Anda di halaman 1dari 365

Prediksi UKMPPD

Agustus 2017
51
Perempuan berusia 40 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan badan terasa lemas sejak 2 jam

lalu. Berat badan pasien bertambah sejak 3 bulan terakhir. Pasien sudah tidak menstruasi sejak 4

bulan, sudah periksa kehamilan dengan hasil negatif. Pasien sementara mengonsumsi obat

prednison yang dibeli sendiri dengan dosis 3 x 1 tab selama 2 bulan. Pada pemeriksaan fisik

didapatkan pasien tampak lemah, kesadaran compos mentis, obesitas, tekanan darah 160/100
49
mmHg, nadi 110 kali/mnt, napas 20 kali/mnt, suhu 36,8C, moonface, striae di abdomen dan

hiperpigmentasi. Hasil laboratorium GDP: 180mg/dl. Apa diagnosis pasien ini?

A. Cushing’s syndrome

B. DM tipe 2

C. Addison’s disease

D. Hiperaldosteronisme sekunder

E. Hiperaldosteronisme primer
Pembahasan
• Perempuan, 40 tahun, keluhan badan terasa lemas sejak 2
jam lalu
• Berat badan pasien bertambah sejak 3 bulan terakhir
• Tidak menstruasi sejak 4 bulan, kehamilan dengan hasil
negatif
• Konsumsi obat prednison yang dibeli sendiri dengan dosis 3
x 1 tab selama 2 bulan
• PF : tampak lemah, kesadaran compos mentis, obesitas,
tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 110 kali/mnt, napas 20
kali/mnt, suhu 36,8C, moonface, striae di abdomen dan
hiperpigmentasi
• Hasil laboratorium GDP: 180mg/dl
• Diagnosis pasien ini?
Kelebihan hormon glukokortikoid
Cushing
Cushing disease
syndrome
Kelebihan Kelenjar hipofisis
glukokortikoid mengeluarkan ACTH
kronik yang terlalu banyak

Riw pemakaian
Tumor hipofisis
steroid lama
Gejala Cushing
Syndrome
Pemeriksaan
Cushing
Syndrome
A. Cushing’s syndrome

B. DM tipe 2 => polifagi, polidipsi, poliuri, penurunan BB, GDP>126,


GDS>200, HbA1c >7 %

C. Addison’s disease => malaise, fatigue, anorexia, penurunan BB,


kelemahan tubuh

D. Hiperaldosteronisme sekunder => adenoma adrenal : hipertensi


essensial,

E. Hiperaldosteronisme primer => kerusakan juxtaglomerolus ginal


52
Seorang pasien mengeluh sering nyeri pada perutnya. Pasien memiliki
kebiasaan minum jamu dan mengonsumsi antasida. Hasil pemeriksaan sekarang
saat ini menunjukkan refleks patella kedua kaki menurun. Gangguan
elektrolit yang menyebabkan keadaan pasien adalah ...

A. Hiperkalsemia

B. Hipermagnesia

C. Hipokalsemia

D. Hipomagnesia

E. Hiperkalemia
PEMBAHASAN
• Sering nyeri perut
• Kebiasaan minum jamu dan ANTASIDA
• Refleks Patella kedua kaki ↘

• Gangguan elektrolit penyebab ?


ELEKTROLIT
Magnesium

• Kadar magnesium total pd orang Dewasa : 25mg

• 50% dalam tulang

• 50% dalam sel elektrolit intrasel no.2 terbanyak

• ±1% di Extracellular Space

• Intra-Vascular :
• Pembuluh darah ----- > pem. Lab (1.5 – 2.5 mEq/L)
• Pembuluh limfe

• Interstitial Space
Magnesium

• Dibutuhkan sebagai sumber energi, metabolisme,


sintesis protein, dan berperan dalam fungsi
NEUROMUSKULAR bersama kalsium.

• Ketidakseimbangan dapat terjadi pada keadaan :


• Gangguan eksresi (CKD, diare kronis, dll.)
• Perubahan ingesti (asupan ⬆ / ⬇ --- > ANTASIDA )

• Merupakan salah satu senyawa penyusun antasida 


MgOH
Kadar Mg2+ Gejala Klinis
Eritema, mual muntah, QT
1.5 – 4.5 memanjang, hipotensi, sedasi,
HIPOREFLEKS, HIPOTONIA
Muscle paralysis, hipoventilasi,
5.0 – 7.0 stupor, gangguan konduksi AV,
aritmia ventrikuler
Koma, depresi napas, complete
> 7.0
heart block, asistol
• Kalsium berperan dalam menjaga dan
mengatur potensial membrane dari
neuron.

• Fungsi regulasi ini terjadi lewat keluar-


masuknya Ca2+ lewat kanal kalsium pada
membran.

• Magnesium merupakan antagonis dari


kalsium.

• Makin banyak kadar Mg2+, kanal kalsium


dihambat, dan impuls listrik dari neuron
tak berjalan maksimalHipo/Arefleks
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
A.Hiperkalsemia  Refleks memang menurun, tapi
biasa dikaitkan dengan fungsi hormone PTH, fosfat,
osteoporosis, penunjang X-Foto
B.Hipermagnesia
C.Hipokalsemia  Refleks meningkat, Chovstek +,
Trosseau +, biasanya ada info ttg PTH,
D.Hipomagnesia  Refleks meningkat, Chovstek +,
Trosseau +, prolonged diarrhea
E.Hiperkalemia didukung info ttg aritmia, CKD,
asidosis
53
Anak usia 9 tahun datang dengan keluhan penurunan berat badan sejak 1bulan,
walaupun porsi makannya banyak Pasien juga sering buang air kecil dan sering merasa
haus. Keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat serupa. Pemeriksaan lab
menunjukkan GDS 200 mg/dL, G2PP 450 mg/dL, dan pH 7,20. Diagnosis pada pasien
ini adalah ...
A. Diabetes insipidus
B. Ketoasidosis diabetikum
C. DM Tipe I
D. DM Tipe II
E. Hiperglikemik hiperosmolar
PEMBAHASAN
• Anak 9 th
• Penurunan BB 1bln
• Makan banyak (polifagi), sering BAK (polyuria), sering
haus (polidipsi)
• Tak ada riwayat keluarga sakit serupa
• Lab : GDS 200 mg/dL, G2PP 450 mg/dL, ph 7.20

• Diagnosis ?
Diabetes Melitus

penyakit metabolik dengan


karakteristik hiperglikemia yang
terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua-
duanya
Klasifikasi etiologi Diabetes Melitus

Disadur dari Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia, 2015.
Kriteria Diagnosis DM
Pemeriksaan glukosa plasma ≥126 mg/dl
atau
Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2 jam setelah
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa
75 gram
atau
Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl
dengan keluhan klasik
atau
Pemeriksaa hba1c ≥6,5% dengan menggunakan metode
yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin
Standarization Program (NGSP)
Disadur dari Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia, 2015.
Keluhan klasik +
GDS 200 mg/dL
( GD2PP 450 mg/dL )

Diagnosis : Diabetes Melitus


Usia mudaDM1
Usia tua/ObesDM2

Disadur dari Panduan Praktik Klinik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan


Kesehatan Primer, 2014.
Ketoasidosis Diabetikum
• Komplikasi dari DM, seringkali pada DM1
• Kondisi kurangnya insulin (absolut/relative) yang
ditandai keadaan ketoasidosis, hiperglikemia, dan
ketonuria
• Gejala klinis :
Napas Kussmaul, bau aseton, lemah badan, syok
• Dx :
• Glukosa >250mg/dL
• pH arteri < 7.3
• HCO3 < 15 mEq/L
• Ketosis
Hyperglycemic Hyperosmolar State
• Komplikasi DM, sering pada DM2
• Ditandai oleh hiperglikemia berat, hiperosmolaritas, dan
dehidrasi, TANPA adanya ketoasidosis
• Gejala klinis :
Tanda-tanda dehidrasi berat, turgor buruk, akral dingin,
nadi lemah
• Dx :
• Glukosa > 600 mg/dL
• Osmolaritas serum efektif ≥ 320 mOsm/kg
• pH arteri ≥ 7.3
• HCO3 ≥ 15 mEq/L
• Keton -/minimal
PILIHAN LAIN
A. Diabetes Insipidus  gguan hormone ADH, poliuri gejala utama, tidak
focus pada kadar glukosa

B. Ketoasidosis Diabetikum  BENAR

C. DM Tipe 1  Memenuhi kriteria tapi kurang tepat

D. DM Tipe 2  Sering pada usia tua, jarang pada anak

E. Hiperglikemik Hiperosmolar  dehidrasi gjala utama, tidak ada asidosis


54
Anak laki-laki usia 6 tahun dikeluhkan oleh ibunya sering mengalami patah
tulang tanpa didahului oleh trauma. Apakah yang mendasari keluhan
pasien di atas ?

A. Defisiensi kalsium

B. Difisiensi vitamin D

C. Defisiensi besi

D. Defisiensi kalium

E. Defisiensi vitamin B12


PEMBAHASAN
• Anak laki2 6 tahun
• Sering patah tulang TANPA trauma

• Dasar penyebab keluhan ?


Defisiensi Vitamin D

• Etio : kurang paparan


matahari, malabsorpsi,
kurangnya kandungan
vit. D dalam ASI (faktor
ibu)
• Pada anak  Rickets
• Pada dewasa
 osteomalasia
Tanda dan Gejala
• Merupakan silent disease
• Tanda bowing pada kaki (anak)
• Nyeri tulang pada dewasa
• Tulang mudah patah (fraktur patologis)
Tanda dan Gejala (Rickets)

• Rachitic rosary –
penonjolan pada
costochondral junction
• Craniotabes – tengkorak
lunak
Terapi
• Anak <1 th
– Vit. D2 / D3 ---- 2000 IU/hari ; slama 6 minggu atau
– Vit. D2 / D3 ---- 50.000 IU/minggu ; slama 6 minggu
*bila kadar serum 25(OH) D sudah >30ng/mL
 maintenance 400-1000 IU/hari
• Anak 1-18 th
– Vit. D2 / D3 ---- 2000 IU/hari ; MINIMAL 6 minggu atau
– Vit. D2 / D3 ---- 50.000 IU/minggu ; MINIMAL 6 minggu
*bila kadar serum 25(OH) D sudah >30ng/mL
 maintenance 600-1000 IU/hari
• Dewasa
– Vit. D2 / D3 ---- 50.000 IU/minggu ; slama 8 minggu atau
– Vit. D2 / D3 ---- 6.000 IU/hari ; slama 8 minggu
*bila kadar serum 25(OH) D sudah >30ng/mL
 maintenance 1500-2000 IU/hari
PILIHAN LAIN
A. Defisiensi kalsium – kelemahan tulang, hiperrefleks

B. Defisiensi vitamin D – BENAR

C. Defisiensi besi --- keluhan lemah badan, anemis

D. Defisiensi kalium --- lemah badan, disritmia, muscle


weakness

E. Defisiensi vit. B12 --- anemia megaloblastic, penunjang


blood smear
55
Anak perempuan usia 11 tahun dikatakan oleh ibunya mengalami pertumbuhan

yang terhambat, tidak ada tanda pubertas, dada tampak melebar, dan jari-jari

tampak pendek. Apa yang kemungkinan terjadi pada pasien ini ?

A. Sindrom Down

B. Sindrom Klinefelter

C. Sindrom Turner

D. Delayed puberty

E. Sindrom Kellan
PEMBAHASAN

• Anak perempuan 11 tahun


• Pertumbuhan terhambat
• Tanda pubertas –
• Dada melebar
• Jari jari pendek

• Diagnosis ?
Sindrom Turner
• Kelainan kromosom yang mengganggu perkembangan
perempuan  45 XO

• Tanda khasnya :
Tubuh pendek, hilangnya fungsi ovarium,
keterlambatan/tak ada pubertas, infertile

• Tanda / gejala lain :


Webbed neck, low hairline pada punggung leher,
limfedema pada ekstremitas, gangguan skeletal, ginjal,
atau katup/pembuluh jantung.
45 XO
PILIHAN LAIN
A. Sindrom Down  kelainan kromosom 21, IQ rendah

B. Sindrom Klinefelter  infertilitas pada laki-laki


(ginekomastia +)

C. Sindrom Turner  BENAR

D. Delayed of puberty  batas usia pd perempuan : 12th

E. Sindrom Kallman  gguan pubertas tipe hypogonadotropic


hypogonadism ; ada gguan penciuman (anosmia/hyposmia)
56
Seorang wanita 32 tahun, hamil 27-28 minggu, mengeluh perutnya terasa
mulas-mulas. Ia sudah tidak merasakan gerakan janin sejak 1 minggu lalu. Pada
pemeriksaan, didapatkan TFU setinggi umbilikus dan tidak ditemukan DJJ. Pada
USG tampak janin tunggal intrauterin. Apakah diagnosis pada kasus ini ?

