Anda di halaman 1dari 10

Metode

Hai....hai.....haii....

Halo teman mahasiswa Ilmu Komunikasi FHISIP UT. Sehat kan ya? Gimana, sudah
sampai mana karilnya? Masih terus kan?

Jangan terlena sama waktu ya. Andai dikau lelah, ya istirahatlah. Andai punya waktu
seberapa menit, simpan ide Anda dalam note HP. Semua bisa dilakukan asalkan
dikau punya niat. Oke?

Minggu ini adalah minggu keempat tuton karil kita. Saya akan berbagi tentang
metode dalam kupasan karil. Lazim orang menyebut metode dengan istilah cara.
Seorang penulis karya ilmiah memiliki kesempatan leluasan untuk menentukan cara
memandang atau mengungkapkan kajiannya. Ia boleh saja menggunakan model
hitungan atau paparan deskripitif untuk mengupas permasalahan yang dikaji. Semua
boleh dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan dan sesuai dengan
permasahalahan yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun. ada juga yang
menyatakan bahwa metode menjadi salah satu cara untuk memecahkan masalah.
Ada juga yang bilang, metode hanya akan membuka jalan untuk menuju analisis
temuan. Dikau boleh kok mau pakai yang mana aja....

Dalam istilah sederhana, metodologi dapat diartikan sebagai, memberikan sebuah


ide yang jelas tentang metode apa atau peneliti akan memproses dengan cara
bagaimana di dalam penelitiannya agar dapat mencapai tujuan penelitian.

Proses pemilihan sebuah metode adalah bagian yang sangat penting di dalam
proses kajian. Dengan kata lain; metodologi berguna dalam rangka memetakan
pekerjaan atau pengkajian secara komprehensif dan memberikan kredibilitas pada
hasil kajian yang dicapai nantinya.

Kawans.... seorang pengkaji (seperti dikau-dikau ini) awalnya akan berusaha


menemukan pertanyaan yang dipikirkan dengan cara sistematis. Setelah itu, Anda
akan berupaya mengetahui semua jawabannya hingga pada titik simpulan. Misalnya,
jika Anda tidak melakukannya secara sistematis, tentu simpulan yang diperoleh
belum tentu sesuai dengan harapan.
Gampangnya gini deh... saya mau ambil contoh kegiatan politik yang hingga hari ini
masih seru. Dikau susun sebuah permasalahan kajian, misalnya tentang cara
interaksi tim kampanye dalam melakukan pendekatan terhadap nelayan. Dikau
susun beberapa pertanyaan dalam kuesioner. Salah satu keinginan Anda adalah
mengetahui respons nelayan dalam menerima pesan tim kampanye, utamanya
dalam hal pemberian modal kapal. Setelah kuesioner diisi dan dikembalikan,
kemudian Anda menghitung, menelaah, mengkaji, dan menentukan simpulan.

Tapi ternyata, Anda menggunakan metode yang keliru. Seharusnya menggunakan


pendekatan kualitatif, Anda malah memakai kuantitatif – misalnya. Akhirnya,
simpulan yang Anda peroleh hanya berupa angka-angka yang – misalnya
menunjukkan jumlah nelayan yang hadir, mendengarkan dan memahami materi
kampanye, serta mengetahui janji pemberian kapal untuk nelayan sebanyak
beberapa orang. Angkanya ketemu. Ketahuan jumlahnya. Tapi Anda kesulitan untuk
mengungkapkan kajian Anda dari sudut pandang substansi pesan kampanye. Dan
Anda pun lupa tidak menuliskan pada daftar pertanyaan kuesioner.

Untuk itulah, sebaiknya Anda dari awal sudah membayangkan lebih dulu, mau pakai
apa kajian Anda. Kuantitatif dengan paparan angka, atau kualitatif dengan deretan
kalimat deskriptif narasional. Semua boleh dipilih, asal sesuai dengan kebutuhan.

Nah sekarang, coba Anda pahami konsep tentang dua pendekatan tadi ya..
Perhatikan nih..

Yang dimaksud kajian kuantitatif adalah sebuah proses menemukan pengetahuan


yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan
mengenai apa yang ingin diketahui. Kajian jenis ini, seperti yang disampaikan oleh
Nana Sudjana dan Ibrahim (2001), Del Siegle (2005) dan Johnson (2005)
didasarkan pada asumsi bahwa:

a. realitas yang menjadi sasaran penelitian berdimensi tunggal, fragmental, dan


cenderung bersifat tetap sehingga dapat diprediksi;

b. variabel dapat diidentifikasi dan diukur dengan alat-alat yang objektif dan baku.
Adapun karakteristik kajian kuantitatif adalah sebagai berikut (Nana Sudjana dan
Ibrahim, 2001: 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002 : 11; Johnson, 2005; dan Kasiram
2008: 149-150):

a. menggunakan pola berpikir deduktif (rasional – empiris atau top-down), yang


berusaha memahami suatu fenomena dengan cara menggunakan konsep-konsep
yang umum untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang bersifat khusus;
b. logika yang dipakai adalah logika positivistik dan menghindari hal-hal yang
bersifat subjektif;
c. proses kajiannya mengikuti prosedur yang telah direncanakan;
d. tujuannya adalah untuk menyususun ilmu nomotetik yaitu ilmu yang berupaya
membuat hokum-hukum dari generalisasinya;
e. subjek yang dikaji, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang dibutuhkan,
serta alat pengumpul data yang dipakai sesuai dengan apa yang telah
direncanakan sebelumnya;
f. pengumpulan datanya dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat
yang objektif dan baku;
g. melibatkan penghitungan angka atau kuantifikasi data;
h. pengkaji menempatkan diri secara terpisah dengan objek yang dikaji, dalam arti
dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek kajian;
i. analisis datanya dilakukan setelah semua data terkumpul;
j. dalam analisis data, Anda dituntut memahami teknik-teknik statistik;
k. hasil kajian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks waktu dan situasi.
l. Kajian jenis kuantitatif ini disebut juga kajian ilmiah

Sementara itu, prosedur kajian kuantitatif terdiri dari beberapa tahapan kegiatan
seperti:

a. identifikasi permasalahan

b. studi literatur

c. pengembangan kerangka konsep

d. identifikasi dan definisi variabel, hipotesis, dan pertanyaan kajian

e. pengembangan disain kajian


f. teknik sampling

g. pengumpulan dan kuantifikasi data

h. analisis data

i. interpretasi dan komunikasi hasil

Tipe-tipe Kajian Kuantitatif

Dalam melakukan kajian, Anda dapat menggunakan metode dan rancangan (desain)
tertentu dengan mempertimbangkan tujuan dan sifat masalah yang dihadapi.
Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya, kajian kuantitatif dapat dibedakan menjadi
beberapa tipe sebagai berikut (Suryabrata, 2000 : 15 dan Sudarwan Danim dan
Darwis, 2003 : 69 – 78):

a. kajian deskriptif

b. kajian korelational

c. kajian kausal komparatif

d. kajian tindakan

e. kajian perkembangan

f. kajian eksperimen

Dan langkah-langkahnya bisa dilakukan sesuai saran Suriasumantri (2005 : 127-128)


berikut ini.

a) Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang


jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di
dalamnya.

b) Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang merupakan


argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai
faktor yang saling mengait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka
berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah
teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan
dengan permasalahan.
c) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap
pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan simpulan dari dari kerangka
berpikir yang dikembangkan.

d) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan


dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-
fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau tidak.

e) Penarikan simpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan itu
ditolak atau diterima.

Gimana? Susah nggak?

Nah sekarang kita obrolin tentang kajian kualitatif adalah kajian yang digunakan
untuk mendalami kondisi objek alamiah, yaitu menenampatkan Anda sebagai
instrumen kunci (Sugiyono, 2005). Perbedaannya dengan kajian kuantitatif adalah
kajian jenis ini berangkat dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan
penjelas dan berakhir pada sebuah teori.

Moleong (2005:6) pernah berujar bahwa, kajian kualitatif adalah kajian yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek kajian
misalnya masalah atau aspek perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, atau yang lain
secara holistik, dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada
suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah.

Ahli lain semisal Saryono (2010), menyatakab bahwa kajian kualitatif merupakan
kajian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan
menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh social yang tidak dapat
dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif. Dan Sugiyono
(2011), juga memandang kajian jenis kualitatif ini sedbagi sebuah metode kajian
yang berlandaskan pada filsafat post positivisme, digunakan untuk mengkaji kondisi
objek yang alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) dan menempatkan Anda
sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara
purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan),
analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil kajiannya lebih menekankan
makna dari pada generalisasi.

Adapun karakteristik kajian jenis ini adalah sebagai berikut (Sujana dan Ibrahim,
2001: 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002: 11-12; Moleong, 2005: 8-11; Johnson, 2005,
dan Kasiram, 2008: 154-155).

a. Menggunakan pola berpikir induktif (empiris – rasional atau bottom-up). Metode


kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan grounded theory, yaitu teori yang
timbul dari data bukan dari hipotesis seperti dalam metode kuantitatif. Atas dasar
itu penelitian bersifat generating theory, sehingga teori yang dihasilkan berupa
teori substansif.

b. Perspektif emic/partisipan sangat diutamakan dan dihargai tinggi. Minat Anda


akan banyak tercurah pada cara pandang persepsi dan makna menurut sudut
pandang partisipan yang dikaji, sehingga bias menemukan apa yang disebut
sebagai fakta fenomenologis.

c. Kajian jenis kualitatif tidak menggunakan rancangan yang baku. Rancangan kajian
akan berkembang selama proses penelitian.

d. Tujuan kajian kualitatif adalah untuk memahami, mencari makna di balik data,
untuk menemukan kebenaran, baik kebenaran empiris sensual, empiris logis, dan
empiris logis.

e. Subjek yang dikaji, data yang dikumpulkan, sumber data yang dibutuhkan, dan
alat pengumpul data bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.

f. Pengumpulan data dilakukan atas dasar prinsip fenomenologis, yaitu dengan


memahami secara mendalam gejala atau fenomena yang dihadapi.

g. Anda berfungsi pula sebagai alat pengumpul data sehingga keberadaanya tidak
terpisahkan dengan apa yang diteliti.

h. Analisis data dapat dilakukan selama kajian sedang dan telah berlangsung.

i. Hasil kajian berupa deskripsi dan interpretasi dalam konteks waktu serta situasi
tertentu.

j. Kajian jenis kualitatif disebut juga penelitian alamiah atau inquiri naturalistik.
Tahapan kajian jenis kualitatif adalah sebagai berikut (Sudarwan Danim dan Darwis,
2003 : 80)

a. Merumuskan masalah sebagai fokus penelitian.

b. Mengumpulkan data di lapangan.

c. Menganalisis data.

d. Merumuskan hasil studi.

e. Menyusun rekomendasi untuk pembuatan keputusan.

Tipe-tipe atau Jenis Kajian Kualitatif

Kajian dengan pendekatan kualitatif dapat dibedakan menjadi lima tipe utama, yaitu:
phenomenology, ethnography, case study research, grounded theory, dan historical
research (Johnson, 2005 : 8). Berikut penjelasan dari kelima jenis kajian kualitatif
tersebut:
Fenomenologi, dapat dimulai dengan memperhatikan dan menelaah fokus fenomena
yang akan dikaji, yang melihat berbagai aspek subjektif dari perilaku objek.
Selanjutnya, dilakukan penggalian data berupa bagaimana pemaknaan objek dalam
memberikan arti terhadap fenomena yang terkait. Penggalian data tersebut
dilakukan dengan melakukan wawancara yang mendalam kepada objek atau
informan, serta dengan melakukan observasi secara langsung mengenai objek kajian
dalam menginterpretasikan pengalamannya kepada orang lain.

Etnografi, memiliki tujuan untuk mengkaji bentuk dan fungsi bahasa yang tersedia
dalam budaya yang selanjutnya digunakan untuk berkomunikasi oleh individu
didalamnya, serta melihat bentuk dan fungsi bahasa tersebut menjadi bagian dari
kehidupan sebuah masyarakat. Metode etnografi menginterpretasikan kelompok
sosial, sistem yang berlaku dan peran yang dijalankan, serta interaksi sosial yang
terjadi dalam suatu masyarakat. Metode etnografi biasanya digunakan untuk
berfokus pada kegiatan atau ritual tertentu didalam masyarakat, bahasa,
kepercayaan, cara-cara hidup dan lain sebagainya.

Studi Kasus, meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada di dalam
masyarakat yang dilakukan secara mendalam untuk mempelajari latar belakang,
keadaan, dan interaksi yang terjadi. Studi kasus dilakukan pada suatu kesatuan
sistem yang bisa berupa suatu program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok
individu yang ada pada keadaan atau kondisi-kondisi tertentu.

Metode Teori Dasar, dilakukan untuk menemukan suatu teori atau untuk
menguatkan teori yang sudah ada dengan mengkaji prinsip dan kaidah dasar yang
ada. Selanjutnya dibuat simpulan dasar yang membentuk prinsip dasar dari suatu
teori. Dalam melakukan metode teori dasar ini, Anda perlu memilah fenomena yang
dapat dikatakan fenomena inti dan yang bukan untuk dapat diambil dan dibentuk
suatu teori. Pengumpulan data metode teori dasar ini dilakukan dengan observasi,
studi lapangan, pembandingan antara kategori, fenomena, dan situasi berdasarkan
berbagai penilaian, seperti kajian induktif, deduktif, dan verifikasi hingga datanya
bersifat jenuh.
Metode Historis, memiliki fokus penelitian berupa peristiwa-peristiwa yang sudah
berlalu dan melakukan rekonstruksi masa lalu dengan sumber data atau saksi
sejarah yang masih ada hingga saat ini. Sumber data tersebut bisa diperoleh dari
berbagai catatan sejarah, artefak, laporan verbal, maupun saksi hidup yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenaran kesaksiannya. Oleh karena mengkaji peristiwa-
peristiwa yang telah berlalu, maka ciri khas dari kajian metode historis ialah waktu,
yang melihat perkembangan atau perubahannya berdasarkan pergeseran waktu.

Tahapan Dalam Penelitian Kualitatif

Ada lima tahap bagi para Anda jika ingin melakukan kajian jenis kualitatif, yaitu:

1. Mengangkat permasalahan.

2. Memunculkan pertanyaan.

3. Mengumpulkan data yang relevan.

4. Melakukan analisis data.

5. Menjawab pertanyaan.

Masih bisa mengikuti kan? Sekarang kita bahas perbedaan kedua yaaa.... Ada 5
pandangan dasar perbedaan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif yaitu:

1. bersifat realitas, pendekatan kuantitatif melihat realitas sebagai tunggal, konkrit,


teramati, serta dapat difragmentasi. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat
realitas ganda (majemuk), hasil konstruksi dalam pandangan holistik. Sehingga
peneliti kuantitatif lebih spesifik, percaya langsung pada objek generalis,
meragukan dan mencari fenomena pada obyek yang realitas.

2. terjadi interaksi antara Anda dengan obyek kajiannya, dan pada pendekatan
kuantitatif melihatnya sebagai independen, dualistik, bahkan mekanistik.
Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat sebagai proses interaktif, tidak
terpisahkan bahkan partisipasif.

3. Posibilitas generalis, pendekatan kuantitatif bebas dari ikatan konteks dan


waktu (nomothetic statements), sedangkan pendekatan kualitatif terikat dari
ikatan konteks dan waktu (idiographic statements).
4. Posibilitas kausal, pendekatan kuantitatif selalu memisahkan antara sebab riil
temporal simultan yang mendahuluinya sebelum akhirnya melahirkan akibat-
akibatnya, sedangkan pendekatan kualitatif selalu mustahilkan usaha memisahkan
sebab dengan akibat, apalagi secara simultan.

5. Peranan nilai, pendekatan kuantitatif melihat segala sesuatu bebas nilai, obyektif
dan harus seperti apa adanya. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat segala
sesuatu tidak pernah bebas nilai, termasuk si peneliti yang subyektif.

Pada kajian kualitatif, semakin mendalam, teliti, dan tergali suatu data yang
didapatkan, maka bisa diartikan pula bahwa semakin baik kualitas kajian tersebut.
Maka dari segi besarnya responden atau objek kajian, metode kualitatif memiliki
objek yang lebih sedikit dibandingkan dengan kuantitatif, sebab lebih
mengedepankan kedalaman data, bukan kuantitas data.