Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-ISSN: 2548-964X

Vol. 1, No. 9, Juni 2017, hlm. 893-903 http://j-ptiik.ub.ac.id


Pemodelan Sistem Pakar Diagnosis Penyakit pada Sistem Endokrin
Manusia dengan Metode Dempster-Shafer
Didin Wahyu Utomo1, Suprapto2, Nurul Hidayat3
Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
E-mail: 1didinwu@gmail.com, 2spttif@ub.ac.id, 3ntayadih@ub.ac.id

Abstrak
Sistem endokrin merupakan sistem kelenjar yang bekerja pada tubuh manusia yang hasil sekresinya
disebut hormon. Hormon adalah zat kimia yang dibawa dalam aliran darah ke jaringan dan organ
kemudian merangsang hormon untuk melakukan tindakan tertentu. Cara kerja hormon yaitu langsung
ke dalam darah tanpa melalui duktus atau saluran. Penyakit kelenjar endokrin sangat berbahaya dan
bahkan bisa berujung kematian apabila tidak segera ditangani. Pada sistem BPJS yang digunakan oleh
pemerintah, dokter umum dijadikan sebagai gerbang utama dalam diagnosis penyakit ataupun
menentukan apakah harus dirujuk ke dokter spesialis. Dalam kasus penderita penyakit endokrin, sangat
berbahaya apabila tidak ditangani sejak dini, sedangkan proses rujukan ke dokter spesialis atau rumah
sakit membutuhkan waktu yang panjang dikarenakan pasien yang datang terlalu banyak. Pembuatan
pemodelan sistem ini merupakan salah satu cara yang dilakukan yang bertujuan untuk memberi
pertolongan dini bagi penderita penyakit endokrin. Aplikasi ini dikembangkan dengan menggunakan
bahasa pemrograman PHP menggunakan framework CodeIgniter dan database MySQL. Proses
perhitungan dalam diagnosis penyakit menggunakan metode Dempster-Shafer. pengujian dilakukan
dengan cara membandingkan kesesuaian hasil antara diagnosis sistem dan hasil diagnosis pakar.
berdasarkan 35 data yang diuji, didapatkan tingkat akurasi pengujian sebesar 91.428% yang
menunjukkan bahwa pemodelan sistem pakar diagnosis penyakit endokrin dengan metode dempster-
shafer dapat berfungsi dengan baik.

Kata kunci: Endokrin, Hormon, Dempster-Shafer

Abstract
The endocrine system is a gland system that acts on the human body whose secretedness called as
hormones. Hormones are chemicals which carried within the bloodstream to tissues and organs and
then stimulate hormones to perform certain actions. Hormones work directly into the blood without
going through the ductus. Endocrine disease is very dangerous and can even lead to death if it were
not treated immediately. In the BPJS system that implemented by the Indonesian government, general
practitioners serve as the main gateway in diagnosing the disease or determining whether to be referred
to a specialist. In the case of endocrine disease patients, it is very dangerous if not treated early,
whereas referral process to a specialist or hospital takes a long time due to many patients who come.
The purpose of this modelling system is one way done that aims to provide early help for patients with
endocrine diseases. This application is developed by using PHP programming language using
CodeIgniter framework and MySQL database. The process of calculating the diagnosis of disease using
the Dempster-Shafer method. Testing is done by comparing the conformity of results between the
diagnosis of the system and the results of expert diagnosis. Based on 35 tested data, obtained 91.428%
test accuracy level indicating that modeling expert system diagnosis of endocrine disease with
dempster-shafer method can well functioned.

Keywords: Endocrine, Hormones, Dempster-Shafer

1. PENDAHULUAN tersebut adalah hormon. Hormon adalah zat


kimia yang dibawa dalam aliran darah ke
Sistem endokrin adalah sistem kelenjar jaringan dan organ kemudian merangsang
yang bekerja pada tubuh manusia yang hasil hormon untuk melakukan tindakan tertentu.
sekresinya langsung ke dalam darah tanpa Sistem endokrin sangat berpengaruh pada
melewati duktus atau saluran dan dari sekresi banyak proses kehidupan yang melibatkan

Fakultas Ilmu Komputer


Universitas Brawijaya 893
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 894

