Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS JURNAL KEPERAWATAN

A. Alasan Pengambilan Judul


Jurnal yang berjudul “Etnobotani Tanaman Antipiretik
Masyarakat Dusun Mesu Boto Jatiroto Wonogiri Jawa Tengah”. Demam
merupakan salah satu gangguan kesehatan yang hampir pernah dirasakan
oleh setiap orang. Demam ditandai dengan kenaikan suhu tubuh di atas suhu
tubuh normal yaitu 36-37 ℃ , yang diawali dengan kondisi menggigil pada
saat terjadi peningkatan suhu, dan setelah itu terjadi kemerahan pada
permukaan kulit. Pengaturan suhu tubuh terdapat pada bagian otak yang
disebut hipotalamus.
Komentar dari alasan pengambilan judul, dimana dilihat dari
lingkungan Dusun Mesu Boto Jatiroto Wonogiri Jawa Tengah yang memiliki
33 spesies tanaman yang tumbuh di pekarangan yang terdiri dari tanaman
bunga, empon-empon, sayuran, tanaman buah, tanaman perkebunan dan
beberapa tanaman penghasil kayu. Diantara spesies tanaman tersebut banyak
yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat. Sehingga peneliti
berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan mengelompokkan tanaman
obat yang dapat dijadikan sebagai obat antipiretik. Tujuan disini adalah untuk
memanfaatkan tanaman di sekitar masyarakat agar mampu dikelola dengan
baik dan dapat dijadikan pilihan sebagai tanaman obat selain pengobatan
medis, disamping itu juga untuk membantu dalam segi ekonomi masyarakat
setempat.

B. Judul
Jurnal yang dianalisis berjudul “Etnobotani Tanaman Antipiretik
Masyarakat Dusun Mesu Boto Jatiroto Wonogiri Jawa Tengah”. Dari
judul secara umum sudah memenuhi kriteria judul sebuah jurnal yang baik,
yaitu jurnal sudah singkat, tidak menggunakan kalimat yang terlalu panjang,
jika judul terlalu panjang, dapat dibuat judul utama dan judul tambahan
(subjudul). kemudian sudah sesuai dengan isi dari penelitian dan judul sudah
menarik untuk dilakukan penelitian. Judul jurnal sudah menggambarkan garis

1
besar atau inti dari jurnal, sudah menggambarkan variable yang diteliti, dan
judul jurnal sudah kurang dari 15 kata. Penelitian ini dilakukan pada tahun
2018, namun oleh peneliti tidak dicantumkan pada judul.Alangkah lebih baik
jika pada judul dicantumkan tahun penelitian dilakukan.

C. Penulis (Peneliti) dan Alamat


Penulis atau peneliti dari jurnal ini yaitu :
1. Arum Suproborini
2. Mochamad Soeprijadi Djoko Laksana
3. Dwi Fitri Yudiantoro
Dalam menganlisis dari identitas penulis (peneliti) perlu ada
beberapa yang harus diperhatikan yaitu kelengkapan dari identitas jurnal
seperti waktu penerbitan dari jurnal, identitas perguruan tinggi dari peneliti
(penulis), dan kontak peneliti baik dari No. Telepon ataupun alamat email.

D. Abstrak
Dalam menganalisis bagian abstrak dari jurnal ada beberapa
komponen dari abstrak yaitu dimulai dari tujuan penelitian adalah untuk
mengetahui tanaman pekarangan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
sebagai obat penurun panas (antipiretik). Metode penelitian yang digunakan
adalah metode survey. Lokasi pengamatan dan pengambilan sampel tanaman
dilakukan dengan teknik purposive random sampling yaitu dengan membuat
plot petak ukuran 2x2 meter, 5x5 meter (menyesuaikan lokasi lahan).
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan terdapat 8 spesies tanaman
antipiretik yaitu kunyit (Curcuma domestica), pepaya (Carica papaya), dadap
(Erythrina sp), bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis), rambutan (Nephelium
lappaceum), pisang (Musa paradisiaca), sirsak (Annona muricata), dan
bengkuang (Pachirrhyzus erosus) yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
setempat.
Pada abstrak tidak dicantumkan desain penelitian dan waktu
penelitian. Namun menurut kami desain penelitian yang seharusnya
digunakan yaitu Ethnographic Research yaitu penelitian yang memfokuskan

