Anda di halaman 1dari 41

SEJARAH FREIGHT FORWARDER

• Usaha Freight Forwarding mula-mula berdiri di Eropa, khususnya di


Jerman pada pertengahan abad ke-19, dan secara bertahap
berkembang ke negara lain sampai keluar benua eropa.
• Pada tanggal 31 Mei 1926 berdirilah Asosiasi Internasional Freight
Forwarding yang dihadiri oleh 15 organisasi Freight Forwarding dari 12
negara Eropa dengan nama FIATA (Fédération Internationale des
Associations de Transitaires et Assimilés) "International
Federation of Freight Forwarders Associations",
• FIATA memiliki status konsultatif dengan beberapa lembaga,
diantaranya: the Economic and Social Council (ECOSOC) of the
United Nations (inter alia ECE, ESCAP, ESCWA), the United Nations
Conference on Trade and Development (UNCTAD), and the UN
Commission on International Trade Law (UNCITRAL).

ITL TRISAKTI MARINE SYSTEM


DEFINISI FREIGHT FORWARDING

Sebetulnya tidak ada definisi internasional


yang tepat mengenai kata Freight
Forwarder. Diluar negeri namanya berbeda-
beda. Ada yang menamakannya Custom
House Agent, Custom Broker, Shipping and
Forwarder Agent.

42
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
DEFINISI FREIGHT FORWARDER
FIATA berarti layanan apapun yang berkaitan dengan
pengangkutan (dilakukan oleh satu moda transportasi
atau multimoda transportasi), konsolidasi, penyimpanan,
penanganan, pengepakan atau distribusi barang serta
tambahan dan konsultasi jasa yang berhubungan
dengannya, termasuk namun tidak terbatas pada
kepabeanan dan masalah fiskal.

UN-ESCAP berarti orang atau perusahaan, yang bertindak


sebagai agen, menyimpulkan kontrak dengan
pelanggan pada jasa angkutan forwarding yang
berkaitan dengan pengangkut, konsolidasi,
penyimpanan, penanganan, pengepakan atau
distribusi barang serta jasa pendukung dan
konsultasi yang berhubungan dengannya.
43
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
DEFINISI FREIGHT FORWARDER

INFA/ GAFEKSI Freight Forwarder adalah Badan


usaha jasa angkutan, dimana peran
utamanya ialah sebagai “pemberi
jasa” antara shippers dan Consignee.

WIKIPEDIA Freight Forwarder adalah orang atau


perusahaan yang menyelenggarakan
pengiriman untuk individu atau
perusahaan untuk mendapatkan barang
dari produsen atau produsen ke pasar,
pelanggan atau akhir titik distribusi.

44
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
RUANG LINGKUP KEGIATAN FREIGHT FORWARDER

Bertindak atas nama SHIPPER

Bertindak atas nama CONSIGNEE

45
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
RUANG LINGKUP KEGIATAN
ATAS NAMA SHIPPER

1. Memilih rute, moda angkutan dan carrier yang tepat dan


sesuai
2. Memesan ruangan kapal (booking space)
3. Menerima muatan dan menerbitkan dokumen yang sesuai
4. Mempelajari term & condition dari tiap persyaratan
perjanjian dan peraturan pemerintah, dan menyiapkan
dokumen yang diperlukan
5. Mempacking barang
6. Mengatur penyimpanan/ penggudangan bila perlu
7. Menimbang berat dan mengukur volumenya
8. Memberikan saran kepada shipper perlunya asuransi, dan
mengurus bila dimintai oleh shipper
46
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
RUANG LINGKUP KEGIATAN
ATAS NAMA SHIPPER

9. Mengangkut muatannya ke pelabuhan, mengurus


customs clearance, memperoses formalitas
dokumentasi dan menyerahkan kepada pengangkut
10. Bila perlu menghadiri transaksi valas
11. Membayar biaya, termasuk freight
12. Mengurus B/L dan menyerahkan kepada Shipper
13. Mengurus transhipment bila perlu
14. Memonitor barang sampai tiba di consignee, dengan
menghubungi pengangkut dan agennya
15. Catat kerusakan dan kehilangan *bila ada
16. Membantu shipper untuk penyelesaian claim terhadap
pengangkut *bila ada

47
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
RUANG LINGKUP KEGIATAN
ATAS NAMA CONSIGNEE
1. Memonitor pergerakan/perjalanan barang atas nama consignee (bila
freight di kontrol olehnya)
2. Menerima dan memeriksa semua dokumen yang ada hubungannya
dengan pergerakan barang
3. Menerima penyerahan barang dari pengangkut (bila perlu membayar
freight)
4. Mengatur customs clearance dan membayar bea masuk dan biaya
lainnya
5. Mengurus pergudangan transit, bila diperlukan
6. Menyerahkan barang kepada consignee
7. Membantu consignee, bila diperlukan untuk mengurus claim terhadap
carrier
8. Membantu consignee, dalam pengumpulan dan distribusi barang bila
diperlukan
48
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
FREIGHT FORWARDER DAN PIHAK-PIHAK TERKAIT

Pemerintah dan otoritas publik lainnya

Otoritas Pelabuhan -Izin ekspor/impor Kepabeanan


-Perbankan
-Perizinan Transportasi
-Badan Karantina
-Pejabat Konsuler

Freight Forwarder Carriers and other agencies


Shipper/ Consignne
-Pemilik angkutan
-Operator jalan raya
-Kereta Api
Resource -Angkutan air
Action -Operator Pergudangan
Asuransi Barang Liability Insurer -Perusahaan Packaging
Through Transport Clubs -Bank

49
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
HAK, KEWAJIBAN, DAN TANGGUNG JAWAB SEBAGAI AGEN

 Pada umumnya, Freight Forwarding akan bertanggungjawab


terhadap kesalahan yang dilajukan oleh karyawannya, antara lain:
a. Tidak mengasuransikan muatannya sesuai dengan instruksi
b. Penyerahan barang yang berlawanan dengan instruksi
c. Mengangkut ke tujuan yang salah
d. Melakukan re-eksport tanpa dilengkapi dengan persyaratan
yang diperlukan
e. Penyerahan barang tanpa meminta pembayaran cash dari
consignee
 Freight Forwarding pada umumnya tidak mau bertanggungjawab
terhadap kesalahan atau kelalaian pengangkutan

