Anda di halaman 1dari 6

773 Jenis dan komposisi plankton pada budidaya ...

(Machluddin Amin)

JENIS DAN KOMPOSISI PL ANKTON PADA BUDIDAYA POLIKULTUR UDANG


WINDU, UDANG VANAME, IKAN BANDENG, DAN RUMPUT LAUT DI TAMBAK
Machluddin Amin dan Hidayat Suryanto Suwoyo
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selatan
E-mail: litkanta@indosat.net.id

ABSTRAK

Penelitian bertujuan mengetahui kondisi plankton pada budidaya polikultur udang windu, udang vaname,
ikan bandeng, dan rumput laut di tambak telah dilakukan dengan menggunakan tambak ukuran 0,5 ha
sebanyak 6 petak. Sebagai perlakuan yang dicobakan adalah polikultur udang windu, udang vaname, ikan
bandeng, dan rumput laut yaitu: A = (udang windu 10.000 ekor/ha + bandeng 1.200 ekor/ha + rumput
laut 2.000 kg/ha; B = (udang vaname 10.000 ekor/ha + bandeng 1.200 ekor/ha + rumput laut 2.000 kg/ha;
dan C = (udang windu 5.000 ekor/ha + udang vaname 5.000 ekor/ha + bandeng 1.200 ekor/ha + rumput
laut 2.000 kg/ha). Masing-masing perlakuan dengan 2 ulangan dan waktu pemeliharaan berlangsung selama
3 bulan. Pengamatan plankton dilakukan setiap 2 minggu dengan menyaring contoh air tambak sebanyak
100 L dengan plankton net kemudian dipadatkan menjadi 100 mL untuk dianalisis jumlah dan jenisnya
dengan bantuan mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan jumlah jenis dan kelimpahan plankton tertinggi
diperoleh pada perlakuan B yakni 14 genera dan 1.464 ind./L.

KATA KUNCI: jenis, komposisi, plankton, polikultur, tambak

PENDAHULUAN
Polikultur merupakan metode budidaya yang digunakan untuk pemeliharaan banyak komoditi
dalam satu lahan. Dengan sistem ini diperoleh manfaat yaitu tingkat produktivitas lahan yang tinggi.
Pada prinsipnya terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan komoditi yang harus diatur sehingga
tidak terjadi persaingan dalam memperoleh pakannya. Selain itu, setiap komoditi peliharaan
diharapkan dapat saling memanfaatkan sehingga terjadi sirkulasi dalam satu lokasi budidaya.
Penerapan teknik budidaya secara polikultur diharapkan dapat meningkatkan daya dukung lahan
tambak pada keadaan tertentu, di mana pertumbuhan komoditi peliharaan akan tetap stabil. Menurut
Mangampa & Pantjara (2009), keuntungan budidaya polikultur adalah adanya kemungkinan untuk
memperoleh lebih dari satu komoditas dan terlaksananya pemanfaatan ruang secara optimal,
peningkatan daya dukung lahan, perbaikan kualitas lingkungan yang dapat mengurangi risiko
kegagalan panen dibanding sistem budidaya monokultur, dan peningkatan nilai tambah bagi
pembudidaya tambak.
Peranan plankton di perairan sangat penting karena plankton merupakan pakan alami bagi ikan
kecil dan hewan air lainnya. Plankton merupakan mata rantai utama dalam rantai makanan di perairan
plankton dalam suatu perairan mempunyai peranan yang sangat penting. Keberadaan plankton di
tambak di samping berfungsi sebagai pakan udang dapat pula berperan sebagai salah satu dari
parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Menurut Dawes (1981), salah
satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar mata rantai pakan di perairan. Oleh
karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah
berada dalam keadaan subur atau tidak. Raynolds et al. (1984). Mengemukakan bahwa kelimpahan
plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik
fisiologinya.
Komposisi dan kelimpahan plankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons
terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia maupun biologi (Raynolds et al.,
1984). Plankton terdiri atas fitoplankton yang merupakan produsen utama dan dapat menghasilkan
makanannya sendiri dan merupakan makanan bagi hewan seperti zoo, ikan, udang melalui proses
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011 774

