Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Manusia adalah komponen terpenting dalam sebuah organisasi. Keberhasilan yang

dilakukan dalam organisasi dapat diukur dari sejauh mana kinerja individu- individu yang

tergabung didalamnya. Berbagai upaya dilakukan dalam rangka meningkatkan

produktivitas pelaku individu agar dapat menghasilkan kinerja yang maksimal.

Perilaku individu satu dengan yang lainnya tentunya sangat berbeda. Setiap

individu akan membawa karakteristik individualnya masing-masing, sehingga akan

berdampak kepada kinerjanya pula. Karakteristik tersebut dapat berupa kemampuan,

kepercayaan pribadi, pengharapan-pengharapan, kebutuhan dan pengalaman pada masa

lalunya. Selain itu perbedaan tersebut dapat didasarkan atas kemampuan, karakteristik

biografis, dan kepribadian yang dimilikinya.

Kinerja yang baik dapat dicapai apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dengan

kemampuan yang dimiliki karyawan. Di sinilah manajemen berperan dalam membentuk

perilaku individu. Dengan menganalisis perilaku-perilaku yang ada dalam individu

manajer mampu memberi keputusan yang tepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal

atas upaya peningkatan produktivitas organisasi.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Jelaskan apa itu kemampuan?


2. Jelaskan apa itu pembelajaran?
3. Jelaskan apa itu kepribadian?
4. Jelaskan apa itu persepsi?
5. Jelaskan apa itu sikap?
6. Jelaskan apa itu Motivasi?
7. Jelaskan apa itu kemampuan?

2.3. Tujuan

Dengan memperhatikan latar belakang dan rumusan masalah tersebut, agar dalam

penulisan makalah ini penulis dapat memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis

mengemukakan tujuan penulisan makalah. Tujuan penulisan makalah tersebut adalah:

Untuk mengetahui pengertian perilaku individu.

Untuk mengetahui karakteristik biografis yang dimiliki individu.

Untuk mengetahui konsep kemampuan, kepribadian, dan pembelajaran dalam mengetahui

perilaku individu di dalam organisasi.

Untuk mengetahui perilaku organisasi positif.


BAB II

PEMBAHASAN

Menurut Gibson Cs. (1996) perilaku individu adalah segala sesuatu yang

dilakukan seseorang, seperti berbicara, berjalan, berfikir atau tindakan dari suatu sikap.

Menurut Kurt Levin perilaku (Behavior-B) individu pada dasarnya merupakan fungsi dari

interaksi antara individu (person-P) yang bersangkutan dengan lingkungan (environmen

-E).

Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku individu

dapat diartikan sebagai suatu sikap/tindakan serta segala sesuatu yang dilakukan manusia

baik yang dilakukan dalam bekerja maupun diluar pekerjaan, seperti berbicara, bertukar

pendapat, berjalan dan sebagainya.

2.1. Kemampuan
Greenberg dan Baron (2003) mendefinisikan kemampuan sebagai kapasitas

mental dan fisik untuk melakukan berbagai tugas. Jadi kemampuan adalah kapasitas

seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Setiap

individu memiliki kemampuan yang berbeda. Dari sudut pandang manajemen, yang

menjadi letak permasalahan bukanlah terletak pada perbedaan tersebut, sebab individu

satu dengan yang lainnya berbeda adalah mutlak, tetapi yang menjadi permasalahan

adalah bagaimana setiap individu yang berbeda serta memiliki kemampuan yang berbeda

untuk dapat memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya tersebut untuk meningkatkan

kinerjanya dengan baik.

Kemampuan yang relevan dengan setting perilaku di tempat kerja, dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.


Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai

aktivitas mental, seperti berpikir, menalar, dan memecahkan suatu masalah. Untuk

mengukur kemampuan intelektual umum seseorang antara lain dapat menggunakan tes IQ

(Inteligence Quotient). Ada tujuh dimensi yang membentuk kemampuan intelektual

seseorang, yaitu kecerdasan angka, pemahaman verbal, kecepatan persepsi, penalaran

induktif, penalaran deduktif, visualisasi spasial, dan daya ingat (Robbins dan Judge,

2007).

Dimensi Kemampuan Intelektual


Dimensi Deskripsi Contoh Pekerjaan
Kecerdasan angka
Kemampuan melakukan Akuntan: Menghitung pajak
aritmatika dengan cepat dan penjualan pada serangkaian
akurat barang
Pemahaman verbal
Kemampuan memahami apa Manajer pabrik: Mengikuti
yang dibaca atau didengar dan kebijakan perusahaan pada
hubunga antara kata-kata perekrutan
Kecepatan persepsi
Kemampuan mengdentifikasi Penyelidik kebakaran:
kemiripan dan perbedaan visual Mengidentifikasi petunjuk untuk
secara cepat dan akurat mendukung tuntutan
pembakaran secara sengaja
Penalaran induktif
Kemampuan Periset pasar: Meramalkan
mengidentifikasi urutan logis permintaan untuk sebuah produk
dalam sebuah masalah dan pada periode waktu

Kemampuan fisik merupakan kemampuan untuk melakukan tugas yang

membutuhkan stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa. Penelitian

terhadap sejumlah persyaratan yang dibutuhkan oleh berbagai pekerjaan berhasil

mengidentifikasi sembilan kemampuan fisik dasar. Setiap individu memiliki kemampuan

fisik dasar yang berbeda-beda. Sembilan kemampuan fisik dasar tersebut dapat

digolongkan menjadi tiga yaitu faktor kekuatan, faktor fleksibilitas, dan faktor lainnya

(Robbins dan Judge, 2007).


F aktor Kekuatan
1. Kekuatan Dinamis Kemampuan menggunakan kekuatan otot secara berulang
atau terus menerus
2. Kekuatan Tubuh Kemampuan Memanfaatkan kekuatan otot menggunakan
tubuh (khususnya otot perut)
3. Kekuatan Statis Kemampuan menggunakan kekuatan terhadap objek eksternal
4. Kekuatan Explosif Kemampuan mengeluarkan energi maksimum dalam satu atau
serangkaian tindakan eksplosif
F aktor Fleksibilitas
5. Fleksibilitas Luas Kemampuan menggerakkan tubuh dan otot punggung sejauh
mungkin
6. Fleksibilitas Dinamis Kemampuan membuat gerakan-gerakan lentur yang cepat dan
berulang ulang
Faktor Lainnya
7. Koordinasi Tubuh Kemampuan mengoordinasikan tindakan secara bersamaan
dari bagian-bagian tubuh yang berbeda
8. Keseimbangan Kemampuan mempertahankan keseimbangan meskipun
terdapat gaya yang mengganggu keseimbangan
9. Stamina Kemampuan mengerahkan upaya maksimum yang membutuhkan
usaha berkelanjutan

2.2. Pembelajaran

Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai

hasil dari pengalaman. Berdasarkan definisi pembelajaran tersebut ada beberapa hal yang

berkaitan dengan pembelajaran, yaitu:

1. Pembelajaran melibatkan perubahan


2. Perubahan tersebut relatif permanen, sehingga perubahan yang bersifat sementara

tidak dapat dikategorikan sebagai pembelajaran.


3. Beberapa bentuk pengalaman diperlukan untuk pembelajaran, baik pengalaman

langsung maupun tidak langsung (Greenberg dan Baron, 2003).

Adapun beberapa teori pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Teori Pengkondisian Klasik


Pengondisian klasik dikemukakan berdasarkan eksperimen oleh seorang ahli

fisiolog Rusia bernama IvanPavlov. Pengondisian klasik merupakan jenis pengondisian

dimana individu merespons beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons

baru. Dikenal beberapa istilah dalam pengondisian klasik yaitu: rangsangan tidak

berkondisi, rangsangan berkondisi, dan respons tidak berkondisi, dan respons berkondisi.

