Anda di halaman 1dari 10

PEDOMAN

SUB KOMITE MUTU KEPERAWATAN


KLINIK UTAMA ANANDA PURWOREJO

TAHUN 2017 - 2019


KLINIK UTAMA“ANANDA” PURWOREJO
Jl. Ringroad Utara, SucenJurutengah, Bayan, Telp.(0275) 3128876 Purworejo

PEDOMAN SUBKOMITE MUTU KEPERAWATAN

KLINIK UTAMA ANANDA PURWOREJO

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam rangka menjamin kualitas pelayanan / asuhan
keperawatan dan kebidanan, maka tenaga keperawatan sebagai
pemberi pelayanan harus memiliki kompetensi, etis dan peka
budaya. Mutu Profesi tenaga keperawatan harus selalu
ditingkatkan melalui program pengembanagan profesional
berkelanjutan yang disusun secara sistematis, terarah dan
terpola/terstruktur.
Mutu profesi tenaga keperawatan harus selalu ditingkatkan
secara terus menerus sesuai perkembangan masalah kesehatan,
ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan standar profesi,
standar pelayanan serta hasil-hasil penelitian terbaru.
Kemampuan dan keinginan untuk meningkatkan mutu
profesi tenaga keperawatan di Klinik Utama Ananda Purworejo
masih rendah, disebabkan karena beberapa hal antara lain:
kemauan belajar rendah, belum terbiasa melatih berpikir kritis
dan reflektif, beban kerja berat sehingga tidak memiliki waktu,
fasilitas sarana terbatas, belum berkembangnya sistem
pendidikan berkelanjutan bagi tenaga keperawatan.
Berbagai cara dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan
mutu profesi tenaga keperawatan antara lain audit, diskusi,
refleksi diskusi kasus, studi kasus, seminar/simposium serta
pelatihan, baik dilakukan di dalam maupun di luar rumah sakit.
Mutu profesi yang tinggi akan meningkatkan percaya diri,
kemampuan mengambil keputusan klinik dengan tepat,
mengurangi angka kesalahan dalam pelayanan keperawatan dan
kebidanan. Akhirnya meningkatkan tingkat kepercayaan pasien
terhadap tenaga keperawatan dalam pemberian pelayanan
keperawatan dan kebidanan.

B. TUJUAN
Memastikan Subkomite mutu profesi tenaga keperawatan
sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan
yang berorientasi kepada keselamatan pasien sesuai
kewenangannya di Klinik Utama Ananda Purworejo.

C. KONSEP

Kualitas pelayanan medis yang diberikan oleh tenaga


keperawatan dan kebidanan sangat ditentukan oleh semua
aspek kompetensi dalam melakukan penatalaksaaan asuhan
keperawatan dan kebidanan tergantung pada upaya
memelihara kompetensi seoptimal mungkin. Untuk
mempertahanakan mutu dilakukan upaya pemantauan dan
pengendalian mutu profesi tenaga keperawatan dan kebidanan
melalui :

a. Memantau kualitas, misalnya dalam pemberian asuhan


keperawatan dan kebidanan.
b. Tindak lanjut terhadap temuan kualitas, misalnya pelatihan
singkat (short course), aktivitas pendidikan berkelanjutan,
pendidikan kewenangan tambahan.

D. DASAR HUKUM
1. UU No. 36 Tahun 2009. Tentang kesehatan
2. Peraturan Menteri Kesehatan No.
1796/Menkes/Per/VII/2011, tentang Kesehatan.
3. Departemen Kesehatan Standar Asuhan Keperawatan Tahun
2001
4. Standar Profesi dan Kode ETIK Perawat Indonesia PPNI
Jakarta 2010
5. Peraturan Menteri Kesehatan No. 49 Tahun 2013 tentang
pembentukan organisasi komite keperawatan.
BAB II

MUTU KEPERAWATAN

A. Pengertian

1. Mutu Keperawatan merupakan suatu proses untuk


menjamin kualitas pelayanan / asuhan keperawatan dan
kebidanan.

Berbagai sudut pandang mengenai definisi mutu pelayana


n keperawatan tersebut diantaranya yaitu:

a. Sudut Pandang Pasien (Individu, Keluarga, Masyarakat)

Meishenheimer (1989) menjelaskan bahwa pasien atau


keluarga pasien atau keluarga pasien mendefinisikan
mutu sebagai adanya perawat atau tenaga kesehata yang
memberikan perawatan yang terampil dan kemampuan
perawat dalam memberikan perawatan.

Sedangkan Wijono (2000) menjelaskan mutu


pelayanan berarti suatu empati, respek dan tanggap a
kan kebutuhannya, pelayanan harus sesuai dengan
kebutuhan mereka, diberikan dengan cara yang
ramah pada waktu mereka berkunjung.

