Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Definisi
Neurofibromatosis (NF) atau disebut juga sindrom neurokutan (neuro =
syaraf, kutan = kulit) adalah suatu kelainan genetika pada system syaraf yang
berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan jaringan syaraf. Kelainan ini bisa
menjadi tumor dan menyebabkan abnormalitas-abnormalitas terutama pada kulit dan
tulang. Karena kelainan ini bisa tumbuh menjadi tumor, maka NF dikategorikan
sebagai tumor, yang disebut Neurofibroma. Ada 2 tipe NF, yaitu NF1 yang lebih
umum dan “ringan” dan NF2 yang lebih jarang dan tingkatannya bisa dikatakan
parah.
Neurofibromatosis (penyakit von Recklinghausen) adalah penyakit yang
ditularkan secara genetik, dimana neurofibroma muncul pada kulit dan bagian tubuh
lainnya. Neurofibroma adalah benjolan seperti daging yang lembut, yang berasal dari
jaringan saraf.
Neurofibroma merupakan pertumbuhan dari sel Schwann (penghasil selubung saraf
atau mielin) dan sel lainnya yang mengelilingi dan menyokong saraf-saraf tepi (saraf
perifer, saraf yang berada diluar otak dan medula spinalis) atau suatu kondisi dimana
ada tumor pertumbuhan di mana saja di sistem saraf perifer. Ini adalah kelainan
bawaan, dan dapat tumbuh di tulang, kulit, sistem saraf, dan kulit. Jenis yang paling
umum dari sel yang dipengaruhi adalah Schwann cell. Pertumbuhan ini biasanya
mulai muncul setelah masa pubertas dan bisa dirasakan dibawah kulit sebagai
benjolan kecil.

2. Penyebab
Penyebab neurofibroma sampai saat ini masih belum jelas. Pada sindrom kongenital
yang langka (Neurofibromatis von Recklinghausen) terdapat kenaikan insiden.
Penyebab kedua NF yang diketahui adalah karena adanya mutasi pada gen. Pada NF1,
gen yang bermutasi ada di kromosom 17, sedangkan pada NF2 di kromosom 22.
Penderita NF kebanyakan mendapatkan penyakit ini dari faktor keturunan (dari kedua
orangtuanya), namun sekitar 30% kasus ternyata penderita NF tidak memiliki orang
tua atau riwayat keluarga yang memiliki penyakit NF pula. Artinya penyakit ini
mereka dapatkan karena tubuh mereka mengalami mutasi gen secara individual dan
tidak selalu bawaan lahir. Tetapi tetap saja mereka yang menderita NF akibat mutasi
gen individual, bisa menurunkan penyakit ini pada keturunannya kelak.

Para ahli juga menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat memicu Sel
Schwann normal untuk mengubah bentuk mereka, dan faktor-faktor ini meliputi:

 Sebuah operasi baru atau trauma yang mempengaruhi sistem saraf perifer

 Diet yang kaya lemak, minyak, dan permen

 Merokok dan konsumsi alkohol meningkat

 Ada penyakit dan infeksi

 Sebagai efek samping dari beberapa obat

 Racun bahan kimia di lingkungan

 Sebuah gaya hidup stres Gejala-gejala penyakit Tanda-tanda dan gejala dari
kondisi ini biasanya dicatat pada kulit. Orang mungkin merasa gatal sebuah,
terbakar, atau kesemutan sensasi. Ada juga pigmentations tidak biasa pada kulit,
yang akhirnya dapat berkembang menjadi makula. Orang juga dapat mencatat
bintik-bintik muncul di ketiak nya.