fotosintesis dan zooplankton yang bersifat hewani dan beraneka ragam. Fitoplankton adalah makanan
yang terpenting dalam perikanan darat yang merupakan makanan primer. Suatu perairan dikatakan
subur apabila di dalamnya banyak terdapat produsen primer yaitu fitoplankton baik kuantitas maupun
kualitasnya.
BAHAN DAN METODE
Penelitian menggunakan tambak ukuran 0,5 ha sebanyak 6 petak. Perlakuan yang dicobakan
adalah polikultur udang windu, udang vaname, bandeng, dan rumput laut, di tambak yaitu: perlakuan
A = (udang windu 10.000 ekor/ha + bandeng 1.200 ekor/ha + rumput laut 2.000 kg/ha), perlakuan
B = (udang vaname 10.000 ekor/ha + bandeng 1.200 ekor/ha + rumput laut 2.000 kg/ha), dan
perlakuan C = (udang windu 5.000 ekor/ha + udang vaname 5.000 ekor/ha + bandeng 1.200 ekor/
ha + rumput laut 2.000 kg/ha). Masing-masing perlakuan dengan 2 ulangan dan waktu pemeliharaan
selama 3 bulan. Udang windu dan udang vaname yang ditebar masing-masing dengan bobot 0,104
dan 0,129 g/ekor. Sedangkan bandeng yang ditebar dengan ukuran 120-150 g/ekor.
Pengamatan plankton dilakukan sebanyak 5 kali dengan menyaring air contoh dari masing-masing
unit tambak perlakuan sebanyak 100 L dengan plankton No. 25 kemudian dipadatkan menjadi 100
mL untuk dianalisis dengan menggunakan alat bantu SRC (Sedgwick rafter counter cell) yang dilihat di
bawah mikroskop. Identifikasi plankton dilakukan sampai tingkat genera dengan berpedoman kepada
buku Yamaji (1976) dan kelimpahan plankton dihitung berdasarkan rumus APHA (2005):

T P V 1
N x x x
L P v W

di mana :
N = kelimpahan plankton (ind./L)
T = jumlah kotak dalam SRC (1000)
L = jumlah kotak dalam satu lapang pandang
P = jumlah plankton yang teramati
p = jumlah kotak SRC yang diamati
V = volume air dalam botol sampel
v = volume air dalam kotak SRC
W = volume air tambak yang tersaring
Indeks keragaman plankton dihitung berdasarkan rumus Shanon Wiever (Wilhm & Dorris in
Masson, 1981):

n
H'  -  pi In pi
i1

di mana:
H = Indeks keanekaragaman Shanon-Wiever
H’ maks = ln S
S = jumlah spesies
Indeks dominansi dihitung berdasarkan Indeks Simpson in Legendre Legendre (1983) sebagai
berikut:

C   (ni/N)2
775 Jenis dan komposisi plankton pada budidaya ... (Machluddin Amin)

di mana:
C = indeks dominansi Simpson
Ni = jumlah individu jenis ke-1
N = jumlah total individu
Pengamatan kualitas air meliputi: salinitas, pH, oksigen terlarut, suhu dilakukan setiap 3 hari dan
bahan organik total, NH4-N, NO3-N, PO4=P dan N)2-N dilakukan setiap 2 minggu.
HASIL DAN BAHASAN