2
diri pada budaya dari sekelompok orang. Pengobatan tradisional merupakan
bagian dari sistem budaya masyarakat yang manfaatnya sangat besar dalam
pembangunan kesehatan masyarakat. WHO mendukung gerakan untuk back
to nature dengan merekomendasi penggunaan obat herbal dalam
pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan untuk pengobatan
berbagai macam penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit
degeneratif dan kanker (Novri, dkk., 2011).
Jumlah kata dari abstrak tidak melebihi dari 200 kata. Kata kunci
terdiri dari 3 kata dan idealnya tidak melebihi dari 5 kata. Kata kunci sudah
menggunakan kata dari umum ke spesifik. Dari penelitian ini metode yang
digunakan adalah metode survey, menurut kami metode yang digunakan
sudah sesuai dengan penelitian ini dikarenakan perlu adanya pengamatan
dalam memilih tanaman sebagai obat antipiretik.

E. Pendahuluan
Dilihat dari studi pada pendahuluan ditemukan “Seriousness of the
problem atau keseriusan masalah yaitu sediaan antipiretik sintetik yang
banyak dikonsumsi untuk menurunkan demam, diantaranya adalah
parasetamol (Leonis, M.A. et al., 2013), ibuprofen (Nayudi,S.H. et al.,
2013) dan aspirin (Yusri, D.J. dkk., 2015) sering kali berdampak pada mual,
muntah, nyeri, dan kerusakan organ, terutama hati atau hepatotoksisitas.
Mengingat kerugian yang ditimbulkan oleh parasetamol, ibuprofen,dan
aspirin, masyarakat mulai mengurangi penggunaan sediaan antipiretik
sintetik tersebut dan mulai beralih ke tanaman yang berkhasiat antipiretik.
Tanaman obat dinilai mempunyai keamanan yang relatif tinggi dengan
tingkat efektivitas yang tidak kalah dengan sediaan antipiretik sintetik.
Dilihat dari studi pada pendahuluan ditemukan “Magnitude atau
besar masalah dapat dilihat dari efek samping dari pengobatan medis yang
apabila dikonsumsi secara terus menerus dapat mengakibatkan seperti mual,
pusing, nyeri, kerusakan organ, dll. Pengobatan medis bukan merupakan
penanganan yang tidak baik, melainkan perlu diketahui bahwa ada banyak
alternative yang dapat dimanfaatkan terutama tanaman yang ada disekitar

3
perkarangan rumah penduduk setempat sebagai penanganan awal dalam
menurunkan demam.
Dilihat dari studi pada pendahuluan ditemukan ”Manageability atau
penyelesaian masalah yaitu dengan meneliti tanaman pekarangan
masyarakat dusun Mesu yang berkhasiat sebagai tanaman penurun panas
(antipiretik). Tanaman berkhasiat antipiretik itu pada umumnya mempunyai
aktivitas yang menghambat enzim cyclooxygenase (COX). Menurut
Andriana, D. (2007) bahwa flavonoid sebagai senyawa bahan alam yang
dihasilkan tanaman memiliki berbagai macam bioaktivitas, diantaranya
adalah efek antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Flavonoid bekerja
sebagai inhibitor cyclooxygenase (COX). Cyclooxygenase (COX) akan
menghambat pembentukan prostaglandin sehingga tidak terjadi demam.
Di dalam studi pendahuluan tidak dicantumkan bagaimana peran
pemerintah dalam penelitian ini. Selain itu, kebijakan-kebijakan pemerintah
juga tidak dicantumkan dalam penelitian ini. Alangkah lebih baik jika
peranan dan kebijakan pemerintah juga dijabarkan dalam suatu penelitian.

