Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI BIOENERGI

BIODIESEL

Oleh :
Astri Juhariyah
NIM A1C015024

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi

energi cukup tinggi di dunia, yaitu sekitar 7% per tahun. Konsumsi energi

Indonesia tersebut terbagi untuk sektor industri (50%), transportasi (34%), rumah

tangga (12%) dan komersial (4%). Konsumsi energi Indonesia yang cukup tinggi

tersebut hampir 95% dipenuhi dari bahan bakar fosil. Dari total tersebut, hampir

50%-nya merupakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Konsumsi BBM yang cukup

tinggi ini menjadi masalah bagi Indonesia. Sebagai sumber energi tidak

terbarukan, cadangan BBM Indonesia sangat terbatas. Memperkirakan untuk

beberapa tahun berikutnya potensi cadangan energi fosil menjadi terbatas dan

semakin menipis, pemenuhan kebutuhan energi akan menghadapi kendala yang

besar. Konsumsi energi yang tinggi ini menimbulkan masalah dan ketimpangan,

bukan hanya dampaknya tetapi juga terjadi pengurasan sumber daya fosil seperti

minyak, gas bumi dan batubara yang lebih cepat jika dibandingkan dengan

penemuan cadangan baru. Sehingga tidak tertutup kemungkinan dalam jangka

waktu yang tidak lama lagi cadangan energi fosil Indonesia akan habis kemudian

kebutuhan energi Indonesia akan sangat tergantung pada energi impor. Guna

mengatasi persoalan tersebut diperlukan upaya diversifikasi energi. Diversifikasi

energi yaitu penganekaragaman pemakaian energi dengan meningkatkan

pemanfaatan energi baru dan terbarukan. (Soni Setiadji dkk, 2017)


Salah satu sumber energi alternatif yaitu biodiesel, telah menjadi perhatian

peneliti di seluruh dunia hingga saat ini. Biodiesel adalah sejenis bahan bakar

yang di proses dari sumber yang dapat diperbarui umumnya minyak tumbuhan

dan lemak hewan (Basumatary, 2013; Indriyani, 2010). Keberadaan biodiesel

memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya penghematan ataupun sebagai

subtitusi bahan bakar konvensional solar. Beberapa keuntungan biodiesel untuk

terus dikembangkan hingga saat ini antara lain memiliki sifat biodegradable, tidak

mencemari lingkungan, keberlanjutan yang tinggi, diperoleh dari sumber yang

dapat diperbarui, rendah emisi gas buang secara keseluruhan, kandungan sulfur

terabaikan, mempunyai titik nyala yang unggul dan efisiensi pembakaran yang

lebih tinggi dan membuka peluang ditemukannya pasar baru untuk produk hasil

pertanian (Thanh et al., 2012; Indriyani, 2010).

Selama krisis energi dewasa ini, harga minyak mentah menjadi mahal dan

masalah lingkungan telah mendorong pemerintah dan masyarakat untuk

menetapkan kebijakan energi nasional dengan penekanan pada energi terbarukan

seperti biodiesel untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan untuk

meningkatkan keamanan energi negara.

Biodiesel merupakan bahan bakar yang ramah terhadap lingkungan.

Biodiesel tidak mengandung berbahaya seperti Pb, bersifat biodegradable, emisi

gas buangnya juga lebih rendah dibandingkan emisi bahan bakar diesel. Biodiesel

memiliki efek pelumasan yang tinggi sehingga dapat memperpanjang umur mesin

dan memiliki angka setana yang tinggi ( > 50). Minyak goreng bekas dapat

digunakan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan biodiesel. Minyak goreng
bekas mengandung asam lemak bebas (Free Fatty Acid, FFA) yang dihasilkan

dari reaksi oksidasi dan hidrolisis (Gambar 1) pada saat penggorengan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan asam lemak

bebas adalah mereaksikan asam lemak bebas dengan alkohol dengan bantuan

katalis asam sulfat. Reaksi ini dikenal dengan esterifikasi. Diharapkan dengan

pretreatment ini dapat menurunkan kadar asam lemak bebas yang terdapat dalam

minyak goreng bekas sehingga kualitas biodiesel yang dihasilkan akan lebih baik.

B. Tujuan

1. Memahami pengertian biodiesel.

2. Mengetahui proses pembuatan biodiesel.

3. Mengetahui alat-alat yang digunakan pada pembuatan biodiesel.

4. Mengetahui manfaat biodiesel.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Bahan bakar minyak bumi diperkirakan akan habis jika dieksploitasi secara

besar-besaran. Ketergantungan terhadap bahan bakar minyak bumi dikurangi

dengan cara memanfaatkan biodiesel, dimana bahan bakunya masih sangat besar

untuk dikembangkan (Darmanto, Ireng, 2006). Berdasarkan hasil evaluasi

kelayakan beberapa bahan baku biodiesel, Ruhyat dan Firdaus (2006) telah

menentukan bahwa jenis minyak nabati yang paling layak digunakan sebagai

bahan baku biodiesel adalah minyak goreng bekas (minyak jelantah).