50
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
HAK, KEWAJIBAN, DAN TANGGUNG JAWAB SEBAGAI PRINSIPAL

Sebagai Prinsipal, FF merupakan


independen kontraktor yang menerima
tanggungjawabnya atas namanya sendiri,
tidak hanya terhadap pada kelalaiannya
saja, tapi juga kelalaian oleh pihak-pihak
yang terkait dengan kontraknya

51
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
52
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
BONGKAR MUAT
Pengertian Bongkar Muat
• Bongkar Muat adalah salah satu kegiatan yang dilakukan dalam proses forwarding (pengiriman) barang.
• Yang dimaksud dengan kegiatan muat adalah proses memindahkan barang dari gudang, menaikkan lalu
menumpuknya di atas kapal, sedangkan kegiatan bongkar adalah proses menurunkan barang dari kapal lalu
menyusunnya di dalam gudang di pelabuhan atau Stock pile atau container yard

Hubungan antara Kapal, Pelabuhan dan Peralatan Bongkar Muat


Dalam dunia perniagaan Maritim, ketiga aspek ini menjadi sesuatu yang tak terpisahkan. Pelabuhan, kapal, dan alat
bongkar/muat menjadi infrastruktur utama yang tulang punggung perniagaan suatu negara. Ketiganya menjadi
demand yang saling berkesinambungan satu sama lainnya atau secara umum disebut derived demand dimana
kebutuhan antara salah satu dari ketiganya dalam dunia perniagaan khusus yang membutuhkan proses bongkar muat,
menimbulkan kebutuhan lainnya pada siklus yang sama. Contohnya misal Kebutuhan akan kapal. Hadirnya kapal akan
menimbulkan kebutuhan akan kehadiran pelabuhan, dan alat bongkar muat, sebaliknya begitu juga dengan pelabuhan.
Kehadiran pelabuhan akan sangat menarik kehadiran kapal untuk datang karena tersedianya fasilitas. Dengan hadirnya
kapal, maka akan muncul kebutuhan akan proses bongkar muat.
Bongkar muat menjadi kegiatan yang mutlak dilakukan dalam proses perniagaan. Dalam kegiatan perniagaan, banyak
barang yang terlibat di dalamnya. Jumlahnya tak hanya sekian kilogram tetapi mencapai kwintal atau bahkan ton. Maka
dari itu dalam menanganinya memerlukan alat khusus. Pertimbangan yang muncul adalah apabila menggunakan
tenaga manusia (manual) maka akan semakin besar cost yang dikeluarkan. Memang pada konteks pengadaan alat
khusus akan merogoh capital Cost yang lebih besar, namun dalam total cost memberikan perbedaan yang sangat
mencolok. Penggunaan alat bongkar muat dinilai mutlak lebih efektif dan efisien secara finansial disbanding
menggunakan tenaga manusia. Selain itu dirasanya Lebih low risk dan akurasi tinggi.

41
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
BONGKAR MUAT
Peralatan Bongkar Muat

1. Grabs adalah alat muat / bongkar yang sering digunakan untuk memuat/membongkar barang
jenis curah kering.
2. Bucket adalah sebuah bak dengan kapasitas tertentu yang digunakan untuk memuat barang
curah atau bag.
3. Crane adalah suatu alat dengan kapasitas tertentu yang digunakan untuk
menaikan/menurunkan barang dari/ke kapal.
4. Sling adalah jerat untuk muatan yang dibuat dari tali, termasuk tali kawat atau baja, gunanya
untuk mengangkat atau menurunkan muatan dari dan ke kapal.
5. Forklift adalah kendaraan roda empat yang berfungsi sebagai alat pemindah
(transport) barang dari satu titik ke titik yang lain dengan jarak yang dekat.
Operasional kendaraan ini banyak terdapat di lingkungan pabrik
6. Loader adalah mesin yang digunakan untuk meraup dan transportasi bahan dalam area kerja.
7. Exchavator adalah alat berat yang sering dipergunakan pada pekerjaan konstruksi, kehutanan
dan industri pertambangan karena alat ini dapat melakukan berbagai macam pekerjaan.

41
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER

Penyedia Jasa Angkutan di perairan jika kekurangan


moda, tidak harus membeli kapal berstatus milik
tapi dapat menyewa kapal dari pemiliknya untuk
dioperasikan memenuhi kebutuhan

Secara hipotesis, tidak jarang total cost kapal sewa


per Ton mile kargo yang diangkut jauh lebih efisien
daripada Biaya yang sama atas kapal milik pribadi

Hukum dan Peraturan Perundang-undangan


memungkinkan pelaku mengadakan perjanjian sewa
menyewa kapal dari prusahaan pemilik atau
perantara atas nama pemilik. KUHD 453 paragraph 1:
Yang dinamakan pencarter kapal ialah carter menurut
waktu dan carter menurut perjalanan atau A ship
mau be hired by time-charter or by voyage-charter

53
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER

Charter

Berdasar KUHD Berdasar praktik

Time Charter Voyage Charter Time Charter Voyage Charter Voyage Charter
Bareboat Charter Time Charter
(Carter menurut (Carter menurut (Carter menurut (Carter menurut (Cartermenurut
(Carter Tanpa (Carter menurut
waktu) perjalanan) waktu) perjalanan) Awak Kapal)
perjalanan) waktu)

54
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER
Time Charter

• Carter menurut waktu adalah persetujuan dengan mana pihak


yang satu (si yang mencarterkan) mengikatkan diri untuk selama
Pengertian Time suatu waktu tertentu, menyediakan sebuah kapal tertentu,
Charter (KUHD 453) kepada pihak lawannya (si pencarter) dengan maksud untuk
memakai kapal tersebut dalam pelayaran di lautan guna keperluan
pihak yang terakhir ini dengan pembayaran suatu harga yang
dihitung menurut waktu

• Adalah persetujuan dimana pihak pemilik kapal mengikatkan diri


Dengan Kata Lain untuk menyediakan kapal tertentu kepada pihak penyewa yang
Carter menurut waktu kemudian akan menjadi operator kapal itu untuk memenuhi
kepentingannya dalam pengangkutan di perairan. Sewa Carter
dihitung lamanya waktu ( misalnya 3, atau 6 atau 12 bulan)

55
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER
Time Charter

Time Charrter, tergolong paling banyak dilakukan untuk kepentingan liner service
dimana penyedia jasa liner service kekurangan ruang kapal dalam jangka waktu
tertentu;

