Anda di halaman 1dari 7

(Makalah I’jaz Al-Ilmi fi sunnati Annabawiyah)

Mata Kuliah Hadis dan Isu Kontemporer

Dosen pengampu:
Abdul Kheir, Lc. MA

Disusun oleh:
kelompok 2

Endah Triwahyuni (1533600005)


Mukmin (1523600002)
Yasser Ali (1533600013)

PRODI ILMU HADITS


FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit
sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam
atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya.
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadirat Allah subhanallahu
wata’ala, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya makalah ini dapat kami selesaikan
sesuai tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas “Pengertian dari
I’jaz Al-Ilmi fi Sunnati An-nabawiyah”, suatu permasalahan yang membahas
kaitannya hadits dengan ilmu sains, hadits yang merupakan perkataan Nabi
Muhammad ‫ ﷺ‬yang berasal dari wahyu Allah yang di pastikan kebenaran nya.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang Mukjizat
hadits ditinjau dari sains yang dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Dalam proses
pendalaman materi Takhrij ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan,
koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang dalam-dalamnya kami sampaikan”
: kpd Bpk Abdul Kheir, selaku dosen mata kuliah “Hadis dan Isu Kontemporer”.
Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat
Palembang, 30 september 2018
20 𝑀𝑢ℎ𝑎𝑟𝑟𝑎𝑚 1440 H

Penyusun
DAFTAR ISI

ii
COVER MAKALAH ....................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1


A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 2


A. Pengertian I’jaz dan Assunnah ............................................................. 2
B. I’jaz Hadits dalam tinjauan Sains ........................................................ 3
C. Pandangan ulama tentang I’jaz Hadits ................................................. 4

BAB III PENUTUP .........................................................................................


A. Kesimpulan ..........................................................................................
B. Kritik dan Saran ...................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Laula al-Sunnah ma fahima ahadun minna al-Qur’an (Seandainya jika tidak


ada Sunnah, maka tak seorangpun diantara kita yang faham al-Qur’an). Statemen
pendek ini adalah ungkapan Imam Abu Hanifah yang menggambarkan betapa
pentingnya peranan Sunnah atau badis Nabi bagi umat Islam dalam memahami al- -
Qur’an bahkan dalam melaksanakan ajaran agama Islam. Tanpa hadist Nabi kita tidak
bias menerapkan ajaran Islam secara benar.
Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an.
Keberadaannya dalam kerangka ajaran Islam merupakan penjelasan terhadap apa
yang ada di dalam al-Qur’an. Disamping itu, peranannya semakin penting jika
didalam ayat-ayat al-Qur’an tidak ditemukan suatu ketetapan, maka hadis dapat
dijadikan dasar hukum dalam dalil-dalil keagamaan. Hadits juga berpengaruh
terhadap era perkembangan zaman yang modern ini. Para peniliti era sekarang telah
berhasil membuktikan kebenaran hadits secara ilmiah. Telah banyak hadits yang di
teliti dan sesuai dengan hasil temuan sains. Dengan demikian kitab-kitab hadis
menduduki posisi penting dalam khazanah keilmuan Islam. Dengan dibukukan hadis-
hadis Nabi kedalam bentuk kitab, keberadaan hadis tidak sekedar terpelihara, tetapi
umat Islam juga semakin terbantu dalam mempelajari dan menelusurinya. Dengan
mengetahui mu’jizat dari pada hadits maka diharapkan kita juga dapat menambah
keimanan kita terhadap Al-Quran dan Sunnah.
Makalah ini sebagai penjelasan I’jaz secara Teoritis yang meliputi pengertian,
dan pandangan ulama tentang I’jaz fi sunnah yang merujuk langsung kepada
pembuktian sains nya.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian I’jaz
Menurut bahasa, kata mu’jizat berasal dari kata ‫ أعجز‬yang semakna
dengan kata ‫ ضعف‬yang berarti melemahkan dan menjadikan tidak mampu.
Sedangkan sang pelaku disebut ‫معجز‬. Sementara kalau kemampuan melemahkan
pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, maka dinamakan
‫ معجزة‬yang menunjukkan arti mubalaghah.
I’jaz atau kemu’jizatan dalam bahasa Arab adalah menisbatkan sifat
lemah kepada orang lain, sampai –sampai ia tidak bisa berbuat apa – apa. Allah
berfirman dalam Q.S. Al Maidah ayat 31 yang artinya :