A. Missed abortion

B. Abortus insipien

C. IUGR

D. IUFD

E. Kehamilan ektopik terganggu


Pembahasan
• Wanita 32 tahun hamil 27-28 minggu
– Perut terasa mulas-mulas
– Tidak merasakan gerakan janin sejak 1 minggu lalu
– TFU setinggi umbilikus
– DJJ (-)
• USG  janin tunggal intrauterin

• Diagnosis?
Intrauterine Fetal Death
(IUFD)

• Definisi: kematian janin pada usia kehamilan


>20 minggu
• Gejala & tanda:
– Tidak ada gerakan janin
– DJJ tidak ada
– USG  tidak ada gerakan jantung
Etiologi IUFD
Maternal Janin
– Kehamilan >42 minggu • Kehamilan kembar
– Usia ibu tua • IUGR
– DM • Kelainan kongenital atau
– SLE genetik
– Antiphospholipid syndrome • Infeksi
(APS)
• Hydrops fetalis
– Infeksi
– Hipertensi, preeklampsia, Plasenta
eklampsia • Abrupsio plasenta, trauma
– Hemoglobinopati, penyakit plasenta
Rh, trombofilia • Vasa previa
– Ruptur uterus • KPD
– Ibu mengalami trauma atau • Insufisiensi plasenta
kematian
• Perdarahan fetomaternal
IUFD
• Komplikasi:
– 3-4 minggu  fibrinogen menurun  koagulopati
(DIC)
• Tatalaksana: Induksi persalinan untuk
mengeluarkan hasil konsepsi
Pilihan Lain
• Missed abortion
– Kematian janin usia <20 minggu yang tidak disadari
– Nyeri perut/kontraksi (-); perdarahan (-); OUE
tertutup; ekspulsi jaringan (-)

• Abortus insipien
– Kematian janin usia <20 minggu
– Nyeri perut/kontraksi (+); perdarahan (+); OUE
terbuka; ekspulsi jaringan (-)
Pilihan Lain
• Intrauterine Growth Restriction/IUGR
– Pertumbuhan janin terhambat, sehingga tidak mencapai
potensi genetiknya
– Penyebab: hipertensi, hemoglobinopati, merokok,
penggunaan zat terlarang, penyakit autoimun, KEP, dll
• Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
– Janin tidak berimplantasi di endometrium
– Gejala
• Nyeri perut
• Perdarahan pervaginam
• Terdapat cairan di kavum douglas
• Nyeri goyang portio
A. Missed abortion

B. Abortus insipien

C. IUGR

D. IUFD

E. Kehamilan ektopik terganggu


57
Wanita 28 tahun, G2P1A0 hamil 38 minggu, mengeluh keluar cairan jernih dari jalan
lahir yang banyak dan tidak bisa ditahan sejak 4 jam lalu. Kadang-kadang, pasien merasa
mules. Pada pemeriksaan dalam, didapatkan pembukaan 4 cm, teraba tali pusat yang
berdenyut, dan presentasi kaki. Penyulit yang dapat timbul adalah ....

A. Atonia uteri

B. Inversio uteri

C. Prolaps tali pusat

D. Infeksi uterus

E. Ruptur uterus
Pembahasan
• Wanita 28 tahun, G2P1A0 hamil 38 minggu
– Keluar cairan jernih dari jalan lahir yang banyak
dan tidak bisa ditahan sejak 4 jam lalu
– Kadang-kadang pasien merasa mules
• VT  pembukaan 4 cm, teraba tali pusat yang
berdenyut dan presentasi kaki
• Penyulit?
Prolaps Tali Pusat
• Tali pusat keluar dari serviks ke vagina
• Dapat terjadi pada kasus pecah ketuban dengan
presentasi tali pusat di depan presentasi fetus.
• Risiko meningkat pada malpresentasi fetal,
kelahiran prematur, dan wanita multipara.
• Tatalaksana:
– Bila DJJ tidak normal atau membran ruptur: SC
– Membran intak + DJJ normal: tereduksi secara spontan
maupun direduksi secara manual pada permulaan
persalinan.
Pilihan Lain
• Atonia uteri
– Perdarahan pervaginam, uterus lembek & tidak kontraksi
• Inversio uteri
– Nyeri hebat, fundus tidak teraba, terdapat massa di vagina
• Infeksi uterus
– Faktor risiko: post SC atau operasi di daerah uterus
– Gejala: demam + nyeri perut bawah + subinvolusi uterus +
lokia berbau
• Ruptur uterus
– Faktor risiko: bekas SC atau pendorongan fundus ketika
persalinan.
– Gejala: kontraksi uterus hilang, nyeri perut hebat, perdarahan
pervaginam
A. Atonia uteri

B. Inversio uteri

C. Prolaps tali pusat

D. Infeksi uterus

E. Ruptur uterus
58
Wanita 20 tahun G1P0A0 usia kehamilan 12 minggu datang ke dokter untuk
memeriksa kesehatan. Dari pemeriksaan didapatkan IgM toksoplasma reaktif,
IgG toksoplasma non reaktif. Diagnosis pada pasien adalah…

A. Infeksi toksoplasma akut

B. Infeksi toksoplasma laten

C. Infeksi toksoplasma sekunder

D. Reaktivasi infeksi toksoplasma

E. Infeksi toksoplasma masa lampau


Pembahasan
• Wanita 20 tahun G1P0A0 usia kehamilan 12
minggu
• IgM toxoplasma reaktif, IgG toxoplasma non
reaktif

• Diagnosis?
Toksoplasma kongenital
• Gejala (3C + 1M)
– Chorioretinitis = uveitis posterior
– Cerebral calcification
– Cephalus (hidrochepalus)
– Mental retardation
Diskusi

• Karena pada kasus ini IgM toksoplasma reaktif,


sementara IgG toksoplasma non-reaktif,
berarti pasien mangalami infeksi toksoplasma
akut.
A. Infeksi toksoplasma akut

B. Infeksi toksoplasma laten

C. Infeksi toksoplasma sekunder

D. Reaktivasi infeksi toksoplasma

E. Infeksi toksoplasma masa lampau


59
Wanita usia 30 tahun mengeluh nyeri pada payudara kanan sejak 2 hari lalu.
Pasien baru melahirkan 7 hari yang lalu. Pada pemeriksaan, didapatkan pasien
demam dengan suhu 38,9°C. Pada payudara kanan, ditemukan puting lecet,
teraba hangat, nyeri tekan, dan eritema. Diagnosis kasus ini adalah ....

A. Mastalgia

B. Mastitis

C. Inverted nipple

D. Febris puerpuralis

E. Abses payudara
Pembahasan
• Wanita usia 30 tahun
– Nyeri pada payudara kanan sejak 2 hari lalu
• Mastalgia ec ?
– Pasien baru melahirkan 7 hari yang lalu
– Suhu 38,9oC  tanda inflamasi
• Payudara kanan: puting lecet, teraba hangat, nyeri
tekan, dan eritema
– Luka  kemungkinan infeksi

• Diagnosis?
Permasalahan dalam masa laktasi
Mastalgia
• Nyeri pada payudara tanpa kelainan lain  Teruskan ASI
Mastitis
• Ada tanda inflamasi di payudara: edema, eritema, hangat, nyeri.
Kadang ditemukan luka. Jika tidak ditatalaksana, dapat menjadi
abses.
• Teruskan ASI, antibiotik Kloksasilin 4x500 ATAU
Eritromisin 2x250 (10-14 hari), antinyeri Parasetamol 3x500
mg.
Abses Payudara
• Muncul benjolan dengan pus, eritema, nyeri
•  Teruskan ASI, Rujuk untuk insisi dan drainase
Pilihan Lain
• Inverted nipple
– Puting tidak menonjol, malah retraksi ke dalam
– Dapat mengganggu laktasi
• Febris puepuralis
– Suhu >38°C dalam waktu 24 jam selama masa nifas
– Etiologi
• Infeksi jalan lahir, pelvis, uterus
• Mastitis
• Infeksi lainnya: sistem respirasi, dll
A. Mastalgia

B. Mastitis

C. Inverted nipple

D. Febris puepuralis

E. Abses payudara
60
Wanita 38 tahun G3P2A0 hamil 36 minggu, mengeluh nyeri perut sejak 2 jam lalu
setelah jatuh dari tangga. Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg,
nadi 98 kali/menit, napas 20 kali/menit, perut teraba keras dan kencang. Selain itu, dari
vagina keluar darah berwarna merah kehitaman. Apa diagnosis kasus ini?

A. Plasenta previa

B. Solutio plasenta

C. Vasa previa

D. Ketuban pecah dini

E. Inpartu
Pembahasan
• Wanita 38 tahun G3P2A0 hamil 36 minggu
– Nyeri perut sejak 2 jam lalu setelah jatuh dari tangga
• Riwayat trauma
• PF: tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 98x/menit,
napas 20x/menit, perut teraba keras dan kencang
• Dari vagina keluar darah berwarna merah
kehitaman
– Perdarahan antepartum (kehamilan tua)
• Diagnosis ?
Solusio Plasenta
Tanda dan Gejala Tatalaksana
• Atasi syok dan rujuk
• Perdarahan warna • Di RS sekunder
kehitaman – Syok atau perdarahan
hebat
• Nyeri perut • Pembukaan lengkap 
persalinan pervaginam
• Gejala anemia atau syok, • Pembukaan tidak
meskipun darah yang keluar lengkap  SC
– Tidak ada syok
sedikit • DJJ normal  SC
• Uterus tegang • DJJ tidak ada 
persalinan pervaginam
• DJJ: hilang, bradikardia atau atau SC
• DJJ abnormal 
hipotensi persalinan pervaginam,
jika tidak bisa SC
Solusio Plasenta vs Plasenta Previa
Solusio Plasenta vs Plasenta Previa

Solusio Plasenta Plasenta Previa

• Nyeri • Tidak nyeri


• Darah kehitaman • Darah merah segar
• Perdarahan sedikit, tapi • Perdarahan banyak, sesuai
tidak sesuai klinis klinis
• Dapat terjadi syok • Biasanya tidak sampai syok
• Kemungkinan janin tidak • Kemungkinan janin selamat
selamat
Pilihan Lain
• Vasa previa
– Pembuluh darah janin melintang di depan presentasi
janin, sehingga menghalangi jalan lahir
• KPD
– Pecahnya membran amnion tanpa diikuti tanda-tanda
inpartu (kontraksi dan pembukaan)
• Inpartu
– Tanda-tanda inpartu
• Kontraksi uterus yang teratur (min 2x/10 menit)
• Pembukaan dan penipisan serviks
• Keluar lendir + darah
Vasa Previa
A. Plasenta previa

B. Solutio plasenta

C. Vasa previa

D. KPD

E. Inpartu
61
Wanita 20 tahun G2P1A0 hamil 30 minggu datang dengan keluhan nyeri kepala, mata
kabur, dan nyeri ulu hati. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 180/110
mmHg, nadi 85 kali/menit, napas 16 kali/menit. Pada pemeriksaan urin didapatkan hasil
protein +3. Diagnosis pada pasien adalah…

A. Eklampsia

B. Hipertensi gestasional

C. Impending eclampsia

D. Superimposed preeclampsia

E. Preeklamsia berat
Pembahasan
• Wanita 20 tahun G2P1A0 hamil 30 minggu
– Nyeri kepala, mata kabur, dan nyeri ulu hati
• Tanda kelainan intrakranial
• PF: tekanan darah 180/110 mmHg, nadi
85x/menit, napas 16x/menit
• Pada pemeriksaan urin didapatkan hasil
protein +3

• Diagnosis?
Hipertensi pada kehamilan
Batas tekanan darah (TD) > 140/90 mmHg

}
• Hipertensi kronik :
Tanpa proteinuria
– Sejak sebelum kehamilan atau usia kehamilan atau keterlibatan
<20 minggu
organ lain (mata,
• Hipertensi gestasional : jantung, ginjal)
– Timbul sejak usia kehamilan >20 minggu dan
menghilang setelah persalinan

}
• Preeklampsia :
– Timbul pada usia kehamilan >20 minggu dan Dengan
disertai proteinuria yang terjadi pada wanita proteinuria atau
yang sebelum kehamilan normotensi keterlibatan organ
• Preeklampsia superimposed : lain (mata,
– Preeklampsia pada wanita dengan riwayat jantung, ginjal)
hipertensi sebelum kehamilan
Klasifikasi

• Ringan : TD ≥140/90 mmHg DAN proteinuria 1+


atau >300 mg/24 jam
• Berat : TD ≥160/90 mmHg DAN salah satu di bawah
ini:
– Proteinuria ≥2+ atau >5 g/24 jam
– Keterlibatan organ
• Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati
• SGOT/SGPT meningkat, nyeri abdomen kuadran kanan atas
• Sakit kepala, skotoma
• Pertumbuhan janin terhambat/IUGR, oligohidramnion
• Edema paru, gagal jantung kongestif
• Oliguria (<500ml/24 jam), kreatinin >1,2 mg/dl
Eklampsia
• Kejang atau penurunan kesadaran pada ibu
hamil yang tidak ditemukan penyebab lainnya,
kecuali preeklampsia
• Impending eklampsia: preeklampsia yang hampir
menjadi eklampsia, ditandai dengan
– Preeklampsia berat
– Sakit kepala berat
– Nyeri perut
– Edema pulmonal
A. Eklampsia

B. Hipertensi gestasional

C. Impending eklampsia

D. Superimposed preeklampsia

E. Preeklamsia berat
62
Wanita 30 tahun G2P1A0 hamil 10 minggu datang dengan keluhan nyeri perut bagian bawah.

Riwayat trauma disangkal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit berat,

tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 112 kali/menit, napas 24 kali/menit, konjungtiva anemis, abdomen

tegang, dan nyeri lepas. Pada pemeriksaan vaginal toucher didapatkan nyeri goyang portio, dan

kavum Douglasi menonjol. Pemeriksaan -HCG (+). Diagnosis pada pasien adalah…

A. KET

B. Mola hidatidosa

C. Abortus insipiens

D. Abortus iminens

E. Plasenta previa totalis


Pembahasan
• Wanita 30 tahun G2P1A0 hamil 10 minggu
– Nyeri perut bagian bawah
– Riwayat trauma disangkal
• PF  keadaan umum tampak sakit berat, tekanan darah
90/60 mmHg, nadi 112x/menit, napas 24x/menit,
konjungtiva anemis, abdomen tegang, dan nyeri lepas
• Vaginal toucher  nyeri goyang portio (+), cavum
douglass menonjol
– Tanda massa ekstrauterin
• Pemeriksaan beta-HCG (+)
– Tanda konsepsi
• Diagnosis?
KET
• Janin berimplantasi dan berkembang tidak di endometrium
– Tuba (95%): ampula (55%), isthmus (25%), fimbria
(17%), interstitial (2%)
– Tempat lain (5%): serviks, abdomen, dll
KET
• Gejala
– Nyeri abdomen
– Nyeri goyang portio
– Perdarahan pervaginam  pucat, lemah,
hipotensi, hipovolemi, cairan di kavum douglas
• Tatalaksana
– Rehidrasi kemudian RUJUK
Pilihan Lain
• Mola hidatidosa
– Perdarahan, muntah-muntah hebat, TFU lebih besar dari usia kehamilan

• Abortus insipiens
– Perdarahan, nyeri perut hebat, ostium serviks terbuka

– Tidak ada nyeri goyang portio atau kavum douglas menonjol

• Abortus iminens
– Perdarah sedikit, nyeri perut, ostium serviks tertutup

– Tidak ada nyeri goyang portio atau kavum douglas menonjol

• Plasenta previa totalis


– Perdarahan, tidak nyeri
A. KET

B. Mola hidatidosa

C. Abortus insipiens

D. Abortus iminens

E. Plasenta previa totalis


63
Perempuan usia 30 tahun P5A0 dengan keluhan perdarahan dari vagina sejak 4 jam yang lalu. Darah
berwarna merah segar kurang lebih 4-5 gelas air mineral, sebelum keluar darah pasien mengaku nyeri
pinggang seperti saat akan haid. Pasien baru selesai melakukan proses persalinan, ia mengatakan bahwa
setelah proses persalinan keluar bercak kecoklatan yang hanya terlihat di celana dalam. Dua tahun yang
lalu pasien melakukan operasi sesar karena proses persalinan yang terlalu lama. Saat ini tidak didapatkan
kelainan pada pemeriksaan fisik, namun pasien merasa lemas. Apakah diagnosis yang paling
mungkin pada kasus ini ?

