Anda di halaman 1dari 25

PARADIGMA DALAM MEMAHAMI BHINEKA TUNGGAL IKA UNTUK

MEMANDANG MASYARAKAT MULTIKULTURAL

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pendidikan Pancasila
yang dibina oleh Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. dan
Rintahani Johan Pradana, S.Pd.

Oleh
Bagus Prasetyo Bayu Aji
140432605650

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN EKONOMI DAN STUDI PEMNAGUNAN
PROGRAM STUDI S1 EKONOMI PEMBANGUNAN
Febuari 2015
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, bimbingan, dan petunjuk-Nya, sehingga atas
kemudahan-Nya, kami dapat menyelesaikan pembuatan Makalah ini dengan judul
“PARADIGMA DALAM MEMAHAMI BHINEKA TUNGGAL IKA UNTUK
MEMANDANG MASYARAKAT MULTIKULTURAL”.
Kemudian kami juga menghaturkan ucapan terimakasih kepada Prof. Dr.
Hariyono, M.Pd. dan Rintahani Johan Pradana, S.Pd.yang telah membimbing kami
dalam mata kuliah Agama Islam sehingga kami mampu mengerjakan makalah ini
dengan baik. Makalah ini kami buat tidak hanya semerta-merta untuk memenuhi
tugas yang telah diberikan namun kami juga berharap bahwa maklah ini mampu
dijadikan sebagai pembelajaran kususnya dalam pengantar Pendidikan Pancasila.
Pada kesempatan ini pula kami menghaturkan ucapan terimakasih bagi semua
pihak yang telah membantu dalam penyeselaian makalah ini kususnya bagi Dosen
pembimbing mata kuliah Pengantar Pendidikan Pancasila bagi teman-teman dan
semua yang tidak dapat kami ucapkan satu-persatu.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekeliruan dan kekurangan dalam
makalah ini, maka besar kiranya harapan kami untuk mendapatkan kritik dan saran
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Dan kami berharap bahwa
makalah ini dapat benar-benar bermanfaat bagi semua pihak, dan juga bagi diri kami
sendiri.

Malang, 16 febuari 2015


penyusun

i
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ................................................................................................... i
Daftar Isi........................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. ii
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 4
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 6
2.1 pluralisme, multikultural dan kemajemukan masyarakat ................................... 6
2.2 sejarah Bhineka Tunggal Ika ............................................................................. 10
2.3 Kekerasan dan Isu Konflik ................................................................................ 15
2.4 Tinjauan Paradigma Positivis dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika........ 17
2.5 Tinjauan Paradigma Interpretif dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika. .... 18
2.6 Tinjauan Paradigma Kritis dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika ............ 19
BAB III PENUTUP .................................................................................................... 21
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 21
3.2 Saran .................................................................................................................. 21
Daftar Pustaka ............................................................................................................. 23

Daftar Tabel

Tabel 1.1 Transformasi Masyarakat Indonesia Bhinneka Tunggal Ika ........................ 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kemajemukan
masyarakatnya yang sangat tinggi dan tingkat pluralitas sosial yang sangat kompleks.
Clifford Geertz (1996) (Hardiman, 2002:4) mengakui sulit melukiskan anatomi
Indonesia secara persis. Negara ini, bukan saja multietnis (seperti Dayak, Kutai,
Makasar, Bugis, Jawa, Sunda, Batak, Aceh, Flores, Bali, dan seterusnya), tetapi juga
menjadi medan pertarungan pengaruh multimental dan ideologi (seperti India, Cina,
Belanda, Portugis, Hinduisme, Budhisme, Konfusianisme, Islam, Kristen,
Kapitalisme, dan seterusnya). Geertz melukiskan Indonesia sebagai sejumlah
„bangsa‟ dengan ukuran, makna dan karakter yang berbeda-beda yang melalui
sebuah narasi agung yang bersifat historis, ideologis, religius atau semacam itu
disambung-sambung menjadi sebuah struktur ekonomis dan politis bersama.
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk itu, ada dua istilah yang penting
dipahami yaitu kemajemukan (pluralitas) dan keanekaragaman (heterogenitas). Pluralitas
sebagai kontraposisi dari singularitas mengindikasikan adanya suatu situasi yang terdiri
dari kejamakan, dan bukan ketunggalan (Kusumohamidjojo, 2000:45). Artinya, dalam
“masyarakat Indonesia” dapat dijumpai berbagai subkelompok masyarakat yang tidak
bisa disatu kelompokkan satu dengan yang lainnya. Adanya tidak kurang dari 500 suku
bangsa di Indonesia menegaskan kenyataan itu. Demikian pula halnya dengan
kebudayaan mereka. Sementara heterogenitas yang merupakan kontraposisi dari
homogenitas mengindikasikan suatu kualitas dari keadaan yang menyimpan
ketidaksamaan dalam unsur-unsurnya (Kusumohamidjojo, 2000:45).
Maka dengan itu dibutuhkan paham ideologi yang sangat mempengaruhi
kemajemukan masyarakat indonesia agar merasa sama, satu, dan bersaudara paham
ini telah dikenal masyarakat indonesia sejak lama yaitu Bhineka Tunggal Ika. Pada
dasarnya Bhineka Tunggal Ika merupakan gambaran dari kesatuan geopolitik dan
geobudaya di Indonesia, yang artinya terdapat keberagaman dalam agama , ideologis,
suku bangsa, bahasa. Keragaman tersebut terjadi karena segi geografis, indonesia
adalah negara kepulauan, yang terdiri dari 17.200 pulau, dan terdiri lebih dari 300
etnis mayoritas dan minoritas yang kemudian berdampak pada keaneragaman bahasa
dari etnis-etnis yang tersebar dalam urutan kepulauan indonesia (Rahman, 2010:8)
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa yang tercantum dan menjadi
bagian dari lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Sebagai semboyan
bangsa, artinya Bhinneka Tunggal Ika adalah pembentuk karakter dan jati diri bangsa.
Bhinneka Tunggal Ika sebagai pembentuk karakter dan jati diri bangsa ini tak lepas

3
dari campur tangan para pendiri bangsa yang mengerti betul bahwa Indonesia yang
pluralistik memiliki kebutuhan akan sebuah unsur pengikat dan jati diri bersama.
Kalimat Bhinneka Tunggal Ika sendiri diambil dari penggalan Sumpah Palapa
yang dikumandangkan oleh Patih Gajah Mada dalam usaha penaklukan nusantara di
masa keemasam Kerajaan Majapahit. Sumpah Palapa kemudian menjadi dasar bagi
terciptanya Sumpah Pemuda pada 28 oktober 1928. Ketika Sumpah Pemuda
diikrarkan, saat itulah Indonesia sebenarnya telah melebur menjadi sebuah bangsa
Indonesia dan melepaskan diri dari segala bentuk ide kepulauan, ide kesukuan dan
sebagainya (Setyani, 2009: 4-5).
Bhinneka Tunggal Ika sering diartikan sebagai ‘berbeda-beda tetapi tetap
satu’. Dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia, frasa ini sering muncul dalam
nuansa makna yang berbedabeda. Keberagaman dan persatuan muncul sebagai atribut
yang melekat dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Nuansa perbedaan makna
itulah yang ingin diangkat dalam tulisan ini. Menurut penulis, nuansa perbedaan
makna tersebut didasari oleh adanya perbedaan cara pandang atau yang populer
disebut sebagai paradigma.
Dalam paradigma yang berbeda, maka Bhinneka Tunggal Ika akan terlihat
berbeda, terutama bila dilihat dari bagian mana dari semboyan tersebut ditekankan
penerjemahannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di Indonesia. Terdapat
ketegangan antara “kesatuan” (unity) dan “keragaman” (diversity) sebagai isu utama
dalam masyarakat plural yang dalam konteks Indonesia, adalah isu pemaknaan
Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Menurut Bagir dan Dwipayana, semboyan
Bhinneka Tunggal Ika adalah awal upaya memecahkan masalah ketegangan yang
terjadi tersebut. Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sebuah akhir ataupun semboyan
yang harus ditafsirkan terus-menerus (Bagir, Dwipayana, Rahayu, Sutarno, & Wajidi,
2011: 45).
Multikulturalisme dan anggapan etnosenrtisme, kecemburuan sosial, dan sifat
anarkisme menjadi polemik perpecahan antar masyarakat di indonesia Bhineka
Tunggal ika sebagai pengikat memiliki kecenderungan yang rendah. Pembahasan
makala ini memperhatikan sikap positif dan pergeseran makna Bhineka Ttunggal Ika
sebagi pemersatu bangsa dan unsur lain yang mungkin ada dalam pengaruhnya
terhadap perpecahan masyarakat Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
 Bagaimana memandang Paradigma Bhineka Tunggal Ika dalam
Multikultularisme dan kemajemukan masyarakat Indonesia
 Bagaimana Bhineka Tunggal Ika mampu mempertahankan Persatuan
dan kesatuan Bangsa Indonesia

