Anda di halaman 1dari 17

BAB III

GOLONGAN 11 (LOGAM MATA UANG)

3.1 Pengantar
Setelah mempelajari uraian dalam Bab III ini diharapkan para mahasiswa
memiliki kompetensi:
 Mampu menyebutkan beberapa kecenderungan sifat fisika dan kimia
unsur-unsur golongan 11 (logam mata uang).
 Mampu menyebutkan terdapatnya unsur-unsur logam mata uang di alam
 Mampu menjelaskan cara pembuatan unsur-unsur logam mata uang
 Mampu menyebutkan sifat-sifat fisika dan kimia unsur-unsur logam
mata uang
 Mampu menuliskan persamaan reaksi yang terjadi pada unsur-unsur
logam mata uang
 Mampu menjelaskan cara pembuatan beberapa senyawa unsur-unsur
logam mata uang
 Mampu menyebutkan beberapa kegunaan unsur-unsur logam mata uang
 Mampu menyebutkan beberapa kegunaan beberapa senyawa unsur
logam mata uang
Agar kompetensi-kompetensi tersebut di atas dapat dicapai, maka para
mahasiswa diharapkan mempelajari uraian dalam bab ini yang berisi tentang: (1)
Kecenderungan sifat fisika dan kimia unsur-unsur logam mata uang, (2)
Terdapatnya di alam, cara pembuatan , sifat-sifat, dan kegunaan logam tembaga ,
(3) Senyawa-senyawa tembaga, yang meliputi senyawa tembaga(I) dan senyawa
tembaga(II), (4) Terdapatnya di alam, cara pembuatan , sifat-sifat, dan kegunaan
logam perak, (5) Senyawa-senyawa perak, (6) Terdapatnya di alam, cara
pembuatan , sifat-sifat, dan kegunaan logam emas, (7) Senyawa-senyawa emas.
Di samping butir-butir uraian tersebut, para mahasiswa juga diharapkan membaca
buku-buku lain yang terkait dengan materi yang disajikan dalam bab ini.

Konsep-konsep penting: Logam mata uang, tembaga, perak, emas.

Semi QUE V 2004 1


3.2 Kecenderungan Sifat Fisika dan Kimia Unsur-unsur Logam Mata Uang
Golongan 11 atau golongan I-B terdiri atas logam tembaga, perak, dan
emas. Logam-logam ini disebut juga sebagai logam mata uang (coinage metals),
sebab sudah berabad-abad logam ini dipakai untuk mata uang. Beberapa sifat
fisika logam mata uang ini dapat dilihat dalam Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Beberapa Sifat Fisika Logam Mata Uang

Sifat Fisika Tembaga (Cu) Perak (Ag) Emas (Au)

Nomor atom 29 47 79

Konfigurasi elektron …3s2 3p6 3d10 4s1 …4s2 4p6 4d10 5s1 …5s2 5p6 5d10 6s1

Jari-jari atom 1,17 Å 1,34 Å 1,34 Å

Jari-jari ion +1 0,96 Å 1,26 Å 1,37 Å

Titik leleh 1083oC 960,5oC 1063oC

Titik didih 2595oC 2212oC 2966oC

Berat jenis 8,92 g.cm-3 10,5 g.cm-3 19,3 g.cm-3

Potensial reduksi standar


( M+ + e → M ) + 0,52 Volt + 0,80 Volt +1,68 Volt
2+ 3+
Cu + 2e → Cu Au + 3e → Au
Eo = + 0,34 Volt Eo = + 1,42 Volt

Atom-atom logam golongan 11 atau golongan I-B mempunyai satu elektron di


kulit terluar seperti atom-atom logam golongan 1 atau golongan I-A, tetapi ion 1+
dari logam golongan I-B mempunyai delapan belas elektron di kulit terluar,
sedang pada logam golongan I-A hanya mempunyai delapan elektron. Susunan
delapan elektron ini jauh lebih stabil daripada susunan delapan belas elektron.
Elektron di subkulit d energinya tidak berbeda banyak dari elektron pada subkulit
berikutnya dan dapat dilepas dengan penambahan sedikit energi sehingga terben-
tuk ion-ion 2+ dan 3+. Tembaga dapat membentuk ion 1+ dan 2+, perak dapat
membentuk ion 1+ dan 2+ (jarang ada), dan emas dapat membentuk ion 1+ dan
3+. Antara logam alkali (golongan I-A) dan logam golongan I-B ada sedikit per-
samaan, misalnya: keduanya dapat membentuk senyawa-senyawa dengan bila-
ngan oksidasi +1, dan keduanya merupakan penghantar listrik, tetapi sebaliknya

Semi QUE V 2004 2


perbedaan antara dua golongan ini jauh lebih banyak, misalnya: senyawa hidrok-
sida dari logam golongan I-A semuanya larut baik dalam air dan merupakan basa
kuat, sedang senyawa hidroksida dari logam golongan I-B sukar larut dalam air
dan bersifat basa lemah (kecuali perak hidroksida); senyawa logam golongan I-A
hampir semuanya larut baik dalam air, sedang senyawa logam golongan I-B se-
bagian besar sukar larut dalam air; unsur-unsur logam golongan I-A sukar mem-
bentuk senyawa kompleks, sedang unsur-unsur logam golongan I-B dapat mem-
bentuk banyak senyawa kompleks yang stabil.

