Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN ELIMINASI

I. KONSEP TEORI
A. Eliminasi Urine
1. Pengertian Gangguan Eliminasi Urine
2. Sistem Tubuh yang Berperan dalam Eliminasi Urine
3. Proses Berkemih
4. Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine
5. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine
6. Perubahan Pola Eliminasi Urine
B. Eliminasi Alvi
1. Pengertian Gangguan Eliminasi Alvi
2. Sistem Tubuh yang Berperan dalam Proses Eliminasi Alvi
3. Proses Defekasi
4. Masalah Eliminasi Alvi
5. Faktor yang Mempengaruhi Proses Defekasi
II. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Eliminasi urine
1. Pengkajian Keperawatan
2. Diagnose Keperawatan
3. Perencanaan Keperawatan
B. Eliminasi alvi
1. Pengkajian Keperawatan
2. Diagnose Keperawatan
3. Perencanaan Keperawatan
I. KONSEP TEORI
A. Eliminasi Urine
1. Pengertian Gangguan Eliminasi Urine
Gangguan eliminasi urin adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami atau berisiko mengalami disfungsi eliminasi urine. Biasanya
orang yang mengalami gangguan eliminasi urin akan dilakukan
kateterisasi urine, yaitu tindakan memasukan selang kateter ke dalam
kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine.
2. Sistem Tubuh yang Berperan dalam Eliminasi Urine
a. Ginjal
Merupakan organ retroperitoneal (di belakang selaput perut),
terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ginjal
berperan sebagai pengatur komposisi dan volume cairan dalam
tubuh serta penyaring darah untuk dibuang dalam bentuk urine
sebagai zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh dan
menahannya agar tidak bercampur dengan zat yang dibutuhkan
oleh tubuh.
b. Kandung Kemih
Merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot halus, berfungsi
menampung urine.
c. Uretra
Merupakan organ yang berfungsi menyalurkan urine ke bagian
luar. Fungsi uretra pada wanita berbeda dengan yang terdapat
pada pria. Pada pria uretra digunakan sebagai tempat pengaliran
urine dan system reproduksi dan pada wanita hanya sebagai
tempat urine ke bagian luar tubuh.
3. Proses Berkemih
Berkemih proses pengosongan vesika urinaria. Proses ini dimulai
dengan terkumpulnya urine dalam vesika urinaria yang merangsang
saraf-saraf sensorik dalam dinding vesika urinaria. Vesika urinaria dapat
menimbulkan rangsangan saraf bila berisi kurang lebih 250-450cc (pada
orang dewasa) dan 200-250cc (pada anak-anak).
Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urine
yang dapat menimbulkan rangsangan, melalui medulla spinalis
dihantarkan kenpusat pengontrol berkemih yang terdapat di korteks
serebral, kemudian otak memberikan impuls, melalui medulla spinalis ke
neuromotoris di daerah sacral, serta terjadi koneksasi otot detrusor dan
relaksasi otot sfingter internal.
Komposisi Urine :
a. Air (96%)
b. Larutan (4%)
1) Larutan organic
Urea, ammonia, keratin dan uric acid
2) Larutan anorganik
Natrium (sodium), klorida, kalium (potassium), sulfat,
magnesium, dan fosfor. Natrium klorida merupakan garam
anorganik yang paling banyak.
4. Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine
a. Diet dan Asupan
Jumlah dan tipe makanan merupakan factor utama yang
mempengaruhi output atau jumlah urine. Protein dan natrium
dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Selain itu, kopi
juga dapat meningkatkan pembentukan urine.
b. Respons Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat
menyebabkan urine banyak tertahan dalam vesika urinaria
sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah
pengeluaran urine.
c. Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan
kebutuhan eliminasi, dalam kaitannya dengan ketersediaan
fasilitas toilet.
d. Stress Psikologis
Meningkatnya stress dapat mengakibatkan seringnya frekuensi
keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas
untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.
