Anda di halaman 1dari 19

Selasa, 14 Juni 2011

Moralitas Dokter dan Kompetensinya Menurut Kaca Mata Islam

Dokter merupakan sebuah profesi yang apabila dilakukan dengan ikhlas dan
dengan senang hati akan selalu dirahmati oleh Allah SWT. Menurut definisinya, dokter
adalah seorang tenaga kesehatan (dokter) yang menjadi tempat kontak pertama
pasien dengan dokternya untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang
dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis
kelamin, sedini dan sedapat mungkin, secara menyeluruh, paripurna, bersinambung,
dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan
menggunakan prinsip pelayanan yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi
tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral
(http://cintalestari.wordpress.com/2008/11/26/pengertian-dokter-dan-tugas-
dokter/, diakse : 26 November 2010) . Dokter juga merupakan sebuah profesi yang
selalu berhubungan dengan orang lain, baik itu pasien, teman sejawat, suster atau
perawat, dan semua orang yang selalu berhubungan dengan dunia kedokteran. Banyak
sekali hal yang berhubungan dengan dunia dokter, bahkan seorang dokter harus
menghadapi berbagai tuntutan atau klaim atas perbuatan yang ia lakukan. Untuk
itulah seorang dokter harus mengetahui sikap apa yang sebaiknya dilakukan dalam
menghadapi tantangan yang ada di depannya.
Seiring dengan banyaknya jumlah umat Islam di Indonesia menyebabkan banyak
pula sarjana kedokteran yang beragama Islam. Dokter-dokter muslim tersebut
merupakan pewaris pengetahuan ilmu kedokteran yang akan mengemban tanggung
jawab besar terhadap kemaslahatan umat manusia.
Di era globalisasi ini, ilmu kedokteran telah berkembang pesat dan
perkembangan tersebut bersifat universal atau umum. Sebagai seorang dokter muslim
harus dapat menyeleksi semua perkembangan tersebut. Perkembangan yang boleh
diambil dan diimplementasikan adalah perkembangan ilmu yang sejalan dengan norma
dan kaidah-kadidah Islam memiliki nilai nilai yang tetap harus dijunjung tinggi
walaupun teknologi dan budaya terus berkembang pesat. Konsep yang seperti ini
dinamakan keokteran Islami.
Dalam kode etik kedokteran (Islamic code of Medical Ethics), yang merupakan
Hasil dari First International Conferene on Islamic Medicine yang diselenggarakan pada
6-10 Rabi' al-Awwal 1401 H. di Kuwait dan selanjutnya disepakati sebagai kode etik
kedokteran Islam, dirumuskan beberapa karakterrstik yang semestinya dimiliki oleh
dokter muslim. lsi Kode Etik Kedokteran Islam tersebut terdiri atas duabelas pasal,
Rinciannya disebutkan:
Pertama, definisi profesi kedokteran. Kedua, ciri-ciri para dokter. Ketiga,
hubungan dokter dengan dokter. Keempat, hubungan dokter dengan pasien. Kelima,
rahasia profesi. Keenam, peranan dokter di masa perang. Ketujuh, tanggungjawab
dan pertanggungjawaban. Kedelapan, kesucian jiwa manusia. Kesembilan, dokter dan
masyarakat. Kesepuluh, dokter dan kemajuan biomedis modern. Kesebelas,
pendidikan kedokteran. Keduabelas, sumpah dokter
(http://fanmedic.blogspot.com/2010/10/konsep-dokter-muslim.html, diakses : 26
November 2010).
Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang dokter muslim yaitu :
1) Memiliki rasa empati yang besar terhadap sesama manusia. Jiwa sosial yang tinggi
dan rasa belas kasih yang terkontrol (empati) adalah hal yang harus dimiliki oleh
setiap dokter.
2) Profesional dan dapat dipercaya baik oleh pasien maupun teman sejawat.
3) Memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam setiap melakukan perbuatan.
4) Mandiri.
5) Seorang dokter harus memiliki kepribadian yang kuat (tahan banting) sehingga dokter
dapat menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang ada dihadapannya dengan
tenang.
6) Seorang dokter muslim tidak diperbolehkan membeda-bedakan pasien baik itu kaya
maupun tidak.
7) Seorang dokter muslim diwajibkan hidup seimbang dalam arti tidak berlebih-lebihan
atas nikmat yang diberikan oleh Allah.
8) Seorang dokter tidak diperbolehkan berbangga hati dengan profesi yang
disandangnya.
9) Seorang dokter muslim harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Semua butir di atas, khususnya terhadap diri sendiri juga dengan pasien, antara
lain disebutkan bahwa seorang dokter muslim di samping sebagai seorang yang
bertakwa juga harus berakhlak mulia, seperti harus bijaksana, ramah, baik hati,
pemaaf, pelindung, sabar, dapat dipercaya, bersikap baik tanpa membedakan tingkat
sosial pasien, bersikap tenang, dan menghormati pasien. Secara teologis dokter
muslim harus menyadari bahwa soal kematian berada sepenuhnya di tangan Tuhan
dan fungsi dokter hanya sebagai penyelamat kehidupan, berfungsi mempertahankan
dan memelihara sebaik dan semampu mungkin. Di samping itu, dokter muslim harus
dapat menjadi suri tauladan yang baik juga harus prefesional, dengan tetap pada
prinsip ilmiah dan jujur.
Selain hal yang disebutkan di atas seroang dokter muslim juga harus
menjunjung tinggi etika profesinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut
akan menghindarkan dokter dari segala macam kasus yang akan memperburuk nama
dan citra dokter.
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") itu sendiri
memiliki pengertian cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang
menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan
penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-
pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain
karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk
itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh
manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Etika, diakses : 26 Nivember 2010).
Dari pengertian etika tersebut telah dipastikan bahwa seorang dokter terlebih
lagi dokter muslim diharuskan memiliki etika dalam proses interaksinya dengan
orang dan lingkungannya. Sejak awal duduk di bangku perkuliahan, calon dokter telah
diajarkan mengenai etika baik itu etika secara umum, etika akademis hingga etika
profesi dan rumah sakit. Pada saat wisuda akan diikrarkan pula sebuah sumpah dokter
yang menyatakan akan senatiasa mengamalkan Kode Etik Kedokteran. Jadi, seorang
dokter diharapkan memiliki etika yang mulia, bertanggung jawab dan taat kepada
hukum yang berlaku.
Etika kedokteran Islam terangkum dalam Etika Kedokteran Islam yang disebut
Tibbun Nabawi yang didalamnya dibahas etika dokter terhadap sang Khaliq, terhadap
pasien, dan terhadap teman sejawatnya.
1. Etika Dokter Muslim terhadap Allah SWT
Seorang dokter tidak akan menyandang gelar ‘dokter’ tersebut tanpa seizin
Allah. Allah memberikan kesempatan yang teramat besar bagi seorang dokter untuk
mengabdikan dirinya kepada Allah dan umat manusia. Maka, haruslah seseorang yang
menyandang gelar tersebut selalu memanjatkan puji syukur kepada Allah atas segala
rahmat dan karunianya. Dokter bukanlah pekerjaan yang mudah, namun dokter
merupakan ladang amal yang amat luas untuk segera diisi. Rasa syukur yang kita
ungkapkan atas nikmat tersebut bukanlah hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah
, semua itu harus dibuktikan melaui perbuatan dimana seorang dokter sejatinya
adalah seorang khalifah dalam bidang kesehatan dan kedokteran, mengerjakan semua
tugas dan tanggung jawabnya dengan ikhlas karena Allah SWT.
Mengenai etika terhadap Khalik disebutkan bahwa:
• Dokter muslim harus meyakini dirinya sebagai khalifah fungsionaris Allah dalam
bidang kesehatan dan kedokteran.
• Melaksanakan profesinya karena Allah dan buah Allah.
• Hanya melakukan pengobatan, penyembuhan adalah Allah.
2. Etika Dokter Muslim terhadap pasien
Pasien merupakan seseorang atau sekelompok orang yang menjadi tanggung
jawab dokter untuk mendapatkan pengobatan dan penyembuhan. Dokter yang
mendiami suatu wilayah harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana kebudayaan
yang dianut oleh masyarakat di lingkungan pasien. Hal ini dikarenakan hubungan
dokter dengan pasien adalah hubungan manusia dengan manusia di mana dibutuhkan
rasa menghargai dan adaptasi yang baik dari seorang dokter terhadap keadaan pasien.
Dengan mengetahui kebudayaan dan kebiasaan masyarakat sekitar, pasien akan
merasa lebih nyaman dan akan timbul kepercayaan pasien terhadap dokter. Menurut
etika kedokteran terhadap orang sakit anatara lain disebutkan bahwa seorang dokter
Muslim wajib :
1) Memperlihatkan jenis penyakit, sebab musabab timbulnya penyakit, kekuatan tubuh
orang sakit, keadaan resam tubuh yang tidak sewajarnya, umur si sakit dan obat yang
cocok dengan musim itu, negeri si sakit dan keadaan buminya, iklim di mana ia sakit,
daya penyembuhan obat itu.
2) Di samping itu dokter harus memperhatikan mengenai tujuan pengobatan, obat yang
dapat melawan penyakit itu, cara yang mudah dalam mengobati penyakit.
3) Selanjutnya seorang dokter hendaknya membuat campuran obat yang sempurna,
mempunyai pengalaman mengenai penyakit jiwa dan pengobatannya, berlaku lemah
lembut, menggunakan cara keagamaan dan sugesti, tahu tugasnya.