reproduksi, pertumbuhan, kekebalan tubuh, dan seperti seorang pakar (Dahria, 2011). Sehingga
menjaga keseimbangan fungsi internal tubuh. sistem pakar ini bisa dijadikan salah satu solusi
Kelenjar dari sistem endokrin meliputi tepat untuk diagnosis penyakit pada sistem
hipofisis, pineal, tiroid, paratiroid, timus, endokrin.
pankreas, adrenal, dan ovarium atau testis. Dalam dunia kedokteran, diagnosis medis
Meskipun berperan sangat penting dalam haruslah tepat dan mempunyai tingkat akurasi
tubuh, ada banyak gangguan kelenjar endokrin yang tinggi. Pada penelitian sebelumnya yang
yang belum diketahui. Salah satu gangguan berkaitan dengan diagnosis penyakit sudah ada
pada kelenjar endokrin adalah Diabetes penelitian dengan judul “Pemodelan Sistem
Melitus. Dari data yang diperoleh Riskesdas, Pakar Diagnosa Penyakit Malaria dengan
menunjukkan peningkatan jumlah prevalensi Metode Dempster-Shafer” menghasilkan hasil
Diabetes di Indonesia dari 5,7% pada tahun uji dengan tingkat akurasi dari sistem pakar
2007 menjadi 6,9% pada tahun 2013. Menurut mencapai 90% (Digdaya, 2016). Hal ini
Data International Diabetes Federation tahun membuktikan bahwa tingkat akurasi yang
2015, jumlah penderita Diabetes di Indonesia dihasilkan sangat bagus sehingga teori
diperkirakan sebesar 10 juta jiwa. Di Indonesia Dempster Shafer akan digunakan pada
sendiri, menurut Data Sample Registration penelitian ini dan diharapkan mendapatkan
Survey tahun 2014 telah menunjukkan bahwa hasil yang optimal.
Diabetes merupakan penyebab kematian nomor Berdasarkan latar belakang dan penelitian
3 di Indonesia (Kementerian Kesehatan sebelumnya, penulis mengusulkan judul
Republik Indonesia, 2016). Selain Diabetes, “Pemodelan Sistem Pakar Diagnosis Penyakit
penyakit tiroid menempati urutan ke-2 daftar pada Sistem Endokrin Manusia dengan Metode
penyakit endokrin yakni sekitar 10%-20% Dempster-Shafer”. Penelitian ini akan
(Arisandi, 2016). memberikan fasilitas informasi tentang
Dengan adanya program kartu Badan diagnosis penyakit pada kelenjar endokrin
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dari berdasarkan gejala-gejala yang ada. Dengan
pemerintah, dokter umum dijadikan pintu adanya penelitian ini, dokter umum ataupun
utama untuk diagnosis penyakit ataupun tenaga medis diharapkan mampu
menentukan apakah harus dirujuk ke dokter mempermudah proses diagnosis dan mengatasi
spesialis. Dalam kasus penderita penyakit berbagai jenis penyakit yang ada pada sistem
endokrin sangat berbahaya apabila tidak endokrin manusia.
ditangani sejak dini sedangkan proses rujukan
ke dokter spesialis atau rumah sakit 2. LANDASAN KEPUSTAKAAN
membutuhkan waktu yang tidak sedikit karena
pasien yang datang terlalu banyak. Salah satu 2.1. Metode Dempster-Shafer
solusi untuk memberikan penanganan dini Teori Dempster Shafer merupakan
sebelum ditangani dokter spesialis adalah teori matematika untuk melakukan pembuktian
dengan menggunakan kecerdasan buatan. berdasarkan fungsi kepercayaan (Belief
Kecerdasan buatan adalah salah satu cabang functions) dan pemikiran yang masuk akal
ilmu komputer yang membuat komputer dapat (Plausible reasoning). Belief dan Plausibility
meniru cara berfikir manusia sehingga ini digunakan untuk mengkombinasikan
diharapkan komputer dapat melakukan potongan informasi yang terpisah (evidence)
penyelesaian masalah seperti manusia untuk menghitung tingkat kemungkinan dari
(Kusumadewi, 2003). Salah satu cabang dari suatu peristiwa. Teori ini dikembangkan oleh
kecerdasan buatan adalah sistem pakar. Cara Arthur P. Dempster dan Glenn Shafer. Secara
kerja sistem pakar adalah dengan mempelajari umum Teori Dempster-Shafer ditulis dalam
bagaimana meniru cara berpikir seorang pakar suatu interval (Kusumadewi, 2003):
dalam menyelesaikan suatu permasalahan, [Belief, Plausibility]
membuat keputusan maupun mengambil
 Belief (Bel) atau nilai kepercayaan
kesimpulan dari beberapa fakta. Kajian utama adalah ukuran kekuatan dari suatu
dalam sistem pakar adalah bagaimana suatu evidence (bukti) dalam mendukung
komputer bisa bekerja seperti seorang pakar
suatu himpunan proposisi. Jika bernilai
seperti melihat beberapa fakta, menganalisis,
0 maka menunjukkan bahwa tidak ada
dan membuat suatu keputusan atau kesimpulan