Pengondisian klasik adalah pasif. Sesuatu terjadi dan kita bereaksi dalam cara

tertentu. Reaksi tersebut diperoleh sebagai respons terhadap kejadian tertentu yang dapat

dikenali. Dengan demikian hal ini dapat menjelaskan perilaku refleksi sederhana.

2. Pengkondisian operant

Pengkondisian operan merupakan jenis pengkondisian dimana perilaku sukarela

yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. Perilaku

operant berkebalikan dengan perilaku refleksi. Kecenderungan untuk mengulang perilaku

seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi

yang dihasilkan perilaku.

Konsep ini dikemukakan oleh psikolog Harvard, B. F. Skinner. Pengondisian

operant merupakan bagian dari konsep Skinner mengenai paham perilaku, yang

menyatakan bahwa perilaku mengikuti rangsangan dalam cara yang relatif tidak

terpikirkan. Jika sebuah perilaku gagal untuk ditegaskan secara positif, probabilitas

bahwa perilaku tersebut akan terulang pun menurun. c)

3. Teori Pembelajaran sosial

Pembelajaran sosial merupakan pandangan bahwa orang-orang dapat belajar

melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Teori ini berasumsi bahwa perilaku

adalah sebuah fungsi dari konsekuensi, dan mengakui keberadaan pembelajaran melalui
pengamatan dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran. Individu merespons pada

bagaimana mereka merasakan dan mendefinisikan konsekuensi, bukan pada konsekuensi

objektif itu sendiri. Pengaruh model-model adalah sentral pada sudut pandang

pembelajaran sosial. Empat proses untuk menentukan pengaruh sebuah model pada

seorang individual

a. Proses Perhatian. Individu belajar dari sebuah model ketika dia perhatian pada

model tersebut.
b. Proses Penyimpanan. Pengaruh sebuah model tergantung pada seberapa baik

individu mengingat model setelah model tersebut sudah tidak lagi tersedia.
c. Proses Reproduksi Motor. Setelah seorang melihat sebuah perilaku baru dengan

mengamati model, pengamatan tersebut harus diubah menjadi tindakan.


d. Proses Penegasan. Individu akan termotivasi untuk menampilkan perilaku yang

dicontohkan jika tersedia insentif positif atau penghargaan yang tegas.

2.3. Kepribadian

Kepribadian akan membentuk perilaku setiap orang. Kepribadian dapat di

definisikan sebagai keseluruhan cara dimana seseorang bereaksi dan berinteraksi dengan

individu lain. Kepribadian dapat digambarkan sebagai sifat-sifat yang ditunjukkan oleh

seorang. Kepribadian dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.

Keturunan berkaitan dengan faktor genesis seorang individu., seperti tinggi badan,

bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi, serta irama

biologis merupakan karakteristik yang bisa dianggap dipengaruhi oleh faktor keturunan.

Sementara itu faktor lingkungan yang memiliki pengaruh terhadap pembentukan

kepribadian, antara lain adalah norma dalam keluarga, teman-teman, dan kelompok sosial

(Robbins dan Judge, 2007).

2.3.1. Dimensi Kepribadian


Dimensi-dimensi kepribadian yang mendasari banyak ciri spesifik dapat

dijelaskan dengan the wig Ice dimentions of personlatity. Dimensi-dimensi kepribadian

tersebut adalah sebagai berikut:

1. Conscientiousness. Dimensi ini menunjukkan tingkat kecenderungan individu

untuk bertindak secara hati-hati bekerja keras, bertanggung jawab, dapat

dipercaya, dan tekun.


2. Extrovertion. Dimensi ini menunjukkan sejauhmana individu suka berteman,

tegas, dan suka bergaul.


3. Agreebleness. Dimensi ini menunjukkan kecenderungan individu untuk senang

bekerja sama, hangat, dan penuh kepercayaan.


4. Emotional stability. Dimensi ini menunjukkan tingkat kemampuan untuk lebih

tenang, percaya diri, dan merasa aman.


5. Openness to experience. Dimensi ini menunjukkan sejauhmana individu

memiliki sifat kreatif, selalu ingin tahu, dan berpikiran luas.