Pada umumnya mereka ingin pelayanan yang


mengurangi gejala secara efektif dan mencegah
penyakit, sehingga pasien beserta keluarganya sehat
dan dapat melaksanakan tugas mereka sehari-hari
tanpa gangguan fisik.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat


dikatakan bahwa mutu pelayanan keperawatan
didefinisikan oleh pasien (individu, keluarga,
masyarakat) sebagai pelaksanaan pelayanan
keperawatan yang sesuai dengan kebutuhannya yang
berlandaskan rasa empati, penghargaan, ketanggapan,
dan keramahan dari perawat serta kemampuan
perawat dalam memberikan pelayanan. Selain itu
melalui pelayanan keperawatan tersebut, juga dapat
menghasilkan peningkatan derajat kesehatan pasien.

b. Sudut Pandang Perawat

Mutu berdasarkan sudut pandang perawat sering


diartikan dengan memberikan pelayanan keperawatan
sesuai yang dibutuhkan pasien agar menjadi mandiri
atau terbebas dari sakitnya (Meishenheimer, 1989).
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Wijono (2000),
bahwa mutu pelayanan berarti bebas melakukan segala
sesuatu secara profesional untuk meningkatkan derajat
kesehatan pasien dan masyarakat sesuai dengan ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang maju, mutu
pelayanan yang baik dan memenuhi standar yang
baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
perawat sebagai tenaga profesional yang memberikan
pelayanan keperawatan terhadap pasien mendefinisikan
mutu pelayanan keperawatannya sebagai kemampuan
melakukan asuhan keperawatan yang profesional
terhadap pasien (individu, keluarga, masyarakat) dan
sesuai standar keperawatan, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

c. Sudut Pandang Manajer Keperawatan

Mutu pelayanan difokuskan pada pengaturan staf, pasien


dan masyarakat yang baik dengan menjalankan supervisi,
manajemen keuangan dan logistik dengan baik serta
alokasi sumber daya yang tepat (Wijono, 2000).
Pelayanan keperawatan memerlukan manajemen yang
baik sehingga manajer keperawatan mempunyai
peranan penting dalam meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan dengan melaksanakan fungsi-fungsi
manajemen dengan baik yang memfokuskan pada
pengelolaan staf keperawatan dan pasien sebagai
individu, keluarga dan masyarakat. Selain itu pengelolaan
pun mencakup pada manajemen keuangan dan logistik.
d. Sudut Pandang Institusi Pelayanan

Meishenheimer (1989) mengemukakan bahwa mutu


pelayanan diasumsikan sebagai kemampuan untuk
bertahan, pertimbangan penting mencakup tipe dan
kualitas stafnya untuk memberikan pelayanan,
pertanggungjawaban intitusi terhadap perawatan
terhadap pasien yang tidak sesuai, dan menganalisis
dampak keuangan terhadap operasional institusi.
Sedangkan Wijono (2000) menjelaskan bahwa mutu
dapat berarti memiliki tenaga profesional yang bermutu
dan cukup. Selain itu mengharapkan efisiensi dan
kewajaran penyelenggaraan pelayanan, minimal tidak
merugikan dipandang dari berbagai aspek seperti tidak
adanya pemborosan tenaga, peralatan, biaya, waktu
dan sebagainya.

e. Sudut Pandang Organisasi Profesi

Badan legislatif dan regulator sebagai pembuat


kebijakan baik lokal maupun nasional lebih
menekankan pada mendukung konsep mutu pelayanan
sambil menyimpan uang pada program yang spesifik.
Dan selain itu juga menekankan pada institusi-institusi
pelayanan keperawatan dan fasilitas pelayanan
keperawatan. Badan akreditasi dan sertifikasi
menyamakan kualitas dengan mempunyai seluruh
persyaratan administrasi dan dokumentasi klinik yang
lengkap pada periode waktu tertentu dan sesuai
dengan standar pada level yang berlaku. Sertifikat
mengindikasikan bahwa institusi pelayanan
keperawatan tersebut telah sesuai standar minimum
untuk menjamin keamanan pasien. Sedangkan
akreditasi tidak hanya terbatas pada standar pendirian
institusi tetapi juga membuat standar sesuai undang-
undang yang berlaku (Meishenheimer , 1989).

2. Perawat adalah tenaga kesehatan profesional yang


menduduki porsi terbanyak dalam pelayanan, dan
mempunyai konstribusi tinggi dalam sistem pelayanan
kesehatan di Klinik Utama Ananda Purworejo.
Namun potensi konstribusi dalam pemberian pelayanan
kesehatan tersebut masih ditemukan kendala-kendala, salah
satunya adalah jenis dan kompetensi perawat yang belum
sesuai dengan harapan pelanggan (masyarakat) untuk itu
dalam menjalankan pekerjaan klinis memerlukan kerangka
kompetensi, agar perawat mampu menjalankan asuhan
keperawatan secara aman, efektif dan efisien; selalu
berpenampilan secara profesional, etis, sesuai aturan hukum,
dan menghargai budaya setempat, serta mampu melakukan
pengembangan profesionalisme agar dapat menjalankan peran
profesi sesuai perkembangan terkini.

