Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Polip merupakan suatu massa seperti tumor yang menonjol ke dalam


lumen usus yang berasal dari epitel mukosa dan submukosa. Istilah polip kolon
dalam klinik dipakai untuk menggambarkan tiap kelainan yang jelas, yang
menonjol di atas permukaan mukosa yang mengelilinginya. Bentuk, besar, dan
permukaan polip dapat berbeda-beda. Ada yang bertangkai (pedunculated polyp)
dan ada yang tidak bertangkai dan memiliki dasar yang lebar (sessile polyp).
Beberapa jenis polip dapat diketahui secara makroskopis, akan tetapi untuk
mengetahui secara pasti jenis polip, diperlukan pemeriksaan histologis. Hal ini
penting sekali karena jenis-jenis polip berbeda secara klinis, terutama dalam hal
potensi untuk menjadi ganas. Polip merupakan neoplasma jinak dan lebih sering
ditemukan di kolon dan rektum dari pada polip lambung-duodenum.1,2,3
Polip kolorektal diklasifikasikan menjadi sporadik atau herediter. Polip
kolorektal sporadik timbul setelah adanya paparan lingkungan dalam durasi yang
lama. Oleh karena itu polip kolorektal berhubungan dengan usia dan sering
ditemukan pada pasien lanjut usia, biasanya setelah usia 40 tahun.3,4 Namun, polip
yang terjadi karena adanya faktor predisposisi genetik, sering ditemukan pada
pasien usia muda. Misalnya, polip kolon pada remaja dengan familial
adenomatous polyposis atau pada pasien usia 20-40 tahun dengan hereditary
nonpolyposis colorectal cancer.1,4,5
Polip kolon yang tidak diobati dapat mengalami perkembangan menjadi
karsinoma dalam beberapa tahun. Sebagian besar polip adenoma bersifat
asimtomatik dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan sigmoidoskopi,
enema barium, atau otopsi. Bila polip menimbulkan gejala, umumnya berupa
perdarahan yang nyata atau samar. Kadang-kadang, polip yang besar dapat
menimbulkan intususepsi dan menyebabkan obstruksi usus. Morbiditas dari polip
kolon berhubungan dengan komplikasinya, seperti perdarahan, diare, obstruksi
usus, dan karsinoma. Oleh karena itu, deteksi dini mempunyai peranan penting
untuk tujuan diagnosis, terapi dan prognosis pasien.4,6,7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi, Fisiologi dan Histologi Kolon


2.1.1 Anatomi
Intestinum crassum (usus besar) terdiri dari caecum, appendix vermiformiis,
colon, rectum dan canalis analis.