3. Tanda dan Gejala
Sekitar sepertiga penderita tidak mengeluhkan adanya gejala dan penyakit ini pertama
kali terdiagnosis ketika pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya benjolan dibawah
kulit, di dekat saraf. Pada sepertiga penderita lainnya penyakit ini terdiagnosis ketika
penderitanya berobat untuk masalah kosmetik. Tampak bintik-bintik kulit yang
berwarna coklat (bintik café-au lait) di dada, punggung, pinggul, sikut dan lutut.
Bintik-bintik ini bisa ditemukan pada saat anak lahir atau baru timbul pada masa bayi.
Pada usia 10-15 tahun mulai muncul berbagai ukuran dan bentuk neurofibromatosis di
kulit. Jumlahnya bisa kurang dari 10 atau bisa mencapai ribuan. Bintik café-au lait
berukuran besar. Pada beberapa penderita, pertumbuhan ini menimbulkan masalah
dalam kerangka tubuh, seperti kelainan lengkung tulang belakang (kifoskoliosis),
kelainan bentuk tulang iga, pembesaran tulang panjang pada lengan dan tungkai serta
kelainan tulang tengkorak dan di sekitar mata. Sepertiga sisanya memiliki kelainan
neurologis. Neurofibromatosis bisa mengenai setiap saraf tubuh tetapi sering tumbuh
di akar saraf spinalis. Neurofibroma menekan saraf tepi sehingga mengganggu
fungsinya yang normal. Neurofibroma yang mengenai saraf-saraf di kepala bisa
menyebabkan kebutaan, pusing, tuli dan gangguan koordinasi.
Semakin banyak neurofibroma yang tumbuh, maka semakin kompleks kelainan saraf
yang ditimbulkannya. Jenis neurofibromatosis yang lebih jarang adalah
neurofibromatosis jenis 2, dimana terjadi pertumbuhan tumor di telingan bagian
dalam (neuroma akustik). Tumor ini bisa menyebabkan tuli dan kadang pusing pada
usia 20 tahun.

NF 1 disertai gejala seperi ini:

 Dua atau lebih Neurofibroma pada atau di bawah kulit atau satu neurofibroma
plexiform (sekelompok besar tumor yang melibatkan beberapa saraf);
Neurofibroma adalah benjolan bawah kulit yang merupakan ciri khas dari
penyakit dan peningkatan jumlah dengan usia.

 Freckling dari pangkal paha atau ketiak (arm pit).

 Café au lait spot (pigmen, makula coklat muda terletak pada saraf, dengan tepi
halus tanda lahir).

 Kelainan rangka, seperti displasia sphenoid atau penipisan korteks tulang
panjang tubuh (tulang yaitu kaki, berpotensi menghasilkan membungkuk kaki)

 Lisch nodul (hamartomas iris), freckling di iris.

 Tumor pada saraf optik, juga dikenal sebagai glioma optik.

 Macrocephaly dalam 30-50% dari populasi anak

 Epilepsi (kejang)

NF 2

Neuromas akustik bilateral (tumor dari saraf vestibulocochlear atau saraf kranial 8
(CN VIII) juga dikenal sebagai schwannoma) sering menyebabkan gangguan
pendengaran. Bahkan, ciri khas NF 2 adalah gangguan pendengaran akibat
neuromas akustik sekitar usia dua puluh. Tumor yang tumbuh dapat
menyebabkan:

 Sakit kepala

 Keseimbangan dan vertigo perifer

 Karena schwannoma dan keterlibatan dari telinga bagian dalam
 Wajah kelemahan / kelumpuhan akibat keterlibatan atau kompresi pada saraf
wajah (saraf kranial 7 atau cn vii)

 Pasien dengan NF2 juga dapat mengembangkan tumor otak lainnya, serta
tumor tulang belakang.

 Tuli dan tinnitus.

 Opacity Juvenile lenticular posterior


4. Penatalaksanaan

Terapi yang dilakukan berdasarkan atas usia, saraf mana yang terkena, toleransi
terhadap prosedur, dan progresivitas penyakit. Saat ini operasi pengangkatan adalah
metode yang sering dilakukan untuk menangani neurofibroma apabila neurofibroma
tersebut tidak melibatkan saraf utama. Bila saraf utama terlibat, maka yang dapat
dilakukan adalah mengambil tumor dari saraf, meninggalkan saraf dalam keadaan
utuh di dalam, atau mendiamkan tumor tersebut apabila tidak menimbulkan gejala.
Neurofibroma umumnya dapat ditangani dengan baik dan kondisi tersebut tidak
mudah kambuh kembali.