4
1.3 Tujuan
 Mendiskripsikan Bhineka Tunggal Ika mampu menjadi filosofi hidup
dalam masyarakat majemuk
 Mediskripsikan pengaruh Agama, Ras, Suku, golongan terhadap
eksistensi Bhineka Tunggal Ika

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 pluralisme, multikultural dan kemajemukan masyarakat


Keberagaman merujuk pada pluralisme. Konsep pluralisme sering digunakan
sebagai konsep yang mendeskripsikan adanya keragaman budaya. Sebagian
antropolog menggunakan pemahaman pluralisme sebagai fakta atas adanya
kemajemukan budaya. Parsudi Suparlan misalnya, menggunakan konsep “masyarakat
multikultural Indonesia” yang dibangun sebagai hasil reformasi dengan “tatanan
kehidupan orde baru yang bercorak ‘masyarakat majemuk’(plural society)”. Plural
Society adalah istilah yang digunakan Furnival untuk menggambarkan segregasi
masyarakat Indonesia pada masa kolonialisme Belanda (Bagir, Dwipayana,
Rahayu,Sutarno, Wajidi, 2011: 28-29).
Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian
dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan
penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat
dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai
pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi
Azra, 2007). Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari
beberapa macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit
perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial,
sejarah, adat serta kebiasaan (Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
Sampai di titik ini, kita bisa memandang proyek multikulturalisme dengan
lebih menyeluruh, bukan semata-mata sebagai jargon politik untuk mencitrakan
ideologi atau organisasi yang pro kemanusiaan, melainkan sebagai sebuah konsep
filosofis dengan asumsi-asumsi yang ternyata problematis. Salah satu ironi dari
proyek multikultural, lanjut Anne Phillips (2007:25), adalah bahwa atas nama
kesetaraan dan respek mutual antarelemen masyarakat, ia juga mendorong kita untuk
memandang kelompok-kelompok dan tatanan-tatanan budaya secara sistematis lebih
berbeda daripada kenyataan sesungguhnya dan dalam proses tersebut,
multikulturalisme berkontribusi menciptakan stereotipisasi wujud-wujud kultural
yang ada.
Seperti telah disinggung di atas, konsep lain yang berhubungan dengan
pluralisme adalah masyarakat majemuk dan multikulturalisme. Masyarakat majemuk
terbentuk dari dipersatukannya masyarakat-masyarakat suku bangsa oleh sistem
nasional, yang biasanya dilakukan secara paksa (by force) menjadi sebuah bangsa
dalam wadah negara. Sebelum Perang Dunia kedua, masyarakat-masyarakat negara

6
jajahan adalah contoh dari masyarakat majemuk. Sedangkan setelah Perang Dunia
kedua contoh-contoh dari masyarakat majemuk antara lain, Indonesia, Malaysia,
Afrika Selatan, dan Suriname. Ciri-ciri yang menyolok dan kritikal dari masyarakat
majemuk adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintah nasional dengan
masyarakat suku bangsa, dan hubungan di antara masyarakat suku bangsa yang
dipersatukan oleh sistem nasional (Suparlan, 2004).
Hildred Geertz menggambarkan keberagaman kehidupan bangsaIndonesia
sebagai berikut:
“Terdapat lebih dari tiga ratus kelompok etnis yang benbeda-beda di
Indonesia, masing-masing kelompok mempunyai identitas
budayanya sendiri-sendiri, dan lebih dari dua ratus lima puluh
bahasa yang berbeda-beda dipakai. hampir semua agama besar dunia
diwakili, selain dari agama-agama asli yang jumlahnya banyak
sekali.” (Heldred, 1963: 24)
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk itu, ada dua istilah yang penting
dipahami yaitu kemajemukan (pluralitas) dan keanekaragaman (heterogenitas).
Pluralitas sebagai kontraposisi dari singularitas mengindikasikan adanya suatu situasi
yang terdiri dari kejamakan, dan bukan ketunggalan (Kusumohamidjojo, 2000:45).
Artinya, dalam “masyarakat Indonesia” dapat dijumpai berbagai subkelompok
masyarakat yang tidak bisa disatukelompokkan satu dengan yang lainnya. Adanya
tidak kurang dari 500 suku bangsa di Indonesia menegaskan kenyataan itu. Demikian
pula halnya dengan kebudayaan mereka. Sementara heterogenitas yang merupakan
kontraposisi dari homogenitas mengindikasikan suatu kualitas dari keadaan yang
menyimpan ketidaksamaan dalam unsur-unsurnya (Kusumohamidjojo, 2000:45).
Artinya dari masing masing golongan dan kelompok memiliki potensi kesenderungan
untuk sifat ethnosentisme karena keberagaman dan perbedaan cenderung mendorong
manusia menganggap pandangan pada sudut pandang golongan atau kelompok
tersebut.
Salah satu agenda reformasi masyarakat Indonesia ialah menegakkan suatu
hidup bersama yang demokratis, mengakui akan martabat manusia yang sama (human
dignity), menghormati akan keanekaragaman dalam masyarakat Indonesia, dan
bertekad untuk membangun kesatuan Indonesia dalam wadah Negara Kesaturan
Republik Indonesia. Masyarakat Indonesia baru itu adalah masyarakat multikultural
(multicultural society) Indonesia yang semakin meneguhkan semangat Bhinneka
Tunggal Ika sebagai upaya untuk membangun integrasi dan demokrasi Indonesia
(Arif, 2008).