3.3 Tembaga
3.3.1 Terdapatnya di Alam
Meskipun tembaga tidak didapatkan di alam secara melimpah, tetapi dike-
nal pula adanya bijih-bijih yang mengandung tembaga, misalnya tembaga pirit,
CuFeS2 , kilap tembaga, Cu2S, dan kuprit, Cu2O. Tembaga juga ditambang sebagai
unsur bebas seperti yang dilakukan di Northerm Michigan USA.

3.3.2 Cara Pembuatan Tembaga


Pembuatan tembaga dari bahan pirit dilakukan dengan cara sebagai beri-
kut: Mula-mula bijih tembaga dikumpulkan dengan proses flotasi bijih. Pada
proses ini bubukan bijih yang halus dicampur dengan air dan zat pembuih. Jika
udara dihembuskan ke dalamnya maka akan dihasilkan buih sedang partikel-par-
tikel bijih sulfida akan naik ke permukaan buih dan dapat dipisahkan. Pada
penambahan asam, buihnya akan hilang dan bijih yang telah terkumpul dapat
disaring dan dikeringkan. Setelah proses flotasi, bijih tembaga pirit dipanggang
dengan udara secukupnya untuk mengubah besi menjadi besi(II) oksida dengan
reaksi sebagai berikut:

2 CuFeS2 (s) + 4 O2 (g)  Cu2S (s) + 3 SO2 (g) + 2 FeO (s)

Setelah dipanggang, hasilnya dicampur dengan silika, SiO 2 dan campuran yang
terbentuk lalu dipanaskan tanpa udara untuk mengubah besi(II) oksida menjadi
besi(II) silikat, FeSiO3 yang dapat dipisahkan dari tembaga(I) sulfida. Tembaga(I)
sulfida yang diperoleh kemudian direduksi menjadi tembaga dengan pemanasan
dalam udara yang terkontrol jumlahnya dengan persamaan reaksi:

Semi QUE V 2004 3


Cu2S (s) + O2 (g)  2 Cu (s) + SO2 (g)

Untuk mendapatkan tembaga yang murni dapat dilakukan dengan jalan elektroli-
sis dalam larutan tembaga(II) sulfat. Tembaga yang tidak murni sebagai anoda dan
tembaga yang murni digunakan sebagai katoda. Selama proses elektrolisis, logam
tembaga dari anoda akan berpindah ke katoda, sehingga akan dapat diperoleh
logam tembaga yang murni.

3.3.3 Sifat-sifat Tembaga


Tembaga mempunyai titik leleh 1083oC dan berat jenisnya 8,93 g.cm-3. Warna
logamnya menyerupai emas, mudah ditempa, dapat diregang, dan merupakan
konduktor panas dan listrik nomer dua sesudah perak. Logam tembaga secara
lambat bereaksi dengan udara lembab dan permukaannya berangsur-angsur men-
jadi terlapis oleh lapisan hijau dari tembaga karbonat basa.

2 Cu (s) + O2 (g) + CO2 (g) + H2O (l)  Cu2(OH)2CO3 (s)

Pada temperatur sekitar 300oC bereaksi dengan udara atau oksigen dan terbentuk
lapisan hitam dari senyawa tembaga(II) oksida, dan pada temperatur 1000oC akan
terbentuk senyawa tembaga(I) oksida. Tembaga juga bereaksi dengan uap bele-
rang membentuk tembaga(I) sulfida, dan dengan halogen membentuk tembaga(II)
halida, kecuali dengan iod membantuk tembaga(I) iodida. Logam tembaga tidak
bereaksi dengan air atau uap air dan asam-asam encer non oksidator, misalnya
HCl encer dan asam sulfat encer. Asam klorida pekat yang mendidih dapat bere-
aksi dengan tembaga menghasilkan gas hidrogen dan senyawa dikloro kuprat(I),
[CuCl2]−.