3. Etika Dokter Muslim terhadap teman sejawatnya


Seluruh dokter di penjuru dunia adalah sama. Sama dalam hal tugas dan
tanggung jwabnya demi kemaslahatan umat manusia. Memiliki bisikan hati untuk
selalu menolong dan mengobati orang sakit. Karena hal tersebut timbul sebuah rasa
persaudaraan diantara dokter-dokter sehingga timbul rasa tolong menolong diantara
mereka.
Etika kedokteran mengenai hubungan dokter dengan sejawatnya menurut Islam
adalah sebagai berikut :
1) Dokter yang baru menetap di suatu tempat, wajib mengunjungi teman sejawatnya
yang telah berada di situ. Jika di kota yang terdapat banyak praktik dokter, cukup
dengan memberitahukan tentang pembukaan praktiknya kepada teman sejawat yang
berdekatan.
2) Setiap Dokter menjadi anggota IDI setia dan aktif. Dengan menghadiri pertemuan-
pertemuan yang diadakan.
3) Setiap Dokter mengunjungi pertemuan klinik bila ada kesempatan. Sehingga dapat
dengan mudah mengikuti perkembangan ilmu teknologi kedokteran.
Jadi, profesi dokter sejatinya bukanlah profesi yang mudah. Sebagai dokter
muslim memiliki kompetensi tersendiri yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Islam
sehingga dapat tetap konsisten walaupun saat ini telah menginjak era globalisasi.
Mulai dari sifat dasar yang harus dimiliki seorang dokter muslim hingga etika dalam
berhubungan dengan sesama manusia menurut kaca mata Islam. Dengan memenuhi
kompetensi tersebut, insyaallah seroang dokter muslim akan selalu dirahmati dan
dilindungi oleh Allah SWT.
Diposkan oleh by mizopa di 10.09
KONSEP DOKTER MUSLIM