7
Indonesia dikonsepsikan dan dibangun sebagai multicultural nation-state
dalam konteks negara-kebangsaan Indonesia modern, bukan sebagai monocultural
nation-state. Hal itu dapat dicermati dari dinamika praksis kehidupan bernegara
Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sampai saat ini
dengan mengacu pada konstitusi yang pernah dan sedang berlaku, yakni UUD 1945,
Konstitusi RIS 1949, dan UUDS 1950, serta praksis kehidupan bernegara dan
bermasyarakat yang menjadi dampak langsung dan dampak pengiring dari berlakunya
setiap konstitusi serta dampak perkembangan internasional pada setiap zamannya itu.
Cita-cita, nilai, dan konsep demokrasi, yang secara substantif dan prosedural
menghargai persamaan dalam perbedaan dan persatuan dalam keberagaman, secara
konstitusional dianut oleh ketiga konstitusi tersebut.
Konsep masyarakat multikultural (multicultural society) perlu dibedakan
dengan konsep masyarakat majemuk (plural society) yang menunjukkan
keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan suku bangsa, multikulturalisme
dikembangkan dari konsep pluralisme budaya dengan menekankan pada
kesederajatan kebudayaan yang ada dalam sebuah masyarakat (Suparlan, 2005:98).
Multikulturalisme ini mengusung semangat untuk hidup berdampingan secara damai
(peaceful coexistence) dalam perbedaan kultur yang ada baik secara individual
maupun secara kelompok dan masyarakat (Azra, 2006:154, Suparlan 2005). Individu
dalam hal ini dilihat sebagai refleksi dari kesatuan sosial dan budaya di mana mereka
menjadi bagian darinya. Dengan demikian, corak masyarakat Indonesia yang
Bhinneka Tunggal Ika bukan lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya
tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia.
Tabel 1.1 Transformasi Masyarakat Indonesia Bhinneka Tunggal Ika
Masyarakat Majemuk Masyarakat
(plural society) Multikultural
(multicultural society)
terdiri dari dua atau sebuah pemahaman,
lebih elemen atau penghargaan dan
tatanan sosial yang penilaian atas budaya
hidup berdampingan, seseorang, serta sebuah
namun tanpa membaur penghormatan dan
dalam satu unit politik keingintahuan tentang
yang tunggal. budaya etnis orang lain.

Sumber: Arif, 2008


Perubahan cara berpikir pluralisme ke multikulturalisme adalah perubahan
kebudayaan yang menyangkut nilai-nilai dasar yang tidak mudah diwujudkan. Oleh
karena itu diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai konsep

8
multikulturalisme yang sesuai dengan konteks Indonesia, dan pemahaman itu harus
berjangka panjang, konsisten, dan membutuhkan kondisi politik yang mendukung.
Masyarakat baru yang merupakan pergeseran dari masyarakat majemuk ke
masyarakat multikultural Indonesia yang dicita-citakan adalah masyarakat yang
menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai nilai yang mengatur kehidupannya sebagai
warga suatu bangsa. Sebagai dasar kehidupan bernegara, Pancasila memiliki nilai-
nilai yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi setiap warga
negara.
Pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa diakui bahwa agama yang dianut oleh
bangsa Indonesia merupakan sumber etika dan moral. Manusia Indonesia yang
bermoral adalah manusia yang menjalankan nilai-nilai agama yang dianutnya. Di
dalam sila kedua Pancasila mengandung nilai-nilai demokrasi dan HAM. Seorang
manusia Indonesia hanyalah mempunyai arti di dalam kehidupan bersama manusia
Indonesia lainnya untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan. Hal ini berarti
manusia dan masyarakat Indonesia adalah manusia dan masyarakat yang humanis dan
mengakui akan hak asasi manusia. Di dalam sila kelima Pancasila, yang penting ialah
penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan
sosial sebagaimana yang dikemukakan oleh Soekarno di dalam salah satu pidatonya.
Di dalam sila keempat mengandung nilai-nilai demokrasi dan pandangan populis.
Kehidupan bersama masyarakat Indonesia berpihak kepada kepentingan rakyat dan
bukan kepada kepentingan penguasa atau kepada segolongan masyarakat yang better
off. Di dalam sila ketiga, Persatuan Indonesia, seperti yang telah dijelaskan oleh
Soekarno merupakan alat dan bukan tujuan di dalam kehidupan bersama masyarakat
Indonesia. Oleh sebab itu berbagai kebijakan yang memaksa menghilangkan
kebhinnekaan masyarakat Indonesia adalah bertentangan dengan sila Persatuan
Indonesia.
Sifat pandangan ethnosentrisme ini harus diatur dan diarahkan agar tidak
mendominasi dari lingkungan yang majemuk dan banyak golongan berbeda. Bhineka
Tunggal Ika sebagai alat pengatur masyarakat yang multikultural merupakan paham
yang digunaka oleh bangsa Indonesia sebagai alasan atau sabab pemersatu bangsa
hingga hari ini. Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia.
Semboyan ini tertulis di dalam lambang negara Indonesia, Burung Garuda Pancasila.
Pada kaki Burung Garuda itulah terpampang dengan jelas tulisan Bhinneka Tunggal
Ika. Secara konstitusional, hal tersebut telah diatur dalam pasal 36A Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945 yang berbunyi “Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika”.

9
2.2 sejarah Bhineka Tunggal Ika
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang disemangati oleh Sumpah
Pemuda tahun 1928, sebetulnya merupakan terbentuknya sebuah bangsa dalam
sebuah negara yaitu Indonesia tanpa ada unsur paksaan. Namun begitu, pembentukan
bangsa yang ada itu, bukanlah tanpa halangan. Pada awal kemerdekaan Indonesia,
tantangan pertama adalah membuat berbagai perangkat guna melegitimasi
pembentukan negara baru, seperti pembuatan perangkat hukum (undang-undang
dasar), perangkat pemerintahan (penyusunan alur tata negara), dan juga penentuan
simbol-simbol kebangsaan. Proses pembuatan berbagai perangkat yang ada tersebut
dijalankan oleh suatu badan yang dikenal dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) melalui sidang-sidangnya. Pada akhirnya dihasilkanlah UUD 1945
sebagai undangundang dasar, pasangan proklamator sebagai presiden dan wakil
presiden, Pancasila sebagai dasar negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai
semboyan negara Indonesia.
Para pendiri negara (founding fathers) yang memahami betul konstelasi
masyarakat Indonesia yang plural dan sekaligus juga heterogen telah menjadikan
ujar-ujar Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bagi Negara Republik Indonesia
(Kusumohamidjojo, 2000:1, 45), bahkan setelah proses perubahan UUD 1945, ujar-
ujar Bhinneka Tunggal Ika itu semakin dikukuhkan sebagai semboyan bangsa
sebagaimana dirumuskan dalam pasal 36A UUD 1945 yang berbunyi Lambang
Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan
ini memuat idealitas multikulturalisme di Indonesia (Hardiman, 2005:514).
Sebagai suatu historical being, Bhinneka Tunggal Ika yang secara harfiah
diartikan sebagai bercerai berai tetapi satu atau although in pieces yet one, melewati
rentang yang panjang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, mulai pada zaman
negara kerajaan Nusantara. Kalimat itu sendiri diambil dari falsafah Nusantara yang
sejak zaman Kerajaan Majapahit juga sudah dipakai sebagai motto pemersatu
Nusantara, yang diikrarkan oleh Patih Gadjah Mada dalam Kakawin Sutasoma, karya
Empu Tantular:
Rwāneka dhātu winuwus wara Buddha Wiśwa,
bhinnêki rakwa ring apan kěna parwanosěn,
mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
bhinnêka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa (Pupuh 139: 5).
(Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka
memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam
selintas pandang? Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu
sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda, namun hakikatnya sama.