e. Tingkat Aktivitas
Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan
pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus didapat
dengan beraktivitas.
f. Tingkat Perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan dapat mempengaruhi
pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak-anak,
yang lebih memiliki kecenderungan untuk mengalami kesulitan
mengontrol buanag air kecil. Namun dengan bertambahnya usia,
kemampuan untuk mengontrol buang air kecil meningkat.
g. Kondisi Penyakit
Kondisi penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus, dapat
mempengaruhi produksi urine.
h. Sosiokultural
Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi
urine, seperti adanya kultur masyarakat yang melarang untuk
buang air kecil di tempat tertentu.
i. Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di toilet dapat
mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urinal atau
pot urine bila dalam keadaan sakit.
j. Tonus Otot
Tonus otot yang memiliki peran penting yang dalam membantu
proses berkemih adalah kandung kemih, otot abdomen, dan
pelvis. Ketiganya sangat bereperan dalam kontraksi pengontrolan
pengeluaran urine.
k. Pembedahan
Efek pembedahan dapat menurunkan filtrasi glomerulus yang
dapat menyebabkan penurunan jumlah produksi urine karena
dampak dari pemberian obat anestesi.
l. Pengobatan
Efek pengobatan menyebabkan peningkatan atau penurunan
jumlah urine. Misalnya, pemberian diuretic dapat meningkatkan
jumlah urine, sedangkan pemberian obat antikolinergik atau
antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine.
m. Pemeriksaan Diagnostik
Prosedur diagnostic yang berhubungan dengan tindakan
pemeriksaan saluran kemih seperti intravenouspyelogram (IVP),
dengan membatasi jumlah asupan dapat mempengaruhi produksi
urine. Kemudian, tindakan sistokopi dapat menimbulkan edema
local pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran urine.
5. Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine
a. Retensi Urine
Merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih akibat
ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan isinya,
sehingga menyebabkan distensi dari vesika urinaria.
Tanda-tanda klinis pada retensi:
1) Ketidaknyamanan daerah pubis
2) Distensi vesika urinaria
3) Ketidaksanggupan untuk berkemih
4) Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urine
(20-25 ml)
5) Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan
asupannya
6) Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih
7) Adanya urine sebanyak 3000-4000ml dalam kandung
kemih
Penyebab:
1) Operasi pada daerah abdomen bawah, pelvis vesika
urinaria
2) Trauma sumsum tulang belakang
3) Tekanan uretra yang tinggi disebabkan oleh otot detrusor
yang lemah
4) Sfingter yang kuat
5) Sumbatan (striktur uretra dan pembesaran kelenjar
prostat)
b. Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan otot sfingter eksternal
sementara atau menetap untuk mengatur kontrol ekskresi urine.
Secara umum penyebab dari inkontinensia: proses penuaan,
pembesaran kelenjar prostat, penurunan kesadaran, dan
penggunaan obat narkotik atau sedatif. Inkontinensia urin terdiri
atas:
1) Inkontinensia Dorongan
Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami
pengeluaran urine tanpa sadar, terjadi segera setelah
merasa dorongan yang kuat untuk berkemih.
Kemungkinan penyebab:
a) Penurunan kapasitas kandung kemih
b) Iritasi pada reseptor regangan kandung kemih yang
menyebabkan spasme (infeksi saluran kemih)
c) Minum alcohol atau kafein
d) Peningkatan cairan
e) Peningkatan konsentrasi urine
f) Distensi kadung kemih yang berlebihan
Tanda-tanda inkontinensia dorongan:
a) Sering miksi (miksi lebih dari 2 jam sekali)
b) Spasme kandung kemih
2) Inkontinensia Total
Inkontinensia total merupakan keadaan dimana seseorang
mengalami pengeluaran urine yang terus-menerus dan