Minyak goreng bekas dapat digunakan sebagai bahan baku dalam proses

pembuatan biodiesel. Minyak goreng bekas mengandung asam lemak bebas (Free

Fatty Acid, FFA) yang dihasilkan dari reaksi oksidasi dan hidrolisis (Gambar 1)

pada saat penggorengan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan asam lemak bebas

adalah mereaksikan asam lemak bebas dengan alkohol dengan bantuan katalis asam

sulfat. Reaksi ini dikenal dengan esterifikasi. Diharapkan dengan pretreatment ini dapat

menurunkan kadar asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak goreng bekas sehingga

kualitas biodiesel yang dihasilkan akan lebih baik.

Transesterifikasi adalah suatu reaksi yang menghasilkan ester dimana salah

satu pereaksinya juga merupakan senyawa ester. Jadi disini terjadi pemecahan

senyawa trigliserida dan migrasi gugus alkil antara senyawa ester. Ester yang

dihasilkan dari reaksi transesterifikasi ini disebut biodiesel.

Reaksi esterifikasi dan transesterifikasi merupakan reaksi bolak balik yang

relatif lambat. Untuk mempercepat jalannya reaksi dan meningkatkan hasil, proses

dilakukan dengan pengadukan yang baik, penambahan katalis dan pemberian


reaktan berlebih agar reaksi bergeser ke kanan. Secara umum faktor-faktor yang

mempengaruhi reaksi transesterifikasi adalah pengadukan, suhu, katalis,

perbandingan pereaksi dan waktu reaksi (Darnoko and Cheriyan, 2000).


III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Kompor dan panci

2. Neraca

3. Gelas ukur

4. Labu ukur

5. Erlenmeyer

6. Minyak Kelapa

7. Metanol Teknis

8. KOH

9. Aquades

10. Termometer

B. Prosedur Kerja

1. Ambil minyak.

2. Ambilla metanol teknis dengan KOH.

3. Tutuplah dengan kertas saring (plastik) dan kencang dengan karet gelang.

kocok (menggoyang) sampai larut. Larutan katalis.

4. Panaskan minyak, hingga suhu 60oC kemudian masukkan katalis.

5. Minyak dipanaskan selama 30 menit, atur suhunya agar stabil 60-65oC sambil

diaduk.

6. Masukkan ke dalam gelas ukur dan diamkan selama 24 jam.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Data katalis, KOH, dan Metanol


Kelompok Katalis KOH (gram) Methanol (ml)
1 1% 5.4 gr 137,05 ml
2 0.75% 4.02 gr 137,05 ml
3 0.5% 2.7 gr 137,05 ml

Tabel 2. Data hasil praktikum


Mr Rasio massa (gr) Kerapatan (gr/ml)
Minyak MeOH Minyak MeOH Minyak MeOH

1 6 519,86 130,14 458,51 102,60

Diketahui : Trigliserida + katalis ester/biodiesel + gliserol

Kapasitas total = 650 ml

Volume minyak = 540 ml

Massa minyak = 458,7 gr gram

Konstanta katalis minyak = 85 %

Tekanan MeOH = 95 %

Perbandinga minyak dengan MeOH = 1 : 6

Ar Minyak = 858

Ar MeOH = 32

ρ MeOH = 788,4 kg/lt

Massa katalis KOH 0,5 %, 0,75 %, 1 % ?

Perhitungan:
𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑥 𝑘𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
a. Volume minyak =
𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘+𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑀𝑒𝑂𝐻

1009.4 𝑚𝑙 𝑥 650 𝑚𝑙
Volume minyak =
1009.4 𝑚𝑙 +243.5 𝑚𝑙

656.110
Volume minyak =
1252.9

Volume minyak = 523.67 ml

𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘


Rasio volume minyak =
𝜌 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘

858 𝑔𝑟
Rasio volume minyak =
0.85 𝑔𝑟/𝑚𝑙

Rasio Volume minyak = 1009.4 ml

Rasio massa minyak = Mr x Ar = 1 x 858 = 858

458.7 𝑔𝑟
ρ minyak = 540 𝑚𝑙

ρ minyak = 0.85 gr/ml

𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑀𝑒𝑂𝐻


Rasio volume MeOH =
𝜌 𝑀𝑒𝑂𝐻

192 𝑔𝑟
Rasio volume MeOH =
0.7884 𝑔𝑟/𝑚𝑙

Rasio volume MeOH = 243.5 ml

ρ MeOH = 0.7884 gram/ml

𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑀𝑒𝑂𝐻 𝑥 𝑘𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙


b. Volume MeOH =
𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘+𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑀𝑒𝑂𝐻

