Anda di halaman 1dari 18

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA

PROGRAM STUDI D-III ANALIS FARMASI & MAKANAN FMIPA


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS MAKANAN DAN MINUMAN II

PERCOBAAN III
PENETAPAN KADAR KARBOHIDRAT

Disusun Oleh :
Yuni Elmaya Santi
1601011320027
Kelompok II

PROGRAM STUDI D-III ANALIS FARMASI & MAKANAN


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2018
LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA
PROGRAM STUDI D-III ANALIS FARMASI & MAKANAN FMIPA
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

PERCOBAAN III
PENETAPAN KADAR KARBOHIDRAT

Asisten Nilai Laporan Awal Nilai Laporan Akhir

Tanggal Praktikum : Tanggal Dikumpul :


Nadia Azarin 19 Oktober 2018 9 November 2018

PROGRAM STUDI D-III ANALIS FARMASI & MAKANAN


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2018
PERCOBAAN III
PENETAPAN KADAR KARBOHIDRAT

I. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan kandungan karbodirat yang
terdapat pada beberapa bahan makanan dan untuk mengetahui prinsip metode
penetapan kadar karbodirat dengan metode luff-schoorl.

II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Dasar Teori
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik
diolah maupun tidak diolah, yang ditunjukan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia, termasuk bahan tambangan pangan, bahan baku pangan, dan
bahan lain digunakan untuk proses penyiapan, pengolahan dan pembuatan
makanan atau minuman. keamanan pangan adalah kondisi dan upaya untuk
mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan lain yang dapat
menganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Pangan yang
aman serta bermutu dan bergizi tinggi sangat berperan penting peranannya bagi
pertumbuhan, pemeliharaan, dan peningkatan derajat kesehatan dan kecerdasan
masyarakat. Sistem pangan yang ada berhubungan dengan peraturan, pembinaan,
atau pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi pangan wajib memenuhi
persyaratan sanitasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Sanitasi makanan adalah usaha untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya
jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan, dan
bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan manusia ini meliputi
kebersihan dan kesehatan (Saparinto & Hidayati, 2006).
Tujuan utama seseorang mengonsumsi makanan adalah memeberi zat gizi
bagi tubuh yang digunakan untuk mempertahankan hidup. Tetapi manusia juga
menggunakan makanan untuk nilai sosial, karena penggunaannya telah
melembaga sebagai alat untuk menghubungkan seseorang dengan orang lain.
Karna itu makanan dalam setiap lingkungan masyarakat memiliki aspek gizi dan
sosial. Setiap bahan pangan yang dikonsumsi harus dapat memperbaiki fisiologi
tubuh tetapi tidak bertentangan dengan kepercayaan atau tradisi sosial dan
kebiasaan makan dari lingkungan masyarakat (Gidarjo & Indriati 2013).
Karbohidrat adalah senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon (C)
,hidrogen (H) dan oksigen (O) yang terbentuk dari peristiwa fotosintesis pada
tumbuhan. Karbohidrat memiliki peran sebagai sumber energi utama bagi
manusia untuk melakukan aktivitasnya. Penanganan, penyimpanan, dan
pengawetan bahan pangan sering menyebabkan terjadinya perubahan nilai gizi
salah satunya adalah karbohidrat. Proses pengolahan tersebut dapat bersifat
menguntungkan terhadap karbohidrat yang terkandung dalam bahan pangan
tersebut, yaitu perubahan kadar kandungan karbohidrat dan peningkatan daya
cerna. Proses pemanasan bahan pangan dapat meningkatkan ketersediaan
menyatakan bahwa mengkonsumsi kadar karbohidrat yang tinggi secara terus
menerus akan mempengaruhi kesehatan, karena kelebihan karbohidrat akan berisiko
terkena penyakit jantung, obesitas, dan berbahaya bagi penderita diabetes
(Widhyasari et al., 2017).
Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan,
mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas,mengemas kembali dan atau
mengubah bentuk pangan. Setiap usaha produksi pangan harus bertanggung jawab
dalam penyelenggaraan kegiatan proses produksi atau rantai pangan yang meliputi
proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan. Hal – hal
yang harus diperhatikan dalam proses produksi pangan yaitu mencegah
tercemarnya makanan oleh cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat
menganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan konsumen. Mematikan
atau mencegah hidupnya jasad teknik pathogen, serta mengurangi jumlah renik
lainnya. Mengendalikan proses, antara lain pemilihan bahan baku, penggunaan
bahan tambahan pangan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan
pengangkutan dan cara penyajian (Saparinto & Hidayati, 2006).
Monosakarida (C6H12O6) karbohidrat yang tersusun atas gugusan atau
gula paling sederhana terdiri dari molekul tunggal. Jumlah atom karbon dimiliki
dapat dibagi menjadi Triosa (3-karbon), Tetrosa (4-karbon), Pentosa (5-karbon),
Heksosa (6-karbon) yang terakhir merupakan gula terpenting dalam wujud
glukosa, galaktosa, dan friuktosa. Glukosa merupakan gula yang paling penting
bagi metabolisme tubuh, lebih dikenal sebagai gekstora (gula fisiologis),
bentuknya yang jadi ditemukan dalam bua-buahan, jagung manis, sejumlah akar-
akaran, dan madu. Selain itu sumber glukosa dihasilkan sebagai hasil cernaan pati.
Sebagai sumber yang normal, glukosa ditemukan dalam peredaran darah. Fruktosa
dikenal sebagai levulosa atau zat gula yang paling manis jika dibandingkan
dengan glukosa dan galaktosa. Oligosakarida terdiri dari disakarida, trisakarida
dan tetrasakarida. Dengan demikian maka ke dalam kelompok oligosakarida
termasuk gula yang mengandung 2 sampai 10 molekul gula sederhana, jelasnya
sebagai berikut :
a. disakarida (C12H22O11) sebagai contoh :
- sukrosa atau gula meja tersusun atas molekul glukosa dan fruktosa,
sebagai sumbernya yaitu molasis, sorghum, sering pula disebut gula tebu.
- maltosa atau gula malt/biji, berasal dari hasil pencernaan pati dengan
melibatkan enzim diastase, sebagai sumbernya biji-bijian yang dibuat
kecambah jadi maltosa tidak ditemui di alam bebas
b. trisakarida (C18H32O16) sebagai sumbernya umbi bit, madu.
c. tetrasakarida (C21H42O21) sebagai sumbernya bit dan kacang polong.
(Kartasapoetra & Marsetyo, 2005).
Penentuan kadar karbohidrat terdiri dari beberapa metode yaitu metode
Enzimatis (Glukosa Oksidase dan Heksokinase), metode Fisika (Refraktometri),
dan metode Kimia (Titrasi, Cara Luff Schoorl, dan Spektrofotometri) (Widhyasari
et al., 2017). Larutan Luff Schoorl mengandung ion Cu2+. Gula pereduksi seperti
glukosa dan fruktosa akan mereduksi CuO menjadi Cu2O. Tahapan reaksi yang
terjadi pada penetapan kadar gula dengan metode Luff Schoorl adalah sebagai
berikut:
R-CHO + 2CuO Cu2O + R-COOH
H2SO4 + CuO CuSO4 + H2O
CuSO4 + 2 KI CuI2 + K2SO4
2 CuI2 Cu2I2 + I2
I2 + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2 NaI
Kadar gula pereduksi ditunjukkan oleh kadar gula sebelum inversi, sedangkan
kadar sukrosa ditunjukkan oleh selisih kadar gula sebelum dan sesudah inversi.
Reaksi inversi gula sebagai berikut:

(Wulandari, 2017).
Penetapan kadar karbohidrat dapat dilakukan dengan metode fisika, kimia,
enzimatik, dan dengan kromatografi. Metode fisika salah satu metode fisika
paling sering digunakan untuk analisis karbohidrat adalah metode polarimetri.
Berbagai modifikasi dari polarimeter telah dibuat sehingga alat tersebut dapat
langsung menunjukkan kadar gula. Alat ini disebut dengan sakarimeter. Pada
polarimeter Io (I derajad) skala setara dengan 0,34 62 derajad sudut. Besarnya
rotasi optis tiap individu gula sebanding dengan konsentrasi larutan dan tebal
cairan dalam tabung. Rotasi jenis gula sederhana dengan menggunakan lampu
natrium (sinar kuning, 589 nm) dapat dihitung dengan rumus :
100 a
[α]D20 = Lxc

