Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) HEMODIALISA

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


PENGATURANKEBUTUHAN CAIRAN
PADA PASIEN HEMODIALISA
DI RUANG HEMODIALISABRSU TABANAN

Hari : Jumat
Tanggal : 18 Desember 2015
Waktu : 45 menit
Tempat : Ruang Hemodialisa
Sasaran : Pasien yang menjalani terapi hemodialisa.
Topik kegiatan : Penyuluhan tentang pengaturankebutuhan cairan pada
pasien yang menjalani terapi hemodialisa.

A. LATAR BELAKANG
Penyakit gagal ginjal kronik utamanya diderita oleh pasien–pasien yang
telah mengalami usia lanjut. Pasien–pasien yang menjalani hemodialisa tidak
cukup dilakukan sekali saja, ada yang menjalani hemodialisa secara regular
atau rutin setiap minggu.Bahkan, ada pula yang menjalani hemodialisa
sampai dua kali dalam setiap minggunya. Hal ini tentu saja akan
menimbulkan berbagai dampak dan komplikasi yang dialami oleh pasien.
Pasien yang menjalani hemodialisa tentu saja memiliki rasa cemas dan
khawatir mengenai tindakan tersebut. Oleh karena itu, sebelum menjalani
proses hemodialisa ada hal–hal yang perlu diketahui oleh setiap pasien agar
kecemasan yang dialami pasien–pasien tersebut minimal dapat berkurang.
Sebagai perawat, diharapkan memberikan informasi dan pengarahan–
pengarahan serta motivasi terhadap pasien yang menjalani hemodialisa.
Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan hemodialisa
diperlukan penatalaksanaan lain seperti manajemen diet. Anggota keluarga
memiliki potensi untuk menjadi pendorong utama koping.Selain itu,
lingkungan keluarga cepat menjadi faktor yang kritis pada pengarahan
individu terhadap sebuah krisis (Hough, 1991).Oleh karena itu, dibutuhkan
pendidikan kesehatan kepada keluarga pasien yang menunggu pasien selama
menjalani terapi hemodialisa mengenai diet pada pasien dengan hemodialisa
untuk membantu menyediakan diet yang tepat.

B. TUJUAN
1. Tujuan instruksional umum
Setelah mengikuti proses penyuluhan diharapkan peserta mengetahui
tentang pengetahuan tindakan hemodialisa dan pengaturan cairan pada
pasien dengan hemodialisa.
2. Tujuan instruksional khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan sasaran penyuluhan mampu:
a. Memahami dan menjelaskan pengertian hemodialisa
b. Memahami dan menjelaskan tujuan, indikasi dan kontra indikasi serta
komplikasi pada pasien hemodialisa
c. Memahami dan mampu menyebutkan tentang pengaturan cairan
untuk pasien HD
d. Memahami dan mampu menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi kepatuhan pasien HD

C. SASARAN PENYULUHAN
Keluarga pasien hemodialisa yang menunggu pasien selama menjalani
terapi hemodialisa.

D. MATERI
1. Pengertian hemodialisa
2. Tujuan hemodialisa
3. Indikasi dan kontraindikasi hemodialisa
4. Komplikasi hemodialisa
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan penderita gagal ginjal kronik
yang menjalani hemodialisis dalam mengurangi asupan cairan
6. Pengaturan cairan pada pasien hemodialisia
7. Keuntungan pengaturan cairan
8. Tanda-tanda kelebihan cairan
9. Cara mencegah kelebihan cairan dalam tubuh

E. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi

F. MEDIA
1. Leaflet
2. LCD Proyektor

G. KRITERIA EVALUASI KEGIATAN


1. Evaluasi Struktur
a. Satuan Acara Penyuluhan (SAP) sudah siap
b. 80% alat dan bahan yang diperlukan sudah tersedia
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan berlangsung tepat waktu
b. Peserta yang hadir 90 % dari total peserta
c. 90 % peserta berada ditempat sesuai waktu yang telah ditentukan
d. 90% peserta tetap mengikuti kegiatan penyuluhan sampai selesai
e. 70% peserta yang aktif bertanya dari total
3. Evaluasi Hasil
a. Peserta dapat menjelaskan secara singkat pengertian dan tujuan
hemodialisa
b. Peserta dapat menyebutkan keuntungan pengaturan cairan
c. Peserta dapat menyebutkan tanda-tanda kelebihan cairan
d. Peserta dapat menyebutkan cara mencegah kelebihan cairan dalam
tubuh
H. KEGIATAN PENYULUHAN
KEGIATAN
NO FASE KEGIATAN PENYULUH WAKTU
PESERTA
1 Pra  Menyiapkan Satuan acara Penyuluhan 3 menit
Interaksi dan bahan untuk leaflet
 Menentukan kontrak waktu dan materi
dengan para peserta satu hari sebelum
penyuluhan dilakukan.
2 Kerja  Membuka kegiatan dengan  Menjawab salam 10 menit
mengucapkan salam.
 Memperkenalkan diri  Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan dari penyuluhan  Memperhatikan
 Menyebutkan materi yang akan  Memperhatikan
diberikan
 Menggali pengetahuan tentang  Memperhatikan
pengaturan cairan pada pasien dengan
hemodialisa
 Menjelaskan tentang pengaturan cairan  Memperhatikan
pada pasien dengan hemodialisa
 Memberi kesempatan kepada peserta  Bertanya dan
untuk mengajukan pertanyaan menjawab
kemudian didiskusikan bersama dan pertanyaan yang
menjawab pertanyaan. diajukan.
 Memberikan leaflet pengaturan cairan  Memperhatikan
pada pasien dengan hemodialisa
3 Evaluasi  Menanyakan kepada peserta tentang  Menjawab 10 menit
materi yang telah diberikan dan pertanyaan
reinforcement kepada peserta yang
dapat menjawab pertanyaan.
4 Terminasi  Mengakhiri pertemuan dan  Mendengarkan 2 menit
mengucapkan terima kasih atas
partisipasi klien.  Mendengarkan
 Menyimpulkan bersama  Menjawab salam
 Mengucapkan salam penutup

I. PENGORGANISASIAN
Moderator :
Penyaji materi :
Observer :
Notulen :
Fasilitator 1 :
Fasilitator 2 :
Fasilitiator 3 :
Fasilitiator 4 :
Fasilitiator 5 :
Fasilitiator 6 :
Fasilitiator 7 :
Fasilitiator 8 :

J. REFERENSI
Almatsier,S. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru, Jakarta : Gramedia Pustaka
Brunner & sunddarth.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta :
EGC
Rendi, Clevo M. 2012. Asuhan Keperawatan Medikah Bedah Dan Penyakit
Dalam. Jogjakarta:Noha Medika
Suwitra , Ketut.2010. Hidup Berkualitas dengan Hemodialisa (cuci darah) :
Udayana Universitas Pres
http://b11nk.wordpress.com/hemodialisa/ Minggu jam 19.35
http://www.minuman-sehat.com/penyakit-dan-obatnya/obat-untuk-ginjal/diet-
bagi-penderita-gagal-ginjal.html Di unduh hari Sabtu jam 21.00
http://www.scribd.com/doc/94003823/Sap Diunduh Hari Minggu jam 24.00
K. MATERI
1. Pengertian Hemodialisa
Hemodialisis berasal dari kata “hemo” artinya darah dan “dialisis”
artinya pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses
pembersihan darah dari zat-zat sampah melalui proses penyaringan di
luar tubuh.
Hemodialisismenggunakan ginjal buatan
berupa mesin dialisis.Hemodialisa merupakan suatu proses yang
digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dalam tubuh
kita, karena ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut (Brunner&
Sunddarth, 2001).

2. Tujuan Hemodialisa
Tujuan terapi dialisa yaitu :
Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa
antara lain :
a. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang
sisa-sisa metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin dan sisa
metabolisme yang lain.
b. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang
seharusnya dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
c. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan
fungsi ginjal.
d. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan
yang lain.