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 895

evidence, dan jika bernilai 1 maka tiap-tiap elemen. Untuk itu diperlukan adanya
mengindikasikan adanya kepastian. probabilitas fungsi densitas (m). Nilai m tidak
 Plausibility (Pl) akan mengurangi hanya mendefinisikan elemen θ saja, namun
tingkat kepastian dari evidence. juga dengan semua subset-nya. Sehingga jika θ
Plausibility juga bernilai 0 sampai 1. berisi n elemen maka subset dari θ adalah 2n.
Nilai Plausibility juga dinotasikan Jumlah seluruh nilai m dalam subset θ sama
sebagai Pl(X) = 1-Bel(-x). Dimana jika dengan 1. Dan apabila tidak ada informasi
yakin akan X maka dapat dikatakan apapun untuk memilih hipotesis maka nilai dari
bahwa nilai Bel(X)=1, sehingga nilai m adalah seperti pada Persamaan (4).
dari Pl(X)=0.
Menurut Giarratano dan Riley dalam 𝑚{𝜃} = 1, 0 (4)
(Prijodiprojo & Wahyuni, 2013) fungsi Belief
dapat diformulasikan seperti pada Persamaan Apabila diketahui X merupakan subset dari
(1). θ dengan m1 sebagai fungsi densitasnya dan Y
𝐵𝑒𝑙(𝑋) = ∑𝑌⊆𝑋 𝑚(𝑌) (1) juga merupakan subset dari θ dengan m2
sebagai fungsi densitasnya maka dapat dibuat
Sementara untuk Plausibility dinotasikan sebuah fungsi kombinasi dari m1 dan m2 yang
pada Persamaan (2). akan menghasilkan fungsi kombinasi baru yaitu
m3 seperti pada Persamaan (5).
𝑃𝑙𝑠(𝑋) = 1 − ∑𝑌⊆𝑋 𝑚(𝑌) (2)
∑𝑥⋂𝑦=𝑧 𝑚1 (𝑋).𝑚2 (𝑌)
𝑚3 (𝑧) = (5)
Dimana: 1−∑𝑥⋂𝑦=∅ 𝑚1 (𝑋).𝑚2 (𝑌)
Bel (X) = Belief (X)
Pls (X) = Plausibility Dimana
m(X) = Mass function dari (X) m1(X) = ukuran kepercayaan evidence X
m(Y) = Mass function dari (Y) m2(Y) = ukuran kepercayaan evidence Y
Pada teorema Dempster-Shafer terdapat m3(Z) = ukuran kepercayaan evidence Z
frame of discernment yang dinotasikan dengan
θ. Frame of discernment ini adalah semesta 2.2. Sistem Endokrin
pembicaraan dari sekumpulan hipotesis atau Sistem Endokrin adalah sistem yang terdiri
bisa disebut juga dengan environment yang dari kelenjar endokrin buntu atau tanpa saluran
dapat dilihat pada Persamaan (3). yang tersebar pada bagian tubuh (Sherwood,
2010). Kelenjar endokrin ini melaksanakan
𝜃 = 𝜃1, 𝜃2, … , 𝜃𝑁 (3) fungisnya dari dalam tubuh dengan cara
memproduksi hormon yang hasil sekresinya
Dimana : langsung ke dalam darah tanpa melalui saluran.
θ = Frame of discernment atau environment Sementara hormon merupakan zat kimia hasil
θ1, θ2, ... , θN = element/unsur bagian dalam dari sekresi oleh suatu sel yang mempengaruhi
environment sel lainya. Hormon hasil sekresi dari kelenjar
Environment terdiri dari elemen-elemen endokrin ini pada umumnya berfungsi sebagai
yang menggambarkan kemungkinan sebagai homeostasis atau menyeimbangkan fungsi dari
jawaban, dan hanya ada satu saja yang sesuai dalam tubuh. Banyak sekali yang dipengaruhi
dengan jawaban yang dibutuhkan. oleh hormon hasil sekresi dari kelenjar
Kemungkinan ini dalam teori Dempster-Shafer endokrin , antara lain adalah pertumbuhan dan
disebut dengan power-set dan dinotasikan perkembangan, reproduksi, fungsi seksual,
dengan P, setiap elemen dalam power-set ini mood, ketahanan tubuh, pernafasan, suhu
memiliki interval nilai antara 0 sampai 1. tubuh, detak jantung dan metabolisme.
Mass function(m) dalam teori Dempster- Peran dari kelenjar endokrin sangatlah vital,
Shafer merupakan tingkat kepercayaan dari sehingga apabila terserang suatu penyakit akan
evidence, sering disebut juga dengan evidence sangat berbahaya bagi kehidupan, dan pada
measure sehingga dinotasikan dengan (m). Hal sub-bab selanjutnya akan dibahas tentang
ini bertujuan untuk mengaitkan tingkat ukuran bagian-bagian kelenjar endokrin dan juga
kepercayaan dari elemen-elemen θ. Tidak penyakit pada kelenjar endokrin.
semua evidence secara langsung mendukung

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 896

2.2.1 Penyakit pada kelenjar endokrin dimana perkembangan fisik dan mental pada
1. Diabetes Mellitus masa anak-anak menjadi terhambat. kretinisme
Diabetes mellitus merupakan gangguan pada anak ini dapat ditandai dengan tubuhnya
metabolisme tubuh dengan naiknya gula darah yang kecil, bentuk kepala yang agak menonjol,
(hiperglikemia) karena kekurangan hormon tangan dan kaki pendek, dimana gejala-
insulin. Yang mungkin juga terjadi karena gejalanya mirip dengan dwarfisme. Pada orang
hormon insulin tidak bekerja dengan dewasa, gejala yang terlihat adalah wajah yang
semestinya (Gardner & Shoback, 2011). terlihat sembab, dan juga rambut yang rontok
Diabetes mellitus sendiri dibagi menjadi dua, ketika menderita hipotiroid.
yakni karena gangguan autoimun karena
kelenjar pankreas tidak dapat mensekresi 4. Hipertiroid
hormon insulin yang biasa disebut dengan Hipertiroid merupakan kebalikan dari
diabetes tipe 1. Sementara diabetes tipe 2 terjadi Hipotiroid dimana apabila hipotiroid
karena tubuh seseorang tidak menerima insulin disebabkan kurangnya hasil sekresi hormon
dalam jumlah yang cukup sehingga fungsinya pada kelenjar tiroid, maka hipertiroid adalah
tidak optimal yang menjadikan tubuh kurang terlalu banyaknya hormon tiroid yang
peka terhadap insulin (terjadi resistensi dihasilkan. Pada kebanyakan kasus yang terjadi
insulin). Dari dua tipe penyakit diabetes hipertiroid.penyebab utamanya adalah penyakit
mellitus diatas, yang sering terjadi adalah graves. Penyakit graves sendiri merupakan
diabetes tipe 2 yang awal mulanya disebabkan penyakit auto-imun dimana tubuh
karena pola hidup yang kurang sehat. memproduksi TSI (thyroid stimulating
immunoglobulin) juga dikenal sebagai LATS
2. Diabetes Insipidus (long-acting thyroid stimulator), yang
Diabetes Insipidus merupakan suatu merupakan antibodi yang menuju reseptor TSH
gangguan penyakit yang disebabkan oleh (thyroid stimulating hormon) pada sel tiroid
gangguan tingkat sirkulasi pada hormon ADH (Sherwood, 2010).
(anti-diuretic hormone) yang berfungsi untuk
mengatur cairan dalam tubuh (Gardner & 5. Penyakit Addison
Shoback, 2011). Hormon ADH ini adalah Penyakit Addison merupakan penyakit yang
hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis terdapat pada kelenjar adrenal. Hal ini karena
posterior. korteks adrenal menghasilkan hormon yang
Penyebab utama terjadinya diabetes terlalu sedikit dari seharusnya. Penyebab utama
inspidus ini adalah produksi hormon ADH pada penyakit addison ini merupakan kelainan
berkurang atau ketika ginjal kurang merespon autoimun dimana terjadi kesalahan pada
terhadap hormon ADH yang ada dan berakibat produksi hormon aldosteron dan kortisol yang
ginjal mengeluarkan terlalu banyak cairan dan dihasilkan oleh kelenjar adrenal menjadi terlalu
urin yang dihasilkan menjadi tidak pekat. sedikit. Selain hal tersebut penyebab lain dari
penyakit addison ini berasal dari kondisi
3. Hipotiroid kelenjar pituitari yang kurang memproduksi
Hipotiroid adalah penyakit yang terjadi hormon adrenokortikotropik (ACTH), dimana
karena kurangnya hormon tiroksin yang yang berakibat pada kurangnya hormon kortisol
diproduksi dari kelenjar tiroid (Sherwood, saja, karena sekresi hormon aldosteron ini tidak
2010). Hipotiroid menyebabkan beberapa bergantung pada ACTH.
kelainan pada tubuh karena hormon dari
kelenjar tiroid ini bertugas mengatur 6. Sindrom Cushing
metabolisme dalam tubuh. Apabila terjadi Sindrom Cushing merupakan penyakit
kekurangan hormon, maka fungsi metabolisme karena sekresi yang berlebih dari hormon
tubuh tidak berjalan sebagaimana mestinya. kortisol. Penyebab sindrom Cushing ini ada
Akibat dari hipotiroid ini seperti berat badan tiga, yang pertama adalah karena rangsangan
meningkat tanpa alasan yang jelas, sangat yang terlalu berlebih dari korteks adrenal
mudah lelah, kurangnya kesadaran diri (merasa dengan jumlah hormon CRH dan/atau ACTH
bingung) dan mudah lupa. yang berlebih. Kedua yaitu karena terdapat
Jika hipotiroid ini terjadi karena penyakit tumor pada kelenjar adrenal yang
bawaan lahir, maka akan terjadi kretinisme, mengakibatkan kesulitan dalam mensekresi