by gezafa ~ Wednesday, March 31, 2010 Labels: Artikel

KONSEP DOKTER MUSLIM

1. Ide Dokter Muslim

Ilmu kedokteran yang dewasa ini berkembang, umumnya bersifat universal atau digunakan
secara umum. Karena itu, bagi kaum Muslimin perlu menyeleksinya, dipilih hanya yang sesuai
dengan norma dan kaidah Islam. Sejak dulu kaum Muslimin, dengan disemangati oleh gerakan
islamisasi maka seluruh sendi kehidupan Muslim dijadikan sebagai bagian pengamalan agama,
untuk itu maka dicarilah pijakan-pijakan islamis, juga dalam praktek pengobatan, atau lebih
spesifik dokter.

Meski dalam prakteknya dan dikaitkan dengan asal sistem atau metode pengobatan bersifat
universal, namun dalam Islam terdapat nilai-nilai yang mesti dijunjung tinggi, khususnya
dikaitkan dengan praktek kedokteran, sehingga dikenal dengan kedokteran Islami.

Jika merujuk pada karya klasik, seperti yang terdapat dalam buku al-Qanun fi al- Thibb karya
Ibnu Sina, sarna sekali tidak menyinggung soal kedokteran Islam ini. Menurut analisis 'Abdul
Hamid, karena pada masa lalu etika kedokteran tidak mungkin terpisah dari ajaran umum al-
Quran dan Sunnah Nabi. Dengan kata lain, kedua sumber itu senantiasa berlaku sebagai
pembimbing dalam segala aspek kehidupan umat Islam termasuk bagi dokter dan pasiennya.

Konsep tentang dokter muslim ini terkait pula dengan etika kedokteran, menurut Dr Ahmad
Elkandi, salah seorang pendiri Himpunan Kedokteran Islam Amerika Serikat dan Kanada,
bahwa etika dianggap sebagai persyaratan penting untuk menjadi dokter. Sumpah Hippocrates
yang terkenal telah menekankan fakta ini dan sumpah ini masih berlaku sebagai basis bagi
undang-undang yang dibuat untuk kode etik profesionaI.

1. Karaktertstik DokterMuslim

Banyak rumusan tentang dokter muslim telah dikemukakan oleh berbagai kalangan. Menurut
Ja'far Khadim Yamani, Ilmu kedokteran dapat dikatakan islami, mempersyaratkannya dengan 9
karakteristik, yaitu: Pertama, dokter harus mengobati pasien dengan ihsan dan tidak melakukan
hal-hal yang bertentangan dengan al-Quran. Kedua, tidak menggunakan bahan haram atau
dicampur dengan unsur haram. Ketiga,dalam pengobatan tidak boleh berakibat mencacatkan
tubuh pasien, kecuali sudah tidak ada alternatif lain. Keempat, pengobatannya tidak berbau
takhayyul, khurafat, atau bid'ah. Kelima, hanya dilakukan oleh tenaga medis yang menguasai di
bidang medis. Keenam, dokter memiliki sifat-sifat terpuji, tidak pemilik rasa iri, riya, takabbur,
senang merendahkan orang lain, serta sikap hina lainnya. Ketujuh, harus berpenampilan rapih
dan bersih. Kedelapan, lembagalembaga pelayan kesehatan mesti bersifat simpatik Kesembilan,
menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh atau lambanglambang non-islamis.
Dalam kode etik kedokteran (Islamic code of Medical Ethics), yang merupakan Hasil dari First
International Conferene on Islamic Medicine yang diselenggarakan pada 6-10 Rabi' al-Awwal
1401 H. di Kuwait dan selanjutnya disepakati sebagai kode etik kedokteran Islam, dirumuskan
beberapa karakterrstik yang semestinya dimiliki oleh dokter muslim. lsi Kode Etik Kedokteran
Islam tersebut terdiri atas duabelas pasal, Rinciannya disebutkan:

Pertama, definisi profesi kedokteran. Kedua, ciri-ciri para dokter. Ketiga, hubungan dokter
dengan dokter. Keempat, hubungan dokter dengan pasien. Kelima, rahasia profesi. Keenam,
peranan dokter di masa perang. Ketujuh, tanggungjawab dan pertanggungjawaban. Kedelapan,
kesucian jiwa manusia. Kesembilan, dokter dan masyarakat. Kesepuluh, dokter dan kemajuan
biomedis modern. Kesebelas, pendidikan kedokteran. Keduabelas, sumpah dokter.