F. Metode Penelitian
Pada metode penelitian, jenis penelitian yang digunakan adalah
jenis penelitian survey, yang merupakan penggunaan sampel sebagai sumber
data primer yang dalam penelitian ini adalah tanaman. Tanaman yang
digunakan sebagai sampel adalah 8 spesies tanaman antipiretik yaitu kunyit
(Curcuma domestica), pepaya (Carica papaya), dadap (Erythrina sp), bunga
sepatu (Hibiscus rosasinensis), rambutan (Nephelium lappaceum), pisang
(Musa paradisiaca), sirsak (Annona muricata), dan bengkuang (Pachirrhyzus
erosus) yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Dari hasil
penelitian didapatkan kandungan flavonoid sebagai senyawa bahan alam
yang dihasilkan tanaman memiliki berbagai macam bioaktivitas, diantaranya
adalah efek antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Flavonoid bekerja
sebagai inhibitor cyclooxygenase (COX). Cyclooxygenase (COX) akan
menghambat pembentukan prostaglandin sehingga tidak terjadi demam.

4
Menurut kami rancangan penelitian pada jurnal ini adalah
deskriptif, yang merupakan penelitian yang dapat menggambarkan
kandungan dan manfaat tanaman pekarangan sebagai antipiretik. Tempat
penelitiannya adalah di Dususn Mesu Boto Jatiroto Wonogiri Jawa Tengah,
namun tidak dicantumkan waktu penelitian dilakukan.
Kriteria sampel penelitian dari jurnal ini adalah tanaman yang ada
disekitar rumah warga yaitu ditemukan 33 populasi tanaman, kemudian
diambil 8 sampel tanaman yang diteliti sebagai alternative obat antipiretik.
Metode analisa data yang digunakan adalah dengan metode survey
ke lapangan dengan mengambil sampel kemudian menguji kandungan
tanaman tersebut, juga menggunakan metode kajian pustaka dengan
mengumpulkan data-data kepustakan baik dari buku dan jurnal ilmiah.

G. Teknik Pengambilan Data


Dalam menganalisis teknik pengambilan data yang digunakan untuk
pengumpulan data dengan observasi lapangan pada setiap lokasi pengamatan.
Lokasi pengamatan dan pengambilan sampel dilakukan di pekarangan
pemukiman penduduk yang melakukan pengolahan emas. Pengambilan
sampel dengan menggunakan metode survey dengan teknik purposive
random sampling. Metode ini dilakukan dengan membuat plot petak
menggunakan rafia dengan ukuran 2x2 meter, 5x5 meter dan 10x10 meter
(menyesuaikan lahan) diletakkan di sekitar tailling mengikuti aliran air
pembuangan penggolahan emas, semuanya ada 19 plot sampling dengan luas
total 0,1 ha. Di masing-masing plot pengamatan dicatat jenis tanaman yang
berkhasiat sebagai tanaman antipiretik (penurun panas). Menurut kami teknik
pengambilan data pada jurnal ini menggunakan observasi. Tentunya teknik
yang digunakan menurut kami tepa, karena teknik observasi peneliti dapat
menentukan dan melakukan uji coba khasiat tanaman sebagai obat
antipiretik.

5
H. Instrumen Penelitian
“Instrument yang digunakan untuk pengumpulan data adalah buku
catatan lapangan, polpen, tali rafia, pathok kayu, kamera, GPS (Global
Positioning System) merk Tom Tam VIA 260.
Dilihat dari analisis studi instrument penelitian, peneliti kurang jelas
dalam menjabarkan instrument penelitian. Karena penelitian ini dapat
dikategorikan penelitian kepustakaan sehingga perlu ditambahkan instrument
berupa dokumentasi jurnal – jurnal ilmiah yang berkaitan dengan penelitian
etnobotani tentang obat antipiretik .