243.5 𝑚𝑙 𝑥 650 𝑚𝑙
Volume MeOH =
1009.4 𝑚𝑙 + 243.5 𝑚𝑙

158.275
Volume MeOH =
1252.9

Volume MeOH = 126.32 ml

Massa MeOH = ρ MeOH x Volume MeOH


Massa MeOH = 0.7884 gr/ml x 126.32 ml

Massa MeOH = 99.59 gr

Massa minyak = ρ minyak x volume minyak

Massa minyak = 0.85 gr/ml x 523.67 ml

Massa minyak = 445.11 gr

Tabel 3. Perhitungan Kosumsi Katalis


Mr Massa katalis 1% Massa katalis 0,75% Massa katalis 0,5 %
Minyak MeOH Minyak MeOH Minyak MeOH Minyak MeOH
1 6 5.4 gr 4.8 gr 4.05 gr 3.6 gr 2.7 gr 2.4 gr

Perhitungan:

1 % 𝑥 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑘𝑎𝑘
a. Massa katalis 1 % =
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑘𝑎𝑡𝑎𝑙𝑖𝑠 𝐾𝑂𝐻

1 % 𝑥 458.7
Minyak = = 5.4 gram
85 %

1 % 𝑥 458.7
MeOH = = 4.8 gram
95 %

0,75 % 𝑥 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑘𝑎𝑘


b. Massa katalis 0,75 % =
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑘𝑎𝑡𝑎𝑙𝑖𝑠 𝐾𝑂𝐻

0,75 % 𝑥458.7.
Minyak = = 4.05 gram
85 %

0,75 % 𝑥 458.7
MeOH = = 3.6 gram
95 %

0,5 % 𝑥 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑘𝑎𝑘


c. Massa katalis 0,5 % =
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑘𝑎𝑡𝑎𝑙𝑖𝑠 𝐾𝑂𝐻

0,5 % 𝑥 458.7
Minyak = = 2.7 gram
85 %

0,5 % 𝑥 458.7.
MeOH = = 2.4 gram
95 %
B. Pembahasan

Ambil minyak

Ambil methanol teknis dan KOH

Tutuplah dengan kertas saring (plastik) dan kencang


dengan karet gelang , kocok hingga larutan katalis
larut

Panaskan minyak hingga suhu 60oC kemudian


masukkan kalatis.

Panaskan minyak selama 30 menit, atur suhunya agar


stabil 60-65oC sambil diaduk.

Masukkan kedalam gelas ukur dan diamkan selama 24


jam

Fungsi pengadukan selama pemanasan adalah untuk mengcampur minyak

dengan katalis, sehingga proses pembuatan biodiesel dapat berjalan. Fungsi

penambahan katalis adalah untuk memberi nutrisi mikroba sehingga mikroba

dapat menghasilnya biodiesel. Fungsi pencucian dengan menggunakan aquades

adalah untuk memisahkan minyak dengan bahan campuran, sehingga kotoran

akan mengendap dibawah kemudian biodiesel akan berada dibagian atas.


Biodisel dapat dibuat melalui proses metanolisis berbagai minyak nabati

seperti minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak kedelai dan lain-lain. Minyak

kelapa memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai bahan baku dalam

pembuatan biodisel karena ketersediaannya yang berlimpah. Gelombang

ultrasonik dapat digunakan untuk meningkatkan konversi reaksi dan mempercepat

laju reaksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penggunaan

gelombang ultrasonik dalam proses transesterifikasi minyak kelapa, perbandingan

pereaksi, konsentrasi katalisator dan aktivasi metanol terhadap konversi reaksi.

Gambar 1. Jurnal pembuatan biodiesel dari minyak kelapa

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan biodiesel antara lain :

a. Suhu

Suhu optimum bagi pertumbuhan Saccharomyces cereviseae dan aktivitasinya

adalah 25-35˚C. Suhu memegang peranan penting, karena secara langsung

dapat mempengaruhi aktivitas Saccharomyces cereviseae dan secara tidak

langsung akan mempengaruhi kadar biodiesel yang dihasilkan.


b. Nutrisi

Selain sumber karbon, Saccharomyces cereviseae juga memerlukan sumber

nitrogen, vitamin dan mineral dalam pertumbuhannya. Pada umumnya

sebagian besar Saccharomyces cereviseae memerlukan vitamin seperti biotin

dan thiamin yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Beberapa mineral juga

harus ada untuk pertumbuhan Saccharomyces cereviseae seperti phospat,

kalium, sulfur, dan sejumlah kecil senyawa besi dan tembaga.

c. PH

PH pada proses fermentasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

kehidupan Saccharomyces cereviseae. Saccharomyces cereviseae dapat

tumbuh dengan baik pada kondisi pH 4 – 6.