Pencarter bisa juga Freight ForwaderI selaku operator angkutan multimoda (MTO) yang
hendak mengirim barang dalam partai besar sekaligus, jika dianalisis biaya menunjukkan
bahwa membayar secara carter lebih rendah daripada uang tambang (freight) melalui
penyedia jasa liner service;

Kapal dicarter dalam jangka waktu tertentu dalam keadaan lengkap bersama awak
kapal dan perlengkapan berlayar, sedangkan bahan bakar dan air tawar
ditanggung oleh pencarter;

Kapal diserahterimakan dari pemilik kapal kepada pencarter, selanjutnya pencarter


mengoperasikan kapal sesuai dengan jadwal serta trayek pelayarannya

56
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter
Mengingat kapal diserahkan kepada pencarter yang akan menjadi operator kapal, bahkan sekaligus sebagai pengangkut
(carrier) sehingga pencarter mengambil alih kewajiban dan tanggung jawab pengangkut terhadap pengirim dan atau
penerima. Sementara ketidak pastian tentang muatan dan pelabuhan ketika menandatangi charter-party
menyebabkan kehati hatian memilih dan mencarter kapal dengan mempertimbakan : 1) Kapasitas angkut 2) Konstruksi
& Pemeliharanaan 3) Kecepatan 4) Pemakaian Bahan Bakar 5) Tanda Kebangsaan 6) Ukuran Fisik Kapal
1) Kapasitas Angkut
• Daya angkut kapal diperlukan dalam rangka prakiraan muatan yang dapat diangkut setelah operasi komersial
(Ship’s Dead Weight Capacity dan Cargo Dead Weight Capacity)
• Ship’s Dead Weight Capacity (Ship’s DWT) atau Ship’s Weight Carrying Capacity adalah kapasitas angkut kapal
terdiri dari kargo, bahan bakar, air tawar dan gudang
• Cargo’s Dead Weight Capacity (Cargo’s DWT) atau Cargo Carrying Capacity adalah daya angkut kapal tidak
termasuk bahan bakar, air tawar dan gudang
• Kedua DWT berpengaruh langsung terhadap draught, garis muat, dan freeboard
• Untuk penataan muatan di dalam palka, dicantumkan juga dalamC/P besarnya Ship’s cubic capacity dalam
bentuk kapasitas grain (muatan curah seperti jagung) dan kapasitas bale (muatan karton, box) bahkan
disebutkan juga kapasitas muatan di atas deck
• Ketentuan dalam C/P pada Box 9 menyatakan bahwa semua ruang (space) di atas kapal termasuk geladak,
berada di bawah kewenangan pencarter untuk menempatkan muatan yang diangkutnya. Apabila di atas kapal
tersedia kabin untuk mengangkut penumpang, maka perlu ditambahkan dalam C/P apakah pencarter dapat
memakai kabin itu untuk penumpang komersial
• Berkenanaan dg kapasitas muatan, pada Baltime C/P biasanya tercantum istilah “all told” dan “about”. All told
dimaksudkan untuk sebagai pernyataan bahwa semua keterangan yang diperlukan peencarter telah diberikan
oleh pemilik kapal, sedangkan “about” menyatakan bahwa keterangan sekedar diketahui pencarter mengenai
DWT dan Cargo carrying capacity terbilang sudah jelas diketahui pencarter
57
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter
2) Konstruksi & Pemeliharaan
• Bangunan kapal temasuk permesinan perlu dinyatakan dalam C/P untuk memastikan kesesuaian
antara ukuran serta jumlah palka dengan jenis kargo yang akan diangkut. Ketidaksesuaian antara
ketentuan pada dokumen dengan keadaan fisik kapal memungkinkan pencarter memutuskan
C/P sebelum waktu yang disepakati semula
• Pemilik kapal mengetahui karakteristik maupun performance kapal dan dinyatakan dalam C/P,
jika dalam pengoperasian menunjukkan performance di bawah standar kesepakatan, maka
pencarter dapat menentukan pilihan menghentikan atau melanjutkan C/P
• Pemeliharan bangunan maupun mesin kapal dinyatakan tegas meliputi perawatan rutin sampai
pada perawatan menyeluruh (general overhaul) termasuk pemenuhan kelas dan sertifikasi pada
BKI sehingga kapal seaworthy
• Persoalan serring terjadi ketika mesin dan pesawat rusak, pemilik dan pencarter saling klaim
bahwa perbaikan bukan tanggung jawabnya karena batasan kerusakan dan tanggung jawab
siapa untuk mengatasinya tidak jelas
3) Kecepatan jelajah
• Pencarter memerlukan data kecepatan kapal dalam satuan mil per jam atau knots, untuk
perhitungan waktu berlayar dalam melayari trayek serta menentukan estimasi hati tiba
(estimated time of arrival) dan berangkat (estimated time of departure).
• Kecepatan dinyatakan dalam berap knots pada saat kapal berlayar dengan atau tanpa kargo dan
dengan/tanpa ballast di perairan tropis atau non tropis