I. Hasil dan Bahasan


Hasil dari penelitian ini adalah didapatkan 8 spesies tanaman yang
berkhasiat sebagai tanaman antipiretik, yaitu Kunyit (Curcuma domestica)
Rimpang kunyit merupakan salah satu tanaman herbal yang dapat digunakan
sebagai obat demam, berdasarkan hasil penelitian Dewi, K. dkk. (2014),
terdapat pengaruh pemberian ekstrak rimpang kunyit terhadap suhu tubuh
tikus putih yang diberi vaksin DPT. Dilihat dari nilai deskriptif, penurunan
terbesar terjadi pada kelompok maserasi dosis 2 yaitu sebesar 2,33ºC.
Pepaya (Carica papaya) Khasiat daun pepaya diyakini masyarakat
bisa mengatasi demam, Berdasarkan hasil penelitian Yapian,S.A.dkk.(2012),
hasil uji efek antipiretik ekstrak daun pepaya pada tikus Wistar yang diamati
selama 120 menit, dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan
dosis 200mg/kg BB dapat memberikan efek antipiretik pada tikus Wistar,
namun efek antipiretiknya lebih rendah dibandingkan dengan parasetamol.
Dadap serep (Erythrina lithosperma Miq) Uji fitokimia dari
berbagai bagian pada tanaman dadap serep dilaporkan memiliki kandungan
saponin, flavonoid, polifenol, tannin, dan alkaloid, kandungan zat-zat tersebut
inilah yang membuat tanaman dadap serep memiliki fungsi sebagai
antimikroba, antiinflamasi, antipiretik, dan antimalaria (Desianti, 2007).
Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) untuk menurunkan
demam malaria caranya adalah dengan cara merebus 50 gram daun kembang
sepatu dengan ½ liter air bersama dengan ½ lembar daun pepaya dan

6
ditambahkan 10 gram garam inggris. Campuran tersebut direbus hingga
mendidih, kemudian disaring dan diminum airnya selagi masih hangat
(Hilwannisa, H.U., 2016).
Rambutan (Nephelium lappaceum ) Hasil penelitian Swantara,
I.M.D. dkk. (2017) menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah rambutan
mempunyai aktivitas antipiretik terhadap tikus jantan galur wistar terinduksi
ragi pada semua dosis yang diujikan yaitu 5 mg/100 g BB; 10 mg/100 g BB;
dan 20mg/100 g BB. Kandungan fenol total dalam ekstrak etanol kulit buah
rambutan sebesar 39,7861 g GAE/ 100 g atau 39,78 %.
Pisang (Musa paradisiaca) Hasil penelitian Maya, S.W. dkk.
(2015) menunjukkan bahwa air batang pisang kepok: mengandung senyawa
fitokimia tanin, alkaloid dan saponin serta memiliki efek antipiretik dimana
penurunan suhu dari jam 1-4 pada dosis 0,37 mL/200g BB yaitu dari 37,1-
35,0, pada dosis 0,75mL/200g BB penurunan suhu dari 36,5-34,8 sedangkan
pada dosis 1,5 mL/200g BB mengalami penurunan suhu dari 35,0-34,1
Sirsak (Annona muricata) Berdasarkan hasil penelitian terhadap
sampel ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) maka dapat disimpulkan
bahwa ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) memiliki efek antipiretik
terhadap mencit (Mus musculus). Efek antipiretik ekstrak daun sirsak
(Annona muricata L.) mempunyai perbedaan efektifitas yaitu pada
konsentrasi 60% dibandingkan konsentrasi 20% dan 40% (Viani dan Hijratul,
2016).
Bengkuang (Pachirrhyzus erosus) Berdasarkan hasil penelitian
Zulfa, N.R.A., dkk. (2017) menunjukkan bahwa ekstrak air umbi bengkuang
memiliki efek antipiretik pada mencit model hiperpireksia. Dosis 145,6 mg /
20 g BB / kali memberikan efek antipiretik yang paling efektif dengan mula
kerja 30 menit dan durasi kerja 90 menit.
Menurut kami dari hasil penelitian yang dilakukan, sudah cukup
lengkap karena sudah menyertakan jumlah atau dosis penggunaan dari
tanaman-tanaman tersebut, sudah mencantumkan seberapa besar
keefektifannya, sudah mencantumkan sumber-sumber jurnal penelitian yang
berkaitan dengan penelitian ini.