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 897

hormon kortisol ACTH. Yang terakhir adalah pada penelitian sebelumnya teori ini
karena terdapat tumor yang mensekresi hormon menghasilkan persentase keakuratan yang
ACTH selain dari kelenjar pituitari, yang tinggi ketika dicocokan dengan kemampuan
biasanya terdapat pada paru-paru. diagnosis pakar.
Selain ketiga faktor diatas, konsumsi obat Alur perhitungan Dempster-Shaffer dimulai
yang mengandung kortikosteroid juga bisa dari memasukkan gejala dari penyakit. Gejala
memicu sindrom cushing ini. Sindrom Cushing sudah mempunyai nilai believe atau bobot yang
ini dapat diketahui dengan mudah apabila didapat dari pakar. Setelah mendapatkan nilai
seorang pasien memang mengonsumsi obat believe dari gejala, selanjutnya adalah
yang mengandung kortikosteroid sejak lama. menghitung nilai plausibility. Nilai plausibility
Gejala seperti membulatnya wajah, munculnya ini digunakan untuk proses perhitungan apabila
guratan-guratan pada tubuh, serta penumpukan terdapat lebih dari satu gejala yang
lemak merupakan gejala yang terlihat dari dimasukkan. Apabila masukan gejala hanya
penderita sindrom Cushing. satu saja, maka hasil keluaran adalah penyakit
dari gejala masukan dengan nilai believe dari
7. Sindrom Adrenogenital gejala.
Sekresi hormon androgen yang terlalu Apabila gejala yang dimasukkan lebih dari
berlebih menyebabkan penyakit sindrom satu, maka langkah selanjutnya adalah
adrenogenital ini. Hormon androgen yang menggunakan formula kombinasi dari
dihasilkan oleh kelenjar adrenal ini merupakan Dempster-Shaffer. Formula perhitungan
hormon yang lebih mempengaruhi pria. kombinasi Dempster-Shafer dilakukan hingga
Apabila seorang wanita menghasilkan hormon gejala yang diinputkan habis. Setelah gejala
androgen yang terlalu berlebih maka akan habis, maka nilai believe yang diambil adalah
berakibat wanita tersebut bisa mempunyai ciri- nilai terbesar. Nilai believe terbesar bisa disebut
ciri fisik seperti laki-laki. Pada pria, kelebihan juga nilai densitas. Keluaran yang dihasilkan
hormon androgen ini akan sulit dideteksi adalah penyakit yang mempunyai nilai densitas
kecuali pada pria ketika masih dalam masa terbesar.
puber dimana terjadi pembesaran suara, Untuk menghasilkan kesimpulan penyakit
pertumbuhan jenggot, dan munculnya hasrat apa yang diderita, dalam perhitungan
berhubungan. Kelebihan androgen pada pria Dempster-Shafer menggunakan gejala-gejala
dewasa bisa tidak terlalu berpengaruh karena dari penyakit yang sudah diberi nilai believe
hormon ini merupakan hormon untuk pria. (kepercayaan), dimana nilai kepercayaan
tersebut diperoleh dari pakar. Nilai-nilai
3. PERANCANGAN kepercayaan awalnya disimpan pada database
dari pemodelan sistem pakar, yang kemudian
3.1. Perancangan Perangkat Lunak apabila user melakukan diagnosis maka nilai-
Pada perancangan perangkat lunak ini nilai tersebut diproses oleh sistem untuk
terdapat empat bagian penting deskripsi dari menghasilkan kesimpulan penyakit apa yang
sistem, identifikasi aktor, analisis kebutuhan diderita. Alur dari perhitungan Dempster-
masukan, analisis kebutuhan proses, dan Shafer ditunjukkan pada Gambar 1.
analisis kebutuhan keluaran. Perancangan
perangkat lunak ini ditujukan untuk
menganalisis apa saja kebutuhan-kebutuhan
yang harus disediakan pada saat merancang
sistem pakar.