2.3.2. Kepribadian dan Perilaku/Prestasi Kerja

Ada beberapa aspek kepribadian yang dapat digunakan untuk mengetahui

hubungan antara kepribadian dengan perlaku/prestasi kerja, yaitu locus of Control, sel

efficacy, dan kreativitas/creativity.

1. Locus of Control. Menunjukkan tingkat di mana individu percaya bahwa

perilaku memengaruhi apa yang teraso pada mereka. Luc of Control dapat

dibedakan menjadi dua yaitu, locus of Control internal dan locus of Control

External.
2. Self efficacay. Menurut Bandura yang dikutip oleh Gist (1987), self efficacy

adalah kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan

tugas yang spesifik. Sel efficacy memiliki tiga dimensi yaitu, magintude,

strength dan generalitas. Selanjutnya ada empat sumber informasi yang


berhasil di identifikasi oleh Bandura yang dapat memengaruhi sel efficacy

seseorang, yaitu: (pengalaman mencapai prestasi, (2) kreativitas/creativity, (


3. Kreativitas/creativity. Adalah suatu ciri kepribadian yang melibatkan

kemampuan untuk mematahkan kebiasaan berpikir yang mengikat dan

menghasilkan ide-ide yang baru serta bermanfaat

2.3.3. Sifat-Sifat Kepribadian yang Memengaruhi Perilaku

Selain dimensi-dimensi kepribadian tersebut, ada sejumlah sifat kepribadian

spesifik yang memengaruhi perilaku individu di tempat kerja, yaitu:

a. Evaluasi inti diri/core self evaluation merupakan tingkat di mana individu

menyukai atau tidak menyukai dirinya sendiri, apakah individu tersebut

menganggap dirinya mampu mengendalikan atau mungkin tidak berdaya dengan

lingkungannya.
b. Machiavellianisme
c. Narsisme. Dalam bidang psikologi narsisme menggambarkan seorang yang

memiliki rasa kepentingan diri yang berlebihan, memburuhkan pengakuan

berlebihan mengutamakan diri sendiri, dan cenderung arogan.


d. Sel Monitoring.
e. Keberanian mengambil risiko.
f. Kepribadian tipe A dan B
g. Kepribadian Proaktif.

2.4. Persepsi

Persepsi adalah proses kognitif dimana individu menyeleksi, mengorganisasi, dan

memberi arti terhadap stimuli lingkungan. Persepsi merupakan salah satu aspek penting

dalam perilaku organisasional, sebab perilaku individu banyak didasarkan pada persepsi

mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi persepsi antara lain (Robbins dan Judge, 2007):

1. Faktor dalam diri pembentuk persepsi: sikap, kepribadian, motivasi, minat.


2. Faktor situasi: waktu, keadaan kerja, dan keadaan sosial.
3. Faktor dalam diri objek atau target: suatu yang baru, gerakan, suara, ukuran.

Seseorang sering kali menggunakan jalan pintas ketika menilai orang lain. Ada

beberapa jenis kesalahan persepsi yang sering terjadi, yaitu (Kreitner dan Kinicki, 2005;

Robbins dan Judge, 2007):

1. Halo efek, yaitu membuat kesan umum mengenai seseorang berdasarkan

karakteristik seperti kepribadian, keramahan dan penampilan.


2. Leniency, yaitu ciri pribadi yang cenderung menilai seorang atau beda lain

secara positif.
3. Kecenderungan sentral, yaitu kecenderungan untuk menghindari penilaian

ekstrem dan menilai seorang atau beda secara netral atau rata-rata.
4. Recency effects, yaitu kecenderungan untuk mengingat informasi saat itu.
5. Contras effects, yaitu kecenderungan untuk menilai karakteristik seseorang

yang dipengaruhi oleh perbandingan-perbandingan dengan orang lain yang

baru ditemui, yang dapat nilai lebih tinggi atau rendah untuk karakteristik

yang sama.
6. Stereotip, yaitu menilai seseorang berdasarkan persepsi tentang kelompok

dimana dia bergabung.