Praktikum pembuatan biodiesel yang dilakukan oleh kelompok 1, 2, dan 3

dengan bahan baku minyak untuk dibuat biodiesel yang mendapat 3 perlakuan

berbeda. Untuk kelompok 1 dengan kadar katalis adalah 1% dan KOH 5.4 gr dan

methanol 137.05 ml. Untuk kelompok 2 dengan kadar katalis adalah 0.75% dan

KOH 4.02 gr dan methanol 137.05 ml. Untuk kelompok 3 dengan kadar katalis

adalah 0.5% dan KOH 2.7 gr dan methanol 137.05 ml. Untuk volume minyak

yang dihasilkan oleh kelompok 3 adalah 523.67 ml.

Pemakaian minyak bekas sebagai biodiesel sangatlah baik , selain

mengurangi limbah juga dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil. Dalam

pembuatannya yang mudah dan sederhana membuat masyarakat mampu membuat

biodiesel dalam skala kecil.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Biodiesel adalah sejenis bahan bakar yang di proses dari sumber yang dapat

diperbarui umumnya minyak tumbuhan dan lemak hewan (Basumatary, 2013;

Indriyani, 2010).

2. Reaksi esterifikasi dan transesterifikasi merupakan reaksi bolak balik yang

relatif lambat. Untuk mempercepat jalannya reaksi dan meningkatkan hasil,

proses dilakukan dengan pengadukan yang baik, penambahan katalis dan

pemberian reaktan berlebih agar reaksi bergeser ke kanan. Secara umum

faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi transesterifikasi adalah pengadukan,

suhu, katalis, perbandingan pereaksi dan waktu reaksi (Darnoko and Cheriyan,

2000).

3. Alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan biodiesel adalah botol

aqua, pipet, saringan, panci serta termometer. Tidak lupa penambahan katalis

sesuai perlakuan.

4. Manfaat biodiesel adalah sebagai bahan bakar alternative yang berguna

sebagai pengganti bahan bakar fosil.

B. Saran

1. Sebaiknya asisten lebih tepat waktu dalam melakukan praktikum dan

sebaiknya praktikum selesai sebelum UAS.

2. Sebaiknya asisten lebih persiapan dalam mempersiapkan bahan baku

praktikum, sehingga praktikum tidak mengulur waktu.


DAFTAR PUSTAKA

Adhani, Lisa dkk. 2016. Pembuatan Biodiesel Dengan Cara Adsorpsi Dan
Transesterifikasi Dari Minyak Goreng Bekas. Jurnal Kimia VALENSI:
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Ilmu Kimia. Vol: 2. No: 1. Hal: 71-80.

Aziz, Isalmi dkk. 2011. Pembuatan Produk Biodiesel Dari Minyak Goreng Bekas
Dengan Cara Esterifikasi Dan Transesterifikasi. Valensi Vol. 2 No. 3. Hal :
443-448.

Putri, Sri Kembaryanti dkk. 2012. Studi Proses Pembuatan Biodiesel Dari
Minyak Kelapa (Coconut Oil) Dengan Bantuan Gelombang Ultrasonik.
Jurnal Rekayasa Proses. Vol. 6, No. 1.

R, Susila Arita dkk. 2013. Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Kelapa Sawit
Dengan Katalis Cao Disinari Dengan Gelombang Mikro. Jurnal Teknik
Kimia No. 4, Vol. 19.

Setawati, Evi dkk. 2012. Teknologi Pengolahan Biodiesel Dari Minyak Goreng
Bekas Dengan Teknik Mikrofiltrasi Dan Transesterifikasi Sebagai Alternatif
Bahan Bakar Mesin Diesel. Jurnal Riset Industri. Vol. IV, No. 2. Hal : 117-
127.

Setiadji, Soni dkk. 2017. Alternatif Pembuatan Biodiesel Melalu Transesterifikasi


Minyak Castor (Ricinus Communis) Menggunakan Katalis Campuran
Cangkang Telur Ayam Dan Kaolin. Jurnal Kimia VALENSI: Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Ilmu Kimia, Vol :3 ,No : (1), Hal : 1-10.