tidak dapat diperkirakan.
Kemungkinan penyebab:
a) Disfungsi neurologis
b) Kontraksi independen dan refleks detrusor karena
pembedahan
c) Trauma atau penyakit yang mempengaruhi saraf
medulla spinalis
d) Fistula
e) Neuropati
Tanda-tanda inkontinensia total:
a) Aliran konstan yang terjadi pada saat tidak
diperkirakan
b) Tidak ada distensi kandung kemih
c) Nokturia
d) Pengobatan inkontinensia tidak berhasil
3) Inkontinensia stres
Merupakan keadaan seseorang yang mengalami
kehilangan urine kurang dari 50ml, terjadi dengan
peningkatan tekanan abdomen.
Kemungkinan penyebab:
a) Perubahan degenerative pada otot pelvis dan
struktur penunjang yang berhubungan dengan
penuaan
b) Tekananan intra abdominal tinggi (obessitas)
c) Distensi kandung kemih
d) Otot pelvis dan struktur penunjang lemah
Tanda-tanda inkontinensia stress:
a) Adanya urine menetes dengan peningkatan
tekanan abdomen
b) Adanya dorongan berkemih
c) Sering miksi (lebih dari 2 jam sekali)
4) Inkontinensia Refleks
Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami
pengeluaran urine yang tidak dirasakan, terjadi pada
interval yang dapat diperkirakan bila volume kandung
kemih mencapai jumlah tertentu.
Kemungkinan penyebabnya yaitu kerusakan neurologis
(lesi medulla spinalis).
Tanda-tanda inkontinensia refleks:
a) Tidak ada dorongan untuk berkemih
b) Merasa bahwa kandung kemih penuh
c) Kontraksi atau spasme kandung kemih tidak
dihambat pada interval teratur
5) Inkontinensia fungsional
Merupakan keadaan seseorang yang mengalami
pengeluaran urine secara tanpa disadari dan tidak dapat
diperkirakan. Kemungkinan penyebabnya yaitu kerusakan
neurologis (lesi medulla spinalis).
Tanda-tanda inkontinensia fungsional:
a) Adanya dorongan untuk berkemih
b) Kontraksi kandung kemih cukup kuat untuk
mengeluarkan urine
c. Enuresis
Merupakan ketidaksanggupanmenahan kemih (mengompol) yang
diakibatkan tidak mampu mengontrol sfingter eksterna. Enuresis
biasanya terjadi pada anak atau orang jompo, umumnya pada
malam hari. Faktor penyebabnya adalah:
1) Kapasitas vesika urinaria lebih besar dari kondisi normal
2) Anak-anak yang tidurnya bersuara dan tanda-tanda dari
indikasi keinginan berkemih tidak diketahui, yang
mengakibatkan terlambatnya bangun tidur untuk ke kamar
mandi
3) Vesika urinaria peka rangsang dan seterusnya tidak dapat
menampung urine dalam jumlah besar
4) Suasana emosional yang tidak menyenangkan di rumah
(misalnya persaingan dengan saudara kandung atau
cekcok dengan orang tua)
5) Orang tua yang mempunyai pendapat bahwa anaknya
akan mengatasi kebiasaannya tanpa dibantu untuk
mendidiknya
6) Infeksi saluran kemih atau perubahan fisik atau neurologis
sistem perkemihan
7) Makanan yang banyak mengandung garam dan mineral,
atau makanan pedas
8) Anak yang takut jalan gelap untuk ke kamar mandi
d. Ureterotomi
Adalah tindakan operasi dengan jalan membuat stoma pada
dinding perut untuk drainase urin. Operasi ini dilakukan karena
adanya penyakit atau disfungsi pada kandung kemih.
6. Perubahan Pola Eliminasi Urine
a. Frekuensi
Frekuensi merupakan jumlah berkemih dalam sehari.
Meningkatnya frekuensi berkemih dikarenakan meningkatmya
jumlah cairan yang masuk.
b. Urgensi
Urgensi adalah perasaan seseorang untuk berkemih, takut
mengalami inkontinensia jika tidak berkemih.
c. Disuria
Disuria adalah rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal ini
sering ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih (ISK),
trauma, dan striktur uretra.
d. Poliuria
Merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh
ginjal tanpa adanya peningkatan asupan cairan. Hal ini biasanya
ditemukan pada penderita diabetes mellitus.
e. Urinaria supresi
Urinaria supresi adalah berhentinya produksi urine secara
mendadak. Secara normal, urine diproduksi oleh ginjal secara
terus menerus pada kecepatan 60-120 ml/jam.

