Anda di halaman 1dari 3

Anak-anak berbakat (gifted) secara alami memiliki karakteristik khas yang membedakannya dengan anak-

anak normal. Salah satu konsep keberbakatan, dikembangkan oleh Renzulli yang dikenal sebagai The
Three Ring. Dimana konsep ini merupakan interaksi (irisan) tiga kluster yang melibatkan kemampuan
intelektual yang berada di atas rata-rata, kreativitas dan komitmen terhadap tugas yang tinggi. Tidak ada
satu kluster pun yang dapat berdiri sendiri dalam mewujudkan keberbakatan. Tiga kluster ini merupakan
syarat utama untuk mencapai prestasi kreatif-produktif (Renzulli, 1978 dalam Yoenanto, 2010).

Tiga kluster di atas akan digali melalui film yang berjudul “Little Man Tate” . Film ini menceritakan
seorang anak berbakat bernama Fred Tate. Fred dilahirkan oleh seorang wanita bernama Dede Tate yang
bekerja sebagai pelayan bar. Fred dilahirkan tanpa ayah (hingga akhir cerita tidak disinggung siapakah
ayah Fred), sehingga secara genetik (turunan) ayah tidak dapat diindentifikasi seberapa besar
pengaruhnya.

Dalam film Little Man Tate, tiga kluster tadi ditampilkan dalam persoalan sehari-hari. Pertama, dalam
film ini ditunjukkan sejak Fred masih balita. Yakni ketika Fred sudah mampu berbicara, dan mampu
membaca tulisan “Koffer” di balik sebuah piring, sehingga mengejutkan ibunya. Fred juga tidak suka
dengan bubur bayi, dan lebih memilih kentang goreng.

Fred beranjak pada usia sekolah dasar. Sejak kelas 1 SD, Fred sudah dirasa berbeda dengan siswa lain.
Bahkan gurunya, berkata bahwa kemungkinan Fred memiliki keterbelakangan mental dan tidak akan
memiliki masa depan yang baik di masa depan, karena Fred tidak suka menyimak pelajaran. Namun, satu
minggu kemudian gurunya menyarankan agar Fred melompat ke kelas 2 SD atau tidak perlu belajar di SD.
Meski demikian, peran guru Fred saat sekolah tidak terlalu signifikan. Guru Fred tidak memberikan saran
dan motivasi yang dapat membesarkan hati Fred sebagai seorang anak yang berbeda (gifted). Saat di
sekolah, Fred cenderung memperhatikan hal lain dan bosan dengan pelajaran di sekolah.

Saat di sekolah, Fred menuangkan imajinasinya dengan menggambar sketsa seorang wanita di halaman
sekolah. Fred juga sering melukis dengan kreativitas tinggi untuk ibunya. Saat diminta bermain piano,
Fred memainkan nada dengan terbalik (dari belakang ke depan). Saat ditanya bilangan 0-9 mana yang
dapat dibagi dua, Fred menjawab semua bilangan dapat dibagi dua. Fred menunjukkan intelektualitas
yang di atas rata-rata anak seumurannya. Saat di rumah Fred membaca buku-buku pengetahuan dan ia
tenggelam di dalamnya, sehingga meski ibunya berusaha mengajaknya bercanda, ia tidak perduli.

Meski memiliki intelektual yang luar biasa, namun seperti anak berbakat pada umumnya, Fred kesulitan
dalam bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah, bahkan hanya untuk sekedar makan siang Fred
tidak memiliki teman. Saat di sekolah, Fred lebih suka membaca buku di perpustakaan. Saat pesta ulang
tahunnya, Fred berniat mengundang teman-temannya untuk datang, namun tidak ada satu pun teman
yang datang ke apartemen Fred. Hal ini yang dirasakan pada sebagian besar anak berbakat (gifted).
Bahkan Fred mengaku sering memimpikan sebuah lukisan bunga Lili yang digambar dengan warna putih
di antara bunga Lili berwarna lain. Dan arti dari lukisan ini sebenarnya adalah melambangkan kesepian
Fred dalam kehidupannya.

Saat di rumah, Fred menghabiskan waktunya dengan membaca buku, mendengarkan siaran televisi dan
membongkar alat-alat elektronik di rumahnya. Hal ini menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi pada
Fred. Saat malam hari, Fred sangat sulit memulai tidur. Ia tidur sebentar dan kemudian mudah
terbangun. Fred sangat mudah cemas pada banyak hal. Bahkan hal-hal yang baru saja ia baca, akan ia
cemaskan hingga ia tidak bisa tidur.