10
Karena tidak ada kebenaran yang mendua. (Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma
Mangrwa) (Tantular, 2009:504-505)
Kitab Sutasoma mengajarkan toleransi kehidupan beragama, yang
menempatkan agama Hindu dan agama Buddha hidup bersama dengan rukun dan
damai. Kedua agama itu hidup beriringan di bawah payung kerajaan, pada jaman
pemerintahan raja Hayam Wuruk. Meskipun agama Hindu dan Buddha merupakan
dua substansi yang berbeda, namun perbedaan itu tidak menimbulkan perpecahan,
karena kebenaran Hindu dan Buddha bermuara pada hal “Satu”. Hindu dan Buddha
memang berbeda, tetapi sesungguhnya satu jenis, tidak ada perbedaan dalam
kebenaran.
Tentang hal ini amatlah menarik menyimak apa yang dikemukakan oleh
Supardan (2008:135) yang mengutip uraian Darmodihardjo (1985), yang menyatakan
bahwa Bhinneka Tunggal Ika secara hakiki mengungkapkan kebenaran historis yang
tidak dapat disangkal lagi sejak zaman kerajaan dahulu. Kerajaan Majapahit memiliki
politik hubungan antarkerajaan yang terungkap dalam semboyan “mitreka satata”
yang berarti “persahabatan dengan dasar saling menghormati” dengan kerajaan-
kerajaan Asia Tenggara lainnya seperti Champa, Syam, Burma. Pujangga Empu
Tantular melukiskan kehidupan beragama dengan baik dengan kalimat “bhinneka
tunggal ika tan hana darma mangrua” yang berarti “walaupun berbeda, satu adanya,
tidak ada agama yang tujuannya berbeda”. Empu Tantular sudah mendudukan ujar-
ujar tersebut sebagai falsafah Kerajaan Majapahit pada zamannya (abad ke-14).
Istilah “Bhinneka Tunggal Ika” yang semulamenunjukkan semangat toleransi
keagamaan, kemudiandiangkat menjadi semboyan bangsa Indonesia. Sebagai
semboyan bangsa konteks permasalahannya bukan hanya menyangkut toleransi
beragama tetapi jauh lebih luas seperti yang umum disebut dengan istilah suku,
agama, ras, dan antar golongan(SARA). Semboyan itu dilukiskan di bawah lambang
negara Indonesia yang dikenal dengan nama Garuda Pancasila. Lambang negara
Indonesia lengkap dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” telah ditetapkan dalam
Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 1951 tentang Lambang Negara.
Kebhinnekaan atau yang berbeda-beda itu menunjuk pada realitas objektif
masyarakat Indonesia yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Keanekaragaman
masyarakat Indonesia dapat ditemukan dalam berbagai bidang kehidupan.
Keanekaragaman di bidang politik diwarnai oleh adanya kepentingan yang berbeda-
beda antara individu atau kelompok yang satu dengan individu atau kelompok yang
lainnya. Di bidang ekonomi, keanekaragaman dapat dilihat dari adanya perbedaan
kebutuhan hidup, yang akhirnya berimplikasi terhadap munculnya keanekaragaman
pada pola produksi. Di bidang sosial, keberagaman itu tercermin dari adanya

11
perbedaan peran dan status sosial. Selain itu, keanekaragaman juga dapat dilihat dari
segi geografis, budaya, agama, etnis, dan sebagainya. Keanekaragaman itu pun masih
dikukuhkan lagi oleh kebhinnekaan perseorangan masing-masing anak negeri yang
kini berjumlah lebih dari 200 juta jiwa. Dengan adanya keanekaragaman dalam
berbagai bidang tersebut menyebabkan Indonesia dijuluki sebagai masyarakat yang
multi etnik, multi agama (multi religi), multi budaya (multikultural), dan sebagainya.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan masyarakat yang
majemuk (Plural Society).
Jika dilihat dari struktur sosialnya, keanekaragaman atau kemajemukan
masyarakat Indonesia berdimensi ganda, karena memiliki kemajemukan secara
horizontal dan vertikal. Kemajemukan secara horizontal dalam sosiologi dikenal
dengan istilah deferensiasi sosial. Diferensiasi sosial merupakan suatu sistem kelas
sosial dengan sistem linear atau tanpa membeda-bedakan tinggi-rendahnya kelas
sosial itu sendiri. Misalnya, perbedaan agama, ras, etnis, clan (klan), pekerjaan,
budaya, maupun jenis kelamin. Kemajemukan secara vertikal melahirkan stratifikasi
sosial. Dalam Sosiologi, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Perwujudannya
adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada
lapisan-lapisan di bawahnya, seperti lapisan kaya dan miskin, penguasa dan jelata.
Makna kesatuan (tunggal ika) dalam Bhinneka Tunggal Ika merupakan
cerminan rasionalitas yang lebih menekankan kesamaan daripada perbedaan.
Kesatuan merupakan sebuah gambaran ideal. Dikatakan ideal karena kesatuan
merupakan suatu harapan atau cita-cita untuk mengangkat atau menempatkan unsur
perbedaan yang terkandung dalam keanekaragaman bangsa Indonesia ke dalam suatu
wadah, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesatuan adalah upaya untuk
menciptakan wadah yang mampu menyatukan kepelbagaian atau keanekaragaman.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika
merupakan pernyataan jiwa dan semangat bangsa Indonesia yang mengakui realitas
bangsa yang majemuk, namun tetap menjunjung tinggi kesatuan. Bhinneka Tunggal
Ika merumuskan dengan tegas adanya harmoni antara kebhinnekaan dan
ketunggalikaan, antara keanekaan dan keekaan, antara kepelbagaian dan kesatuan,
antara hal banyak dan hal satu, atau antara pluralisme dan monisme.
Bhinneka Tunggal Ika adalah cerminan keseimbangan antara unsur perbedaan
yang menjadi ciri keanekaan dengan unsur kesamaan yang menjadi ciri kesatuan
(Rizal Mustansyir, 1995 : 52). Keseimbangan itu sendiri merupakan konsep filsafati
yang selalu terletak pada ketegangan di antara dua titik ekstrim, yaitu keanekaan
mutlak di satu pihak dan kesatuan mutlak di pihak lain. Setiap kali segi keanekaan

12
yang menonjolkan perbedaan itu memuncak akan membawa kemungkinan
munculnya konflik, maka kesatuanlah yang akan meredakan atas dasar kesadaran
nasional. Demikian pula sebaliknya, manakala segi kesatuan yang menonjolkan
kesamaan itu tampil secara berlebihan, maka keanekaan selalu mengingatkan bahwa
perbedaan adalah kodrat sekaligus berkah yang tak terelakkan.
Untuk menjaga keberlangsungan hidup berbangsa, kebhinnekaan sebaiknya
tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi kebhinnekaan harus dipandang sebagai aset
yang diharapkan mampu berperan sebagai sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia.
Kebhinnekaan sebagai kekayaan serta mendaya-gunakannya justeru dapat menjadi
pondasi kokoh persatuan dari sebuah imagined community yang bernama Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Kesadaran sebagai masyarakat yang berbhinneka tetapi
mencita-citakan kesatuan yang dikukuhkan sebagai konsensus bersama dalam
Soempah Pemuda 1928 telah menjadi modal sosial ampuh yang berhasil
mempersatukan dan mengantar negara-bangsa ini mampu melewati masa-masa sulit
dari dulu sampai sekarang, bahkan juga nanti.
Masyarakat yang berbhinneka yang dicirikan oleh adanya perbedaan memang
sangat rawan terhadap konflik. Indonesia sebagai masyarakat yang berbhinneka,
secara internal telah mengandung sumbersumber ketegangan dan pertentangan.
Menurut Eka Dharmaputera (1997 : 40), baik keanekaragaman maupun kesatuan
Indonesia adalah kenyataan sekaligus persoalan. Kebhinnekaan Indonesia sepintas
lalu memang jauh lebih menonjol daripada kesatuannya. Oleh karena itu, bahaya
disintegrasi selalu merupakan ancaman baik riil maupun potensial. Jika bertumpu
pada realitas bangsa yang berbhinneka, bahaya disintegrasi memang merupakan
ancaman yang amat nyata. Namun karena Indonesia tidak hanya berbhinneka, tetapi
juga tunggal ika, maka integrasi bukanlah sesuatu yang mustahil. Setiap pembahasan
tentang Indonesia yang mengabaikan kedua atau salah satu dimensi tersebut, dapatl
ahdipastikan tidak akan mencapai sasaran.
Selanjutnya Eka Darmaputera (1997 : 8-9) juga mengatakan, agar masyarakat
dapat berfungsi dengan baik, masyarakat harus mampu mengatasi disintegrasi
potensial yang ada di dalam dirinya sendiri. Seluruh masyarakat dapat berfungsi
hanya apabil anggota-anggotanya bersedia untuk mengintegrasikan diri, baik dalam
bentuk integrasi normatif maupun integrasi nilai. Integrasi normatif tercermin dari
adanya kehidupan bersama di mana seluruh anggota masyarakat bersedia mematuhi
dan mengikuti “aturan permainan” yang telah ditentukan. Sedangkan integrasi nilai
tercermin dari adanya nilai-nilai fundamental yang dijadikan sebagai pandangan
hidup bersama.