B. Eliminasi Alvi

1. Pengertian Gangguan Eliminasi Alvi


Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau
berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar, mengakibatkan jarang buang air
besar, keras, feses kering. Untuk mengatasi gangguan eliminasi fekal biasanya
dilakukan huknah, baik huknah tinggi maupun huknah rendah. Memasukkan cairan
hangat melalui anus sampai ke kolon desenden dengan menggunakan kanul rekti.
2. Sistem tubuh yang berperan dalam eliminasi
Sistem tubuh yang memiliki peran dalam proses eliminasi alvi ( buang air besar ) adalah
sistem gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar.
a. Usus halus
Organ yang berperan di usus halus terdiri dari duodenum, jejenum, dan ileum.
Panjangnya kurang lebih 6 meter dan diameter 2,5 cm. Ini berfungsi sebagai
tempat absorbsi elektrolit Na, Cl, K, Mg, HCO3, dan kalsium.
b. Usus besar
Usus besar dimulai dari rektum, kolon, hingga anus yang memiliki panjang
kurang lebih 1,5 meter atau 50-60 inci dengan diameter 6cm. Usus besar
merupakan bagian bawah atau bagian ujung dari saluran pencernaan, dimulai
dari katup ileum caecum sampai ke dubur (anus).
Kolon berfungsi sebagai tempat absorbsi, proteksi, sekresi dan eliminasi.
Kolon sigmoid mengandung feses yang sudah siap untuk di buang dan di
teruskan ke dalam rektum. Proses perjanlanan makanan dari mulut hingga
rektum membutuhkan waktu selama 12 jam. Proses perjalanan makanan,
khususnya pada daerah kolon , memiliki beberapa gerakan di antaranya haustral
suffing atau di kenal dengan gerakan mencampur zat makanan dalam bentuk
padat untuk mengabsorbsi air.
3. Proses defekasi
Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut dengan buang air besar.
Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi yaitu terletak di medula dan
sumsum tulang belakang. Secara umum, terdapat dua macam reflek dalam membantu
proses defekasi yaitu refleks defekasi instrinsik dan refleks defekasi parasimpatis.
Refleks defekasi instrinsik dimuali dari adanya zat sisa makanan (feses) dalam rektum
sehingga terjadi distensi. Kemudian flexsus mesenterikus merangsang gerakan
peristaltik , dan akhirnya feses sampai di anus. Di mana proses defekasi terjadi saat
sfingter interna berelaksasi. Refleks defekasi parasimpatis di mulai dari adanya feses
dalam rektum yang merangsang saraf rektum kemudian ke spinal cord, merangsang ke
kolon desendens, ke sigmoid lalu rektum dengan gerakan peristaltik dan akhirnya terjadi
proses defekasi saat sfingter interna berelaksasi.
4. Masalah eliminasi alvi
a. Konstipasi
Merupakan dimana keadaan individu mengalami statis usus besar sehingga
jarang eliminasi atau feses menjadi keras.
1) Tanda klinis :
a) Adanya feses ang keras
b) Defekasi kurang dari 3 minggu kali seminggu
c) Menurunnya bisisng usus
d) Adanya keluhan pada rektum
e) Nyeri saat mengejan dan defekasi
f) Adanya persaan masih ada sisa feses
2) Kemungkinan penyebab :
a) Defek persarafan, kelemahan pelvis, imobilitas karena cedera
serebrospinalis, CVA, dll
b) Pola defekasi yang tidak teratur
c) Nyeri saat defekasi karena hemoroid
d) Menurunnya perisataltik karena stres psikologis
e) Proses penuaan
b. Konstipasi kolonik
Merupakan dimana keadaan individu mengalami perlambatan residu
makanan yang mengakibatkan feses kering dan keras.
1) Tanda klinis :
a) Adanya penurunan frekuensi eliminasi
b) Fesse kering dan keras
c) Mengejan saat defekasi
d) Nyeri defekasi
e) Nyeri abdomen
f) Adanya tekanan pada rektrum
2) Kemungkinan penyebab :
a) Defek persarafan, kelemahan pelvis, imobilitas karena cedera
serebrospinalis, CVA, dll
b) Pola defekasi tidak teratur
c) Menurunnya peristaltik