58
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter
4) Pemakaian Bahan Bakar
• Kecepatan dan pemakaian bahan bakar berhubungan langsung, jika perputaran mesin penggerak utama
berputar cepat agar berlayar pada knots cepat maka kebutuhan tenaga mekanik makin besar, dan tenaga
besar dihasilkan dengan energi yang bersumber dari bahan bakar. Makin tinggi RPM (Revolution per minute)
mesin, maka pemakaian bahan bakar (fuel consumption) semakin tinggi pula.
• Data pemakaian bahan bakar dicantumkan C/P dikaitkan dengan cuaca dan draught tertentu. Pemakaian
bahan bakar dinyatakan berapa knots kecepatan kapal dalam cuaca baik, perairan tanpa hambatan, pada
beban muatan penuh dan pemakaian bahan bakar dalam satuan ton per hari. Fuel consumption pada time
charter, sering dinyatakan atas dasar average service speed sehingga mudah bagi pencarter menghitung
Biaya operasi per hari
5) Tanda Kebangsaan
• Tanda kebangsaan (certificate of registry) harus dinyatakan secara jelas guna memastikan peraturan
perundang-undangan (hukum) negara mana yang berlaku di atas kapal, kelengkapan dokumen atau surat
kapal dan penguruasan perpanjangan termasuk pembayaran pajak di negara tempat Pendaftaran (Flag State)
pemberi tanda kebangsaan
6) Ukuran Fisik Kapal
• Selain dari nama dan call sign, ukuran ukuran (ship’s particulars) dan tahun pembuatan kapal harus secara
lengkap dinyatakan dalam C/P. Ukuran-ukuran dimaksud meliputi draught, panjang keseluruhan, lebar, ruang
akomodasi awak kapal, cabin penumpang (jika ada), berikut data detail mesin-mesin seperti putaran (RPM)
dan daya kuda (Horse Power)
• Kargo, Kapal yang dicarter selama waktu tertentu pada dasarnya dapat mengangkut muatan yang telah dirinci
dalam C/P. Pencarter tidak boleh mengangkut muatan yang dapat merusak atau mencelakakan kapal. Semua jenis
muatan berbahaya, kecuali sepertujuan pemilik kapal, tidak boleh diangkut. Bahan radioaktif atau bahan bakar
nuklir secara tegas tidak diizinkan untuk diangkut
59
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter
• Masa Carter,
 Carter berdasarkan waktu menetapkan lamanya carter sejak dimulai sampai berakhirnya
 Kadangkala pencarter mengingkan perpanjangan waktu jika kargo yang diangkut masih berkelanjutan,
dengan pertimbangan sewa carter. Jikalau pasar menawarkan sewa yang lebih rendah, tentu pencarter
memilih mengakhiri carter kemudian mencarter kapal lain, akan tetapi jika sewa kapal dengan kapasitas
yang sama cenderung naik, maka pencarter akan memperpanjang masa pencartean selama mungkin
 Perpanjangan masa carter dapat terjadi apabila pemilik menyetujui. Akan tetapi, pemilik juga berhak
menolak perpanjangan, misalnya ketika sewa carter di pasar lebih tinggi daripada kesepakatan dalam C/P,
maka pemilik memilih menolak perpanjangan, karena pemilik akan menyewa lain, sebalikanya jika sewa di
pasar lebih rendah daripada sewa yang disepakati, maka pemilik berhak memilih diperpanjang
 Apabila dalam masa carter telah terjadi halangan berupa kerusakan atau penyebab lain sehingga kapal
dinyatakan off-hire maka pencarter dapat meminta perpanjangan jika keadaan tersebut diatur dalam C/P

• Delivery & Redelivery,


 Hari penyerahan dan pengembalian kapal dinyatakan dalam C/P
 Keadaan kapal pada waktu dikembalikan harus sama seperti saat diterima, termasuk perlengkapan,
inventaris, barang persediaan di gudang, dan suku cadang permesinan
 Ketika kapal diserahkan, ruang muatan (palka) juga dalam keadaan siap digunakan
 Demikian pula saat dikembalikan dari pencarter kepada pemilik, kapal tetap pada kondisi tetap laik laut
 Penyediaan bahan bakar dalam satuan ton dikembalikan oleh pencarter sama dengan jumlah ton ketika
kapal diterima dari pemilik
 Begitu juga semua pengeluaran di pelabuhan di mana berlangsungnya acara delivery dan/atau redelivery
dibayar pencarter, disepakati sebagai tanggung jawab pencarter

60
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter
• Sewa Carter dan Cara Pembayaran,
 Pembayaran dilaksanakan berdasarkan ketentuan pokok dihitung sejak saat diserahkan kapal
kepada pencarter sampai saatnya kapal diserahkan kembali kepada pemilik
 Pembayaran dimuka, cash dalam mata uang yang disepakati tanpa potongan
 Sewa carter (Charter hire) untuk kepastian harga selalu per day atau per 30 days ( X US$ per
day atau X DM per 30 days) dihindarkan pemakaian durasi per week dan atau per month
 Ketidaksesuaian antara pembayaran dengan kesepakatan dalam C/P berakibat pemilik kapal
berwenang menarik kapal dari pengoperasian pencarter tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu, bahkan pemilik terbebas dari tuntutan ganti rugi yang timbul dari kejadian itu
 Lebih dari sekedar menarik kapal kembali, pada time carter biasa dimasukkan lien clausul yang
memberikan hal kepada pemilik menahan (menyita) kargo di atas kapal. Dalam klausul
penyitaan, penyewa diberikan hak untuk menahan kapal jika sewa telah dibayar, tetapi kapal
tidak menghasilkan
 Untuk menguatkan posisi tawar pencarter, sebaiknya dinyatakan juga bahwa pencarter
berwenang memotong sewa carter selama kapal dalam keadaan idle atau “off-hire” karena
kapal selama docking atau downtime menunggu perbaikan pencrter mempuanyai alasan yang
kuat yakni kapal tidak dapat dioperasikan (tidak berproduksi).

61
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter
• Off Hire,
 Disepakati bahwa sewa carter tidak diperhitungkan apabila kapal tidak berproduksi karena derek
atau permesinan rusak, docking yang terjadwal, pemogokan nakhoda dan awak kapal, atau ditahan
penguasa karena sesuatu urusan hukuman
 Cara pengurangan pembayaran karena off hire diatur dengan ketentuan saling menguntungkan
 Bagi pencarter tersedia kesempatan untuk mengajukan “off hire claim” kepada pemilik kapal dengan
dalili penuntutat sbb :
 Akalah klaim sudah memenuhi off hire clause dama C/P
 Apakah terdapat syarat minimum untuk menyatakan keadaan intu sebagai off hire?
 Berapa nilai kerugian di pihak pencarter?
 Berapa nilai pemotongan sewa carter sebagai akibat off hire?
 Misalkan satu unit kapal dalam time-charter mengalami kerusakan mesin induk di Bitung sehingga
perlu ditarik dengan kapal tunda ke Singapura untuk perbaikan. Kejadian ini menimbulkan off-hire
sejak kerusakan sampai selesai diperbaiki dan dioperasikan kembali oleh pencarter. Sering kali
pemilik beranggapan bahwa ketika mesin induk kapal sudah diperbaiki maka saat itulah off hire
berakhir
 Logisnya kapal dikembalikan ke Bitung untuk dioperasikan pencarter meskipun masih perdebatan
dimana mestinya kapal masuk kembali dalam pengendalian pencarter. Untuk kepastian aspek legal,
pencarter perlu menambah ketentuan “Put Back” di dalam C/P. Karena selama kapal belum dapat
dioperasikan pencarter berlaku klausul “no hire to be paid in respect of any time lost thereby during
the period in which the vessel is unable to perform the service”