3. Indikasi dan Kontraindikasi Hemodialisa


a. Indikasi
Price dan Wilson (1995) menerangkan bahwa tidak ada
petunjuk yang jelas berdasarkan kadar kreatinin darah untuk
menentukan kapan pengobatan harus dimulai. Kebanyakan ahli ginjal
mengambil keputusan berdasarkan kesehatan penderita yang terus
diikuti dengan cermat sebagai penderita rawat jalan.Pengobatan
biasanya dimulai apabila penderita sudah tidak sanggup lagi bekerja
purna waktu, menderita neuropati perifer atau memperlihatkan gejala
klinis lainnya. Pengobatan biasanya juga dapat dimulai jika kadar
kreatinin serum diatas 6 mg/100 ml pada pria, 4 mg/100 ml pada
wanita dan Glomelurus Filtration Rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit.
Penderita tidak boleh dibiarkan terus menerus berbaring ditempat tidur
atau sakit berat sampai kegiatan sehari-hari tidak dilakukan lagi.
Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia
(PERNEFRI) (2003) secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi
Goal (LFG) kurang dari 15 ml/menit, LFG kurang dari 10 ml/menit
dengan gejala uremia atau malnutrisi dan LFG kurang dari 5 ml/menit
walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain indikasi
tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat
komplikasi akut seperti oedem paru, hiperkalemia, asidosis metabolik
berulang dan nefropatik diabetik.
Kemudian Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa
hemodialisa biasanya dimulai ketika bersihan kreatinin menurun
dibawah 10 ml/menit, ini sebanding dengan kadar kreatinin serum 8–
10 mg/dL. Pasien yang terdapat gejala-gejala uremia dan secara
mental dapat membahayakan dirinya juga dianjurkan dilakukan
hemodialisa.Selanjutnya Thiser dan Wilcox (1997) juga menyebutkan
bahwa indikasi relatif dari hemodialisa adalah azotemia simptomatis
berupa ensefalopati dan toksin yang dapat didialisis.Sedangkan
indikasi khusus adalah perikarditis uremia, hiperkalemia, kelebihan
cairan yang tidak responsif dengan diuretik (oedem pulmonum) dan
asidosis yang tidak dapat diatasi.
b. Kontra Indikasi
Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari
hemodialisa adalah hipotensi yang tidak responsif terhadap presor,
penyakit stadium terminal dan sindrom otak organik.Sedangkan
menurut PERNEFRI (2003), kontra indikasi dari hemodialisa adalah
tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa, akses
vaskuler sulit, instabilitas hemodinamik dan koagulasi. Kontra
indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer,
demensia multi infark, sindrom hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan
ensefalopati dan keganasan lanjut (PERNEFRI, 2003).

4. Komplikasi Hemodialisa
Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama
tindakan hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi,
antara lain :
a. Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya
hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa.Kram
otot seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat
dengan volume yang tinggi.
b. Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat,
rendahnya dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati
otonomik, dan kelebihan tambahan berat cairan.
c. Aritmia
Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa,
penurunan kalsium, magnesium, kalium dan bikarbonat serum yang
cepat berpengaruh terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.
d. Sindrom ketidakseimbangan dialisa
Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat
diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang
kurang cepat dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu
gradien osmotik diantara kompartemen-kompartemen ini.Gradien
osmotik ini menyebabkan perpindahan air ke dalam otak yang
menyebabkan oedem serebri.Sindrom ini tidak lazim dan biasanya
terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan
azotemia berat.

e. Hipoksemia
Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu
dimonitor pada pasien yang mengalami gangguan fungsi
kardiopulmonar.
f. Perdarahan
Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit.Fungsi trombosit
dapat dinilai dengan mengukur waktu perdarahan.Penggunaan heparin
selama hemodialisa juga merupakan faktor resiko terjadinya
perdarahan.
g. Ganguan pencernaan
Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah
yang disebabkan karena hipoglikemia.Gangguan pencernaan sering
disertai dengan sakit kepala.
h. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
i. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin
yang tidak adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.