c. Konstipasi dirasakan
Merupakan di mana keadaan individu menentukan sendiri dalam penggunaan
laksatif, enema, supositoria dalam memastikan defekasi setiap hari.
1) Tanda klinis :
a) Adanya penggunaan laksansia setiap hari sebagai enema atau
supositoria secara berlebihan
b) Adanya dugaan pengeluaran feses pada waktu yang sama setiap
hari
2) Kemungkinan penyebab :
a) Persepsi salah akibat depresi
b) Keyakinan budaya
d. Diare
Merupakan dimana seseorang sering mengalami pengeluaran feses dalam
bentuk cair.
1) Tanda klinis :
a) Adanya pengeluaran feses cair
b) Frekuensi lebih dari 3 kali sehari
c) Nyeri/kram pada abdomen
d) Bising usus meningkat
2) Kemungkinan penyebab :
a) Malabsorbsi atau inflamasi, proses infeksi
b) Peningkatan peristaltik karena peningkatan metabolisme
c) Efek tindakan pembedahan usus
d) Stres psikologis
e. Inkontinensia usus
Merupakan keadaan individu yang mengalami perubahan defekasi yang
pengeluaran feses keluar sendiri tanpa disadari.
1) Tanda klinis :
a) Pengeluaran feses yang tidak di kehendaki
2) Kemungkinan penyebab :
a) Gangguan sfingter rektal akibat cedera anus
b) Distensi rektum berlebih
c) Kerusakan kognitif

f. Kembung
Dimana seseorang keadaan perutnya penuh udara atau pengumpulan gas
secara berlebih.
g. Hemorroid
Keadaan seseoang yang mengalami pelebaran vena didaerah anus.
h. Fecal impaction
Masa feses keras di lipatan rektum yang di akibatkan oleh retensi dan
akumulasi materi feses yang berkepanjangan.
5. Faktor yang mempengaruhi proses defekasi
a. Usia
b. Diet
c. Asupan cairan
d. Aktivitas
e. Pengobatan
f. Gaya hidup
g. Penyakit
h. Nyeri
i. Kerusakan sensoris dan motoris
II. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Eliminasi Urine
1. Pengkajian Keperawatan
a. Kebiasaan berkemih
Meliputi bagaimana kebiasaan berkemih serta hambatannya.
Frekuensi berkemih bergantung pada kebiasaan dan kesempatan.
Banyak orang berkemih setiap hari pada waktu bangun tidur dan
tidak memerlukan waktu untuk berkemih pada malam hari.
b. Pola berkemih meliputi :
1) Frekuensi berkemih
Frekuensi berkemih menentukan berapa kali individu
berkemih dalam waktu 24jam.
2) Urgensi
Perasaan seseorang untuk berkemih seperti seseorang
sering ke toilet karena takut mengalami inkontinensia jika
tidak berkemih.
3) Disuria
Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih. Keadaan
demikian dapat ditemukan pada striktur uretra, infeksi
saluran kemih, trauma pada vesika urinaria dan uretra.
4) Poliuria
Keadaan produksi urine yang abnormal dalam jumlah
besar tanpa adanya peningkatan asupan cairan.
5) Urinaria Supresi
Keadaan produksi urine yang berhenti secara mendadak.
Bila produksi kurang dari 100ml/hari dapat dikatakan
sebagai anuria, tetapi bila produksinya antara 100-
500ml/hari dapat dikatakan sebagai oliguria.
c. Volume Urine
Volume urine menentukan berapa jumlah urine yang dikeluarkan
dalam waktu 24 jam.
d. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan buang air kecil:
1) Diet dan asupan (diet tinggi protein dan natrium) dapat
memengaruhi jumlah urine yang dibentuk, sedangkan
minum kopi dapat meningkatan jumlah urine.
2) Gaya hidup
3) Stres psikologis dapat meningkatkan frekuensi keinginan
berkemih
4) Tingkat aktivitas
e. Keadaan urine, meliputi:
No Keadaan Normal Interpretasi
1. Warna Kekuning-kuningan Urine berwarna orange
gelap menunjukkan
adanya pengaruh obat,
sedangkan warna
merah dan kuning
kecoklatan
mengindikasi adanya
penyakit.
2. Bau Aromatik Bau menyengat
merupakan indikasi
adanya masalah
seperti infeksi atau
penggunaan obat
tertentu.
3. Berat jenis 1,010-1,030 Menunjukkan adanya
konsentrasi urine.
4. Kejernihan Terang dan Adanya kekeruhan
transparan karena mukus atau
pus.
5. pH Sedikit asam (4,5- Dapat menunjukkan
7,5) keseimbangan asam
basa; bila bersifat alkali
menunjukkan adanya
aktivitas bakteri.
6. Protein Molekul protein yang Pada kondisi
besar seperti: kerusakan ginjal,
albumin, fibrinogen, molekul tersebut dapat
atau globulin tidak melewati saringan
dapat disaring masuk ke urine.
melalui ginjal-urine.
7. Darah Tak tampak jelas Hematuria
menunjukkan trauma
atau penyakit pada
saluran kemih bagian
bawah.
8. Glukosa Adanya sejumlah Apabila menetap
glukosa dalam urine terjadinya pada pasien
tidak berarti bila diabetes mellitus.
hanya bersifat
sementara, misalnya
pada seseorang
yang makan gula
banyak
f. Tanda klinis gangguan eliminasi urine seperti tanda retensi urine,
inkontinensia urine, enuresis, dan lain-lain.
2. Diagnosis Keperawatan
a. Gangguan Eliminasi Urine berhubungan dengan :
1. Obstruksi anatomik
2. Penyebab multipel
3. Ggg sensori motorik
4. Infeksi saluran kemih
b. Retensi Urin berhubungan dengan:
1. tekanan ureter tinggi
2. inhibisi arkus reflek
3. sfingter kuat

