditor sudah cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini
auditor.

Opini Auditor
Ketika menyatakan suatu opini tanpa modifikasian atas laporan keuangan yang disusun
berdasarkan suatu kerangka penyajian wajar, laporan auditor harus (kecuali jika diharuskan
lain oleh peraturan perundang-undangan) menggunakan frasa di bawah ini:

Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, ….. sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia

Ketika menyatakan suatu opini tanpa modifikasian atas laporan keuangan yang disusun
berdasarkan suatu kerangka kepatuhan, opini auditor harus menyatakan bahwa laporan
keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan Standar Akuntansi
Keuangan di Indonesia.

Jika rujukan pada kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dalam opini auditor bukan pada
Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia atau Standar Akuntansi Pemerintahan, maka opini
auditor harus mengidentifikasi yurisdiksi asal kerangka tersebut.
STANDAR AUDIT 750
1. Ruang Lingkup
Standar Audit (“SA”) ini mengatur tanggung jawab auditor untuk menerbitkan suatu
laporan yang tepat dalam kondisi ketika, dalam merumuskan suatu opini berdasarkan SA
700,1 auditor menyimpulkan bahwa modifikasi terhadap opini auditor atas laporan
keuangan diperlukan.

2. Tipe Opini Modifikasian


Keputusan tentang ketepatan penggunaan tipe opini modifikasian bergantung pada: (Ref:
Para. A1)
- Sifat dari hal-hal yang menyebabkan dilakukannya modifikasi, yaitu apakah laporan
keuangan mengandung kesalahan penyajian material atau, dalam hal ketidakmampuan
untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, kemungkinan mengandung
kesalahan penyajian material; dan
- Pertimbangan auditor tentang seberapa pervasifnya dampak atau kemungkinan
dampak hal-hal tersebut terhadap laporan keuangan. (Ref: Para. A1)

3. Tujuan
Tujuan auditor adalah untuk menyatakan dengan jelas suatu opini yang dimodifikasi
dengan tepat atas laporan keuangan yang diperlukan ketika:
- Auditor menyimpulkan, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, bahwa laporan
keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau
- Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk
menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan
penyajian material.

4. Ketentuan
Kondisi yang Mengharuskan Dilakukannya Modifikasi Terhadap Opini Auditor
- Auditor menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, laporan
keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau
(Ref: Para. A2-A7)
- Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk
menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan
penyajian material. (Ref: Para. A8-A12)

5. Penentuan Tipe Modifikasi Terhadap Opini Auditor


A. Opini Wajar dengan Pengecualian
Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika:
- Auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan
bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah
material, tetapi tidak pervasif, terhadap laporan keuangan; atau
- Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari
opini, tetapi auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan
penyajian yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat
material, tetapi tidak pervasif.
B. Opini Tidak Wajar
Auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajar ketika auditor, setelah memperoleh
bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik
secara individual maupun secara agregasi, adalah material dan pervasif terhadap
laporan keuangan.
C. Opini Tidak Menyatakan Pendapat
- Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika auditor tidak dapat memperoleh
bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari opini, dan auditor
menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian yang tidak
terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material dan
pervasif.
- Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika, dalam kondisi yang sangat
jarang yang melibatkan banyak ketidakpastian, auditor menyimpulkan bahwa,
meskipun telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang setiap
ketidakpastian tersebut, auditor tidak dapat merumuskan suatu opini atas laporan
keuangan karena interaksi yang potensial dari ketidakpastian tersebut dan
kemungkinan dampak kumulatif dari ketidakpastian tersebut terhadap laporan
keuangan
6. Konsekuensi dari Ketidakmampuan untuk Memperoleh Bukti Audit yang Cukup dan
Tepat yang Disebabkan oleh Pembatasan yang Dilakukan oleh Manajemen setelah
Auditor Menerima Perikatan
A. Jika setelah menerima perikatan, auditor menyadari bahwa manajemen telah
melakukan pembatasan terhadap ruang lingkup audit yang menurut auditor mungkin
akan menyebabkan auditor menyatakan opini wajar dengan pengecualian atau opini
tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan, maka auditor harus meminta
manajemen untuk mencabut pembatasan tersebut.
B. Jika manajemen menolak untuk mencabut pembatasan yang dirujuk dalam paragraf
11, maka auditor harus mengomunikasikan hal tersebut kepada pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, kecuali pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola terlibat dalam pengelolaan entitas,2 dan menentukan apakah terdapat
kemungkinan untuk melakukan prosedur alternatif untuk memperoleh bukti audit
yang cukup dan tepat.
C. Jika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, maka auditor
harus menentukan implikasinya sebagai berikut:
- Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian
yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material,
tetapi tidak pervasif, maka auditor harus menyatakan opini wajar dengan
pengecualian; atau
- Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian
yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material
dan pervasif sehingga suatu opini wajar dengan pengecualian tidak akan memadai
untuk mengomunikasikan signifikansi kondisi tersebut, maka auditor harus: (Ref:
Para. A13-A14)
- Menarik diri dari audit, jika diperkenankan dan memungkinkan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku; atau
- Jika penarikan diri dari audit sebelum menerbitkan laporan auditor tidak
diperkenankan atau tidak memungkinkan, maka auditor tidak boleh menyatakan
pendapat atas laporan keuangan.
D. Jika auditor menarik diri seperti yang dijelaskan dalam paragraf 13(b)(i), sebelum
menarik diri, auditor harus mengomunikasikan kesalahan penyajian yang
teridentifikasi selama audit yang dapat menyebabkan modifikasi terhadap opini
kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. (Ref: Para. A15)