13
Perbedaan dalam kebhinekaan merupakan suatu realitas, karena itu perbedaan
tidak perlu lagi untuk dibeda-bedakan. Membeda-bedakan perbedaan justeru akan
dapat menimbulkan bahaya disintegrasi. Perbedaan dalam kebhinnekaan perlu
disinergikan atau dikelola dengan cara mendayagunakan aneka perbedaan menjadi
modal sosial untuk membangun kebersamaan. Karena kesatuan dicirikan oleh adanya
kesamaan, maka untuk mewujudkan cita-cita kesatuan di tengah-tengah
kebhinnekaan diperlukan adanya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk melihat
kesamaan pada sesuatu yang berbeda itu. Secara individu, setiap manusia adalah
berbeda, baik dilihat dari segi fisiknya maupun mentalnya. Setiap manusia
merupakan subjek yang otonom. Namun demikian, setiap manusia memiliki kesa
maan, yaitu sama-sama manusia (sesama manusia). Demikian juga dalam konteks ke-
Indonesiaan, terdapat beragam suku, agama, ras, dan golongan yang masing-masing
memiliki karakteristik yang berbedabeda, tetapi semuanya memiliki kesamaan, yaitu
sama-sama bangsa Indonesia (sesama bangsa Indonesia). Konsep “sesama” tidak
hanya terbatas pada manusia. Manusia dengan binatang juga memiliki kesamaan,
yaitu sama-sama mahluk hidup (sesama mahluk hidup). Demikian juga kesamaan
bisa ditemukan dalam hubungannya dengan yang lain, sehingga muncul adanya
berbagai konsep sesama, seperi sesama ciptaan Tuhan, atau sesama isi dunia, dan lain
sebagainya. Inilah konsep “sesama” dalam arti luas (Pursika, 2009 : 28).
Persatuan dalam tulisan ini merujuk pada konsep integrasi nasional. Integrasi
adalah suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat,
tetapi tidak memberikan makna penting pada perbedaan ras tersebut. Hak dan
kewajiban yang terkait dengan ras seseorang hanya terbatas pada bidang tertentu saja
dan tidak ada sangkut pautnya dengan bidang pekerjaan atau status yang diraih
dengan usaha (Sunarto, 2004). Integrasi nasional adalah penyatuan bagian-bagian
yang berbeda menjadi sebuah kesatuan yang lebih utuh atau memadukan masyarakat-
masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa (Herdiawanto &
Hamdayama, 2010). Sebutan kesatuan bangsa atau kesatuan wilayah mempunyai dua
makna yaitu (kompasiana, 2010):
1. Menunjukkan sikap kebersamaan dari bangsa itu sendiri.
2. Menyatakan wujud yang hanya satu dan utuh, yaitu satu bangsa yang utuh
atau satu wilayah yang utuh. Dalam hubungannya dengan Bhinneka Tunggal Ika,
maka konsep integrasi nasional sangat berkaitan erat dengan konsep identitas
nasional. Identitas nasional adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (bangsa) dengan ciri-ciri yang khas,
yang dari ciri khas tersebut, suatu bangsa menjadi berbeda dengan bangsa lain
(Wibisono dalam Herdiawanto & Hamdayama, 2010). Dilihat dari konteks Indonesia,

14
identitas nasional merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang dihimpun dalam
satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila dan
Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya (Herdiawanto &
Hamdayama, 2010).
2.3 Kekerasan dan Isu Konflik
Akar masalah konflik dan kekerasan antarkelompok masyarakat atau
antarwarga memiliki latar belakang yang beragam. Bisa berpangkal dari perselisihan
pribadi antara dua orang dari etnis yang berbeda, bisa karena faktor sosial budaya,
politis, ideologis, dan kecemburuan ekonomi. Etnis setempat terlibat konflik dengan
etnis pendatang. Etnis setempat merasa cemburu secara sosial ekonomi terhadap etnis
pendatang yang secara sosial ekonomi lebih baik. Konflik sosial dan horisontal
menjadi membesar, meluas, memanas, dan mengeras karena melibatkan sentimen
kesukuan, ras, politis, ideologis, dan agama. Karena faktor etnis, politis, ideologis,
dan agama inilah yang menjadi simbol dan identitas pemersatu, pengikat, dan perekat
kelompok-kelompok masyarakat itu. Jika sentimen kesukuan, politis, ideologis, dan
agama sudah masuk dalam suatu konflik sosial, maka konflik tadi menjadi lebih
membara, eksplosif, masif, dan eskalatif. Di situ anarkisme, brutalisme, keberingasan
dan amuk massa menajdi sangat dominan dalam konflik sosial tadi.
Hal ini bisa disebabkan juga oleh beberapa faktor internal dari perilaku
ethnosentrisme dan anarkis perilaku ini mampu memecah belah antar masyarakat di
Indonesia. Gelombang konflik antaretnis di banyak daerah di Indoensia terjadi sejak
1998 dan beberapa tahun sesudahnya. Eskalasi konflik antaretnis pada kurun waktu
itu dapat dicatat antara lain terjadi di Ambon, Poso, Sampit, Samarinda, dan Sambas.
Konflik-konflik tadi melibatkan kekerasan, keberingasan, anarkisme, brutalisme dan
amuk massa yang eksplosif dan masif dari pihak-pihak yang terlibat konflik. Konflik
dan kekerasan antaretnis di Ambon dan Poso, misalnya, diwarnai dengan pembakaran
rumah-rumah ibadat dari masing-masing pihak yangterlibat konflik. Kesucian,
keagungan dan kehormatan rumahrumah ibadat tidak digubris oleh masing-masing
pihak yang berseteru. Konflik Poso dan Ambon berakhir setelah ditanda tanganinya
piagam perdamaian antara kedua belah pihak di Malino. Ledakan kekerasan
antarkelompok masyarakat masih terus membara. Dapat disebut antara lain kasus
tanah makam Embah Priuk, peristiwa Tambora, insiden Buol, dan terakhir bentrokan
di Tarakan. Kekerasan antaretnis di Tarakan, Kaltim, berasal dari masalah pribadi
antara dua orang dari etnis yang berbeda. Tewasnya seseorang dari etnis tertentu
memicu konflik semakin luas, panas dan beringas. Pihak etnis yang anggota sukunya
terbunuh melakukan perlawanan dan pembalasan. Api konflik pun semakin tersulut