2 Cu (s) + 2 H+ (aq) 2 Cu+ (aq) + H2 (g)


+
4 Cl- (aq)
(dari asam klorida)

2 [CuCl2]- (aq)

Semi QUE V 2004 4


Asam sulfat pekat yang panas, asam nitrat encer, dan asam nitrat pekat dapat
bereaksi dengan tembaga, dengan persamaan reaksi yang utama adalah sebagai
berikut:

Cu (s) + 2 H2SO4 (pekat)  CuSO4 (aq) + 2 H2O (l) + SO2 (g)


3 Cu (s) + 8 HNO3 (encer)  3 Cu(NO3)2 (aq) + 4 H2O (l) + 2 NO (g)
Cu (s) + 4 HNO3 (pekat)  Cu(NO3)2 (aq) + 2 H2O (l) + 2 NO2 (g)

3.3.4 Kegunaan Tembaga


Tembaga digunakan untuk kumparan pada dinamo dan motor listrik.
Kuningan merupakan paduan dari tembaga dan seng, yang digunakan untuk
reflektor lampu, alat-alat pada arloji dan lain-lain. Perunggu merupakan paduan
antara tembaga dan timah digunakan untuk kemudi kapal. Tembaga juga diguna-
kan untuk katalisator pada pembuatan formaldehida dari metanol.

3.3.5 Senyawa-senyawa Tembaga


Tembaga umumnya mempunyai tingkat oksidasi +2, sedang yang pada
tingkat oksidasi +1 tidak stabil jika berada dalam larutan. Dikenal juga senyawa
tembaga dengan tingkat oksidasi +3, yaitu K3CuF6, tetapi senyawa tembaga
pada tingkat oksidasi +3 kurang penting.

3.3.5.1 Senyawa-senyawa Tembaga(I)


Dalam larutan, ion tembaga(I) tidak stabil dan mengalami disproporsionasi
menjadi ion tembaga(II) dan tembaga.

2 Cu+ (aq)  Cu (s) + Cu2+ (aq) Eo = + 0,36 Volt

Kesetimbagan dapat bergeser ke kiri jika ditambah anion yang dapat mengendap-
kan senyawa tembaga(I), misalnya dengan ion iodida akan terbentuk endapan CuI,
atau dengan penambahan suatu zat yang dapat membentuk ion kompleks, dimana
ion kompleks dari tembaga(I) lebih stabil daripada ion kompleks tembaga(II),
misalnya dengan amonia akan terbentuk ion [Cu(NH3)2]+.

3.3.5.1.1 Tembaga(I) Oksida, Cu2O


Tembaga(I) oksida dapat diperoleh sebagai zat padat berwarna merah
dengan cara mereduksi larutan tembaga(II) sulfat beralkali. Reduksi ini dilaku-

Semi QUE V 2004 5


kan dengan cara: Ke dalam larutan tembaga(II) sulfat ditambahkan larutan natri-
um kalium tartrat, maka akan diperoleh larutan yang berwarna biru gelap dari
senyawa kompleks tembaga(II) tartrat. Jika pada larutan ini ditambah dengan
larutan glukosa (reduktor lemah) dan dipanaskan, maka akan dapat diperoleh
endapan merah bata dari senyawa tembaga(I) oksida.
Dalam keadaan panas, tembaga(I) oksida dapat bereaksi dengan asam
sulfat encer menghasilkan larutan tembaga(II) sulfat dan tembaga.

Cu2O (s) + 2 H+ (aq)  Cu2+ (aq) + Cu (s) + H2O (l)

Tembaga (I) oksida larut dalam asam klorida pekat membentuk ion kompleks
[CuCl2]−.

3.3.5.1.2 Tembaga(I) Klorida, CuCl


Tembaga(I) klorida merupakan zat padat putih yang tidak larut dalam air.
Senyawa ini dapat diperoleh dengan cara mendidihkan larutan yang mengandung
tembaga(II) klorida, tembaga, dan asam klorida pekat. Tembaga(I) yang ada da-
lam larutan ini dalam bentuk ion kompleks [CuCl2]−.

Cu (s) + Cu2+ (aq) 2 Cu+ (aq)


+
4 Cl- (aq)

2 [CuCl2]- (aq)

Tembaga(I) klorida mempunyai ikatan kovalen dan strukturnya menyerupai intan.


Pada fasa uap terbentuk molekul dimer dan trimer, yaitu: (CuCl) 2 dan (CuCl)3.
Tembaga(I) klorida dapat larut dalam air yang mengandung ion Cl −, S2O32−, atau
NH3, membentuk ion kompleks, misalnya ion [Cu(NH3)2]+. Dalam laboratorium
campuran tembaga(I) klorida dengan asam klorida dipakai untuk mengubah
benzena diazonium klorida menjadi kloro benzena (reaksi Sandmeyer).