Jumlah Jenis dan Individu Plankton


Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah jenis (genera) plankton yang diperoleh selama
penelitian di tambak adalah 21 individu terdiri atas fitoplankton 10 genera dan zooplankton 11
genera. (Lampiran 1). Jumlah genera plankton yang diperoleh tertinggi pada perlakuan B (14 genera)
menyusul perlakuan A (12 genera) dan perlakuan C (11 genera) (Tabel 1). Kelimpahan individu plankton
tertinggi diperoleh pada perlakuan B (1.464 ind./L) menyusul perlakuan A (247 ind./L) dan perlakuan
C (186 ind./L) (Tabel 1). Kelimpahan individu plankton, indeks biologi selama penelitian disajikan
pada Tabel 1. Pada Tabel 1 menunjukkan rataan jumlah genera plankton tertinggi diperoleh pada
stasiun B yaitu 14 genera menyusul perlakuan A dan C masing-masing 12 dan 11 genera. Berdasarkan
data ini menunjukkan bahwa penambahan jumlah jenis plankton di setiap stasiun sekaligus diikuti
pertambahan jumlah individunya.
Komposisi Jenis Plankton
Komposisi plankton terdiri atas fitoplankton yang memiliki 10 genera dan zooplankton memiliki
2 genera. Fitoplankton yang diperoleh didominasi oleh kelas Bacillariophyceae sebanyak 6 genera,
menyusul masing-masing kelas Dinoflagellata 2 genera, kelas Cyanophyceae, dan Chlorophyceae
masing-masing 1 genera (Lampiran 1). Dominasi fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae dibanding
dengan kelas lainnya di tambak juga didapatkan oleh Amin (2007); Amin & Mansyur (2008). Hal ini
menunjukkan bahwa kelas Bacillariophyceae mempunyai kemampuan yang lebih tinggi untuk
berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan tambak dibanding dengan kelas lainnya. Menurut
Sachlan (1982), bahwa fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae ini bersifat kosmopolit dan cepat
berkembang.
Indeks Biologi Plankton
Hasil indeks keanekaragaman (E) yang diperoleh selama penelitian menunjukkan plankton pada
perlakuan A dan B berada pada kondisi labil masing-masing nilai 0,933 dan 0,948 serta perlakuan C
berada kondisi sedang yaitu dengan nilai 1,238 (Tabel 1). Indeks keseragaman (E) yang diperoleh
pada semua perlakuan rata-rata cenderung mendekati nilai satu (1) berarti keseragaman plankton
antar genera tinggi, artinya kekayaan individu yang dimiliki masing-masing genera tidak jauh berbeda.

Tabel 1. Jumlah, jenis, dan indeks biologi


plankton selama penelitian

Perlakuan
Parameter
A B C
Jumlah jenis (genera) 12 14 11
Jumlah individu Iind./L) 247 1.464 186
Indeks biologi
Indeks keragaman 0,933 0,948 1,238
Indeks keseragaman 0,661 0,6450 0,8323
Indeks dominansi 0,5263 0,5267 0,2895
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011 776