‫س ْوأَة َ أَ ِخي ِه قَا َل‬َ ‫ْف يُ َو ِاري‬ َ ‫ض ِليُ ِريَهُ َكي‬


ِ ‫األر‬
ْ ‫ث ِفي‬ ُ ‫غ َرابًا َي ْب َح‬ُ ُ‫َّللا‬
‫ث ه‬ َ ‫فَ َب َع‬
‫س ْوأَةَ أَ ِخي‬ َ ‫ي‬ َ ‫ب فَأ ُ َو ِار‬
ِ ‫ع َج ْزتُ أ َ ْن أَ ُكونَ ِمثْ َل َهذَا ْالغُ َرا‬ َ َ‫يَا َو ْيلَتَا أ‬
ْ َ ‫فَأ‬
َ‫صبَ َح ِمنَ النهاد ِِمين‬
Artinya: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di
bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya
menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku
tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit
saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang
menyesal.”
Sesuatu dinamakan mu’jizat karena manusia lemah untuk mendatangkan
yang sama dengannya atau saingannya, sebab mu’jizat memang datang sebagai hal –
hal yang bertentangan dengan adat, keluar dari batas – batas yang telah dikenal atau

2
faktor yang telah diketahui dan dipahami oleh manusia1 Hal – hal luar biasa itu hanya
bisa ditunjukkan oleh Allah ‫ﷻ‬.
B. Pengertian As-Sunnah
As-Sunnah menurut istilah syari’at ialah segala sesuatu yang bersumber dari
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan),
taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai
tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam.2
Adapun hadits menurut bahasa ialah sesuatu yang baru.
Secara istilah sama dengan As-Sunnah menurut Jumhur Ulama.
Ada ulama yang menerangkan makna asal secara bahasa bahwa: Sunnah
itu untuk perbuatan dan taqrir, adapun hadits untuk ucapan. Akan tetapi ulama sudah
banyak melupakan makna asal bahasa dan memakai istilah yang sudah lazim
digunakan, yaitu bahwa As-Sunnah muradif (sinonim) dengan hadits.
As-Sunnah menurut istilah ulama ushul fiqih ialah segala sesuatu yang
bersumber dari Nabi ‫ ﷺ‬selain dari Al-Qur-an, baik perbuatan, perkataan, taqrir
(penetapan) yang baik untuk menjadi dalil bagi hukum syar’i.
Ulama ushul fiqih membahas dari segala yang disyari’atkan kepada
manusia sebagai undang-undang kehidupan dan meletakkan kaidah-kaidah bagi
perundang-undangan tersebut.
As-Sunnah menurut istilah ahli fiqih (fuqaha’) ialah segala sesuatu yang
sudah tetap dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hukumnya tidak fardhu dan
tidak wajib, yakni hukumnya sunnah.3 As-Sunnah menurut ulama Salaf adalah
petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para

1
M.Ali al- Shabuni, Al-Tibyan fi’Ulum Al-Qur’an (Beirut: Dar al Fikr, 1985)h.93
2
Qawaa’idut Tahdits (hal. 62), Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Ushul Hadits, Dr.
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, cet. IV Darul Fikr 1401 H, Taisir Muthalahil Hadits (hal. 15), Dr.
Mahmud ath-Thahhan.
3
Lihat kitab Irsyaadul Fuhuul asy-Syaukani (hal. 32), Fat-hul Baari (XIII/245-246),
Mafhuum Ahlis Sunnah wal Jama’ah ‘inda Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 37-43).

3
Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqaad (keyakinan), perkataan maupun
perbuatannya.4

4
Lihat pada buku penulis, Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (hal. 10)