Gambar 1. Anatomi Kolon


Caecum adalah bagian pertama intestinum crassum dan beralih menjadi
colon ascendens. Panjang dan lebarnya kurang lebih 6 cm dan 7,5 cm. Caecum
terletak pada fossa iliaca kanan di atas setengah bagian lateralis ligamentum
inguinale. Appendix Vermiformis berupa pipa buntu yang berbentuk cacing dan
berhubungan dengan caecum di sebelah kaudal peralihan ileosekal.3,8
Colon ascendens panjangnya kurang lebih 15 cm, dan terbentang dari
caecum sampai ke permukaan visceral dari lobus kanan hepar untuk membelok ke
kiri pada flexura coli dextra untuk beralih menjadi colon transversum, hanya
bagian ventral ditutup oleh peritoneum visceral. Pendarahan colon ascendens dan
flexura coli dextra terjadi melalui arteri ileocolica dan arteri colica dextra, cabang
arteri mesenterica superior. Vena ileocolica dan vena colica dextra, anak cabang
mesenterika superior, mengalirkan balik darah dari colon ascendens.3,8
Colon transversum merupakan bagian usus besar yang paling besar dan
paling dapat bergerak bebas karena bergantung pada mesocolon, yang ikut
membentuk omentum majus. Panjangnya antara 45-50 cm. Colon transversum
berjalan dari flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. Bagian kanan
mempunyai hubungan dengan duodenum dan pankreas di sebelah dorsal,
sedangkan bagian kiri lebih bebas. Flexura coli sinistra letaknya lebih tinggi
daripada yang kanan yaitu pada polus cranialis ren sinistra, juga lebih tajam
sudutnya dan kurang mobile. Flexura coli dextra erat hubunganya dengan facies
visceralis hepar (lobus dextra bagian caudal) yang terletak di sebelah ventralnya.
Pendarahan colon transversum terutama terjadi melalui arteria colica media,
cabang arteria mesenterica superior, tetapi memperoleh juga darah melalui arteri
colica dextra dan arteri colica sinistra. Penyaluran balik darah dari colon
transversum terjadi melalui vena mesenterica superior.3,8
Colon descendens panjangnya kurang lebih 25 cm. Colon descendens
melintas retroperitoneal dari flexura coli sinistra ke fossa iliaca sinistra dan disini
beralih menjadi colon sigmoideum.3,8
Colon sigmoideum disebut juga colon pelvinum. Panjangnya kurang lebih
40 cm dan berbentuk lengkungan huruf S. Rectum adalah bagian akhir intestinum
crassum yang terfiksasi. Ke arah kaudal rectum beralih menjadi canalis analis.
Vaskularisasi tambahan daerah rektum diatur oleh arteria sakralis media dan
arteria hemorroidalis inferior dan media. Aliran balik vena dari kolon dan rektum
superior melalui vena mesenterika superior dan inferior serta vena hemorroidalis
superior, yaitu bagian dari sistem portal yang mengalirkan darah ke hati. Vena
hemorroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka dan
merupakan bagian dari sirkulasi sistemik. 3,8
Aliran pembuluh limfe kolon mengikuti arteria regional ke limfenodi
preaorta pada pangkal arteri mesenterika superior dan inferior. Aliran balik
pembuluh limfe melalui sistrna kili yang bermuara ke dalam sistem vena pada
sambungan vena subklavia dan jugularis sinistra. Hal ini menyebabkan metastase
karsinoma gastrointestinal bisa ada dalam kelenjar limfe leher (kelenjar limfe
virchow). Aliran balik pembuluh limfe rektum mengikuti aliran pembuluh darah
hemorroidalis superior dan pembuluh limfe kanalis ani menyebar ke nodi limfatisi
iliaka interna, sedangkan aliran balik pembuluh limfe anus dan kulit perineum
mengaikuti aliran limfe inguinalis superfisialis.8

Gambar 2. Aliran Limfatik pada Kolon


Inervasi usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom kecuali sfingter
eksternus yang diatur secara voluntar. Serabut parasimpatis berjalan melalui saraf
vagus ke bagian tengah kolon transversum, dan saraf pelvikus yang berasal dari
daerah sakral mensuplai bagian distal. Serabut simpatis yang berjalan dari pars
torasika dan lumbalis medula spinalis melalui rantai simpatis ke ganglia simpatis
preortika. Disana bersinaps dengan post ganglion yang mengikuti aliran arteri
utama dan berakhir pada pleksus mienterikus (Aurbach) dan submukosa
(Meissner). Perangsangan simpatis menyebabkan penghambatan sekresi dan
kontraksi, serta perangsangan sfingter rektum, sedangkan saraf parasimpatis
mempunyai efek yang berlawanan. Kendali usus yang paling penting adalah
aktivitas refleks lokal yang diperantarai oleh pleksus nervosus intramural
(Meissner dan Aurbach) dan interkoneksinya.3,8
2.1.2 Fisiologi
Fungsi utama kolon adalah absorbsi air dan elektrolit dari kimus untuk
membentuk feses yang padat dan penimbunan bahan feses sampai dapat
dikeluarkan, kolon mengubah 1000-2000ml kimus isotonik yang masuk setiap
hari dari ileum menjadi tinja semipadat dengan volume sekitar 200-250ml.8
Sebagian besar absorpsi dalam usus besar terjadi pada pertengahan
proksimal kolon, sehingga bagian ini dinamakan kolon pengabsorpsi, sedangkan
kolon bagian distal pada prinsipnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan feses
sampai waktu yang tepat untuk ekskresi feses dan oleh karena itu disebut kolon
penyimpanan. Banyak bakteri, khususnya basil kolon, bahkan terdapat secara
normal pada kolon pengabsorpsi. Bakteri-bakteri ini mampu mencernakan
sejumlah kecil selulosa, dengan cara ini menyediakan beberapa kalori nutrisi
tambahan untuk tubuh.8