7. Pertimbangan Lain yang Berkaitan dengan Opini Tidak Wajar atau Opini Tidak
Menyatakan Pendapat
Ketika menurut auditor suatu opini tidak wajar atau opini tidak menyatakan pendapat
perlu dinyatakan atas laporan keuangan secara keseluruhan, laporan auditor juga tidak
diperkenankan untuk mencantumkan opini tanpa modifikasian, berdasarkan kerangka
pelaporan keuangan yang sama, atas suatu laporan keuangan tunggal atau satu atau lebih
unsur, akun, atau pos tertentu laporan keuangan. Pencantuman opini tanpa modifikasian
tersebut dalam laporan yang sama3 dalam kondisi tersebut akan bertentangan dengan
opini tidak wajar atau opini tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara
keseluruhan. (Ref: Para. A16)

8. Bentuk dan Isi Laporan Auditor Ketika Opini Dimodifikasi


Basis untuk Paragraf Modifikasi
A. Ketika auditor memodifikasi opini atas laporan keuangan, auditor harus, sebagai
tambahan terhadap unsur tertentu yang diharuskan oleh SA 700, mencantumkan suatu
paragraf dalam laporan auditor yang menyediakan suatu penjelasan tentang hal-hal
yang menyebabkan modifikasi tersebut. Auditor harus menempatkan paragraf tersebut
persis sebelum paragraf opini dalam laporan auditor dan menggunakan subjudul
“Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian”, “Basis untuk Opini Tidak Wajar”,
atau “Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat”, sesuai dengan kondisinya.
(Ref: Para. A17)
B. Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang
berkaitan dengan angka tertentu dalam laporan keuangan (termasuk pengungkapan
kuantitatif), maka auditor harus mencantumkan suatu penjelasan dan kuantifikasi
tentang dampak keuangan yang diakibatkan oleh kesalahan penyajian tersebut dalam
paragraf basis untuk modifikasi, kecuali tidak praktis. Jika tidak praktis untuk
menguantifikasi dampak keuangan tersebut, maka auditor harus menyatakan hal
tersebut dalam paragraf basis untuk modifikasi. (Ref: Para. A18)
C. Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang
berkaitan dengan pengungkapan kualitatif (naratif), maka auditor harus
mencantumkan suatu penjelasan tentang bagaimana terjadinya kesalahan penyajian
dalam pengungkapan tersebut dalam paragraf basis untuk modifikasi.
D. Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang
berkaitan dengan tidak diungkapkannya informasi yang seharusnya diungkapkan,
maka auditor harus:
- Mendiskusikan informasi yang tidak diungkapkan tersebut dengan pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola;
- Menjelaskan dalam paragraf basis untuk modifikasi tentang sifat informasi yang
dihilangkan; dan
- Kecuali dilarang oleh peraturan perundang-undangan, mencantumkan
pengungkapan yang dihilangkan, apabila dianggap praktis dan auditor telah
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang informasi yang dihilangkan
tersebut. (Ref: Para. A19)
E. Jika modifikasi dihasilkan dari ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang
cukup dan tepat, maka auditor harus mencantumkan alasan ketidakmampuan tersebut
dalam paragraf basis untuk modifikasi.
F. Bahkan ketika auditor telah menyatakan suatu opini tidak wajar atau opini tidak
menyatakan pendapat atas laporan keuangan, auditor harus menjelaskan dalam
paragraf basis untuk modifikasi alasan untuk setiap hal lain yang disadari oleh auditor
yang memerlukan modifikasi terhadap opini dan dampak yang diakibatkannya. (Ref:
Para. A20)

9. Paragraf Opini
Ketika auditor memodifikasi opini audit, auditor harus menggunakan subjudul “Opini
Wajar dengan Pengecualian”, “Opini Tidak Wajar”, atau “Opini Tidak Menyatakan
Pendapat”, sesuai dengan kondisinya, untuk paragraf Opini. (Ref: Para. A21, A23-A24)
Ketika auditor menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian karena terdapat
kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan, auditor harus menyatakan dalam
paragraf opini bahwa, menurut opini auditor, kecuali untuk dampak hal-hal yang
dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian:
A. Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai
dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan
kerangka penyajian wajar; atau
B. Laporan keuangan telah disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka
kepatuhan.
Ketika modifikasi timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan untuk memperoleh bukti
audit yang cukup dan tepat, auditor harus menggunakan frasa “kecuali untuk
kemungkinan dampak dari hal-hal…” untuk opini yang dimodifikasi. (Ref: Para. A22)
Ketika auditor menyatakan suatu opini tidak wajar, auditor harus menyatakan dalam
paragraf Opini bahwa, menurut opini auditor, karena signifikansi hal-hal yang dijelaskan
dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Wajar:
A. Laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka penyajian wajar;
atau
B. Laporan keuangan tidak disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka
kepatuhan.
Ketika auditor tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuannya untuk
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor harus menyatakan dalam paragraf
Opini bahwa:
A. Karena signifikansi hal-hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak
Menyatakan Pendapat, auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit, dan oleh karena itu;
B. Auditor tidak menyatakan opini atas laporan keuangan.