Semua butir di atas, khususnya terhadap diri sendiri juga dengan pasien, antara lain disebutkan
bahwa seorang dokter muslim di samping sebagai seorang yang bertakwa juga harus berakhlak
mulia, seperti harus bijaksana, ramah, baik hati, pemaaf, pelindung, sabar, dapat dipercaya,
bersikap baik tanpa membedakan tingkat sosial pasien, bersikap tenang, dan menghormati
pasien. Secara teologis dokter muslim harus menyadari bahwa soal kematian berada sepenuhnya
di tang an Tuhan dan fungsi dokter hanya sebagai penyelamat kehidupan, berfungsi
mempertahankan dan memelihara sebaik dan semampu mungkin. Di samping itu, dokter
muslim harus dapat menjadi suri tauladan yang baik juga harus prefesional, dengan tetap pada
prinsip ilmiah danjujur. Lebih dari itu semua, dokter muslim juga diharuskan memiliki
pengetahuan tentang undang-undang, caracara beribadah dan pokok-pokok fikih sehingga dapat
menuntun pasien untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Ditekankan pula, dalam keadaan
bagaimana pun, dokter muslim harus erusaha menjauhkan diri dari praktek-praktek yang
bertentangan dengan ajaran Islam. Hal lain yang disarankan, dokter muslim harus rendah hati,
tidak sombong, serta bersikap tercel a lainnya. Dalarn bidang pengetahuan, dokter muslim
diharuskan tetap menggali dan mencari pengetahuan agar tidak ketinggalan dalam bidang
kemajuan ilmiah, dan upaya itu harus diyakini sebagai bentuk ibadah.

Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter Islam atas tiga hal. Pertama, percaya akan adanya
kematian yang tidak terelakkan seperti banyak ditegaskan dalam al-Quran dan hadits Nabi.
Untuk mendukung prinsip ini ia mengutip pernyataan Ibnu Sina yang menyatakan, yang harus
diingat bahwa pengetahuan mengenai pemeliharaan kesehatan itu tidak bisa mernbantu untuk
menghindari kematian maupun membebaskan diri dari , penderitaan lahir. Ia juga tidak
memberikan cara-cara untuk ' memperpanjang usia agar hidup selamanya. Dengan pemahaman
demikian, tidak berarti dokter muslim menentang teknologi biomedis bila berarti upaya
mempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien suatu pernapasan at au alat lain yang
sejenis. Sebab, berupaya menyelamatkan hidup adalah tugas mulia, siapa yang menyelamatkan
hidup seorang manusia, seolah dia menyelamatkan hidup seluruh manusia. Ini sejalan dengan
penegasan ayat al-Quran:

Artinya. :
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang
lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia
seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah
dia telah memelihara kehidupan seorang manusia semuanya. (QS. Al Maidah 5 : 32)

Kedua, menghormati pasien, diantaranya berbicara dengan baik kepada pasien tidak
membocorkan rahasia dan perasaan pasien, dan tidak melakukan pelecehan seksual, itulah
sebabnya disarankan pasien didampingi orang ketiga. Dokter tidak memberati pasien, dan lain-
lain.

Ketiga, pasrah kepada Allah sebagai Dzat Penyembuh. Ini tidak berarti membebaskan dokter
dari segala upaya diagnosis dan pengobatan. Dengan kepasrahan demikian, maka akan
menghindarkan perasaan bersalah jika segala upaya yang dilakukannya mendapatkan kegagalan.

1. Sifat dan Sikap Dokter Muslim

Etika / adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Dr. Zuhair Ahmad al-Sibai dan Dr.
Muhammad 'Ali al-Bar dalam karyanya Al-Thabib, Adabuh wa Fiqhuh (Dokter, Etika dan Fikih
Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas
kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, labih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan
metode ilmiah dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja dan mawas
diri.

1. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi.


2. Berusaha Menjernihkan Jiwa.
3. Lebih Mendalami Ilmu yang Dikuasainya.
4. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir.
5. Memiliki Rasa Cinta Kasih.
6. Keharusan Bersikap Benar dan Jujur.
7. Berendah Hati (Tawadhu').
8. Keadilan dan Keseimbangan.
9. Mawas Diri.
10. Ikhlas, Penyantun, Ramah, Sabar dan Tenang.

1. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Bahwa seluruh poin butir isi karakteristik dokter muslim, baik yang terdapat dalam
Islamic Code Of Medical Ethics atau yang disampaikan oleh tokoh lain secara individual,
pada intinya ada kesepakatan, bahwa karakteristik dokter muslim, disamping
professional, menguasai ilmu kedokteran dan mengembangkan pengetahuannya itu, juga
berakhlak mulia, sebagaimana dijabarkan butir-butirnya dalam kajian akhak mulia secara
umum, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan dengan profesi, yang
secara khusus dapat diterapkan pada profesi kedokteran dalam berhubungan dengan
profesinya, pasien, sesama dokter, juga kepada Tuhan.
2. Secara definitif istilah dokter muslim termasuk term yang baru di dunia islam. Istilah ini
lahir, nampaknya sebagai respon telah mulai adanya dikotomi yang sangat tajam dalam
bidang ilmu pengetahuan dan profesi, antara ilmu pengetahuan agama di satu sisi dan
umum di sisi lain, sisi ibadah di satu sisi dan dunia kerja di sisi yang lain. Disamping
ingin menjadikan akhlak sebagai tuntunan profesi kedokteran, istilah dokter muslim juga
dirumuskan berangkat dari adanya keinginan menjadikan seluruh aspek kehidupan
dilakukan untuk islam.
3. Terlepas dari rumusan tentang dokter muslim yang telah dirumuskan oleh para praktisi
maupun pemerhati tentang dokter muslim, ada atau tidak ada rumusan tentang dokter
muslim, tamatan sekolah yang menggunakan label dokter muslim atau tidak, asal setiap
dokter yang beragama islam itu menegakkan akhlak islami, khususnya yang berkaitan
dengan praktek kedokteran, otomatis dia adalah dokter muslim sejati.