A.Atonia uteri

B. Ruptur uteri

C. Retensio plasenta

D. Inversio uteri

E. Subinvolusi uteri
PEMBAHASAN

• Perempuan 30 th, P5A0


• Pendarahan dari vagina sjak 4 jam yll
• Darah merah segar 4-5 gelas
• Nyeri pinggang seperti mau haid sebelum pendarahan
• Baru saja melahirkan, keluar bercak coklat pd celana dalam setelahnya
• Riw. SC 2 thn yll ec. Partus lama

• Diagnosis ?
Subinvolusi Uterus
• Terhambatnya proses involusi (kembalinya uterus
ke ukuran normal) dari uterus.
• Faktor resiko : endometritis, PID, jaringan parut
pada uterus, grand multiparity, multiple gestations,
prolapse uteri, riw. SC
• Tanda/gejala :
– Bisa asimptopmatik
– Lochial discharge yang abnormal (banyak, memanjang)
– Pendarahan vagina
– Uterus yang besar, flabby pada palpasi
Subinvolusi Uterus
• Tatalaksana
– Pemberian antibiotik pada kasus penyebab
endometritis
– Dilation and curettage (D/C) untuk membantu
mengeluarkan jaringan sisa
– Pemberian preparat oksitosin untuk membantu
memperbaiki tonus otot uterus
PILIHAN LAIN
A. Atonia uteri -- Perdarahan pervaginam masif, uterus lembek &
tidak kontraksi

B. Ruptur Uteri -- kontraksi uterus hilang, nyeri perut hebat,


perdarahan pervaginam

C. Retensi plasenta – plasenta tidak lahir

D. Inversio uteri -- ada massa pada vagina

E. Subinvolusi uteri -- BENAR


64
Seorang perempuan datang dengan keluhan perdarahan dari kemaluan sejak 2 hari
setelah bersenggama. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva pucat. Pemerikssan
ginekologi tampak massa berdungkul, rapuh dan mudah berdarah . pada USG uterus
dan ovarium tidak terdapat massa. Diagnosis pasien ini adalah ...

A. Metastase karsinoma ovarium

B. Leimiosarkoma

C. Karsinoma serviks

D. Karsinoma endometrium

E. Sarkoma botroydes
PEMBAHASAN
• Perempuan
• Pendarahan dari kemaluan ; sejak 2 hari ; setelah
bersenggama
• PF : konjungtiva pucat
• PF – gyn : Massa berdungkul, rapuh, mudah
berdarah
• USG : uterus/ovarium massa (-)

• Diagnosis ?
Tumor Maligna Serviks Uteri
• Keganasan dari serviks uteri
• Tipe :
A. Karsinoma Serviks
• Squamous Cell Carcinoma (SCC) -- 91%
• Adenocarcinoma
• Adenosquamous carcinoma
• Adenoacanthoma
B. Sarcoma
Tumor Maligna Serviks Uteri
• Etio : infeksi HPV tipe 16 ; 18 ; 45 ; 56
• Faktor resiko
– Pernikahan dini, aktifitas seksual usia dini ( <18 th)
– Promiskuitas
– Riwayat infeksi pd genitalia
– Multiparitas
– Perokok
– Status social/ekonomi
Squamo-Columnar Junction
• Zona transformasi antara epitel vagina (squamous)
dan dinding serviks (columnar)
• Tempat tersering terjadi dysplasia epitel
• Rentan terhadap infeksi virus, perubahan pH
vagina dan fluktuasi level estrogen
– Estrogen ⬆ ---- epitel kolumnar makin ‘bergerak’
keluar serviks
– Estrogen ⬇ ---- epitel kolumnar makin ‘bergerak’
masuk kembali ke kanalis endoserviks
Tanda Klinis :
• Nodul, ulkus, erosi serviks (thp lanjut 
crater-shaped ulcer yg rapuh)
• Pendarahan
• Mobilitas serviks tergantung keparahan
(lunak  keras)
Screening
IVA

Pap Smear
Rekomendasi Screening
Keluhan Lesi Anatomis Rekomendasi
- - IVA
+ - Pap Smear
+ + Biopsi
TN FIG Keterangan TN FIG Keterangan
M O M O
Tx Tumor primer tak bisa dinilai Nx - KGB tak bisa dinilai
T0 Tak ada tumor primer N0 - Invasi ke KGB (-)
Tis Carcinoma in situ (preivasive carcinoma) N1 - Invasi ke KGB (+)
T1 I Karsinoma terbatas pada serviks
T1a IA Karsinoma invasif – terdeteksi oleh mikroskop M0 - Metastasis jauh (-)
T1a1 IA-1 Kedalaman ≤ 3.0 mm ; Peny. horiz. ≤ 7.0mm M1 - Metastasis jauh (+) – peritoneum, supraclavicular, paru,dll
T1a2 IA-2 Kedalaman 3.0 - 5.0 mm ; Peny. horiz. ≤ 7.0mm
T1b IB Lesi terlihat klinis, terbatas pada serviks ; atau uk. lebih
besar dari T1a/IA2
T1b1 IB-1 Lesi terlihat klinis, diameter terbesar ≤ 4.0 cm
T1b2 IB-2 Lesi terlihat klinis, diameter terbesar > 4.0 cm
TN FIG
Ket.
M O
T2 II Karsinoma menginvasi uterus, dinding pelvis (-), 1/3 bawah vagina (-)
T2a IIA Tumor tanpa invasi parametrium
T2a1 IIA-1 Lesi terlihat klinis, diameter terbesar ≤ 4.0 cm
T2a2 IIA-2 Lesi terlihat klinis, diameter terbesar > 4.0 cm
T2b IIB Tumor dengan invasi parametrium
T3 III Tumor invasi dinding pelvis (+), dan/atau 1/3 bawah vagina (+), dan/atau gguan ginjal (+)
T3a IIIa Dinding pelvis (-), 1/3 bawah vagina (+)
T3B IIIB Dinding pelvis (+) dan/atau gguan ginjal (+)
T4 IV Tumor invasi kandung kemih/rectum dan/atau keluar pelvis
T4a Iva Tumor invasi kandung kemih/rectum
T4b IVb Tumor invasi keluar pelvis
Terapi
Cryotheraphy

Histerektomi
LEEP
PILIHAN LAIN
A. Metastase karsinoma ovarium --- ovarium harus bergejala

B. Leiomiosarkoma --- letak lesi pada uterus

C. Karsinoma serviks --- BENAR

D. Karsinoma endometrium --- uterus harus bergejala

E. Sarkoma botroydes --- sering pada anak/bayi


65
Seorang perempuan G2P1A0 hamil 38 minggu datang ke IGD RS dengan
keluhan nyeri perut bawah dan mual sejak tadi malam. Pada leopold IV teraba
besar bulat dan keras. Pada pemeriksaan dalam teraba mulut, hidung, dan dagu
anterior. Tindakan yang seharusnya di lakukan adalah ...
A. Forcep
B. Pervaginam
C. Ektraksi Vakum
D. SC
E. Injeksi oksitosin
Malpresentasi Janin
Leopold Maneuvers
1. Situs/letak (lie)  sumbu Panjang janin terhadap sumbu ibu.
a) Situs memanjang / membujur
b) Situs melintang
c) Situs miring / oblique
2. Habitus / Sikap (Attitude)  posisi letak bagian janin terhadap bagian yg
lain
3. Presentasi  bagian terbawah janin
a) Bahu --- denom.  acromion / scapula
b) Bokong --- denom.  sacrum
c) Kepala --- denom.  UUK / UUB
d) Dahi
e) Muka --- denom.  dagu, hidung, mulut
4. Posisi  posisi bagian fetus (UUK, dagu, mulut, sacrum, punggung) dengan
bagian kiri, kanan, depan, belakang, lintang dari jalan lahir
Presentasi Tanda
PD :
- Fontanella posterior fetus
dekat sacrum
Posisi Oksiput – Posterior
- Bila kepala fetus difleksi,
fontanella anterior fetus
mudah teraba
PD : Teraba fontanella anterior
Presentasi Dahi
dan orbita
Presentasi Muka PD : Teraba muka, mulut, rahang.
Prolaps tangan bersama dengan
Presentasi Ganda
bagian terendah janin
PD : Teraba bokong dan kaki
*Bok. Sempurna  kedua kaki
Presentasi Bokong fleksi pd panggul dan lutut
*Bok. Murni  kedua kaki fleksi
pd panggunl, ekstensi pd lutut
Bila kaki ekstensi pada panggul
Presentasi Kaki
dan lutut
Presentasi Muka
• Terjadi pada 1 dari 600-800 kelahiran hidup,
± 0.2% dari jumlah lahir hidup.
• Etio : multiple gestations, grand multiparity fetal
malformations, prematurity, CPD

• Dx :
• Seringkali terlambat pada kala 1-2
dengan PD
• PD  teraba hidung, mulut, dagu.
• Kadang mulut sulit dibedakan dengan
anus
• USG : Leher yang hiperekstensi

• Tipe berdasar posisi (fetal position) :


• Mentum (chin) – anterior
• Mentum (chin) – posterior
Presentasi Muka

• Posisi Dagu – Anterior


– Pembukaan LENGKAP
Lahirkan dengan persalinan Spontan per vaginam
Bila, penurunan kurang lancar  Ekstraksi Forcep
– Pembukaan BELUM lengkap
• Posisi Dagu – Posterior
Bila tak ada kemajuan, pembukaan, penurunan  SC
• Pembukaan LENGKAP  SC
• Pembukaan BELUM lengkap
Bila tak ada kemajuan, pembukaan, penurunan  SC
Bila janin mati  Kraniotomi atau SC
Jawaban
B. Pervaginam
66
Pasien wanita usia 20 tahun G1P0A0 datang dengan keluhan perut terasa kencang, terasa 3 kali

dalam 10 menit, setiap kontraksi selama 35-40 detik. Pada Leopold I: teraba padat, leopold II:

tahanan memanjang di sinistra dan bagian kecil di dextra, leopold III: teraba lunak, dan leopold IV:

teraba lunak, divergen. Pada pemeriksaan dalam didapatkan pendataran 75%, ketuban (+), dan

pembukaan 4cm. Diagnosis pasien ini adalah ...

A. Letak lintang

B. Letak sungsang

C. G1P0A0 ketuban pecah dini

D. Kala 1 fase aktif

E. Kala 1 fase laten


Pembahasan
• Perempuan 20 tahun G1P0A0
– Perut terasa kencang, (3x dalam 10 menit, setiap kontraksi
35-40 detik)

• PF Leopold, dan Pemeriksaan dalam


– I: teraba padat
– II: tahanan memanjang di sinistra dan bagian kecil di dextra
– III: teraba lunak
– IV: teraba lunak, divergen
– Pendataran 75%, ketuban (+),
– Pembukaan 4cm (Kala I aktif)

• Diagnosis?
Leopold
• I (awal trimester 1)
– Mengukur tinggi fundus uteri
– Mengetahui bagian teratas janin
• II (akhir trimester 2)
– Mengetahui bagian kanan
dan kiri janin
Leopold

• III (akhir trimester 2)


– Mengetahui bagian
terbawah janin
• IV (> 36 minggu)
– Menentukan berapa
jauh masuknya janin
ke pintu panggul atas
Perabaan bayi
• Teraba keras: kepala
• Teraba lunak: bokong
• Teraba berbenjol-benjol: ekstremitas
• Teraba garis lurus memanjang: tulang belakang

Leopold I (bagian teratas) teraba keras (kepala),


Leopold II punggung kiri, Leopold III (bagian
terbawah) teraba lunak (bokong) Leopold IV lunak
dan divergen (sudah masuk PAP)
Letak Bayi
• Macam-macam letak bayi
– Memanjang: presentasi kepala, muka, atau bokong
– Melintang: presentasi bahu
– Oblik: antara memanjang dan melintang (serong)

• Kesimpulan: Kala 1 aktif, presentasi


bokong letak memanjang
Pilihan lain
• Letak lintang:
– Letak bayi memanjang
• Letak sungsang
– Tidak ada letak sungsang, yang ada presentasi bokong
• G1P0A0 ketuban pecah dini
– Ketuban masih utuh
• Kala 1 fase laten
– Sudah lebih dari bukaan 3 jadi fase aktid
A. Letak lintang

B. Letak sungsang

C. G1P0A0 ketuban pecah dini

D. Kala 1 fase aktif

E. Kala 1 fase laten


67
Wanita 25 tahun G2P1A0 hamil 32 minggu didiagnosis dengan tifoid.
Dokter memutuskan untuk memulai terapi antibiotik pada pasien ini.
Obat yang menjadi kontraindikasi adalah ...

A. Kloramfenikol

B.AmoxicillIn

C. Cefotaxim

D. Ceftriaxon

E. Penicillin
Pembahasan
• Wanita 25 tahun G2P1A0 hamil 32 minggu
• Diagnosis: tifoid

• Kontraindikasi Antibiotik?
Kontraindikasi Antibiotik
Kloramfenikol pada kehamilan
• Bone marrow depression irreversible aplastic
anemia
• Agranulocytosis
• Gray-baby syndrome
– Hypotension
– Cyanosis
A. Kloramfenikol

B.AmoxicillIn

C. Cefotaxim

D. Ceftriaxon

E. Penicillin
68
Seorang perempuan 20 tahun G1P0A0 gravid 12 minggu datang dengan keluhan
muntah-muntah. Muntah dialami sebanyak lebih dari 10 kali. Pada pemeriksaan
didapatkan pasien tampak apatis, lemah, TD 90/50 mmHg, nadi 110 kali/menit.
Pemeriksaan keton urin +2. Apakah diagnosis pasien tersebut ?

A. Hiperemesis gravidarum grade I

B. Hiperemesis gravidarum grade II

C. Hiperemesis gravidarum grade III

D. Hiperemesis gravidarum grade IV

E. Emesis gravidarum
Pembahasan
• Perempuan 20 tahun G1P0A0 gravid 12
minggu datang dengan keluhan muntah-muntah
10 kali.
• PF
– Apatis, lemah, TD 90/50 mmHg, nadi 110
kali/menit.
• Keton urine +2.

Diagnosis?
Hiperemesis Gravidarum
• Mual muntah berlebihan (lebih dari 10 kali)
pada wanita hamil trimester pertama hingga
menganggu aktivitas umum ibu
• Etiology
– Faktor hormonal
– Neurological
– Psikologis
– Faktor endokrin
Diagnosis
• Mual dan muntah hebat
• Berat badan turun > 5% dari berat badan
sebelum hamil
• Ketonuria
• Dehidrasi
• Ketidakseimbangan elektrolit
Tingkatan Hiperemesis Gravidarum
• Tingkat 1
– Lemah, nafsu makan menurun, BB menurun, nyeri
epigastrium, lidah kering, mata cekung, turgor kulit
menurun
• Tingkat 2
– Kesadaran apatis, mual muntah hebat, takikardia pulsasi
lemah, suhu meningkat (dehidrasi), oliguria, konstipasi,
nafas bau aseton, aseton dalam urin
• Tingkat 3
– Penurunan kesadaran (somnolen hingga koma),
ensefalopati wenicke
Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum
Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum
A. HEG grade I

B. HEG grade II

C. HEG grade III

D. HEG grade IV

E. Emesis gravidarum
69
Pasien 23 tahun G2A0 datang dengan keluhan keluar darah dari kemaluan. Pasien
menyatakan sudah tidak menstruasi sejak 3 bulan yang lalu. Sebelumnya pasien
mengatakan pernah keluar perdarahan dengan terdapat gumpalan. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal. Pada inspekulo ditemukan portio
tertutup dan perdarahan mulai berkurang. Diagnosis pada pasien ini adalah ...

A.Abortus komplit

B.Abortus iminens

C.Abortus insipiens

D.Abortus inkomplit

E. Blighted ovum
Pembahasan
• Wanita 23 tahun G2A0, keluhan keluar darah
dari kemaluan
• Menstruasi (-)  3 bulan yang lalu.
• Riwayat gumpalan (+)
• PF
– Portio tertutup dan perdarahan mulai berkurang.

• Diagnosis?
ABORTUS
Jenis Perdarahan Nyeri Serviks Jaringan/janin Uterus
perut
Abortus Sedikit Sedang Tertutup Tidak ada Sesuai usia
iminens/an ekspulsi kehamilan
caman jaringan
Abortus Banyak Hebat Terbuka Tidak ada Sesuai usia
insipiens ekspulsi kehamilan
jaringan
Abortus Banyak Hebat Terbuka Ekspulsi Sesuai usia
inkomplit sebagian kehamilan
jaringan
Abortus Sedikit Sedikit Terbuka/tertu Ekspulsi Lebih kecil dari
komplit tup seluruh jaringan usia kehamilan

Missed Tidak ada Tidak ada Tertutup Janin mati tapi Lebih kecil dari
abortion tidak dieksklusi usia kehamilan
Tatalaksana
Jenis Tatalaksana
Iminens/ Pertahankan kehamilan: tirah baring
Ancaman
Insipiens Mengeluarkan hasil konsepsi: ergometrin atau oksitosin
Inkomplit <16 minggu: forsep cincin atau jari
<16 minggu + perdarahan hebat: AVM
>16 minggu: oksitosin
Komplit Konseling
Missed <12 minggu: AVM atau kuret
12-16 minggu: kuret
>16 minggu: oksitosin
A.Abortus komplit

B.Abortus iminens

C.Abortus insipiens

D.Abortus inkomplit

E. Blighted ovum
70
Pasien usia 70 tahun datang keluhan keluar daging di jalan lahir. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal. Tampak massa di
depan portio, 2 cm dari orifisium uretra eksternum, teraba halus, dan
berwarna kemerahan. Apa diagnosis yang paling tepat ?

A. Prolaps uteri grade II

B. Prolaps uteri grade III

C. Prolaps uteri grade I

D. Prolaps uteri grade V

E. Prolaps uteri grade IV


Pembahasan
• Wanita 70 tahun, keluhan keluar daging di jalan
lahir
• PF
– Tampak massa di depan portio, 2 cm dari orifisium
uretra eksternum, teraba halus, dan berwarna
kemerahan.

• Diagnosis?
Prolaps Uteri
• Definisi:
– Terjadinya penurunan uterus dari tempat
normalnya melalui dasar panggul yang disebabkan
oleh kelemahan otot atau fascia yang dalam
keadaan normal menyokongnya.
• Diagnosis:
– Tanda dan gejala: nyeri punggung, rasa mengganjal
di daerah pelvis, nyeri pada coitus
– Pelvic examination: pergerakan bowel, kekuatan
otot pelvik
Grading
Prolapse Uteri
A. Prolaps uteri grade II

B. Prolaps uteri grade III

C. Prolaps uteri grade I

D. Prolaps uteri grade V

E. Prolaps uteri grade IV


71
Laki-laki, usia 50 tahun datang ke Poliklinik dengan keluhan nyeri saat BAK disertai pancaran yang

tidak lancar, selain itu BAK juga terputus-putus. Kadang pasien harus mengubah posisi agar urin

lancar kembali. Tidak ada nyeri yang dirasakan menjalar sampai ke penis. Pada pemeriksaan fisik

didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 88 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, dan

suhu normal. Apa diagnosis yang tepat pada pasien ini ?

A. Ureterolithiasis proksimal

B. Ureterolithiasis distal

C. Vesikulolithiasis

D. Ureterolithiasis

E. Nefrolithiasis
Pembahasan
• Laki-laki 50 tahun
– Nyeri saat BAK, tidak lancar, dan terputus-putus
– Dipengaruhi perubahan posisi
– Tidak menjalar sampai penis

Diagnosis ?
Batu Saluran Kencing

Jenis BSK Keluhan

Nyeri kolik terutama di daerah


Nefrolithiasis
pinggang, hematuria
Nyeri kolik dari pinggang
Ureterolithiasis
menjalar sampai ke kemaluan
BAK dipengaruhi perubahan
Vesicolithiasis posisi  gejala kencing
terputus-putus (interupted)
Nyeri di penis saat kencing,
Uretrolithiasis
retensi urin
Batu Saluran Kemih
Batu
Staghorn Batu Ureter Batu Buli-buli
Jenis batu
• Radiolusen
– Batu asam urat = terjadi karena pH urin asam,
kadar asam urat darah tinggi (> 7)
– Sistin = berhubungan dengan kelainan genetik
• Radioopak
– Kalsium oksalat, kalsium sitrat = kebiasaan kurang
minum
– Struvit = batu infeksi
Pemeriksaan penunjang
• Pemeriksaan AWAL: foto polos
• Pemeriksaan paling spesifik dan sensitif: USG 
bisa mendeteksi radioopak atau radiolusen.
Adanya batu ditunjukkan dengan adanya acoustic
shadow pada pemeriksaan USG

• Pemeriksaan lainnya yang dapat digunakan:


– Intravena pielografi (BNO IVP)  mahal, harganya
sama dengan CT scan
– CT scan  pada CT scan dengan slice yang terlalu
besar, batu yang kecil, dapat terlewat
A. Ureterolithiasis proksimal

B. Ureterolithiasis distal

C. Vesikulolithiasis

D. Ureterolithiasis

E. Nefrolithiasis
72
Laki-laki usia 58 tahun, datang ke praktik dokter dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 2
minggu yang lalu. Pasien mengaku kencing keluar sedikit-sedikit dan terkadang harus mengedan.
Nyeri disangkal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah pasien 120/90 mmHg, nadi 80
kali/menit, nafas 18 kali/menit, suhu 36.50C. Pemeriksaan umum dalam batas normal. Pada colok
dubur didapatkan prostat teraba kenyal, tidak ada nyeri tekan, dan pool atas tidak teraba. Secara
anatomi, daerah apakah yang paling sering mengalami kelainan pada kasus ini ?

A. Zona transisi

B. Zona sentral

C. Zona perifer

D. Zona uretra

E. Area fibromuskular
Pembahasan
• Laki-laki, 58 tahun
– Sulit BAK, kencing keluar sedikit-sedikit dan terkadang
harus mengedan  LUTS
– Nyeri disangkal
• Pemeriksaan colok dubur  prostat teraba
kenyal, tidak ada nyeri tekan, pool atas tidak
teraba
– Pembesaran prostat
• Diagnosis  BPE (Benign prostate enlargement)
• Zona yang terkena?
BPH
• LUTS sering didapatkan
pada batu buli, ISK bawah
(sistitis), atau BPH.
• Gejala LUTS
– Gejala Obstruktif
• Pancaran miksi lemah
• Miksi tidak lampias
– Gejala Iritatif
• Frekuensi
• Nokturia Hormon paling bertanggung jawab pada
• Urgensi BPH adalah dihidrotestosteron (DHT).
• Smith's General Urology 17th ed. Halaman 348
Kelainan Prostat
BPH Ca Prostat
• Gejala Klinis • Gejala Klinis
– Gejala obstruktif – Gejala obstuktif dan iritatif
– Gejala iritatif – Gejala metastasis (tulang)
• Pemeriksaan RT • Pemeriksaan RT
– Pembesaran prostat,
– Pembesaran prostat, konsistensi berdungkul-dungkul, nyeri
kenyal, tidak nyeri, pool atas
tidak teraba • Zona Prostat
– Zona perifer
• Zona Prostat
• Pemeriksaan Lab
– Zona transisional
– PSA  <4 ng/ml
• Pemeriksaan Lab – TRUS
– USG – Bone scan
– Skor IPSS – Biopsi
Gambaran Prostat
Periurethral zone
Urethra
Transitional zone

Central zone Anterior


fibromuscular stroma

Peripheral zone
A. Zona transisi

B. Zona sentral

C. Zona perifer

D. Zona uretra

E. Area fibromuskular
73
Balita laki-laki, usia 1 tahun dibawa ibunya ke Puskesmas dengan keluhan ujung
penis menggelembung setiap kali BAK. Keluhan demam dan nyeri disangkal.
Saat dilakukan pemeriksaan didapatkan preputium menempel pada glans penis
dan sulit ditarik ke belakang. Apa diagnosis balita tersebut ?

A. Fimosis

B. Parafimosis

C. Hematoma penis

D. Hipospadia

E. Balanitis
Pembahasan
• Balita laki-laki, 1 tahun
– Ujung penis menggelembung setiap kali BAK
• Gangguan struktur preputium
• Pemeriksaan fisik  preputium menempel pada
gland penis dan sulit ditarik ke belakang
• Diagnosis?
Fimosis vs Parafimosis
Fimosis Parafimosis

Dorsumsisi!

KECIL KEJEPIT
Fimosis vs Parafimosis
Fimosis Parafimosis
• Bukan emergensi • Emergensi
• Prepusium yang ditarik ke belakang
• Prepusium tidak bisa ditarik tidak bisa ditarik kembali  terjepit
dan edema
ke belakang • Gejala umum :
• Gejala umum : – Kulit prepusium edema
– Terdapat cincin menjepit penis  bisa
– Ujung penis menggembung iskemia
• Tatalaksana:
• Tatalaksana : – Manual reduksi
– Sirkumsisi – Cairan hipertonik kompres
– Pungsi
– Rujuk ke urologi – Aspirasi
– Insisi vertikal
– Dorsumsisi  urologi
A. Fimosis

B. Parafimosis

C. Hematoma penis

D. Hipospadia

E. Balanitis
74
Perempuan usia 27 tahun, datang dengan keluhan sulit BAK. Selain itu pasien juga
mengeluhkan nyeri pinggang. Riwayat keluhan seperti ini pada keluarga (+). Pada
pemeriksaan ditemukan tekanan darah 160/100 mmHg. Hasil laboratorium ureum dan
kreatinin normal. Dalam pemeriksaan urinalisis didapatkan kepingan eritrosit. Hasil
USG didapatkan cairan yang mengisi kavitas ginjal. Apakah diagnosis pasien ini ?

A. Sistitis

B. ISK

C. Glomerulonefritis akut post-streptokokal

D. Polikistik ginjal

E. Sindrom nefrotik
Pembahasan
• Perempuan usia 27 tahun
– Sulit BAK
– Nyeri pinggang
• Tanda kelainan ginjal
• Riwayat keluhan seperti ini pada keluarga (+).
– Penyakit herediter ?
• PF  tekanan darah 160/100 mmHg
– Ada gangguan fungsi ginjal
• Lab  ureum dan kreatinin normal
• Urinalisis  kepingan eritrosit
• USG  cairan yang mengisi cavitas ginjal
– Gambaran kista

Diagnosis?
Ginjal Polikistik
• Muncul banyak kista di ginjal  menyebabkan
pembengkakan ginjal  gagal ginjal
• Diturunkan autosomal dominan
Gejala
• Biasanya asimptomatik
• Nyeri tumpul di pinggang, perut, dan punggung
bawah
• Dapat ditemukan gejala infeksi (demam, dll)
• Hematuria
• Hipertensi
• Proteinuria
• Mual, muntah
• Anemia (kalau sudah gagal ginjal kronik)
Pemeriksaan penunjang
• USG  kalau inkonklusif  CT scan atau MRI
• Urinalisis: hematuri, proteinuri
• Lab  Ur, Cr dapat meningkat jika sudah
terjadi gagal ginjal
Pilihan Lain
• Sistitis
– Infeksi kandung kemih
– Nyeri tekan suprapubik
• ISK
– Infeksi saluran kemih
– Demam, gangguan BAK
• GNAPS
– Hematuria gros, hipertensi, oligouria
• Sindrom nefrotik
– Proteinuria, hipoalbumin, edema, hiperkolesterolemia
A. Sistitis

B. ISK

C. Glomerulonefritis akut post-streptokokal

D. Ginjal polikistik

E. Sindrom nefrotik
75
Pria usia 27 tahun datang dengan keluhan bengkak pada kedua tungkai. Keluhan disertai

perut membesar, kencing berwarna merah, dan volume sedikit. Pada pemeriksaan

ditemukan tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 100 kali/menit, napas 20 kali/menit, suhu

37,2oC. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 9 g/dl. Diagnosis kasus ini

adalah...

A. Gagal ginjal kronik

B. Sindrom nefritik

C. Ruptur ginjal

D. ISK

E. Gagal ginjal akut


Pembahasan
• Pria usia 27 tahun
– Bengkak pada kedua tungkai, perut membesar
• Ekstravasasi cairan ke interstitial ec gangguan tekanan
– Kencing berwarna merah dan sedikit
• Gangguan produksi urin  intraparenkim ginjal
• PF  tekanan darah 160/100 mmHg, nadi
100x/menit, napas 20x/menit, suhu 37,2oC
• Lab  Hb 9 g/dl

• Diagnosis?
Sindrom nefritik
• Hematuri gross
• Hipertensi
• Oligouria
• Azotemia
• Proteinuria
• Pada GNAPS  ASTO (+), biasanya ada
riwayat batuk-pilek
Nephritic Syndrome vs Nephrotic Syndrome
Tatalaksana Sindrom Nefritik
• Amoksisilin 50 mg/kgBB/hari
dibagi 3 dosis, selama 10 hari
Medikamentosa • Eritromisin 30 mg/kgBB/hari
dibagi 3 dosis, selama 10 hari

• Tirah baring
• Diet nefritik  diet rendah
Suportif garam
Pilihan Lain
• Gagal ginjal kronik
– Kerusakan ginjal yang menetap >3 bulan
• Ruptur ginjal
– Ada riwayat trauma sebelumnya
• ISK
– Gangguan BAK
– Demam
• Gagal ginjal akut
– Kerusakan fungsi ginjal <3 bulan dan tidak ada
kerusakan struktur
A. Gagal ginjal kronik

B. Sindrom nefritik

C. Ruptur ginjal

D. ISK

E. Gagal ginjal akut


76
Pasien laki-laki dibawa ke IGD akibat kecelakaan lalu lintas. Padda pemeriksaan
didapatkan TD=100/70 mmHg, nadi 84 kali/menit, napas 28 kali/menit.
Didapatkan adanya bloody discharge, retensi urin, dan pada pemeriksaan colok
dubur didapatkan floating prostate. Apa diagnosis pasien ini ?

A. Ruptur uretra anterior

B. Ruptur ginjal

C. Ruptur prostat

D. Striktur uretra

E. Ruptur buli
Pembahasan
• Pasien laki-laki, IGD akibat kecelakaan lalu
lintas.
• PF
– TD=100/70 mmHg, nadi 84 kali/menit, napas 28
kali/menit.
– Bloody discharge, retensi urin
– Colok dubur: floating prostate.

• Diagnosis?
Ruptur Uretra
• Klasifikasi :
– Ruptur uretra anterior
• Pars spongiosa
• Pars glandis
•  Straddle injury
– Ruptur uretra posterior
• Pars prostatica
• Pars membranacea
•  fraktur pelvis
Ruptur Uretra

Anterior Posterior
Butterfly Floating
hematoma prostate
Ruptur uretra posterior
• Gambaran khas
– Perdarahan per uretra
– Retensi urin
– Colok dubur: Floating prostate
– Uretrografi: ekstravasi kontras pada uretra pars membranasea
• Tindakan
– Akut: Sitostomi
– Stabil
• Primary endoscopic realignment, 1mgg pasca ruptur
• Urteroplasti, 3 bulan pasca ruptur
• Rail roding catheter
• Komplikasi
– Striktur uretra
– Disfungsi ereksi
– Inkontinensia urin
A. Ruptur uretra anterior

B. Ruptur ginjal

C. Ruptur prostat

D. Striktur uretra

E. Ruptur buli
77
Seorang laki-laki 20 tahun korban kecelakaan lalu lintas datang dengan keluhan

nyeri pada pinggang kanan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri ketok CVA

kanan (+) dan terdapat eksoriasi 3x2 cm di pinggang kanan. Pada pemeriksan

IVP didapatkan ekstravasasi kontras. Diagnosis yang tepat adalah ...

A. Ruptur ginjal derajat 1

B. Ruptur ginjal derajat 2

C. Ruptur ginjal derajat 3

D. Ruptur ginjal derajat 4

E. Ruptur ginjal derajat 5


Pembahasan
• Laki-laki 20 tahun korban kecelakaan lalu lintas
• Keluhan nyeri pada pinggang kanan.
• PF
– Nyeri ketok CVA kanan (+)
– eksoriasi 3x2 cm di pinggang kanan
• IVP didapatkan ekstravasasi kontras.

• Diagnosis?
Trauma Ginjal

• Langsung
MEKANISME
TRAUMA : • Tidak langsung
(deselerasi)

JENIS • Tajam
TRAUMA: • Tumpul
Diagnosis
• Gejala
– Cedera di daerah pinggang,punggung dan dada bawah
dengan nyeri
– Hematuri (gross/mikroskopik)
– Fraktur costa bg bawah atau proc. spinosus vertebra
– Kadang syok
– Sering disertai cedera organ lain
• Penunjang
– BNO – IVP
– CT SCAN
– MRI
– USG TIDAK DIANJURKAN
Klasifikasi
• GRADE I
– Kontusio dan subkapsular hematom
• GRADE II
– Laserasi korteks dan perrenal hematom
• GRADE III
– Laserasi dalam hingga kortikomedulari junction
• GRADE IV
– Laserasi menembus collecting system
• GRADE V
– Trombosis arteri renalis, avulsi pedikel, dan shattered kidney.

GRADE I DAN II : CEDERA MINOR (85%)


GRADE III , IV DAN V : CEDERA MAYOR. (15%)
Klasifikasi Trauma Ginjal
GRADE I GRADE II

Kontusio dan subkapsular Laserasi kortek dan perirenal


hematom hematom
Klasifikasi Trauma Ginjal
GRADE III GRADE IV

Laserasi dalam hingga


kortikomedulari junction Laserasi menembus pelvis renalis
Klasifikasi Trauma Ginjal
GRADE V

Trombosis arteri renalis, avulsi


pedikel dan shattered kidney.
A. Ruptur ginjal derajat 1

B. Ruptur ginjal derajat 2

C. Ruptur ginjal derajat 3

D. Ruptur ginjal derajat 4

E. Ruptur ginjal derajat 5


78
Laki-laki usia 20 tahu mengeluhkan buah zakarnya terasa sakit setelah bermain
bola. Tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan testis
kanan lebih tinggi daripada kiri dan nyeri saat perabaan. Tes Phren (-). Apakah
diagnosis yang mungkin ?

A. Hidrocele

B.Varicocele

C.Torsio testis

D. Epididimitis

E. Hernia inguinalis lateralis


Pembahasan
• Pria 20 tahun, keluhan buah zakarnya nyeri
setelah bermain bola
• PF
– Tanda vital dalam batas normal
– Testis kanan lebih tinggi daripada kiri dan nyeri(+)
– Tes Phren (-)

• Diagnosis?
Torsio Testis dan
Epididimitis
Epididimitis (+) Torsio Testis (–)
• Nyeri perlahan (hari) • Nyeri tiba –tiba (jam)
• Onset jarang setelah • Onset setelah bangun tidur
bangun tidur atau aktivitas
• Prehn + (nyeri berkurang) • Prehn – (nyeri tetap)
• Kremaster + • Kremaster –
• Tidak muntah • Muntah
• Demam • Jarang demam
• Terapi empiris • Gawat darurat

Apapun kecurigaannya harus tetap di USG doppler!


A. Hidrocele

B.Varicocele

C.Torsio testis

D. Epididimitis

E. Hernia inguinalis lateralis


79
Laki-laki 30 tahun dengan keluhan nyeri pinggang sejak 2 hari, disertai demam, dan
kencing terasa panas. Tanda vital dalam batas normal, kecuali terdapat peningkatan suhu.
Nyeri ketok CVA(+). Pemeriksaan darah rutin menunjukkan Hb 11 g/dL, leukosit
11.300/mm3, platelet 400.000/mm3. Dari urinalisis didapatkan urin keruh dan leukosit
++. Diagnosis pasien ini adalah ...

A. Gagal ginjal akut

B. Prostatitis

C. Uretritis

D. Pielonefritis akut

E. Pielonefritis kronik
Pembahasan
• Laki-laki 30 tahun
– Nyeri pinggang kanan sejak 2 hari
– Demam
– Kencing terasa panas
• Px fisik
– TTV: suhu meningkat
– Nyeri ketok CVA (+/+)
• Leukosit 11.300/mm3, urin keruh & Leukosit++
• Diagnosis?
Infeksi Saluran Kemih (ISK)

• ditandai adanya
mikroorganisme dalam
jumlah bermakna (105
cfu/ml) pada biakan urin

• Secara anatomis dibagi


menjadi ISK atas dan
Bawah
Pyelonefritis
• Infeksi bakteri pada parenkim ginjal
• Bakteri biasanya mencapai ginjal secara
ascending dari saluran kemih bawah
• E. colli tersering
• Gejala dan tanda klinis:
– Nyeri pinggang
– Demam tinggi
– Mual/muntah
– Nyeri ketok CVA
Penatalaksanaan
• Antibiotik parenteral 24-48 jam
– Ceftriaxone/cefepime/fluorokuinolon
– Jika ditemukan bakteri gram positif:
Ampicilin+gentamicin/ ampicilin sulbactam/
piperacilin tazobactan
• Dilanjutkan antibiotik per oral 7 hari
– Fluorokuinolon (gram negatif)
– Pilihan lain: amoxicillin/TMP-SMX/sefalosporin gen
2 dan 3
Pilihan lain
• Gagal ginjal akut peningkatan GFR secara
mendadak
• Prostatitis nyeri perineal/prostatik/pelvis, RT:
prostat teraba hangat, nyeri tekan
• Uretritis kencing bernanah
• Pyelonefritis kronik riw ISK berulang,
dikonfirmasi dgn pencitraan terdapat tanda
inflamasi & fibrosis parenkim ginjal
A. Gagal ginjal akut

B. Prostatitis

C. Uretritis

D. Pielonefritis akut

E. Pielonefritis kronik
80
Laki-laki 36 tahun dengan keluhan sulit saat berkemih dan ketika berkemih
urin bercabang. Pasien memiliki rwayat kecelakaan ketika naik sepeda
beberapa bulan lalu. Pada pemeriksaan didapatkan tanda vital dalam batas
normal. Diagnosis pasien ini adalah ...

A. Striktur uretra

B. BPH

C.Tumor buli

D. Batu buli

E. Batu ureter
Pembahasan
• Laki-laki 30 thn
– Sulit berkemih
– Pancaran kemih bercabang
– Riwayat kecelakaan beberapa bulan yang lalu
• TTV dalam batas normal
• Diagnosis?
Striktur Uretra
• Obstruksi/penyempitan
lumen urethra akibat
proses pembentukan scar
• Penyebab tersering:
trauma dan iatrogenik
• Penyebab lain:
infeksi/inflamasi,
keganasan, dan kongenital.
Striktur Uretra
• Anamnesis
– Gejala voiding  penurunan pancaran urin, kencing
tidak tuntas, urin menetes.
– Retensi urin
– Kadang disertai gejala ISK
• Diagnosis retrograde urethrogram,
antegrade urethrogram
Pilihan lain
• BPH usia tua, RT: prostat teraba lunak, polus
atas dan sulcus medianus tidak teraba
• Tumor buli gross hematuri tidak nyeri
• Batu buli kencing tersendat, membaik
dengan perubahan posisi
• Batu ureter nyeri pinggang menjalar
A. Striktur uretra

B. BPH

C.Tumor buli

D. Batu buli

E. Batu ureter
81
Laki-laki 30 tahun datang ke IGD dengan keluhan badan terasa kaku. Tangan terasa
tertarik dan bergerak sendiri tanpa bisa dikendalikan. Sebelumnya pasien mengalami
BAB cair dan muntah. Pasien berobat ke puskesmas dan diberikan obat untuk
mengurangi keluhannya. Obat yang memiliki efek samping pada keadaan pasien
adalah…

A. Loperamide

B. Domperidone

C. Metoklopramide

D. Ondansetron

E. Omeprazole
Pembahasan
• Laki-laki 30 tahun  badan terasa kaku,
gerakan involunter tangan, riwayat minum obat
diare dan obat muntah
– Spasme otot
– Gejala EPS

• Efek samping gejala yang dimaksud akibat obat?


Obat Muntah
• Domperidone blokade reseptor dopamin perifer dan
CTZ, mempercepat pengosongan lambung, meningkatkan
peristaltik lambung (tidak bisa lewat BBB)
• Metoclopramide  blokade reseptor dopamin dan
serotonin di CTZ, meningkatkan motilitas GI (bisa lewat
BBB)
• Ondansentron  antagonis reseptor serotonin
• Chlorpromazine  antagonis dopamin di otak
Extra-Pyramidal Syndrome (EPS)
• Suatu kumpulan gejala motorik akibat defisiensi dopamin di otak
(jaras ekstrapiramidal)
• Gejala
– Distonia/spasme
– Akatisia
– Bradikinesia
– Parkinsonisme
– Tremor
– Tardive diskinesia
A. Loperamide  bekerja lewat reseptor opioid
B. Domperidone
C. Metoklopramide
D. Ondansetron
E. Omeprazole  inhibitor pompa proton di
lambung
82
Wanita 40 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri ulu hati. Pada

pemeriksaan penunjang, ditemukan H. pylori. Terapi yang tepat adalah...