3. Intervensi Keperawatan
a. Pelatihan kandung kemih
b. manajemen eliminasi urin : memelihara pola eliminasi urin yang
optimum
c. kateterisasi urine : memasang kateter ke dalam kandung kemih
d. perawatan retensi urin : membantu distensi kandung kemih

B. Eliminasi Alvi
1. Pengkajian
a. Pola defekasi dan keluhan selama defekasi
Pengkajian ini antara lain : bagaimana pola defekasi dan keluhannya selama
defekasi.
b. Keadaan feses
No Keadaan Normal Abnormal Penyebab
1. Warna Bayi : kuning Putih, Kurangnya kadar
hitam/tar, empedu,pendarahan
atau merah saluran cerna
bagian atas maupun
bawah
Dewasa : Pucat Malabsorbsi lemak
cokelat berlemak
2. Bau Khas feses Amis dan Darah dan infeksi
dan di perubahan
pengaruhi bau
oleh
makanan
3. Konsistensi Lunak dan cair Diare dan absorbsi
berbentuk kurang
4. Bentuk Sesuai Kecil, Obstruksi dan
diameter bentuknya peristaltik yang
rektum seperti pensil cepat
5. Konstituen Makanan Darah, pus, Internal bleeding,
yang tidak benda asing, infeksi, tertelan
dicerna, mukus, atau benda, iritasi, dan
bakteri yang cacing inflamasi
mati, lemak,
pigmen
empedu,
mukosa
usus, air