10. Penjelasan Tanggung Jawab Auditor ketika Auditor Menyatakan suatu Opini Wajar
dengan Pengecualian atau Opini Tidak Wajar
Ketika auditor menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian atau opini tidak wajar,
auditor harus mengubah penjelasan dalam paragraf Tanggung Jawab Auditor yang
menyatakan bahwa auditor percaya bahwa bukti audit yang telah diperoleh auditor adalah
cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini modifikasian.

11. Penjelasan tentang Tanggung Jawab Auditor Ketika Auditor Menyatakan suatu Opini
Tidak Menyatakan Pendapat
Ketika auditor menyatakan suatu opini tidak menyatakan pendapat karena
ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor
harus mengubah paragraf pendahuluan dalam laporan auditor untuk menyatakan bahwa
auditor ditugaskan untuk mengaudit laporan keuangan. Auditor juga harus mengubah
penjelasan tentang tanggung jawab auditor dan ruang lingkup audit dalam paragraf
Tanggung Jawab Auditor untuk menyatakan sebagai berikut: “Tanggung jawab kami
adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut berdasarkan
pelaksanaan audit yang sesuai dengan Standar Audit yang ditetapkan oleh Institut
Akuntan Publik Indonesia. Namun, karena hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis
untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang
cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit”.

12. Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola
Ketika auditor mengetahui bahwa ia akan memodifikasi opininya dalam laporan auditor,
auditor harus berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola
tentang kondisi yang menuntun pada modifikasi tersebut dan usulan susunan kata-kata
atas modifikasi tersebut. (Ref: Para. A25)

13. Materi Penerapan dan Penjelasan Lain


Tipe Opini Modifikasian (Ref: Para. 2)
Sifat Hal-Hal yang Pertimbangan Auditor tentang Seberapa Pervasif
menyebabkan dampak Atau Kemungkinan Dampak terhadap
Modifikasi Opini Laporan Keuangan

Material tetapi Tidak Material dan Pervasif


Pervasif
Laporan Keaungan
Opini Wajar dengan Opini Tidak Wajar
mengandung kesalahan
Pengecualian
penyajian material
Ketidakmampuan untuk Opini Tidak Menyatakan
Opini Wajar Dengan
memperoleh bukti audit Pendapat
Pengecualian
yang cukup dan tepat

14. Sifat Kesalahan Penyajian Material (Ref: Para. 6(a))


Dalam merumuskan suatu opini atas laporan keuangan, SA 700 mengharuskan auditor
untuk menyimpulkan apakah keyakinan memadai telah diperoleh bahwa laporan
keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material.4 Kesimpulan ini
memperhitungkan pengevaluasian auditor atas kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi,
jika ada, dalam laporan keuangan berdasarkan SA 450.5
SA 450 mendefinisikan suatu kesalahan penyajian sebagai suatu selisih antara angka,
klasifikasi, penyajian, atau pengungkapan dari suatu pos yang dilaporkan dalam laporan
keuangan dengan angka, klasifikasi, penyajian, atau pengungkapan yang diharuskan
untuk pos tersebut sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Oleh
karena itu, suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul
dalam kaitannya dengan:
A. Ketepatan kebijakan akuntansi yang dipilih;
B. Penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih; atau
C. Ketepatan atau kecukupan pengungkapan dalam laporan keuangan.

15. Ketepatan Kebijakan Akuntansi yang Dipilih


Dalam hubungannya dengan ketepatan kebijakan akuntansi yang dipilih oleh manajemen,
kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul ketika:
A. Kebijakan akuntansi yang dipilih tidak konsisten dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku; atau
B. Laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan, tidak mencerminkan
transaksi dan peristiwa sedemikian rupa untuk mencapai penyajian wajar.
Kerangka pelaporan keuangan seringkali mengandung ketentuan bagi akuntansi untuk,
dan pengungkapan atas, perubahan dalam kebijakan akuntansi. Ketika entitas telah
mengubah kebijakan akuntansi signifikan yang dipilihnya, suatu kesalahan penyajian
material dalam laporan keuangan dapat timbul ketika entitas tidak mematuhi ketentuan
tersebut.

16. Penerapan Kebijakan Akuntansi yang Dipilih


Dalam hubungannya dengan penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih, kesalahan
penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul:
A. Ketika manajemen tidak menerapkan kebijakan akuntansi yang dipilih secara
konsisten sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan, termasuk ketika manajemen
tidak menerapkan kebijakan akuntansi yang dipilih secara konsisten antar periode
atau terhadap transaksi dan peristiwa serupa (konsistensi dalam penerapan); atau
B. Karena metode penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih (seperti suatu kesalahan
dalam penerapan yang tidak disengaja).