CuCl / HCl
C6H5N2+Cl- C6H5Cl- + N2

Semi QUE V 2004 6


3.3.5.1.3 Senyawa Tembaga(I) Fluorida, Bromida, dan Iodida
Senyawa tembaga(I) fluorida sukar didapatkan, karena fluor merupakan
oksidator kuat dan dengan segera akan mengoksidasi tembaga(I) fluorida menjadi
tembaga(II) fluorida. Senyawa tembaga(I) bromida, CuBr, dapat diperoleh dengan
cara yang mirip dengan pembuatan tembaga(I) klorida. Sifat-sifat senyawa ini
menyerupai senyawa tembaga(I) klorida. Tembaga (I) iodida, CuI dapat diperoleh
sebagai endapan putih jika larutan garam tembaga(II) ditambah dengan larutan
kalium iodida, karena larutan tembaga(II) iodida tidak stabil dan cenderung men-
jadi senyawa tembaga(I) iodida.

2 Cu2+ (aq) + 4 I− (aq)  2 CuI (s) + I2 (aq)

3.3.5.1.4 Tembaga(I) Sulfat, Cu2SO4


Tembaga(I) sulfat didapat sebagai zat padat yang berwarna putih jika
tembaga(I) oksida dipanaskan bersama-sama dengan dimetil sulfat anhidrat.

Cu2O (aq) + (CH3)2SO4 (s))  Cu2SO4 (s) + (CH3)2O (s)

Dalam keadaan kering, tembaga(I) sulfat stabil, jika dilarutkan segera akan
mengalami disproporsionasi menjadi tembaga(II) sulfat dan tembaga.

Cu2SO4 (aq)  CuSO4 (aq) + Cu (s)

3.3.5.2 Senyawa-senyawa tembaga(II)


Senyawa tembaga umumnya dengan tingkat oksidasi +2. Dalam larutan,
garam tembaga(II) berwarna biru, dan warna ini terjadi karena adanya ion
[Cu(H2O)6]2+.

3.3.5.2.1 Tembaga(II) oksida, CuO


Senyawa tembaga(II) oksida dapat diperoleh sebagai zat padat berwarna
hitam dengan cara memanaskan padatan senyawa tembaga(II) karbonat atau
tembaga(II) nitrat.

CuCO3 (s)  CuO (s) + CO2 (g)

2 Cu(NO3)2 (s)  2 CuO (s) + 4 NO2 (g) + O2 (g)

Semi QUE V 2004 7


Pada pemanasan sampai temperatur sekitar 800oC, senyawa tembaga(II) oksida
akan terurai menjadi tembaga(I) oksida dan oksigen.

800oC
4 CuO (s) 2 Cu2O (s) + O 2 (g)

Bila dipanaskan, senyawa CuO dapat segera bereaksi dengan asam mineral encer
membentuk garam tembaga(II), dan mudah direduksi menjadi tembaga jika dialiri
gas hidrogen.

CuO (s) + 2 H+ (aq)  Cu2+ (aq) + H2O (l)


CuO (s) + H2 (g)  Cu (s) + H2O (l)

3.3.5.2.2 Tembaga(II) hidroksida, Cu(OH)2


Senyawa tembaga(II) hidroksida dapat diperoleh sebagai endapan seperti
agar-agar yang berwarna hijau-biru bila larutan garam tembaga(II) ditambah la-
rutan natrium hidroksida. Endapan ini jika disaring dan dikeringkan pada
temperatur 100oC akan diperoleh senyawa Cu(OH)2, tetapi pemanasan suspensi
yang tidak disaring pada sekitar 80oC akan terurai menjadi tembaga(II) oksida
dan air. Senyawa tembaga(II) hidroksida dapat dengan segera larut dalam larutan
amonia dan dihasilkan warna yang sangat biru dari ion kompleks [Cu(NH3)4]2+.

Cu(OH)2 (s) Cu+ (aq) + 2 OH- (aq)


+
4 NH3 (aq)

[Cu(NH3)4]2+(aq)

3.3.5.2.3 Tembaga(II) sulfida, CuS


Senyawa tembaga(II) sulfida dapat diperoleh sebagai endapan hitam jika
gas hidrogen sulfida dialirkan ke dalam larutan garam tembaga(II).

Cu2+ (aq) + H2S (g)  CuS (s) + 2 H+ (aq)

Semi QUE V 2004 8


3.3.5.2.4 Tembaga(II) Sulfat, CuSO4. 5H2O
Senyawa tembaga(II) sulfat dapat diperoleh dengan mereaksikan temba-
ga(II) oksida atau tembaga(II) karbonat dengan asam sulfat encer. Larutan kemu-
dian dipanaskan agar diperoleh larutan yang jenuh. Pada pendinginan akan
diperoleh zat padat berwarna biru dari senyawa tembaga(II) sulfat pentahidrat.
Dalam industri, diperoleh dengan cara mengalirkan udara ke dalam campuran
tembaga dan asam sulfat encer panas.