Penatalaksanaan lainnya adalah dengan kemoterapi. Menggunakan aktif anti-kanker


obat-obatan untuk mengurangi ukuran tumor, atau untuk benar-benar memberantas
itu. Namun demikian, itu menimbulkan banyak efek samping, seperti rambut rontok,
sembelit, pusing, depresi, dan rambut rontok.

Sebuah intervensi pengobatan umum dan ideal adalah terapi radiasi, dan pengobatan
CyberKnife untuk neurofibroma adalah contoh dari ini. Prosedur ini lebih aman untuk
digunakan karena tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak akan membunuh sel-sel
sehat lainnya dalam tubuh. Ini juga tidak menyebabkan banyak efek samping. Terapi
radiasi menggunakan sinar gamma frekuensi rendah untuk mengangkat tumor. Apa
yang baik tentang ini adalah bahwa radiasi hanya dipancarkan langsung ke lokasi
tumor, dan tidak akan merusak jaringan sekitarnya atau organ dalam yang lewat.

Treatment dengan plastic surgery hanya akan mengangkat tumornya saja, padahal
sebagaimana kita tahu NF adalah penyakit genetik yang artinya “kesalahan” berada
pada bagian kromosom (bagian koding manusia) bukan di bagian luar. Treatment
yang dapat dilakukan adalah terapi yg ditemukan oleh Dr weinberg yang disebut
sebagai Electro-desiccation.

Dalam Electro-desiccation, arus listrik digunakan untuk mengeringkan atau


mengeringkan dan membunuh jaringan neurofibroma. Treatment ini menggunakan
pisau jenis kauter dengan titik tipis dan menjalankan arus melalui neurofibroma
tersebut, memgeringkan dan membunuh fibroma. Teknik ini kurang invasif
dibandingkan dengan metode penghapusan tradisional bedah (dengan cara
konvensional ini biasanya neurofibroma akan muncul lagi dan lagi).

Prosedur Electro-desiccation biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan atau dasar
berjalan. Hal ini sering dilakukan dalam satu atau dua jam. Bius lokal dapat
digunakan ketika menghapus cluster tumor dari area kecil dari tubuh, tetapi anestesi
umum diperlukan untuk penyerapan di daerah yang lebih besar dari kulit. Operasi
biasanya tanpa rasa sakit dan karena anestesi pasien baru umumnya pulang dalam satu
atau dua jam. Sangat sedikit pasien yang benar-benar membutuhkan obat analgesik
atau nyeri pasca operasi. Ini biasanya tidak sakit, tetapi mungkin gatal jadi kita akan
menggunakan obat untuk menanggulangi hal tersebut.

5. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1. Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio
ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan
keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan
kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri,
stimulasi simpatetik.
Tujuan :

- Klien dapat mengurangi rasa cemasnya


- Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
- Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.
INTERVENSI RASIONAL

a. Tentukan pengalaman klien a. Data-data mengenai pengalaman klien


sebelumnya terhadap penyakit yang sebelumnya akan memberikan dasar
dideritanya. untuk penyuluhan dan menghindari
adanya duplikasi.
b. Pemberian informasi dapat membantu
klien dalam memahami proses
b. Berikan informasi tentang penyakitnya.
prognosis secara akurat. c. Dapat menurunkan kecemasan klien.
c. Beri kesempatan pada klien untuk
mengekspresikan rasa marah, takut,
konfrontasi. Beri informasi dengan
emosi wajar dan ekspresi yang
sesuai.
d. Membantu klien dalam memahami
d. Jelaskan pengobatan, tujuan dan
kebutuhan untuk pengobatan dan efek
efek samping. Bantu klien
sampingnya.
mempersiapkan diri dalam
pengobatan.
e. Catat koping yang tidak efektif e. Mengetahui dan menggali pola koping
seperti kurang interaksi sosial, klien serta mengatasinya/memberikan
ketidak berdayaan dll. solusi dalam upaya meningkatkan
kekuatan dalam mengatasi kecemasan.
f. Agar klien memperoleh dukungan dari
f. Anjurkan untuk mengembangkan
orang yang terdekat/keluarga.
interaksi dengan support system.
g. Memberikan kesempatan pada klien
g. Berikan lingkungan yang tenang
untuk berpikir/merenung/istirahat.
dan nyaman.
h. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan
h. Pertahankan kontak dengan klien,
keyakinan bahwa dia benar-benar
bicara dan sentuhlah dengan wajar.
ditolong.

2. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan


syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping
therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu
memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
Tujuan :
- Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas

- Melaporkan nyeri yang dialaminya

- Mengikuti program pengobatan

- Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang
mungkin

INTERVENSI RASIONAL

a. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, a. Memberikan informasi yang diperlukan


durasi dan intensitas untuk merencanakan asuhan.
b. Evaluasi therapi: pembedahan, b. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan
radiasi, khemotherapi, biotherapi, sesuai atau tidak, atau malah
ajarkan klien dan keluarga tentang menyebabkan komplikasi.
cara menghadapinya
c. Berikan pengalihan seperti reposisi
c. Untuk meningkatkan kenyamanan
dan aktivitas menyenangkan seperti
dengan mengalihkan perhatian klien dari
mendengarkan musik atau nonton
rasa nyeri.
TV
d. Menganjurkan tehnik penanganan
stress (tehnik relaksasi, visualisasi, d. Meningkatkan kontrol diri atas efek
bimbingan), gembira, dan berikan samping dengan menurunkan stress dan
sentuhan therapeutik. ansietas.
e. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan
bila perlu.
e. Untuk mengetahui efektifitas
penanganan nyeri, tingkat nyeri dan
sampai sejauhmana klien mampu
menahannya serta untuk mengetahui
kebutuhan klien akan obat-obatan anti
f. Diskusikan penanganan nyeri nyeri.
dengan dokter dan juga dengan f. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
klien

g. Berikan analgetik sesuai indikasi g. Untuk mengatasi nyeri.


seperti morfin, methadone, narkotik
dll

3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik


yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan
(anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress,
fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake
tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20%
atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi,
abdominal cramping.
Tujuan :

- Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda
malnutrisi
- Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat
- Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya
INTERVENSI RASIONAL

a. Monitor intake makanan setiap a. Memberikan informasi tentang status


hari, apakah klien makan sesuai gizi klien.
dengan kebutuhannya.
b. Timbang dan ukur berat badan,
b. Memberikan informasi tentang
ukuran triceps serta amati
penambahan dan penurunan berat badan
penurunan berat badan.
klien.
c. Kaji pucat, penyembuhan luka yang
lambat dan pembesaran kelenjar
parotis. c. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat
d. Anjurkan klien untuk buruk.
mengkonsumsi makanan tinggi
kalori dengan intake cairan yang
adekuat. Anjurkan pula makanan
kecil untuk klien. d. Kalori merupakan sumber energi.
e. Kontrol faktor lingkungan seperti
bau busuk atau bising. Hindarkan
makanan yang terlalu manis,
berlemak dan pedas.

e. Mencegah mual muntah, distensi


f. Ciptakan suasana makan yang berlebihan, dispepsia yang menyebabkan
menyenangkan misalnya makan penurunan nafsu makan serta
bersama teman atau keluarga. mengurangi stimulus berbahaya yang
g. Anjurkan tehnik relaksasi, dapat meningkatkan ansietas.
visualisasi, latihan moderate f. Agar klien merasa seperti berada
sebelum makan. dirumah sendiri.
h. Anjurkan komunikasi terbuka
tentang problem anoreksia yang
g. Untuk menimbulkan perasaan ingin
dialami klien.
makan/membangkitkan selera makan.
Kolaboratif
h. Agar dapat diatasi secara bersama-sama
i. Amati studi laboraturium seperti (dengan ahli gizi, perawat dan klien).
total limposit, serum transferin dan
albumin
i. Untuk mengetahui/menegakkan
j. Berikan pengobatan sesuai indikasi terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat
Phenotiazine, antidopaminergic, perjalanan penyakit, pengobatan dan
corticosteroids, vitamins khususnya perawatan terhadap klien.
A,D,E dan B6, antacida Membantu menghilangkan gejala
j.
k. Pasang pipa nasogastrik untuk penyakit, efek samping dan

memberikan makanan secara meningkatkan status kesehatan klien.

enteral, imbangi dengan infus. k. Mempermudah intake makanan dan


minuman dengan hasil yang maksimal
dan tepat sesuai kebutuhan.