Menurut Lind (1979) dalam Basmi (2000), bila indeks keseragaman mendekati satu menunjukkan
jumlah individu pada masing-masing genera relatif sama, perbedaannya tidak menyolok. Kisaran
indeks dominasi plankton yang diperoleh selama penelitian yaitu perlakuan A = 0,5263; perlakuan
B = 0,5267; dan perlakuan C = 0,2895 (Tabel 1). Berdasarkan nilai pada Tabel 1 tersebut menunjukkan
bahwa perlakuan A dan B menunjukkan dalam struktur komunitas ditemukan adanya genera yang
mendominasi genera lainnya. Hal ini mencerminkan sruktur komunitas dalam keadaan labil.
Berdasarkan Lampiran 1 pada semua perlakuan menunjukkan Genera Chaetoceros dan Oscillatoria
memiliki jumlah individu yang lebih tinggi dibanding dengan genera lainnya. Selanjutnya pada
perlakuan C diperoleh indeks dominansi mendekati 0 yaitu 0,2890 yang menunjukkan komunitas
plankton agak stabil (Basmi, 2000).
Kualitas Air
Kualitas air mempunyai peranan penting kaena merupakan salah satu faktor pendukung untuk
pertumbuhan dan reproduksi fitoplankton suatu perairan. Hasil pengamatan kualitas air selama
penelitian tertera pada Tabel 2. Suhu air yang teramati selama penelitian untuk semua perlakuan
berkisar 27,2°C-31,0°C. Berdasarkan data tersebut menunjukkan secara keseluruhan semua perlakuan
suhu airnya masih layak untuk mendukung kehidupan fitoplankton. Menurut Effendi (2000), bahwa
kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton adalah 20°C-30°C. Kandungan oksigen untuk
semua perlakuan adalah berkisar 2,0-5,9 mg/L masih layak untuk pertumbuhan plankton.
Hasil pengamatan pH air media percobaan selama penelitian untuk semua perlakuan berkisar
7,5-8,58 masih layak untuk untuk pertumbuhan fitoplankton sesuai yang dikemukakan oleh Boyd
(1990) bahwa kebanyak perairan alami adalah pH 5-10 dengan frekuensi 6,5-9,0. Selanjutnya hasil
pengamatan salinitas pada semua perlakuan relatif mempunyai nilai yang sama di mana fitoplankton
masih dapat bertahan yaitu 43-57 ppt. Kisaran salinias yang agak tinggi disebabkan penelitian pada
saat musim kemarau. Namun demikian menurut Sachlan (1982), bahwa nilai salinitas di atas 20 ppt
memungkinkan fitoplankton dapat bertahan hidup, memperbanyak diri, dan dapat aktif melakukan
proses fotosintesis.
Unsur hara nitrogen dan fosfor merupakan unsur hara utama yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
fitoplankton, sehingga merupakan faktor pembatas bagi fitoplankton. Unsur hara nitrogen yang
dibutuhkan fitoplankton adalah dalam bentuk N-NO 3 dan NH4, sedangkan fosfor dalam bentuk
ortofosfat (PO4-P). Konsentrasi nitrat yang diperoleh pada semua perlakuan adalah rendah yakni
berkisar 0,0001-1,000 mg/L. Menurut Mackentum (1969), untuk pertumbuhan optimal fitoplankton

Tabel 2. Kisaran kualitas air pada masing-masing perlakuan


selama penelitian

Perlakuan
Parameter
A B C
Suhu (°C) 27,2-30,3 27,2-30,1 27,2-31,0
DO (mg/L) 2,5-5,4 2,0-4,4 2,1-5,9
pH 7,5-8,5 7,7-8,7 7,3-8,8
Salinitas (ppt) 43-57 43-57 44-57
Alkalinitas (mg/L) 117,6-183,68 125,44-189,42 120,96-183,68
BOT (mg/L) 13,60-59,38 15,42-52,44 11,17-59,00
NH3 (mg/L) 0,0066-0,0745 0,0063-0,2276 0,0107-0,2216
NO2 (mg/L) 0,1300-0,1820 0,0145-0,0213 0,0307-0,2483
NO3 (mg/L) 0,0009-0,7000 0,0008-0,5000 0,0001-1,0000
Fe (mg/L) 0,0012-0,2950 0,0013-0,4690 0,0016-0,9120
SO4 (mg/L) 346,54-977,15 349,38-1.005,3 340,08-1.039,9
PO4 (mg/L) 0,1060 0,0336-7,6855 0,0426-8,2671
777 Jenis dan komposisi plankton pada budidaya ... (Machluddin Amin)