2 Cu (s) + 4 H+ (aq) + O2 (g)  2 Cu2+ (aq) + 2 H2O (l)

Bila senyawa tembaga(II) sulfat pentahidrat dipanaskan sampai sekitar 100 oC,
empat molekul air pada senyawa itu akan lepas, dan pada temperatur 250 oC keli-
manya akan lepas. Bila dipanaskan sampai pada temperatur yang tinggi, garam
anhidratnya akan terurai menjadi tembaga(II) oksida dan belerang trioksida.

CuSO4 (s)  CuO (s) + SO3 (g)

3.4 Perak
3.4.1 Terdapatnya di Alam
Perak didapat di alam sebagai perak sulfida (silver glance), Ag 2S, dan
perak klorida (horn silver), AgCl, juga terdapat sebagai unsur bebas dan beberapa
aliasi dengan emas, tembaga, dan raksa. Dalam jumlah yang berarti ditemukan
pada proses ekstraksi timbal dari bijihnya dan juga pada pemurnian tembaga
secara elektrolisis.

3.4.2 Cara Pembuatan Perak


Kesukaran yang harus diatasi untuk memperoleh perak adalah melarutkan
logamnya. Ini biasanya dikerjakan dengan cara menghembuskan udara ke dalam
suspensi bijih yang mengandung larutan natrium sianida selama kira-kira 2 ming-
gu. Logam perak dan senyawa-senyawanya larut dalam larutan natrium sianida
yang dialiri udara membentuk ion kompleks di siano argentat, [Ag(CN)2]−.

4 Ag (s) + 8 CN− (aq) + O2 (g) + 2 H2O (l)  4 [Ag(CN)2]− (aq) + 4 OH− (aq)
2 Ag2S(s) + 8 CN−(aq) + O2(g) + 2 H2O(l)  4 [Ag(CN)2]−(aq) + 2 S(s) + 4 OH−(aq)
AgCl (s) + 2 CN− (aq)  [Ag(CN)2]− (aq) + Cl− (aq)

Semi QUE V 2004 9


Adanya ion CN− dalam larutan menyebabkan perak dapat dioksidasi oleh udara.
Untuk mendapatkan kembali perak, dipakai reduktor yang kuat seperti logam
aluminium dan seng.

2 [Ag(CN)2]− (aq) + Zn (s)  2 Ag (s) + [Zn(CN)4]2− (aq)

Logam yang murni dapat diperoleh dengan cara elektrolisis dalam larutan yang
mengandung perak nitrat dan asam nitrat. Logam perak yang tidak murni ditem-
patkan sebagai anoda sedangkan logam perak yang murni sebagai katoda.

3.4.3 Sifat-sifat Perak


Perak mempunyai titik leleh 960oC dan berat jenisnya 10,5 g.cm−3. Logam
perak berwarna putih mengkilat, dapat ditempa dan dapat diregang. Perak
merupakan logam yang paling baik menghantarkan panas dan listrik. Perak tidak
dioksidasi oleh udara, akan tetapi dengan hidrogen sulfida atau bila kena makanan
yang mengandung belerang akan menjadi hitam. Reaksinya dengan hidrogen
sulfida dalam udara adalah sebagai berikut:

4 Ag (s) + 2 H2S (g) + O2 (g)  Ag2S (s) + 2 H2O (l)

Uap air dan asam-asam non oksidator tidak bereaksi dengan perak, tetapi dapat
bereaksi dengan asam sulfat pekat panas dan asam nitrat encer yang dingin mem-
bentuk ion perak(I).

2 Ag (s) + 2 H2SO4 (aq)  Ag2SO4 (aq) + SO2 (g) + 2 H2O (l)


3 Ag (s) + 4 HNO3 (aq)  3 AgNO3 (aq) + 2 H2O (l) + NO (g)

Asam nitrat pekat dengan perak bereaksi membentuk ion perak(I), gas nitro-
gen dioksida, dan air.

3.4.4 Kegunaan Perak


Perak dipakai untuk mata uang, barang-barang hiasan, dan cermin serta
film untuk potret. Perak banyak juga dipakai untuk melapis (menyepuh) benda-
benda. Pelapisan ini dilakukan dengan elektrolisis. Benda yang akan dilapis dipa-
kai sebagai katoda, sedang anodanya batang perak yang murni. Larutan yang
dipakai untuk melapis adalah larutan natriun disianoargentat, NaAg(CN)2. Reaksi-
reaksinya dapat ditulis sebagai berikut:

Semi QUE V 2004 10


Anoda (oksidasi) : Ag (s) + 2 CN− (aq)  [Ag(CN)2]− (aq) + e
Katoda (reduksi) : [Ag(CN)2]− (aq) + e  Ag (s) + 2 CN− (aq)

Agar mengkilat, benda-benda yang telah dilapis lalu dipulas.

