Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

DASAR REKAYASA PROSES

PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN

Kelompok (2) :

Annisa Aprilia (1731410096)

Dily Jayanti (1731410035)

Eonike Ayuning (1731410074)

Farahiya Rizkina (173141XXX)

M. Hafizh As’ad (173141XXX)

Teguh Subekti (1731410038)

PROGRAM STUDI D-III JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2018
Pembuatan Sabun Transparan

12, 19, 26 Oktober 2018

1. Tujuan

- Dapat mengaplikasikan teori reaksi penyabunan untuk membuat sabun dari


minyak nabati

- Mengetahui pengaruh penambahan bahan aditif yang ditambahkan (gliserol)


terhadap kualitas sabun transparan

2. Dasar Teori

Sabun merupakan campuran dari senyawa natrium dengan asam lemak yang
digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, busa, dengan atau
tanpa zat tambahan lain serta tidak menimbulkan iritasi pada kulit . Sabun dibuat
dengan dua cara, yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses
saponifikasi minyak akan diperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan
proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena
reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena
reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Ophardt, 2003).

Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah
trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan
gliserol.Masing– masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan
rantai karbon panjang antara C12 (asam laurik) hingga C18 (asam stearat) pada lemak
jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah
menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida
membebaskan gliserol (Baysinger, 2004).
Sabun padat transparan merupakan salah satu inovasi sabun yang menjadikan sabun
lebih menarik. Sabun trannsparan mempunyai busa yang lebih halus dibandingkan
dengan sabun opaque sabun yang tidak transparan (Qisty, 2009).

Faktor yang dapat mempengaruhi transparansi sabun adalah kandungan alkohol,


gula, dan gliserin dalam sabun. Ketika sabun akan dibuat jernih dan bening, maka
hal yang paling penting adalah kualitas gula, alkohol, dan gliserin. Kandungan
gliserin baik untuk kulit karena berfungsi sebagai pelembab pada kulit dan
membentuk fasa gel pada sabun (Rahadiana dkk., 2014).

Dua komponen utama penyusun sabun adalah asam lemak dan alkali. Pemilihan
jenis asam lemak menentukan karakteristik sabun yang dihasilkan, karena setiap
jenis asam lemak akan memberikan sifat yang berbeda pada sabun (Widiyanti,
2009).

Asam lemak merupakan komponen utama penyusun lemak dan minyak, sehingga
pemilihan jenis minyak yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun
merupakan hal yang sangat penting. Untuk menghasilkan sabun dengan kualitas
yang baik, maka harus menggunakan bahan baku dengan kualitas yang baik pula.
Bahan baku pembuatan sabun yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak
kelapa sawit (palm oil). Minyak kelapa sawit merupakan minyak yang mengandung
asam palmitat (C16H32O2) yang cukup tinggi, yaitu sebesar 44,3% (Depperin, 2007).

Fungsi dari asam palmitat ini dalam pembuatan sabun adalah untuk kekerasan sabun
dan menghasilkan busa yang stabil. Konsumen beranggapan bahwa sabun dengan
busa yang melimpah mempunyai kemampuanmembersihkan kotoran dengan baik
(Izhar, 2009).

Sabun merupakan senyawa kimia yang dihasikan dari reaksi lemak atau minyak
dengan alkali. Sabun juga merupakan garam-garam monovalen dari asam
karboksilat dengan rumus umunya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatis) panjang
dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara C 12 – C18 dan M adalah kation dari
kelompok alkali atau ion amonium (Austin, 1984).
Sabun adalah garam logam dari asam lemak. Pada prinsipnya sabun dibuat dengan
cara mereaksikan asam lemak dan alkali sehingga terjadi reaksi penyabunan

Reaksi pertama :

Hidrolisa mendidih
Lemak + NaOH Gliserol + Asam lemak

Reaksi kedua :

Penyabunan
3RCOOH + NaOH RCOONa + H2O

Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion.
Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non-
polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya
rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar
larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel
(micelles), yakni segerombol (50-150) molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya
mengelompok dengan ujung-ujung ionnya menghadap ke air (Austin, 1984).

Kegunaan sabun ialah kemempuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga


dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat sabun.
Pertama, rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat-zat non-polar,
seperti tetesan-tetesan minyak. Kedua, ujung anion molekul sabun, yang tertarik
pada air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari
tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes-tetes sabun-minyak, maka
minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap tersuspensi (Austin, 1984).

Sabun termasuk dalam kelas umum senyawa yang disebut surfaktan, yakni senyawa
yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan apa saja
mengandung suatu ujung hidrofobik (satu rantai molekul atau lebih) dan suatu ujung
hidrofilik. Porsi hidrokarbon suatu molekul surfaktan harus mengandung 12 atom
karbon atau lebih agar efektif (Austin, 1984).

Molekul sabun terdiri dari rantai karbon, hidrogen, dan oksigen yang disusun dalam
bagian kepala dan ekor. Bagian kepala yang disebut sebagai gugus hidrofilik (rantai
karboksil) untuk mengikat air. Bagian ekor sebagai gugus hidrofobik (rantai
hidrokarbon) untuk mengikat kotoran (Paul, 2007).

Reaksi dasar pembuatan sabun adalah sebagai berikut :

Kotoran yang menempel pada kulit umumnya berupa lemak. Debu akan menempel
pada kulit karena adanya lemak tersebut. Kotoran tersebut dapat menghambat fungsi
kulit. Air saja tidak dapat membersihkan kotoran yang menempel pada kulit,
diperlukan adanya suatu bahan yang dapat mengangkat kotoran yang menempel
tersebut. Sabun adalah senyawa yang dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki
keistimewaan tertentu, yaitu jika senyawa itu larut dalam air, akan bersifat surfaktan
(surface active agent) yaitu menurunkan tegangan permukaan air dan sebagai
pembersih. Molekul sabun tersusun dari “ekor” alkil yang non-polar (larut dalam
minyak) dan kepala ion karbosilat yang polar (larut dalam air). Prinsip tersebut yang
menyebabkan sabun memiliki daya pembersih. Ketika kita mandi atau mencuci
dengan menggunakan sabun “ekor” non-polar dari sabun akan menempel pada
kotoran dan kepala polarnya menempel pada air. Hal ini mengakibatkan tegangan
permukaan air akan semakin berkurang, sehingga air akan jauh lebih mudah untuk
menarik kotoran (Marella dan Sugianto, 2006).