memerlukan kandungan nitrat 0,9-3,5 mg/L. Rendahnya kandungan nitrat pada semua pererlakuan
diduga di samping dimanfaatkan oleh rumput laut yang terdapat pada semua perlakuan juga oleh
fitoplankton itu sendiri. Selanjutnya kandungan fosfat yang diperoleh selama penelitian memiliki
kisaran yang cukup tinggi yaitu 0,0336-8,2671 mg/L. Menurut Bruno et al., 1979 dalam Widjaja et al.
(1994), pertumbuhan optimal fitoplankton dibutuhkan kandungan ortofosfat 0,27-5,51 mg/L.
KESIMPUL AN DAN SARAN
1. Jumlah jenis dan kelimpahan individu plankton tertinggi diperoleh pada perlakuan B, menyusul
perlakuan A dan C.
2. Fitoplankton yang diperoleh didominasi oleh kelas Bacillariophyceae, didominasi oleh kelas
Crustacea.
3. Keragaman plankton pada perlakuan A dan B tidak stabil, sedangkan perlakuan C tergolong
sedang.
4. Keseragaman antar spesies plankton merata untuk semua perlakuan dan tidak terdapat spesies
yang secara ekstrim mendominasi spesies lainnya.
DAFTAR ACUAN
Amin, M. 2007. Pengaruh Pemupukan Sususlan (Urea dan SP36) Terhadap Kompsisi dan Kelipahan
Plankton pada Budidaya Udang (Litopenaenus vannamei) di Tambak. Prosiding Seminar Nasional Kelautan
III. Universitas Hang-Tuah, hlm. 31-34.
Amin, M. & Mansyur, A. 2008. Pengarh dosis pemberian pakan pada budidaya udang Vannamei
(Litopenaeus vannamei) Pola Semi Intensif di Tambak Terhadap Komposisi dan Kelimpahan Plankton.
Prosiding Seminar Nasional Perikanan dan Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas
Brawijaya bekerja sama dengan Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan dan Balai Besar
Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Malang. I-90-95.
APHA (American Public Health Association). 2005. Standard Methods For Examination of Water and
Wastewater. APHA, 800 I Street, New York, p.10-167.
Basmi, H.J. 2000. Planktonologi: Sebagai indicator kualitas perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
kelauan, Institut Pertanian Bogor, 60 hlm.
Boyd, C.E. 1990. Water quality in pond for aquaculture. Alabama Agricultural Experiment Station
Auburn University. Birmingham Publishing Co. Alabama, 482 pp.
Effendi, H. 2000. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumberdaya lingkungan perairan. Jurusan
Sumberdaya Perairan dan Kelautan. IPB. Bogor, 258 hlm.
Legendre, L. & Legende, P. 1983. Numerial Ecology. Elsvier Scientific Publ. Co. New York. p. 419.
Mackenthum, K.M. 1969. The practice of water pollution biology. United State Departement if inerior,
Federal Water Pollution Control Administration, Division of Technical Support., p. 278.
Mangampa, M. & Pantjara, B. 2009. Polikultur udang windu (Penaeus monodon), rumput laut (Gracilaria
verucosa), dan bandeng (Chanos chanos Forskal) di lahan marginal. Prosiding Seminar dan Konferensi
Nasional 2008. Bidang Budidaya Perairan. Universitas Brawijaya Malang. ISSN No. 978-979-25-
8023-5.
Dawes, C.J. 1981. Marine Botany. A Wiley Interscience Publ., 628 pp.
Masson, C.V. , 1981. Biology of Water Pollution. Longman Scientificand Technical Longman Singapore
PublisherPtc. Ltd. Singapore.
Newell, G.E. & Newell, R.C. 1977. Marine Plankton a Practical Guide 5th. Edition. Hutchinson of
London, 244 pp.
Odum, E.P. 1971. Fundamental Ecology. Third Edition. W.B. Saunders, Co. Philadelphia, London. p.
574.
Raynolds, C.S., Tundisi, J.G., & Hino, K. 1984. Observation on a Metalimnetic Phytoplankton Population
in A Stably Stratiffied Tropical Lake. Arch. Hydrobyol. Argentina, 97: 7-17.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Correspondence Course Centre.Direktorat Jenderal Perikanan,
Departemen Pertanian. Jakarta, 57 hlm.
Stirn, J. 1981. Manual methodsin Aquatic Environment Research. Part 8. Ecological Assesment of
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011 778

Lampiran 1. Komposisi jenis plankton yang


diperoleh selama penelitian

Perlakuan
Jenis (genera)
A B C
Fitoplankton Chaetoceros X - -
Coscinodiscus X X X
Gleotrichia - X -
Gymnodinium X - -
Helamiaulus - - X
Navicula X X -
Oscillatoria X X X
Pleurosigma - X X
Prorocentrum X - -
Protopridinium X X X
Zooplankton Acartia X X X
Apocyclops - X X
Brachoinus X X X
Copepoda X X X
Microstella - X X
Naupli Copepoda X X X
Nitocra X X X
Oithona X X X
Temora X X X
Tortanus X X X
Larva Moluska X X X
Keterangan: X = ada, - = tidak ada