Dengan menggunakan dasar deret Volta, kita dapat membersihkan benda-


benda dari perak yang kotor. Cara membersihkannya adalah sebagai berikut:
Dalam bejana dari aluminium atau dalam bejana gelas dengan lempeng alumini-
um, dilarutkan soda kue dan garam masing-masing setengah sendok teh dalam
kira-kira setengah liter air. Logam aluminium dan perak harus bersentuhan satu
sama lain. Setelah karat yang berupa senyawa sulfida hilang, benda perak tersebut
harus dicuci betul-betul. Apa sebenarnya yang terjadi dapat diterangkan sebagai
berikut: Perak sulfida larut sedikit dalam air menjadi ion perak dan ion sulfida.
Aluminium yang lebih aktif daripada perak akan mengendapkan perak dan seolah-
olah melapis bendanya.

3 Ag+ (aq) + Al (s)  3 Ag (s) + Al3+ (aq)

Cermin perak dapat dibuat dengan cara mengendapkan lapisan perak yang tipis
pada gelas. Ini dapat dikerjakan dengan cara mereduksi larutan perak nitrat dalam
amonia dengan reduktor yang lemah, misalnya glukosa atau formaldehida.

[Ag(NH3)2]+ (aq) + e (dari reduktor)  Ag (s) + 2 NH3 (aq)

Lapisan perak tipis pada gelas kemudian dicuci dan dikeringkan lalu dipulas.

3.4.5 Senyawa-senyawa Perak


Tingkat oksidasi perak yang penting adalah +1. Senyawa perak dengan
tingkat oksidasi +2 dan +3 juga dikenal, seperti pada senyawa AgF 2 dan senyawa
K+(AgF4)−. Senyawa yang mengandung perak(II) dan perak(III) mempunyai daya
untuk mengoksidasi. Dalam larutan, senyawa perak(II), Ag 2+ tidak stabil dan
cenderung menjadi perak(I), yang dapat ditunjukkan oleh harga potensial reduksi
standar sebagai berikut:

Ag2+ (aq) + e  Ag+ (aq) Eo = + 1,98 Volt


Ag+ (aq) + e  Ag (s) Eo = + 0,80 Volt
atau: Ag2+ (aq) + Ag (s)  2 Ag+ (aq) Eo = + 1,18 Volt

Semi QUE V 2004 11


3.4.5.1 Perak Oksida, Ag2O
Penambahan NaOH ke dalam larutan garam perak akan menghasilkan
endapan coklat dari perak oksida, karena perak hidroksida yang mula-mula ter-
bentuk terurai menjadi perak oksida dan air.

2 Ag+ (aq) + 2 OH− (aq)  2 AgOH (s)


2 AgOH (s)  Ag2O (s) + H2O (l)

Perak oksida dapat mengubah lakmus merah basah menjadi biru, karena dengan
adanya air senyawa perak oksida akan dapat menghasilkan sedikit ion OH−.
Dalam kimia organik perak oksida dipakai untuk mengubah alkil halida menjadi
alkohol.

2 RI + Ag2O + H2O  2 ROH + 2 AgI

Jika digunakan perak oksida kering akan dihasilkan eter.

2 RI + Ag2O  ROR + 2 AgI

Perak oksida dapat segera larut dalam amonia menghasilkan ion kompleks perak
diamin dengan persamaan reaksi sebagai berikut.

Ag2O (s) + H2O (l) + NH3 (g)  2 [Ag(NH3)2]+ (aq) + 2 OH− (aq)

Ion kompleks ini dengan segera dapat direduksi oleh aldehida atau oleh gula pere-
duksi seperti glukosa. Reaksi ini dapat digunakan untuk uji golongan aldehida.
Jika perak oksida dipanaskan, dapat terurai menghasilkan perak dan oksigen.

Ag2O (s)  4 Ag (s) + O2 (g)

3.4.5.2 Perak Sulfida, Ag2S


Logam perak jika dibiarkan di udara terbuka akan menjadi hitam karena
terbentuk lapisan senyawa perak sulfida. Perak sulfida dapat diperoleh juga jika
larutan garam perak dialiri gas hidrogen sulfida.

2 Ag+ (aq) + H2S (g)  Ag2S (s) + 2 H+ (aq)

Endapan senyawa perak sulfida akan diperoleh juga walaupun konsentrasi ion
perak sangat kecil, misalnya dalam larutan senyawa kompleks perak yang stabil.

Semi QUE V 2004 12


3.4.5.3 Perak Halida, AgX
Perak fluorida merupakan zat padat putih yang dapat larut dalam air dan
bersifat ionik. Perak halida yang lain tidak larut dalam air dan kelarutannya dapat
digambarkan sebagai berikut:

AgCl > AgBr > AgI

Perak halida mempunyai struktur kovalen dan sifat kovalennya semakin bertam-
bah dengan bertambahnya nomor atom. Perak halida dapat diperoleh sebagai
endapan bila larutan garam perak dicampur dengan ion halida.