3.2. Perancangan Sistem

3.2.1 Algoritma Perhitungan Dempster-


Shaffer
Pada penelitian ini, untuk menghasilkan
diagnosis penyakit yang tepat, peneliti
menggunakan teori Dempster-Shafer yang

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 898

Mulai 1. G01 dengan nilai kepercayaan 0.3


Gejala > 1 2. G02 dengan nilai kepercayaan 0.2
3. G03 dengan nilai kepercayaan 0.5
Input Gejala
(nilai m1)
4. G07 dengan nilai kepercayaan 0.8
5. G09 dengan nilai kepercayaan 0.2
Setelah mengetahui nilai kepercayaan dari
tiap-tiap gejala yang dipilih, langkah
m(θ) = 1-m1 selanjutnya adalah menghitung nilai
kepercayaan dengan metode Dempster-Shafer
Tidak
dan langkahnya adalah sebagai berikut :
Gejala habis?
Jumlah gejala
G01 dan G02 merupakan gejala dari
=1 Tidak Ya penyakit hipotiroid (P01) jadi langkah yang
Ya
dilakukan adalah menghitung nilai m1(P01) =
Max (m)
0.3 dan m2(P01) = 0.2. setelah mengetahui nilai
believe, langkah selanjutnya adalah
Penyakit =
Penyakit adalah
nilai m dengan
menghitung nilai plausibility dengan cara 1-
m1
densitas terbesar Bel. Jadi perhitungannya adalah m1(θ) = 1-0.6
= 0.7 dan m2(θ) = 1-0.6 = 0.8. setelah diketahui
Selesai nilai m θ dari dua gejala selanjutnya
Gambar 1 Flowchart Sistem Dengan Metode menggunakan formula kombinasi Dempster-
Dempster-Shafer Shafer seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Perhitungan Dempster-Shafer gejala ke-2


3.2.2 Penerapan Teori Dempster-Shafer P01(0.2) θ (0.8)
P01(0.3) P01(0.06) P01(0.24)
Untuk proses perhitungan pada pemodelan θ (0.7) P01 (0.14) θ (0.56)
sistem pakar, teori Dempster-Shafer digunakan
untuk menentukan penyakit apa yang diderita . Dari nilai yang diperoleh pada Tabel 1 maka
pasien berdasarkan gejala-gejala yang telah nilai tersebut dijumlahkan semua menjadi :
diinputkan. Untuk cara hitung dari sistem
adalah seperti contoh kasus berikut: m3(P01) = (0.06 + 0.24 + 0.14) / (1-0) = 0.44
m3(θ) = (0.56) / (1-0) = 0.56
Pasien memilih 5 gejala yang dialami Jadi kesimpulan sementara adalah penyakit
pasien masih belum jelas dengan yaitu θ sebesar
dimana pilihan dari gejala-gejala beserta nilai
0.56. Langkah selanjutnya yaitu
kepercayaannya telah disediakan oleh sistem. mengkombinasikan gejala baru (G03) dengan
Gejala tersebut antara lain: nilai densitas yang sudah dihitung dari gejala
G01 dan G02.
1. Nafsu makan berukurang, berat badan
bertambah 1. Dua gejala sebelumnya yang
2. Tidak tahan suhu dingin/mudah merasa merupakan gejala dari P01 telah
kedinginan dikombinasikan, selanjutnya adalah
3. Lemas sepanjang hari mengkombinasikan dengan gejala baru
4. Bengkak di leher /kelenjar leher yang dipilih yaitu G03. G03 merupakan
membengkak gejala dari penyakit P01, P03 dan P05.
5. Rambut rontok parah secara tiba-tiba Diketahui nilai dari m3 dari perhitungan
Dari 5 gejala yang dialami oleh pasien sebelumnya adalah 0.56 dan nilai
tersebut, maka langkah selanjutnya adalah m4(P01,P03,P05) = 0.5. Nilai
dengan memproses perhitungan dimana tiap- Plausibility dari m3 =0.44 dan
tiap gejala tersebut sudah memiliki m4(P01,P03,P05) = 1-0.5 = 0.5.
kepercayaan. Dari 5 gejala yang dipilih, Perhitungan dengan nilai-nilai tersebut
masing-masing gejala memiliki kode tersendiri, dapat dilihat pada Tabel 2.
dan 5 gejala tersebut memiliki kode gejala dan
nilai kepercayaan sebagai berikut :