2.1.3 Histologi
Dinding usus besar terdiri dari empat lapisan yaitu mukosa, sub mukosa,
muskularis eksterna dan serosa. Mukosa terdiri atas epitel selapis silindris,
kelenjar intestinal, lamina propia dan muskularis mukosa. Usus besar tidak
mempunyai plika dan vili, jadi mukosa tampak lebih rata daripada yang ada pada
usus kecil. Submukosa di bawahnya mengandung sel dan serat jaringan ikat,
berbagai pembuluh darah dan saraf. Tampak kedua lapisan otot di muskulus
eksterna. Baik kolon tranversum maupun kolon sigmoid melekat ke dinding tubuh
oleh mesenterium, oleh karena itu, serosa menjadi lapisan terluar pada kedua
bagian kolon ini. Di dalam mesenterium terdapat jaringan ikat longgar, sel-sel
lemak, pembuluh darah dan saraf.4,8

2.2 Polip Kolorektal


2.2.1 Definisi
Polip merupakan suatu massa seperti tumor yang berasal dari epitel mukosa
dan submukosa yang menonjol ke dalam lumen usus. Polip merupakan neoplasma
jinak terbanyak yang terjadi di kolon dan rektum. Traksi pada massa dapat
menyebabkan polip bertangkai atau pedunculated. Selain itu, polip mungkin
bersifat sessile tanpa tangkai yang jelas.1,2

Gambar 3. Polip Kolon


2.2.2 Epidemiologi
Tumor jinak yang paling umum terjadi di kolon adalah polip. Sekitar 14 juta
orang Amerika memiliki polip kolon. Beberapa diantaranya tidak berpotensi
untuk menjadi keganasan. Sedangkan beberapa polip yang berkembang menjadi
keganasan adalah polip kolon yang diderita sejak usia dini. Sebagian besar polip
usus timbul secara sporadik, terutama di kolon dan meningkat kejadiannya seiring
bertambahnya usia.2
Suatu penelitian menunjukkan bahwa sekitar 30% dari individu dewasa dan
lanjut usia memiliki polip kolon. Sebagai perbandingan, kejadian polip kolon di
Ameriksa Serikat adalah 1 kasus diantara 6580-8300 orang. Suatu penelitian di
Iran didapatkan data bahwa angka kejadian polip lebih tinggi pada laki-laki
dibandingkan perempuan, dan frekuensinya semakin meningkat pada usia 60
tahun ke atas.9,10
Tidak terdapat perbandingan yang akurat dari insidensi dan prevalensi polip
kolon di seluruh dunia karena perbedaan dalam metode yang digunakan untuk
deteksi polip kolon. Perkiraan insidensi polip kolon dan rektum pada populasi
umum adalah antara 9% sampai 60%. Polip neoplastik membentuk sekitar 90%
dari semua polip kolon. Walaupun dapat ditemukan dimana saja di kolon, pada
lebih dari separuh kasus polip ditemukan di daerah rektosigmoid. Sekitar 50%
polip terjadi pada daerah rektosigmoid.9,10
2.2.3 Etiologi
a. Faktor Lingkungan
Studi epidemiologi menuunjukkan bahwa lingkungan berkontribusi
menyebabkan terjadinya polip kolon pada populasi yang berbeda secara
geografis. Namun penyebab pasti faktor lingkungan belum dapat dipahami
dengan baik.10
b. Diet
Makanan dan minuman juga dapat berkontribusi menyebabkan polip
kolon. Mengkonsumsi daging, lemak, dan alkohol merupakan salah satu
faktor resiko terjadinya polip kolon. Sedangkan mengkonsumsi kalsium
dan folat dapat memberikan perlindungan terhadap kolon, terutama pada
pasien dengan riwayat polip sebelumnya. 10
c. Genetik
Resiko terjadinya polip kolon lebih besar pada seseorang yang salah satu
anggota keluarganya mmenderita polip kolon. Beberapa kelainan genetik
juga dapat meningkatkan resiko terjadinya polip kolon, antara lain
Familial Adenomatous Polyposis (FAP), Lynch Syndrome/Hereditary
Nonpolyposis Colorectal Cancer (HNPCC), Cowden Disease, dan MYH
Associated Polyposis (MAP). 10

