Anda di halaman 1dari 14

KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN LOLAK


KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

Luther Sefle1 Sandra E. Pakasi2 , Yani E. B. Kamagi2 , Rafli Kawulusan2

1Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi


2Dosen Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk menentukkan kelas kemampuan lahan di


Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow.
Penelitian dilaksanakan dengan metode survei. Penilaian klasifikasi
kemampuan lahan berdasarkan metode USDA dan pembuatan peta klasifikasi
kemampuan lahan dengan metode overlay (geoprocessing) dengan menggunakan
Sistem Informasi Geografis (SIG).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah penelitian terdapat empat
kelas kemampuan lahan yaitu kelas III, IV, VI dan VII dengan luas masing –
masing sebagai berikut kelas III dengan luas 8347,72 hektar, kelas IV dengan luas
548,32 hektar, kelas VI dengan luas 8987,45 hektar dan kelas VII dengan luas
30039,19 hektar. Kemiringan lereng dan permeabilitas merupakan faktor
pembatas utama dalam kelas kemampuan lahan di daerah penelitian.

Kata kunci : Peta Kelas Kemampuan Lahan, Kecamatan Lolak, Klasifikasi


Kemampuan Lahan menggunakan Sistem Informasi Geografis

1
PENDAHULUAN Pengklasifikasian lahan dimaksudkan
agar dalam pendayagunaan lahan yang
Lahan merupakan sumber daya alam digunakan sesuai dengan kemampuannya dan
yang sangat penting untuk pengembangan bagaimana menerapkan teknik konservasi
usaha pertanian, kebutuhan lahan pertanian tanah dan air yang sesuai dengan
semakin meningkat seiring dengan kemampuan lahan tersebut.
meningkatnya jumlah penduduk, namun Secara umum wilayah penelitian di
luasan lahan yang sesuai bagi kegiatan di Kecamatan Lolak mempunyai bentuk
bidang pertanian terbatas. Hal ini menjadi wilayah landai sampai agak curam atau
kendala untuk meningkatkan produksi bergunung. Penggunaan lahannya terdiri dari
pangan dalam rangka memenuhi kebutuhan hutan primer, kebun campuran, hutan
pangan penduduk. Masyarakat tani yang mangrove, pemukiman, sawah dan semak
tradisional memenuhi kebutuhan pangannya belukar. Dari hasil survei lapangan dijumpai
dengan menanaman secara tradisional. bahwa penggunaan lahan yang ada tidak
Kegiatan pertanian ini menyebabkan degrasi mengikuti kaidah konservasi tanah dan air
kesuburan tanah melalui erosi dan atau tidak sesuai dengan kemampuan
penggunaan tanah yang terus menerus. Salah lahannya, di mana kondisi ini dapat
satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah memungkinkan terjadinya erosi tanah dan
mengelola lahan sesuai dengan kemampuan akan berdampak pada produksi tanaman.
lahan (Rayes 2006). Berdasarkan data dan informasi di
Kemampuan lahan adalah penilaian atas, maka dilakukan penelitian tentang
atas kemampuan lahan untuk penggunaan kemampuan lahan di wilayah Kecamatan
tertentu yang dinilai dari masing-masing Lolak Kabupaten Bolaang
faktor penghambat. Penggunaan lahan yang Mangondow.Tujuan penelitian adalah
tidak sesuai dengan kemampuannya dan menentukan kelas kemampuan lahan dan
tidak dikuti dengan usaha konservasi tanah membuat peta kelas kemampuan lahan di
yang baik akan mempercepat terjadi erosi. Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang
Apabila tanah sudah tererosi maka Mongondow serta memberikan data dan
produktivitas lahan akan menurun (Arsyad infomasi mengenai kelas kemampuan lahan
2010), di Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang

2
Mongondow kepada masyarakat dan Variabel pengamatan
pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya Variabel yang diamati adalah :
lahan di wilayah tersebut. - Kemiringan lereng
- Kedalaman efektif tanah
METODOLOGI PENELITIAN - Tekstur tanah
- Permeabilitas
Penelitian dilaksanakan di Kecamatan
- Ancaman banjir/ genangan, dan
Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow.
- Tutupan batuan.
Dengan waktu pelaksanaan berlangsung
Prosedur kerja adalah :
selama empat bulan yaitu bulan Agustus
1. Persiapan bahan dan alat dan
sampai November 2012.
pembuatan peta dasar / peta kerja.
Bahan dan alat yang digunakan
2. Kajian pustaka wilayah penelitian
sebagai berikut : Peta Rupa Bumi Indonesia
khususnya informasi lereng,
skala 1 : 50.000 lembar Inobonto dan
penggunaan lahan dan batas wilayah
lembar Maelang tahun 1991; Peta Tekstur
daerah penelitian.
Tanah Kab. Bolmong, Peta Kedalaman
3. Pembuatan peta unit lahan
Tanah Kab. Bolmong dan Peta Kemiringan
berdasarkan peta kedalaman tanah,
Lereng Kab. Bolmong (Bappeda Bolmong
lereng, dan penggunaan lahan.
2008), Peta Macam Tanah skala 1 : 250.000
Pengecekkan kembali (cross check)
(BPN 1984 Digitasi Bappeda Sulut 2008)
penggunaan lahan dari data sebelumnya,
dan Peta Penggunaan Lahan Kecamatan
tutupan batuan dan ancaman banjir. Data-
Lolak (Pappa 2011); kamera digital,
data yang diperoleh selanjutnya
komputer dengan aplikasi Arcview 3.3,
dideskripsikan dan disusun dalam bentuk
printer dan alat tulis lainnya.
tabel.
Metode yang digunakan adalah
metode survey. Penentuan kelas kemampuan Data hasil analisis kemudian
lahan berdasarkan USDA yang dimodifikasi dievaluasi untuk menentukan kelas
(Arsyad 2010) dan pembuatan peta kemampuan lahan menggunakan metode
klasifikasi kemampuan lahan berdasarkan USDA yang telah dimodifikasi oleh Arsyad
metode overley (geoprocessing) dengan (2010).
Sistem Informasi Geografi.
Dalam penelitian ini faktor pembatas
evaluasi kemampuan lahan hanya dibatasi

3
pada faktor : lereng, tektur, kedalaman tanah,
permeabilitas, ancaman banjir diperoleh dari
data sifat fisik tanah (Bappeda Bolmong
2008) dan tutupan batuan (data pengamatan
di lapang)

Data spasial dan data atribut masing – Gambar 7. Calculate returnareal


masing peta yaitu : peta lereng, peta
kedalaman tanah, peta jenis tanah, peta 1. Membuat peta klasifikasi
kemampuan lahan.
permeabilitas, peta tekstur dan peta
Membuat peta kemampuan lahan
penggunaan lahan yang dimasukkan dalam
setelah semua proses geoprocessing
program Arcview 3.3.
dilakukan dan kita dapat mengetahui

Menganalisis luas masing- masing peta faktor penghambat pada daerah

tematik atau peta tersebut di atas. Membuat penelitian kita dapat mengklasifikasi

peta unit lahan dengan mengoverlay peta kamampuan lahan tersebut ke dalam

lereng, peta kedalam tanah, peta penggunaan peta kemampuan lahan dengan

lahan,peta tekstur,peta permeabilitas, dengan menggunakan metode overley dalam

geoprosecing, seperti pada Gambar 6 di aplikasi Arcview 3.3

bawah ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Kecamatan Lolak merupakan ibu


kota dari Kabupaten Bolaang Mongondow
dan letaknya secara administrasi berbatasan
dengan:
- Sebelah Utara : Laut Sulawesi
Gambar 6. Geoprocessing
- Sebelah Selatan : Kecamatan
Untuk menganalisis luasan masing – masing
Dumoga Timur
peta di atas dengan menggunakan fasilitas
- Sebelah Timur : Kecamatan
calculate returnarea, seperti pada Gambar 7
Bolaang dan Kecamatan Lolayan
di bawah ini.
- Sebelah Barat : Kecamatan
Sangtombolang

4
Luas wilayah Kecamatan Lolak
adalah 47922,68 hektar atau 10,68 persen Tabel 3 menunjukkan bahwa di daerah
dari luas Kabupaten Bolaang Mongondow. penelitian didominasi oleh Dystropepts
dengan luas sebesar 95,95 %, dan luas
Iklim di Kecamatan Lolak termasuk
terkecil adalah Tropaquepts dengan luas 0,10
dalam iklim tropis yang dipengaruhi oleh
% dan penyebarannya dapat dilihat pada
angin muzon. Pada bulan November sampai
Gambar 9 di bawah ini.
dengan April bertiup angin Barat yang
membawa hujan di pantai utara, sedangkan
dalam bulan Mei sampai Oktober terjadi
perubahan angin Selatan yang kering
sehingga mengakibatkan curah hujan yang
tidak merata dengan angka tahunan berkisar
antara 2000 – 3000 mm, dan jumlah hari
hujan antara 90 – 139 hari.