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 899

Tabel 2 Perhitungan Dempster-Shafer gejala ke-3 membuat Tabel untuk menghitung


P01,P03,P05(0.5) θ (0.5) dengan teori Dempster-Shafer dengan
P01(0.44) P01(0.22) P01(0.22) munculnya gejala baru yaitu G09.
θ (0.56) P01,P03,P05(0.28) θ (0.28) Perhitungan Dempster-Shafer dengan
munculnya G09 dapat dilihat pada
Dari Tabel 2 maka dihasilkan nilai sebagai Tabel 4.
berikut: Tabel 4 Perhitungan Dempster-Shafer gejala ke-5
P01,P02(0.4) Teta(0.5)
m5(P01) = (0.22+0.22) / (1-0) = 0.44 P01(0.664) P01(0.133) P01(0.531)
m5(P01,P03,P05) = 0.28 / (1-0) = 0.28 P01,P03,P05(0.056 P01(0.011) P01,P03,P05(0.045
m5(θ) = 0.8 / (1-0) = 0.28 ) )
Kesimpulan sementara, hasil diagnosis P01,P02(0.224) P01,P02(0.045 P01,P02(0.179)
)
terkuat masih P01 dengan nilai densitas 0.44. θ (0.056) P01,P02(0.011 θ (0.045)
)
2. Gejala nomor 4 adalah G07 yang Dari Tabel 4 menghasilkan nilai sebagai
merupakan gejala dari P01 dan P02. berikut:
Kemudian dihitung nilai m dan juga m9(P01) = (0.133 + 0.531 + 0.011) / (1-0) =
Plausibility dari G07. m5(P01) = 0.44 0.675
dan m6(P01,P02) = 0.8. Nilai m9(P01,P03,P05) = 0.045 / (1-0) = 0.045
Plausibility dari m6(P01,P02) =1- m9(P01,P02) = (0.064 + 0.08 + 0.016) / (1-0) =
0.8=0.2. Perhitungan Dempster-Shafer 0.235
dengan adanya gejala ke-4 atau G07 m9(teta) = 0.02 / (1-0) = 0.045
dapat dilihat pada Tabel 3. Kesimpulan yang dihasilkan dengan
munculnya 5 gejala yang telah dipilih oleh
Tabel 3 Perhitungan Dempster-Shafer gejala ke-4 pasien adalah P01 dengan nilai 0.675. Jadi
P01,P02(0.8) θ (0.2) pasien menderita penyakit dengan kode P01
P01(0.44) P1 (0.352) P01(0.088)
P01,P03,P05(0.28) P1(0.224) P1,P03,P05(0.056) yaitu Hipotiroid.
θ (0.28) P01,P02(0.224) θ (0.056)
3.2.3 Akuisisi Pengetahuan
Tabel 3 menghasilkan hasil sebagai berikut : Akuisisi pengetahuan dalam sistem pakar
m7(P01) = (0.352+0.224+0.088) / (1-0)= 0.664 merupakan suatu proses untuk mengumpulkan
m7(P01,P03,P05) = 0.056 / (1-0) = 0.056 data ataupun pengetahuan dari pakar. Dalam
m7(P01,P02) = 0.224 / (1-0) = 0.224 akuisisi pengetahuan ini bisa menggunakan
m7(θ) = 0.056 / (1-0) = 0.056 beberapa cara seperti mengambil referensi dari
Nilai tertinggi dari perhitungan dengan buku, wawancara, ataupun secara observasi.
adanya gejala G07 adalah P01 dengan nilai Pada penelitian ini, cara yang digunakan untuk
densitas 0.664. Kesimpulan sementara yang akuisisi pengetahuan antara lain :
dihasilkan dari munculnya empat gejala yang 1. Referensi buku
dipilih oleh user adalah P01 yang mempunyai Pada referensi buku, yang dilakukan adalah
nilai densitas tertinggi yaitu 0.664. mencari pengertian tentang penyakit endokrin
beserta dengan gejala-gejala dari penyakit pada
3. Pada gejala ke-5 muncul G09 yang sistem endokrin. Setelah mendapat cukup
mempunyai nilai densitas 0.2 dan G09 referensi dari buku ataupun majalah, langkah
merupakan gejala dari penyakit P01 dan selanjutnya yaitu melakukan wawancara
P02. Pada perhitungan sebelumnya dengan pakar untuk mengkonfirmasi ataupun
menghasilkan nilai densitas dari mencocokan apakah pengetahuan yang
m7(P01)=0.664, m7(P01,P02) adalah didapatkan dari buku ataupun media lain sudah
0.224, m7(P01,P03,P05) = 0.056 dan cukup memadai.
nilai m7(θ) =0.056. kemudian muncul 2. Wawancara
gejala baru G09 dengan nilai densitas Wawancara merupakan langkah yang
yang baru sebesar 0.2 jadi m8(P01,P02) dilakukan dalam penelitian ini setelah
yang baru adalah 0.2. Kemudian nilai memperoleh referensi. Pada wawancara ini
Plausibility atau m8(θ) yang baru adalah penulis mengumpulkan informasi yang
1-0.2 = 0.8. Langkah selanjutnya adalah berkaitan dengan penyakit kelenjar endokrin

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 900
Kode Gejala
dimana pada tahap sebelumnya sudah mencari
G18 Sensitif terhadap suhu panas
referensi melalui buku ataupun majalah.
G19 BAB lebih sering /Diare
Apabila referensi dari tahap sebelumnya
menurut pakar masih kurang, maka dalam G20 Mata tampak melotot atau menonjol

proses wawancara ini akan ditambahkan G21 Mata sensitif terhadap cahaya

beberapa informasi yang kurang sehingga data G22 Mudah marah dan emosional

yang dikumpulkan mengenai penyakit menjadi G23 Denyut jantung tidak beraturan
semakin lengkap. Sumber wawancara penulis G24 Kesemutan pada tangan atau kaki secara tiba-tiba
adalah dr. Hernowo Aris Munandar, MA., G25 Penglihatan kabur
Sp.PD. Wawancara ini menghasilkan data G26 Proses penyembuhan luka yang lama
nama penyakit dan penjelasanya, gejala dari
G27 Sering timbul bisul
penyakit, serta penentuan nilai kepercayaan
G28 Sering kencing
untuk Dempster-Shafer oleh pakar. Nilai
G29 Disfungsi ereksi
kepercayaan yang dimaksud nantinya akan
digunakan untuk perhitungan Dempster-Shafer G30 Selalu merasa haus

yang berfungsi untuk proses diagnosis penyakit G31 Dehidrasi

dari gejala yang telah diinputkan oleh G32 Penurunan berat badan

pengguna. Informasi tersebut antara lain. Jenis G33 Demam

penyakit pada kelenjar endokrin dapat dilihat G34 Rasa haus hingga minum 5-20 liter per hari
pada Tabel 5. G35 Terbangun pada malam hari karena ingin kencing
Tabel 5 Jenis Penyakit Pada Kelenjar Endokrin G36 Depresi (tidak termotivasi, putus asa)
Kode Nama Penyakit
G37 Nafsu makan makanan asin sangat tinggi