4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan


dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan
sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam
mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
Tujuan :

- Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting-
katan siap.
- Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur
tersebut.
- Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo-
batan.
- Bekerjasama dengan pemberi informasi.
INTERVENSI RASIONAL

a. Review pengertian klien dan a. Menghindari adanya duplikasi dan


keluarga tentang diagnosa, pengulangan terhadap pengetahuan klien.
pengobatan dan akibatnya.
b. Tentukan persepsi klien tentang
b. Memungkinkan dilakukan pembenaran
kanker dan pengobatannya,
terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi
ceritakan pada klien tentang
serta kesalahan pengertian.
pengalaman klien lain yang
menderita kanker.
c. Beri informasi yang akurat dan c. Membantu klien dalam memahami
faktual. Jawab pertanyaan secara proses penyakit.
spesifik, hindarkan informasi yang
tidak diperlukan.
d. Berikan bimbingan kepada
klien/keluarga sebelum mengikuti d. Membantu klien dan keluarga dalam
prosedur pengobatan, therapy yang membuat keputusan pengobatan.
lama, komplikasi. Jujurlah pada
klien.
e. Anjurkan klien untuk memberikan

umpanbalikverbaldan e. Mengetahui sampai sejauhmana


mengkoreksi miskonsepsi tentang pemahaman klien dan keluarga mengenai
penyakitnya. penyakit klien.
f. Review klien /keluarga tentang f. Meningkatkan pengetahuan klien dan
pentingnya status nutrisi yang keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.
optimal.
g. Anjurkan klien untuk mengkaji
g. Mengkaji perkembangan proses-proses
membran mukosa mulutnya secara
penyembuhan dan tanda-tanda infeksi
rutin, perhatikan adanya eritema,
serta masalah dengan kesehatan mulut
ulcerasi.
yang dapat mempengaruhi intake
makanan dan minuman.
h. Anjurkan klien memelihara h. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.
kebersihan kulit dan rambut.

5. Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping
kemotherapi dan radiasi/radiotherapi.
Tujuan :

- Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi
- Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal.
- Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga
mulut.
INTERVENSI RASIONAL

a. Kaji kesehatan gigi dan mulut pada a. Mengkaji perkembangan proses


saat pertemuan dengan klien dan penyembuhan dan tanda-tanda infeksi
secara periodik. memberikan informasi penting untuk
mengembangkan rencana keperawatan.
b. Masalah dengan kesehatan mulut dapat
b. Kaji rongga mulut setiap hari, amati
mempengaruhi pemasukan makanan dan
perubahan mukosa membran.
minuman.
Amati tanda terbakar di mulut,
perubahan suara, rasa kecap,
kekentalan ludah. c. Mencari alternatif lain mengenai
c. Diskusikan dengan klien tentang pemeliharaan mulut dan gigi.
metode pemeliharan oral hygine. d. Mencegah rasa tidak nyaman dan iritasi
d. Intruksikan perubahan pola diet lanjut pada membran mukosa.
misalnya hindari makanan panas,
pedas, asam, hindarkan makanan
e. Agar klien mengetahui dan segera
yang keras.
memberitahu bila ada tanda-tanda
e. Amati dan jelaskan pada klien
tersebut.
tentang tanda superinfeksi oral.
Kolaboratif
f. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan
f. Konsultasi dengan dokter gigi
gigi dan gusi.
sebelum kemotherapi
g. Tindakan/terapi yang dapat
g. Berikan obat sesuai indikasi,
menghilangkan nyeri, menangani infeksi
analgetik, topikal lidocaine,
dalam rongga mulut/infeksi sistemik.
antimikrobial mouthwash
h. Untuk mengetahui jenis kuman sehingga
preparation.
dapat diberikan terapi antibiotik yang
h. Kultur lesi oral. tepat.

