Anda di halaman 1dari 2

Kekuatan doa sang Ayah

Seorang tukang tagih utang masuk ke sebuah rumah. Di dalam rumah itu ada seorang
bapak yang sudah cukup tua usianya. Tanpa mengucapkan salam, tukang tagih hutang
langsung menerobos mendekati orang tua yang sedang duduk di kursi. Bapak tua itu
dipegang kerah bajunya, dan dikatakan kepadanya : “Bapak, mana janjimu mau membayar
hutang ? Aku sudah cukup sabar lebih dari yang semestinya, kini kesabaranku sudah habis.
Apa yang pantas aku lakukan untuk kamu ?”

Masuklah seorang anak laki-laki yang baru saja pulang dari kerja. Anak itu melihat
apa yang diperlakukan oleh tukang tagih hutang kepada ayahnya, lalu berkata: “Berapa
hutang ayahku kepada kamu?” Laki-laki itu menjawab : “Ayahmu telah berhutang lebih dari
40 juta rupiah.”

Anak itu berkata: “Lepaskan ayahku dan duduklah, aku yang akan membayar hutang
ayahku.” Kemudian anak itu masuk kedalam rumah dan mengambil uang yang jumlahnya
hanya ada 25 juta rupiah, yang dikumpulkan dari hasil kerjanya. Padahal uang itu sedianya
akan digunakan untuk acara pernikahan dirinya. Tidak lama anak itu keluar dan menyerahkan
uang kepada laki-laki yang ada dihadapannya. “Ini baru ada 25 juta rupiah untuk membayar
hutang ayah saya, sisanya saya akan penuhi dalam waktu dekat.”

Sang ayah hanya bisa menangis. Dia meminta kepada tukang tagih hutang itu untuk
mengembalikan uang anaknya yang tidak tahu apa-apa dan tidak punya dosa apa-apa. Tetapi
tukang tagih hutang itu menolak untuk mengembalikan uang tersebut. Sebelum
meninggalkan rumah, tukang tagih hutang berpesan kepada anak muda itu agar menjaga
ayahnya dengan baik, karena lain hari akan datang kembali menagih sisanya.

Pemuda itu mendekat kepada ayahnya, mencium wajahnya dan berkata: “Ayah, nilai
ayah bagi saya jauh lebih besar daripada sejumlah uang dan semua yang dicipta Allah. Jika
Allah memanjangkan umur kita dan memberikan kesehatan, saya akan melunasi hutang
ayah, saya tidak sanggup melihat ayah diperlakukan seperti tadi, saya tidak ingin melihat air
mata ayah menetes membasahi janggut.” Saat itulah ayah memeluk anaknya, menciumnya
dan berkata: “Semoga Allah meridhai kamu nak,semoga Allah menolong kamu dan semoga
Allah menyampaikan cita-cita kamu.”

Pada hari berikutnya, ketika sang anak sedang serius bekerja, datanglah salah seorang
temannya yang sudah lama berpisah. Dia adalah teman dekatnya yang sudah diserahi orang
tuanya untuk mengurus perusahaannya. Terjadilah pembicaraan yang hangat, saling tertawa
dan mengingat masa-masa lalu saat masih belajar bersama. Kemudian sang teman ini berkata:
“Saudaraku,kemarin aku mengadakan rapat dengan para senior, mereka meminta kepada
saya untuk mencari seorang pimpinan yang ikhlas, bisa dipercaya dan mempunyai akhlak
mulia, yang mempunyai visi dan kemampuan untuk meraih keberhasilan, dan saya sampai
sekarang belum menemukannya. Saya tahu, orang yang mempunyai sifat-sifat seperti
tersebut tidak lain kecuali kamu. Bagaimana pendapat kamu kalau saya memilih kamu untuk
menerima pekerjaan ini? Segera kamu mengundurkan diri dan sore ini kita ke kantor.”

Anak itu langsung mengucapkan takbir, lalu berkata kepada temannya: “Inilah doa
ayah saya yang langsung dikabulkan Allah.” Dia bersyukur kepada Allah, karena telah
memberi jalan untuk membuat senang orang tuanya. Segera sore itu dipertemukan dengan
para senior. Berkatalah temannya dalam pertemuan itu: “Inilah orang yang saya cari sudah
saya dapatkan. Silakan untuk ditanya !”

Mereka semua merasa senang bisa menemukan sorang anak muda yang sesuai dengan
kualifikasi yang ditentukan. Sesudah itu sang teman bertanya: “Saudaraku, berapa gaji yang
Saudara terima di tempat kerja dulu ?” Anak itu menjawab: “5 juta rupiah.” Temannya
langsung berkata: “Saudaraku akan diberi gaji 15 juta perbulan, ditambah bonus 10 persen,
ada fasilitas mobil, dan ada uang pengganti rumah dinas sebesar 3 kali gaji bulanan.”

Saat itulah sang anak menangis sejadi-jadinya dan mengucapkan kalimat:


“Ayah, jangan bersedih ayah, bergembiralah ayah !” Temannya bingung tidak tahu apa
maksudnya, lalu menanyakan sebabnya. Maka berceritalah anak itu tentang apa yang dialami
oleh ayahnya. Dan benar, belum dua hari sang anak sudah mendapatkan uang pengganti
rumah dinas. Maka ketika tukang tagih hutang itu datang, hutang ayahnya segera terlunasi.
Terbebaslah sang ayah dari kegelisahan yang selama ini dipendam. Yaitu kegelisahan karena
meminjam uang demi membahagiakan anak-anaknya.