Bahan bahan yang diperlukan dalam pembuatan sabun transaparan diantaranya yaitu
Asam stearat (C18H36O2) dapat berbentuk padatan atau cairan. Asam stearat
berfungsi untuk mengeraskan dan menstabilkan busa. Asam stearat berwarna putih
kekuningan dan memiliki titik cair pada suhu 56 °C (Hambali dkk, 2005).
Natrium Hidroksida (NaOH) merupakan salah satu jenis alkali (basa) kuat yang
bersifat korosif serta mudah menghancurkan jaringan organik yang halus. NaOH
berbentuk butiran padat berwarna putih dan memiliki sifat higroskopis (Wade dan
Waller, 1994). Natrium hidroksida sering disebut dengan kaustik soda atau soda api.
NaOH diperoleh melalui proses hidrolisa dari natrium klorida (NaCl). NaOH dapat
berbentuk batang, gumpalan, dan bubuk yang dengan cepat menyerap kelembaban
permukaan kulit (Kamikaze, 2002).

Gliserin (C3H8O3) berbentuk cairan jernih, tidak berbau dan memiliki rasa manis,
serta bersifat humektan. Diperoleh dari hasil sampingan proses pembuatan sabun
atau dari asam lemak tumbuhan dan hewan. Pada pembuatan sabun transparan,
gliserin bersama dengan sukrosa dan alkohol berfungsi dalam pembentukan stuktur
transparan (Ghaim and Volz, 2005).

Etanol (C2H5OH) merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol
digunakan sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya
yang mudah larut dalam air dan lemak (Hambali dkk, 2005).

Asam Sitrat (C6H8O7) memiliki bentuk berupa kristal putih. Asam sitrat berfungsi
sebagai agen pengelat (Hambali dkk, 2005). Asam sitrat juga berfungsi sebagai
penurun nilai pH (Kirk dkk, 1957).

3. Variabel

Minggu-1 Minggu-2 Minggu-3


Variabel Satuan
I II III VI V VI
Minyak gram 10 8 8 10 10 10
NaOH teknis gram 1 1,5 1,5 1,5 1,5 10,15
Etanol 95% mL 50 100 100 60 60 7,5
Asam Stearat gram 3 7 5 3 3 3,5
Gula gram 5 12,75 19 1 5 7,5
Gliserin gram 3 20 20 3 3 6,5
Texapon gram 0 6 - - - -
Eks. Jeruk nipis mL - - - - 6 6
Eks. Melati mL - - - - sckpnya sckpnya
4. Prosedur Kerja
a. Daftar Alat
- Hot Plate
- Batang Pengaduk
- Beaker Glass
- Kaca Arloji
- Spatula
b. Daftar Bahan

Variabel Satuan
Minyak gram
NaOH teknis gram
Etanol 95% mL
Asam Stearat gram
Gula gram
Gliserin gram
Texapon gram

c. Skema Kerja
- Percobaan I (Minggu-1)

5 gr NaOH Beaker Glass 50 mL Etanol 95%

3 gr Asam Stearat Campuran 1


10 gr Minyak

3 gr Gliserin Campuran 2 1 gr Gula

Terbentuk cairan
kental
Tuang dalam
Biarkan Mengeras
cetakan
- Skema 2
Keluarkan dari
cetakan
NaOH Beaker Glass Etanol 95%

Asam Stearat Campuran 1


Minyak

Gliserin Campuran 2 Gula

Terbentuk cairan
kental
Tuang dalam
Biarkan Mengeras
cetakan
Keluarkan dari
5. Hasil dan Pembahasan cetakan
a. Data Pengamatan

Minggu-1 Minggu-2
Keterangan Keterangan
I II III IV
pH 10 7 pH 8 10
Tekstur *** ** Tekstur * **
Busa ** **** Busa ** **
Bau *** *** Bau *** ***
Transparan * ** Transparan ** **

Minggu-3
Keterangan
V VI
pH 9 14
Tekstur ** *
Busa ** **
Bau ** **
Transparan * **

Keterangan:
* : Tidak berbusa/Lembek/Tidak berbau/Tidak Transparan
** : Sedikit busa/Agak Keras/Agak berbau minyak/Keruh
*** : Berbusa/Keras/Berbau minyak/Agak Transparan
**** : Banyak busa/Sangat Keras/Berbau harum/Transparan
(*) : Acuan produk pasar

b. Pembahasan
- Annisa Aprillia (1731410096)

Percobaan pembuatan sabun transparan ini dilakukan bertujuan untuk


mengaplikasikan teori reaksi penyabunan untuk membuat sabun transparan dari
minyak nabati dan untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan adiktif
(gliserol) terhadap kualitas sabun transparan. Sabun trasparan padat ini
merupakan sabun yang berbentuk padat dengan tampilan tembus pandang, jenis
minyak yang digunakan dalam pembuatan sabun adalah minyak jarak karena
dapat memberikan sifat transparan terhadap sabun. Pembuatan sabun trasparan
padat dapat memberikan nilai tambah terhadap minyak jarak.

Pembuatan sabun transparan ini membutuhkan banyak bahan kimia dan juga
tenaga serta kesabaran yang ekstra. Adapun bahan yang digunakan dalam
pembuatan sabun batang transparan ini adalah minyak nabati, NaOH teknis,
etanol 95%, asam stearat, gula, dan juga gliserin. Minyak nabati merupakan
minyak yang diperoleh dari ekstrak biji tumbuhan, minyak nabati ini dapat
membuat sabun memiliki tampilan tembus pandang serta minyak nabati ini juga
menghasilkan busa. NaOH teknis merupakan soda kaustik. Dalam percobaan
pembuatan sabun transparan sodium hidroksida berreaksi dengan minyak
kemudian menjadi sabun, hal ini biasanya dikenal dengan nama reaksi
saponifikasi. Sodium harus terurai sempurna dalam proses
saponifikasi minyak , oleh karena itu tidak akan ada bahan kaustik yg
tertingggal dalam sabun.

Etanol adalah bahan yang digunakan untuk melarutkan sabun agar menjadi
bening atau transparan, kemurnian alkohol 95% yang mempunyai titik nyala
yang rendah untuk terjadi transparansi sabun harus benar larut. Alkohol level
tinggi dan kandungan air yang rendah menjadi produk sabun yang lebih jernih.
Asam stearat berfungsi untuk membantu untuk mengeraskan sabun, khususnya
minyak dari tumbuhan yang di gunakan penggunaannya dengan mencairkan
dahulu dengan minyak kemudian di campur dengan sodium hidroksida untuk
saponifikasi. Jika terlalu banyak stearic acid akan kurang berbusa, jika terlalu
sedikit akan tidak mengeras.

Gula Bersifat humectant di kenal membantu pembusaan sabun, semakin putih


warna gula maka akan semakin jernih warna sabun transparan yang di hasilkan ,
namun apabila terlalu banyak gula sabun akan menjadi lengket , pada
permukaan sabun akan keluar gelembung kecil – kecil. Gula yang baik untuk
sabun trasnparan adalah gula yang apabila di larutkan akan berwarna
jernih seperti glyserin karena warna gula mempengaruhi warna sabun
transparan akhir. Glyserin dalam sabun transparan berguna sebagai penjaga
kelembaban kulit dan masih di gunakan sampai saat ini.

Percobaan pembuatan sabun transparan ini dilakukan selama tiga minggu, setiap
minggunya dilakukan dua kali percobaan dengan komposisi yang berbeda-beda.
Pada percobaan pertama dilakukan eksperimen dengan komposisi 10 gram
minyak, 1 gram NaOH, 50 mL etanol, 3 gram asam stearat, 5 gram gula, dan 3
gram gliserin. Semua bahan dicampurkan dengan prosedur berurutan sesuai
dengan yang ada didalam jobsheet dengan suhu 60oC. Dari percobaan yang telah
dilakukan diperoleh hasil sabun yang tidak transparan dengan bau yang
menyengat, busa yang tidak begitu banyak, dan pH sabun yang terlampau basa
yaitu 10 tentunya dengan hasil seperti ini komposisi dinyatakan tidak sesuai dan
percobaan dianggap gagal.

Memperbaiki percobaan pertama dilakukan kembali percobaan yang kedua


dengan komposisi yang berbed yakni 8 gram minyak, 1,5 NaOH, 100 mL
etanol, 7 gram asam stearate, 12,75 gram gula, 20 gram gliserin, dan 6 texapon.
Perbaikan ini difokuskan pada bau yang menyengat dari minyak sehingga
minyak dikurangi, dan juga pengurangan jumlah NaOH dikarenakan pH pada
percobaan pertama terlalu basa, selain itu juga dilakukan penambahan texapon
karena pada percobaan pertama sabun tidak bergitu berbusa. Juga dilakukan
penambahan pada komposisi gula dikarenakan gula berfungsi untuk membuat
sabun lebih transparan sehingga dengan ditambahnya gula diharapkan sabun
akan lebih transparan. Semua bahan dicampurkan (gula dan asam stearate
dilelehkan). Dari percobaan yang dilakukan diperoleh hasil busa yang lenih
banyak akibat penambahan texapon, untuk sisi transparan bias dibilang lebih
baik dari percobaan pertama, pH yang diperoleh juga sempurna yaitu 7, namun
tekstur agar keras namun tidak sekeras pada percobaan pertama hal ini dirasa
akibat kompoposisi gula yang terlalu banyak dan juga penambahan texapone,
bau tidak berubah (masih tetap menyengat aroma minyaknya).

Pada minggu kedua dipercobaan ketiga dilakukan pengulangan pada percobaan


kedua karena terdapat kelompok lain yang menggunakan komposisi yang sama
dengan metode yang sama namun sabun menjadi transparan, keras, busa cukup,
dan pH aman. Namun setelah dilakukan percobaan ulang, hasil yang diperoleh
pun teteap sama dengan sabun yang tidak transparan, dengan bau yang
menyengat, serta tekstur yang lembek. Kegagalan ini dirasa akibat kurangnya
ketelitian dalam proses pengadukan (pencampuran) dan kurangnya ketelitian
pada penjagaan suhu.

Selanjutnya dilakukan lagi perbaikan pada percobaan yan keempat dengan


komposisi yang berbeda yakni 10 gram minyak, 1,5 gram NaOH, 60 mL etanol,
3 gram asam stearat, 1 gram gula, dan 3 gram gliserin. Semua bahan
dicampurkan dengan pengadukan yang konstan karena pada percobaan yang
keempat ini sengaja digunakan stirer agar proses pengadukan lebih terjaga dan
suhu dijaga sekitar 60oC. larutan yang diperoleh adalah larutan yang bening
namun setelah dicetak hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan lagi. Tekstur
sabun yang tidak begitu keras, busa yang tidak begitu banyak, dan kurang
transparan yang dirasa akibat kurangnya gula, dan bau yang masih sangat
menyengat serta pH yang terlalu tinggi yakni 10.

Perbaikan terus dilakukan hingga pada minggu ketiga dengan dua kali
percobaan yang ditambahkan ekstrak jeruk nipis didalamnya. Ekstrak jeruk nipis
ini berfungsi untuk menurunkan pH dan juga mendukung untuk membuat sabun
agar lebih transparan. Dipercobaan yang kelima dilakukan komposisi yang
berbeda lagi yakni komposisi 10 gram minyak, 1,5 gram NaOH, 60 mL etanol, 3
gram asam stearat, 5 gram gula, 3 gram gliserin, dan 6 mL ekstrak jeruk nipis.
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil sabun yang tidak transparan
dengan, busa sedang, tekstur agak keras, busa yang cukup dan pH 9.
Percobaan dilanjutkan pada percobaan terakhir dengan komposisi yang berbeda
lagi yakni 10 gram minyak, 10,15 gram NaOH, 7,5 mL etanol, 3,5 gram asam
stearat, 7,5 gram gula, 6,5 gram gliserin, dan 6 mL. dari percobaan yang telah
dilakukan diperoleh hasil sabun yang lembek dengan busa yang tidak begitu
banyak, keruh dan juga sedikit berbau dengan pH yang sangat basa yakni 14.

- Dily Jayanti (1731410035)

Sabun transparan adalah sabun yang dibuat dengan teknik khusus dengan
menghilangkan kandungan alkali didalamnya. Sabun transparan ini lebih unggul
daripada sabun mandi biasa, selain dari tampilannya yang transparan menawan,
sabun ini sangat lembut dikulit dan dapat melembabkan kulit.

Percobaan minggu 1.

Pada percobaan pertama minggu-1 langkah langkah yang dilakukan yaitu


mencampurakan etanol dengan NaOH yaitu berfungsi untuk melarutkan NaOH.
Etanol berfungsi sebagai pelarut karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan
lemak. Proses ini dilakukan pada suhu 60 oC , setelah benar benar larut dan
tercampur ditambahkan minyak kelapa. Kemudian campuran tersebut
ditambahkan dengan asam stearat, asam stearat disini dilakukan pemanasan
tersebut untuk melehkan karena bentuk asam stearat yang padat akan
menyulitkan pencampuran. Tekstur dari campuran akan mengental ketika
dimasukkan stearat sehingga diperlukan pengadukan yang merata. Bahan
terakhir yang dimasukkan yaitu gula dan gliserin, gula dan gliserin mempunyai
fungsi untuk transparasi dari sabun. Hasil yang didapat yaitu sabun berwarna
putih seperti susu dan tidak transparan sama sekali. Hal ini dikarena kurangnya
komposisi gliserin dan gula, dari segi tekstur sabun percobaan pertama memiliki
struktur yang keras seperti sabun mandi pada umunya, segi busa tidak terlalu
berbusa, segi bau yaitu sabun ini memiliki bau minyak karena tidak
ditambahkan pewangi sehingga aroma asli dari minyak kelapa masih sangat
tercium, pH sabun percobaan pertama ini adalah 10. pH dapat diturunkan
dengan penambahan gula pada komposisi.

Pada percobaan kedua minggu-1 memiliki prosedur kerja yang berbeda serta
dengan komposisi yang berbeda dan penambahan texapon , penambahan
texapon ini untuk meningkatkan kualitas busa pada sabun karena texapon
sendiri sudah merupakan surfaktan . Langkah pertama yaitu NaOH dicampur
dengan minyak terlebih dahulu tanpa pemanasan, reaksi NaOH dengan minyak
merupakan reaksi saponifikasi. Setelah itu ditambahkan dengan etanol yang
sudah dipanaskan hal ini bertujuan untuk benar benar mencampurkan semua
bahan dan kemudian dipanaskan dengan suhu 60oC , kemudian dicampurkan
dengan asam stearat. Pada pencampuran dengan asam stearat yang dilelehkan
tidak terjadi penggumpalan dan kemudian yaitu gula dan gliserin setelah itu
ditambahkan dengan texapon. Setelah pengadukan yang cukup lama gula tidak
bisa larut sempurna karena sudah jenuh, hasil dari pencampuran semua bahan
ini menghasilkan warna bening. Setelah 3 hari sabun pada percobaan kedua ini
belum juga mengeras (lembek) kemudian setelah 4 hari sabun lebih mengeras
daripada sebelumnya namun ketika diambil tekstur sabun bagian bawah pada
cetakan masih berair, warna dari sabun ini juga tidak transparan namun tidak
berwarna putih susu walaupun pada awalnya sabun berwarna bening, tekstur
dari sabun yang dihasilkan yaitu belum mengeras sempurna hal ini dikarenakan
pengadukan yang kurang merata serta belum tercampurnya bahan dengan baik,
dari segi bau juga memiliki bau seperti minyak , berbusa ketika digunakan
karena penambahan texapon, pH 7. Tekstur yang didapatkan kurang mengeras
dikarenakan kurang tercampurnya dalam pengadukan , sehingga reaksi
saponifikasi tidak sempurna.

Percobaan Minggu-2

Pada percobaan minggu-2 membuat 2 percobaan dengan komposisi yang


berbeda. Pada percobaan pertama yaitu menggunakan komposisi percobaan
yang sama pada minggu-1 percobaan kedua namun tidak ditambahkan texapon,
gula pada percobaan pertama ini dilarutkan dalam air, ketika ditambahkan
stearat sabun menggumpal dan warnanya juga keruh, namun ketika ditambah
gula dan gliserin warnanya berubah menjadi jernih hal ini dikarenakan gula
membantu dalam proses transparan. Ketika beberapa menit setelah dicetak
sabun yang awalnya jernih kembali berwarna keruh. Tektur yang didapatkan
juga pecah dan lembek seperti belum terjadi reaksi yang sempurna. Mempunyai
pH 8, sedikit berbau minyak. Kegagalan pada percobaan ini suhu pada proses
pembuatan yang terlalu rendah yaitu hanya sekitar 48oC.

Pada percobaan kedua pada awalnya juga berwarna jernih ketika dilakukan
proses pembuatan , namun justru ketika dicetak juga menghasilkan warna sabun
yang keruh, tidak terlalu berbusa ketika digunakan, pH yang didapatkan juga
cukup tinggi yaitu 10, pH yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gatal pada
kulit. Warna keruh yang dihasilkan pada sabun dikarenakan kurangnya
komposisi gula serta pH yang terlalu tinggi juga disebabkan kurangnya gula.
Jadi gula selain membantu transparan juga berperan menurunkan pH, proses
pengadukan dan pencampuran bahan bahan yang kurang merata juga
mempengaruhi dalam pembuatan sabun transparan.

Percobaan Minggu-3

Pada percobaan minggu-3 dilakukan 2 percobaan dengan komposisi yang


berbeda. Pada percobaan pertama ini sudah agak transparan namun ketika
dicetak sedikit, sabun yang dihasilkan tidak berbusa , mudah mengeras ketika
dicetak, maka ditambah dengan texapon, justru ketika ditambah texapon warna
sabun menjadi keruh dan sulit untuk mengeras. pH pada sabun percobaan
pertama yaitu 9. Penambahan ekstrak jeruk nipis membantu dalam proses
penurunan pH, karena sifatnya asam . Bau minyak pada sabun percobaan ini
berkurang karena ditambahkannya ektrak jeruk nipis serta aroma dari ekstrak
melati. Kegagalan pada percobaan pertama ini dikarenakan ditambahnya
texapon yang mengakibatkan warna sabun justru semakin keruh.

Pada Percobaan kedua yaitu mengambil formula pada jurnal , namun hasil yang
didapatkan tidak sesuai dengan jurnal hal ini dikarenakan proses pemanasan
yang berbeda yaitu di jurnal menggunakan waterbath sedangkan pada praktikum
kali ini menggunakan hot plate. Ketika proses pembuatan sabun yang
ditambahkan dengan asam stearat tekstur berubah sangat padat dan sulit untuk
dilakukan pencampuran dengan bahan lain, maka ditambahkan dengan etanol
supaya dapat lebih mencair. pH yang dihasilkan sangatlah tinggi yaitu 14 yang
dapat membuat kulit gatal ketika mencoba sabun ini , sabun juga memiliki
tekstur yang lembek, serta keruh. Kekeruhan ini dikarenakan juga suhu ketika
proses pembuatan sabun yang terlalu tinggi.

- Eonike Ayuning S (1731410074)

Percobaan kedua yakni membuat sabun transparan, metode yang digunakan


adalah metode saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak
oleh adanya basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi
ialah gliserol. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam
karboksilat. Hidrolisis ester dalam suasana basa bisa disebut juga saponifikasi.

Sabun memiliki kemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak sehingga


dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat
sabun adalah rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat non-
polar, seperti tetesan-tetesan minyak. Ujung anion molekul sabun, yang tertarik
pada air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari
tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes sabun-minyak, maka
minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap tersuspensi

Sabun akan dibuat jernih dan bening maka hal yang paling essensial adalah
kualitas gula, dan glyserin. Oleh karena itu pemilihan material
mempertimbangkan dengan warna dan kemurniannya. Parfum berperan penting
dalam warna sabun seperti adanya tincture, balsam dan yang digunakan agar
sabun menjadi wangi, adanya bahan tersebut dapat menjadikan spotting (bintik
hitam ). Apabila sabun sengaja diwarna, dipilih pewarna yang tahan alkali. Air
distilasi adalah air terbaik untuk sabun transparan glyserin dipilih yang
murni.Untuk minyak dan lemak digunakan yang asam lemak bebas rendah dan
warna yang baik. Penambahan glyserin atau gula yang banyak menyebabkan
sabun menjadi lengket dan manis, oleh karena itu mengotori pembungkus.

Minggu 1

Percobaan ini bahan yang pertama dimasukan ke dalam adalah minyak yang
kemudian dipanaskan. Penggunaannya dengan memanaskan dahulu diatas hot
plate, setelah itu dimasukkan alkohol. Etanol juga berfungsi untuk membentuk
tekstur transparan sabun, untuk terjadi transparansi sabun harus benar larut.
Etanol dengan level yang tinggi dan kandungan air yang rendah menghasilkan
produk sabun yang lebih jernih. Setelah minyak dan alkohol larut secara
homogen kemudian ditambahkan NaOH secara perlahan lahan-lahan, fungsi
penambahan NaOH yaitu sebagai basa alkali. Natrium hidroksida bereaksi
dengan minyak membentuk sabun yang disebut dengan saponifikasi,
Penambahan Larutan NaOH berfungsi sebagai penetralisir asam karena NaOH
bersifat basa. Basa yang digunakan adalah NaOH agar diperoleh sabun yang
padat. Proses saponifikasi kemudian ditambahkan asam stearat dan gliserin,
sedangkan pada pembuatan sabun transparan, gliserin berfungsi untuk
menghasilkan penampakan yang transparan dan memberikan kelebembaban
pada kulit (humektan). Humektan (moisturizer) adalah skin conditioning agents
yang dapat meningkatkan kelembaban kulit. Pada kondisi atmosfir sedang
ataupun pada kondisi kelembaban tinggi, gliserin dapat melembabkan kulit dan
mudah dibilas.

Setelah menambahkan etanol dan gliserin kedalam sabun, kemudian


menambahkan glukosa kedalam larutan sabun tersebut, dimana glukosa ini
merupakan bahan penting dalam pembuatan sabun transparan. Glukosa atau
lebih dikenal dengan gula pasir berfungsi untuk membantu terbentuknya
transparansi pada sabun. Penambahan gula pasir dapat membantu
perkembangan kristal pada sabun. Semakin putih warna gula akan semakin
jernih sabun transparan yang dihasilkan. Terlalu banyak glukosa, produk sabun
menjadi lengket , pada permukaan sabun keluar gelembung kecil – kecil. Gula
yang paling baik untuk sabun transparan adalah gula yang apabila dicairkan
berwarna jernih seperti gliserin, karena warna gula sangat mempengaruhi warna
sabun transparan akhir. Gula lokal yang berwarna agak kecoklatan, hasil sabun
akhir juga tidak bening, jernih tanpa warna tetapi juga agak kecoklatan.

Faktor pengadukan dan suhu sangat berpengaruh selama proses pembuatan


sabun transparan. Pengadukan harus dilakukan secara kontinyu dengan
pengadukan secara konstan . Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk
menghasilkan sediaan sabun transparan yang homogen. Apabila tidak dilakukan
pengadukan secara kontinyu beberapa bahan yang dicampurkan menjadi tidak
merata dan menggumpal. Hal tersebut akan mempengaruhi tampilan sabun
transparan. Selama pembuatan sabun berlangsung suhu harus dijaga dalam 60°
C karena dipanaskan pada suhu 60°C agar asam stearat mencair, namun
pemanasan ini jangan panas karena dengan suhu terlalu panas akan
mengoksidasi minyak yang menyebabkan warnanya menjadi cokelat, hal ini
behubungan erat dengan bilangan peroksida yaitu nilai untuk menentukan
derajat kerusakan pada minyak atau lemak yang disebabkan oleh autooksidasi
dan jika tidak dijaga dalam 60°C perabaan sabun akan berminyak.

Fenomena- fenomena yang terjadi selama percobaan yaitu adanya perubahan-


perubahan warna selama proses pemanasan dan proses safonifikasi, warna
minyak yang dicampurkan dengan asam stearat awalnya berwarna jernih namun
setelah ditetesi Natrium Hidroksida warna larutan menjadi kuning dan sedikit
mengeras ini menunjukan bahwa proses safonifikasi sudah hampir sempurna.

Hasil yang didapat pada minggu pertama yakni pH 8 dan 10. Sabun dengan pH
8 memiliki karakteristik keruh, lama untuk mengeras, dan busa sedikit. Masih
tercium aroma minyak dan lengket karena kandungan gula yang tinggi,
sedangkan sabun dengan pH 10 memiliki karakteristik sangat cepat mengeras
dan keruh. Faktor yang diduga mempengaruhi kekeruhan adalah kurangnya gula
dan gliserin pada sabun.

Minggu 2

Percobaan minggu kedua menggunakan langkah-langkah yang sama dengan


minggu pertama, yang membedakan adalah penggunaan variabel pada bahan-
bahan yang digunakan. Pengadukan dilakukan menggunakan stirrer diharapkan
agar bahan tercampur rata(homogen). Proses dilakukan diatas hot plate dengan
menjaga suhu agar tetap stabil, campuran terlihat homogen dan transparan
ketika berada diatas hotplate kemudian saat dituangkan ke dalam cetakan
menghasilkan warna keruh, sulit mengeras.

Produk yang didapat setelah didiamkan selama satu minggu yakni warna keruh,
pH 8, lembek dan tidak mengeras, aroma minyak dan campuran lainnya masih
menyengat, sehingga tidak dapat dikeluarkan dari cetakan. Faktor yang
mepengaruhi yakni kurangnya asam stearat yang digunakan pada pembuatan
sabun transparan ini sehingga tekstur sulit mengeras, tetapi semakin banyak
asam stearate akan mempengaruhi kekeruhan pada sabun, sehingga perlu
penambahan gula dan gliserin apabila asam stearate ditambahkan.

Minggu 3

Percobaan minggu ketiga dilakukan dengan mengacu pada jurnal yang telah
dipelajari sebelumnya, bahan yang digunakan tetap sama tetapi dengan
mengganti variabel dan metode pembuatan. Pengadukan juga dilakukan dengan
cara manual, kami menambahkan perasan jeruk nipis untuk meningkatkan
transparansi dari sabun. Percobaan dilakukan dengan dua kali pembuatan.
Pembuatan pertama dihasilkan sabun dengan pH 9, pada saat awal warna hampir
transparan, mengeras, tapi tidak berbusa. Untuk menghasilkan busa
ditambahkan texapon, tetapi warna berubah menjadi sangat keruh dan lembek
sehingga tidak dapat dicetak.

Pembuatan sabun yang selanjutnya dengan mengurangi jumlah etanol teknis,


dan penambahan pada vaiabel-variabel bahan lainnya. Produk yang didapat pH
14, pada saat awal dicetak langsung mengeras, berwarna putih, kemudian ketika
ditambahkan gula dan jeruk nipis menjadi agak lembek dan warna sedikit
transparan.

Sabun transparan mudah sekali larut karena mempunyai sifat sukar mengering.
Faktor yang mempengaruhi transparansi sabun pada pembuatan sabun
transparan adalah :

a. Etanol

Kandungan alkohol Etanol digunakan sebagai pelarut pada proses pembuatan


sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.

b. Gula

Gula bersifat humektan, dikenal membantu pembusaan sabun. Semakin putih


warna gula akan semakin jernih sabun transparan yang dihasilkan. Terlalu
banyak gula, produk sabun menjadi lengket, pada permukaan sabun keluar
gelembung kecil-kecil. Gula yang paling baik untuk sabun transparan adalah
gula yang apabila dicairkan berwarna jernih seperti gliserin, karena warna gula
sangat mempengaruhi warna sabun transparan akhir. Gula lokal yang berwarna
agak kecoklatan, hasil sabun akhir juga tidak bening, jernih tanpa warna tetapi
juga agak kecoklatan.

c. Gliserin
Gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati
dengan air untuk menghasilkan asam lemak. Gliserin merupakan humektan
sehingga dapat berfungsi sebagai pelembap pada kulit. Pada kondisi at mosfer
sedang ataupun pada kondisi kelembaban tinggi, gliserin dapat melembapkan
kulit dan mudah di bilas.

d. Stearic Acid.

Membantu untuk mengeraskan sabun, khususnya minyak dari tumbuhan yang


digunakan. Penggunaannya dengan mencairkan dahulu dalam minyak kemudian
dicampur sodium hidroksida untuk saponifikasi. Penggunaan terlalu banyak
menyebabkan sabun kurang berbusa, jika terlalu sedikit sabun tidak keras.

- Farahiya Rizki (1731410078)

Praktikum kali ini membuat sabun transparan. Sabun padat transparan


merupakan salah satu inovasi sabun yang menjadikan sabun lebih menarik.
Sabun transparan mempunyai busa yang lebih halus dibandingkan dengan sabun
yang tidak transparan (Qisty, 2009). Bahan yang digunakan untuk membuat
sabun transparan adalah minyak, NaOH, asam stearat, gula, gliserin, texapon,
dan etanol. Percobaan dilakukan selama 3 minggu, dalam satu minggu
percobaan dilakukan 2 kali dengan menggunakan variabel berbeda. Hal ini
dimaksudkan untuk mengetahui fungsi dan pengaruh masing-masing bahan
terhadap proses pembuatan sabun transparan.

Pada percobaan minggu pertama dengan percobaan pertama, variabel yang


digunakan yaitu minyak 10 gram, NaOH teknis 5 gram, etanol 50 mL, asam
stearat 3 gram, gula 5 gram, dan gliserin 3 gram dengan metode yang digunakan
sesuai dengan Jobsheet. Hasil sabun yang didapatkan tidak transparan, berwarna
putih susu, pH yang didapat cukup tinggi yaitu 10, tekstur sabun mudah hancur.
Dalam praktikum ini, etanol berfungsi sebagai pelarut. Bahan yang dilarutkan
dalam etanol yaitu NaOH. Lalu ditambahkan minyak untuk reaksi
saponifikasinya. Menurut Spitz, proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara

trigliserida dengan alkali. Dilakukan pada suhu 600C karena dibawah titik

didihnya pelarut sekitar 700 C. Hal ini untuk menghindari menguapnya


pelarut. Selain itu kalau pencampuran dilakukan pada suhu tinggi maka
minyak rusak dan proses saponifikasi gagal maka tidak akan menghasilkan
sabun. Suhu dijaga hingga akhir percobaan. Namun dalam percobaan kami

suhunya tidak terjaga pada 600C dikarenakan suhu heater yang mudah naik

sehingga suhu campuran menjadi mudah naik diatas 600C. Percobaan


dilanjutkan dengan penambahan asam stearat secara langsung. Asam stearat
berfungsi mengeraskan tekstur sabun. Tetapi beberapa saat kemudian
campuran menggumpal dikarenakan pemanasan berlanjut sedangkan pada
campuran pelarutnya mulai berkurang. Lalu ditambahkan gula tanpa dilarutkan
dan dilanjutkan gliserin. Hasil yang diperoleh tidak begitu terlihat secara
signifikan karena campuran menggumpal. Penggumpalan terjadi hingga akhir
percobaan. Sabun yang dihasilkan berwarna putih susu diakibatkan campuran
menggumpal. Sedangkan pH yang diperoleh juga cukup tinggi yaitu 10
dikarenakan sabun bersifat basa akibat perbandingan komposisi NaOH yang
terlalu banyak dibandingkan asam stearat yakini 5 :3. Dari tekstur, sabun di
bagian bawah cetakan sangat lembek dan bagian atas mudah hancur dikarenakan
asam stearat yang kurang. Asam stearat berfungsi sebagai pengeras. Jadi
apabila komposisi asam stearatnya kurang maka sabun akan mudah hancur.
Bau yang dihasilkan seperti bau minyak kemungkinan dikarenakan komposisi
minyak yang terlalu banyak.

Pada percobaan kedua ada perubahan komposisi variabel yaitu, pada minyak
dilakukan pengurangan menjadi 8 gram karena dari percobaan pertama bau yang
ditimbulkan merupakan bau minyak. Komposisi NaOH juga dikurangi menjadi
1,5 gram karena dari percobaan sebelumnya pH sabun yang dihasilkan terlalu
basa yang dapat membuat kulit menjadi gatal sehingga diturunkan supaya pH
mendekati netral. Asam stearat ditambah menjadi 7 gram supaya sabun yang
dihasilkan menjadi keras karena fungsi dari asam stearat sendiri sebagai
pengeras. Komposisi gula banyak ditambah karena gula yang membuat sabun
menjadi transparan. Jumlah gula yang digunakan yaitu 12.75 gram. Gliserin
memiliki fungsi yang sama seperti gula, oleh karena itu komposisinya ditambah
menjadi 20 gram. Dalam praktikum kedua ini menggunakan texapon yang
berguna supaya sabun yang dihasilkan menghasilkan busa karena pada
percobaan pertama, sabun tidak menghasilkan busa. Pelarut etanol juga
ditambah menjadi 100 mL karena dari percobaan pertama pelarut habis pada
saat penambahan stearat sehingga dilakukan penambahan etanol. Dari
komposisi bahan diatas didapatkan sabun yang agak transparan, memiliki pH 7,
teksturnya mudah hancur dan wujud sabun terdapat gumpalan-gumpalan yang
mungkin itu berupakan bahan-bahan yang kurang homogen. Hal ini terjadi
karena pada saat mencampurkan bahan, selisih waktunya sedikit sehingga
proses pengadukannya juga sedikit dan membuat bahan kurang tercampur.
Teksturnya juga mudah hancur dimungkinkan karena kurang homogennya
bahan-bahan tersebut terutama asam stearat sehingga membuat sabun menjadi
tidak keras. Penyebab lain yaitu saat mencampurkan bahan, suhunya tidak
stabil pada suhu 600C dimana karena apabila dilakukan pada suhu tinggi maka
minyak rusak dan proses saponifikasi gagal maka tidak akan menghasilkan
sabun.

Pada percobaan ke III ini, metode yang digunakan sama seperti percobaan kedua
namun difokuskan pada menstabilkan suhu saat dilakukan pencampuran.
Komposisi yang dirubah yaitu gula menjadi 19 gram supaya sabun yang
dihasilkan menjadi lebih transparan. Hasil percobaan yaitu sabun transparan
ketika cair dan menjadi keruh ketika sabun sudah mengeras.pH yang dihasilkan
menjadi 8 yang dimungkinkan karena perubahan komposisi tersebut. Waktu
yang dibutuhkan untuk sabun menjadi keras cukup lama. Hal ini terjadi karena
penguranagn komposisi asam stearat. Dalam percobaan ini tidak ditambah
texapon karena dilihat dari percobaan kedua sabun yang dihasilkan menjadi
sangat lembek dan basah sehingga sabun mudah hancur. Bau minyak sangat
menyengat dikarenakan komposisi minyak yang cukup banyak.

Percobaan ke IV menggunakan komposisi kelas lain karena percobaan sabun


kami masih belum ada yang bener-bener jadi,terutama pada tekstur yang sangat
mudah hancur. Oleh karena itu mencoba menggunakan komposisi kelas lain
dengan hasil yang keras dan transparan. Variabel yang digunakan yaitu minyak
10 mL, NaOH 1,5 gram, etanol 60 mL, asam stearat 3 gram, gula 1 gram, dan
gliserin 3 gram. Dari komposisi diatas hasil sabun tidak sesuai dengan kelas
lain. Sabun yang dihasilkan transparan ketika masih cair, naum saat sabun mulai
megeras warna sabun berubah menjadi keruh. pH yang dihasilkan juga cukup
tinggi diakibatkan karena komposisi gula yang sangat sedikit, kerena gula juga
dapat menurunkan harga pH. Karena gula yang terlalu sedikit juga menjadi
penyebab sabun tidak transparan. Namun waktu yang diperlukan untuk
mengubah sabun menjadi keras sangat singkat mungkin karena komposisinya
sudah tepat untuk mengeraskan sabun. Bau yang dihasilkan seperti bau minyak
kemungkinan dikarenakan komposisi minyak yang terlalu banyak. Hasil sabun
yang berbeda dengan kelas lain dikarenakan langkah-langkah dalam pembuatan
sabun ada yang berbeda atau juga karena pengaruh suhu yang dapat membuat
sabun kelompok kami menjadi gagal.

Percobaan ke V juga menggunakan komposisi kelas lain, yaitu etanol 60 mL,


NaOH 1,5 gram, minyak 10 gram, gula 5 gram, asam stearat 3 gram, gliserin 3
gram, dan aquades 50 mL. kelompok kami menambahkan air jeruk yang
digunakan untuk menurunkan harga pH apabila pH yang didapat terlalu tinggi
dan juga digunakan untuk menghilangkan bau seperti minyak. Dari komposisi
tersebut didapatkan sabun yang bagus yaitu memiliki pH tidak terlalu tinggi
yaitu 8, tekstur sabun sudah keras dan sudah hamper transparan, namun ketika
digunakan tidak menghasilkan busa. Oleh karena itu sabun yang masih belum di
cetak ditambah texapon. Texapon sendiri memiliki fungsi supaya sabun
menghasilkan busa. Setelah di tambah texapon sabun menjadi gagal yaitu pH
naik menjadi 9 kemudian saat sabun dicetak, sabun menjadi tidak mengeras dan
sangat lembek, warnanya menjadi keruh dan tidak transparan lagi. Dari hasil
tersebut kelompok kami beranggapan bahwa texapon mempengaruhi kekerasan
sabun. Apabila campuran di tambah texapon maka sabun yang dihasilkan
menjadi lembek. Bau minyak yang biasa dihasilkan menjadi agak hilang karena
pemberian air jeruk.

Percobaan ke VI ini bahan yang digunakan sama dengan percobaan V namun


komposisinya yang berbeda. Komposisi bahan yang digunakan yaitu etanol 7,5
mL, NaOH 10,15 gram, minyak 10 gram, gula 7,5 gram, asam stearat 3,5 gram,
gliserin 3 gram, aquades 5 mL, dan ditambah air jeruk nipis 6 mL. Setelah
semua bahan dicampur, kemudian dituang ke dalam cetakan sedikit untuk diuji.
Ternyata sabun yang dihasilkan sangat cepat mengeras namun warnanya keruh
dan memiliki pH yang sangat tinggi yaitu 14 diakrenakan NaOH yang
digunakan sangat banyak ditambah juga komposis etanol yang juga banyak,
tidak sebanding denganasam stearat dan gula yang dapat menurunkan harga pH.
Memang saat campuran yang masih cair terkena kulit langsung terasa gatal.
Kemudian untuk mengatasi hal tersebut, campuran yang masih cair ditambah
gula dan juga jeruk nipis 6 mL. Hasil yang didapat yaitu sabun menjadi keras,
tingkat kekeruhannya menjadi berkurang dari yang sebelumnya dan pHnya
menjadi 13. Apabila ditambah jeruk nipis lagi yang bertujuan untuk menurunkan
pH, makan akan berdampak pada hal lain yaitu sabun menjadi semakin keruh
dan tekstur menjadi semakin mudah hancur. Bau minyak yang biasa dihasilkan
menjadi agak hilang karena pemberian air jeruk.