A. PPI + amoksisilin + metronidazol

B. PPI + metronidazol + klaritromisin

C. PPI + H2 antagonis + antasida

D. PPI + sukralfat + antasida

E. H2 antagonis + bismut + amoksisilin


Infeksi H. pylori
• Jika terbukti positif terinfeksi, baru boleh ditatalaksana karena penanganan
antibiotik rawan gagal dan akan menimbulkan resistensi antibiotik yang
berbahaya

• Terapi eradikasi kuman H. Pylori dikenal dengan Triple Therapy


selama 14 hari! (1 PPI + 2 antibiotik)
1. Omeprazole 20 mg (2x1)
2. Clarithromycin 500 mg (2x1) ATAU metronidazole 500 mg
3. Amoxicillin 1000 mg (2x1) ATAU metronidazole
H. pylori Triple Therapy

14
hari!
1.Omeprazole 20 mg
(2x1)
2.Clarithromycin 500
mg (2x1)
3.Amoxicillin 1000
mg (2x1)
!
Clarithromycin
merupakan
antibiotik first line
untuk H. pylori
A. PPI + amoksisilin + metronidazol

B. PPI + metronidazol + klaritromisin

C. PPI + H2 antagonis + antasida

D. PPI + sukralfat + antasida

E. H2 antagonis + bismut + amoksisilin


83
Laki-laki 55 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak
3 hari lalu. Keluhan disertai mual, muntah, dan demam. Pada pemeriksaan fisik
teraba hepar 3 jari di bawah arkus kosta, floating, tepi tumpul. Pada USG
ditemukan massa 8,6 cm x 7,8 cm. Diagnosis pada pasien adalah…

A. Kolangitis

B. Hepatitis

C. Kolesistitis

D. Fatty liver

E. Abses hepar
Pembahasan
• Nyeri perut kanan atas
– Khas untuk gangguan hepar atau empedu
• Demam
– Menandakan infeksi/inflamasi
• Mual dan muntah
• Perbesaran hepar 3 jari di bawah arkus costae
– Gangguan pada hepar!
• Gambaran massa pada USG
– Menggambarkan abses atau batu. Pada hepar  abses!
• Diagnosis?
Abses Hepar
• Dibagi menjadi :
1. Abses hati amoebik  akibat amoeba, sering diawali
diare berdarah (disentri)
2. Abses hati piogenik
• Gejala :
– Nyeri perut kanan atas, hingga jalan membungkuk
– Ikterus
– Demam tinggi
– Mual, muntah, penurunan nafsu makan
Pemeriksaan Fisik

• Hepatomegali
• Nyeri tekan hepar
• Ludwig’s sign  nyeri
pada penekanan pada
sela iga 6 aksilaris
anterior
Pemeriksaan Penunjang
• Lab : leukositosis dengan shift to the left,
hiperbilirubinemia, peningkatan ALP, AST, ALT
• USG merupakan pemeriksaan terpilih
– Hipoechoic, bulat, berbatas tegas
Tatalaksana
• Kultur darah
• Pyogenic :
– Ceftriaxone atau cefotaxime ditambah
metronidazole
• Amoebic
– Metronidazole
• Drainase jika abses >3 cm (pyogenic) atau >5
cm (amoebic)
A. Kolangitis  Charcot’s Triad (demam, ikterus,
RUQ pain)
B. Hepatitis
C. Kolesistitis  Murphy’s sign (+)
D. Fatty liver
E. Abses hepar
84
Pria 63 tahun datang dengan keluhan sesak dan nyeri perut kanan atas. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 140/100 mmHg, nadi 100 kali/menit, napas
20 kali/menit, suhu afebris, shifting dullness (+), dan fluktuasi (+). Pasien tidak ada riwayat
mengkonsumsi alkohol. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan HDL 30 mg/dL,
GDS 299 mg/dL, dan AST 110 U/L. Diagnosis pada pasien ini adalah…

A. Abses hepar

B. Karsinoma hepar

C. Hepatitis

D. Kolesistitis

E. Hepatitis A
Pembahasan
• Nyeri perut kanan atas  hepar atau empedu
• Sesak, asites (shifting dullness), dan fluktuasi
– Efek hipoalbumin  gangguan hepar kronik  sirosis?
Ca hepar?
• Tidak ada riwayat alkohol
• Hiperglikemia  faktor risiko
• HDL rendah, AST meningkat
– Gangguan fungsi hepar
• Diagnosis?
Hiperglikemia sebagai faktor risiko hepatocellular
carcinoma (HCC)
Hepatocellular Carcinoma

• Faktor risiko :
– Hepatitis B
– Hepatitis C
– Sirosis hati
– Obesitas
– Diabetes mellitus
– Aflatoxin B1
(Aspergillus)
Manifestasi Klinis
• Nyeri perut kanan atas
• Hepatomegali
• Sesak napas (akibat tumor menekan diafragma
atau metastasis tumor ke paru)
• Splenomegali
• Asites
• Ikterus
Pemeriksaan

• Laboratorium
– Alfa fetoprotein (AFP)  marker HCC

– Serologi hepatitis

• USG abdomen  pemeriksaan radiologi awal,


dapat dilanjutkan dengan CT Scan atau MRI
Pilihan Lain

• Abses hepar  disertai demam

• Hepatitis

• Kolesistitis  Murphy’s sign (+)

• Hepatitis A  demam, ikterus, riwayat jajan


A. Abses hepar

B. Karsinoma hepar

C. Hepatitis

D. Kolesistitis

E. Hepatitis A
85
Laki-laki 50 tahun datang ke IGD RS dengan keluhan perut yang semakin membesar
sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan mata kuning. Dari pemeriksaan fisik
ditemukan TD 110/70 mmHg, nadi 65 kali/menit, napas 22 kali/menit, dan suhu 36,50C.
Didapatkan spider naevi, asites, dan splenomegali. Pemeriksaan lab didapatkan Hb 9
gr/dL, albumin 2,3 g/L dan globulin 3,3 g/L. Diagnosis pasien adalah…

A. Sirosis hepatis

B. Hepatitis B akut

C. Hepatitis B kronis

D. Hepatitis alkoholik

E. Fatty liver
Pembahasan
• Perut membesar sejak 1 bulan
– Ascites? Hepatomegali?
• Sklera ikterik
• Ascites, spider naevi
– Stigmata sirosis
• Hb 9, hipoalbuminemia
– Komplikasi sirosis
• Normal globulin (n=2.0 – 3.5)
• Diagnosis?
Sirosis Hati
• Stadium akhir fibrosis hepar yang ditandai nodul
regeneratif akibat nekrosis hepatoseluler.
• Dibagi menjadi
– Sirosis hati kompensata  disertai gejala klinis
– Sirosis hati dekompensata  tanpa disertai gejala klinis
• Faktor risiko
– Alkohol
– Hepatitis B dan C
– Gangguan bilier
– Penyakit sistemik lain (jantung, metabolik)
– Obat-obatan
Gejala Klinis (Stigmata Sirosis)
• Spider naevi
• Jaundice
• Sklera ikterik
• Palmar eritema
• Ginekomastia
• Asites
• Ensefalopati hepatikum
• Asterixis/flapping tremor
Patofisiologi Sirosis
Pemeriksaan Penunjang
• Laboratorium
– SGOT SGPT meningkat, tidak terlalu tinggi
– ALP meningkat, tidak terlalu tinggi
– Hipoalbumin
– Anemia (hipertensi porta  hipersplenisme 
anemia NN)
– Globulin meningkat (peningkatan bakteri 
imunoglobulin naik)
– PT memanjang
• USG  hati mengecil (stadium lanjut), nodular
Pilihan Lain
• Hepatitis B akut  demam, ikterus, HBsAg (+)
• Hepatitis B kronis  IgG anti-HBc (+)
• Hepatitis alkoholik
• Fatty liver
A. Sirosis hepatis

B. Hepatitis B akut

C. Hepatitis B kronis

D. Hepatitis alkoholik

E. Fatty liver
86

Wanita 35 tahun datang dengan keluhan


sulit menelan sejak 1 tahun terakhir.
Keluhan juga disertai dengan penurunan
berat badan dalam beberapa bulan terakhir.
Gambaran hasil pemeriksaan adalah seperti
berikut. Diagnosis pasien adalah…
A. GERD
B. Esofagitis
C. Akalasia
D. Gastristis
E. Ulkus duodenum
Pembahasan
• Sulit menelan sejak 1 tahun terakhir
• Penurunan berat badan
• Gambaran bird’s beak pada esofagus
– Gambaran khas akalasia
• Diagnosis?
Akalasia
• Degenerasi ganglia pleksus mesenterik
(Auerbach) pada korpus esofagus bagian
bawah disertai hipertonus pada sfingter
bagian bawah.
Diagnosis
• Esofagogram
– Bird’s beak appearance
• Endoskopi saluran cerna
Pilihan Lain
• GERD  refluks akibat menurunnya tonus
LES
• Esofagitis  inflamasi esofagus
• Gastritis  inflamasi lambung
• Ulkus duodenum  nyeri 2 jam setelah
makan, nyeri di malam hari
A. GERD

B. Esofagitis

C. Akalasia

D. Gastristis

E. Ulkus duodenum
87
Laki-laki 35 tahun datang dengan keluhan demam sejak 6 hari lalu. Keluhan disertai mual, muntah,

nyeri perut, dan lemas. Pasien mempunyai kebiasaan makan kerang mentah hampir tiap

minggu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 98 kali/menit,

napas 20 kali/menit, suhu 38,6oC, sklera ikterik, hepatomegali dan tanpa splenomegali. Pada

pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil AST dan ALT meningkat, bilirubin total 25

mg/dL. Pemeriksaan serologis yang diperlukan untuk menunjang diagnosis adalah…

A. IgM anti HAV

B. IgG anti HAV

C. IgM anti HBc

D. Total anti HBc

E. Anti HBs
Pembahasan
• Demam sejak 6 hari  akut!
• Mual, muntah, nyeri perut
• Riwayat makan kerang mentah
– Risiko penularan melalui makanan
• Sklera ikterik
• Hepatomegali
• ALT, AST, dan bilirubin meningkat
– Kecurigaan hepatitis
• Pemeriksaan penunjang yang digunakan?
Hepatitis A
• Peradangan hepar akibat virus hepatitis A (HAV)
• Ditularkan secara fecal-oral
• Faktor risiko :
1. Konsumsi makanan terkontaminasi kotoran (buah-
buahan, sayuran, kerang, es dan air yang tersering)
2. Kontak dengan tinja atau darah penderita
3. Tidak mencuci tangan sebelum makan atau setelah
buang air
4. Bepergian ke tempat endemis
Manifestasi Klinis
• Demam
• Ikterus/jaundice
• BAK seperti teh
• Mudah lelah
• Mual, muntah, hilang nafsu makan
• Nyeri abdomen
• BAB dempul
• Pemeriksaan Penunjang
– IgM anti-HAV  infeksi akut
– IgG anti-HAV
– SGOT, SGPT meningkat (PT lebih tinggi dari OT)
• Tatalaksana
– Tidak ada tatalaksana khusus, self-limiting
– Istirahat
– Tatalaksana gejala
Pencegahan
• Cuci tangan setelah buang air atau kontak
dengan darah, cairan dan feses penderita
• Hindari makanan/minuman tidak bersih
• Hindari daging mentah
• Hindari jajan sembarangan
• Masak air hingga mendidih
• Vaksinasi hepatitis A (tidak wajib)
Pilihan Lain
• IgG anti HAV  jika tanpa IgM menandakan
infeksi lampau
• IgM anti HBc  penanda hepatitis B akut
• Total anti HBc  penanda hepatitis B
• Anti HBs  penanda hepatitis B
A. IgM anti HAV

B. IgG anti HAV

C. IgM anti HBc

D. Total anti HBc

E. Anti HBs
88
Seorang anak usia 2 minggu, terdapat celah pada bibir dan rongga
mulut. Tidak terdapat riwayat keluarga seperti pasien. Ada kesulitan saat
menyusui. Diagnosis pasien adalah...

A. Labiopalatoschizis

B. Palatoschizis

C. Gnatoschizis

D. Labioschizis

E. Labiopalatognatoschizis
Sumbing
• Labio  bibir
• Gnato  hidung
• Palato  langit-langit/palatum
A. Labiopalatoschizis

B. Palatoschizis

C. Gnatoschizis

D. Labioschizis

E. Labiopalatognatoschizis
89
Seorang pria mengeluhkan nyeri pada perut disertai dengan demam.
Pemeriksaan fisik: TD: 120/70 mmHg, N: 100 kali/menit, P: 20 kali/menit, S:
38.2C. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan defans muskular dan perkusi
perut berpola papan catur. Apakah diagnosis pada kasus di atas ?

A. Kolitis

B. Apendisitis

C. Peritonisis

D. Kolelitiasis

E. Kolesistitis
Pembahasan
• Nyeri perut disertai demam 38.2C
• Defans muskular (+)
• Perkusi perut berpola papan catur
• Diagnosis?
Peritonitis
• Infeksi rongga peritoneum, dapat disebabkan oleh
perforasi organ gastrointestinal atau peradangan
misalnya pada kasus pankreatitis akut
• Tanda & gejala
– Demam
– Takikardi
– Anoreksia
– Nyeri perut yang memberat dengan gerakan
– Defans muskular atau kaku otot serta
– Guarding
Defans Muskular vs Guarding
• Defans muskular/spasme/kaku otot
– Bersifat involunter akibat iritasi peritoneum
dibawahnya biasanya terlokalisir
• Guarding
– Kontraksi volunter otot dinding abdomen untuk
menghindari nyeri, biasanya lebih lebih luas
Fenomena papan catur
• Fenomena papan catur adalah perkusi
abdomen yang menunjukkan bunyi timpani dan
redup berpindah-pindah
• Fenomena ini biasanya ditemukan pada kasus
peritonitis tuberkulosa dimana terdapat
cairan sekaligus omentum yang menebal di
rongga peritoneum.

Karim B, Rinaldi I, Syam AF, Abdullah M, Pitoyo CW. Tuberculous peritonitis presenting acute recurrent pancreatitis. The Indonesian Journal of
Gastroenterology, Hepatology and Digestive Endoscopy. 2009;10(3):125-30.
Pilihan lain
• Kolitis
– Biasanya mempengaruhi pola defekasi (terdapat diare
atau konstipasi, dapat disertai darah atau lender)
• Apendisitis
– Terdapat nyeri tekan dan lepas pada titik McBurney
• Kolelitiasis
– Nyeri perut pada regio epigastrium atau kuadran
kanan atas, nyeri biasanya dirasakan postprandial
• Kolesistitis
– Nyeri terlokalisir pada kuadran kanan atas, disertai
nyeri lepas dan guarding. Murphy sign (+)
A. Kolitis

B. Apendisitis

C. Peritonitis

D. Kolelitiasis

E. Kolesistitis
90
Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke IGD dengan keluhan terdapat
benjolan pada lipat paha kirinya sejak 1 minggu. Benjolan dirasa nyeri terlebih
lagi saat mengangkat beban berat. Selain itu pasien juga merasakan mual dan
muntah-muntah. Diagnosis yang paling mungkin adalah...