P01 Hipotiroid G38 Penurunan nafsu makan dan berat badan


P02 Hipertiroid
P03 Diabetes Mellitus G39 Hiperpigmentasi (warna kulit menjadi lebih gelap)
P04 Diabetes Insipidus
P05 Penyakit Addison G40 Mudah pusing atau pingsan
P06 Sindrom Cushing
G41 Sakit pada otot atau sakit pada persendian
P07 Sindrom Adrenogenital
G42 Tekanan darah rendah

Gejala-gejala dari penyakit endokrin terdapat G43 Mual dan muntah yang parah

58 gejala dari 7 penyakit endokrin. Gejala- G44 Wajah tampak membulat (moonface)

gejala yang penyakit endokrin ditunjukkan G45 Muncul guratan pada kulit (stretch mark)

pada Tabel 6. G46 Penipisan kulit

G47 Bagian tubuh mudah memar


Tabel 6 Gejala Penyakit Endokrin G48 Periode menstruasi tidak teratur

G49 Pembengkakan kaki


Kode Gejala
G50 Otot terasa lemah pada daerah bahu dan pinggul (miopati
G01 Nafsu makan berkurang, berat badan bertambah proksimal)

G02 Tidak tahan suhu dingin G51 Berat badan meningkat dan penumpukan lemak antara area leher
dan bahu
G03 Merasa lemas sepanjang hari/ Mudah lelah
G04 Wajah terlihat bengkak/sembab G52 Muncul sifat jantan

G05 Konstipasi / sembelit G53 Tumbuh jenggot

G06 Penurunan libido G54 Suara menjadi berat seperti laki-laki


G07 Bengkak di leher / kelenjar leher membesar
G55 Kebotakan
G08 Pendengaran terganggu
G56 Pembesaran klitoris
G09 Rambut rontok tanpa sebab
G57 Distribusi rambut pada tubuh dan pubis seperti laki-laki
G10 Kulit kering dan kasar
G58 Otot tampak seperti laki-laki
G11 Susah konsentrasi/kebingungan

G12 Suara serak

G13 Denyut jantung lemah 3.2.4 Basis Pengetahuan


G14 Penurunan berat badan dengan nafsu makan meningkat Basis pengetahuan dalam sistem pakar ini
G15 Keringat berlebih berisi tentang fakta, pemikiran ataupun
G16 Denyut jantung tinggi prosedur untuk merumuskan dan melakukan
G17 Tremor/gemetaran penyelesaian masalah. pendekatan dari basis

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 901

pengetahuan ini terdapat dua metode yaitu gejala, serta pengolahan data bobot gejala.
case-based reasoning dan juga rule-based Berikut ditunjukan pada Gambar 2.
reasoning. Dalam penggunaan metode
Dempster-Shafer untuk diagnosis penyakit
endokrin, data-data yang dibutuhkan adalah
data dari penyakit dan juga gejala-gejala dari
penyakit tersebut dan nilai perhitungan
kepercayaan atau bobot yang diberikan oleh
pakar akan dijadikan sebagai bahan
perhitungan metode Dempster-Shafer.
Sementara untuk pendekatan yang dilakukan Gambar 2 Implementasi Antarmuka Halaman
pada penelitian ini adalah rule-based reasoning Utama Pakar
karena awal yang diinputkan berupa gejala-
gejala kemudian sistem melakukan perhitungan 4.1.2 Tampilan Halaman Diagnosis
yang nantinya menghasilkan kesimpulan
berupa penyakit apa yang diderita. Menu diagnosis merupakan menu utama
sistem pakar ini. Melalui halaman ini pengguna
4. IMPLEMENTASI dapat melakukan proses diagnosis penyakit
endokrin. Kali pertama user akan disajikan
Pada tahap implementasi dilakukan untuk menu input biodata pasien dan kemudian
mengimplementasikan perancangan sistem disediakan berbagai gejala-gejala dari penyakit
yang telah dibuat sebelumnya. endokrin. Kemudian sistem memberikan
kesempatan kepada user untuk memilih gejala-
4.1. Implementasi Antarmuka gejala yang dialami oleh pasien. Setelah gejala-
gejala yang sesuai terseleksi maka user
Antarmuka pemodelan sistem pakar menginputkan data fakta gejala tersebut ke
Diagnosis penyakit endokrin ini digunakan oleh dalam sistem untuk diolah lebih lanjut.
pengguna untuk berinteraksi dengan sistem Kemudian sistem akan memberikan
perangkat lunak. Pada implementasi antarmuka kesimpulan hasil penyakit apa yang diderita
perangkat lunak ini tidak semua halaman pada dengan . Tampilan halaman diagnosis dapat
sistem ditampilkan, tetapi hanya antarmuka dilihat pada Gambar 3.
halaman tertentu saja. Beberapa antarmuka
yang ditampilkan antara lain implementasi
halaman utama, implementasi halaman
diagnosis, implementasi halaman informasi,
implementasi halaman login, implementasi
halaman pengguna, implementasi halaman edit
profil pengguna, implementasi halaman
diagnosis, implementasi halaman admin/pakar,
implementasi halaman tambah penyakit , Gambar 3 Implementasi halaman diagnosis
implementasi halaman edit gejala,
implementasi halaman tambah gejala, dan 5. PENGUJIAN DAN ANALISIS
implementasi halaman edit bobot gejala.
5.1. Pengujian Validasi
4.1.1 Tampilan Halaman Admin Pengujian Pengujian validasi digunakan
Halaman ini digunakan oleh admin untuk untuk menentukan apakah sistem yang telah
masuk ke dalam halaman utama admin. Untuk dibuat sudah sesuai dengan yang dibutuhkan.
masuk ke dalam halaman utama admin, admin Daftar item yang telah dirumuskan dalam
harus memasukkan username dan password. kebutuhan fungsional akan dijadikan acuan
Halaman ini juga memiliki banyak menu yang untuk melakukan uji validasi. Pengujian
dapat diakses oleh pakar khususnya yang validasi menggunakan pengujian black box
berkaitan dengan basis pengetahuan seperti dimana hanya fokus terhadap fungsionalitas
pengolahan data jenis penyakit endokrin, data dan output dari program dan tidak terfokus pada
gejala, pengolahan data nilai kepercayaan tiap alur jalannya algoritma program. Dari kasus uji