2.2.4 Klasifikasi
Polip kolorektal dapat diklasifikasikan secara makroskopis yaitu sessile
(datar, menonjol langsung dari lapisan mukosa) atau pedunculated (meluas dari
mukosa melalui tangkai fibrovaskular).2

Gambar 4. Gambaran kolonoskopi (a) sessile polyp (b) pedunculated polyp


Secara histologis polip kolon dan rektum diklasifikasikan menjadi dua
kelompok utama, yaitu polip non-neoplastik dan neoplastik. Polip non-neoplastik
termasuk polip hiperplastik, hamartomatous, dan polip inflamasi. Polip neoplastik
termasuk adenoma, yang dapat diidentifikasi secara histologis sebagai adenoma
tubular, adenoma villous atau adenoma tubulovillous.1,2

1. Polip non-neoplastik
a. Polip Hiperplastik
Polip hiperplastik merupakan tipe polip kolorektal yang paling banyak.
Polip ini biasanya berdiameter kurang dari 5 mm, sessile, dan paling sering
ditemukan pada kolon distal dan rektum. Secara histologis polip ini
memiliki karakteristik berupa hiperplasia tanpa displasia, oleh karena itu,
polip ini dipikirkan sebagai pre-malignansi.2
Umumnya polip ini tidak bergejala, tetapi harus dibiopsi untuk
diagnosis histologik. Secara histologis, polip mengandung banyak kriptus
yang dilapisi oleh sel epitel absorptif atau sel goblet berdiferensiasi baik,
dipisahkan oleh sedikit lamina propria. Walaupun sebagian besar polip
hiperplastik tidak berpotensi menjadi ganas, sekarang disadari bahwa
sebagian dari apa yang disebut sebagai polip hiperplastik di sisi kanan kolon
mungkin merupakan prekursor karsinoma kolorektum. Polip-polip ini
memperlihatkan instabilitas mikrosatelit dan dapat menimbulkan kanker
kolon akibat ketidaksesuaian jalur regeneratif.2
b. Hamartoma
Hamartoma dikenal juga sebagai ‘polip juvenil’, terdiri dari jaringan
ikat (otot polos, lamina propria, dan infiltrat inflamasi). Secara makroskopi,
berbentuk pedunculated, cherry-red, polip lunak dan kadang kadang tidak
dapat dibedakan dari pedunculated adenomatous polyps. Hamartoma dapat
terjadi secara sporadis atau bagian dari sindrom poliposis. Polip hamartoma
sporadik selalu soliter dan terjadi pada usia muda; 75% terjadi pada anak-
anak yang lebih muda dari 10 tahun. Juvenil polip dan sindrom Peutz-
Jegher dikarakteristikan sebagai Hamartoma.2
 Juvenile Polyps
Polip juvenile dapat ditemukan di seluruh kolon namun paling
sering ditemukan pada daerah rektosigmoid. Polip ini paling sering
terjadi pada berusia kurang dari 5 tahun, tetapi juga ditemukan pada
orang dewasa segala usia; dalam kelompok yang terakhir, kelainan ini
dapat disebut sebagai polip retensi. Apapun terminologinya, lesi
biasanya besar pada anak (diameter 1 sampai 3 cm) tetapi lebih kecil
pada orang dewasa; lesi berbentuk bulat, licin atau sedikit berlobus, dan
sekitar 90% memiliki tangkai, dimana panjangnya hingga 2 cm. Secara
umum polip ini terbentuk sendiri-sendiri dan terletak di rectum.
Biasanya polip mengalami regresi spontan dan tidak bersifat ganas.
Gejala klinis utama adalah perdarahan spontan dari rectum yang
sering tidak disertai nyeri, kadang disertai lendir. Karena selalu
bertangkai, dapat menonjol keluar dari anus pada saat defekasi. Pada
sebagian kasus polip dapat terpuntir di tangkainya sehingga mangalami
infark.9,11
 Syndrome Peutz-Jegher
Peutz-Jeghers polip merupakan polip non-neoplastic yang biasanya
berukuran dari 1 mm sampai 3 cm, biasanya multiple dan mempunyai
tangkai. Secara makrokopis, polip ini menyerupai permukaan lobular
dari adenomas. Secara mikroskopik, mukosa muskularis yang terarborsi
tertutup oleh mukosa yang berisi kelenjar, dan lapisan propria.
Gejalanya meliputi muntah, pendarahan dan sakit pada perut bagian
bawah.11