15
dan memijar. Lima orang tewas. Terjadi pembakaran, pengusiran dan pengungsian.
Kaum perempuan, orang-orang tua dan anak-anak dalam jumlah ribuan mengungsi
dan ditampung di Mapolres dan Mako TNI Tarakan. Saat artikel ini ditulis, situasi
masih tegang dan mencekam. Toko-toko tutup. Akibatnya, bahan makanan terutama
untuk para pengungsi sulit diperoleh. Tak kurang dari 2000 personil polisi dikerahkan
untuk melerai konflik dan menegakkan kembali ketertiban dan keamanan di Tarakan.
Kekerasan antaretnis di Tarakan diharapkan dapat segera diakhiri agar kehidupan di
sana segera normal kembali.
Serangkaian gelombang kekerasan yang disebutkan di atas telah banyak
merenggut jiwa orang-orang yang sama sekali tidak bersalah dan tidak berdosa. Rasa
aman dalam kehidupan masyarakat benar-benar telah terganggu dan bahkan terancam
secara serius. Persis, seperti dikatakan oleh Lewis Mumford, tak ada lagi tempat
untuk berlindung bagi orang-orang yang tidak berdosa. Pada batas tertentu, itu semua
menunjukkan proses pembusukan nilai-nilai peradaban kita. Dengan perasaan
pesimistik barangkali kita akan berucap seperti Mumford: apabila peradaban kita
hancur, itu pertanda peradaban kita tidak cukup baik untuk bertahan. Menyimak
berbagai gelombang konflik, kekerasan, keberingasan, dan brutalitas yang mudah
terjadi dalam masyarakat, kita lantas bertanya: apa yang salah dengan sistem
pendidikan dan peradaban kita? Apa yang keliru dengan sendisendi bangunan
kebangsaan kita? Pandangan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ramah, suka
senyum, dan penuh bertenggang rasa, harus dipertanyakan kembali. Pandangan ini
sudah tidak sepenuhnya berlaku bagi masyarakat kita, paling tidak pada saat sekarang
ini di mana kekerasan, keberingasan, dan brutalitas sering terjadi. Sedang ’sakitkah’
bangsa ini? Mengapa bangsa ini bisa mengalami penyakit mental demikian?
Kapankah kita sembuh dari penyakit ini? Kapankah kekerasan tidak lagi ’melukai’
republik ini?
Perasaan aman dan bebas dari rasa takut adalah merupakan bagian integral
dari HAM yang sangat mendasar, fundamental dan hakiki dalam seluruh aspek
kehidupan manusia. Sudah seharusnya perasaan aman dan bebas dari rasa takut
terhadap segala bentuk pelanggaran HAM dan segala bentuk kekerasan ditegakkan di
tengah-tengah kehidupan masyarakat kita yang multietnik dan multiagama ini.
Seluruh aparat keamanan dan komponen masyarakat secara keseluruhan ikut
bertanggung jawab untuk saling memberikan jaminan rasa aman sehingga kita
terbebas dari rasa takut terhadap segala bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM itu.
Dengan demikian, proses pembusukan peradaban dapat kita cegah dan kita kembali
menjadi bangsa yang beradab, berkeadaban dan berperadaban dalam arti seutuhnya
dan sebenar-benarnya.

16
2.4 Tinjauan Paradigma Positivis dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika
paradigma positivis menekankan masyarakat memiliki nilaiuniversal sebagai
pengikat dan dengan demikian ada penyeragaman nilai dalam masyarakat. Dengan
pemahaman tersebut, dapat dikatakan terdapat beberapa situasi dan kondisi dalam
beberapa periode dimana Indonesia menerapkan cara pandang demikian dalam
memaknai Bhinneka Tunggal Ika. Kondisi ini sangat amat terlihat pada masa Orde
Baru, dimana berbagai macam aspek kehidupan sangat terpusat pada satu titik, yaitu
rezim Orde Baru itu sendiri. Pemusatan ini berujung pada pengontrolan secara ketat
terhadap masyarakat. Pengontrolan terjadi tidak hanya pada bidang politik atau
ekonomi semata, namun pengontrolan juga terjadi pada norma dan nilai yang
berkembang pada masyarakat. Dengan fokus utama dari rezim orde baru yang
menekankan kestabilan politik, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara juga
tentu saja dikontrol maknanya oleh rezim Orde Baru. Konsep Bhinneka Tunggal Ika
yang memiliki dua sisi yaitu persatuan dan keragaman oleh rezim orde baru
maknanya lebih ditekankan pada persatuan. Bahkan bukan hanya makna persatuan
yang dijalankan dan ditekankan oleh rezim orde baru, melainkan Tunggal Ika itu
dimaknai menjadi satu dan seragam.
Persatuan yang ditandai dengan stabilitas sosial sangat kental dalam periode
Orde Baru. Stabilitas sosial sangat penting dalam periode ini, karena kestabilan
dimaknai sebagai awal dari pembangunan. Untuk menciptakan kestabilan tersebut,
maka masyarakat harus diseragamkan agar dapat dikontrol dan terjadi pemerataan
nilai-nilai yang menunjang tujuan tersebut. Sosialisasi nilai misalnya terjadi di semua
lini masyarakat, baik di tingkat dasar seperti sekolahsekolah dan di tingkat yang lebih
tinggi seperti di kantor-kantor.
Penyeragaman nilai-nilai yang “disepakati” ini menjadi standar normatif dan
difungsikan sebagai perekat atau penyatu masyarakat. Bhinneka Tunggal Ika, yang
menekankan pentingnya Tunggal Ika terjadi pada periode ini. Oleh karenanya, masa
itu diwarnai dengan kebijakankebijakan yang mengarah pada persatuan dan berlaku
untuk seluruh masyarakat. Masyarakat dilihat harus mengalami kemajuan yang sama
dengan negara-negara yang dianggap maju, dan diasumsikan dengan mengikuti cara
yang sama dengan pemikiran negara maju, maka Indonesia akan mencapai
kesuksesan yang serupa. Lokalitas tidak dipentingkan dalam periode ini. Oleh karena
itu, kebijakan-kebijakan seperti Repelita yang mengacu pada Tahapan Pertumbuhan
Ekonomi Rostow misalnya sangat amat modernis. Pemikiran ini sejalan dengan
pemikiran positivis Comte yang melihat bahwa setiap masyarakat akan melalui
jenjang yang sama.