Jenis tanah di daerah penelitian Gambar 9. Peta Jenis Tanah


berdasarkan Peta Macam Tanah skala 1 :
Penggunaan lahan yang ada di
250.000 (BPN 1984 Digitasi Bappeda Sulut
Kecamatan Lolak adalah pemukiman, sawah,
2008) terdapat enam jenis tanah yang
kebun campuran, semak belukar, mangrove
ditunjukkan pada Tabel 3 di bawah ini.
dan hutan.
Tabel 3. Luas dan Persentase Jenis Tanah Di Berdasarkan cross chek di lapangan,
Wilayah Kecamatan Lolak penggunaan lahan di Kecamatan Lolak
No Jenis tanah Luas Persentase seperti pada Tabel 4 di bawah ini.
(Ha) (%)
Tabel 4 Luas dan Persentase Penggunaan
1 Dystropepts 45984,91 95,95 %
Lahan
2 Eutropepts 220,08 0,45 %
No Penggunaan Luas (Ha) Persentase
3 Sulfaquents 256,02 0,53%
4 Tropalquepts 865,42 1,80% Lahan (%)

5 Tropaquepts 47,93 0,10% 1 Hutan Primer 28531,22 59,54 %

6 Tropopsamments 548,32 1,14%


Jumlah 47922,68 100% 2 Kebun 15767,72 32,90 %

Sumber : Peta Macam Tanah skala 1 : Campuran


250.000 (BPN 1984 Digitasi Bappeda 3 Mangrove 912,45 1,90%
Sulut 2008

5
4 Pemukiman 249,47 0,52% Tabel 5. Unit Lahan Wilayah Penelitian
5 Sawah 2481,20 5,13%
No. Satuan Lahan Luas (Ha)
6 Semak Belukar 10,15 0,01%
1. F k o Hp 28531,23
Jumlah Total 47922.68 100%
2. C k o Kc 15767,72
Sumber : Pappa (2011); Hasil Survei ( 2012)
Luas penggunaan lahan di daerah 3. A k o Hm 912,44
penelitian secara keseluruhan adalah 4. B k o Pmk 249,46
47922,68 hektar, luas lahan terbesar adalah 5. A k o Swh 2481,20
hutan primer dengan luas 28531,23 hektar, 6. C k 2 Smk 10,15
kebun campuran dengan luas 15767,72 Jumlah 47922,68
hektar, mangrove dengan luas 912,44 hektar,
pemukiman dengan luas 249,46 hektar, Keterangan :
sawah dengan luas 2481,20 hektar dan semak F k o Hp = kedalaman tanah > 90 (k o ),
belukar dengan luas 10,15 hektar. lereng 45-65 % (F),
penggunaan Hutan primer.
Penyebaran penggunaan lahan ditunjukkan
Ck o Kc = kedalaman tanah > 90 (k o ),
pada Gambar 10 di bawah ini. lereng 8-15 % (C),
penggunaan hutan campuran.
Ak o Hm = kedalaman tanah > 90 (k o ),
lereng 0-3 % (A), penggunaan
hutan mangrove
Bk o Pmk = kedalaman tanah > 90 (k o ),
lereng 3-8 % (B), penggunaan
pemukiman.
Ak o Swh = kedalaman tanah > 90 (k o ),
lereng 0-3 % (A), penggunaan
Sawah.
Gambar 10. Peta Penggunaan Lahan Ck 2 Smk = kedalaman tanah < 30 (k o ),
Kecamatan Lolak lereng 15-45 % (C),
Hasil overlay peta penggunaan lahan, penggunaan semak belukar.