c. Inflammatory Polyps
Polip inflamasi biasanya terjadi selama fase regeneratif dari peradangan
mukosa pada kolon seperti yang terjadi pada ulceratif kolitis, penyakit
Crohn, kolitis amoeba, dan disentri bakteri. Terbentuknya polip inflamasi,
bagaimanapun, terjadi sebagai akibat dari ulserasi tanpa penyebab yang
jelas, sehingga terdapatnya polip inflamatory tidak selalu menunjukkan
suatu proses inflamasi kronis di kolon. Polip dapat kecil atau besar, dan
polip yang berukuran besar dapat menyerupai neoplasma. Pada periode post
inflamasi, polip dapat mengandung jaringan granulasi, tetapi jaringan
tersebut kemudian akan terdistorsi kembali oleh mukosa yang normal.2

2. Polip neoplastik
a. Polip adenomatosa
Adenoma merupakan suatu lesi premaligna. Banyak suatu
adenokarsinoma pada usus besar merupakan suatu progresivitas dari
perkembangan mukosa normal yang menjadi adenoma kemudian
berkembang menjadi karsinoma. Polip adenomatosa adalah polip asli yang
bertangkai dan jarang ditemukan pada usia di bawah 21 tahun. Insidens
meningkat sesuai dengan meningkatnya usia. Gambaran klinis umunya tidak
ada, kecuali perdarahan dari rectum dan prolaps anus disertai anemia.
Letaknya 70% di sigmoid dan rectum. Polip ini bersifat pramaligna
sehingga harus diangkat setelah ditemukan. Potensi keganasan dari polip
adenomatosa tergantung dari ukurannya, perkembangannya dan derajat
epitel atipikal.2
Karena polip adenomatosa mungkin berkembang menjadi kelainan
premaligna dan kemudian menjadi karsinoma, sebaiknya setiap adenoma
yang ditemukan dikeluarkan. Berdasarkan kemungkinan ini dianjurkan
untuk melakukan pemeriksaan berkala seumur hidup pada penderita polip
adenomatosa multiple atau mereka yang pernah menderita polip
adenomatosa. Polip adenomatosa ini dapat berupa tubule, villous, dan
tubulovilous.2

Gambar 5. Adenoma tubullar


Tubulus adenoma yang khas ialah kecil, sferis dan bertangkai dengan
permukaan yang licin. Villous adenoma biasanya besar dan sessile dengan
permukaan yang tidak licin. Tubulovilous adenoma adalah campuran dari
kedua jenis adenoma tersebut. Villous adenoma terjadi pada mukosa dengan
perubahan hyperplasia berpotensi ganas, terutama pada penderita yang
berusia lanjut. Villous adenoma mungkin didapatkan agak luas di
permukaan selaput lendir rektosigmoid sebagai rambut halus. Polip ini
kadang memproduksi banyak sekali lendir sehingga menimbulkan diare
berlendir yang mungkin disertai hipokalemia.

Gambar 6. Adenoma Villous


b. Polip Neoplastik Herediter
Poliposis kolon atau poliposis familial merupakan penyakit herediter
yang jarang ditemukan. Riwayat keluarga ditemukan menyertai sepertiga
kasus dimana terjadi penurunan genetic. Gejala pertama timbul pada usia
13-20 tahun. Frekuensinya sama pada pria dan wanita. Polip yang tersebar
diseluruh kolon dan rectum ini umunya tidak bergejala. Kadang timbul
mulas atau diare disertai perdarahan rectum. Biasanya sekum tidak terkena.
Resiko keganasan 60% dan sering multiple.

Sedapat mungkin segera dilakukan kolektomi disertai anastomosis


ileorektal dengan kantong ileum dan reservoir. Pada penderita ini harus
dilakukan pemeriksaan endoskopi seumur hidup karena masih ada sisa
mukosa rectum. Setelah kolektomi total, dapat dilakukan ileokutaneostomi
(biasanya disingkat ileostomi) yang merupakan anus preternaturalis pada
ileum. Karena kanalis anus tidak dilengkapi poliposis, dapat juga dilakukan
anoileostomi dengan dibuat reservoir dari ileum terminal.
Untuk pencegahan, semua anggota keluarga sebaiknya dilakukan
pemeriksaan genetic untuk mencari perubahan kromosom dan diperiksa
secara berkala untuk mengurangi resiko karsinoma kolon, yaitu dengan
endoskopi atau foto enema barium. Peran endoskopi sangat berperan dalam
penanganan poliposis. Biopsy jaringan dan polipektomi biasanya dikerjakan
secara bersamaan.
Sindrom gardner merupakan penyakit herediter yang terdiri dari
poliposis kolon disertai osteoma, tumor epidermoid multiple, kista sebaseus
dan tumor dermoid. Terapi dan pencegahannya sama dengan yang
dilakukan pada poliposis kolon.

2.2.5 Gejala Klinis


Kebanyakan pasien dengan polip kolon bersifat asimptomatis. Pada pasien
yang memiliki gejala, biasanya akan terjadi perdarahan spontan dan jika
perdarahan tersebut sudah berlangsung lama maka akan terjadi anemia defisiensi
besi. Gejala lainnya dapat berupa diare ataupun konstipasi. Pada vilous adenoma
biasanya terjadi diare dengan kehilangan banyak elektrolit. Sedangkan pada polip
yang bertangkai panjang, gejala dapat berupa prolapse dan keluarnya polip
melalui anus.2

2.2.6 Diagnosis
Gejala dan Tanda Klinis
Kebanyakan polip bersifat asimtomatis, namun semakin luasnya suatu polip
maka akan semakin memberikan gejala. Perdarahan spontan melalui rectum
merupakan keluhan yang paling sering dijumpai pada polip rektum. Darah yang
keluar berupa darah segar ataupun darah yang kehitaman tergantung dari letak
polip. Darah yang keluar bersifat intermiten, perdarahan yang terus menerus
jarang dijumpai pada suatu polip. Polip rectum yang mempunyai tangkai yang
panjang, seperti polip juvenile, sering mengalami prolapsed dan keluar ke anus.
Pemeriksaan fisik hanya memberikan sedikit informasi mengenai polip
kolon. Beberapa dapat teraba melalui pemeriksaan colok dubur.2
Pemeriksaan Penunjang
a. Foto Kolon
Foto kolon dilakukan dengan kontras barium yang dimasukkan melalui
rectum. Dengan memasukkan udara setelah defekasi bubur barium ini, akan
tampak lapisan tipis bubur barium pada mukosa kolon sehingga kelainan
kolon lebih mudah dilihat. Pemeriksaan ini disebut foto kontras ganda, yaitu
kontras negative udara dan kontras positive bubur barium. Sayangnya, pada
foto kolon ini kelainan rectum pada dua pertiga distal tidak dapat dinilai.

b. Barium Enema
Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan lagi sebagai alat bantu
diagnostik utama untuk menentukan suatu polip. Adanya filling defect
menunjukkan suatu jejas akibat adanya massa.

c. Rektosigmoidoskopi

Rektosigmoidoskop adalah pipa kaku sepanjang 25-30 cm. Dengan alat


ini, rectum dan sigmoid dapat dilihat setelah usus dibersihkan secara
mekanis. Pemeriksaan dengan alat yang kaku ini kadang menemui kesulitan
pada sudut rektosigmoid. Pada setiap kelainan yang terlihat harus dilakukan
biopsy multiple untuk pemeriksaan patologi.

d. Kolonoskopi

Pada kolonoskopi digunakan fiberskop lentur untuk melihat dinding


kolon dari dalam lumen sampai ileum terminalis. Dengan alat ini dapat
dilihat seluruh kolon, termasuk yang tidak terlihat pada foto kolon. Polip
yang kecil dapat terlewatkan dengan presentase 5-10%. Fiberskop juga
dapat dipakai untuk biopsy setiap jaringan yang mencurigakan, evaluasi,
dan tindakan terapi misalnya polipektomi.
Gambar 5. Kolonoskopi

e. CT Kolonografi

CT kolonografi merupakan tehnik pemeriksaan yang potensial untuk


diagnosis dan skrining suatu polip. Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah
evaluasi yang lebih lengkap terhadap permukaan mukosa dan ekstraluminal.
Namun pemeriksaan ini memerlukan persiapan dan perlu dilakukan
beberapa kali pemeriksaan untuk mengidentifikasi kelainan pada kolon.
Penggunaan Computer-aided detection (CAD) pada CT kolonografi
menunjukkan hasil yang memuaskan untuk digunakan sebagai alat skrining
pada populasi yang luas.12

2.2.7 Tatalaksana
Penatalaksaan polip pada kolon dan rectum dilakukan berdasarkan tiga hal
yaitu karena polip tersebut memberikan suatu gejala yang menggangu, karena
polip tersebut mungkin bersifat ganas ketika pertama kali ditemukan, atau karena
polip tersebut dapat menjadi suatu keganasan nantinya.12,13,14
a. Polypectomy

Dalam kasus polip yang bertangkai dan berkonsistensi keras,


pengangkatan polip seiring dengan dilakukannya kolonoskopi merupakan
tindakan kuratif yang sering dilakukan. Polip diangkat selama kolonoskopi
dengan menggunakan pisau bedah atau lingkaran kawat yang dialiri arus
listrik. Kekambuhan polip kolon setelah 1 tahun dilakukan polypectomy
jarang dijumpai namun pemeriksaan kolonoskopi ulang pada 3-12 bulan
setelah dilakukannya polipektomi terkadang dianjurkan apabila terdapat
keraguan apakah polip kolon telah sepenuhnya hilang dan/atau mempunyai
resiko keganasan.

b. Endoscopic Mucosal Resection (EMR)


Endoscopic Mucosal Resection kini telah menjadi tehnik standar
untuk melakukan reseksi pada polip kolorektal luas yang tidak bertangkai.
Penggunaan EMR ini terutama dipertimbangkan pada polip kolorektal yang
tidak bertangkai dengan ukuran lebih dari 1 cm. Komplikasi yang kadang
terjadi dari penggunaan tehnik EMR ini adalah terjadinya perdarahan dan
mikroperforasi. Mikroperforasi yang diketahui terlambat merupakan
indikasi untuk dilakukanya laparotomi.

c. Laparoscopic Colectomy
Prosedur Laparoscopic Colectomy terutama dilakukan pada kasus
polip kolorektal yang tidak dapat direseksi dengan endoskopi misalkan pada
polip yang mengenai lebih dari sepertiga kolon atau pada polip tidak
bertangkai yang luas. Prosedur ini dikatakan merupakan prosedur yang
aman dilakukan karena sedikitnya komplikasi yang terjadi.

d. Reseksi kolon
Dalam kasus polip kolon yang dikaitkan dengan poliposis familia,
reseksi sering menjadi satu-satunya pilihan penatalaksanaan. Reseksi kolon
juga dianjurkan untuk pasien dengan kolitis ulseratif kronis yang ditemukan
terdapatnya sel-sel yang mengalami displasia. Reseksi bedah mungkin
dianjurkan pada polip yang berukuran besar, polip tidak bertangkai yang
sulit untuk diangkat atau polip kolon yang terus mengalami kekambuhan
meskipun telah dilakukan polipektomi dengan endoskopi.
Beberapa pilihan operasi harus yang dapat dilakukan adalah kolektomi
total, kolektomi subtotal, atau reseksi segmental. Pemeriksaan histologis
terhadap spesimen yang telah didapatkan sangat dianjurkan untuk
dilakukan. Hal ini untuk mengetahui kemungkinan keganasan suatu polip
dan berperan untuk rencana penatalaksanaan selanjutnya.

2.2.8 Prognosis
Tingkat kekambuhan adenoma vilosum pada daerah eksisi sekitar 15%
dari kasus setelah penanganan lokal dilakukan. Adenoma tubuler jarang kambuh,
akan tetapi kasus baru dapat muncul kembali, serta pada pasien yang memiliki
adenoma jenis apapun memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya
adenocarsinoma daripada populasi umum. Resiko untuk terjadinya tumor
metachronous setelah dilakukan eksisi dari adenoma kolorektal akan lebih besar
apabila terdapat indeks lesi multipel atau bila adenoma sessile, villous, atau
diameternya lebih dari 2 cm. resiko lebih besar pada laki-laki daripada
perempuan. Pada satu studi, resiko kumulatif dari perkembangan lebih jauh dari
adenoma adalah linear sepanjang waktu, mencapai sekitar 50% setelah tindakan
menghilangkan satu atau lebih adenoma kolorectal, insidens kumulatif dari kanker
pada populasi yang sama meningkat menjadi 7% dalam 15 tahun. Apabila kolon
dibersihkan dengan kolonoskopi total saat dilakukan eksisi polip, kolonoskopi
lanjutan pada 3 tahun kemudian sama efektif dengan kolonoskopi pada 1 dan 3
tahun kemudian untuk mencegah perkembangan neoplasma yang
membahayakan.2,3
BAB III
KESIMPULAN

1. Polip merupakan suatu massa seperti tumor yang menonjol ke dalam lumen
usus yang berasal dari epitel mukosa dan merupakan neoplasma jinak
terbanyak di kolon dan rectum.
2. Secara histologis polip kolon dan rektum diklasifikasikan menjadi dua
kelompok utama, yaitu polip nonneoplastik dan neoplastik.
3. Kebanyakan polip bersifat asimtomatis, namun semakin luasnya suatu polip
maka akan semakin memberikan gejala. Perdarahan spontan melalui rectum
merupakan keluhan yang paling sering dijumpai.
4. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis
adalah foto kolon, barium enema, rektosigmodeskopi, kolonoskopi dan CT
kolonografi.
5. Penatalaksanaan polip dapat dilakukan dengan polipektomi dan reseksi
kolon.
DAFTAR PUSTAKA

1. Rubio CA, Jaramillo E, Lindblom F, Fogt F. Classification of colorectal


polyps; Guidelines for the endoscopist. Endoscopy. 2002; 34(3): 226-236.
New York.
2. Shussman N, Wexner SD. Colorectal polyps and polyposis syndromes.
Gastroenterology report 2(2014): p. 1-15.
3. Hafid A, Syukur A, Achmad IA, Ridad AM, Ahmadsyah I, Airiza AS, et al.
Usus Halus, Apendiks, Kolon dan Anorektum. Dalam: Sjamsuhidajat R, de
Jong W (ed). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Kedua. Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2005: p. 654-657.
4. Crawford JM, Kumar V. Rongga Mulut dan Saluran Gastrointestinal. Dalam:
Hartanto H, Darmaniah N, Wulandari N (ed). Buku Ajar Patologi Robbins
Ed. 7 Vol. 2. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007: p. 649-650.
5. Chang GJ, Shelton A, Schrock TR, Welton ML. Large Intestine. In: Way LW
and Doherty GM (ed). Current Surgical Diagnosis & Treatment International
Edition Eleventh Edition. India, Lange Medical Publications, 2003: p. 725-
728.
6. Enders GH. Colonic Polyps. Medscape Reference Update November 10th
2012. Available from : http://www.emedicine.medscape.com/article/172674
disitasi Agustus 10th 2018.
7. Yamaji Y, Mitsushima T, Yoshida H et al. The Malignant Potential of
Freshly Developed Colorectal Polyps According to Age. American
Association for Cancer Research Journals 2006. Volume 15: 2418-2421.
8. Snell, Richard S, 2012. Anatomi Klnik berdasarkan sistem Edisi 6. EGC :
Jakarta.
9. Durno CA. Colonic Polyps in Children and Adolescents. The Canadian
Journal of Gastroenterology 2007; Volume 21 No. 4 April 2001: 233-239.
10. Delavari A, et al. Characteristics of colorectal polyps and cancer; a
retrospective review of colonoscopy data in Iran. Middle East Journal of
Digestive Disease. Vol 6(3). 2014.
11. Poddar U, Thapa BR, Vaipei K et al. Juvenile Polyposis in a Tropical
Country. Archives of Disease in Childhood, British Medical Journal 1998.
Volume 78: 264-266.
12. Pickhardt PJ and Kim DH. Colorectal Cancer Screening with CT
Colonography: Key Concepts Regarding Polyp Prevalence, Size, Histology,
Morphology and Natural History. American Journals of Radiology 2009.
Volume 193 September 2009: 40-46.
13. Saunders B, Ginsberg GG and Bjorkman DJ. “How I Do It” Removing Large
or Sessile Colonic Polyps. World Organisation of Digestive Endoscopy.
2007; 1-19.
14. Itah R, Greenberg R, Nir S et al. Laparoscopic Surgery for Colorectal Polyps.
Journals of the Society of Laparoendoscopic 2009. Volume 13: 555-559.