Ciri – ciri Dokter Muslim

 Beriman dan Bertakwa


 Penyayang, Penghibur, Murah Senyum
 Sabar, Rendah Hati, Toleran
 Tenang Sekalipun Dalam Keadaan Kritis
 Peduli Terhadap Pasien.
 Memandang Semua Pasien Sama
 Pemberi Nasehat
 Menjaga Kesehatan Sendiri
 Suci Hatinya dan Dapat Dipercaya
 Berilmu Pengetahuan
Konsep Dokter Muslim
Posted on December 26, 2012 by Jumal Ahmad

1 Vote

Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri.


Sehingga teladan yang paling utama adalah Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wasallam, apapun profesi dan jabatan
seorang muslim. Sedangkan akhlak seorang dokter muslim
ialah akhlak seorang muslim yang menjunjung tinggi adab
Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam tersebut sebagai
teladan yang sempurna Dan akhlak Beliau disarikan dari
Al-Qur’an itu sendiri sebagai pedoman hidup seorang
muslim.

Sifat – sifat Dokter Muslim

Etika/ adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-Sibai dan.
Muhmmad Ali al-Bar dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa Fiqhuh ( Dokter, Etika dan
Fikih Kedokteran ), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas
kehormatan profesi, menjernihkan nafsu, lebih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan
metode ilmiah dalam berfikir ,kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja, dan mawas
diri.

Sifat terhadap Allah Sebagai Pencipta

1. Beriman

Sebab tanpa iman segala amal saleh sebagai dokter dan tenaga para medis akan hilang sia-sia di
mata Allah.

Dalilnya Surat Al-‘Ashri: “Demi masa, Sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, Selain
mereka yang beriman, Dan berbuat amal shaleh, Dan nasehat-nasehati dengan kebenaran,Dan
naseha-nasehati dengan kesabaran”

2. Tulus-ikhlas karena Allah.

Dalilnya adalah firman Allah swt : “Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri
kepada Allah dengan ikhlas, lurus mengerjakan agama, karena Dia. (QS. Al Bayyinah : 5)
Sifat terhadap diri sendiri

1. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi.

Bahwa prodesi kedokteran adalah salah satu profesi yang sangat mulia tetapi tergantung dengan
dua syarat , yaitu :

1. Dilkaukan dengan sungguh sungguh dan penuh kaikhlasan .

2. Menjaga akhlak mulia dalam perilaku dan tindakan tindakannya sebagai dokter .

Seorang dokter diberi amanah untuk menjaga kesehatan yang merupakan karunia Tuhan yang
paling berharga bagi manusia , sebagaimana dinyatakan dalam hadist Nabi :

Nabi saw bersabda : Mohonlah kepada Allah kesehatan , sebab tidak ada sesuatupun yang
dianugerahkan kepada hamba-Nya yang lebih utama dari kesehatan . ( HR Ahmad al-
Turmudzi , dan Ibn Majah ).

Disamping itu dokter selalu menjadi tumpuan pasien , keluarga , masyarakat , bahkan bangsa .
Mengingat kedudukan profesi kedokteran tersebut seharusnya dalam menjalankan profesinya
tidak hanya berfikir tentang materi tetapi lebih kepada pengabdian dan perbaikan umat .
Keyakinan akan kehormatan profesi tersebut merupakan motivasi untuk memelihara akhlak yang
baik dalam hubugannya dengan masyarakat .

2. Berusaha Menjernihkan Jiwa

Kejernihan jiwa akan menentukan kualitas perbuatan manusia secara keseluruhan , jika
seseorang termasuk dokter hatinya jernih maka perbuatannya akan selalu positif . Hal ini sejalan
dengan penegasan Rasulullah :

Artinya : Ingatlah bahwa tubuh manusia ada segumpal darah yang apabila baik maka seluruh
tubuh menjadi baik , dan apabila buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk ,ingatlah atau adalah
hati . ( HR Al Bukhari , Muslim , Ahmad , al Darimi , dan Ibn Majah ).

3. Lebih Mendalam Ilmu yang Dikuasainya

Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban sepanjang hidup.
Sebagimana diketahui bahwa ilmu pengetahuan itu dari hari kehari selalu mengalami
perkembagan . Karena itu , agar setipa dokter tidak ketinggalan infromasi dan ilmu pengetahuan
dan lebih mendalami bidang profesinya , maka dituntut untuk selalu belajar . dalam ajaran Islam
sangat ditekankan dalam mengamalkan segala sesuatu agar dilakukan secara professional dan
penuh ketelitian .

Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah menyukai bila seseorang diantara kalian mengerjakan
pekerjaannya dengan teliti .( HR . al- Baihaqi )
4. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir

Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan metode ilmiah sesuai dengan
kaidah logika ilmiah sebagaimana terjabar dalam disiplin ilmu kedokteran modern . Ajaran Islam
sangat menekankan agarberfikir atau merenung terhadap berbagai sebab , tujuannya agar
mendapatkan keyakinan yang benar . Diantara anjuran berfikir dengan metode ilmiah , antara
lain tersurat dalam firman Allah :

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , silih bergantinya malam dan siang ,
bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia ,dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air ,lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati ( kering )
nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan , dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi ; Sungguh ( terdapat ) tanda tanda ( keesaan dan
kebesaran Allah ) bagi kaum yang memikirkan . ( QS. Al – Baqarah : 164 )

5. Mawas Diri

Meningat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab menyangkut nyawa dan
keselamatan seseorang. Mereka sering menjadi sasaran tuduhan, itu disebabkan adanya anggapan
masyarakat yang menganggap mereka adalah orang yang paling mengetahui rahasia kehidupan
dan kematian. Dengan senantiasa mawas diri, seorang dokter muslim akan sadar atas segala
kekurangannya sehingga di masa mendatang akan memperbaikinya, juga akan terhindar dari
berbagai sifat tercela lain seperti sombong, riya, angkuh, dan lainnya.

Di sanping sifat-sifat di atas, sesuai dengan tuntunan dalam akhlak islami, khususnya yang
berhubungan dengan profesi kedokteran, dokter muslim harus tulus ikhlas karena Allah SWT,
penyantun, peramah, sabar, teliti, tegas, patuh pada peraturan, penyimpan rahasia, dan
bertanggung jawab, dan lain-lain.

6. Ikhlas, penyantun, ramah, sabar, dan tenang.

Dokter muslim juga harus ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya, semua dilakukan sebagai
ibadah untuk mencari ridha Allah SWT. Berbuat ikhlas sangat dituntut dalam Islam sebagaimana
dinyatakan dalam Al-Qur’an, dalam ayat berikut:

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan
memurnikan keta’atan kepada Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (QS. Al Bayyinat
; 5)

Dokter muslim juga di tuntut penyantun, ikut merasakan penderitaan orang lain sehingga
berkeinginan menolongnya. Dokter muslim juga di tuntut ramah, bergaul dengan luwes dan
menyenangkan. Juga di tuntut bersikap sabar, tidak emosional dan lekas marah, tenang,
penyantun, ramah, sebagaiaman dianjurkan dalam ayat Al-Qur’an :
Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah SWT lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. (QS.Ali ‘Imran : 159)

Dokter muslim di tuntut memiliki kesabaran dalam menghadapi segala masalah, tidak emosional
dan tidak cepat marah. Sikap sabar sangat dituntut dalam Islam, antara lain disebutkan dalam Al-
Qur’an :

Artinya : Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian
itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Al- Syura : 43)

Dokter muslim juga dituntut bersikap tenang, tidak gugup dalam menghadapi segawat apapun.
Nabi barsabda : Bersikap tenang kamu sekalian (HR al-Thabrani da al-Baihaqi).

Dalam menjalankan profesinya, dokter muslim juga dituntut melakukannya dengan teliti, bersifat
hati-hati, cermat dan rapi.

Nabi bersabda : Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang di antara kalian
mengerjakan pekerjannya dengan teliti (HR. al-Baihaqi)

Sikap tegas, tidak ragu-ragu dalam menentukan sikap juga dituntut kepada dokter muslim. Nabi
bersabda : Nabi bersabda : Jika ada keraguan dalam hatimu, tinggalkanlah itu.”(HR.Ahmad).

Banyak peraturan yang mesti ditegakkan oleh dokter muslim, baik yang berhubungan dengan
profesi kedokteran, berbangsa dan bernegara, lebih-lebih dalam beragama. Tunduk patuh pada
peraturan sangat dianjurkan dalam islam, sebagaimana anjuran Nabi : Dari Anas bin Malik, dari
Nabi SAW bersabda : Dengarkanlah dan patuhilah walaupun dijadikan kepala atasmu seorang
Habasyi…(HR. Bukhari)

Dalam menjalankan pekerjaannya, jika seorang dokter muslim mendapatkan sesuatu yang tidak
baik pada pasiennya maka dituntut agar merahasiakannya. Nabi bersabda : barang siapa
menutupi aurat seorang muslim di dunia maka Allah SWT akan menutupi auratnya di dunia dan
akhirat (HR. Ahmad).

Dokter muslim juga mesti bertanggung jawab atas segala resiko dan konsekwensi dari
profesinya. Allah SWT berfirman : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
smuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al –Isra : 36)

Nabi juga bersabda : Setiap kalian adalah penggembla, dan setiap kalian bertanggung jawab
atas gembalanya itu (HR Bukhari dan Ahmad).