17
Berdasarkan pemikiran inilah, proses Tunggal Ika, penyatuan seluruh
masyarakat melalui penyeragaman nilai menjadi penting. Bhinneka Tunggal Ika
dimaknai sebagai keberagaman yang harus disatukan menjadi sebuah identitas
nasional. Dengan ciri-ciri termanifes dalam nilainilai yang diseragamkan, kesatuan
bangsa yang utuh akan tercapai. Penyeragaman nilai bahwa kita adalah satu, atau kita
adalah sama (satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa) akan menjadi identitas nasional
bangsa. Demi tujuan itu, segala cara harus digunakan termasuk cara represif sehingga
setiap anggota masyarakat yang menunjukkan perbedaan dianggap bertentangan dan
harus ditertibkan.
Kesatuan wilayah juga menjadi ciri khas dalam periode ini. Kebijakan
transmigrasi adalah salah satunya. Dengan dilakukan transmigrasi memindahkan
pendudukan dari pulau padat penduduk ke pulau jarang penduduk, seperti dari Jawa
ke Sumatera, Kalimantan atau Sulawesi adalah sebuah cara agar terjadi kesatuan dan
perasaan memiliki yang tinggi terhadap Indonesia sebagai sebuah kesatuan negara.
Negara berdaulat, bersatu dan melebur merupakan ciri-ciri pesan yang
mengutamakan Tunggal Ika. Kemajemukan bangsa ada namun tidak dimaknai
penting karena persatuan dan kesatuan bangsa dan negara dianggap lebih penting
dalam proses kemajuan bangsa (memodernkan bangsa).
2.5 Tinjauan Paradigma Interpretif dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika.
Paradigma ini dapat dikatakan sebagai anti tesis dari paradigma positivis.
Oleh karenanya, maka terdapat pemaknaan berbeda dalam menginterpretasi pesan
dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Bila paradigma positivis menekankan Tunggal Ika dalam Bhinneka Tunggal
Ika, maka paradigma interpretif lebih memaknai pentingnya Bhinneka dalam
semboyan tersebut. Dapat dikatakan dalam paradigma ini, multikulturalisme atau
kemajemukan masyarakat atau keberagaman atau pluralisme menjadi penting
walaupun tetap disatukan dalam sebuah sistem nasional. Paradigma ini menekankan
adanya pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan perbedaan budaya. Perbedaan
budaya adalah sebuah realitas sosial yang nyata dan dialami secara berbeda oleh
setiap masyarakat yang berbeda. Dengan keragaman suku bangsa dan ras dan agama
di Indonesia, maka dalam paradigma interpretif, budaya tidak dapat
digeneralisasikan.
Selain budaya tidak dapat digeneralisir, dalam kerangka berpikir paradigma
ini penyeragaman nilai menjadi tidak masuk akal. Identitas nasional dalam kerangka
berpikir ini hanya akan tercapai bila bangsa Indonesia justru mengedepankan
perbedaan budaya tersebut. Menurut Wisnumurti (2010), multikulturalisme
mengedepankan prinsip keterbukaan, kesetaraan, keadilan dan penghormatan atas

18
perbedaan, sangat sejalan dengan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika, oleh karena itu,
menjadi sangat penting untuk dijadikan dasar dalam memperkuat solidaritas sosial
dan kebangsaan sebagai konstruksi dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan
bangsa.
Paradigma yang demikian sangat kental terasa ketika Indonesia memasuki
masa reformasi. Dalam masa ini, keragaman menjadi satu isu yang penting setelah
selama tiga dasawarsa masa orde baru isu keragaman seperti terpinggirkan,
dikalahkan oleh isu persatuan, kesatuan, keseragaman. Keragaman dalam masa
reformasi ini terlihat dalam berbagai bidang. Dalam bidang politik misalnya
keragaman sangat kental terlihat dengan diberlakukannya otonomi daerah sebagai tata
kelola negara. Dalam bidang budaya keragaman diperlihatkan terutama melalui
diakuinya tahun baru suatu etnis sebagai hari libur nasional. Dalam bidang
pendidikan, keragaman dalam masa reformasi ditandai dengan tumbuh suburnya
sekolah-sekolah yang berwawasan komunitas dan lokalitas masing-masing tempat.
Walaupun masih banyaknya hambatan, namun Bhinneka Tunggal Ika yang
menekankan keragaman seperti halnya paradigma interpretif banyak dapat dilihat
dalam masa reformasi.
2.6 Tinjauan Paradigma Kritis dalam memandang Bhinneka Tunggal Ika
Paradigma kritis memandang suatu realitas sosial sebagai realitas yang semu.
Dalam paradigma ini, suatu realitas sosial dianggap memiliki berbagai lapisan yang
jika dikupas semakin dalam maka akan terbongkar lapisan-lapisannya. Seperti yang
telah disebutkan dalam bagian sebelumnya, paradigma positivis menekankan
universalisme dan keseragaman, sehingga bila digunakan untuk menelaah Bhinneka
Tunggal Ika maka penekanan Bhinneka Tunggal Ika adalah pada Tunggal Ika atau
satu dan seragam. Dan seperti juga telah disebutkan sebelumnya, jika menggunakan
paradigma interpretif, maka pembahasan mengenai Bhinneka Tunggal Ika akan
menitikberatkan pada Bhinneka-nya atau keragamannya. Namun apabila Bhinneka
Tunggal Ika dikaji dengan menggunakan paradigma kritis, realitas yang berupa
terjadi penekanan pada Bhinneka atau realitas berupa penekanan pada Tunggal Ika
hanyalah realitas yang semu. Kedua realitas yang ada tersebut hanyalah lapisan
paling luar dari apa yang terlihat dan dirasakan.
Penggunaan paradigma kritis yang menganggap untuk memahami suatu
realitas yang diperlukan adalah membongkar realitas semu yang ada; sehingga dalam
menelaah Bhinneka Tunggal Ika akan membongkar realitas-realitas yang ada.
Dengan menggunakan pendekatan kritis ini, kondisi dimana penerapan Bhinneka
Tunggal Ika lebih menekankan kesatuan dan keseragaman dianggap sebagai satu
lapisan terluar dari kenyataan atau realitas sosial yang sesungguhnya terjadi. Dengan

19
paradigma kritis ini, kondisi yang ada tersebut harus dibongkar dengan mengajukan
asumsi-asumsi yang mempertanyakan kondisi yang ada tersebut. Misalnya saja jika
kita melihat pada masa orde baru yang menekankan kesatuan dan penyeragaman,
maka harus dipertanyakan mengapa hal demikian terjadi, siapa yang mendapatkan
keuntungan dengan kondisi yang demikian itu, apakah mungkin kodisi demikian
diciptakan negara untuk memobilisasi rakyat demi pembangunan, dan lain
sebagainya.
Apabila Bhinneka Tunggal Ika dalam satu masa dalam sejarah Indonesia ini
dianggap menekankan ke-bhinneka-annya, maka dengan paradigma kritis perlu pula
dijelaskan mengapa itu terjadi dan untuk kepentingan pihak atau kelompok mana
kondisi demikan itu terjadi. Misalnya dengan melihat pada masa reformasi dimana
penekanan Bhinneka Tunggal Ika hanya pada bhinneka-nya maka perlu dilihat
mengapa hal ini terjadi, bisa saja kondisi demikian terjadi. karena negara memang
melihat bahwa pada masa reformasi masyarakat sudah lelah dengan penyeragaman
sehingga apabila negara pada masa reformasi tetap memberlakukan penyeragaman,
maka tentangan akan banyak terjadi terhadap negara. Sebaliknya jika negara lebih
mengedepankan keragaman, maka masyarakat akan memihak pada negara, dan
dengan demikian negara akan memperoleh legitimasi dari rakyat.
Dari penjelasan yang ada dapat terlihat bahwa paradigma kritis menekankan
pada pembongkaran “realitas semu” yang ada dengan bertujuan menyadari atau
mengetahui realitas sosial yang sesungguhnya.