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 902

yang telah dilakukan sesuai dengan prosedur uji 6. KESIMPULAN


validasi.
Berdasarkan hasil perancangan,
Berdasarkan pengujian fungsionalitas
implementasi dan pengujian Pemodelan Sistem
terhadap 5 tindakan dalam daftar kebutuhan
pakar diagnosis penyakit endokrin manusia
dengan metode black box testing menunjukkan
dengan menggunakan metode Dempster-Shafer
bahwa sistem memiliki fungsionalitas sebagai
, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑛𝑑𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 berikut :
Fungsionalitas= x
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑛𝑑𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑑𝑎𝑓𝑡𝑎𝑟 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 1. Setelah diuji dan dianalisis, diketahui
100% bahwa secara garis besar hasil yang
5
= x 100% didapat dari perhitungan oleh pemodelan
5
= 100% sistem pakar memberikan hasil yang baik.
Dari 5 uji kasus yang telah dilakukan Secara umum sistem telah bekerja dengan
pengujian black box menunjukkan nilai valid baik karena proses perhitungan sudah
sebesar 100% dan dapat disimpulkan bahwa sesuai dengan yang diharapkan.
secara fungsionalitas, pemodelan sistem pakar 2. Diagnosis penyakit menggunakan metode
dapat berjalan dengan baik sesuai dengan daftar Dempster-Shafer dilakukan dengan
kebutuhan. menggunakan inputan gejala dari
5.2 Hasil Pengujian Akurasi pengguna. Jumlah gejala yang harus
Pengujian akurasi dilakukan untuk dimasukkan oleh pengguna harus lebih
mengetahui performa dari pemodelan sistem dari satu gejala, karena semakin banyak
pakar untuk memberikan hasil diagnosis inputan gejala maka akan menghasilkan
kesimpulan jenis penyakit yang ada. Data yang hasil diagnosis yang lebih spesifik.
diuji berjumlah 35 sampel data analisa pakar. 3. Hasil uji akurasi diagnosis penyakit
Hasil rekomendesi yang diperoleh dari menggunakanmetode Dempster-Shafer
perhitungan di sistem pakar, dicocokkan memiliki tingkat akurasi sebesar 91.42%.
dengan hasil analisa dari pakar. Hasil pengujian Dengan kata lain, pemodelan sistem pakar
akurasi sistem pakar dari 35 sampel yang telah diagnosis pada penyakit endokrin pada
diuji. Analisis pengujian akurasi dilakukan manusia berjalan dengan baik dan dapat
dengan jumlah sampel data sebanyak 35 memberikan solusi dini pada penderita
penyakit endokrin manusia dan menghasilkan penyakit endokrin.
nilai akurasi sesuai dengan perhitungan berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎 𝑎𝑘𝑢𝑟𝑎𝑡
Akurasi = x 100% 7. DAFTAR PUSTAKA
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎
32
= x 100%
35 Arisandi, C.D., 2014. Sistem Pakar
= 91.42% Mendiagnosa Gangguan Kelenjar
Dari hasil pengujian akurasi, dapat Tiroid Menggunakan Metode Forward
disimpulkan bahwa akurasi sistem pakar Chaining dan Dempster Shafer
berdasarkan 35 data sampel yang telah diuji Berbasis Android. S1. Universitas
adalah sebesar 91.42% yang menunjukkan Sumatera Utara.
bahwa sistem pakar ini dapat berfungsi dengan Dahria, M., 2011. Pengembangan Sistem Pakar
baik dan sesuai dengan hasil diagnosis pakar. Dalam Membangun Suatu Aplikasi.
Ketidakakurasian sistem pakar sebesar
STMIK Triguna Dharma. Medan,
8.58%. Kesalahan diagnosis bisa disebabkan
karena beberapa kemungkinan diantaranya Digdaya, F.A., 2016. Pemodelan Sistem Pakar
adalah pemberian nilai belief atau kepercayaan Diagnosa Penyakit Malaria dengan
dari gejala untuk setiap penyakit, kesalahan Metode Dempster Shafer. S1.
penerapan perhitungan metode ataupun Universitas Brawijaya.
kesalahan dalam memasukkan informasi gejala Gardner, D.G and Shoback, D., 2011.
di setiap penyakit. Greenspan's Basic & Clinical
Endocrinology. 9th ed. China: The
McGraw-Hill Companies, Inc.

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya


Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 903

Hartati, S., Iswanti, S. 2008. Sistem Pakar dan


Pengembanganya. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2016. Menkes : Mari Kita Cegah
Diabetes dengan Cerdik. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Tersedia di:
<http://www.depkes.go.id/article/print
/16040700002/menkes -mari-kita-
cegah-diabetes-dengan-cerdik.html>
[Diakses 13 Agustus 2016].
Kusumadewi, S., 2003. Artificial Intelligence.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Prijodiprojo, W., & Wahyuni, E.G. 2013.
Prototype Sistem Pakar Untuk
Mendeteksi Tingkat Resiko Penyakit
Jantung Koroner dengan Menggunakan
Metode Dempster-Shafer (Studi Kasus:
RS. PKU Muhammadiyah
Yogyakarta). IJCCS 7(2).
Sherwood, L., 2010. Human Physiology. From
Cells to Systems. 7th ed. Canada:
Yolanda Cossio

Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya