Anda di halaman 1dari 19

Mata Kuliah Fisika Statistik

Dosen Pengampu: Dr. Nurdin Siregar, M.Si

FISIKA STATISTIK ZAT


PARAMAGNETIK

Oleh :
KELOMPOK 5

Mawarni Saputri (8176176009)

Sofia Novita (8176175014)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat–Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah “Fisika Statistik
Zat Paramagnetik’’.
Dalam penyusunan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Dr. Nurdin Siregar, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Fisika
Statistik yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah
ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca
sangat diharapkan untuk perbaikan makalah ini. Akhirnya penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaaat bagi pembaca.

Medan, November 2018


Penulis,

Kelompok 5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah .............................................................................................2
1.3. Tujuan ...............................................................................................................2

BAB II. PEMBAHASAN


2.1. Fungsi Partisi dan Probability pada Keadaan Suhu Tetap ................................3
2.2. Momen Magnetik ..............................................................................................3
2.3. Suseptibilitas Magnetik .....................................................................................5
2.4. Bobot Statistik dan Entropi pada Keadaan Terisolir .........................................7

BAB III. KESIMPULAN


3.1. Kesimpulan .................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA........................................................................... ................ iii

iii
BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Fisika Statistik merupakan cabang ilmu fisika yang mempelajari sistem
banyak partikel dari segi pandang statistik pada besaran mikroskopik untuk
menjelaskan besaran makroskopik (khususnya energi) berdasarkan mekanika
klassik dan kuantum.
Ketika materi ditempatkan dalam medan magnet, kekuatan magnetik dari
bahan yang elektron tersebut akan terpengaruh. Efek ini dikenal sebagai Hukum
Faraday Induksi Magnetik. Namun, bahan dapat bereaksi sangat berbeda dengan
kehadiran medan magnet luar. Reaksi ini tergantung pada sejumlah faktor, seperti
struktur atom dan molekul material, dan medan magnet bersih terkait dengan
atom. Momen magnetik berhubungan dengan atom memiliki tiga asal-usul. Ini
adalah gerakan orbital elektron, perubahan dalam gerak orbit yang disebabkan
oleh medan magnet luar, dan spin dari elektron.
Pada sebagian besar atom, elektron terjadi pada pasangan. Spin elektron
dalam pasangan di arah yang berlawanan. Jadi, ketika elektron dipasangkan
bersama-sama, mereka berputar berlawanan menyebabkan medan magnet mereka
untuk membatalkan satu sama lain. Oleh karena itu, tidak ada medan magnet
bersih. Bergantian, bahan dengan beberapa elektron berpasangan akan memiliki
medan magnet bersih dan akan bereaksi lebih untuk bidang eksternal. Kebanyakan
bahan dapat diklasifikasikan sebagai diamagnetic, atau feromagnetik
paramagnetik.
Bahan paramagnetik adalah bahan yang sedikit menarik garis gaya
magnetik seperti aluminium, magnesium, titanium, platina, dan fungston. Jika
tidak ada pengaruh medan magnetik luar, bahan ini tidak memperlihatkan efek
magnetlk karena momen magnetik total akibat gerak orbital dan elektron relatif
kecil. Tetapi jika diberikan pengaruh dari medan magnet luar, maka akan timbul
momen yang cenderung menyejajarkan medan magnetik dalam dengan medan
magnetik luar. Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai Fisika Statistik
Zat Paramagnetik.

1
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana fungsi partisi dan probability pada keadaan suhu tetap?
2. Bagaimana momen magnetik?
3. Bagaimana suseptibilitas magnetik?
4. Bagaimana bobot statistik dan entropi pada keadaan terisolir?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui fungsi partisi dan probability pada keadaan suhu tetap.
2. Untuk mengetahui momen magnetik.
3. Untuk mengetahui suseptibilitas magnetik.
4. Untuk mengetahui bobot statistik dan entropi pada keadaan terisolir.

2
BAB. II PEMBAHASAN

2.1. Fungsi Partisi dan Probability Pada Keadaan Suhu Tetap


Fungsi partisi merupakan suatu fungsi yang menjelaskan sifat-sifat
statistika suatu sistem dalam kesetimbangan termodinamika. Fungsi ini
bergantung pada suhu dan parameter-parameter lainnya, seperti volum dan
tekanan gas. Kebanyakan variabel-variabel termodinamika dari suatu sistem,
seperti energi, energi bebas, entropi, dan tekanan dapat diekspresikan dalam
bentuk fungsi partisi atau turunannya.
Terdapat beberapa jenis fungsi partisi, masing-masing berhubungan
dengan jenis ensembel statistika atau energi bebas yang berbeda. Fungsi partisi
kanonik diaplikasikan pada ensembel kanonik, di mana sistem dapat
mempertukarkan panasdengan lingkungan pada suhu, volum, dan jumlah partikel
tetap. Fungsi partisi kanonik agung diaplikasikan pada ensembel kanonik agung,
di mana sistem dapat mempertukarkan panas maupun partikel dengan lingkungan
pada suhu, volum, dan potensial kimia tetap. Jenis lain dari fungsi partisi dapat
didefinisikan untuk masing-masing keadaan yang berbeda.

2.2. Momen Magnetik


Momen magnetik adalah medan magnet yang dihasilkan oleh suatu atom.
Percobaan Stern-Gerlach ini memberikan gambaran bahwa sebuah elektron
memiliki sebuah momen magnetik, yang merupakan sifat magnetik yang
berkaitan dengan arus listrik melingkar.
Menurut teori atom Bohr Elektron bergerak sirkular mengelilingi inti.
Orbit elektron dapat digambarkan sebagai loop arus

3
Jika elektron bergerak dengan kecepatan tetap v, maka arus:

Momen magnetik:

Momen magnetik elektron sebanding dengan momentum sudut orbitalnya.


Momen magnetik dan momentum sudut orbital elektron saling berlawanan arah.
Dalam fisika kuantum, momen magnetik ditulis sebagai:

Spin adalah sifat intrinsik elektron yang berkontribusi terhadap momen


magnetik. Perputaran elektron pada sumbunya menghasilkan momentum sudut
spin.

Momen magnetik spin elektron:

4
Nilai momen magnetik spin adalah konstan disebut magneton Bohr

2.3. Suseptibilitas Magnetik


Magnetisasi sama dengan suseptibilitas konstan medan hanya jika
keselarasan pecahan kecil: ini adalah dimana asumsi yang masuk contoh adalah
dalam fase paramagnetik. Suseptibilitas paramagnetik diberikan oleh hukum curie
dimana C adalah konstanta curie.

Paramagnetik: sumber yang dominan spin elektron.

5
Contoh paramagnetik: Li, carbon, rare earth elements.

Mekanisme makroskopis paramegnetik

(a) Tanpa medan magnetik luar


(b) Dalam medan magnetik

6
2.4. Bobot Statistik dan Entropi Pada Keadaan Terisolir
Keadaan termodinamika digambarkan sebagai titik dalam ruang keadaan.
Setiap titik dalam diagram fase sistem PVT bersesuaian dengan sebuah keadaan,
yaitu keadaan termodinamik. Keadaan termodinamik adalah keadaan makro
(macrostate). Setiap keadaan makro bersesuaian dengan banyak sekali keadaan
mikro, bahkan tak-hingga untuk sistem kontinu. Keadaan mikro adalah
konfigurasi sesaat dari semua elemen mikroskopik. Keadaan-keadaan
mikroskopik suatu sistem dapat dinyatakan dalam ruang fase. Ruang fase dari
suatu gas dalam wadah tertutup yang terdiri atas N molekul dapat digambarkan
dalam ruang fase berdimensi 6N, yaitu {x1 · · · pzN}.
Tinjaulah suatu gas dalam wadah. Jumlah molekul gas sangat banyak,
ordenya pada kisaran bilangan Avogadro, 6, 02×1023. Jika kita membagi wadah
menjadi empat bilik, lalu kita andaikan suatu keadaan makro dimana masing-
masing bilik terisi oleh 1/4 bagian gas, maka jumlah keadaan mikro yang
bersesuaian dengan ini akan sangat banyak. Akan tetapi, jika molekul-molekul gas
tersebut tidak terbedakan, maka semua keadaan mikro yang ada akan identik.
Akibatnya, pemerian keadaan mikro menjadi hal yang trivial (tidak penting).
Pemerian keadaan mikro untuk sistem gas adalah dengan menandai posisi
dan kecepatan setiap molekul gas. Andaikan kita memotret gas tersebut pada
suatu saat tertentu dan kita memperoleh data detail sebagai berikut
{x1, y1, z1, . . . , xn, yn, zn; pxi, pyi, pzi, . . . , pxN, pyN, pzN}
dimana qn = (xn, yn, zn) adalah posisi molekul ke-n dengan momentum pn = (pxn,
pyn, pzn).
Hasil pemotretan ini dapat digambarkan sebagai sebuah titik dalam ruang
koordinat 6 dimensi, yaitu 3 sumbu koordinat untuk posisi dan 3 sumbu lainnya
untuk kecepatan. Setiap titik dalam koordinat tersebut dapat dinyatakan dalam
pasangan koordinat (qn, vn), n = 1, . . . 3N, yang masing-masing merupakan
sebuah keadaan mikro. Kumpulan dari semua titik membetuk ruang fase yang
menyatakan semua kemungkinan keadaan mikro. Evolusi temporal dari sistem
akan bersesuaian dengan sebuah kurva (qv(t), pv(t)) dalam ruang-fase. Kurva ini

7
diberi nama trayektori ruang-fase dan memenuhi persamaan Hamilton sebagai
berikut

(1)
dimana Hamiltonian H(qn, vn) bersesuaian dengan energi total dari sistem. Untuk
sistem tertutup, Hamiltonian tidak bergantung waktu, artinya energi tetap (kekal)
sehingga

(2)
Secara umum perubahan waktu besaran A(q, t) dapat dinyatakan sebagai

(3)
Dengan menggunakan Pers. (1) diperoleh,

(4)
dimana {A,H} dinamakan kurung Poisson. Sebagai ilustrasi, jika diambil A = H,
dengan ∂H/∂t = 0, maka {H,H} = 0, berarti dH/dt = 0 yang menunjukkan hukum
kekalan momentum. Teoremanya, jika H, tidak bergantung secara eksplisit
terhadap waktu maka energi tidak mengalami perubahan

Gambar 1: Penggambaran gerak osilator harmonik dalam ruang fasa

8
Entropi
Mari kita tinjau sebuah sistem terisolasi yang terdiri dari dua subsistem
dengan
besaran keadaan Ei, Vi dan Ni, i = 1, 2, sehingga
E = E1 + E2 = konstan dE1 = −dE2
N = N1 + N2 = konstan dN1 = −dN2
V = V1 + V2 = konstan dV1 = −dV2
Ini berarti sub-sub sistem tersebut dapat saling bertukar energi maupun partikel
dan dapat pula bertukar volume. Akan tetapi dalam keadaan setimbang, nilai Ei,
Vi dan Ni akan berada pada nilai rerata tertentu. Bila dianggap kedua subsistem
tersebut saling independen secara statistik, maka keadaan mikro sistem (total)
adalah semua kemungkinan dari perkalian keadaan-keadaan mikro kedua
subsistem, dan jumlah keadaan mikro sistem (total) terkait denga suatu keadaan
makro adalah perkalian dari jumlah keadaan-keadaan mikro kedua subsistem
Ω(E, V,N) = Ω1(E1, V1, N1) Ω2(E2, V2, N2) (5)

Dalam keadaan setimbang termodinamik, keadaan makro yang paling


terbolehjadi, adalah keadaan dengan jumlah keadaan mikronya terbesar, Ω =
Ωmaks, sehingga dΩ = 0. Bila kita membentuk diferensial total persamaan (5)
kita dapatkan
dΩ = Ω2 dΩ1 + Ω1 dΩ2 (6)
atau dengan membagi persamaan ini dengan Ω, didapatkan
d ln Ω = d ln Ω1 + d ln Ω2 (7)
Untuk keadaan setimbang termodinamik, berarti
d ln Ω = 0 (8)
ln Ω = ln Ωmaks

Sekarang sistem yang sama ditinjau secara termodinamik. Bila energi


dalam dari sistem terisolasi diidentikkan dengan total energi E, maka entropinya
diberikan oleh
S(E, V, N ) = S1 (E1 , V1 , N1 ) + S2 (E2 , V2 , N2 ) (9)
berdasar pada sifat ekstensif dari entropi. Diferensial total entropinya adalah

9
dS = dS1 + dS2 (10)
Dan dalam keadaan setimbang termodinamis, nilai entropi sistem akan maksimum
dS = 0 S = Smaks (11)
Dengan membandingkan pers. (8) dengan (11) dan pers. (8) dengan (10), dapat
kita simpulkan adanya keterkaitan hubungan antara lnΩ dengan entropi S. Karena
itu dipostulatkan
S = k ln Ω(E, V, N ) (12)
dengan k adalah suatu konstanta kesebandingan. Persamaan ini sangat penting
bagi mekanika statistik. Persamaan ini mendasari penghitungan semua sifat-sifat
termodinamik dari sistem banyak partikel dengan menggunakan Hamiltonan H(pi
, qi ). Setelah diperoleh entropi S(E, V, N ) maka informasi tentang besaran-
besaran termodinamika lainnya dapat diketahui, misalnya melalui

(13)
Menghitung jumlah keadaan mikro Ω tidak selalu mudah. Untuk sistem-
sistem yang komplek kita harus menggunakan teori ensambel, dan memilih sistem
sebagai sistem yang tertutup atau terbuka . Pers. (13) juga menujukkan pada kita
bahwa konstanta σ0 dalam penghitungan jumlah keadaan mikro tidak memiliki
konsekuensi praktis, karena hanya memberi tambahan konstan terhadap nilai
entropi. Sedangkan dalam termodinamika hanya perbedaan entropi sajalah yang
terukur. Walaupun begitu konstanta σ0 perlu untuk ditinjau lebih mendalam lagi.
Konstanta σ0 per definisi tidak lain adalah elemen permukaan ruang fase yang
dihuni oleh sebuah keadaan mikro.

Dalam tinjauan mekanika klasik hal ini tidak bermakna karena titik
keadaan mikro dalam ruang fase memiliki kerapatan tak hingga, sehingga kita
harus memakai sembarang satuan luas permukaan. Akan tetapi dalam tinjauan
mekanika kuantum, karena relasi ketidakpastian Heisenberg, setiap keadaan mikro
setidaknya menempati sebuah volume seluas ∆p∆q ≥ h atau ∆3Np∆3Nq ≥ h3N.
Karena itu ruang fase dalam tinjauan mekanika kuantum terdiri dari sel-sel dengan
ukuran h3N. Sel-sel ini memiliki volume berhingga, karena itu kita dapat
menghitung jumlah keadaan mikro secara absolut, dan pers. (1.21)memberikan

10
nilai absolut entropi tanpa adanya konstanta tambahan. Nilai entropi S = 0 terkait
dengan suatu sistem yang hanya memiliki tepat satu buah keadaan mikro (Ω = 1).
Dalam prakteknya misalnya sistem kristal ideal pada temperatur nol mutlak
memiliki nilai entropi sama dengan nol. Pernyataan bahwa sistem semacam tadi
pada temperatur T = 0 memiliki nilai entropi S = 0, dikenal juga sebagai hukum
termodinamika ketiga.

Bobot Statistik
Andaikan N buah molekul terbagi ke dalam n bilik dimana masing-masing
bilik berisi N1,N2. . .Nn molekul, maka jumlah keadaan mikroskopik dapat
dihitung sebagai berikut

(28)
dimana Ω biasa juga disebut sebagai bobot statistik (Statistical weight). Faktorial
dari bilangan yang ordenya hingga 1023 akan sangat besar sehingga perlu teknik
khusus untuk menghitungnya. Kita akan menggunakan pendekatan Stirling yaitu
ln x! = x ln x – x
Elaborasi
Rumus Stirling dalam Persamaan di atas sebenarnya merupakan pengintegralan
sederhana sebagai berikut

Selanjutnya, kita akan merumuskan entropi yang secara mekanika statistik


didefinsikan sebagai
S = k lnΩ (29)
Dengan menggunakan rumus Stirling, diperoleh

(30)

Jumlah molekul yang berada pada bilik ke-i tentu saja berubah setiap saat.
Akan tetapi pada saat entropi maksimum, maka perubahan bobot statistik

11
maksimum Ωmax akibat perubahan dari Ni adalah nol. Jika bobot statistik Ω
maximum, logaritmanya juga maximum, sehingga

(31)
Suku pertama dari sini hasilnya lenyap sebab

(32)
Alasan kenapa ∑ δNi= 0, terkait dengan kenyataan bahwa jumlah molekul tetap,
pertambahan jumlah dalam suatu bilik adalah akibat pengurangan pada bilik yang
lain. Implikasinya,

Perlu diperhatikan bahwa δN tidak saling bebas karena

(33)
yang merupakan persamaan syarat pertama. Karena sistem yang ditinjau
merupakan sistem terisolasi dimana energi dalamnya tetap, maka

(34)
Variasi dari persamaan ini menghasilkan persamaan syarat yang kedua (yang
pertama adalah Pers. 33).

(35)

Dengan alasan yang sama saat mebahas distribusi kecepatan molekuler,


kita menggunakan pengali Lagrange, dalam hal ini ln α dan β, sehingga diperoleh

(36)
Karena telah dikalikan dengan pengali Lagnrange, δNi dalam persamaan di atas
secara efektif
sudah saling bebas sehingga untuk setiap nilai i berlaku

yang menghasilkan

(37)

12
Karena ∑ Ni = N, berarti

(39)
dimana Z disebut sebagai fungsi partisi. Persamaan untuk Ni dalam (37) dapat
dituliskan sebagai

(40)
Hubungan antar fungsi partisi dan entropi dapat ditelusuri dari bobot statistik
sebagai berikut

(41)
Apabila ke dalam persamaan terakhir ini dimasukkan ∑ 𝑁𝑖 = 𝑁 dan 𝑈 = ∑ 𝜔𝑖 𝑁𝑖 ,
diperoleh

(42)
Di sini kita mulai dapat memperkenalkan konsep temperatur yang muncul murni
dari peninjauan fisika statistik.

Contoh soal:
Telusuri perolehan hubungan berikut:

Solusi
Dari Hk. I termodinamika,
dU = dQ – PdV = TdS – PdV
sehingga dengan menandai U(S,V) diperoleh

Dengan demikian diperoleh

Dari Pers. 42 dan melalui turunan parsial S terhadap energi dalam U

13
Dari hubungan antara U,Z dan Ni diperoleh

Ternyata dari hubungan terakhir ini dapat diperoleh

Dengan demikian berdasarkan distribusi Maxwell-Boltzaman, jumlah molekul


pada tingkatan energi 𝜔 adalah

Dan fungsi partisi

Fungsi partisi Z dapat dianggap sebagai pembangkit sebab melalui Z semua


fungsi termodinamik dapat diperoleh. Contohnya,

Juga dari hubungan 42 diperoleh

Juga dari F = U − TS diperoleh


F = - nkT ln Z
dimana F adalah energi bebas Helmholtz. Dengan demikian tinjaun mekanika
statistik memungkinkan perolehan hubungan-hubungan termodinamika yang
diturunkan langsung dari experimen. Sebagai contoh, kita akan menggunakan
statistik MB untuk menghitung entropi gas ideal.

14
BAB III. KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
1. Bahan paramagnetik adalah bahan yang sedikit menarik garis gaya
magnetik seperti aluminium, magnesium, titanium, platina, dan
fungston. Jika tidak ada pengaruh medan magnetik luar, bahan ini
tidak memperlihatkan efek magnetlk karena momen magnetik total
akibat gerak orbital dan elektron relatif kecil.
2. Fungsi partisi merupakan suatu fungsi yang menjelaskan sifat-sifat
statistika suatu sistem dalam kesetimbangan termodinamika. Fungsi ini
bergantung pada suhu dan parameter-parameter lainnya, seperti volum
dan tekanan gas.
3. Momen magnetik adalah medan magnet yang dihasilkan oleh suatu
atom.
4. Magnetisasi sama dengan suseptibilitas konstan medan hanya jika
keselarasan pecahan kecil: ini adalah dimana asumsi yang masuk
contoh adalah dalam fase paramagnetik. Suseptibilitas paramagnetik
diberikan oleh hukum curie dimana C adalah konstanta curie.
5. Keadaan termodinamika digambarkan sebagai titik dalam ruang
keadaan. Setiap titik dalam diagram fase sistem PVT bersesuaian
dengan sebuah keadaan, yaitu keadaan termodinamik. Keadaan
termodinamik adalah keadaan makro (macrostate). Setiap keadaan
makro bersesuaian dengan banyak sekali keadaan mikro, bahkan tak-
hingga untuk sistem kontinu.

15
DAFTAR PUSTAKA

Kardiwarman, Ph.D.,dkk.2003. Fisika Dasar I. Jakarta: Universitas Terbuka

Mills. 1984. Pengantar Mekanika Statistic dan Termodinamika. Medan: MIPA


USU.

Tipler, Paul A. 1998. Fisika Untuk Sains dan teknik Edisi Ketiga Jilid. Jakarta:
Erlangga

http://material-sciences.blogspot.co.id/2015/05/pengenalan-magnetisme.html
(diakses pada 05/09/2016).
https://www.scribd.com/doc/242420145/Entropi-Dan-Bobot-Statistik (diakses
pada 05/09/2016).

iii