Ag+ (aq) + Cl− (aq)  AgCl (endapan putih)


Ag+ (aq) + Br− (aq)  AgBr (endapan kuning muda)
Ag+ (aq) + I− (aq)  AgI (endapan kuning)

AgCl dapat larut dalam larutan amonia, AgBr dapat larut dalam amonia pekat,
sedangkan AgI tidak larut dalam amonia. Perak klorida, perak bromida, dan perak
iodida sensitif terhadap cahaya dan terurai perlahan membentuk deposit hitam dari
perak, misalnya:

2 AgBr (s)  Ag (s) + Br2 (g)


(hitam)
Reaksi ini terjadi pada proses fotografi.

3.4.5.4 Perak Nitrat, AgNO3


Perak nitrat merupakan senyawa perak yang sangat penting. Dalam indus-
tri dibuat dengan cara mereaksikan asam nitrat dengan perak. Senyawa ini sangat
larut dalam air membentuk larutan yang tidak berwarna yang mengandung ion
perak(I), Ag+. Perak nitrat padat juga tidak berwarna dan dapat segera terurai pada
pemanasan menjadi perak, oksigen, dan nitrogen dioksida.

2 AgNO3 (s)  2 Ag (s) + 2 NO2 (g) + O2 (g)

Larutan perak nitrat amoniakal mengandung ion kompleks [Ag(NH 3)2]+ dan la-
rutan ini dapat bereaksi dengan etuna membentuk endapan perak karbida, Ag 2C2,
yang dapat meledak jika kering dan kena benturan.

C2H2 + 2 [Ag(NH3)2]+ (aq)  Ag2C2 + 2 NH4+ (aq) + 2 NH3 (g)

Semi QUE V 2004 13


Asam nitrat encer dengan perak karbida dapat menghasilkan etuna yang murni.
Reaksi ini dapat digunakan untuk memurnikan etuna, misalnya untuk memisahkan
senyawa alkuna dari senyawa alkena.
Perak nitrat digunakan dalam industri untuk membuat senyawa-senyawa
perak yang lain, terutama perak halida yang digunakan dalam proses fotografi.
Dalam laboratorium, larutan perak nitrat standar digunakan untuk analisis volu-
metri dari klorida, bromida, atau iodida. dalam suasana netral.

3.4.5.5 Perak Sulfat, AgSO4


Senyawa perak sulfat dapat diperoleh sebagai endapan yang berwarna
putih jika larutan garam sulfat ditambahkan dalam larutan perak nitrat pekat.

2 Ag+ (aq) + SO42− (aq)  Ag2SO4 (s)

Senyawa ini kurang penting.

3.4.5.6 Perak Karbonat, Ag2CO3


Senyawa ini dapat diperoleh sebagai endapan kuning pucat jika larutan
senyawa karbonat logam alkali ditambahkan dalam larutan yang mengandung ion
perak(I).

2 Ag+ (aq) + CO32− (aq)  Ag2CO3 (s)

Seperti garam perak yang lain, senyawa ini juga sensitif terhadap cahaya dan se-
gera berubah menjadi gelap karena terbentuk perak. Perak karbonat padat mudah
terurai jika dipanaskan.

2 Ag2CO3 (s)  4 Ag (s) + 2 CO2 (g) + O2 (g)

3.4.5.7 Senyawa Kompleks yang Mengandung Perak(I)


Senyawa kompleks yang mengandung ion perak(I) adalah: [Ag(NH3)2]+,
[Ag(S2O3)2]3−, [Ag(CN)2]−. Senyawa kompleks tiosulfat penting pada proses
fotografi. Kompleks sianida, dipakai pada saat pembuatan perak. Kestabilan keti-
ga senyawa kompleks itu dapat digambarkan sebagai berikut:

[Ag(CN)2]− > [Ag(S2O3)]3− > [Ag(NH3)2]+

Semi QUE V 2004 14


3.4.5.8 Proses pemotretan:
Film dibuat dari sellulosa asetat yang dilapisi jelatin yang mengandung
campuran larutan perak nitrat murni, kalium bromida, dan kalium iodida. Perban-
dingan banyaknya bromida dan iodida serta besarnya butir-butir perak halida ini
menentukan kepekaan atau kecepatan film. Bila bayang-bayang dari sebuah benda
jatuh pada film, kristal-kristal perak halida diaktifkan oleh cahaya yang berasal
dari benda. Perak halida yang telah diaktifkan atau telah kena cahaya ternyata
lebih mudah direduksi daripada yang belum kena cahaya. Makin kuat cahaya yang
mengenainya, makin mudah pula perak halida direduksi. Film yang telah dipakai
ini kemudian dicelupkan ke dalam larutan basa atau senyawa organik yang dapat
mereduksi, misalnya hidrokinon atau pirogalol. Reduktor ini mereduksi perak
halida pada film dengan kecepatan yang sesuai dengan keaktifan halidanya.