2.5. Sikap

Sikap didefinisikan sebagai pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan

maupun tidak menyenangkan terhadap objek individu atau peristiwa (Robbins dan Judge,

2007). Sekap terdiri dari 3 komponen, yaitu:

1. Komponen cognitive;
2. Komponen affective; dan
3. Komponen conative.
Sikap kerja berisi evaluasi positif atau negatif yang dimiliki oleh seorang

karyawan mengenai aspek-aspek lingkungan kerja mereka. Sebagian besar riset dalam

perilaku organisasional berhubungan dengan tiga sikap, yaitu:

1. Kepuasan kerja. Adalah suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang

yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristiknya.


2. Keterlibatan pekerjaan juga berkaitan dengan sikap kerja. Keterlibatan

pekerjaan mengukur sejaumana seseorang memihak suatu pekerjaan,

berpartisipasi secara aktif di dalamnya, dan menganggap penting tingkat

kinerja yang dicapai sebagai bentuk penghargaan ini.


3. Komitmen organisasional menunjukkan sejauhmana seorang memihak sebut

organisasi serta tujuan-tujuannya dan keinginannya untuk mempertahankan

keanggotaan dalam organisasi tersebut.

2.6. Motivasi

Motivasi didefinisikan sebagai serangkaian proses yang menggerakkan

mengarahkan, dan mempertahankan perilaku individu untuk mencapai beberapa tujuan

(Grrenberg dan Baron, 2003). Motivasi merupakan suatu dorongan yang diatur oleh

tujuan dan jarang muncul dalam kekosongan. Istilah kebutuhan, keinginan, hasrat, atau

dorongan sama dengan motif, yang merupakan asal dari kata motivasi.

Fillmore H. Stanford mendefinisikan motivasi sebagai suatu kondisi yang

menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu. Dessler mengatakan bahwa

motivasi merupakan hal yang sederhana karena orang-orang pada dasarnya termotivasi

atau terdorong untuk berperilaku dalam cara tertentu yang dirasakan mengarah kepada

perolehan ganjaran.

Teori motivasi terdiri dari dua pendekatan, yaitu pendekatan isi/content

approaches dan pendekatan proses/process approaches. Pendekatan content meliputi teori


hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori ERG, teori dua faktor, dan teori kebutuhan

Mc-Clelland. Sedangkan pendekatan proses terdiri dari teori pengharapan, teori keadilan,

dan teori penetapan tujuan.

2.7. Stress

Pengertian Stres Menurut Charles D, Spielberger (dalam Handoyo, 2001:63)

menyebutkan bahwa stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang,

misalnya obyek-obyek dalam lingkungan atau suatu stimulus yang secara obyektif adalah

berbahaya. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang

tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.

Stress adalah kondisi dinamis dimana seseorang dihadapkan pada suatu peluang,

tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan keinginan orang tersebut serta hasilnya

dipandang tidak pasti dan penting. Stres berkaitan dengan tuntutan dan sumber daya.

Tuntutan merupakan tanggung jawab, tekanan, kewajiban, atau ketidakpastian

yang dihadapi seorang di tempat kerja. Sedangkan sumber daya adalah segala sesuatu

atau benda-benda yang berada dalam kendali seorang yang dapat digunakan untuk

memenuhi tuntutan (Robbins dan Judge, 2007).

2.7.1. Faktor-Faktor Penyebab Stress

Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan stres dapat dibedakan menjadi

dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal dapat menyebabkan stres pada diri seorang ditentukan oleh

kepribadian, kemampuan dan nilai budaya.

 Kepribadian, yaitu sistem psikologi yang dimiliki oleh seseorang untuk bereaksi

dan berinteraksi dengan pihak lain maupun lingkungannya.


 Kemampuan, menunjukkan kapasitas seorang untuk melaksanakan berbagai tugas

dalam suatu pekerjaan.


 Nilai budaya, meliputi keyakinan yang dipahami oleh seseorang (atau bersama)

yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial serta memengaruhi sikap dan

perilakunya.