62
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter
• Performance Guarantee,
 Kemungkinan off hire tidak hanya karena kerusakan mesin induk tapi banyak sebab sehingga untuk melindungi
pencarter perlu jaminan pelaksanaan dari pemilik. Performance Guarantee berskala menyeluruh meliputi maintenance
dan human factor. Faktor manusia meliputi ketersediaan bekerja sama dengan baik dari pemilik, nakhoda, perwira dan
ABK. Pencarter tentu menghendaki kinerja terbaik dari semua pihak.
 Alasan bagi pencarter untuk meminta jaminan berupa performance guarantee antara lain :
 Informasi keadaan kapal tidak sesuai antara penjelasan pada saat negosiasi dan klausul dalam C/P dengan data fisik
setelah delivery
 Kapal tidak terpeliharan dengan baik seperti diinformasikan
 Kapal diserahkan tidak laik laut sebagaimana mestinya
 Kapal tidak diawaki dengan nakhoda, perwira dan ABK menurut keahlian dan sertifikasi yang disyaratkan
 Fungsi dan Peran Nakhoda
 Posisi Nakhoda merepresentasikan kedua pihak yang terikat dalam C/P sekaligus pada saat yang bersamaan
 Nakhoda direkrut dan dipekerjakan pemilik kapal disatu pihak, dipihak lain nakhoda di bawah komanda pencarter.
Dengan demikian bertanggung jawab pada dua majikan. Untuk kepentingan pemilik kapal, bertanggung jawab terutama
atas keselamatan kapal dan untuk pencarter bertanggung jawab atas operasi pelayaran dan pengangkutan kargo, serta
memimpin para perwira kapal maupun ABK menjalankan tugas-tugas operasional
 Nakhoda dan seluruh bawahannya menajalankan tugas yang diatur atau diarahkan pencarter sebagaimana mereka
melakukan tugas yang sama di bawah kendali pemilik kapal. Loyalitas seperti ini dalam time charter disebut customary
assistance
 Time-Charter-Party menyatakan bahwa apabila perilaku nakhoda, perwira atau masinis tidak mematuhi tingkat loyalitas
yang ditetapkan penyewa sehingga menyebabkan ketidakpuasan, maka pencarter berhak mengusulkan penggantian
kepada pemilik
 Gaji Nakhoda dan anak buahnya dibayar oleh pemilik kapal, namun atas pekerjaan-pekerjaan yang biasanya di
outsourcing dari terminal dan atau pekerjaan di luar jam kerja normal, mereka berhak menerima upah berupa lembur
(overtime) dari pencarter
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER 63
CHARTER HIRE
Time Charter
• Tanggung jawab Pengangkut,
 Pencarter dalam Time Charter bertindak sebagai pengankut (carrier) sehingga tanggung jawab atas
keselamatan kargo bukan pada pemilik kapal, melainkan berada pada pencarter kapal
 Pencarter menerbitkan dokumen muatan seperti Bill of Lading dan manifest, serta merespon tuntutan
ganti rugi (claim) dari pemilik barang
 Tanggung jawab dalam bentuk Biaya yang ditanggung masing pihak dalam Time Charter-Party sbb :

NO PEMILIK NO PENCARTER NO PENCARTER


1 Semua upah & Perlengkapan Awak 1 Semua pungutan di plb 11 Pungutan pajak pemerintah
penyerahan & pengembalian kapal daerah/kota
2 Pertanggungan kapal 2 Bahan bakar & minyak lumas 12 Kanal. & kolam pelabuhan
3 Peralatan bengkel dek & kamar mesin 3 Biaya konsulat (kecuali di negara 13 Biaya memuat,pemerataan,
utk pemeliharaan dek & mesin bendera kapal) pemadatan(termsk bahan terap)
4 Operator winch per palka 4 Biaya fasilitas pelabuhan 14 Jasa keagenan & komisi
5 Sertifikasi peralatan/perlengkapan 5 Jasa pemanduan kapal 15 Pembingkaran, ukur, tally
6 Sertifikat & dokumen klasifikasi 6 Petugas kanal 16 Biaya delivery kargo
7 Biaya docking sesuai peraturan kelas 7 Jasa motor-boat 17 Biaya survey-survey
8 Biaya perawatan (maintenance/repar) 8 Penerangan 18 Bahan Makanan & minum kapal
9 Jasa kapal tunda & kapal keptil 19 Tali & seling bongkar muat
10 Air tawar untuk ketel-ketel 20 Sewa alat mekanis B/M
64
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Time Charter

• Kerusakan Kapal

 Kerusakan sebagai akibat dari ketidaklaiklautan maka pemilik menanggung risiko biaya
perbaikan, bahkan kerugian pihak pemilik kargo yang berawal dari ketidaklaiklautan kapal
merupakan tanggung jawab pemilik (jika dapat dibuktikan)
 Kerusakan kapal yang terjadi karena tubrukan, cuaca buruk, kandas di alur ataupun
dipelabuhan menjadi tanggung jawab penyewa/pencarter. Begitu pula kerusakan kapal yang
disebabkan stowage, shifting, trimming yang salah atau karena muatan yang sepatutnya
dihindari berdasarkan C/P menjadi tanggung jawab pencarter
 Kerusakan kapal akibat kesalahan Stevedore tatkala muat bongkar muatan menjadi
tanggung jawab Stevedore yang bersangkutan kepada pencarter.
 Kerusakan kapal tidak menjadi penghalang bagi pemilik dan pencarter untuk melakukan
redelivery ketika masa carter berakhir, dengan ketentuan perbaikan atas kerusakan
ditetapkan atas dasar kesepakatan kedua pihak
 Praktik pemisahan tanggung jawab kedua belah pihak atas kerusakan kapal dalam Time
Charter-Party diasuransikan secara tanggung gugat kepada Protection and Indemnity (P&I)
club

65
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER

• Adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu )si yang


mencharter) mengikat diri untuk menyediakan sebuah kapal
Pengertian Voyage tertentu, seluruhnya atau sebagian, kepada pihak lawannya (si
Charter (KUHD 453) pencharter), dengan maksud untuk baginya mengangkut orang-
orang atau barang-barang melalui lautan, dalam satu perjalanan
atau lebih, dengan pembayaran suatu harga pasti untuk
pengangkutan ini