5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Penderita Gagal


Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Dalam Mengurangi
Asupan Cairan
1) Faktor usia
Pendapat Dunbar & Waszak (1990) yang menunjukkan bahwa
ketaatan terhadapaturan pengobatan pada anak-anak dan remaja
merupakan persoalan yang sama dengan ketaatan pada pasien
dewasa. Pada penelitian ini didapat penderita yang patuh rata-rata
usia 52 tahun dan penderita yang tidak patuh rata-rata usia 46
tahun, ini bukan berarti usia lebih tua cenderung patuh dan
sebaliknya usia lebih muda cenderung tidak patuh. Pendidikan
penderita yang patuh74,3% untuk pendidikan SMA keatas ternyata
lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan pada penderita yang
tidak patuh.

2) Faktor lama manjalani HD


Semakin lama pasien menjalaniHD adaptasi pasien semakin baik
karena pasien telah mendapat pendidikan kesehatan atauinformasi
yang diperlukan semakin banyak dari petugas kesehatan. Hal ini
didukung oleh pernyataan bahwa semakin lama pasien menjalani
HD, semakin patuh dan pasien yang tidak patuh cenderung
merupakan pasien yang belum lama menjalani HD, karena pasien
sudah mencapai tahap menerima (accepted) dengan adanya
pendidikan kesehatan dari petugas kesehatan.
3) Faktor keterlibatan tenaga kesehatan
Keterlibatan tenaga kesehatan sangat diperlukan oleh pasien dalam
hal sebagai pemberi pelayanan kesehatan, penerimaan informasi
bagi pasien dan keluarga, serta rencana pengobatanselanjutnya.
4) Faktor keterlibatan keluarga pasien
Pada penderita yang patuh lebih mempunyai kepercayaan pada
kemampuannya sendiri untuk mengendalikan aspek permasalahan
yang sedang dialami, ini dikarenakan individu memilikifaktor
internal yang lebih dominan seperti tingkat pendidikan yang tinggi,
pengalamanyang pernah dialami, dan konsep diri yang baik akan
membuat individu lebih dapat mengambil keputusan yang tepat
dalam mengambil tindakan, sementara keterlibatankeluargadapat
diartikan sebagai suatu bentuk hubungan sosial yang bersifat
menolong denganmelibatkan aspek perhatian, bantuan dan
penilaian dari keluarga. Baekeland & Luddwall (1975) menyatakan
bahwa keluarga juga merupakan faktor yang berpengaruh dalam
menentukan program pengobatan pada pasien, derajat dimana
seseorang terisolasi dari pendampingan orang lain, isolasi
sosialsecara negatif berhubungan dengan kepatuhan.
6. Pengaturan Cairan pada Pasien Hemodialisis
Seseorang yang sudah mengalami gagal ginjal harus menjaga pola
makan dan minumnya karena banyak makanan dan minuman yang justru
bisa memperparah kondisi penyakitnya. Penderita sakit ginjal tidak bisa
mengonsumsi cairan (air atau minuman) sesukanya dengan jumlah yang
sama seperti orang sehat. Oleh karena itu, penderita gagal ginjal harus
benar-benar mengetahui pengaturan cairan yang mereka konsumsi agar
pasien tidak mengalami kelebihan cairan.
Berat kering adalah berat tubuh tanpa adanya kelebihan cairan yang
menumpuk diantara dua terapi hemodialisa.Berat kering ini dapat
disamakan dengan berat badan orang dengan ginjal sehat setelah buang