Faktor eksternal yang menyebabkan stres berasal dari pekerjaan (organisasi)

maupun di luar pekerjaan (nun organisasi). Faktor pejeraan yang dapat menyebabkan

stress antara lain:

1. Faktor-faktor intrinsik pekerjaan., antara lain kondisi fisik pekerjaan dan

tuntutan tugas. Kondisi fisik pekerjaan yang menyebabkan stres meliputi

kondisi bising, vibrasi/getaran dan hygiene, sedangkan tuntutan tugas meliputi

berbagai bentuk aktivitas yang berpola khas pada masing-masing jenis

pekerjaan seperti kerja shift malam, beban kerja, jam kerja yang lebih panjang,

dan pekerjaan repetitif.


2. Faktor peran dalam organisasi, meliputi konflik peran dan ketaksaan peran.

Konflik peran dapat timbul pada seseorang apabila terdapat kondisi-kondisi:

(1) pertentangan antara tugas yang harus dilaksanakan dengan tanggung jawab

yang dimiliki; (2) tugas-tugas yang dilakukan bukan bagian dari

pekerjaannya; (3) tuntutan yang bertentangan dengan atasan, bawahan, rekan,

atau orang lain yang dinilai penting bagi dirinya; dan (4) pertentangan dengan

nilai-nilai dan keyakinan pribadi. Sementara itu ketaksaan peran merupakan

ketidakjelasan posisi seseorang dalam organisasi, sehingga kendali terhadap

pekerjaan kecil..
3. Faktor pengembangan karier, mencakup ketidakpuasan pekerjaan, serta

promosi dini dan promosi terlambat.


4. Faktor hubungan kerja, meliputi hubungan kerja antar karyawan dan gaya

kepemimpinan.
5. Faktor struktur dan karakteristik organisasi

2.7.2. Hubungan Stress dan kinerja

Hubungan antara stres dengan kinerja karyawan dapat digambarkan dengan kurva

berbentuk U terbalik (interes U). Pada tingkat stres yang rendah kinerja karyawan rendah.

Pada kondisi ini karyawan tidak memiliki tantangan dan muncul kebosanan karena

understimulation.

Sering dengan kenaikan stres ampai pada suatu titik optimal, maka akan

menghasilkan kinerja yang baik. Kondisi ini disebut tingkat stres yang optimal. Pada

tingkat stres yang optimal ini akan menciptakan ide-ide yang inovatif, antusiasme, dan

output yang konstruktif.

Pada tingkat stres yang tinggi kinerja karyawan juga rendah. Pada kondisi ini

terjadi penurunan kinerja. Tingkat stres yang berlebihan menyebabkan karyawan dalam

kondisi tertekan, karena tidak mampu lagi mengatasi tugas yang terlalu berat.

2.7.3. Akibat Stress

Akibat stres dapat dikategorikan menjadi tua, yaitu gejala fisiologis, gejala

psikologis, dan gejala perilaku.

1. Gejala fisiologis. Pengaruh awal Adaro stres umumnya berupa gejala-gejala

fisiologis. Hal ini disebabkan masalah stres pertama kali diditeliti oleh ahli di

bidang ilmu kesehatan dan medis. Kesimpulan dari penelitian tersebut

menunjukkan bahwa stres dapat menciptakan perubahan dalam metabolisme,

meningkatkan detak jantung dan tarikan nafas meningkatkan tekanan darah,

sekit kepala dan memicu serang jantung.


2. Gejala psikologis. Salah satu gejala psikologis akibat stres adalah adanya

ketidakpuasan terhadap pekerjaan. Gejala psikologis lain akibat stres dapat


berupa kecemasan, kejenuhan, ketegangan, kesal, dan sikap yang suka

menunda-nunda pekerjaan.
3. Gejala perilaku. Individu yang mengalami stres cenderung akan mengalami

perubahan produktivitas, kemangkiran, perputaran karyawan, di samping

perubahan dalam kebiasaan makan, merokok, konsumsi alkohol, bicara gagap,

kegelisahan dan tidur tidak teratur.