A. Tumor testis

B. Hernia inguinalis lateralis reponibilis

C. Hernia inkarserata

D. Hernia inguinalis lateralis ireponibilis

E. Hernia sikatrik
Pembahasan
• Pria 35 tahun
– Benjolan di lipat paha kiri sejak 1 minggu
• Hernia dd KGB
• Nyeri (+), terutama saat mengangkat beban berat
– Berhubungan dengan tekanan intraabdomen  KGB
• Mual dan muntah (+)
– Ada tanda obstruksi
• Diagnosis?
Hernia
• Berdasarkan lokasi: • Berdasarkan sifatnya:
– Reponibilis: isi hernia dapat
– Inguinalis keluar masuk
– Femoralis – Ireponibilis: isi hernia tidak
dapat dikembalikan ke rongga
– Ventral/anterior  umbilikal, asal
paraumbilikal, epigastrik – Inkarserata: hernia ireponibilis
– Lainnya  insisional, spigelian, yang disertai dengan gangguan
obturator, lumbar, perineal pasase usus sehingga
menyebabkan adanya mual,
muntah, bisa ada nyeri
– Strangulata: hernia inkarserata
yang terjepit cincin hernia,
menyebabkan gangguan
vaskularisasi sehingga dapat
terjadi iskemia lokal 
perforasi (nyeri dominan)
Hernia inguinalis lateral (indirek) VS medial (direk)

Karakteristik LATERAL (INDIREK) MEDIAL (DIREK)


Usia Muda, tua (biasanya usia Jarang ditemukan pada
muda) anak dan dewasa muda
Etiologi ‐ Kongenital (patensi Didapat (kelemahan otot
prosesus vaginalis) dinding perut)
‐ Didapat (terbukanya
kanal akibat peningkatan
tekanan intraabdomen)
Lokasi terhadap A. Lateral Medial
epigastrika inferior
Turun hingga skrotum Sering Jarang
Risiko strangulasi Lebih mungkin Jarang
A. Tumor testis

B. Hernia inguinalis lateralis reponibilis

C. Hernia inkarserata

D. Hernia inguinalis lateralis ireponibilis

E. Hernia sikatrik
91
Pasien laki-laki 28 tahun datang ke praktek dokter dengan keluhan buang air besar
berlemak. Keluhan disertai nyeri perut dan diare. Pada pemeriksaan fisik ditemukan TD
120/80 mmHg, nadi 90 kali/menit, napas 20 kali/menit, dan suhu 36,5C. Pada
pemeriksaan feses ditemukan parasit berflagel, motil, dan simetris. Apa
mikroorganisme yang dimaksud ?

A. Giardia lamblia

B. Entamoeba histolitica

C. Vibrio colerae

D. Schistosoma japonicum

E. Balantidium coli
Pembahasan
• Laki-laki, 28 tahun
– BAB berlemak
– Nyeri perut
– diare
• Tanda vital dalam batas normal
• Feses: parasit berflagel, motil, simetris
• Diagnosis?
Giardiasis
• Termasuk salah satu bentuk gastroenteritis,
disebabkan oleh Giardia lamblia (sejenis
protozoa).
• Faktor risiko
– Imunosupresi
– Riwayat perjalanan
– Seks anal
– Berenang
– Hewan peliharaan
Gejala Giardiasis
• Gejala Klinis :
– Sering asimtomatis
– Rasa lesu, perut kembung, kentut, nyeri perut, feses
cair, dan diare eksplosif
– Peradangan ringan, gangguan penyerapan lemak 
Steatorrhoea, avitaminosis
– Gejala ringan & menahun  penderita kurus dan
lemah
• Diagnosis :
– Diagnosa pasti  pemeriksaan faeces atau aspirasi
cairan duodenum  cysta maupun trophozoit
Siklus hidup
Tropozit dan Kista

Diagnosis:
Feses: kista oval dengan 4 nukleus atau tropozoid dengan
2 nukleus dan 4 flagel.
Disentri
Disentri
Tatalaksana
• Tetrasiklin 4 x 12,5 mg/kgBB selama 3 hari 
kolera
• Ciprofloxacin 2 x 15 mg/kgBB selama 3 hari
 disentri shigella
• Metronidazole 3 x 10 mg/kgBB selama 5 hari
 amoebiasis
• Metronidazole 3 x 5 mg/kgBB selama 5 hari 
giardiasis
A. Giardia lamblia

B. Entamoeba histolitica

C. Vibrio colerae

D. Schistosoma japonicum

E. Balantidium coli
92
Seorang laki-laki usia 18 tahun datang dengan keluhan nyeri perut sejak 2 hari yang lalu. Nyeri seperti
ditusuk tanpa adanya nyeri bagian ulu hati disertai mual, muntah, dan diare. Pasien mengeluh gatal di
bagian dubur, telapak tangan, dan telapak kaki. Tanda vital: TD 110/70 mmHg, nadi 80 kali/menit, napas 18
kali/menit, suhu 37C. Dari pemeriksaan fisik didapatkan nodul eritem dan soliter seperti benang pada
regio glutea, telapak tangan, dan telapak kaki. Pemeriksaan feses didapatkan larva rabditiformis. Apa
diagnosis yang tepat ?

A. Giardiasis

B. Strongiloidiasis

C.Ankilostomiasis

D.Askariasis

E.Tricuris
Pembahasan
• Laki-laki 18 tahun
– Nyeri perut sejak 2 hari yang lalu seperti ditusuk
– Mual & muntah
– Diare.
– Gatal di bagian dubur, telapak tangan, dan telapak kaki.
• Px fisik nodul eritem dan soliter seperti benang
pada regio glutea, telapak tangan, dan telapak kaki
• Px feses larva rabditiformis.
• Diagnosis?
Strongilodiasis

• Infeksi oleh
cacing
Strongyloides
stercoralis
Gejala dan Tanda Strongilodiasis
• Pada infeksi ringan tidak menimbulkan gejala
khas
• Pada infeksi sedang bisa menyebabkan nyeri
epigastrium yang tidak menjalar
• Gatal di kulit
• Mual dan muntah
• Diare dan konstipasi yang bergantian
Faktor Risiko Strongiloidiasis
• Menggunakan feses sebagai pupuk.
• Jarang menggunakan jamban untuk buang air
besar.
• Tidak menggunakan alas kaki saat bersentuhan
dengan tanah.
Pemeriksaan
• Pemeriksaan fisik
– Kulit  “creeping eruption” papul eritem menjalar
& tersusun linear/ berkelok-kelok seperti benang.
Predileksi: telapak kaki, bokong, genital & tangan
– Abdomen  nyeri epigastrik
• Pemeriksaan penunjang
– Lab mikroskopik  larva rabditiform pada feses,
atau ditemukan cacing dewasa
– Lab darah  esinofilia, hipereosinofilia, walau
kebanyakan kasus esionifil dapat normal
Pengobatan Strongilodiasis
• Terapi pilihan: albendazol 1-2x400 mg selama 3
hari.
• Pilihan lain: mebendazol 3x100 mg selama 2
atau 4 minggu.
A. Giardiasis

B. Strongiloidiasis

C.Ankilostomiasis

D.Askariasis

E.Tricuris
93
Perempuan 35 tahun datang dengan keluhan buang air besar bercampur darah
segar menetes. Keluhan disertai benjolan pada anus yang bisa dimasukan
menggunakan jari. Kemungkinan diagnosis pasien ini adalah ...

A. Hemorroid grade I

B. Hemorroid grade 2

C. Hemorroid grade 3

D. Hemorroid grade 4

E. Hemorroid grade 5
Pembahasan
• Perempuan 38 tahun
– BAB bercampur darah segar menetes
– Benjolan pada anus bisa dimasukan dengan
jari
• Diagnosis ?
Hemoroid
• Pelebaran vena-vena di dalam pleksus hemoroidalis
(daerah anus).
• Gejala
– Adanya darah segar yang menetes pada saat defekasi.
– Pada hemoroid yang lebih berat, bisa terjadi prolaps massa
dari anus ketika defekasi.
– Awalnya massa masih bisa masuk sendiri setelah selesai
defekasi. Lama-kelamaan, massa harus dimasukkan secara
manual dengan jari, hingga akhirnya tidak bisa masuk lagi.
– Adanya lendir.
– Iritasi di daerah perianal.
– Perdarahan terus-menerus menyebabkan anemia.
Faktor Risiko Hemoroid
• Penuaan
• Lemahnya dinding pembuluh darah
• Wanita hamil
• Konstipasi
• Jarang mengonsumsi makanan berserat
• Peningkatan tekanan intraabdomen
• Batuk kronik
• Sering mengedan
• Duduk terlalu lama di toilet
Dua Jenis Hemoroid

Hemoroid internal
• Berasal dari bagian proksimal garis
dentata dan dilapisi oleh mukosa.
Hemoroid eksternal
• Berasal dari garis dentata dan dilapisi oleh
epitel mukosa termodifikasi dan
persarafan serabut saraf nyeri somatik
Derajat Hemoroid
Derajat Tanda
Derajat 1 Hemoroid mencapai lumen anal kanal
Derajat 2 Hemoroid mencapai sfingter eksternal
dan tampak saat pemeriksaan, tetapi bisa
masuk secara spontan
Derajat 3 Hemoroid keluar dari anal kanal, hanya
bisa dimasukkan secara manual oleh
pasien.
Derajat 4 Hemoroid selalu keluar dan tidak bisa
masuk meski dilakukan secara manual.
A. Hemorroid grade I

B. Hemorroid grade 2

C. Hemorroid grade 3

D. Hemorroid grade 4

E. Hemorroid grade 5
94
Laki-laki usia 50 tahun datang dengan keluhan mual, muntah, serta tidak dapat buang air
besar. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal. Dari
pemeriksaan fisik perut didapatkan darm steifung, darm contour, peningkatan bising usus
dan metallic sound. Pada pemerikasaan BNO 3 posisi ditemukan gambaran step ladder
patern dan herring bone. Diagnosis pasien ini adalah ...

A. Ileus mekanik

B. Ileus paralitik

C. Irritable bowel syndrome

D. Chron’s disease

E. Kolitis ulseratif
Pembahasan
• Laki-laki 50 taahun
– Mual & muntah
– Tidak dapat BAB
• Abdomen: darm contour (+), darm steifung (+),
mettalic sound (+)
• BNO  step ladder, herring bone
• Diagnosis?
Illeus

• Merupakan gangguan pasase usus yang


disebabkan oleh hambatan mekanis (mekanik)
atau penurunan peristaltik usus akibat
penghambatan sistem neuromuskular
(paralitik)
Illeus Mekanik
• Gejala
– Kolik abdomen
– Mual dan muntah
– Tidak ada BAB dan flatus
• Etiologi:
– Dewasa: adhesi, hernia, batu empedu, dan tumor
– Neonatus, balita, anak-anak: hernia, malrotasi,
intususepsi, diverticulum meckel, atresia intestinal
Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik
• Abdomen  distensi, tampak gambaran usus
(darm contour), tampak gerakan usus (darm
steifum) hipertimpani, peningkatan bising usus,
“metallic sound”, nyeri tekan
Penunjang
• Abdomen 3 posisi: step ladder dan herring bones
A. Ileus mekanik

B. Ileus paralitik

C. Irritable bowel syndrome

D. Chron’s disease

E. Kolitis ulseratif
95
Seorang bayi selalu memuntahkan ASI setelah diberikan ASI oleh ibunya sejak
lahir. Selain itu, air liur pasien juga dikatakan terus mengalir. Dokter berusaha
memasukan selang lambung namun selalu gagal. Apakah diagnosis yang
tepat ?

A.Akalasia

B.Atresia esophagus

C.Atresia duodenum

D. Divertikulum esophagus

E.Atresia duodenum
Pembahasan
• Bayi
– Selalu memuntahkan ASI sejak lahir
– Air liur terus mengalis
– NGT gagal dimasukan

• Diagnosis?
Kelainan Kongenital Pada
Sistem Gastrointestinal Anak
Morbus Hirschprung
• Pasase mekonium terlambat akibat sistem aganglionik, colok dubur
menyemprot
• Biopsi : aganglionik pleksus Meissner dan Auerbach

Stenosis Pylorus
• Muntah menyemprot berisi bercak kopi, teraba massa di epigastrium
seperti buah zaitun/olive
• BOF : String sign

Atresia Esofagus
• Hipersalivasi, tersedak pada usia neonatus, dapat ditemukan riwayat
polihidramnion pada ibu
• BOF : single bubble sign, gambaran coiling NGT
Kelainan Kongenital Pada
Sistem Gastrointestinal Anak
Atresia Duodenum
• Muntah hijau (bilier) di usia awal kelahiran
• BOF : Double bubble sign
Hernia Diafragmatika
• Sesak, bising usus pada auskultasi paru
• Thorax :gambaran usus di paru
Intususepsi
• Kolik perut, diare red currant jelly
• BOF : target sign, pemeriksaan colok dubur : portio like sign
Volvulus
• Distensi abdomen, kembung, muntah, bising usus meningkat
• BOF : coffe bean appearance
Atresia esofagus
• Coiling NGT
Pilihan lain
• Akalasia: usia
tua, barium
swallow: rat-tail
sign/ bird beak
appearence
• Diverticulum
esofagus
terdapat kantong
pada esofagus
A.Akalasia

B.Atresia esophagus

C.Atresia duodenum

D. Divertikulum esophagus

E.Atresia duodenum
96
Seorang anak laki-laki 4 tahun dibawa ke IGD karena kembung sejak 3 hari terakhir. Keluhan

disertai muntah sisa makan yang lama-kelamaan berwarna kuning kehijauan. Pasien dikatakan

buang air besar disertai darah dan lendir sejak 2 hari lalu dan tidak bisa kentut sejak 1 hari lalu,

BAK normal. Pada pemeriksaan fisik tidak terdapat bising usus. Foto polos abdomen menunjukkan

air fluid level dan udara tidak terdistribusi sampai distal. Hasil USG abdomen ditemukan target sign.