peta lereng, peta kedalaman tanah diperoleh


Dari enam unit lahan yang ada, unit
6 unit lahan seperti terdapat pada Tabel 5 dan
lahan nomor lima, dengan penggunaan lahan
penyebarannya ditunjukkan pada Gambar 11.
sawah pada penelitian ini tidak dinilai
kemampuan lahannya, karena lahan sawah

6
tersebut sudah merupakan lahan kelas I untuk Adapun faktor-faktor pembatas
penggunaannya. kemampuan lahan sebagai berikut :
1.) Kemiringan Lereng
Faktor yang paling mendasar dalam
menentukkan kelas kemampuan lahan adalah
keadaan lereng, di daerah penelitian
mempunyai tiga kemiringan lereng seperti di
tunjukkan pada Gambar 12 dan Tabel 6 di
bawah ini.

Tabel 6. Kemiringan Lereng


Gambar 11. Peta Penyebaran Satuan Lahan Satuan Lereng
No. Luas (Ha)
di Wilayah Penelitian Lahan (%)
Berdasarkan peta penyebaran satuan 1. F k o Hp > 40 28531,23
lahan di daerah penelitian terdapat enam 2. C k o Kc 15- 40 15767,72
satuan lahan yang tersebar di wilayah 3. A k o Hm < 15 912,44
penelitian tersebut dengan luas keseluruan B ko
4. < 15 249,46
dari enam unit lahan tersebut adalah Pmk
47922.68 hektar. Satuan lahan terluas A ko
5. < 15 2481,20
terdapat pada Fk o Hp dengan luas 28531,23 Swh
hektar. Jika dilihat dari penggunaan lahan C k2
6. < 15 10,15
sesuai dengan peta yang digambarkan di atas, Smk
dapat dikatakan bahwa luasan terbesar di Jumlah 47922,68
wilayah penelitian didominasi oleh hutan Sumber : Bappeda Bolmong (2008);
primer, sedangkan untuk Ck 2 Smk dengan Hasil Survai ( 2012)
luas terkecil adalah 10,15 hektar. Dari Tabel 6 di atas menunjukkan
Dalam menentukkan klasifikasi 18,46 % atau seluas 8844,46 hektar berada
kemampuan lahan harus memperhatikan pada kemiringan lereng < 15 %, 18,78 %
beberapa faktor penghambat yaitu lereng atau seluas 8999,32 hektar berada pada
permukaan, tingkal erosi, kedalaman tanah, kemiringan 15-40 % dan 62,76 % atau seluas
tekstur, permeabilitas, drainase, kerikil atau 30078,90 hektar berada pada kemiringan >
batuan dan bahaya banjir (Arsyad 2010). 40 %.

7
Pada Tabel 7 di atas bahwa daerah
penelitian mempunyai kedalaman efektif
dangkal hanya pada satuan lahan Ck 2 Smk.
Untuk kedalaman efektif tanah terdapat pada
satuan lahan Fk 0 Hp, Ck 0 Kc, A k 0 Hm dan
B k 0 Pmk dengan sistem perakaran yang
dalam.
Gambar 12. Kemiringan Lereng

2)Kedalaman Efektif
Kedalaman efektif tanah berdasarkan
Peta Kedalaman Tanah Bolmong (2008)
terdiri atas kedalaman tanah dangkal yaitu <
30 cm dan kedalaman tanah dalam yaitu >
90 cm. Peta Kedalaman Efektif Tanah
Kecamatan Lolak dapat dilihat dalam
Gambar 13 dan luasannya ditunjukkan pada
Gambar 13. Peta Kedalaman Efektif Tanah
Tabel 7 di bawah ini.
3)Tekstur
Tabel 7. Luas Kedalaman Efektif Tanah
Data hasil analisis tekstur tanah
Satuan Luas
No. Kedalaman ditunjukkan pada Tabel 8.
Lahan (Ha)
1. F ko Dalam 28531,23 Tabel 8. Hasil Analisis Tekstur Tanah
Hp
2. C ko Dalam 15767,72 Satuan
No. Tekstur Luas (Ha)
Kc Lahan
3. A ko Dalam 912,44 1. F k o Hp Lempung 28531,23
Hm 2. C k o Kc Lempung 15767,72
4. B ko Dalam 249,46 Lempung
3. A k o Hm 912,44
Pmk berpasir
5. A ko Dalam 2481,20 Lempung
4. B k o Pmk 249,46
Swh berdebu
6. C k2 Dangkal 10,15 Lempung
5. A k o Swh 2481,20
Smk berdebu
Jumlah 47922,68 Lempung
6. C k 2 Smk 10,15
berdebu
Sumber : Bappeda Bolmong (2008);
Jumlah 47922,68
Hasil Analisis ( 2012) Sumber : Bappeda Bolmong (2008)