[α]D20 = rotasi jenis pada 20o


a = derajad rotasi terbaca
c = kadar (dalam g/100 mL)
L = panjang tabung (dalam dm)
100 a
Jadi c = L x [α]D20

(Sumantri, 2007).
Tepung merupakan bahan baku utama proses produksi kue kering.
Kualitas hasil pemanggangan didalam oven sangat ditentukan oleh kualitas tepung
yang digunakan sebagai bahan baku kue kering berupa te pung terigu, tepung
beras, dan tepung maizena. Tepung terigu adalah tepung yang berasal dari
penggilingan gandum dari spesies Tricticum vulgare (common wheat), Tricticum
durum, atau Tricticum compactum. Keistimewaan tepung terigu dibandingkan
dengan serelia lain yaitu kemampuannya untuk membentuk gluten yang bersifat
elastis pada saat dibasahi dengan air. Gluten merupakan komponen penting dalam
pembentukan adonan yang berkolerasi dengan kadar protein. Sifat ekastis gluten
pada adonan menyebabkan kue tidak mudah rusak ketika dicetak. Faktor yang
perlu diperhatikan dalam terigu yaitu karakteristik dalam memilih terigu yaitu
gluten kapasitas penyerapan air. Tepung yang baik bewarna putih bersih dan
kering, tidak berbau apek, serta tidak ada binatang atau kutu, pilih tepung dengan
kandungan protein yang rendah agar kue kering lebih renyah (Suryani et al.,
2006).
Tepung terigu merupakan hasil ekstraksi dari proses penggilingan gandum
(Triticum sativum) yang tersusun oleh 67-70% karbohidrat, 10-14% protein, dan 1-
3% lemak. Pada sebagaian besar produk makanan, pati terigu belum dalam bentuk
granula kecil (1-40 μm) dan dalam sistem, contohnya adonan, pati terigu
terdispersidan bekerja sebagai bahan pengisi. Protein dari tepung terigu jaringan
yang saling berikatan pada adonan dan bertanggung jawab sebagai komponen
yang viscoelastik. Gluten merupakan protein utama dalam tepung terigu yang
terdiri dari gliadin (20-25%) dan glutenin (35-40%). sekitar 30% asam amino
gluten adalah hidrofobik dan asam-asam amino tersebut dapat menyebabkan
protein mengumpul melaluiinteraksi hidrofobik dan adukan lemak dan substansi
non polar lainnya. Saat tepung terigu tercampur dengan udara, bagian-bagian
protein yang mengembangmelakukan interaksi hidrofobik dan reaksi pertukaran
sulfydryl-disulfide yang menghasilkan ikatan seperti polimer-polimer. Polimer-
polimer ini digunakan dengan polimer lainnya melalui ikatan hidrogen, ikatan
hidrofobik, dan disulfide cross-linking untuk bentuk seperti lembaran film (sheet-
like film) dan memiliki kemampuan banding gas yang terperangkap. Semakin
banyak penambahan tepung terigu akan menyebabkan kadar air keju olahan semakin
menurun. Hal ini karena dengan semakin banyak penambahan tepung terigu maka
kandungan padatannya semakin banyak sehingga kadar airnya semakin menurun.
Penambahan tepung terigu menyebabkan sebagian besar air pada keju akan terserap
ke dalam pati (Fitasari, 2009).
Metode kimia berdasarkan sifat mereduksi gula, misalnya glukosa dan
Fruktosa. Metode Luff Schoorl yaitu sukrosa tidak bereaksi dengan ion tembaga
(II) komplek, tetapi glukosa dan fruktosa dapat bereaksi dengan pereaksi ini
karena adanya gugus aldehida pada glukosa dan alfa hidroksi keton pada fruktosa.
Larutan Luff Schoorl dibuat dengan melarutkan 25 g tembaga (II) sulfat dalam
100 mL air 50 mL asam sitrat dalam 50 mL air, dan 143,8 g natrium karbonat
anhidrat dalam 300 mL sampai 400 mL air mendidih. Larutan asam sitrat
ditambahkan dengan hati-hati sedikit demi seikit kedalam larutan natrium
karbonat yang telah dingin sambil labunya digoyangkan secara perlahan-lahan.
Campuran ini selanjutnya ditambahkan larutan tembaga (II) sulfat dan diencerkan
dengan air 1000 mL lalu dibiarkan semalam, dan disaring. Larutan Luff Schoorl
(LS) yang telah dibuat diperiksa derajad kebasaannya dengan cara sebanyak 10,0
mL larutan LS diencerkan dengan air hingga 100 mL. Pada 10,0 mL larutan yang
diencerkan, ditambahkan 25 mL asam klorida 0,1 N lalu dipanaskan diatas
penangas air selama 1 jam denagn dijaga agar volumenya tetap dan jika perlu
dengan penambahan air. Larutan selanjutnya didinginkan, lalu dititrasi dengan
natrium hidroksida 0,1 N menggunakan indikator fenoltalein. Titrasi diperlukan
5,5 sampai 6,5 mL natrium hidroksida 0,1 N. Tujuan pemeriksaan derajad
kebasaan ini adalah untuk memastikan bahwa LS suasananya basa (pH 8) sebab
gula akan mereduksi jika suasanya basa (Sumantri, 2007),