Sifat tehadap pasien

1.Memiliki Rasa Cinta Kasih


Rasa cinta kasih adalah cahaya yang timbul dari hati yang terdalam , dia akan dapat menyinari
orang lain , alam semesta dan segala sesuatu . Cahaya itu kemudian memantul kepada dirinya
dan limpahan kepadanya kejernihan , kerelaan dan kemantapan . Ajaran Islam sangat
menekankan menyintai sesama ,

2. Keharusan Bersikap Benar dan Jujur

Benar dan jujur bagi seorang dokter yang selalu berkomunikasi dengan masyarakat merupakan
keharusan agar mendapat kepercayaan dari pasien dan masyarakat. Yang di maksud dengan
benar dan jujur di sini adalah sifat yang komprehensif mempunyai banyak makna, termasuk
menepati janji dan menunaikan amanah. Al-Qur’an sangat menekankan bersikap benar dan jujur,
di antaranya terdapat dalam firman Allah SWT :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT, dan hendaklah kamu
bersama orang-orang yang benar. (QS. AL-Taubat : 119)

Orang yang tidak amanah dan tidak menepati janji sangat dikecam dalam hadist Nabi : Tidak ada
iman bagi orang yang tidak memelihara amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak
menunaikan janjinya. (HR. Ahmad)

3. Berendah hati (Tawadlu)

Setiap orang, terutama orang yang melayani kepentingan umum termasuk dolter dituntut bersifat
rendah hati. Sifat yang sering menyebabkan seseorang dijauhi dalam pergaulan biasanya karena
kesombongan dan keangkuhan. Kesombongan dan keangkuhan biasanya lahir karena ada
perasaan, ilmu, atau pengaruhnya. Ajaran Islam sangan mengecam perbuatan angkuh dan
sombong. Allah SWT berfirman : Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang
sombong. “(QS. Al-Nahl : 23 )

Di sisi lain dijelaskan Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang merendahkan diri
(tawadlu). Nabi bersabda : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa merendahkan diri karena
Allah SWT satu derajat maka Allah SWT mengangkatnya satu derajat sehingga menjadikannya
dalam kelompok ‘iliyyin (surga yang tinggi), dan barang siapa takabur atas Allah SWT satu
derajat, menjadikannya dalam kelompok kaum yang rendah (neraka) (HR Ahmad).

4.Keadilan dan keseimbangan

Dokter termasuk orang yang paling banyak berurusan dengan masalah manusia dan
kemanusiaan. Kehidupan seseorang, termasuk dokter sangat ditentukan oleh kualitas hubungan
dengan masyarakat itu. Ajaran Islam sangat menekankan berlaku adil dan berkeseimbangan
dalam berbagai urusan, tidak berlebihan atau over acting, dalam gaya hidup, khususnya dalam
masalah tarip praktek dan bayaran sehingga mengurangi dan menodai prinsip-prinsip yang mesti
dijunjung tinggi sebagai pelayan masyarakat
Allah SWT berfirman : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat
yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu ….(QS. Al –Baqarah : 142)

Semoga artikel ini bisa memberikan semangat kepada teman-teman di Akademi Thibb
Nabawi/ Athin Bekasi yang sedang belajar mendalami ilmu-ilmu pengobatan islam.
Semoga kelak menjadi dokter atau terapis muslim yang bertanggung jawab dan
berdedikasi. oleh Jumal Ahmad; Bagian Administrasi Athin
 Home

15
Oct 2010

KONSEP DOKTER MUSLIM (Fakultas Kedokteran


Universitas Islam Bandung) UNISBA
Posted by Irfan Aktori Abdillah
1.Ide Dokter Muslim

Ilmu kedokteran yang dewasa ini berkembang, umumnya bersifat universal atau digunakan
secara umum. Karena itu, bagi kaum Muslimin perlu menyeleksinya, dipilih hanya yang sesuai
dengan norma dan kaidah Islam. Sejak dulu kaum Muslimin, dengan disemangati oleh gerakan
islamisasi maka seluruh sendi kehidupan Muslim dijadikan sebagai bagian pengamalan agama,
untuk itu maka dicarilah pijakan-pijakan islamis, juga dalam praktek pengobatan, atau lebih
spesifik dokter.

Meski dalam prakteknya dan dikaitkan dengan asal sistem atau metode pengobatan bersifat
universal, namun dalam Islam terdapat nilai-nilai yang mesti dijunjung tinggi, khususnya
dikaitkan dengan praktek kedokteran, sehingga dikenal dengan kedokteran Islami.

Jika merujuk pada karya klasik, seperti yang terdapat dalam buku al-Qanun fi al- Thibb karya
Ibnu Sina, sarna sekali tidak menyinggung soal kedokteran Islam ini. Menurut analisis 'Abdul
Hamid, karena pada masa lalu etika kedokteran tidak mungkin terpisah dari ajaran umum al-
Quran dan Sunnah Nabi. Dengan kata lain, kedua sumber itu senantiasa berlaku sebagai
pembimbing dalam segala aspek kehidupan umat Islam termasuk bagi dokter dan pasiennya.

Konsep tentang dokter muslim ini terkait pula dengan etika kedokteran, menurut Dr Ahmad
Elkandi, salah seorang pendiri Himpunan Kedokteran Islam Amerika Serikat dan Kanada, bahwa
etika dianggap sebagai persyaratan penting untuk menjadi dokter. Sumpah Hippocrates yang
terkenal telah menekankan fakta ini dan sumpah ini masih berlaku sebagai basis bagi undang-
undang yang dibuat untuk kode etik profesionaI.