• Adalah perjanjian dimana pihak pertama mengikatkan dirinya untuk


Dengan Kata Lain menyediakan seluruh atau sebagian ruang kapal yang ditunjuk
Carter menurut kepada pihak kedua sebagai pengirim/pemilik muatan untuk
perjalanan mengangkut barang muatan melalui laut dengan satu atau beberapa
perjalanan pada rute tertentu dengan syarat pembayaran sewa
(freight) ditentukan per/setiap perjalanan

66
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER
Voyage Charter
• Pihak pertama dalam Voyage Charter-Party adalah owner dalam arti pemilik kapal
atau Time Charterer. Dalam Voyage Charter dikenal dua macam Owner yakni 1)
pemilik kapal sebenarnya 2) pemegang hak operasional berdasarkan Time Charter-
Party yang masih berjalan. Time Charterer dalam hal ini disebut “Time Chartered
Owner” atau “Disponent Owner”. Voyage Charter pun dapat menjadi pihak
“Owner” atas dasar sub-charter atau sub-lets the ship.
• Pihak kedua adalah pencarter atau pemilik kargo penandatangan voyage charter-
party Pencarter seluruh atau sebagian ruang muatan kapal menyerahkan
barangnya untuk diangkut serta membayar freight kepada pihak pertama.
• “Owner” dalam voyage charter party mengoperasikan kapal dan bertanggung
jawab membayar seluruh biaya operasi (operating expenses) di antaranya Biaya
pemakaian fasilitas kepelabuhanan, bahan bakar dan minyak lumas, asuransi,
semua jenis pajak. Sedangkan pencarter membayar Biaya-Biaya terkait langsung
dengan kargo. Dimungkinkan pencarter menangani pemuatan dan/atau
pembongkaran muatan seperti pada kondisi free in and out (FIO). “Owner”
menerima freight hanya atas pengangkutan dari pelabuhan muat ke pelabuhan
bongkar

67
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Voyage Charter

• Kapal
 Informasi berkenaan data teknis, data operasional dan validasi surat-surat kapal merupakan
bagian utama yang dijadikan pertimbangan dalam menjatuhkan pilihan oleh pencarter
 Informasi nama kapal dan call sign, tahun pembuatan, tanda kebangsaan, deadweight, gross
tonnage, net tonnage, kecepatan berlayar, draught, panjang, lebar, freeboard, peralatan
bongkar muat (winchs, cranes, pumps), ukuran serta desain palka, panjang dan lebar bukaan
mulut palka (mengukur load dan discharging rates) dan peralatan special yang dibutuhkan
 Kesesuaian antara spesifikasi kapal dan kapasitas kargo yang akan diangkut mutlak perlu,
terutama deadweight capacity (DWT) dan cargo carrying capacity (banyaknya cargo dalam
satuan kubik yang dapat diangkut kapal yaitu DWT dikurangi bahan bakar, air tawar dan
persediaan di gudang
 Kubikasi kargo dalam dua ukuran yaitu :
1) Grain Capacity, muatan biji bijian & bongkahan muatan curah kering yang dapat
dipadatkan sesuai dengan bentuk serta memenuhi ruang palka sampai batas gading-
gading kulit kapal
2) Bale Capacity, ukuran space yang dapat dipenuhi muatan berkemasan seperti peti
(boxes), kardus (cartons), krat (crates), drum (drums) yang kesemuanya menyebabkan
terjadinya ruang terbuang yang cukup signifikas dibanding dengan grain.

68
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER

• Trip-Time Charter atau Consecutive Voyages adalah kombinasi dua macam charter yaitu
Trip-Time Time Charter dan Voyage Charter. Charter macam ini memberlakukan ketentuan Time
Charter (Carter Charter secara parsial; bahwa kapal dioperasikan oleh Charterer. Begitu juga ketentuan
Perjalanan Voyage Charter secara parsial diberlakukan bahwa sewa (freight) dibayar Charterer kepada
dalam Waktu owner berdasarkan/setiap perjalanan.
Terbatas) • Digunakan Charterer untuk melakukan perjalanan menempuh beberapa trayek-trayek
tertentu sebanyak mungkin selama periode/waktu yang disepakati

Berdasarkan pada ketentuan bahwa freight di bayar per voyage maka laytime di pelabuhan muat dan
di pelabuhan bongkar dihitung sendiri-sendiri. Demurage di masing-masing pelabuhan dibayar secara
terpisah dalam arti tidak dapat diberlakukannya prinsip reversible laytime.
Charter yang merupakan bentuk special dari voyage charter ini banyak dipraltekkan oleh pelayaran
liner yang mengalami kekurangan kapal atau kelebihan muatan pada waktu-waktu tertentu.

69
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER
• Adalah persewaan kapal di mana kapal diserahkan kepada Charterer untuk
Bareboat dioperasikan olehnya selama periode tertentu; Charterer juga mengambil alih
seluruh tanggung jawab pengeluaran operasi dan pemeliharaan kapal, kecuali
Charter (Carter
Biaya – Biaya pengembalian modal.
Tanpa Awak
• Kapal yang disewakan tanpa awak memberikan Charterer peluang untuk
Kapal)
membayar hire yang lebih murah, namun tetap tunduk pada clausers yang
disetujui bersama di dalam Time ataupun Voyage C/P

Batas waktu persewaan yag disepakati disesuaikan dengan tata kelola pelatihan (familirisasi) crew dan kesiapan
manajemen pihak charterer yang bersangkutan.
Kekhususan lain dari bareboat charter di antaranya adalah bahwa pencarter berkewajiban merawat/memlihara kapal
seperti miliknya sendiri, dan mengembalikan kapal kepada pemilik dalam kondisi yang sama seperti pada saat
menerimannya. Jadi, berlaku klausul tentang delivery-redelivery seperti pada Time Charter.
Pernyataan berlakunya klausul delivery-redelivery ini didasakan pada keadaan terakhir kapal sesuai masa charter
yang dioperaikan nakhoda dan awak kapal yang mungkin baru pertama kali mengenal kapal itu.