Gambar 1. Reaksi yang terjadi pada penetapan kadar dengan metode Luff –
Schoorl (Sumantri, 2007).

II.2 Uraian Bahan


II.2.1 Aquades
Nama Resmi : Air suling
Nama Latin : Aqua destillata
Struktur Kimia

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, tidak


berbau
Kelarutan : Mudah larut, Praktis tidak larut kloroform eter, dan
minyak tanah.
Indikasi : Sebagai pelarut
BM : 18,02

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

(Depkes RI, 1979)


II.2.2 Asam Asetat
Nama Resmi : Asam asetat
Nama Latin : Acetic acid
Struktur Kimia

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, berbau khas


menusuk, rasa asam yang tajam
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, etanol dan gliserol
Indikasi : Sebagai pelarut
BM : 60,05

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

(Kemenkes RI, 2014)


II.2.3 Asam Klorida
Nama Resmi : Asam klorida
Nama Latin : Hydrochloric acid
Struktur Kimia

Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, berbau merangsang,


jika diencerkan dengan 2 bagian volume air, asap
hilang.
Kelarutan : -
Indikasi : Sebagai pelarut
BM : 36,46
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

(Kemenkes RI, 2014)


II.2.4 Asam sitrat
Nama Resmi : Asam sitrat
Nama Latin : Citrid acid
Struktur Kimia

Pemerian : Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur


granul sampai halus, putih, tidak berbau atau praktis
tidak berbau, rasa sangat asam. Bentuk hidrat dalam
udara kering
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam
etanol, agar sukar larut dalam eter
Indikasi : Sebagai pelarut
BM : 192,13 dan 210,13

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup

(Kemenkes RI, 2014) hal 164


II.2.5 Asam Sulfat
Nama Resmi : Asam sulfat
Nama Latin : Sulfuric acid
Struktur Kimia

Pemerian : Cairan jernih seperti minyak, tidak berwarna, bau


sangat tajam dan korosif
Kelarutan : Bercampur dengan air dan etanol
Indikasi : Sebagai pelarut
BM : 98,07
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup

(Kemenkes RI, 2014)


II.2.6 Kalium Iodida
Nama Resmi : Kalium iodida
Nama Latin : Pottasium iodide
Struktur Kimia

Pemerian : Hablur heksahedral, transparan atau tidak berwarna


atau agak buram dan putih atau serbuk granul putih,
agak higroskopik. Larutan menunjukkan reaksi netral
atau basa terhadap lakmus