1.
Karaktertstik DokterMuslim

Banyak rumusan tentang dokter muslim telah dikemukakan oleh berbagai kalangan. Menurut
Ja'far Khadim Yamani, Ilmu kedokteran dapat dikatakan islami, mempersyaratkannya dengan 9
karakteristik, yaitu: Pertama, dokter harus mengobati pasien dengan ihsan dan tidak melakukan
hal-hal yang bertentangan dengan al-Quran. Kedua, tidak menggunakan bahan haram atau
dicampur dengan unsur haram. Ketiga,dalam pengobatan tidak boleh berakibat mencacatkan
tubuh pasien, kecuali sudah tidak ada alternatif lain. Keempat, pengobatannya tidak berbau
takhayyul, khurafat, atau bid'ah. Kelima, hanya dilakukan oleh tenaga medis yang menguasai di
bidang medis. Keenam, dokter memiliki sifat-sifat terpuji, tidak pemilik rasa iri, riya, takabbur,
senang merendahkan orang lain, serta sikap hina lainnya. Ketujuh, harus berpenampilan rapih
dan bersih. Kedelapan, lembagalembaga pelayan kesehatan mesti bersifat simpatik Kesembilan,
menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh atau lambanglambang non-islamis.

Dalam kode etik kedokteran (Islamic code of Medical Ethics), yang merupakan Hasil dari First
International Conferene on Islamic Medicine yang diselenggarakan pada 6-10 Rabi' al-Awwal
1401 H. di Kuwait dan selanjutnya disepakati sebagai kode etik kedokteran Islam, dirumuskan
beberapa karakterrstik yang semestinya dimiliki oleh dokter muslim. lsi Kode Etik Kedokteran
Islam tersebut terdiri atas duabelas pasal, Rinciannya disebutkan:

Pertama, definisi profesi kedokteran. Kedua, ciri-ciri para dokter. Ketiga, hubungan dokter
dengan dokter. Keempat, hubungan dokter dengan pasien. Kelima, rahasia profesi. Keenam,
peranan dokter di masa perang. Ketujuh, tanggungjawab dan pertanggungjawaban. Kedelapan,
kesucian jiwa manusia. Kesembilan, dokter dan masyarakat. Kesepuluh, dokter dan kemajuan
biomedis modern. Kesebelas, pendidikan kedokteran. Keduabelas, sumpah dokter.

Semua butir di atas, khususnya terhadap diri sendiri juga dengan pasien, antara lain disebutkan
bahwa seorang dokter muslim di samping sebagai seorang yang bertakwa juga harus berakhlak
mulia, seperti harus bijaksana, ramah, baik hati, pemaaf, pelindung, sabar, dapat dipercaya,
bersikap baik tanpa membedakan tingkat sosial pasien, bersikap tenang, dan menghormati
pasien. Secara teologis dokter muslim harus menyadari bahwa soal kematian berada sepenuhnya
di tang an Tuhan dan fungsi dokter hanya sebagai penyelamat kehidupan, berfungsi
mempertahankan dan memelihara sebaik dan semampu mungkin. Di samping itu, dokter muslim
harus dapat menjadi suri tauladan yang baik juga harus prefesional, dengan tetap pada prinsip
ilmiah danjujur. Lebih dari itu semua, dokter muslim juga diharuskan memiliki pengetahuan
tentang undang-undang, caracara beribadah dan pokok-pokok fikih sehingga dapat menuntun
pasien untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Ditekankan pula, dalam keadaan bagaimana
pun, dokter muslim harus erusaha menjauhkan diri dari praktek-praktek yang bertentangan
dengan ajaran Islam. Hal lain yang disarankan, dokter muslim harus rendah hati, tidak sombong,
serta bersikap tercel a lainnya. Dalarn bidang pengetahuan, dokter muslim diharuskan tetap
menggali dan mencari pengetahuan agar tidak ketinggalan dalam bidang kemajuan ilmiah, dan
upaya itu harus diyakini sebagai bentuk ibadah.

Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter Islam atas tiga hal. Pertama, percaya akan adanya
kematian yang tidak terelakkan seperti banyak ditegaskan dalam al-Quran dan hadits Nabi.
Untuk mendukung prinsip ini ia mengutip pernyataan Ibnu Sina yang menyatakan, yang harus
diingat bahwa pengetahuan mengenai pemeliharaan kesehatan itu tidak bisa mernbantu untuk
menghindari kematian maupun membebaskan diri dari , penderitaan lahir. Ia juga tidak
memberikan cara-cara untuk ' memperpanjang usia agar hidup selamanya. Dengan pemahaman
demikian, tidak berarti dokter muslim menentang teknologi biomedis bila berarti upaya
mempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien suatu pernapasan at au alat lain yang
sejenis. Sebab, berupaya menyelamatkan hidup adalah tugas mulia, siapa yang menyelamatkan
hidup seorang manusia, seolah dia menyelamatkan hidup seluruh manusia. Ini sejalan dengan
penegasan ayat al-Quran:
Artinya. :

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,
atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh
manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia seluruhnya.
Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara kehidupan seorang manusia semuanya. (QS. Al Maidah 5 : 32)

Kedua, menghormati pasien, diantaranya berbicara dengan baik kepada pasien tidak
membocorkan rahasia dan perasaan pasien, dan tidak melakukan pelecehan seksual, itulah
sebabnya disarankan pasien didampingi orang ketiga. Dokter tidak memberati pasien, dan lain-
lain.

Ketiga, pasrah kepada Allah sebagai Dzat Penyembuh. Ini tidak berarti membebaskan dokter dari
segala upaya diagnosis dan pengobatan. Dengan kepasrahan demikian, maka akan
menghindarkan perasaan bersalah jika segala upaya yang dilakukannya mendapatkan kegagalan.