7
J. Simpulan dan Saran
Simpulan pada jurnal penelitian ini yaitu “Tanaman yang berkhasiat
sebagai antipiretik mengandung metabolit sekunder fenolik yang merupakan
golongan senyawa flavonoid.”.
Dari simpulan tersebut, menurut kami kurang lengkap dalam
menjabarkan kesimpulan dari jurnal, perlu ditambahakan tanaman apa saja
yang termasuk mengandung senyawa flavonoid sehingga dapat
memudahkan pembaca dalam mengetahui tanaman apa saja sebagai obat
antipiretik. Dan menurut kami, semua sumber jurnal ilmiah yang
dicantumkan pada penelitian ini mendukung dalam penggunaan 8 tanaman
sebagai alternative obat antipiretik.
Pada saran “Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui
keanekaragaman tanaman obat di pekarangan yang berpotensi sebagai
antidepresan sehingga masyarakat menjadi lebih relaxs dan tidak mudah
stress”. Menurut kami saran yang dicantumkan pada jurnal sangat bagus
untuk kemajuan penelitian selanjutnya dan untuk mengembangkan
alternative baru dalam penangan pada bidang lain seperti antidepresan.

K. Kaidah Penulisan
Kaidah penulisan menurut tata cara penulisan artikel penelitian dikti
sebagai berikut :
1. Judul dan Nama Penulis
a. Judul dicetak dengan huruf besar/capital, dicetak tebal (bold)
dengan jenis huruf Times New Roman font 12, spasi tunggal
dengan jumlah kata maksimum 15
b. Nama penulis ditulis di bawah judul tanpa gelar, tidak boleh
disingkat, di awali dengan huruf kapital, tanpa diawali dengan
kata ”oleh”, urutan penulis adalah penulis pertama diikuti oleh
penulis kedua, ketiga dan seterusnya.
c. Nama perguruan tinggi dan alamat surel (email) semua penulis
ditulis di bawah nama penulis dengan huruf Times
NewRomanfont10

8
Dalam penulisan judul jurnal dalam penelitian “ETNOBOTANI
TANAMAN ANTIPIRETIK MASYARAKAT DUSUN MESU
BOTO JATIROTO WONOGIRI JAWA TENGAH”. Sudah
dicetak dengan huruf kapital dan dicetak tebal, sudah mengguakan
jenis huruf Time New Roman dengan font 12 dan jumlah kata tidak
melebihi 15 kata. Nama penulis sudah ditulis dibawah judul tanpa
gelar, dan tanpa penyingkatan nama.

2. Abstrak
a. Abstract ditulis dalam bahasa Inggris, berisi tentang inti
permasalahan atau latar belakang penelitian, cara penelitian atau
pemecahan masalah, dan hasil yang diperoleh. Kata abstract
dicetak tebal (bold).
b. Jumlah kata dalam abstract tidak lebih dari 250 kata dan diketik 1
spasi.
c. Jenis huruf abstract tadalah Times New Romanfont 11, disajikan
dengan rata kiri dan rata kanan, disajikan dalam satu paragraph,
dan ditulis tanpa menjorok (indent) pada awal kalimat.
d. Abstract dilengkapi dengan Keywords yang terdiri atas 3-5 kata
yang menjadi inti dari uraian abstraksi. Kata Keywords dicetak
tebal (bold).
Dalam penulisan abstak dalam jurnal penelitian ini sudah
memenuhi kaidah-kaidah penulisan menurut tata cara penulisan
artikel penelitian dikti.

3. Aturan Umum Penulisan Naskah


a. Setiap sub judul ditulis dengan huruf Times New Roman font 11
dan dicetak tebal (bold).
b. Alinea baru ditulis menjorok dengan indent-first line 0,75 cm,
antar alinea tidak diberi spasi.
c. Kata asing ditulis dengan huruf miring.