2.7.4. Mengelola Stress

Ada dua pendekatan untuk mengelola stres, yaitu pendekatan individual dan

pendekatan organisasional. Dua pendekatan ini menunjukkan bahwa tanggung jawab

untuk mengelola stres di samping menjadi tanggung jawab atau tugas manajemen, juga

menjadi tanggung jawab individu.

Pendekatan individual yang dapat dilakukan untuk mengelola stres meliputi:

1. Penerapan teknik manajemen waktu. Pemanfaatan prinsip-prinsip dasar

manajemen waktu dapat membantu seorang untuk mengatasi ketegangan

akibat tuntutan tugas atau pekerjaan secara lebih balik. Prinsip-prinsip

manajemen waktu yang banyak dilaksanakan antara lain adalah membuat

daftar kegiatan harian yang harus diselesaikan, membuat prioritas kegiatan

berdasarkan kepentingannya, dll.


2. Olahraga. Olahraga seperti renang, bersepedam jalan kaki, dan aerobik

merupakan bentuk-bentuk latihan fisik yang direkomendasi oleh dokter untuk

mengatasi tingkat stres yang berlebihan.


3. Relaksasi. Untuk mengurangi ketegangan, seseorang dapat melakukan

relaksasi seperti meditasi dan teknik pengendalian fisiologis.


4. Memperluas jaringan dukungan. Ketika tingkat stres terlalu tinggi, seseorang

dapat mengajak bicara dengan teman, keluarga, atau rekan kerja mereka.
Sementara itu pendekatan organisasional yang dapat dilakukan untuk mengelola stres

meliputi:

1. Seleksi dan penempatan kerja yang lebih baik;


2. Pelatihan;
3. Penetapan tujuan yang realistis;
4. Desain ulang pekerjaan;
5. Meningkatkan keterlibatan karyawan;
6. Perbaikan komunikasi organisasi;
7. Penawaran cuti panjang; dan
8. Menyelenggarakan program-program kesejahteraan karyawan.
BAB III

KESIMPULAN

Perilaku individu dapat diartikan sebagai suatu sikap/tindakan serta segala sesuatu

yang dilakukan manusia baik yang dilakukan dalam bekerja maupun diluar pekerjaan, seperti

berbicara, bertukar pendapat, berjalan dan sebagainya. Ada beberapa alasan mengapa

manusia/individu yang menyebabkan perbedaan perilaku antara individu yang satu dengan

yang lainnya, antara lain: (1) Kemampuan dan keahlian yang dimiliki masing-masing

individu; (2) Kebutuhan dan keinginan yang berbeda; (3) Pandangan terhadap masa depan

(perspektif) dan pilihan-pilihan untuk berperilaku dan bertindak; (4) Respon atau reaksi

terhadap fenomena atau peristiwa tertentu (kognisi, afeksi dan konasi).

Karakteristik biografis yaitu karakteristik pribadi seperti umur, jenis kelamin, dan

status kawin yang objektif dan mudah diperoleh dari rekaman pribadi. Setiap individu tentu

saja memiliki karakteristik individu yang menentukan terhadap perilaku individu.

Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas

dalam suatu pekerjaan. Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda. Secara garis

besar kemampuan individu tersusun dalam dua perangkat faktor yaitu: kemampuan

intelektual dan kemampuan fisik.

Kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga

nampak dalam tingkah lakunya yang unik. Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku

yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Proses pembelajaran adalah

bagaimana kita dapat menjelaskan dan meramalkan perilaku, dan pahami bagaimana orang

belajar.
POB sebagai studi dan aplikasi dari kekuatan sumberdaya manusia positip dan

kapasitas psikologis yang dapat diukur, dikembangkan dan dikelola secara efektif untuk

meningkatkan kinerja di tempat kerja.


DAFTAR PUSTAKA

Perilaku Organisasional.
blog.ub.ac.id/.../06/dasar-dasar-perilaku-individu.pdf