AgX + e (dari reduktor)  Ag + X

Jadi pada tempat-tempat yang telah kena cahaya kuat terdapat banyak endapan
perak. Kemudian film dicuci dengan larutan natrium tiosulfat (hipo) untuk mela-
rutkan perak halida yang tidak direduksi, yaitu yang tidak kena cahaya.

AgX (s) + 2 S2O 32- (aq) [Ag(S2O 3)2]3- (aq) + X-

Setelah perak halida hilang tercuci, yang tinggal hanya endapan perak, yang
merupakan gambar dari bayang-bayang benda tadi. Tempat-tempat yang pada
aslinya terang, pada film ini justru hitam, maka film ini disebut "negatif". Proses
membuat afdruknya sebetulnya sama dengan membuat negatif, hanya sekarang
pada kertas afdruk yang peka dipancarkan cahaya yang menembus negatif.
Tempat-tempat yang .agak hitam pada negatifnya akan menahan banyak cahaya,
sehingga kertas afdruknya hanya menerima cahaya sedikit dan setelah dicuci,
tempat ini akan terang, jadi sesuai dengan aslinya.

3.5 Emas
Emas hampir selalu didapatkan sebagai logam bebas. Sering pula bersama-
sama dengan perak dan tembaga. Emas ditemukan juga dalam jumlah yang berarti
pada ekstraksi timbal dari bijihnya dan pada pemurnian tembaga.

Semi QUE V 2004 15


Salah satu metoda yang digunakan untuk memperoleh emas adalah sebagai
berikut: Ke dalam suspensi bijih yang mengandung natrium sianida, dialiri udara
sehingga terbentuk senyawa kompleks dari [Au(CN)2]─. Senyawa kompleks ini
jika direaksikan dengan logam seng akan diperoleh logam emasnya.

4 Au (s) + 8 CN− (aq) + O2 (g) + 2 H2O (l)  4 [Au(CN)2]─ (aq) + 4 OH− (aq)
2 [Au(CN)2]─ (aq) + Zn (s)  2 Au (s) + [Zn(CN)4]2− (aq)

Campuran antara emas dan perak akan didapat melalui metoda ini dan dapat di-
pisahkan dengan cara elektrolisis.

3.5.1 Sifat-sifat dan Pemakaian Emas


Emas mempunyai titik leleh 1063oC dan berat jenisnya 19,3 g.cm−3.
Logam emas mudah ditempa dan diregang, misalnya emas dapat dibuat menjadi
lempengan tipis setebal sampai 0,00001 mm dan dapat dibuat kawat dengan garis
tengah yang sangat kecil. Emas merupakan konduktor panas dan listrik yang
sangat baik. Logam emas tidak reaktif, tidak dapat bereaksi dengan udara, air atau
uap air, dan asam-asam mineral, tetapi logam ini dapat bereaksi dengan aqua regia
(campuran asam nitrat pekat dan asam klorida pekat), membentuk ion kompleks
[Au(Cl)4]─ yang mengandung emas(III).

Au (s) + 6 HNO3 (aq) Au3+ (aq) + 3 NO3- (aq) + 3 H2O (l) + 3 NO2 (g)
+
4 Cl- (aq)
(dari HCl pekat)

[Au(Cl)4]- (aq)

atau:
2 Au (s) + 2 HNO3 (aq) + 8 HCl (aq)  2 HAuCl4 (aq) + 2 NO (g) + 4 H2O (l)

Kemurnian emas diukur dengan karat. Emas murni itu 24 karat. Emas 22 karat
terdiri atas 91,66 % logam emas.

Semi QUE V 2004 16


3.5.2 Senyawa-senyawa Emas
Emas menunjukkan tingkat oksidasi +1 dan +3, tetapi senyawa-senyawa-
nya tidak stabil jika dipanaskan dan menghasilkan logam bebasnya. Reaksi emas
dengan fluor dan klor pada temperatur sedang menghasilkan emas halida.

2 Au (s) + 3 X2 (g)  2 AuX3 (s)

Halida ini dapat terhidrolisis oleh air menghasilkan emas (III) oksida terhidrat,
Au2O3. x H2O. Oksida ini dapat larut dalam asam klorida menghasilkan emas(III)
klorida dan kemudian membentuk ion kompleks [Au(Cl)4]─. Oksida ini juga larut
dalam larutan alkali menghasilkan senyawa [Au(OH)4]─.

Au2O3 (s) + 6 HCl (aq)  2 AuCl3 (aq) + 3 H2O (l)

AuCl3 (aq) + Cl− (aq)  [Au(Cl)4]─ (aq)

Au2O3 (s) + 3 H2O (l) + 2 OH− (aq)  2 [Au(OH)4]─ (aq)

Semi QUE V 2004 17