air kecil.Berat kering adalah berat terendah yang dapat ditoleransi oleh
pasien sesaat setelah terapi dialisis tanpa menyebabkan timbulnya gejala
turunnya tekanan darah, kram atau gejala lainnya yang merupakan
indikasi terlalu banyak cairan dibuang.Berat kering ditentukan oleh
dokter dengan mempertimbangkan masukan dari pasien. Dokter akan
menentukan berat kering dengan mempertimbangkan kondisi pasien
sebagai berikut: tekanan darah normal, tidak adanya edema atau
pembengkakan, tidak adanya indikasi kelebihan cairansaat pemeriksaan
paru–paru, tidak ada indikasi sesak nafas. Dengan demikian
pembatasancairan juga merupakan bagian dari resep diet untuk pasien
ini.Cairan dibatasi, yaitu denganmenjumlahkan urin/24jam ditambah
500-750 ml (Almatsier, 2004).Urin 24 jamditambah 500-700 ml adalah
jumlah cairan yang dapat dikonsumsi pasien dan masih dapat ditoleransi
olehginjal pasien.
Unsur-unsur gizi (nutrient) yang memiliki makna khusus dalam
pengobatan conventional yangdapat digunakan sebagai terapi pendamping
sudah harus dilaksanakan dan memerlukan pemantauanketat.
a. Cairan
Gejala pertama pada keadaan gagal ginjal menahun adalah
ketidakmampuan nefron yang masih berfungsi itu untuk meningkatkan
filtarat glomelurus secara baik dan mengatur eksresi natriumkedalam air
seni, dengan semakin parahnya kegagalan ginjal dan menurunnya
glomerulus(GFR) hingga 10 % atau kurang dari nilai normalnya, maka
produksi air seni akan menjadisedikit sehingga masukan air dan natrium
dalam jumlah yang lazim tidak dapat ditolerir.Kebutuhan penderita
akan air dapat ditentukan lewat pengukuran jumlah air seni
yangdikeluarkan selama 24 jam dengan memakai gelas silinder dan
ditambah air 500 ml, ini akanmenganti jumlah kehilangan air yang
hilang dari dalam tubuh (volume urine + 500 ml).
Pengaturan cairan merupakan bagian dari resep diet untuk pasien
hemodialisa.Pembatasan asupan cairan sampai 1 liter perhari sangat
penting karena meminimalkan risiko kelebihan cairan antar sesi
hemodialisa.Jumlah cairan yang tidak seimbang dapat menyebabkan
terjadinya edema paru ataupun hipertensi pada 2-3 orang pasien
hemodialisa.
Beberapa laporan menyatakan bahwa pembatasan cairan pada pasien
hemodialisa sangatdipengaruhi oleh perubahan musim dan masa-masa
tertentu dalam hidupnya. Seperti penelitian Argiles (2004) menyatakan
bahwa asupan cairan pasien akan sangat tidak terkontrol pada musim
panas karena pada musim panas merangsang rasa haus. Jumlah asupan
cairan pasien baik cairan yang diminum langsung ataupun yang
dikandung oleh makanan dapat dikaji secara langsung dengan
mengukur kenaikan berat badan antar sesihemodialisa (Interdialytic
weight gain/IDWG) (Welch, 2006).IDWG adalah peningkatan berat
badan antar hemodialisa yang paling utama dihasilkan oleh asupan
garam dan cairan. Secara teori, konsekuensi dari asupan tersebut terdiri
atas dua bagian yaitu:
 On the one hand
Yang artinya asupan air dan salin dapat bekerja sama dengan kalori dan
protein dalam makanan, yang akan disatukan untuk memperoleh
status nutrisi yang lebih baik.