8
Dari data tekstur di atas menunjukkan kandungan lempung yang ada di dalam
bahwa tanah di daerah penelitian mempuyai tanah. Kandungan lempung dalam tanah
tekstur lempung, lempung berdebu, lempung sangat menentukkan besar nilai permeabilitas
berpasir. Penyebaran tekstur tanah di daerah serta pengaruhi masuknya air kedalam tanah
penelitian ditunjukkan pada Gambar 14. permeabilitas sangat dipengaruhi oleh
keadaan tekstur tanah seperti pada Gambar
15 di bawah ini.

Gambar 14. Peta Tekstur Tanah

4). Permeabilitas
Gambar 15. Peta Permeabilitas
Permeabilitas tanah didapat melalui
5). Ancaman Banjir
analisis data sekunder dan hasil permeabilitas
Berdasarkan survei lapangan, wilayah
dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini.
Lolak akan terjadi banjir bila hujan turun
Tabel 9. Hasil Analisis Permeabilitas Tanah
tinggi dengan intensitas yang besar. Bila
terjadi banjir air akan surut kurang dari 24
Satuan
No. Permeabilitas Luas (Ha) jam. Data ancaman banjir seperti pada Tabel
Lahan
1. F k o Hp Sedang 28531,23 10 di bawah ini.
2. C k o Kc Sedang 15767,72
3. A k o Hm Sedang 912,44
4. B k o Pmk Sedang 249,46
A ko
5. Agak cepat 2481,20
Swh
6. C k 2 Smk Sangat cepat 10,15
Jumlah 47922,68
Sumber : Bappeda Bolmong (2008)
Dari Tabel 9 di atas terlihat bahwa
permeabilitas yang ada di daerah penelitian
adalah sedang. Hal ini diakibatkan oleh

9
Tabel 10. Ancaman Banjir terlihat pada Tabel 12 dan Tabel 13 di
No. Satuan Bahaya banjir Simbol bawah ini.
Lahan / genangan
1. F k o Hp Tidak pernah O0
2. C k o Kc Tidak pernah O0 Tabel 12. Faktor Pembatas dan Kelas
3. A k o Hm Tidak pernah O0 Kemampuan Lahan
B ko Kadang –
4. O1 Faktor Penghambat Kelas
Pmk kadang
Kemampuan Lahan
A ko Kadang –
5. O1 Satua Lere Kedal Tek Per Bat B Ke
Swh kadang n ng aman stur mea- uan an las
C k2 Laha tanah bilit jir
6 Tidak pernah O0
Smk n as
Sumber : Hasil Analisis ( 2012) F F ko t2 P3 b0 O0 VI
k o Hp I
C C ko t3 P4 b1 O0 IV
6). Tutupan Batuan k o Kc
A ko A ko t4 P5 b0 O0 VI
Dari hasil pengamatan di lapangan Hm
B ko B ko t3 P3 b1 O1 III
keadaan batuan atau kerikil di daerah Pmk
A ko A ko t3 P3 b0 O1 III
penelitian yang tercantum pada Tabel 11 Swh
seperti tabel di bawah ini. C C k2 t2 P3 b0 O0 III
k 2 Sm
k
Tabel 11. Tutupan Batuan
No Satuan Kelas batuan/ Simbol Dari hasil analisis masing – masing
Lahan kerikil
1. F k o Hp Tidak ada b0 faktor penghambat telah diperoleh 4 kelas
2. C k o Kc Sedang b1 kemampuan lahan yaitu kelas III, IV, VI dan
3. A k o Hm Tidak ada b0
VII yang berada pada ke enam unit lahan
4. B ko Sedang b1
Pmk yang ada di daerah penelitian.
5. A ko Tidak ada b0
Dari empat kelas kemampuan lahan
Swh
6. C k2 b0 yang diperoleh dapat dilihat macam
Smk Tidak ada
penggunaan lahannya seperti pada Tabel 13.
Sumber : Hasil Analisis ( 2012)