6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh


sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif
Tujuan :

- Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi

- Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal

INTERVENSI RASIONAL

a. Cuci tangan sebelum melakukan a. Mencegah terjadinya infeksi silang.


tindakan. Pengunjung juga
dianjurkan melakukan hal yang
b. Menurunkan/mengurangi adanya
sama.
organisme hidup.
b. Jaga personal hygine klien dengan
c. Peningkatan suhu merupakan tanda
baik.
terjadinya infeksi.
c. Monitor temperatur. d. Mencegah/mengurangi terjadinya
d. Kaji semua sistem untuk melihat resiko infeksi.
tanda-tanda infeksi. e. Mencegah terjadinya infeksi.
e. Hindarkan/batasi prosedur invasif f. Segera dapat diketahui apabila terjadi
dan jaga aseptik prosedur. infeksi.
Kolaboratif g. Adanya indikasi yang jelas sehingga
antibiotik yang diberikan dapat
f. Monitor CBC, WBC, granulosit,
mengatasi organisme penyebab
platelets.
infeksi.
g. Berikan antibiotik bila
diindikasikan.

7. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan
kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
Tujuan :

- Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik

- Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan

INTERVENSI RASIONAL

a. Kaji integritas kulit untuk melihat a. Memberikan informasi untuk


adanya efek samping therapi perencanaan asuhan dan
kanker, amati penyembuhan luka. mengembangkan identifikasi awal
b. Anjurkanklien untuk tidak terhadap perubahan integritas kulit.
menggaruk bagian yang gatal. b. Menghindari perlukaan yang dapat
c. Ubah posisi klien secara teratur. menimbulkan infeksi.
c. Menghindari penekanan yang terus
menerus pada suatu daerah tertentu.
d. Berikan advise pada klien untuk
d. Mencegah trauma berlanjut pada kulit
menghindari pemakaian cream
dan produk yang kontra indikatif
kulit, minyak, bedak tanpa
rekomendasi dokter.
8. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam
penampilan sekunder terhadap pemberian sitostatika.

Tujuan :

Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil

Kriteria hasil :

- Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya

- Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.

- Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.

- Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.

INTERVENSI RASIONAL

a. Kontak dengan klien sering dan a. Perasaan empatik dan perhatian untuk
perlakukan klien dengan hangat dan siap membantu klien dalam mengatasi
sikap positif. permasalahan yang ada.
b. Berikan dorongan pada klien untuk b. Perasaan yang diungkapakan pada orang
mengekpresikan perasaan dan yang dipercaya akan membuat perasaan
pikiran tentang kondisi, kemajuan, lega dan tidak tekanan batin.
prognose, sisem pendukung dan
pengobatan.
c. Berikan informasi yang dapat
dipercaya dan klarifikasi setiap c. Informasi yang akurat memberikan
mispersepsi tentang penyakitnya. masukan dan instropeksi diri dalam
d. Bantu klien mengidentifikasi menerima dirinya.
potensial kesempatan untuk hidup d. Ektulisasi diri dibutuhkan bagi klien
mandiri melewati hidup dengan dengan kaneker.
kanker, meliputi hubungan
interpersonal, peningkatan
pengetahuan, kekuatan pribadi dan
pengertian serta perkembangan
spiritual dan moral.
e. Kaji respon negatif terhadap
perubahan penampilan (menyangkal
perubahan, penurunan kemampuan
merawat diri, isolasi sosial,
penolakan untuk mendiskusikan e. Respon klien yang negatfi diperlukan
masa depan. bantuan baik fisik mapun psikis-moral
f. Bantu dalam penatalaksanaan untuk memenuhi kebutuhan sejhri-sehari.
alopesia sesuai dengan kebutuhan.
g. Kolaborasi dengan tim kesehatan
lain yang terkait untuk tindakan
konseling secara profesional.

f. Dampak dari pada chemoterapi perlu


adanya penjelasan dan perawatan rambut.
g. Konseling kesehatan secara bersama
akan lebih lebih efektif.