 On the other hand


Asupan air dan garam dapat menimbulkan peningkatan cairan
tubuh.Yang menjadi kunci untuk kejadian hipertensi dan
hipertropi ventrikel kiri (Villaverde, 2005). IDWG yang
dapatditoleransi oleh tubuh adalah tidak lebih dari 1,0-1,5 kg
(Lewis et al., 1998) atau tidak lebih dari3 % dari berat kering
(Fisher, 2006).
Air, baik berupa air minu m ataupun sajian lain (kuah, sop, jus,
kopi, susu dan lain sebagainya) sangat dibatasi untuk penyandang
hemodialisis karena dapat mengakibatkan bengkak, meningkatkan
tekanan darah dan sesak nafas akibat sembab paru. Bagi penyandang
hemodialisis yang masih keluar kencing, boleh minum lebih banyak
dibandingkan dengan yang tidak keluar kencing sama sekali. Dasarnya
adalah membuat keseimbangan antara air yang masuk dan air yang
keluar.Air keluar bisa berupa air kencing, air bersama kotoran, air
berupa keringat dan pernafasan. Air yang keluar berupa keringat dan
pernafasan disebut juga air yang keluar tanpa disadari (insensible water
loss), diperkirakan jumlahnya 10- 15 ml/kg berat badan/ hari; sehingga
bagi penyandang yang memiliki berat badan 50 kg, air yang keluar
tanpa disadari tersebut jumlahnya antara 500- 750ml/hari. jadi, supaya
ada keseimbangan antara air yang masuk dan air yang keluar, maka
asupan air bagi penyandang tersebut adalah jumlah kencing + (500-
750)ml/hari. kalu dipakai ukurun gelas( 1 gelas= 250ml), maka asupan
air yang diperbolehkan adalah : jumlah kencing + (2-3) gelas/hari.
Misal, seorang penyandang masih keluar kencing 2 gelas/hari, berat
badannya 50kg, maka asupan airnya (minum, sop, juice, dsb) boleh 4- 5
gelas/hari.
Banyaknya asupan air oleh seseorang penyandang hemodialisa
akan tampak pada pertambahan berat badan setiap sesi hemodialisanya
dibnadingkan dengan berat badan setelah sesi hemodialisis sebelumnya.
Makin banyak penambahan berat badannya, berarti asupan airnya
lebih banyak. Yang paling bagus adalah pertambahan berat badan
kurang dari 2 kg; dianggapn cukup bila pertambahan berat badannya 2-
4kg dan dianggap buruk bila lebih dari 4 kg. disadari bahwa
penyandang hemodialisa cenderung merasa cepat haus, hal ini
disebabkan karena meningkatnya kadar sejenis zat (angiotensin II) yang
dapat merangsang pusat rasa haus di otak.
Ada beberapa kiat untuk mengurangi asupan air yaitu :
- Jangan makan makanan yang mengakibatkan haus, seperti
kerupuk, kacang-kacangan, kue kering
- Pada cuaca panas. Hindari beraktivitas berlebihan
- Bila rasa haus tak tertahankan, bahasi bibir dengan air dingin,
kumur-kumur atau menghisap potongan kecil es batu
- Siapkan air minum sejumlah yang telah ditetapkan (misalnya 5
gelas) pada botol atau tempat apa saja, kemudian habiskan
jumlah tersebut mulai dari bangun tidur pagi sampai menjelang
tidur malam pada hari yang sama
Penyandang hemodialisis diperbolehkan minum kopi (1-2 cangkir
sehari) teh, susu, asal jumlahnya disesuikan, tidak melebihi takaran
yang seharusnya. Penyandang hemodialisis dilarang merokok dan
minum minuman beralkohol.

7. Keuntungan Pengaturan Cairan


a. Untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh
b. Untuk menghindari terjadinya penumpukan cairan dalam tubuh
c. Untuk menjaga berat badan kering tetap stabil

8. Tanda – Tanda Kelebihan Cairan


a. Edema/bengkak , mulai dari pergelangan kaki dan menyebar keseluru
tubuh
b. Sesak / sulit bernafas
c. Berat badan meningkat 5% dari bb kering secara drastic
d. Tekanan darah tinggi walaupun sudah minum obat
e. Tidak ada nafsu makan dan lemas.
9. Cara Mencegah Kelebihan Cairan dalam Tubuh
a. Perhatikan jumlah cairan yang diminum
b. Ukur urine dalam 24 jam, minum sesuai dengan jumlah urine
perhari ditambah 500 cc
c. Kurangi konsumsi makanan yang mengandung tinggi garam
d. Minum obat saat makan
e. Timbang berat badan secara rutin dengan timbangan yang sama
f. Hindari mulut kering dengan berkumur menggunakan air biasa tapi
jangan menelan air
g. Menghisap atau mengulum es batu
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PENGATURANKEBUTUHAN CAIRAN
PADA PASIEN HEMODIALISA
DI RUANG HEMODIALISA BRSU TABANAN
TANGGAL 18 DESEMBER 2015

OLEH
KELOMPOK 8
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
2015