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, terlebih air mendidih,


mudah larut dalam gliserin, larut dalam etanol
Indikasi : Sebagai pelarut
BM : 166,00
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
(Kemenkes RI, 2014)
II.2.7 Natrium Karbonat
Nama Resmi : Natrium karbonat
Nama Latin : Sodium carbonate
Struktur Kimia

Pemerian : Hablur tidak berwarna, atau serbuk hablur putih


Kelarutan : Mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih
Indikasi : Sebagai pereaksi
BM : 105,99

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

(Depkes RI, 1979)


II.2.8 Natrium Tiosulfat
Nama Resmi : Natrium tiosulfat
Nama Latin : Sodiuym thiosulfate
Struktur Kimia

Pemerian : Hablur besar, tidak berwarna atau serbuk hablur kasar.


Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam
udara kering pada suhu lebih dari 33°. Larutan netral
atau basa lemah terhadap lakmus
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Indikasi : Sebagai pereaksi
BM : 159,61

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


(Kemenkes RI, 2014)
II.2.9 Natrium Hidroksida
Nama Resmi : Natrium hidroksida
Nama Latin : Natrii Hydroksidum
Struktur Kimia

Pemerian : Putih atau praktis putih, keras, rapuh dan


menunjukan pecahan hablur. Jika terpapar di udara
akan cepat menyerap karbon dioksida dan lembap,
massa melebur, berbentuk pelet kecil serpihan atau
batang atau bentuk lain
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol 95%
BM : 40,00
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
(Kemenkes RI, 2014)
II.2.10 Tembaga Sulfat
Nama Resmi : Tembaga sulfat
Nama Latin : Cuprum sulfate
Struktur Kimia

Pemerian : Serbuk hablur atau keabuan, bebas dari sedikit warna


biru. Penambahan sedikit air, mengakibatkan
perubahan menjadi warna biru

Kelarutan : Larut dalam air


Indikasi : Sebagai pereaksi
BM : 159,61

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

(Depkes RI, 1979).

II.2.11 Tepung Gandum


Nama Resmi : Pati gandum
Nama Latin : Amylum tritici

Pemerian : Serbuk sangat halus, putih


Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol

Mikroskopik : Butir, bentuk cakram besar atau seperti ginjal ukuran


10–45 µm, bentuk bulat telur, terbelah sepanjang poros
utama, butir bersegi banyak atau bulatan kecil, ukuran
2-10 µm. Jarang ditemukan butiran dengan ukuran
sedang. Hilus dan lamela sukar terlihat. Amati
dibawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang
berwarna hitam, memotong pada hillus.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

(Kemenkes RI, 2014).


III. PRINSIP
III.1 Prinsip Reaksi
Reaksi yang akan terjadi dalam penentuan gula cara Luff Schoorl adalah :
R – CHO + 2CuO Cu2O + R-COOH
H2SO4 + CuO CuSO4 + H2O
CuSO4 + 2 KI Cu2I2
I2 + Na2S2O3 Na2S4O6 +2 NaI
(Wulandari, 2017).
I.2 Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari penetapan kadar pati dengan metode Luff Schoorl yaitu
adalah hidrolisis pati menjadi gula-gula pereduksi yang kemudian ditetapkan
secara luff schoorl. Gula-gula pereduksi (glukosa, maltosa) dapat mereduksi Cu2+
menjadi Cu+. Kemudian Cu2+ yang tidak tereduksi (sisa) dapat dititer secara
iodometri. Jumlah Cu2+ asli ditentukan dalam suatu percobaan blanko dan dari
perbedaannya dapat ditentukan jumlah gula dalam larutan yang dianalisis
(Yenrina, 2015).