20
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebhinnekaan Indonesia sebagaimana tergambar dalam semboyan Bhinneka
Tunggal Ika perlu dipahami sebagai imagined community (komunitas-komunitas
terbayang) bertujuan membangun solidaritas yang positif, baik pada level nasional
atau level yang lebih kecil. Sebagai komunitas terbayang karena para anggota bangsa
terkecil sekalipun tidak akan tahu dan tidak kenal sebagian besar anggota lain, tidak
akan bertatap muka dengan mereka itu, bahkan mungkin tidak pula pernah
mendengar tentang mereka.
Dengan paradigma yang ada maka menggunakan paradigma positivis,
merupakan pandangan yang sesuai karena konsep Bhinneka Tunggal Ika akan lebih
menekankan pada kesatuan, keseragaman dan universalisme nilai-nilai yang ada.
Dengan menggunakan paradigma interpretif, maka Bhinneka Tunggal Ika akan lebih
menekankan perbedaan dan keragaman. Dengan menggunakan paradigma kritis,
maka Bhinneka Tunggal Ika akan membongkar kondis-kondisi ataupun realitas sosial
yang ada dengan mempertanyakannya lebih lanjut.
Dalam arti demikian, bangsa Indonesia adalah proyeksi ke depan dan
sekaligus ke belakang. Karena itu tidak pernah dikatakan bangsa itu “lahir”
melainkan ia “hadir” dalam formasi sebagai suatu historical being sebagaimana
dikatakan komunitas-komunitas terbayang. Namun, pada sisi yang lain, ia juga
menimbulkan dampak negatif, karena pada saat masyarakat Indonesia tidak saling
mengenal sebagian besar anggota lain, tidak bertatap muka dengan mereka, bahkan
mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka justru seringkali menjadi
pemicu timbulnya konflik antarkelompok masyarakat, yang pada gilirannya, konflik-
konflik antarkelompok masyarakat tersebut akan melahirkan distabilitas keamanan,
sosio-ekonomi, dan ketidakharmonisan sosial (social disharmony). Di sinilah
perlunya dibangun politik Bhinneka Tunggal Ika yang memberikan tempat yang
pantas pada keberagaman itu.
3.2 Saran
Bagi pemerintah
Pemerintah diharapkan mampu menjaga keutuhan Bhineka Tunggal Ika
dengan tetap melaksanakan kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan sikap dan nilai
dari Bhineka Tunggal Ika sehingga keutuhan Masyarakat Indonesia tetap terjaga dan
sifat sifat ethnosentrisme, anarkisme dan kecemburuan sosial dapat dikendalikan.
Bagi masyarakat

21
Dengan mengetahui dan belajar budaya adat masyarakat lain mampu
mengendalikan sifat perpecahan antar suku, agama, ras dan golongan sehingga
masyarakat diharapkan terus bertoleransi yang seimbang dan sesui. Agar kesatuan
bangsa indonesia tetap terjaga
Bagi pemuda penerus bangsa
Belajar memahami perbedaan adalah kebaikan, bunga di taman tak akan indah
jika hanya ada satu jenis saja. Namun jika dipaksa maka jenis lain akan di injak,
dicabut dan ditanam hanya dengan satu warna. Maka taman itupun tak akan seindah
dulu. Artinya menjaga terus perbedaan itu. tapi tetap hidup berdampingan dengan
toleransi dan kebaikan. Dengan itu bangsa indonesia akan menjadi bangsa yang besar
berdaulat adil dan makmur.

22
Daftar Pustaka

Arif, Dikdik Baehaqi. 2008. Pengembangan Warga Negara Multikultural


Implikasinya terhadap Kompetensi Kewarganegaraan. Tesis SPs UPI: Tidak
diterbitkan.
Azra, Azyumardi. 2006. “Pancasila dan Identitas Nasional Indonesia: Perspektif
Multikulturalisme”. Dalam Restorasi Pancasila: Mendamaikan Politik
Identitas dan Modernitas. Bogor: Brighten Press.
Azra, Azyumardi. 2007. ―Identitas dan Krisis Budaya: Membangun
Multikulturalisme Indonesia.
http://www.kongresbud.budpar.go.id/58%20ayyumardi%20azra.htm diakses 1
febuari 2015
Bagir, Zainal Abidin, AA GN Ari Dwipayana, Mustaghfiroh Rahayu, Trisno Sutanto,
Farid Bandung: Mizan Media Utamadalam Simposium Internasional Jurnal
ANTROPOLOGI INDONESIA ke-3: ‘Membangun Kembali “Indonesia yang
Bhinneka Tunggal Ika”: Menuju Masyarakat dan Kesatuan Bangsa dalam
http://www.yayasankorpribali.org/artikel-dan-berita/58- dan Kesatuan Bangsa
dalam http://www.yayasankorpribali.org/artikel-dan-berita/58- diakses 1
febuari 2015
Eka Darmaputera. 1997. Pancasila : Identitas dan Modernitas Tinjauan Etis dan
Budaya, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Hardiman, F. B. 2002. Belajar dari Politik Multikulturalisme. Pengantar dalam
Kymlicka. (2002). Kewargaan Multikultur: Teori Liberal mengenai Hak- hak
Minoritas. Terjemahan oleh Edlina Afmini Eddin dari judul Multicultural
Citizenship: A Liberal Theory of Minority. Jakarta: LP3ES.
Hardiman, F. B. 2002. Belajar dari Politik Multikulturalisme. Pengantar dalam
Kymlicka. (2002). Kewargaan Multikultur: Teori Liberal mengenai Hak- hak
Minoritas. Terjemahan oleh Edlina Afmini Eddin dari judul Multicultural
Citizenship: A Liberal Theory of Minority. Jakarta: LP3ES.
Heldred Geertz. 1963”Indonesian Cultures and Communities,” dalam Ruth T. McVey
(peny.), Indonesia. New Haven: Yale University Press,.
http://www.fisip.ui.ac.id/antropologi/httpdocs/jurnal/2002/69/10brt3psu69.pdf
diakses 1 febuari 2015
kesadaran-multicultural-dalam-memperkokoh-persatuan-dan-kesatuan-
bangsa.html
kesadaran-multicultural-dalam-memperkokoh-persatuan-dan-kesatuan-
bangsa.html. diakses 1 febuari 2015
Kusumohamidjojo, B. 2000. Kebhinnekaan Masyarakat Indonesia: Suatu
Problematik Filsafat Kebudayaan. Jakarta: Grasindo.
Multikultural’, Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 16–19 Juli 2002 dalam
Pengajar, Bahasa, Sastra, Budaya, dan Seni Daerah se-Indonesia, Yogyakarta,
8-9 Agustus 2009.
Phillips, Anne. 2007. Multiculturalism Without Culture. Princeton: Princeton
University Press.
Pursika, I Nyoman. 2009. “Harmoni Antara Pluralisme dan Monisme (Suatu Kajian
Tentang Realitas dan Tujuan Masyarakat Indonesia”, dalam Jurnal IKA,
Ikatan Keluarga Alumni Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.
Rahman, H. Darmawan M, dkk 2010. Makna Bhineka Tunggal Ika sebagai perekat
kembali Budaya Ke-Indonesia-an. Jakarta: Kementrian Kebudayaan dan
Pariwisata
Rizal Mustansyir. 1995. “Bhinneka Tunggal Ika dalam Perspektif Filsafat Analitik”,
dalam Jurnal Filsafat, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.

23
Setyani, Turita Indah. 2009. Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pembentuk Jati Diri
Bangsa.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: LPFEUI Herdiawanto, Heri
dan Jumanta Hamdayama. 2010. Cerdas, Kritis dan Aktif Berwarganegara.
Jakarta: Penerbit Erlangga
Supardan, Dadang. 2008. “Peluang Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultur:
Perspektif Pendidikan Kritis”. Alumni, Vol 1 No. 2, Mei-Agustus 2008, 128-
151.
Suparlan, Parsudi. 2005. Sukubangsa dan Hubungan Antar Sukubangsa. Jakarta:
Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian.
Suparlan, Parsudi. 2002. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural,
dipresentasikan
Tantular, Mpu. 2009. Kakawin Sutasoma. Penerjemah: Dwi Woro Retno Mastuti dan
Hastho Bramantyo.
Wajidi. 2011. Pluralisme Kewargaan: Arah Baru Politik Keragaman di
Indonesia.
Wisnumurti, Anak Agung Gede Oka. Kesadaran Multicultural dalam Memperkokoh
Persatuan
Wisnumurti, Anak Agung Gede Oka. Kesadaran Multicultural dalam Memperkokoh
Persatuan

24