Berdasarkan hasil pengamatan


lapangan dan analisis data sekunder faktor –
faktor pembatas kemampuan lahan, maka
ditetapkan kelas kemampuan lahan di daerah
penelitian berdasarkan kriteria klasifikasi
kemampuan lahan (Arsyad 2010) seperti

10
Tabel 13. Kelas Kemampuan Lahan dan Kelas kemampuan lahan berdasarkan
Penggunaan Lahan faktor penghambat di daerah penelitian
Kelas diperoleh empat kelas kemampuan lahan,
Penggunaan
No Kemampu Luas (Ha)
Lahan yaitu kelas III, IV, VI dan VII yang
an Lahan
1. III 8347,72 Sawah, digambarkan dalam bentuk peta kelas
Pemukiman kemampuan lahan Skala 1 : 20.000 (Gambar
, Semak 16).
belukar Faktor pembatas utama yang
2. IV 548,32 Kebun menyebabkan lokasi penelitian pada lahan
campuran kelas III, IV dan VI adalah permeabiltas.
3. VI 8987,45 Hutan Sedangkan pada kelas VII faktor
Mangrove pembatasnya adalah lereng yang sangat
4. VII 30039,19 Hutan curam sehingga pada lahan ini penggunaan
Primer lahannya disarankan atau difungsikan untuk
Jumlah 4 47922.68 hutan primer atau hutan konservasi.
Total Penggunaan lahan intensif pada kelas VII,
Dari tabel di atas, luas kelas dapat menyebabkan terjadi erosi.
kemampuan lahan di daerah penelitian secara Arsyad (2010) mengatakan pada
keseluruhan adalah 47922,68 hektar. Kelas umumnya penurunan kualitas tanah cepat
kemampuan terluas adalah kelas VII, seluas terjadi pada daerah yang kemiringan. Hal ini
30039,19 hektar dan luas terkecil adalah disebabkan karena semakin kemiringan
kelas kemampuan IV, seluas 548,32 hektar. lereng, jumlah dan kecepatan permukaan
Adapun penyebaran kelas kemampuan lahan semakin besar sehingga percepatan erosi
seperti pada Gambar 16 di bawah ini. yang terjadi/ selanjutnya, bahwa erosi dapat
menghilangkan lapisan atas tanah yang subur
dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta
berkurangnya kemampuan tanah untuk
menyerapkan dan menahan air.
Ancaman banjir tidak menjadi faktor
penghambat dalam kelas kemampuan lahan
karena terjadinya banjir hanya secara
periodik apabila intensitas curah hujannya
Gambar 16. Kelas Kemampuan Lahan

11
tinggi dan dua sungai yang ada di wilayah
Lolak meluap. Seperti kejadian banjir pada
bulan Januari 2012 yang merendam beberapa
wilayah Lolak.
Penggunaan lahan saat ini di daerah
penelitian secara menyeluruh digambarkan
pada peta penggunaan lahan (Gambar 10).
Gambar 17. Penggunaan Lahan Hutan
Berdasarkan peta penggunaan lahan tersebut,
terdapat enam bentuk penggunaan lahan
yaitu penggunaan lahan untuk hutan primer
dengan luas 28531,23 hektar, kebun
campuran dengan luas 15767,72 hektar,
hutan mangrove dengan luas 912.44 hektar,
sawah dengan luas 2481,20 hektar,
pemukiman dengan luas 249,46 hektar dan
Gambar 18. Kegiatan Pembersihan Lahan
semak belukar dengan luas 10,15 hektar.
pada Lahan Miring
Dijumpai di lapangan bahwa
penggunaan lahan hutan primer terdapat pada
KESIMPULAN DAN SARAN
lerengnya > 45 %, namun juga pada lahan ini
terjadi perombakan hutan untuk dijadikan
Terdapat empat kelas kemampuan
lahan pertanian seperti pada Gambar 17 dan
lahan di Kecamatan Lolak Kabupaten
18.
Bolaang Mongondow, yaitu : kelas III
Kartasapoetra, dkk (1991)
dengan luas 8347,72 hektar, kelas IV dengan
mengemukakan bahwa ekosistem hutan yang
luas 548,32 hektar, kelas VI dengan luas
tidak terganggu mempunyai peranan yang
8987,45 hektar dan kelas VII dengan luas
sangat penting dalam pengawetan air bagi
30039,19 hektar. Kelas kemampuan lahan di
kepentingan manusia.
Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang
Mongondow digambarkan dalam peta kelas
kemampuan lahan.Perlu adanya penelitian
lanjut tentang evaluasi kemampuan lahan
terhadap penggunaan lahan yang ada.