9
d. Semua bilangan ditulis dengan angka, kecuali pada awal kalimat
dan bilangan bulat yang kurang dari sepuluh harus dieja.
e. Tabel dan gambar harus diberi keterangan yang jelas, dan diberi
nomor urut.
Dalam penulisan naskah dalam jurnal penelitian ini sudah
memenuhi kaidah-kaidah penulisan menurut tata cara penulisan
artikel penelitian dikti.

L. Refrensi
Penulisan pustaka menurut tata cara penulisan artikel penelitian dikti
sebagai berikut :
1. Buku
Penulis 1, Penulis 2 dst. (Nama belakang, nama depan disingkat).
Tahun publikasi. Judul Buku cetak miring. Edisi, Penerbit. Tempat
Publikasi.
2. Artikel jurnal
Penulis 1, Penulis 2 dan seterusnya, (Nama belakang, nama depan
disingkat). Tahun publikasi. Judul artikel.Nama Jurnal Cetak Miring.
Vol. Nomor. Rentang Halaman.
3. Prosiding Seminar/Konferensi
Penulis 1, Penulis 2 dst, (Nama belakang, nama depan disingkat).
Tahun publikasi. Judul artikel. Nama Konferensi. Tanggal, Bulan
danTahun, Kota, Negara. Halaman.
4. Tesis atau Disertasi
Penulis (Namabelakang, namadepandisingkat). Tahunpublikasi.
Judul.Skripsi, Tesis, atauDisertasi.Universitas.
5. Sumber Rujukan dari Website
Penulis. Tahun. Judul.Alamat Uniform Resources Locator
(URL).Tanggal Diakses.
Dari semua daftar pustaka yang dicantumkan dalam jurnal ini
secara umum sudah memenuhi kaidah-kaidah penulisan pustaka menurut
tata cara penulisan artikel penelitian dikti.

10
M. Implikasi Keperawatan
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan untuk tenaga
kesehatan dalam perkembangan ilmu sebagai alternative perawatan untuk
pasien khususnya pasien yang mengalami Hipertermi. Diharapkan juga bagi
masyarakat untuk lebih memanfaatkan toga sebagai penanganan awal dalam
menangani hipertermi. Sebagai perawat harus menjelaskan kepada pasien
beserta anggota keluarganya mengenai perawatan tindak lanjut dan berbagai
tindakan darurat yang harus dilakukan kepada pasien tersebut.

N. Kesimpulan Jurnal
Dari keseluruhan jurnal penelitian ini menurut kami cukup baik, dari
judul menarik untuk lebih mendalami mengetahui isi dari jurnal. Dari segi
dunia kesehatan, ini merupakan perkembangan ilmu dalam perawatan pasien.
Dari penelitian ini dapat menambah alternative penyembuhan dalam
penurunan suhu tubuh.
Menurut kami ada beberapa kekurangan dari jurnal ini antara lain :
dari judul jurnal tidak mencantumkan tahun dilakukan penelitian, dalam
pembuatan abstrak tidak dicantumkan desain penelitian dan waktu penelitian,
dalam pendahuluan peran pemerintah dan kebijakan pemerintah tidak
dijabarkan, dan penulis hanya menjelaskan beberapa cara dalam pembuatan
herbal. Selain kekurangan ada pula kelebihan dari jurnal ini yaitu dari judul
sesuai dengan isi penelitian, dari pendahuluan dalam penelitian ini sudah
menjelaskan mengapa penelitian ini penting dilakukan, penyajian data sudah
dalam bentuk kalimat dan table sehingga mempermudah pembaca memahami
isi dari hasil penelitian.

O. Rekomendasi
Pada dasarnya tanaman disekitar kita memiliki banyak sekali
manfaat baik dibidang kesehatan dan maupun dibidang pangan. Seperti pada
hasil penelitian ini ditemukan 8 jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai
alternative pengobatan hipertermi sesuai dengan cara pengolahan pada
masing-masing tanaman. Maka dari itu, kami sebagai pembaca dan

11
menganalisis jurnal ini menganjurkan kepada masyarakat untuk lebih
memanfaatkan tanaman disekitar untuk penanganan awal untuk menurunkan
hipertermi.

12