Diagnosis pasien ini adalah ...

A.Apendisitis

B. Patent ductus urachus

C. Omfalitis

D. Divertikulum Meckel

E. Hernia umbilikalis
Pembahasan
• Anak laki-laki, 4 thn
– Kembung sejak 3 hari yang lalu
– Muntah sisa makanan muntah kuning kehijauan
– BAB darah dan lendir 2 hari yang lalu
– Kentut (-) sejak 1 hari yang lalu
• Bising usus (-)
• BNO: air fluid level (+) udara distal (-)
• USG: “Target sign”

• Diagnosis?
Intususepsi
• Proses dimana segmen intestinal mengalami
invaginasi kedalam lumen intestinal didekatnya
yang menyebabkan obstruksi pencernaan.
• Etiologi:
– Idiopatik
– Divertikulum Meckel
– Pembesaran nodus mesentrika
– Tumor
– Iatrogenik
– HSP
– Hematoma
Invaginasi = Intususepsi
Gejala dan tanda
• Gejala:
– muntah,
– nyeri perut,
– riwayat BAB darah dan lendir
– “red currant jelly stools”
• Tanda
– Terdapat massa berbentuk sosis pada
hipokondriaka kanan dan area kuadran kanan
bawah tampak kosong (dance sign)
BAB selai jelly (currant jelly stool)
Penunjang
• BNO:
– Gambaran obstruksi usus halus
– hilangnya udara pada kuadran kanan atas dan
bawah
• USG
– Target sign/pseudokidney sign/donat sign
Target sign
Pilihan lain
• Appendisitis ALVARADO scores
• Paten ductus urachus kelainan kongenitas
ductus urachus tidak menghilang, keluar urin
dari umbilikus
• Omfalitis infeksi umbilikus
• Hernia umbilikalis Usus masuk kedalam
fascia umbilicus
A.Apendisitis

B. Patent ductus urachus

C. Omfalitis

D. Divertikulum Meckel

E. Hernia umbilikalis
97
Wanita 23 tahun, datang dengan keluhan nyeri ulu hati, terasa terbakar
sejak 3 bulan yang lalu. Dirasakan terutama saat tidur malam hari.
Disertai dengan batuk tidak berlendir. Apakah diagnosis kasus ini ?

A. GERD

B. Gastritis

C. Peptic ulcer

D. Duodenal ulcer

E. Psychogenic stress
Pembahasan
• Wanita 23 tahun
– Nyeri ulu hati, terasa terbakar terutama saat
malam hari
– Batuk tidak berdahak
• Diagnosis ?
Gastro-Esophageal Reflux Disease (GERD)

• Definisi: Disebut GERD bila terjadi refluks


asam lambung yang mengganggu pasien
(minimal 2 kali heartburn/minggu)
• Atau, bila terjadi komplikasi (esofagitis, striktur
esofagus ringan, atau esofagus Barrett
• Gejala:
1. Esofageal
2. Ekstraesofageal
Gejala Esofageal
• Heartburn (rasa terbakar di retrosternal.
Dicetuskan setelah makan, berbaring,
membungkuk, atau mengedan. Membaik
dengan antasida).
• Bersendawa
• Regurgitasi asam lambung atau empedu
• Peningkatan salivasi
• Odinofagia (nyeri menelan, bila sudah terjadi
esofagitis)
Gejala Ekstraesofageal
Masuknya asam lambung ke saluran napas

• Asma nokturnal (asma pada malam hari)


• Batuk kronik
• Laringitis
• Sinusitis
Komplikasi
• Esofagus Barrett (metaplasia epitel esofagus
distal)
• Esofagus Barrett bisa berkembang menjadi
kanker esofagus

Barrett
Columnar
mucosa
Penunjang
• Umumnya tidak memerlukan pemeriksaan
penunjang
• Endoskopi diperlukan jika:
– Gejala bertahan >4 minggu
– Muntah terus-menerus
– Perdarahan gastrointestinal
– Teraba massa
– Usia >55 tahun
– Disfagia
– Gejala tidak membaik dengan pengobatan
– Berat badan turun
Edukasi
• Posisi kepala harus lebih tinggi ketika tidur
• Menurunkan berat badan
• Menghentikan merokok
• Makan dalam porsi kecil dan teratur
• Menghindari: minuman panas, alkohol, buah asam, tomat,
bawang, makanan pedas, kopi, coklat, teh, dan makan <3
jam sebelum tidur
• Hindari obat yang merelaksasi sfingter esofagus bawah
(nitrat, antikolinergik, CCB) DAN obat yang merusak
mukosa lambung (NSAID, garam kalium, dan bifosfonat)
Pilihan lain
A. GERD

B. Gastritis

C. Peptic ulcer

D. Duodenal ulcer

E. Psychogenic stress
98
Seorang wanita 22 tahun datang dengan keluhan nyeri ulu hati. Pasien juga mengeluh
mual muntah berisi sisa makanan. Keluhan dirasakan sejak beberapa bulan. Riwayat
muntah darah disangkal. Riwayat sering minum obat anti nyeri yang dibeli di apotek.
Hasil pemeriksaan gastroduodenoskopi didapatkan mukosa gaster eritema, edematous
kriptae, dan erosi mukosa. Apa terapi yang tepat diberikan pada pasien ?

A. Lansoprazole

B. Ondansentron

C. Ranitidin

D. Metoclopramide

E. Loperamide
Pembahasan
• Wanita 22 tahun
• Nyeri ulu hati, mual muntah berisi sisa makanan
• Keluhan dirasakan sejak beberapa bulan
• Riwayat muntah darah (-)
• Riwayat sering minum obat anti nyeri yang dibeli
di apotek
• Hasil pemeriksaan gastroduodenoskopi: mukosa
gaster eritema, edematous kriptae, dan erosi
mukosa
• Terapi?
Penyakit Tukak Peptik
• Penyakit sal. Cerna bagian atas kronis, dibagi
menjadi tukak peptik dan duodenum. Paling sering
terjadi pada bagian fundus dan korpus (tempat
produksi asam lambung)
• Bentuk oval atau bulat ukuran >5mm mencapai
subnukosa pada mukosa lambung dan duodenum
akibat terputusnya integritas mukosa
• Sering kali berhubungan dengan infeksi H. pylori
yang hidup pada mukosa gaster bagian antrum dan
migrasi ke proksimal lambung, berubah menjadi
kokoid (bentuk dorman)
• Faktor agresif:
– H.pylori
– OAINS
– Stress ulcer; ulkus akibat perdarahan pada pasien syok,
sepsis, luka bakar masif (Curling’s ulcer), trauma berat,
trauma kepala (Cushing’s ulcer).

• Faktor defensif:
– F. preepitel; mukus dan bikarbonat, mucoid cap, active
surface phospholipid,
– F. epitel; kecepatan perbaikan mukosa rusak, pertahanan
seluler, kemampuan transporter asam-basa,
prostaglandin, dan NO
– F. subepitel; aliran darah (mikrosirkulasi), prostaglandin
endogen
H. pylori (gram -, bentuk batang/ spiral,
mikroaerofilik berfralgela mengandung
urease)
• Alarm symptom: – Dengan alarm symptom
– usia >45-50 tahun keluhan I – Usia >55 tahun dengan onset
– Hemetemsis/ melena dispepsia <1 tahun dan
minimal 4 minggu
– Penurunan BB > 10%
– Anoreksia atau rasa cepat • Endoskopi tidak perlu
kenyang dilakukan:
– Riwayat tukak peptik – Sudah terdiagnosis ulkus yang
sebelumnya respon dengan Tx
– Muntah persisten – Usia <55 thn tanpa komplikasi
– Anemia yang tidak diketahui – Sudah pernah endoskopi
penyebabnya dengan keluhan yang sama

• Indikasi endoskopi:
Terapi
• Lini I (7-14 hari)
– PPI 2x1
– Amoxicillin 2x1
– Klaritomisin 2x1

• Sediaan PPI
– Omz 20mg
– Lansoprazole 30mg
– Rabeprazole 20mg
– Pantoprazole 40mg
– Esomeprazole 20mg
Infeksi H. pylori
• Banyak yang terinfeksi H. pylori tetapi tidak simtomatik.
Gejala berupa ulkus gaster atau duodenum.
• Jika terbukti positif terinfeksi, baru boleh ditatalaksana
karena penanganan antibiotik rawan gagal dan akan
menimbulkan resistensi antibiotik yang berbahaya
• Terapi eradikasi kuman H. Pylori dikenal dengan Triple
Therapy selama 14 hari! (1 PPI + 2 antibiotik)
1.Omeprazole 20 mg (2x1)
2.Clarithromycin 500 mg (2x1) ATAU metronidazole 500 mg
3.Amoxicillin 1000 mg (2x1) ATAU metronidazole
Pemeriksaan untuk H. pylori
Empat tes utama:
1. Tes antibodi H. pylori darah
2. Tes napas urea (urea breath test)
3. Tes antigen pada feses
4. Biopsi lambung
H. pylori Triple Therapy

14
1.Omeprazole
20 mg (2x1) hari!
2.Clarithromyci
n 500 mg
(2x1)
3.Amoxicillin
1000 mg (2x1)
98

A. Lansoprazole

B. Ondansentron

C. Ranitidin

D. Metoclopramide

E. Loperamide
99
Seorang wanita usia 35 tahun datang dengan keluhan nyeri pada perut kanan atas yang
dirasakan sejak 5 jam yang lalu. Sebelumnya pasien makan di restoran cepat saji.
Keluhan demam disangkal. Pemeriksaan penunjang menunjukkan Hb 12 g/dL, leukosit
15.000/mm3, dan kolesterol total 260 mg/dL. Kemungkinan diagnosis pada pasien
ini adalah ...

A.Apendisitis akut

B. Kolesistitis

C. Kolelitiasis

D. Kolangitis

E. Pankreatitis
Pembahasan
• wanita 35 tahun
• keluhan nyeri perut kanan atas sejak 5 jam
yang lalu.
• sebelumnya pasien makan di restoran cepat
saji.
• demam disangkal, Hb 12 g/dL, leukosit
15.000/mm3, dan kolesterol total 260 mg/dL.
• Diagnosis?
DD Nyeri
Abdomen
DIAGNOSIS BANDING NYERI
ABDOMEN
Tiga langkah:
1. Minta pasien
buang napas
2. Letakkan tangan
di batas bawah
hepar
3. Minta pasien
tarik napas
Positif jika nyeri
atau pasien berhenti
menarik napas (juga
karena nyeri)
Murphy’s sign
Tanda Murphy adalah tanda dari kolesistitis
(inflamasi pada kandung empedu)

Tanda dan gejala lain dari Kolesistitis:


• Nyeri perut kanan atas (biasanya setelah
makan makanan berlemak)
• Demam (tanda terjadinya inflamasi)
• BAB dempul
• Mual dan muntah
• Kuning
Kolelitiasis Koledokolit Kolesistitis Kolangitis
iasis
Kolik + + +/- +
abdomen
Nyeri - - + +
tekan/
Murphy’s
sign
Demam - - + (low + (high
grade)/- grade)
Ikterus - + - +
Diskusi
• Kasus kolesistitis (biasanya dengan Murphy’s
Sign +) dipicu makanan berlemak. Pada pasien
ini, tidak dilakukan pemeriksaan murphy sign,
tetapi gejala nyeri sudah muncul tanpa
manuver.
• Demam bukan merupakan gejala yang harus
ada pada kolesistitis
Pilihan Lain
• Kolangitis: demam, BAB dempul, BAK cola,
jaundice
• Kolelitiasis: belum pasti ada batu tanpa
pemeriksaan lanjut seperti USG, mungkin saja
penyebab kolesistitis adalah ini tapi masih perlu
dipastikan
• Apendisitis akut: nyeri kuadran kanan
bawah
• Pankreatitis: nyeri bagian epigastrium
Acoustic Shadow pada
Kolelitiasis
99
A.Apendisitis akut

B. Kolesistitis

C. Kolelitiasis

D. Kolangitis

E. Pankreatitis
100
Bayi usia 1 hari dibawa ibunya karena muntah terus-menerus. Muntah
bertambah sering terutama ketika diberi ASI. Foto polos menunjukkan
gambaran double bubble appearance. Diagnosis pasien ini adalah ...

A. Stenosis pilori

B. Stenosis esofagus

C.Atresia esofagus

D. Intususepsi

E.Atresia duodenum
Pembahasan
• Bayi usia 1 hari,
• Muntah terus-menerus, bertambah sering
terutama ketika diberi ASI.
• Foto polos menunjukkan gambaran double
bubble appearance.
• Diagnosis?
Kelainan Kongenital
Pada Sistem
Gastrointestinal Anak
Morbus Hirschprung
• Pasase mekonium terlambat akibat sistem aganglionik,
colok dubur menyemprot
• Biopsi : aganglionik pleksus Meissner dan Auerbach

Stenosis Pylorus
• Muntah menyemprot berisi bercak kopi, teraba massa
di epigastrium seperti buah zaitun/olive
• BOF : String sign

Atresia Esofagus
• Hipersalivasi, tersedak pada usia neonatus, dapat
ditemukan riwayat polihidramnion pada ibu
• BOF : single bubble sign, gambaran coiling NGT
Kelainan Kongenital
Pada Sistem
Gastrointestinal
Atresia Duodenum Anak
• Muntah hijau (bilier) di usia awal kelahiran
• BOF : Double bubble sign
Hernia Diafragmatika
• Sesak, bising usus pada auskultasi paru
• Thorax :gambaran usus di paru
Intususepsi
• Kolik perut, diare red currant jelly
• BOF : target sign, pemeriksaan colok dubur :
portio like sign
Volvulus
• Distensi abdomen, kembung, muntah, bising usus
meningkat
• BOF : coffe bean appearance
Bubble DJI
Sign Duo-Je-I

Single Triple
Atresia Atresia
pylorus Jejunum

Tips:
Double Double buble-Atresia
Duodenum
100

A. Stenosis pilori

B. Stenosis esofagus

C.Atresia esofagus

D. Intususepsi

E.Atresia duodenum