Mohammad Hafizh As’ad

Percobaan kali ini dimaksudkan untuk memahami proses pembuatan


sabun transparan, fungsi dari setiap bahan yang digunakan dan untuk
mengetahui formula yang tepat dalam membuat sabun transparan yang baik.
Bahan yang digunakan yaitu etanol teknis (96%), NaOH teknis (soda kaustik),
minyak kelapa, gula pasir, asam stearat, glisarin, aquades, texapon, dan air jeruk
nipis. Bahan utama dalam pembuatan sabun transaparan adalah minyak kelapa
dan NaOH, karena pada dasarnya reaksi pembuatan sabun merupakan reaksi
antara trigliserida dengan alkali membentuk garam sabun. Sabun merupakan
senyawa kimia yang dihasikan dari reaksi lemak atau minyak dengan alkali.
Sabun juga merupakan garam-garam monovalen dari asam karboksilat dengan
rumus umunya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatis) panjang dengan
jumlah atom C bervariasi, yaitu antara C12 – C18 dan M adalah kation dari
kelompok alkali atau ion amonium (Austin, 1984).
Sabun adalah garam logam dari asam lemak. Pada prinsipnya sabun
dibuat dengan cara mereaksikan asam lemak dan alkali sehingga terjadi reaksi
penyabunan
Reaksi pertama :

Hidrolisa mendidih
Lemak + NaOH Gliserol + Asam lemak

Reaksi kedua :
Penyabunan
3RCOOH + NaOH RCOONa + H2O

Reaksi dasar pembuatan sabun adalah sebagai berikut :

Pada percobaan minggu pertama dilakukan 2 percobaan sekaligus,


pada percobaan pertama kami menggunakan formula yang telah ditentukan oleh
dosen pembimmbing yang tertulis dalam jobsheet. Setelah dilakukan percobaan
dan dianalisis hasilnya tidak sesuai harapan karena sabun yang kami dapatkan
tidak transparan, berwarna putih, tidak berbusa, pH 10 dan lunak. Sabun yang
tidak transaran dapat disebabkan oleh konsentrasi gula yang digunakan masih
kurang atau sabun yang dihasilkan dari proses penyabunan kurang larut dalam
etanol karena pada dasarnya yang mempengaruhi transparansi dari sabun yaitu
gula dan etanol. Faktor yang dapat mempengaruhi transparansi sabun adalah
kandungan alkohol, gula, dan gliserin dalam sabun. Ketika sabun akan dibuat
jernih dan bening, maka hal yang paling penting adalah kualitas gula, alkohol,
dan gliserin. Kandungan gliserin baik untuk kulit karena berfungsi sebagai
pelembab pada kulit dan membentuk fasa gel pada sabun (Rahadiana dkk.,
2014). Sedangkan untuk kekerasannya dapat disebabkan oleh jumlah asam
stearat yang digunakan terlalu sedikit. Asam stearat berfungsi untuk
mengeraskan dan menstabilkan busa. Asam stearat berwarna putih kekuningan
dan memiliki titik cair pada suhu 56 °C (Hambali dkk, 2005). Tingkat pH yang
terlalu tinggi dapat disebabkan reaksi penyabunan yang kurang sempurna
sehingga sisa NaOH yang larut dalam pelarut membuat pH yang kami dapatkan
terlampau tinggi.

Percobaan ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5 menunjukkan hasil yang tidak jauh
berbeda. Strukturnya lembek, tidak transparan, berwarna putih, tidak berbusa
dan pH 9-11. Hal ini kemungkina dapat disebabkan oleh perlakuaan dalam
proses pembuatan sabun transparan, kami sudah memakai formula yang telah
diuji sebelumnya ataupun dari literatur yang telah menghasilkan sabun dengan
tekstur transparan. Tetapi ketika kami aplikasikan dalam percobaan kali ini
tidak menghasilkan sabun yang transparan bahkan tidak memadat dan
cenderung lembek.Pada percobaan ke-5 ditambahkan ekstrak jeruk nipis untuk
menurunkan pH.

Pada percobaan ke-6 perbandingan antara minyak kelapa dan NaOH


yaitu 1 : 1,015 menghasilkan proses saponifikasi yang sempurna, hal ini
dibuktikan dengan tebentuknya padatan berwarna putih setelah dilakukan
pemansan dengan suhu 60oC. kemudian padatan tersebut ditambahkan dengan
etanol 96% untuk melarutkannya. Setelah itu ditambahkan bahan-bahan lain
seperti asam stearate, larutan gula, gliserin dan jeruk nipis. Tetapi hasilnya juga
masih belum menunjukkan transparansi, hal ini dapat disebabkan oleh jumlah
NaOH yang digunakan teralu banyak sehingga kristal sabun yang terbentuk
sangat padat sehingga ketika ditambahkan larutan gula kristal dari sabun masih
belum bias dilewati oleh cahaya sehingga tidak tampak transparan.

6. Kesimpulan

Setelah dilakukan percobaan pembuatan sabun transparan dapat disimpulkan


bahwa pada percobaan yang kami lakukan belum mendapatkan hasil yang baik
walaupun dengan menggunakan formula yang sama dengan literatur ataupuan
formula yang telah diuji sebelumnya. Dengan formula yang sama tetapi proses yang
digunakan berbeda akan menghasilkan sabun yang berbeda.

7. Daftar pustaka
Austin. Gorge T. 1984. Shereve”s Chemical Process Industries. 5 th ed. McGra-Hill
Book Co:Singapura.
Departemen Perindustrian. 2007. Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit.
Jakarta : Pusat Data dan Informasi Departemen Perindustrin
Ghaim, J, B, and E, D Volz. Skin eleansing bar. Handbook of Cosmetic Science and
Thecnology. Marcel Dekker Inc. New York
Hambali, E.,Bunasor, T.K.,Suryani, A., dan Kusumah, G.A., 2002, Aplikasi
Dietanolamida Dari Asam Laurat Minyak Inti Sawit Pada PembuatanSabun
Transparan, J. Tek. Ind. Pert, 15 (2), 46-53.
Izhar, H., Sumiati, dan Moeljadi P. 2009. Analisis Sikap Konsumen terhadap Atribut
Sabun Mandi. Universitas Brawijaya. Malang.
Krik, R, E, D, F Othmer, J. D Scott and A. Standen. 1954. Encyclopedia of
Chemical Technology. Vol 12. Intercience Publisher a division of Jhon Wiley
and Sons, Inc, New York. Halaman 573-592.
Kamikaze, D. 2002. Studi awal pembuatan sabun menggunakan campuran lemak
abdomen sapi (tallow) dan curd susu afkir. Skripsi. Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kurniawati, Pipin. 2012. Pembuatan Sabun Transparan. Didownload di
www.scribd.com pada 1 November 2018.
Ophardt, C.E. 2003. Virtual Chembook. Departement of Chemistry Elmhurst IL.
Elmhurst Collage.
Qisti, R., 2009, Sifat Kimia Sabun Transparan Dengan Penambahan Madu Pada
Konsetrasi Yang Berbeda, Skripsi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Rahadiana, P., Andayani L.S. 2014. Pabrik Sabun Transparan Beraroma Terapi dari
Minyak Jarak dengan Proses Saponifikasi Trigliserida Secara Kontinyu.
Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS.
Widiyanti, Yunita. 2009. Kajian Pengaruh Jenis Minyak terhadap Mutu Sabun
Transparan. Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Bogor

8. LAMPIRAN/APPENDIKS
Percobaan 1 dan 2

Percobaan 3 Percobaan 4

Percobaan 5 Percobaan 6