Anda di halaman 1dari 5

del(US)i

Alam pikiranku yang gila membuat duniaku gila karena kegilaanku.

Aku memilin benang-benang wol berwarna abu-abu menggunakan jarum rajut berukuran 3/0.
Aku membuatnya untuk kamu, suamiku. Musim dingin ini aku tak ingin kamu kedinginan tanpa
menggunakan syal saat di luar. Aku memilih benang terbagus dan termahal agar tidak terasa
gatal jika kau pakai di lehermu.

Pukul 20.00 waktu London. Ditemani dengan alunan musik klasik dan secangkir coklat panas
serta salju-salju kapas yang bertebaran diluar jendela. Aku mulai merasa khawatir, kau tak
kunjung datang. Tanda-tanda kedatanganmu pun tak kunjung kulihat.

Seteguk cokelat panas kusesap berlahan untuk membasahi kerongkonganku yang kering akibat
dari kekhawatiran ini. Lalu aku berdiri memeriksa keluar jendela yang tirainya sengaja kubuka.
Kali saja kau sedang berjalan kedinginan. Tetapi tetap saja, di luar sana hanya ada malam dan
serpihan salju, bahkan seekor seranggapun tak ingin beranjak dari lorong-lorong yang hangat.

“Ah, mungkin saja dalam perjalanan pulang” batinku menenangkan diri.

Aku terdiam sejenak, tiba-tiba terbesit pikiran untuk membuat makan malam denganmu. Aku
berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Hanya ada sekaleng selai keju dan beberapa helai
roti tawar. Kuputuskan untuk membuat roti isi keju kesukaanmu disertai teh hijau panas tanpa
gula. Aku menyiapkan makan malam ini dengan hati yang harap-harap cemas. Berharap kau
segera datang, namun sekaligus cemas kau tak kunjung datang. Ah, aku tak sabaran sekali
menunggumu mengetuk pintu.

Aku melirik jam di dinding, pukul 21.00 waktu London.

Kecemasanku semakin bertambah seiring waktu berdetak, pikiran-pikiran jelekpun tiba-tiba


muncul.

“Apa ada masalah di kantor?”

“Apa kau terjebak badai salju?”

“Atau bus sudah tidak beroperasi karena cuaca yang ekstrim?”


“Atau jangan-jangan…” aku menutup mulutku. “Tidak-tidak! Aku tak boleh memikirkan
macam-macam! Apalagi memikirkan dia berselingkuh di belakangku. Itu tak mungkin terjadi!”
kataku menggeleng-gelengkan kepala.

Lalu aku kembali duduk di kursi dekat jendela ruang keluarga. Melanjutkan membuat syal yang
hampir selesei dan memotong benang-benang yang mencuat. Namun mataku tiba-tiba menjadi
berat dan otakku merespon untuk menguap.

==00==

“Sayang.. bangun sayang..”

Suara lembut seakan memanggilku untuk segera membuka mata. Dengan kesadaran yang belum
sepenuhnya pulih, kamu mengulumkan senyum manis dan menyapaku “Hai”. Aku tersenyum
dan meraih wajahmu.

“Agus. Kamu sudah pulang?” tanyaku memastikan bahwa orang di depanku adalah kamu.

Kamu mengangguk mengiyakan, lalu mencium keningku.

“Maaf, aku pulang telat lagi sayang” katamu sambil menyelipkan anak rambutku ke belakang
telinga.

“Tak apa” jawabku menyembunyikan kekhawatiranku beberapa jam yang lalu.

“Kamu sudah makan?” tanyaku melihat wajah kamu yang kelelahan. Kamu menggeleng. “Aku
sudah membuatkan roti isi keju” aku berdiri untuk membimbing kamu ke meja makan sambil
memeluk lenganmu.

Kamu memakan roti isi selai keju itu dengan mata berbinar seperti seorang anak kecil yang
kelaparan. Aku tertawa kecil melihat caramu memandangi semua roti selai yang ada di meja.
Matamu yang membesar, pipimu yang menggembung dan mulutmu yang penuh makanan.

Aku memberinya secangkir teh hijau panas lalu mengisyaratkan untuk segera minum. Kamu
menuruti isyaratku untuk meminum teh hijau itu. Kamu bernapas lega seolah-olah telah selesei
berperang. lalu aku memandangi wajahmu, wajahmu yang lonjong dengan rahang yang tegas,
matamu yang besar dengan pupil berwarna biru shapire, hidungmu yang mancung, dan bibirmu
yang tipis. Khas seperti orang Inggris.

Kamu adalah seorang Inggris satu-satunya yang aku cintai. Kamu berbeda dengan para lelaki
yang sudah pernah kujumpai, mereka pengecut dan hanya manis di mulut jika berkata.
Sedangkan kamu begitu penyayang, hatimu lembut, sikapmu hangat, dan perkataanmu
menyejukkan hatiku.

Namun aku benci pada orang-orang yang menganggapmu tidak seperti itu. Mereka bilang aku
buta karena cinta. Aku tertawa jika mengingat hal itu. Bagaimana mungkin orang-orang menilai
tanpa ada bukti yang nyata. Orang-orang itu selalu memojokkanku untuk berhenti mencintaimu,
bahkan orangtuaku sendiri mendukung mulut kasar orang-orang itu. Aku muak dengan penilaian
negatif orang-orang tentangmu. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menerima ajakanmu ke
London dan keluar dari desa kecil Edensor.

“Agus” aku memanggil namamu dengan hati-hati. Kamu mendongak dan meletakkan kembali
potongan roti yang akan masuk ke mulutmu.

“Apa kau ingat pertemuan kita pertama, dulu?” tanyaku padamu.

“Tentu aku mengingatnya. Sangat sangat mengingatnya dan tak akan kulupakan” jawabmu
dengan tatapan penuh kehangatan. “Saat itu kau memakai rok merah dan rambut ikalmu kau
biarkan tergerai diterpa angin” katamu. “Ah, saat itu aku sangat kesal”

“Kesal? Kenapa kamu bisa kesal?” tanyaku, sedikit tergelitik untuk tertawa karena raut wajahnya
yang berbinar berubah seperti anak anjing yang minta dibelai tuannya.

“Sebab, aku iri pada angin” katamu dengan bibir yang sedikit kamu monyongkan.

“Kau iri pada angin?” ucapku disambut dengan riuh tawa kecil yang keluar dari bibirku.
“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Sebab, angin berani membelai rambutmu sepuasnya. Sedangkan aku tak memiliki keberanian
untuk itu” jawabmu dengan mata manja. Ah, menggemaskan sekali. Aku beranjak mendekatimu
lalu aku belai anak rambutmu yang hitam.
“Agus” aku memanggil namamu dengan rasa gelisah. “Bagaimana dengan orangtuaku di
Edensor. Apa mereka baik-baik saja?”

“Hampir setiap malam aku memikirkan hal itu. Aku selalu berdoa dan mengumpulkan
keberanianku untuk bertemu dengan orangtuamu” jawabmu lalu menundukkan kepala. “Maaf,
aku..”

“Tidak! Ini semua bukan salahmu. Ini kehendakku. Ini keputusanku untuk ikut dan hidup
bersamamu. Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu” ucapku takut kamu pergi dan hilang.

“Aku berjanji setelah aku sukses, aku akan mengajakmu ke Edensor dan memohon restu
orangtuamu” ucapmu dengan tatapam mata tulus penuh janji.

“Thanks, love” aku berterimakasih dengan seseorang yang sangat kucintai ini. Namun, tiba-tiba
kekhawatiran lain muncul lagi dalam hatiku.

“Ta.. Tapi…” kataku terbata.

“Tapi kenapa, sayang?” tanyamu penasaran.

“Kau tak akan berpaling dariku dengan wanita…” tanyaku yang kemudian terpotong dengan
pelukan hangatnya.

“Tidak! Tidak akan pernah. Kamu adalah wanita satu-satunya untukku” Aku tersenyum bahagia
dengan pengakuanmu yang tulus. Malam ini dan malam-malam seterusnya, aku adalah wanita
yang paling bahagia. Dan aku harap sehangat ini selamanya.

Lalu aku teringat syal di sudut meja kecil dekat jendela ruang keluarga. “Agus, aku ingin
memberimu sebuah hadiah” kataku, lalu kamu melepaskan pelukanmu.

Aku berlarian kecil ke sudut ruang keluarga, lalu mengambil syal yang tergeletak di atas meja
kecil dekat jendela. Sejenak aku melihat keluar jendela, salju turun lebih lebat dari sebelumnya
dan anginpun berhembus dengan kencangnya pada tirai jendela. Aku segera menutup tirai
jendela sambil menggigil kedinginan.

Aku berjalan setengah berlari menuju ruang makan lagi. Deg. Tiba-tiba langkah kakiku berhenti
di depan pintu. Jantungku memompa darah dengan cepat ke seluruh tubuh. Agusku yang paling
kucintai bermesra dengan wanita yang bukan diriku di meja makan. Aku marah dan segera
berlari ke arah mereka.

“Siapa kamu!?” tanyaku membentak pada wanita berambut lurus sebahu itu “Siapa kamu!!”
tanyaku lagi dengan nada yang lebih keras. Aku menoleh ke arahmu “Agus! Siapa wanita itu!?”
tanyaku dengan amarah yang kian memuncak karena tidak ada satu jawabanpun yang keluar dari
mulutmu dan mulut wanita itu. Aku menjerit sekuat tenagaku dan menjambak rambut wanita itu.
Tetapi wanita itu hanya diam, begitupun kamu yang sama diamnya tanpa melakukan apa-apa.
Aku semakin menjadi untuk menjerit dan memukul apapun yang ada di sekitarku.

Hingga akhirnya, lengan seorang anak gadis datang menyentuhku, menenangkanku, dan
menyadarkanku untuk kembali ke dunia nyata dari dunia delusiku bahwa kamu sudah
meninggalkanku dan anakmu demi wanita lain.