c. Faktor yang mempengaruhi eliminasi alvi


Faktor yang mempengaruhi antara lain perilaku atau kebiasaan defekasi, diet,
makanan yang biasa di makan, makanan yang di hindari, pola makan yang teratur
atau tidak, cairan, aktivitas, pengobatan dan sres.
d. Pemeriksaan fisik
Meliputi keadaan abdomen seperti ada dan tidaknya distensi, simentris tidak,
gerakan peristaltik, adanya masa pada perut dan tenderness.
2. Diagnosa keperawatan
a. Konstipasi berhubungan dengan :
1) Defek persarafan, kelemahan pelvis, imobilitas akibat cedera medula
spinalis
2) Penurunan respons berdefekasi
3) Nyeri akibat hemoroid
4) Efek samping tindakan pengobatan
5) Menurunnya peristaltik akibat stres
b. Konstipasi kolonik berhubungan dengan :
1) Defek persarafan, kelemahan pelvis, imobilitas akibat cedera medula spinalis
2) Penurunan laju metabolisme akibat hipotiroidime dan hiperparatiroidisme
3) Efek samping tindakan pengobatan
4) Menurunnya peristaltik akibat stres
5) Konstipasi dirasakan berhubungan dengan :
6) Kurangynya informasi akibat keyakinan budaya
7) Diare berhubungan dengan :
8) Peningkatan peristaltik akibat peningkatan metabolisme
9) Proses infeksi
10) Efek samping tindakan pengobatan
11) Stres psikologis
12) Inkontinensia usus berhubungan dengan :
13) Gangguan sfinter rektal akibat cidera rektum atau pembedahan
14) Distensi rektu akibat konstipasi kronis
15) Kerusakan kognitif
c. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan pengeluaran cairan yang
berlebihan (diare)

3. Perencanaan keperawatan
Tujuan :
a. Memahami arti eliminasi secara normal
b. Mempertahankan asupan makanan dan minuman cukup
c. Membantu latihan secara teratur
d. Mempertahankan kebiasaan defekasi secara teratur
e. Mempertahankan defekasi secara normal
f. Mencegah gangguan integritas kulit

Rencana tindakan :

a. Kaji perubahan faktor yang mempengaruhi masalah eliminasi


b. Kurangi faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah seperti :
1) Konstipasi secara umum
a) Membiasakan pasien untuk buang air secara teratur
b) Meningkatkan asupan cairan dengan banyak minum
c) Diet yang seimbang
d) Melakukan latihan fisik
e) Mengatur posisi yang baik untuk buang air besar
f) Anjurkan untuk tidak memaksakan diri untuk BAB
g) Berikan obat laksatif
h) Lakukan enema
2) Konstipasi akibat nyeri
a) Tingkatkan asupan cairan
b) Diet tinggi serat
c) Tingkatkan latihan setiap hari
d) Berikan pelumas di sekitar anus
e) Kompres dingin di sekitar anus
f) Berikan pelunak feses
3) Konstipasi kolonik akibat perubahan gaya hidup
a) Berikan stimulus untuk defekasi
b) Bantu pasien menggunakan pispot
c) Gunakan kamar mandi bila memungkinkan
d) Ajarkan latihan fisik
e) Tingkatkan diet tinggi serat
4) Inkontinensia usus
a) Pada waktu tertentu , 2 atau 3 jam letakkan pispot di bawah paaien
b) Berikan latihan BAB
c) Untuk mengurangi rasa malu pasien, perlu di dukung semangat pengertian
perawatan khusus
c. Jelaskan mengenai eliminasi yang normal kepada pasien
d. Pertahankan asupan makanan dan minuman
e. Bantu defekasi secara manual
f. Bantu latihan BAB, dengan cara :
1) Kaji pola eliminasi normal dan catat waktu ketika inkontinensia terjadi
2) Pilih waktu defekasi untuk mengukur kontrolnya
3) Berikan obat pelunak feses (oral) atau katartik supositoria setengah jam sebelum
waktu defekasi ditentukan
4) Anjurkan pasien untuk minum air hangat atau jus buah sebelum waktu defekasi
5) Bantu pasien ke toilet
6) Jaga privasi pasien dan batasi waktu defekasi
7) Instruksikan pasien untuk duduk di toilet, gunakan tangan untuk menekan terus
ke bawah dan jangan mengeden untuk merangsang pengeluaran feses
8) Jangan di marahi pasien ketika tidak mampu defekasi
9) Anjurkan makan secara teratur dengan asupan air dan serat yang adekuat
10) Pertahankan latihan secara teratur jika fisik pasien mampu
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz.2006. PENGANTAR KEBUTUHAN DASAR MANUSIA, Aplikasi Konsep


dan Proses Keperawatan Buku 2. Jakarta: Salemba Medika