B. KEANGGOTAAN

Subkomite mutu profesi tenaga keperawatan di Klinik


Utama Ananda terdiri dari atas sekurang– kurangnya 3 (tiga)
orang tenaga keperawatan yang memiliki surat kompetensi di
Klinik Utama Ananda Purworejo.

Pengorganisasian subkomite mutu profesi tenaga


keperawatan sekurang–kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris,
dan anggota, yang ditetapkan oleh dan bertanggung jawab kepada
Ketua Komite Keperawatan.

C. TUGAS
Tugas Sub Komite Mutu Keperawatanadalah:

1. menyusun data dasar profil tenaga keperawatan sesuai area


praktik;
2. merekomendasikan perencanaan pengembangan
profesional berkelanjutan tenaga keperawatan;
3. melakukan audit asuhan keperawatan dan asuhan
kebidanan;
4. memfasilitasi proses pendampingan sesuai kebutuhan.
BAB III

ISI PEDOMAN

A. TATALAKSANA
Direktur Klinik Utama Ananda Purworejo menetapkan
kebijakan dan prosedur seluruh mekanisme kerja subkomite
mutu Keperawatan berdasarkan masukan komite Keperawatan.
Selain itu Direktur Klinik Utama Ananda bertanggungjawab atas
tersedianya berbagai sumber daya yang dibutuhkan agar
kegiatan ini dapat terselenggara.

1. Melakukan koordinasi dengan bidang keperawatan untuk


memperoleh data dasar tentang profil tenaga keperawatan
dan kebidanan
2. Mengidentifikasi kesenjangan kompetensi sesuai dengan
perkembangan IPTEK, kesenjangan tersebut menjadi dasar
perencanaan baik dilakukan di dalam maupun di luar rumah
sakit
3. Melakukan koordinasi dengan supervisor, CE (clinic
Educator), melakukan “couch” bimbingan
(preceptor/mentorship) selama melaksanakan praktek
4. Melakukan audit keperawatan dan pembahasan kasus
a. pemilihan topik yang akan dilakukan audit;
b. penetapan standar dan kriteria;
c. penetapan jumlah kasus/sampel yang akan diaudit;
d. membandingkan standar/kriteria dengan pelaksanaan
pelayanan;
e. melakukan analisis kasus yang tidak sesuai standar dan
kriteria;
f. menerapkan perbaikan;
g. rencana reaudit
5. Mengidentifikasi fenomena klinik, telaah kompetensi perawat
sebagai bahan mengadakan perbaikan mutu pelayanan
keperawatan
6. Memberikan masukan kepada bidang keperawatan, direktur
untuk pengembangkan SDM dalam hal peningkatan dan
mempertahankan kompetensi.
B. DOKUMENTASI
Dokumentasi adalah sesuatu yang tertulis, tercetak atau
terekam yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan dan
mempunyai dasar hukum yang kuat, sehingga dapat digunakan
sebagai sumber keterangan, sumber penyelidikan/ penelitian
ilmiah, dan sebagai alat bukti keabsahan suatu keterangan.
Pendokumentasian sub mutu keperawatan adalah, suatu
kegiatan atau perencanaan yang akan dilaksanakan atau sudah
dilaksanakan sebagai alat evaluasi sampai implementasi kegiatan
sub komite mutu keperawatandi Klinik Utama Ananda Purworejo.

BAB IV

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan Evaluasi peningkatan mutu keperawatan


dilaksanakan oleh Sub Komite Peningkatan Mutu Keperawatan
melalui berbagai cara antara lain :

1. Laporan kegiatan Audit Keperawatan (Jika ada masalah


tentang Keperawatan)

2. Laporan kegiatan tiap 6 bulan

3. Laporan kegiatan pengumpulan program keperawatan setiap


bulan
BAB V

PENUTUP

Standarisasi Kompetensi Perawat merupakan Peran dari


Komite Keperawatan agar perawat dan bidan dapat memberikan
pelayanan asuhan keperawatan dengan aman dan efektif pada
pelanggan yaitu pasien dan keluarga serta masyarakat sekitar,
sehingga tercapainya peningkatan mutu pelayanan keshatan di Klinik
Utama Ananda Purworejo.

Penetapan sistim ini akan optimal bila Direktur Klinik Utama


Ananda Purworejo memfasilitasi dan mendukung pengembangan
SDM Keperawatan dalam melaksanakan program peningkatan mutu
keperawatan.

Buku pedoman ini diharapkan dapat sebagai pegangan dalam


pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan Keperawatan dan
Kebidanan di Klinik Utama Ananda Purworejo.