70
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
CHARTER HIRE
Bareboat Charter

Persewaan dilakukan selain untuk dioperasikan sendiri, terdapat sasaran lain oleh kedua belah pihak
a. Charterer bermaksud melaksanakan penyewaan kembali kepada pihak ketiga, yakni yang disebut Re-Charter.
Pihak pencarter I bertindak sebagai pemilik atau disebut sebagai “Time Chartered Owner” atau “Disponent
Owner” dengan syarat bahwa pencarter I bertanggung jawab kepada pemilik kapal (Ship’s Owner), begitu juga isi
perjanjian C/P antara pencarter I dan pencarter II tidak boleh bertentangan dengan isi perjanjian antara
pencarter I dengan pemilik kapal. Pada bareboart charter dapat terjadi banyak C/P sehingga terbentuk
serangkaian C/P atau Chain of Charter Party.
b. Charterer hendak memiliki atau membeli kapal tersebut. Sebelum berlangsung perpindahan hak milik atas
kapal, pihak pencarter berkepentingan untuk mengetahui karaktersitik kapal sekaligus untuk melatih crew yang
menjalankan tugas pengoperasian kapal.
Batas waktu persewaan yag disepakati disesuaikan dengan tata kelola pelatihan (familirisasi) crew dan kesiapan
manajemen pihak charterer yang bersangkutan.
Kekhususan lain dari bareboat charter di antaranya adalah bahwa pencarter berkewajiban merawat/memlihara kapal
seperti miliknya sendiri, dan mengembalikan kapal kepada pemilik dalam kondisi yang sama seperti pada saat
menerimannya. Jadi, berlaku klausul tentang delivery-redelivery seperti pada Time Charter.
Pernyataan berlakunya klausul delivery-redelivery ini didasakan pada keadaan terakhir kapal sesuai masa charter
yang dioperaikan nakhoda dan awak kapal yang mungkin baru pertama kali mengenal kapal itu.

71
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Pengertian angkutan Multimoda
• Pengangkutan merupakan bagian dari perdagangan saat ini, dikenal adanya sistem baru yakni
pengangkutan multimoda. Sistem ini dirasakan sebagai pilihan yang tepat karena sangat mendukung
kelancaran arus barang dari tempat asal ke tempat tujuan dengan lebih efektif dan efisien. Secara
khusus pengertian angkutan menurut Pasal 1 Angka (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009
Tentang Lalu Lintas menyebutkan “Angkutan adalah perpindahan orang dan barang dari satu tempat
ketempat lain dengan mengunakan kendaraan di ruang lalu lintas jalan”.

• Definisi angkutan multimoda terdapat dalam Pasal 1 Angka (1) Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Angkutan Multimoda menyebutkan
 Angkutan multimoda adalah angkutan barang dengan menggunakan paling sedikit dua moda
angkutan yang berbeda atas dasar satu kontrak sebagai dokumen angkutan multimoda dari satu
tempat diterimanya barang oleh badan usaha angkutan multimoda kesuatu tempat yang
ditentukan untuk penyerahan barang kepada penerima barang angkutan multimoda
 Angkatan multimoda merupakan komponen penting dalam sistem logistik karena angkutan
barang pada umumnya lebih dari satu transportasi. Suatu jasa
 angkutan yang diselenggarakan oleh badan usaha angkutan multimoda tidak hanya
memberikan pelayanan pengiriman barang dari satu tempat ke tempat lain, akan tetapi juga
memberikan pelayanan tambahan seperti jasa pengurusan transportasi, penyediaan ruang
muatan, serta pengurusan kepabean untuk angkutan multimoda ke luar negeri dan ke dalam
negeri.

72
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Pengertian angkutan Multimoda
Hingga kini semua moda pengangkutan yaitu angkutan darat, laut dan udara telah mengatur
mengenai keikutsertaannya dalam pengangkutan multimoda, hal ini dapat kita lihat di Pasal-Pasal
berikut :
• Pasal 147 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Perkretaapian yang
merumuskan bahwa : “angkutan kreta api dapat merupakan bagian dari angkutan multimoda
yang dilaksanakan oleh badan usaha angkutan multimoda”.
• Pasal 50 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran yang merumuskan bahwa :
“angkutan perairan dapat merupakan bagian dari angkutan multimoda yang dilaksanakan oleh
badan usaha angkutan multimoda”.10
• Pasal 187 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan yang merumuskan
bahwa:
“angkutan udara dapat merupakan bagian angkutan multimoda yang dilaksanakan oleh badan
usaha angkutan multimoda”.11
• Pasal 165 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang
merumuskan :
“angkutan umum dijalan yang merupakan bagian angkutan multimoda dilaksanakan
oleh badan hukum angkutan multimoda”.

72
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Pihak dalam pengangkutan Multimoda

Di dalam suatu perjanjian selalu akan terlibat dua pihak atau lebih, para pihak terlibat di dalam
suatu perjanjian tidak lepas dari identitas. Secara umum subjek hukum pengangkutan adalah
pendukung kewajiban dan hak dalam hubungan hukum pengangkutan, yaitu pihak-pihak yang
terlibat secara langsung dalam proses perjanjian sebagai pihak dalam perjanjian pengangkutan, yang
terdiri atas :
1. Pihak pengangkut
Pihak yang berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan berhak atas biaya
pengangkutan.
2. Pihak penumpang atau konsumen
Pihak yang berkewajiban untuk membayar biaya pengangkutan dan berhak atas pelayanan
pengangkutan.
3. Pihak pengiri
Pihak yang berkewajiban untuk membayar biaya pengangkutan dan berhak atas pelayanan
pengangkutan barangnya.
4. Pihak penerima barang kiriman
Pihak yang secara tidak langsung terikat dalam perjanjian pengangkutan, tetapi bukan pihak
melainkan bertindak atas nama atau memperoleh hak dalam perjanjian pengangkutan

72
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Multimodal Transport/Combined Transport/Through Carriage, Intermodal Transport

Berdasarkan Rules 1975, Combined Trasport adalah pengangkutan barang dengan memakai sekurang-
kurangnya dua moda trasnpor yang berbeda dari suatu tempat di negara asal barang ke suatu tempat
di negara tujuan

Adalah Sistem yang melibatkan dua atau lebih moda transportasi yang berbeda

Kombinasi antar moda trasnportasi, antara lain terdiri a) angkutan jalan rel – jalan raya b)
angkutan jalan raya – angkutan perairan c) angkutan jalam rel – angkutan perairan dan d)
angkutan jalan raya – angkutan udara

MT. Convention 1980 mendefiniskan multimoda lebih lengkap dg menyebutkan kontrak pengangkutan
multimoda serta tanggung jawab penyedia jasa atau operastor angkutan multimoda. Konvensi
Multimoda memisahkan tanggung jawab antara operator pengangkutan multimoda (multimodal
transport operator) dengan operator pelaksana berdasarkan kontrak pengangkutan unimoda

72
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Multimodal Transport/Combined Transport/Through Carriage, Intermodal Transport

Sistem Intermodal transport merupakan spesialisasi dari Combined Transport. Intermodalism berarti kombinasi moda
transpor untuk mengangkut barang tanpa melakukan handling di saat barang berpindah dari satu moda ke moda yang
lain, seperti barang/peti kemas di atas trailer yang diangkut kereta api dan atau kapal Roro. Trailer bermuatan
berpindah dari atas moda transpor pertama ke moda transport berikutnya tanpa kegiatan bongkar muat

Intermodal Transport is the movement of goods in one and the same loading unit or vehicle,
which uses successively several modes of transport without handling of the goods themselves in
changing modes

Pengangkutan peti kemas memenuhi batasan pengertian tentang intermodal transport antara
lain karena peti kemas dapat berpindah moda transport tanpa bongkar muat barang dari/ke peti
kemas.

Sistem angkutan peti kemas yang iangkut dengan menggunakan trailer dari tempat asal (origin), di suatu simpul
(terminal) trailer dengan muatannya naik ke atas kereta rel (flat-car), diangkut ke terminal tujuan, kemudian trailer peti
kemas diurunkan ke jalan raya untuk menempuh sisa trayek ke tempat tujuan (destination). Metode pengangkutan
seperti ini dinamakan piggy-back

73
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Multimodal Transport/Combined Transport/Through Carriage, Intermodal Transport

Pengangkutan container melalui kombinasi trailer naik kapal, baik dengan kapal-kapal ferry antar
pulau maupun kapal khusus Roro, berlangsung efisien tanpa kegiatan stuffing dan unstuffing
melainkan pindah dari moda perairan langsung bergerak di jalan raya dengan kendaraan yang
sama lalu door to door

Perkembangan teknologi sistem angkutan peti kemas memungkinkan pemakaian railcar


sebagai kendaraan angkut yang substitutive dengan trailer dan diangkut dengan kapal,
kegiatan perpindahan antarmoda adalah turun dari kapal langsung bergerak di jalan rel
tanpa melakukan stuffing dan unstuffing, Kombinasi angkutan peti kemas dengan trailer dan
railcar dinamakan fishyback

Kombinasi moda air-truck memanfaatkan fleksibilitas truk memenuhi sistem angkutan door to
door. Pesawat pengangkut jarak jauh, berhenti di bandara dan trayek selanjutnya ditempuh
dengan truck/trailer

74
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Manfaat angkutan Multimoda
1. Kemudahan untuk pengurusan dokumen
Penyelenggaraan pengangkutan multimoda akan menciptakan kepastian dan kemudahan bagi
penumpang/pengirim barang karena tidak dipersulit oleh pengurusan dokumen pengangkutan di
setiap keberangkatan. Semua masalah pembayaran biaya dan dokumen pengangkutan multimoda
sudah diselesaikan di simpul pemberangkatan pertama. Dengan demikian, penumpang/pengirim
terbebas dari kondisi dan situasi yang idak pasti serta ketidaktahuan tentang pengurusan
dokumen/tiket di setiap simpul sepanjang rute perjalanan.
2. Efisiensi dalam biaya pengangkutan
Penyelenggaraan pengangkutan multimoda akan lebih efisien jika dibandingkan dengan
pengangkutan bersambung antarmoda pengangkutan. Pada pengangkutan multimoda, pembayaran
biaya pengangkutan dilakukan sekali saja ditempat pemberangkatan dengan satu dokumen
pengangkutan sehingga dapat dihindari sistem percaloan dan pencatutan serta ketidakterbitan. Oleh
sebab itu, pengangkutan multimoda merupakan upaya solusi untuk menghindari pengangkutan biaya
tinggi yang bersumber dari pencaloan dan pencatutan serta ketidaktertiban.
3. Pengembangan SDM
Pengangkutan multimoda akan menumbuh dan mengembangakan profesionalisme bidang jasa
pengangkutan yang sangat besar artinya dalam pembinaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas
termasuk mengenai sarana pengangkutan, baik melalui pendidikan yang formal atau latihan dan
praktek dilapangan. Tenaga profesional yang dimaksud antara lain, masinis, supir, nahkoda, pilot,
pramugari, montir, dan pemandu wisata.
72
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER
MULTIMODA
Manfaat angkutan Multimoda
4. Keamanan dan ketertiban pengangkutan
Penyelenggaraan pengangkutan multimoda akan memberikan rasa aman dan tertib kepada
penumpang/pengirim karena perusahaan penyelenggaraan sudah menyiapkan penjagaan dan
pengawalan selama peralanan berlangsung/ Tempat pemberhentian untuk makan sudah ditentukan
dan diatur keamanan dan kebersihannya. Dengan demikian, penumpang tidak terlalu khawatir
terhadap gangguan keamanan, keselamatan, ataupun kehilangan barang karena sudah diamankan
sejak tempat pemberangkatan pertama, dan selanjutnya diamankan oleh agen/perwakilan
perusahaan pengangkutan multimoda yang telah ditunjuk di simpul-simpul tertentu sepanjang rute
perjalanan.

5. Upaya memajukan pariwisata


Penyelenggaraan pengangkutan multimoda merupakan upaya menumbuhkan dan mengembangkan
serta memajukan sektor pariwisata. Penyelengaraan pengangkutan multimoda akan mengundang
banyak wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke obyek-obyek wisata dengan
aman, tertib, dan biaya relatif murah. Jika wisatawan itu dari mancanegara, ini berarti mengundang
devisa masuk ke Indonesia serta memberti kesempatan kerja bagi para pemandu wisata profesional.
Oleh karena itu, penyelenggaraan pengangkutan multimoda akan menjadi pendorong
pengembangan wisata, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan devisa Negara, serta lapangan
kerja bagi para pemandu wisata profesional

72
STMT TRISAKTI, SHIP CHARTER

Beri Nilai