IV. ALAT DAN BAHAN


IV.1 Alat
Alat - alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Batang pengaduk
2. Batu didih
3. Bunsen
4. Buret 50 mL
5. Erlenmeyer 250 mL
6. Gelas beker
7. Gelas ukur
8. Labu alas bulat
9. Labu alas semprot
10. Labu ukur 250 mL
11. Pendingin lurus
12. Pipet tetes
13. Pipet volume 10 mL
14. Propipet
15. Statif
16. Timbangan analitik

IV.2 Bahan
Bahan - bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Aquades
2. Asam sitrat
3. CH3COOH 3%
4. CuSO4.5H2O
5. HCL 3%
6. H2SO4 25%
7. Kertas saring
8. Kertas pH
9. KI 10%
10. Larutan kanji 1%
11. Larutan luff
12. Larutan thio 0,1 N
13. NaOH 30%
14. Na2CO3 anhidrat
15. Sampel tepung terigu

V. CARA KERJA
V.1 Pembuatan Larutan Luff-schoorl

3,75 gram Na2CO3

 Ditimbang
 Dilarutkan dalam, diaduk

75 mL Aquades

 Ditambahkan

12,5 g Asam Sitrat

 Dilarutkan, sebelumnya
12,5 mL Air Suling

 Ditambahkan
6,25 g CuSO4.H2O

 Dilarutkan, sebelumnya

25 mL Air Suling

 Dimasukkan dalam labu ukur 250 mL


Air Suling
 Ditambahkan hingga tanda batas

Hasil

V.2 Preparasi Sampel


1,25 g tepung terigu

 Ditimbang, dimasukkan dalam labu alas bulat


100 mL HCl 3%

 Ditambahkan
 Dididihkan selama kurang lebih 1 setengah jam dengan
pendingin tegak
 Didinginkan

NaOH 3%

 Dinetralkan, uji dengan kertas lakmus atau indicator PP

CH3COOH

 Ditambahkan sedikit (agar suasana sedikit asam)


 Dipindahkan dalam labu takar 250 mL
 Dipaskan sampai tandda batas
 Disaring

Hasil

V.3 Analisis Karbohidrat

Filtrat
 Dipipet 10 mL, masukkan dalam Erlenmeyer

25 mL Larutan luff

 Ditambahkan
 Ditambahkan beberapa batu didih

15 mL Air suling

 Ditambahkan
 Dipanaskan dengan nyala selama kurang lebih 3 menit
 Didinginkan dalam bak berisi es

25 mL H2SO4 dan
15 mL KI 10%

 Ditambahkan perlahan-lahan

Indicator kanji 0,5%

 Ditambahkan
 Dititrasi dengan

Larutan thiosulfat 0,1N

 Dilakukan juga untuk blanko

Hasil
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Tiga. 1979. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.

Fitrasari, E. 2009. Pengaruh Tingkat Penambahan Tepung Terigu Terhadap Kadar


Air, Kadar Lemak, Kadar Protein Mikrostruktur, dan Mutu Organoelptik
Keju Gouda Olahan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak. 2 : 17-29.

Gidarjo, M & R. Indriati. 2013. Pendidikan Konsumsi Pangan. Kencana Perdana


Media Group, Jakarta.

Kartasapoetra, G & H. Marsetyo. 2005. Ilmu Gizi Korelasi Gizi, Kesehatan, dan
Produksi Kerja. Rinerka Cipta Anggota IKAPI, Jakarta.
Kemenkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.

Saparinto, C & D. Hidayati. 2006. Bahan Tambahan Pangan. Penerbit Kanisius,


Yogyakarta.

Sumantri, A. R. 2007. Analisis Makanan. UGM Press, Yogyakarta.

Suryani, A., E. Hidayat, D. Sadyaningsih & E. Hambali. 2006. Bisnis Kue Kering.
Penebar Swadaya, Jakarta.

Widhyasari, N. L. N. D. D. Putri & P. A. Parwati. 2017. Penentuan Kadar


Karbohidrat Pada Nasi Putih dalam Proses Pemanasan Rice Cooker dengan
Variasi Waktu. Jurnal Bali Medika. 4 : 115-125.

Wulandari, D. D. 2017. Kualitas Madu (Keasaman, Kadar Air, Dan Kadar Gula
Pereduksi) Berdasarkan Perbedaan Suhu Penyimpanan. Jurnal Kimia Riset.
2 : 16 – 22.

Yenrina, R. 2015. Metode Analisis Bahan Pangan dan Komponen Bioaktif.


Andalas University Press, Padang.