12
DAFTAR PUSTAKA Kartasapoetra, G., A. G. Kartasapoetra dan
M.M. Sutejo. 1991. Teknologi
Konservasi Tanah dan Air. Edisi
Abdullah, T.S.1985. Survai Tanah. Jurusan kedua. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Ilmu Tanah Fakultas pertanian Isitut
Pertanian Bogor, Bogor. Klingibiel, A. A and Montgomery. 2002 .
Land Capability Classification.
Anonimous. 1997. Sistem Informasi Geografi USDA. Soil Conservation. Service.
Data Spasial dan Data Aribut. LPT, Agric.Handbook. No. 210. Issued
Bogor. September 1961.
Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Nuhung H. I. A. 2007. Membangun
IPB Press, Bogor. Pertanian Masa Depan. Aneka Ilmu,
Semarang.
Asdak, C, 2001. Hidrologi Dan Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai. Gadja Mada Prahasta, E. 2005. Sistem Informasi
University Press, Yokyakarta. Geografis : Tutirial ArcView.
Penerbit Informatika, Bandung.
BAKOSURTANAL. 1994. Sistem Informasi
Geografi. Bidang penyelengaraan Rahmi, 1998. Studi Tentang Klasifikasi
Diklat BAKOSURTANAL, Kemampuan Lahahan Di Kecamatan
Cibinong. Batudaa Kabupaten Gorontalo.
Skripsi. Jur. Tanah Fak. Pertanian
Bappeda Bolmong. 2008. Peta Digital
UNSRAT Manado.
Kabupaten Bolaang Mongondow.
Kotamobagu. Rayes M. L. 2006. Metode Inventarisasi
Sumber Daya Lahan. Andi, Malang.
Budiyanto, E. 2009. Sistem Informasi
Geografis dengan ArcView GIS. Sarempa R. A. 2007. Potensi Sumber Daya
Andi, Yogyakarta. Lahan Dengan Pedekatan
Kemampuan Lahan. Skripsi. Fakultas
FAO. 1976. A Framework for Land
Pertanian Unsrat Manado.
Evalution. FAO Soil Bulletin 32.
Sitorus S. 1985. Evaluasi Sumber Daya
Foth, H. D. 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah.
lahan. Kalam Mulia, Jakarta.
Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta. Soepraja. 1985. Penanganan Lahan Kritis
dari Masa ke Masa. Angkasa.
Hardjowigeno, S. 2007. Evaluasi Kesesuaian
Bandung.
Lahan & Perencanaan Tataguna
Lahan. Gadjah Mada University Soepraptohardjo. 1970. Klasifikasi Lahan
Press, Yogyakarta. dan Kegunaannya. Kalam Mulia,
Jakarta.
Kabupaten Bolmong. 2012. Penggunaan
lahan Kecamatan Lolak. www.Pemda Sugiharto. 1999. Perencanaan Penggunaan
Bolmong.com. Fungsi Llahan. Angkasa, Bandung.
Kainz. 1997. Introduction to GIS. Suripin. 2004. Pelesterian Sumber Daya
Internasional Institute For Aerospace Tanah dan Air. Penerbit Andi,
Survey and Earth. Yogyakarta

13
Syafiuddin, M. 1982. Studi Tentang Kelas
Kemampuan Lahan Dalam Usaha
Pengawetan Tanah Di Desa Buku
Kecamatan Belang. Departemen
Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unsrat
Manado.

Utomo, W. H. 1989. Konservasi Tanah Di


Indonesia. Rajawali Press. Jakarta.

Wiradisastra. 1995. Latar Belakang dan


Sejarah Perkembangan Sistem
Informasi Geografi. Kerja sama
Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB
dengan Dikrektorat Bina Rehabilitasi
dan Perkembangan Lahan Dirjen
Tanaman Pangan dan Holtikultura
Depertemen Pertanian. Jakarta.

14