Pada suatu hari, Fred mendapat undangan khusus dari pemilik Grierson University sekolah anak-anak
berbakat. Fred dan ibunya akhirnya datang ke universitas tersebut, namun setelah tahu bahwa tujuan
dari undangan tersebut untuk mengekspos keberbakatan Fred, ibu Fred langsung mengajaknya pulang
dan menolak tawaran untuk melakukan perjalanan ke beberapa tempat. Namun, karena kejadian hari
ulang tahun Fred yang tidak dihadiri oleh teman-temannya, ibu Fred berubah pikiran. Ibu Fred mulai
merasa bahwa Fred harus didukung dengan cara lain, agar ia lebih bahagia dan berkembang.

Dalam perjalanan yang diimpikan oleh Fred, Fred juga belum berhasil memiliki teman yang dapat
berbagi dengannya. Saat berada di acara anak-anak berbakat, Fred takjub dan mencoba-coba banyak hal.
Bahkan saat ada sesi berhitung, Fres mengikuti dan hasilnya luar biasa. Fred mampu memecahkan
pertanyaan hitung-hitungan matematika yang rumit itu.

Pada liburan musim panas, Ibu Fred berniat mengajaknya untuk berlibur di sebuah hotel dengan kolam
renang yang besar. Namun, Fred tidak tertarik. Fred menjadi lebih tertarik dengan ilmu pengetahuan.
Fred ingin menerima tawaran kepala Universitas Grierson untuk ikut perkuliahan musim panas. Ibu Fred,
rupanya tidak setuju, karena ia merasa Fred masih sangat kecil untuk mengenyam pendidikan di bangku
perkuliahan. Namun, karena ia melihat keinginan besar yang dimiliki oleh Fred, maka Ibu Fred
menyetujui keinginan Fred. Selama mengikuti perkuliahan musim panan Fred akan tinggal dengan kepala
Universitas Grierson, Jane.

Di perkuliahan, Fred memperlihatkan ketertarikannya yang besar pada ilmu pengetahuan yang
dipelajarinya. Bahkan diperlihatkan, sampai mahasiswa lainpun melihat pekerjaannya. Hal ini dapat
dilihat bahwa Fred mengerjakan apa yang menjadi ketertarikannya dengan komitmen dan semangat
yang tinggi untuk belajar.

Kemudian, pada suatu hari ada seorang mahasiswa yang tidak sengaja melempar Fred dengan sebuah
globe dan membuat Fred pingsan. Namun, keesokan harinya mereka bertemu dan berteman. Fred
akhirnya diajak berjalan-jalan oleh mahasiswa tersebut. Mahasiswa itu berkata bahwa akan selalu
menjadi teman Fred, dan akan mengajak Fred jalan-jalan. Fred merasa menemukan teman yang baik,
namun sebenarnya maksud dari teman Fred adalah basa-basi seorang teman yang dirasa berlebihan oleh
Fred. Hal itu membuat Fred kecewa, dan tidak bersemangat lagi mengikuti perkuliahan musim panas.
Emosi Fred terlihat masih labil.

Fred sadar bahwa ia mulai merindukan ibunya. Perlakuan Jane yang jauh berbeda dengan perlakuan
ibunya saat di rumah membuat Fred ingin pulang. Kesepian Fred yang tidak dapat digantikan oleh orang
lain membuat Fred segera ingin pulang. Fred memiliki kelekatan emosional yang kuat dengan ibunya.
Ketika frec tidak bisa tidur dan mulai mencemaskan sesuatu yang bisa dikatakan tidak perlu di cemaskan
oleh anak seusianya, ibu FRed bisa menenangkan FRed dan membuat Fred tertidur. Ibu Freed sudah
seperti sahabat bagi Fred.

Fred memiliki hubungan yang sangat baik dengan ibunya, dengan Jane, dengan Diamon yang sama-sama
anak gifted. Kemudian jika dianalisis dengan teori Renzulli, the 3 rings model dalam melihat anak gifted
yaitu above average abilities ( kemampuan diatas rata-rata) high level of task ( kelekatan terhadap tugas )
serta high level activity ( kreatifitas ) maka ketiga karakteristik tersebut ada dalam diri Freddy Tate, anak
berbakat berusia 8 tahun yang lahir dari ibunya Dede Tate.